Press Release KPU Banyuwangi - Calon Legislatif Tetap 2019

Grid List

Top Stories

Grid List

radiovisfm.com, Banyuwangi - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyampaikan kepada ratusan kepala desa tentang pentingnya memberi perhatian pada tim pemburu kemiskinan yang sudah ada di masing-masing wilayahnya. 

Bupati Anas mengatakan, di hadapan 128 kepala desa terpilih dirinya menyampaikan agar permasalahan kemiskinan menjadi concern bersama, dikerjakan gotong royong antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan desa.

“Kepala desa perlu memberi fokus kepada tim pemburu kemiskinan yang bertugas mendata dan mengelola langkah-langkah intervensi kepada sasaran warga miskin melalui kolaborasi berbagai pihak,” ujar Bupati Anas.

“Kualitas tata kelola penanganan permasalahan harus ditingkatkan bersama,” tuturnya.

Banyuwangi sudah mempunyai sistem dan mekanisme, namun perlu terus disempurnakan karena dinamika di lapangan dipastikan ada perubahan.

Bupati Anas mengaku, kini Pemkab Banyuwangi akan update Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar bisa semakin sinkron dengan Kementerian Sosial.

“Ke depan, sistem dan mekanisme yang telah dimiliki Banyuwangi harus bisa terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) dari Kemensos,” papar Bupati Anas.

Dikatakan Bupati Anas, tim pemburu kemiskinan di tingkat desa sangat diperlukan untuk meningkatkan ketepatan penyaluran bansos.

“Sehingga jangan sampai yang berhak menerima bansos malah tidak menerima. Sebaliknya, yang tidak berhak malah diprioritaskan,” kata Bupati Anas.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kesejahteraan sosial-ekonomi warga Banyuwangi terus menunjukkan perbaikan. Pendapatan per kapita warga Banyuwangi melonjak dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 48,7 juta per orang per tahun pada 2018. Angka kemiskinan pun menurun cukup pesat menjadi level 7,8 persen pada 2018, jauh lebih rendah dibanding sebelumnya yang selalu tembus dua digit.

Bupati Anas menambahkan, untuk semakin mengakselerasi pengentasan kemiskinan, Pemkab Banyuwangi berencana berkolaborasi dengan situs crowdfunding skala nasional untuk mengajak seluruh masyarakat Indonesia bergotong royong membantu Banyuwangi. Pasalnya, meski saat ini tingkat kemiskinan sudah bisa ditekan cukup besar, tentu hal ini tidak boleh berhenti.

“Di Banyuwangi sudah ada program Rantang Kasih dengan distribusi makanan kepada lansia miskin,” ungkap Bupati Anas.

“Program itu bisa ditingkatkan skala dan kualitasnya, salah satunya pemerintah daerah akan gandeng salah satu situs crowd funding. Mekanismenya masih dibicarakan,” imbuhnya.

Selain soal manajemen pengentasan kemiskinan, Bupati Anas juga mendorong para kepala desa untuk sekreatif mungkin membikin inovasi dan program pemberdayaan ekonomi. 

Diakuinya, dalam beberapa tahun terakhir, para kepala desa di Banyuwangi sudah berlomba-lomba berinovasi. Secara umum progress-nya dinilai sangat baik.

“Ke depan itu harus dijaga dan digalakkan lagi inovasi, mulai inovasi pelayanan publik hingga pemberdayaan ekonomi. Misalnya, desa bisa membuat pasar wisata, atau apapun sesuai potensi masing-masing daerah,” pungkas Bupati Anas.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Desa Gumirih Kecamatan Singojuruh Banyuwangi memberikan kemudahan bagi warganya yang yatim piatu maupun dari keluarga tidak mampu, untuk bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

Di wilayah setempat terdapat 1 TK, 3 Sekolah Dasar dan 1 SMA yakni SMA Negeri Darussholah.

Sesuai persyaratan, bagi pelajar yang ingin masuk ke SMA Negeri di haruskan mempunyai nilai yang cukup tinggi dan pendaftaran di lakukan via online. Sementara bagi mereka yang mempunyai nilai rendah, bisa dipastikan tidak bisa mengenyam pendidikan di SMA Negeri.

Mendapati fenomena ini, Kepala Desa Gumirih, Mura’i Ahmad melakukan berbagai upaya agar seluruh warganya bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan sama dengan pelajar yang tinggal di wilayah perkotaan.

Untuk itulah, Mura’i bekerja sama dengan Kepala Sekolah SMA Negeri Darussholah agar memberikan kemudahan untuk warga Desa Gumirih bisa diterima di sekolahan setempat, tanpa harus melalui tes maupun berdasarkan nilai yang sudah menjadi standar untuk masuk ke sekolah negeri.

“Setelah resmi di terima, khusus pelajar yang dari kalangan keluarga tidak mampu dan yatim piatu, di bebaskan uang gedung serta uang seragam,” ungkap Mura’i.

“Sedangkan bagi pelajar yang dari kalangan keluarga mampu, pihak desa tetap memperjuangkan untuk bisa diterima di SMA Negeri Darussholah,” imbuhnya.

Mura’i menjelaskan, setelah melalui kesepakatan bersama, pihak SMA Negeri Darussholah menyiapkan kelas khusus bagi para pelajar binaan dari Pemerintahan Desa Gumirih.

“Awalnya saya koordinasi dengan pak Sulihtiyono (Kepala Dinas Pendidikan) untuk kemudahan pendidikan warga saya agar bisa diterima di sekolah negeri diluar Desa Gumirih,” ujar Mura’i.

Namun rupanya, Dinas Pendidikan hanya memberikan kuota 50 persen dari jumlah siswa yang diajukan dan itupun harus melalui seleksi terlebih dahulu.

“Saya kebingungan harus menitipkan warga saya ini untuk mendapatkan pendidikan yang sama seperti masyarakat perkotaan,” tutur Mura’i.

Hingga akhirnya terjalin kerja sama dengan SMA Negeri Darussholah tersebut. Mura’i menambahkan, upaya ini mulai di rintis sejak dirinya baru dilantik sebagai Kepala Desa Gumirih pada tahun 2007 lalu dengan dibantu BPD dan komite sekolah.

Saat ini, Murai’i kembali terpilih sebagai Kepala Desa Gumirih untuk yang ketiga kalinya periode 2019-2024.

“Penyetaraan pendidikan di kalangan warga Desa Gumirih ini akan terus saya lakukan, terkhusus bagi pelajar yatim piatu juga yang dari kalangan keluarga tidak mampu,” kata Mura’i.

Pasalnya, yang mengetahui mereka miskin dan yatim piatu adalah pihak pemerintah desa. Jika bantuan ini berdasarkan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar, maka warganya tersebut dinilai banyak yang tidak mendapatkan walaupun kondisinya memang benar miskin dan yatim piatu, karena itu adalah system dari pusat.

“Saya tidak bisa mempengaruhi kebijakan pusat sehingga saya harus peka terhadap kondisi di desa saya,” tutur Mura’i.

Bahkan, ada warganya yatim piatu dan ingin melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Singojuruh, Mura’i pun memperjuangkannya dengan berkoordinasi pada Kepala Sekolah yang bersangkutan, hingga akhirnya bisa diterima di sekolahan tersebut.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seiring dengan semakin berkembang pesatnya sector pariwisata di Banyuwangi, pemerintah daerah akan menertibkan rumah karaoke dan tempat hiburan malam yang masih buka diatas jam 11 malam karena dinilai telah menyalahi aturan.

Dari pantauan dilapangan, banyak pengusaha tempat karaoke dan hiburan malam yang mengabaikan Peraturan Daerah (Perda) tentang penyelenggaraan usaha tempat hiburan.

Atas fenomena tersebut, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menginstruksikan agar menindak tegas pengelola hiburan malam yang tidak mentaati aturan yang berlaku. Salah satunya ialah terkait pemberlakuan jam malam.

Hal itu disampaikan Bupati Anas usai melantik 128 Kepala Desa terpilih di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Rabu (20/11/2019).

“Per Desember 2019 mendatang, semua tempat hiburan malam yang melanggar perda akan ditindak dan dikenai sanksi. Terutama yang masih buka di atas jam 11 malam,” ungkap Bupati Anas.

Sesuai dengan pasal 10 ayat 3 huruf c Perda nomor 10 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Usaha Tempat Hiburan bahwa tempat hiburan malam atau karaoke keluarga hanya boleh buka mulai pukul 09.00-23.00 WIB. Sayangnya masih saja ada tempat hiburan malam yang buka hingga dini hari, bahkan menjelang subuh.

“Saya sudah diprotes kiyai dan tokoh-tokoh agama dengan banyaknya tempat hiburan malam yang buka hingga dini hari,” kata Bupati Anas.

Sebenarnya pemkab sudah toleransi secara resmi dalam Perda bahwa tempat karaoke dan hiburan malam boleh buka sampai jam 11 malam. Untuk itu, pemkab akan segera menertibkan dan memberikan sanksi bagi yang melanggar.

“Saya sudah menerbitkan surat peringatan hingga 3 kali, agar pengelola tempat hiburan malam dan karaoke keluarga mentaati peraturan yang ada,” tutur Bupati Anas.

Yang terakhir kami sudah sampaikan ke pak Kapolres. Sayangnya, masih banyak yang tidak mengindahkan surat peringatan itu,” imbuhnay.

Bupati Anas menjelaskan, selain akan menindak tegas pengelola hiburan malam yang melanggar perda, pihaknya mengaku tidak akan menerbitkan izin bagi usaha karaoke baru.

“Ini dilakukan agar wisatawan yang datang ke Banyuwangi makannya di rumah rakyat atau kafe kafe yang di kelola rakyat. Karena jika tempat karaoke tumbuh subur, maka wisatawan tidak mau ke rumah rumah rakyat dan memilih ke tempat karaoke,” papar Bupati Anas.

Ditambahkan Bupati Anas, dengan kebijakan pembatasan rumah karaoke tersebut dinilai berbanding lurus dengan pertumbuhan warung dan kafe rakyat. Hal itu terbukti, saat ini orang datang ke Banyuwangi yang dituju ke warung kuliner, kafe-kafe kopi di Kemiren dan lain sebagainya.

Inilah tujuan kami untuk pembatasan pembangunan tempat hiburan malam dan karaoke baru, tidak ada kepentingan lainnya,” pungkas Bupati Anas.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pria jebolan perguruan tinggi di China sukses terpilih sebagai Kepala Desa Kenjo Kecamatan Glagah Banyuwangi, bahkan menjadi kepala desa termuda.

Dia adalah Ahmad Sofyanto (27) dan sudah dikaruniai seorang anak. Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Banyuwangi, Sofyan melanjutkan kuliah di Universitas Brawijaya Malang dan mengambil jurusan Tekhnik Pertanian. Karena dinilai pandai, dosennya menyarankan Sofyan untuk mengambil jurusan lain di luar negeri yakni di China.

Di tahun 2015, Sofyan sampai di China. Dan terhitung mulai tahun 2016-2017, dia kuliah di Tongji University di Shanghai China mengambil jurusan Arsitektur. Lanjut di tahun 2017, Sofyan berpindah kuliah di Southeast University di Nanjing China dan masih di jurusan yang sama.

Semua pembiayaannya dari beasiswa pemerintah china yang didapatkan Sofyan yakni Chinese Government Scholarship (CGS).

Memasuki 3 tahun jalan tepatnya di pertengahan 2019, Sofyan mengambil cuti untuk umroh. Setelah itu, dia pulang ke kampung halamannya di Desa Kenjo.

“Saat itulah, warga setempat utamanya para pemuda mendorong saya untuk mendaftar pencalonan Kepala Desa karena saat itu bersamaan dengan akan digelarnya Pemilihan Kepala Desa serentak,” ujar Sofyan.

Dia pun merasa tergerak untuk membangun desanya lebih baik.

“Saya mengajukan surat pengunduran diri di kampus untuk berhenti kuliah sementara waktu sampai mendapatkan rekom. Nantinya saya bisa melanjutkan kuliah sampai dimana semester terakhir yang pernah saya lalui,” kata Sofyan.

Dikatakan Sofyan, setelah semua itu terselesaikan, dirinya pun mulai melengkapi berbagai dokumen sebagai persyaratan administrasi pencalonan kepala desa.

“Saya tidak terlalu ambisi menang karena sosok saya kurang dikenal oleh masyarakat Kenjo,” ungkap Sofyan.

Pasalnya, selama sekolah di SMA Negeri 1 Banyuwangi dirinya kost sehingga jarang pulang. Ditambah dia langsung melanjutkan kuliah di Malang dan China. Bahkan disaat para calon kepala desa gencar turun ke lapangan menemui masyarakat, Sofyan mengaku hanya melakukannya beberapa kali saja.

Oleh karena itulah, disaat namanya terpilih sebagai Kepala Desa Kenjo, Sofyan menganggapnya ini sebagai satu amanah serta tanggung jawab baru yang dibebankan kepada dirinya.

“Menjadi pemimpin di Desa Kenjo tantangannya cukup berat. Karena selama ini Kenjo dikenal sebagai desa yang memiliki kekuatan magic luar biasa dikalangan masyarakatnya,” papar Sofyan.

Untuk itulah menurut Sofyan, ini menjadi Pekerjaan Rumah yang harus diselesaikan dengan merubah pemikiran orang mengenai Kenjo sebagai Desa Santet menjadi desa yang memiliki segudang kekayaan alam.

“Misalnya, ke depan saya akan merubah Kenjo menjadi Desa Wisata Pertanian sesuai dengan ilmu yang selama ini saya dapatkan, arsitektur dan pertanian,” kata Sofyan.

Sehingga nantinya, Desa Kenjo akan menjadi wisata pertanian yang berbeda dengan desa lainnya di Banyuwangi. Seperti diketahui, selama ini Desa Kenjo dikenal dengan penghasil beras berkwalitas bagus.

Lebih lanjut Sofyan mengatakan, tantangan yang akan dijalaninya ini dinilai sama persis seperti apa yang dihadapi oleh Bupati Abdullah Azwar Anas saat baru memimpin Banyuwangi.

“Saat itu, Bupati Anas harus berjuang untuk mengubah pemikiran masyarakat tentang Banyuwangi yang dikenal sebagai kota santet menjadi kota wisata,” imbuh Sofyan.

Upaya Bupati Anas ini pun membuahkan hasil dengan pesatnya kemajuan pariwisata Banyuwangi sehingga banyak masyarakat luar daerah maupun wisatawan mancanegara datang ke Banyuwangi.

Sementara itu, Sofyan dilantik Bupati Anas di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan pada Rabu (20/11/2019) bersama 128 kepala desa terpilih lainnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk mengatasi persoalan sampah di Banyuwangi yang hingga kini belum juga ditemukan solusinya, Bupati Abdullah Azwar Anas meminta para kepala desa terpilih untuk menerbitkan Peraturan Desa (Perdes).

Pasalnya, selain minimnya keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), permasalahan sampah ini juga dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Bahkan, banyak ditemui prilaku masyarakat yang dengan sengaja membuang sampah sembarangan di sungai. Akibatnya, selain tidak sedap dipandang, tumpukan sampah di sungai membuat lingkungan tercemar dan tidak sehat.

Atas fenomena inilah, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mendorong para Kepala Desa yang baru dilantik agar membuat peraturan desa (perdes) tentang pengelolaan sampah.

Usai pelantikan 128 Kepala Desa terpilih di pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Rabu (20/11/2019), Bupati Anas mengatakan, sebenarnya di Banyuwangi sendiri, pengelolaan sampah lumayan lebih baik dibanding daerah lain.

Saya ingin tidak hanya di kota saja tapi juga di desa sehingga ke depan pemerintahan desa bisa membentuk Perdes,” tutur Bupati Anas.

Persoalan utama pengelolaan sampah di pedesaan yakni minimnya tempat yang khusus disediakan untuk pembuangan akhir sampah rumah tangga. Akhirnya, masyarakat lebih memilih membuang sampah di sungai. Tindakan ini justru sangat berbahaya bagi ekosistem dan tentunya akan berdampak terhadap masyarakat sendiri. Sebab, tidak sedikit masyarakat yang memanfaatkan sungai untuk kepentingan irigasi sawah maupun untuk kebutuhan sehari-hari seperti MCK (mandi, cuci, dan kakus).

Dengan adanya Perdes, saya yakin persoalan sampah di wilayah pedesaan bisa ditangani dengan baik. Pemerintah desa bisa menggalang iuran dari masyarakat untuk mengatasi persoalan sampah,” ujar Bupati Anas.

Hal ini sebagai bentuk gotong royong masyarakat. Karena kalau seluruhnya dibebankan ke pemerintah dinilainya tentu berat. Pemerintah desa dalam hal ini menyiapkan TPA dan petugas yang setiap hari mengambil sampah rumah tangga. Sementara biaya pengelolaan sampah diambilkan dari iuran masyarakat tersebut.

Bisa sebulan ditarik Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu per KK dan ini tidak memberatkan karena jika dihitung perhari hanya Rp 500,” imbuhnya.

Bupati Anas mengaku, dalam pembangunan tentu dibutuhkan partisipasi masyarakat, termasuk dalam hal penanganan sampah.

Kesadaran agar tidak menggunakan plastik juga harus dimulai saat ini. Aparat pemerintahan sudah harus memberi contoh kepada masyarakat dengan tidak menggunakan air kemasan plastik saat melaksanakan kegiatan maupun rapat,” papar Bupati Anas.

Selain itu, juga untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar memilah sampah rumah tangga, mana yang plastik dan mana yang bukan.

Bupati Anas menambahkan, untuk memacu semangat pemerintah desa, Pemkab akan memberikan reward bagi desa yang berhasil menangani persoalan sampah dan menciptakan lingkungan bersih. Yakni berupa dana insentif dan ini akan dianggarkan di tahun 2020 mendatang.

“Bagi desa yang kebersihan di wilayahnya sesuai dengan kriteria dari Pemkab maka akan di beri reward,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, dari 130 Kepala Desa terpilih di Banyuwangi, baru 128 orang yang di lantik. Karena 2 kepala desa lainnya masih menunggu masa jabatan kepala desa yang lama berakhir.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Saat melantik ratusan Kepala Desa terpilih, Bupati Abdullah Azwar Anas menekankan beberapa hal untuk kemajuan daerah Banyuwangi.

Diantaranya tentang pendidikan dan kesehatan serta orang miskin tidak boleh ada keluhan dan harus ditangani dengan cepat. Dalam hal ini, tidak adanya anggaran pada APBD dinilai bukan halangan untuk membantu warga miskin dan bisa menggunakan dana gotong royong.

“Saya minta pelayanan public terhadap rakyat terus ditingkatkan, khususnya berbasis IT,” kata Bupati Anas.

“Kepala desa saya minta lakukan pembenahan pada persoalan sampah di wilayahnya yang tentunya dengan melibatkan masyarakat setempat,” imbuhnya.

Juga ratusan kepala desa terpilih tersebut di haruskan bisa menciptkan destinasi wisata baru dengan memanfaatkan sarana prasarana yang sudah ada.

Bupati Anas menjelaskan, pihaknya juga meminta mereka membangun komunikasi dengan berbagai pihak karena masalah tim sukses harus sudah berhenti setelah pelantikan. Selebihnya itu, mereka harus berani memilih sehingga kepentingan rakyat terlayani.

“Pemimpin juga harus detail karena jika tidak maka akan susah di ukur keberhasilannya,” tutur Bupati Anas.

“Pemimpin harus berani mengambil keputusan karena tidak semua keputusan menyenangkan orang,” ungkapnya.

Sehingga setiap keputusan yang diambil harus mengacu pada pemanfaatan yang paling banyak. Di gunjingkan orang karena keputusan dinilainya sebagai hal yang sudah biasa.

“Kalau terlalu mendengarkan gunjungan orang, maka seorang pemimpin tidak akan pernah bisa mengambil keputusan,” pungkas Bupati Anas.

Sementara, sebanyak 128 Kepala Desa terpilih di lantik Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan Banyuwangi, Rabu (20/11/2019).

Seharusnya ada 130 Kepala Desa yang menjalani pelantikan kali ini, setelah terpilih pada Pemilihan Kepala Desa serentak pada 9 Oktober 2019 lalu.

Namun ada 2 kepala desa terpilih yang tidak bisa menjalani pelantikan karena masih menunggu masa jabatan kepala desa lama selesai. Yakni Kepala Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran dan Kepala Desa Sidowangi Kecamatan Wongsorejo. Mereka akan dilantik bersamaan pada Desember 2019 mendatang.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Logistik kebutuhan pemilu tiba di Banyuwangi. Logistik awal, KPU Banyuwangi mulai menerima kiriman surat suara untuk kebutuhan pemilu tahun 2019. Sejak hari kamis kemarin, KPUD Banyuwangi sudah menerima 2.375 boks surat suara untuk DPR RI, dari kebutuhan sebanyak 2.688 boks.

Ketua KPU Banyuwangi, Samsul Arifin menuturkan, surat suara yang diterima KPU Banyuwangi, baru surat suara untuk calon legislatif DPR RI. Sedangkan untuk surat suara DPRD Propinsi, DPRD kabupaten, DPD dan Pilpres secara bertahap akan datang sampai  bulan Maret 2019 mendatang. 

Dijelaskan oleh Samsul, surat suara DPR RI yang diterima KPU Banyuwangi masih dalam kondisi tersegel, dan pihaknya langsung melakukan pengecekan untuk memastikan apakah surat suara yang dikirim, jumlahnya sudah sesuai dengan dokumen pengiriman.

Selain datangnya surat suara Pemilu, KPU Banyuwangi juga telah melakukan proses perakitan kotak suara. Jumlah kotak suara yang harus dirakit untuk kebutuhan Pemilu 2019 di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 25.580 kotak suara.

Kotak suara jumlahnya disesuaikan dengan jumlah Tempat Pemungutan Suara, yakni 5.116 TPS, setiap TPS mendapatkan lima kotak suara dan empat bilik suara. Syamsul menambahkan, Dalam proses perakitan kotak suara tersebut, KPU Banyuwangi melibatkan masyarakat setempat, dan Samsul menargetkan perakitan kotak suara dapat secepatnya diselesaikan. Dari awal bulan Pebruari jumat siang, sudah terakit sebanyak  3.000 lebih kotak suara.

 

 

 

Radiovisfm.com, Banyuwangi -  DPRD Banyuwangi meminta kepada pemerintah untuk mengganti alat pendeteksi dini bencana atau Early Warning System (EWS) yang rusak. Ini dilakukan untuk menghindari kehilangan yang lebih lama. Terlebih saat ini, Banyuwangi dianggap sebagai daerah yang rawan bencana tsunami.

 

Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara menuturkan, alat pendeteksi dini bencana saat ini sangat penting, terlebih lagi wilayah Banyuwangi memiliki ancaman bencana yang cukup tinggi. Mengingat kata Made, Pemerintah Banyuwangi diharapkan untuk segera menginventarisir alat yang diperlukan untuk penggunaan dini di Banyuwangi.

 

Intinya pemerintah harus tanggap terkait alat-alat yang bisa mencegah bencana jika ada yang rusak. Jika ada yang hilang segera di inventarisir dan segera diganti. Karena hal ini kata Terbuat dari nyawa masyarakat Banyuwangi terjadi kompilasi bencana.

 

Dibeberapa wilayah di Indonesia sudah terjadi tsunami. Bukan tidak mungkin Banyuwangi yang memiliki panjang pantau 175,8 kilometer juga diterjang tsunami. Bagaimana jika Banyuwangi memiliki alat pendeteksi dini bencana, maka potensi bencana yang akan terjadi dapat lebih dini dan dapat meminimalisir korban jiwa yang terkait dengan bencana tersebut.

 

DPRD juga mendesak BPBD segera bergerak untuk berkoordinasi dengan Pemkab Banyuwangi untuk perlindungan seluruh peralatan penanggulangan bencana

 

Made mengaku, pihaknya belum mengecek apakah di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Banyuwangi tahun 2019 ini sudah ada atau belum untuk pembelian alat pendeteksi dini bencana tersebut. Jika belum, pihaknya akan menambahkan anggaran pembelian EWS itu pada APBD perubahan nanti, karena yang terpenting kata Made Banyuwangi harus mempunyai alat pendeteksi dini bencana. 

 

“ Pemerintah harus tanggap terkait alat pendeteksi bencana kalau memang ada yang rusak, karena ini menyangkut nyaa masyarakat Banyuwangi ketika ada korban bencana, dan BPBD segera bergerak koordinasi dengan Pemkab untuk mendeteksi peralatan dan potensi bencana terkait tsunami dan tanah longsor karena sekarang posisi sedang musim hujan deras”, ujarnya.

 

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat merilis ada sekitar 45 desa yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, rawan sekali dihantam bencana tsunami. Sebab desa- desa tersebut letaknya berdekatan dengan pantai.

 

Menurut kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Fajar Suasana, puluhan desa itu diantaranya, Desa Sambimulyo, Temurejo, Pakis, Sobo, Kertosari, Ketapang, Sumberagung, Pesanggaran, Grajagan dan Desa Sumbersewu. 

 

Dari puluhan desa itu, tingkat kerawananya berbeda- beda. Mulai dari tingkat kerawanan tinggi, sedang, hingga ringan. Kata Fajar, untuk desa yang tingkat kerawananya tinggi itu yang letaknya berada di pantai laut lepas, seperti laut Selatan Jawa. Sedangkan yang tingkat kerawanan sedang hingga ringan yang daerah pantainya tidak di laut lepas.

 

Di wilayah Kabupaten Banyuwangi sendiri merupakan daerah yang paling luas rawan Tsunami di Pulau Jawa. Sehingga untuk mengetahui dini potensi bencana tsunami Banyuwangi sangat membutuhkan alat pendeteksi dini tsunami atau Early Warning System (EWS).

 

Menurut Fajar, alat pendeteksi dini bencana ini, berfungsi selain dapat mendeteksi dini bencana tsunami juga bisa mendeteksi dini bencana banjir bandang, tanah longsor dan bencana Gunung Meletus. Sedangkan Kabuaten Banyuwangi sendiri telah memiliki 7 EWS bantuan dari BNPB. Namun alat tersebut saat ini kondisinya sudah rusak karena komponennya dicuri. 

 

BPBD Banyuwangi saat ini memerlukan EWS milik BMKG Banyuwangi. Untuk itu, BPBD mengharap Pemerintah Banyuwangi tahun 2019 ini memprioritaskan pengadan EWS, sehingga potensi lebih awal yang bisa membuat Banyuwangi berhasil.

radiovisfm.com, Banyuwangi - 3 orang jaringan pengedar Pil Koplo di wilayah Banyuwangi di ringkus aparat Kepolisian, yang salah satunya adalah perempuan. Menariknya, salah satu dari tersangka tersebut kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service.

Mereka adalah Ica Camelia Agustin (19) warga Jalan Karimun Jawa Kelurahan Lateng Kecamatan Banyuwangi dan kekasihnya, Sugianto (27) warga Dusun Purwosari Desa Tanjungsari Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember, yang selama ini kost di kawasan Jalan Ikan Arwana Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi.

Satu lagi, Indra Wahyu (23) warga Jalan Ikan Wijinongko Kelurahan Sobo Kecamatan Banyuwangi.

Terungkapnya jaringan peredaran pil koplo ini berawal dari penangkapan Ica Camelia Agustin oleh tim buser Polsekta Banyuwangi, di sebuah warung depan Pabrik Kertas Basuki Rahmat.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki mengatakan, dari tangan gadis belia tersebut di amankan barang bukti 10 butir pil jenis Trihexyphenidyl dan uang tunai Rp 30 ribu hasil dari penjualan obat obatan sediaan farmasi tersebut.

“Kepada petugas, tersangka mengaku hanya sebagai kurir yang mengantarkan pesanan si pembeli. Sementara pil tersebut di akui adalah milik Sugianto,” papar AKP Ali Masduki.

“Dari keterangan tersangka inilah, aparat kepolisian bergerak cepat menuju ke tempat kos Sugianto hingga berhasil dilakukan penangkapan,” imbuhnya.

Dari tangan tersangka, petugas mengamankan 110 butir obat Trihexyphenidyl.

Bersamaan dengan itu, tiba tiba datang Indra Wahyu ke tempat kost tersangka hendak memasok pil Trihexyphenidyl. Kondisi ini langsung di manfaatkan oleh petugas untuk menangkap Indra Wahyu, yang rupanya membawa 1000 butir pil Trihexyphenidyl.

“Tersangka Indra Wahyu mengaku mendapatkan obat obatan tersebut dari pemasoknya yang berasal dari Jember, tapi tidak diketahui namanya,” tutur Kapolsek.

Selanjutnya, ketiga tersangka itu di gelandang ke Mapolsekta Banyuwangi guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dan dihadapan penyidik, tersangka Indra Wahyu mengaku awalnya hanya sebagai pengguna saja. Namun lama kelamaan dia mulai menjadi pengedar dan penyuplai pil koplo karena tergiur dengan keuntungan dari penjualan.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service tersebut mengaku sudah mengenal pil Trihexyphenidyl sejak masih duduk di bangku SMA. Dan sebelum ditangkap, setiap hari dia selalu mengkonsumsi pil itu kurang lebih 3 butir, namun di minum satu satu.

“Atas perbuatannya,  ketiga tersangka di jerat pasal 197 subsider pasal 196 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” pungkas Kapolsek.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah mengapresiasi pembukaan galeri lukis oleh perupa nasional asal Banyuwangi, S.Yadi K, yang dinilai akan semakin memperkaya khazanah kesenian dan kebudayaan di Banyuwangi.

Hal ini di sampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka galeri tersebut, Senin malam (01/10).

Galeri seni yang berada di jalan Kuntulan, nomor 135, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah ini menyajikan puluhan lukisan karya S Yadi K dan para pelukis asal Banyuwangi lainnya.

Tampak hadir puluhan seniman dan budayawan Banyuwangi dalam pembukaan semalam tersebut. Hadir pula budayawan nasional dan penulis buku Candra Malik pada kesempatan tersebut.

Bupati Anas mengatakan, Kesenian Banyuwangi memiliki keistimewaan tersendiri. Mulai dari lagu, tari-tarian hingga karya lukis para perupanya.

“Tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga di nasional, bahkan kancah internasional,” ujarnya.

Menurut Bupati Anas, dengan adanya galeri ini, seni lukis dinilai akan semakin memperbesar sumbangsihnya pada khazanah kebudayaan di Banyuwangi.

Yadi merupakan salah seorang pelukis kenamaan Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di tingkat nasional maupun internasional. Pameran tunggalnya pernah dihelat di Edwin Gallery dan Taman Ismil Marzuki Jakarta.

Salah satu karyanya berjudul "Paju Gandrung" menjadi salah satu koleksi istana negara. Beberapa karyanya juga pernah dilelang di Balai Lelang Christie's dan Shotheby's di Singapura.

Dalam kesempatan itu, Bupati Anas juga mendorong tempat tersebut tidak hanya eksklusif untuk para pecinta seni saja. Namun, juga bisa menjadi salah satu alternative destinasi wisata baru di Banyuwangi.

“Selama ini banyak tamu saya penasaran dengan proses kreatif dari Yadi,” tutur Bupati Anas.

“Akan lebih menarik bila wisatawan bisa langsung datang ke galeri Yadi,” imbuhnya.

Selain menikmati lukisan, mereka juga bisa menyaksikan dan terlibat langsung dari aktivitas melukis.

Keberadaan Omah Seni tersebut, lanjut Bupati Anas, akan melengkapi destinasi Gunung Ijen. Para wisatawan setelah mendaki ke Ijen, bisa menikmati jenis wisata lain di bawahnya.

Selain Taman Terakota Gandrung di Jiwa Jawa Resort yang menonjolkan seni patung, mereka juga bisa menikmati seni lukis di Omah Seni S Yadi K tersebut.

“Apalagi, tempat tersebut terhitung masih dalam satu jalur menuju ke Ijen. Ini akan jadi destinasi minat khusus yang menarik wisatawan,” papar Bupati Anas.

Dia juga berjanji bakal turut serta mempromosikan keberadaan galeri tersebut.

“Ini akan jadi paket-paket wisata yang bakal ditawarkan kepada wisatawan yang ke Banyuwangi,” tutur Bupati Anas.

Apalagi sebentar lagi akan ada Annual Meeting IMF World Bank. Sehingga dinilai mereka akan tertarik dengan kesenian semacam ini.

“Selama ini kami banyak melibatkan para seniman dan budayawan dalam menentukan kebijakan. Terutama dalam menentukan berbagai bangunan-bangunan besar, seperti hotel dan tempat-tempat umum,” papar Bupati Anas.

Dicontohkan, arsitek hotel ataupun tempat-tempat umum di Banyuwangi di wajibkan untuk presentasi terlebih dahulu kepada para seniman dan budayawan. Mereka harus memastikan bangunan yang ada akan mengadaptasi konsep kebudayaan lokal. Di sejumlah hotel, bahkan sudah ada lukisan dan potret tentang Banyuwangi di setiap kamarnya.

“Di sinilah kami menitipkan peradaban Banyuwangi,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, S Yadi K merasa tertantang dengan dorongan dari Bupati Anas. Ia menyampaikan bahwa geleri seninya tersebut akan menjadi pusat berkegiatan para perupa di Banyuwangi. Nantinya, mereka akan menggelar workshop maupun pameran di tempat tersebut.

“Galeri saya ini akan menjadi markas para perupa Banyuwangi yang siapa saja nantinya bisa berkunjung,” kata Yadi.

Dia juga mendukung ide Bupati Anas, yang diharapkan galeri seninya bisa menjadi bagian dari mengembangkan seni di Banyuwangi.

Acara tersebut juga dibarengi dengan pagelaran pameran lukisan bertajuk Kembang Kawitan. Berbagai karya lukis dari perupa Banyuwangi ditampilkan di Omah Seni S Yadi K. Pameran tersebut dijadwalkan satu bulan penuh hingga November mendatang.

 

 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Delapan buruh bangunan harus mendekam di sel tahanan Polsek Ilir Timur II, Sumatera Selatan, lantaran kedapatan mengkonsumsi sabu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI George E. Supit memerintahkan satuan TNI kewilayahan untuk membentuk tim SAR (Search and Rescue) dalam membantu pencarian pesawat Dimonim Air.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pembalap asal Lumajang pemenang Asia Mountain Bike Series 2018 di Malaysia, berhasil menjuarai event balap sepeda Chocolate Happy Cycling di Banyuwangi.

Ribuan penggowes MTB (mountain bike) dari berbagai kota di Indonesia ikut menjajal rute jalanan perkebunan kakao, di kawasan wisata Doesoen Kakao di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Minggu (17/02/2019).

Sejumlah pembalap MTB nasional juga turun dalam ajang yang pertama kali digelar ini. Mereka semua ingin menjajal trek sepeda sepanjang 20,4 KM yang membelah perkebunan kakao yang konturnya berbukit. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengungkapkan pelaksanaan Chocolate Happy Cycling ini sebagai bagian dari sporttourism yang sedang dikembangkan Banyuwangi.

Di Banyuwangi sendiri, terdapat 16 event yang masuk dalam agenda spor tourism,” ungkap Bupati Anas.

“Kategori MTB ini melengkapi event balap sepeda di Banyuwangi yang telah ada. Sport tourism sengaja dipilih oleh Banyuwangi untuk menggenjot segmentasi kunjungan wisatawan,” paparnya.

Berdasarkan hasil riset, sport tourism menjadi penarik minat wisatawan selain budaya dan alam. 

Bupati Anas menjelaskan, dari segmentasi sport tourism ini pemerintah ingin menyasar kalangan milenial, mereka yang hobinya olahraga dan traveling.

Sehingga Banyuwangi mencoba masuk diceruk ini,” pungkasnya.

Kompetisi ini dimenangi oleh pembalap MTB nasional, yakni Zainal Fanani. 

Juara Men Elite Asia Mountain Bike Series 2018 di Malaysia ini berhasil menyingkirkan ratusan peserta open race sepeda gunung yang melewati kawasan perkebunan Kendang Lembu, Glenmore milik PTPN XII itu. Pembalap berusia 29 tahun itu, mampu menempuh rute sejauh 20,4 KM dalam waktu 47 menit.

Kelokan, turunan dan tanjakan yang menjadi ciri dari rute off road mampu dilaluinya dengan mudah.

Ia mendahului Angga Dwi Wahyu Prahesta dan Ihza Muhammad yang harus puas finish di urutan kedua dan ketiga.

Keseruan rute juga diakui oleh Linda. Pemenang seri Women Open Chocholate Happy Cycling tersebut, mengaku rutenya ekstream.

“Tapi jalannya cukup lebar sehingga tidak terlalu merepotkan,” ujar Linda.

Linda adalah pebalap asal Samarinda dan merupakan pemegang dua medali emas cabang MTB pada Porprov Kalimantan Timur tahun lalu. Pebalap usia 20 tahun itu, mampu mendahului Bela Anjar Wulan yang finish diurutan kedua.

Chocholate Happy Cycling sendiri tidak hanya terdiri dari kelas open race. Ada beberapa kategori lainnya untuk memeriahkan event yang masuk dalam kalender Banyuwangi Festival tersebut.

Selain kategori open, juga ada Master A untuk pebalap berusia 30 - 39 tahun, Master B untuk usia 40 - 49 tahun, dan Master C untuk usia 50 - 59 tahun. Ada pula kategori happy gowes untuk para pecinta sepeda. 

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banyuwangi Wawan Yadmadi mengatakan, total peserta yang mengikuti event ini sejumlah 1386 peserta. Mereka tidak hanya dari Banyuwangi.

“Tapi juga datang dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali hingga Kalimantan. Bahkan juga ada peserta difabel, Mudiono pebalap asal Lumajang,” papar Wawan.

Event ini merupakan rangkaian chocolate festival di Banyuwangi yang di gelar selama dua hari (16-17 Februari), di kawasan Doesoen Kakao, yang sebelumnya juga di laksanakan Chocolate Glenmore Run dan Chocolate Jazz and Food Festival.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tiga pelari asal Kenya mendominasi juara pada lomba lari Chocolate Glenmore Run 2019 yang di gelar di kawasan perkebunan Kakao Kendeng Lembu Kecamatan Glenmore Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019).

Sebut saja Thomas Kipkor Maritim, menjadi yang tercepat dalam kategori 10 KM putra dengan catatan waktu 32 menit 42 detik. Disusul Hillary Kipkering di urutan kedua dengan catatan waktu 32 menit 47 detik. Dan posisi ketiga di raih Sutikno pelari asal Lumajang yang berhasil mencatat waktu 35 menit 51 detik.

Untuk di kategori 10 KM putri, juga di raih pelari asal Kenya, Daisy Cherono dengan catatan waktu 45 menit 39 detik. Urutan kedua Ilmi, pelari asal Lumajang yang mencetak 51 menit 38 detik serta posisi ketiga pelari asal Magelang, Waliyanti dengan catatan waktu 52 menit 23 detik.

“Saya sangat senang mengikuti kompetisi yang diikuti ribuan pelari dari nusantara ini karena menyuguhkan trek yang cukup menantang,” ungkap Thomas.

“Melewati perkebunan kakao yang berbukit, menembus hutan kecil, dan jalanannya berbatu,” imbuhnya.

Selain itu, Thomas juga mengaku sangat menikmati lomba ini. Lingkungan serta hawa sejuk di area perkebunan menjadi daya tarik tersendiri selama melalui rute tersebut. 

“Meski rutenya menantang tapi jadi menarik karena udaranya sejuk dan lingkungan nya bersih. Terutama pemandangannya sangat menarik,” kata Thomas.

Sementara itu, pemenang 10KM putri Daisy Cherono mengungkapkan bahwa lingkungan yang sejuk membantu dia melewati lomba ini dengan baik. 

“Dari awal start sampai garis finish, saya konsisten tetap berlari. Hawa yang sejuk juga pemandangan sangat indah memudahkan dirinya untuk menyelesaikan lomba,” papar Daisy.

Dia mengaku baru pertama kali ikut lomba lari di Banyuwangi.

“Ini jadi ajang saya untuk menguji speed, karena pada 24 Februari mendatang akan ikut lomba di Malaysia,” ujar Daisy.

Sementara itu, untuk pemenang pada kategori 5 KM didominasi oleh peserta dari luar daerah. Seperti kategori SMA putra diraih oleh Ardi Wirayuda dari SMAN Madinatul Ulum Jombang dan Kategori Putri diraih Ernovyan dari SMAN 2 Genteng Banyuwangi. 

Sedangkan kategori SMP putri dimenangkan oleh Eva Yunita (15) dari SMPN 1 Rowo Kangkung Lumajang, untuk putra diraih Dandi Sampurna (15) SMPN 1 Gambiran Banyuwangi.

Kategori SD Putri diraih Siti Wulandari (9) dari SD Curah Poh 2 Bondowoso dan SD putra diraih Krisna dari MI Islamiah Glenmore, Banyuwangi.

Ajang Chocolate Glenmore Run ini dimulai tepat pukul 06.30 WIB di Doesoen Kakao, sebuah kawasan wisata yang terdapat pabrik pengolahan coklat yang lokasinya berada di perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Event lari yang dibuka oleh Menteri BUMN Rini Soemarno ini melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer dan diikuti lebih dari 2.000 peserta dari seluruh wilayah Indonesia, juga manca negara. 

Para peserta diajak menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao sepanjang rute, para pelari juga bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat. 

Sementara pada Minggu (17/2/2019) akan digelar lomba balap sepeda Chocolate Happy Cycling. Di mana pembalap akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama, yaitu di Doesoen Kakao. Untuk memeriahkan aksi lari dan bersepeda ini digelar pula Chocolate Jazz and Food Festival di kawasan yang sama selama dua hari, 16 - 17 Februari.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah melepas ribuan peserta Chocolate Glenmore Run di lokasi wisata Doesoen Kakao Kecamatan Glenmore Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019), Menteri BUMN Rini Soemarno ikut serta berlari sejauh 5 KM.

Dari data yang ada, sekitar 2.000 an peserta dari dalam dan luar negeri mengikuti event yang baru pertama kali di gelar, dan masuk dalam salah satu rangkaian Banyuwangi Festival 2019 tersebut.

Menteri Rini pun ikut berlari bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Kapolres AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi dan para Bos Bank BUMN menyusuri belantara perkebunan kakao yang merupakan bahan baku cokelat.

Lomba lari ini menyuguhkan trek perkebunan di Perkebunan Kendenglembu. Para peserta melintasi perkebunan kakao dan karet di sepanjang rute. Dari perkebunan di Glenmore itulah, kakao diekspor ke berbagai belahan dunia menjadi cokelat terbaik. 

Bos-bos BUMN pun terlihat menikmati suasana yang sejuk dengan berlari kecil mengiringi ayunan kaki Menteri Rini.

Tampak hadir Direktur Utama BNI Achmad Baiquni, Dirut Bank Mandiri Kartiko Wirjoatmojo, Dirut BRI Suprajarto, Dirut BTN Maryono, Dirut Perhutani Denaldy Maunda, dan para direksi BUMN perkebunan. Hadir pula Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro dan sejumlah deputi menteri.

Menteri Rini mengaku senang bisa berlari ditengah perkebunan dengan udaranya yang sejuk.

“Ini adalah ajang sport tourism yang sangat potensial untuk dikembangkan,” ujarnya.

Menteri Rini dan bos-bos BUMN papan atas Indonesia itu tertawa lepas saat sepatunya basah kuyup saat melintasi sungai kecil di tengah perkebunan.

Meski terus berlari dan basah oleh air, Menteri Rini tetap semringah. Tangannya terus melambai dan bibirnya selalu tersenyum. Beberapa kali dia melepas topi dan mengelap peluh yang menetes di dahinya.

“Kementerian BUMN sangat mendukung program ini sekaligus ingin mendukung Banyuwangi semakin cantik dan terkenal sebagai destinasi wisata nasional maupun internasional,” papar Menteri Rini dalam sambutan singkatnya.

Menurut Menteri Rini, di Kecamatan Glenmore ini pemandangannya sangat indah, dan mempunyai keterikatan kuat dengan dunia karena cokelatnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Sementara itu, Bupati Anas menyatakan, kolaborasi dengan BUMN dinilai memungkinkan ada akselerasi dalam pembangunan daerah.

“Pemerintahan Jokowi memang mendesain BUMN sebagai agen pemerataan dan pemercepat pembangunan,” ungkap Bupati Anas.

Dia bersyukur Banyuwangi bisa terus memperkuat kolaborasi dengan banyak BUMN, termasuk untuk memajukan pariwisata.

“Dulu di zaman sebelum kemerdekaan, daerah Glenmore adalah favorit Belanda. Saat ini aspek historis itu mampu menarik wisatawan untuk datang,” papar Bupati Anas.

“Melalui event ini, Pemkab Banyuwangi ingin mengenalkan salah satu kakao terbaik dunia. Wisatawan juga bisa menikmati cokelat terbaik yang telah dihasilkan di negeri ini,” pungkasnya.

Doesoen Kakao sendiri adalah kawasan wisata yang menjual eksotika perkebunan kakao lengkap dengan pengolahan cokelat yang berlokasi di Perkebunan Kendeng Lembu, Glenmore, Banyuwangi.

Dengan hawa yang sejuk karena terletak di dataran tinggi, kualitas cokelat terbaik, dan aspek historis, Glenmore menjadi favorit wisatawan terutama dari Eropa.

Perkebunan kakao di Glenmore ini telah dikenal sebagai penghasil kakao untuk bahan coklat terbaik di dunia. Kakao Glenmore telah banyak diekspor ke Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Selama dua hari, 16 - 17 Februari, di Doesoen Kakao Banyuwangi akan digelar Chocolate Glenmore Run, Chocolate Happy Cycling, dan Chocolate Jazz and Food Festival. Menteri BUMN Rini Soemarno akan membuka Chocolate Glenmore Run, sebagai event pembuka, Sabtu (16 Februari).

Dikatakan Djuang Pribadi, Kabag Humas Setda Banyuwangi Menteri Rini akan hadir dalam kompetisi lari yang menyuguhkan trek perkebunan kakao di kawasan Glenmore Banywuangi.

"Bu Menteri Rini yang didampingi sejumlah pejabat BUMN akan hadir dalam Chocolate Glenmore Run, bahkan rencananya beliau akan ikut berlari bersama peserta," kata Djuang.

Event lari tersebut akan dimulai pukul 06.00 di Doesoen Kakao, sebuah kawasan wisata yang terdapat pabrik pengolahan coklat yang lokasinya berada di perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yadmadi menambahkan kompetisi lari ini akan melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer.

Kompetisi lari tersebut akan diikuti 1.000 peserta dari seluruh wilayah Indonesia. Bahkan terdapat dua pelari asing asal Kenya yang turut bertanding dalam kompetisi ini.

"Para peserta akan menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao sepanjang rute, para pelari dan pesepeda bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat," kata Wawan.

Hari berkutnya, Minggu (17 Februari) akan digelar Chocolate Happy Cycling, di mana pembalap akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama,  yaiu di Doesoen Kakao.

“Lintasan yang akan dilalui peserta 80 persen offroad. Setelah melewati jalur mulus di jalan lintas selatan, mereka akan memasuki jalanan terjal dan berbatu di pinggiran perkebunan cokelat yang rimbun,” ujar Wawan.

“Tantangan akan semakin berat pada 2 kilometer terakhir saat peserta harus menaklukkan rute menanjak dan beraspal yang licin,” imbuhnya.

Ajang ini terdiri atas 2 kategori lomba, yakni Racing (kompetisi) dan Gowes Happy. Untuk Racing, dibagi menjadi 4 kelompok, yakni  open (semua usia), Master A (usia 30-39 tahun), Master B (40-49 tahun), dan master C (50 tahun ke atas). Sementara Gowes Happy terbuka untuk segala usia.  

Sementara, untuk memeriahkan aksi lari dan sepeda tersebut digelar pula Chocolate Jazz and Food Festival di area setempat selama dua hari, 16 - 17 Februari.

"Pastinya ini akan menjadi pengalaman yang unik menikmati musik jazz sembari menyesap kelezatan coklat tepat di tengah-tengah perkebunannya. Apalagi Glenmore merupakan kawasan perkebunan yang sejuk," pungkas Wawan.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tim Jelajah Sepeda Nusantara (JSN) 2018 diberangkatkan dari Banyuwangi, Rabu pagi (7/11). Banyuwangi menjadi kota pertama di Pulau Jawa yang menjadi titik pemberangkatan rombongan pesepeda ini. Belasan pesepeda tersebut dilepas  Asisten Perekonomian dan Kesra, Iskandar Azis didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi, Wawan Yadmadi dari Kantor Pemkab Banyuwangi. Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jember yang menjadi rute berikutnya. Saat melepas rombongan, Iskandar Azis mengucapkan terima kasihnya kepada mereka yang telah berkunjung ke Banyuwangi. Menurutnya, apa yang dilakukan Banyuwangi selama ini khususnya terkait pengembangan sport tourism dengan mengenalkan titik-titik wisata baru dinilai sudah sejalan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Rombongan ini telah tiba di Banyuwangi pada Selasa malam (6/11) setelah mereka menyelesaikan rute bersepedanya di Pulau Dewata-Bali.

Dikatakan Staf di Asisten Deputi Olahraga Rekreasi, Deputi Pemberdayaan Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Agus Santoso yang mengawal tim JSN, tim ini start sejak 30 Juni 2018 dari pos lintas batas negara yang ada di Entikong, Kalimantan Barat. Dari situ mereka menjelajah seluruh Kalimantan, yakni mulai Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara. Kemudian menjelajah seluruh Sulawesi, baru kemudian menyeberang ke Bali, dan tiba di Banyuwangi selasa malam. Agus menambahkan, tidak hanya sekedar bersepeda, para peserta juga bisa sekaligus menikmati keindahan destinasi wisata yang mereka lalui di sepanjang rute. Walau hanya berhenti selama beberapa saat sambil mengambil foto atau pun menikmati kuliner di tempat tersebut.

Tim JSN ini, imbuh Agus, dijadwalkan  menempuh jarak total sejauh 6700 kilometer dengan melintasi 4 pulau yakni Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Jawa. Dan akan finish di Yogyakarta pada 18 November. Ketika mereka tiba di Banyuwangi, total 6200 km telah ditempuh. Sebelumnya mereka sempat jeda sejenak saat Asian Games dan Asian Paragames digelar. Pesertanya yang terdiri dari 15 atlet itu berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Antara lain dari Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Timur, Lampung dan Bali.

Ada 7 atlet laki-laki dan 8 perempuan. Agus menjelaskan, mereka merupakan atlet pilihan yang sudah menjalani seleksi dari Kemenpora. Dari segi usia, ada yang tua dan ada yang muda. Tertua 56 tahun dan yang termuda 18 tahun. Tujuan perbedaan usia itu sebagai penyeimbang dari tim. Yang tua menyemangati yang muda, dan sebaliknya. Misi JSN ini sendiri kata Agus, untuk mengkampanyekan olahraga. Namun bukan hanya dengan bersepeda, melainkan untuk semua cabang olahraga. Kebetulan saja pihaknya menggunakan sepeda, dengan asumsi bahwa sepeda itu alat olahraga yang terjangkau berbagai kalangan, bisa digunakan oleh siapa pun, baik tua maupun muda, dan tidak ada orang yang bersepeda yang hatinya tidak gembira. Intinya menurut Agus, pihaknya ingin mengkampanyekan dengan olahraga bisa sehat. Dengan sehat masyarakat bisa bergerak dan melakukan apa saja.

Salah satu atlet yang menjadi peserta JSN ini, Rendra Bayu mengaku sangat excited setiap kali berkunjung ke Banyuwangi. Dia mengaku sudah beberapa kali ke Banyuwangi dan selalu kangen dengan nasi tempongnya. Menariknya, Rendra pernah tercatat sebagai peserta International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) selama 4 kali, yakni di 2013, 2015, 2016 dan 2018. Rendra menjelaskan, JSN ini berbeda dengan ITdBI. Jika di ITdBI dirinya full kompetisi, kalau di sini lebih pada mempromosikan olahraga terhadap masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota yang disinggahi.

Selama perjalanan, menurut Rendra, seluruh anggota tim sangat support satu sama lain. Hampir tak ada kendala berarti yang mereka temui. Kesulitan sempat mereka temui saat melintasi Kalimantan, ada beberapa wilayahnya yang belum diaspal. Juga di Sulawesi yang jalanannya sudah bagus, tapi jarak rumah antar satu penduduk dengan penduduk lainnya agak jarang. Sedangkan di Pulau Jawa ini dinilai cukup banyak tanjakan, diantaranya tanjakan Gunung Kumitir dan Bromo. JSN ini digelar untuk kedua kalinya. Jika di tahun ini diberi nama Jelajah Sepeda Nusantara, di tahun 2017 lalu dikenal dengan nama Gowes Touring Pesona Nusantara dengan menempuh daerah Sabang - Magelang. Dalam 1 hari, rata-rata pesepeda ini mengayuh sejauh 100 – 130 km per hari, start pada pukul 07.00 hingga finish pada pukul 17.00 WIB. Dan sejak awal penyelenggaraan, event ini dinyatakan sebagai event yang zero accident.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) menginginkan level International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) naik tingkat menjadi 2.1.

Direktur Kompetisi Manager PB ISSI, Sondi Sampurno mengatakan, di 2018 ini pelaksanaan ITdBI telah memasuki tahun ke 7.

“Saya sarankan agar levelnya sudah bisa naik 2.1 pada pelaksanaan di tahun 2019 mendatang,” ujar Sondi.

Sehingga menurut Sondi, nantinya akan banyak lagi tim yang datang dan mengikuti kegiatan ini serta nama ITdBI semakin terangkat.

“ITdBI sudah memenuhi syarat untuk naik level 2.1 karena sarana prasarananya sudah mendukung,” tutur Sondi.

Seperti, semakin banyak berdiri hotel berkelas serta kendaraan dan medan yang menjadi jalur para pembalap juga dinilai cukup bagus.

Sondi mengaku, kompetisi balap sepeda di Indonesia yang masuk level 2.1 baru satu yakni Tour de Indonesia milik PB ISSI.

“Pada tahap awal untuk menjadi 2.1 memang sangat berat. Tapi percaya, Banyuwangi akan bisa mengatasi berbagai persyarakatan untuk bisa naik level itu,” papar Sondi.

Sementara, Director ITdBI, Jamaluddin Mahmood mengaku tidak setuju ITdBI naik level menjadi 2.1 karena dinilai persiapannya cukup berat serta membutuhkan biaya mahal. Dicontohkan, jika sudah masuk level 2.1 maka minimal harus ada 3 tim dari pro continental, sedangkan untuk mendatangkan 1 tim membutuhkan biaya 30.000 dolar.

“Selain itu, nominal hadiahnya juga harus naik 2 kali lipat dibanding masih level 2.2,” kata Jamal.

Tidak hanya itu, menurut Jamal mobil yang di gunakan untuk setiap tim harus jenis sedan yang di lengkapi dengan 1 set roof racks di atas mobil untuk tempat sepeda, dan itupun warna mobilnya harus sama.

“Jika untuk menyewa sedan dengan jenis dan warna yang sama dipastikan membutuhkan biaya cukup besar,” papar Jamal.

Dan apabila ada 22 tim yang mengikut, maka harus ada 22 mobil sedan yang sama. Sedangkan harga 1 set roof racks saja mencapai 1.200 dolar.

Sementara untuk di 2018, ITdBI di gelar selama 4 hari sejak 26 hingga 29 September yang terbagi dalam 4 etape dengan total jarak tempuh 599 KM.

Top Stories

Grid List

Merdeka.com - Selain mengandung antioksidan yang unik, telur juga dapat menutrisi otak dengan baik.

Merdeka.com - Seorang wanita di Turki menggugat cerai suaminya dan menuntut kompensasi finansial akibat tak kuasa menjalani hubungan rumah tangga dengan pasangannya tersebut.

Bukan karena tindak kekerasan dalam rumah tangga, namun wanita ini muak lantaran sang suami punya kebiasaan mengenakan pakaian dalam wanita saat berada di dalam rumah.

Dikutip dari laman Alaraby.co.uk, Jumat (10/8/2018), menurut kuasa hukum dari wanita tersebut, proses pengajuan perceraian telah dilimpahkan kepada Pengadilan Keluarga di Gaziosmanpas, Istanbul, Turki.

Sang kuasa hukum juga mengatakan jika suami dari kliennya ini kerap mengenakan riasan dan pakaian dalam perempuan sejak dua tahun terakhir.

Tahu bahwa suaminya bertingkah aneh, wanita ini pun langsung menegurnya. Namun, upaya agar sang suami berubah malah mendapat respons yang tak mengenakan. Wanita itu malah mendapat perlakuan kasar.

"Klien saya jadi depresi dan sudah tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan ini," kata pengacara.

"Korban pun menyebut bahwa ia curiga sang suami memiliki kelainan orientasi seksual. Sehingga sudah yakin untuk berpisah," tambahnya.

Kedua belah pihak juga sudah setuju untuk bercerai.

Pasangan suami istri yang sudah menikah selama sembilan tahun ini mengaku sudah mantap menata hidup masing-masing. Tetapi permasalahannya ada pada si pria yang enggan membayar kompensasi atas klaim kerugian yang dirasakan oleh sang istri.

Turki adalah salah satu negara yang menentang kelompok LGBT. Sebelumnya negara ini juga melarang pawai kaum LGBT.

Sumber: Liputan6.com

Despair copy implications shouldn't weren't

Entertainment

Exception saddle publications hearst haven't. Prove reflection conspiracy brown's architect. Coating builder flux badly january. Hoag eliminated accounts delay mutual promising

Manufacturers throat cat

Adventure

Banyuwangi, kabupaten yang terletak diujung timur pulau Jawa ini merupakan penghubung antara pulau Jawa dengan pulau Bali.

Agenda Acara Selanjutnya

Advertisement