Press Release KPU Banyuwangi - Calon Legislatif Tetap 2019

Grid List

Top Stories

Grid List

radiovisfm.com, Banyuwangi - Ribuan penari gandrung dalam gelaran tari kolosal Festival Gandrung Sewu di Pantai Marina Boom, Banyuwangi, Sabtu (12/10/2019), berhasil memukau para penonton.

Berlatarkan Selat Bali, sekitar 1.350 penari dalam balutan busana merah menyala menampilkan keindahan gerak tari. Ditambah alunan musik dari para seniman semakin menjadikan event tahunan ini sangat indah untuk dinikmati, seiring dengan kekompakan gerakan tarian para penari. Festival Gandrung Sewu ini digelar rutin tiap tahun sejak delapan tahun terakhir.

Menari di atas pasir pantai yang tidak jauh dari kota, koreografi Festival Gandrung Sewu selalu menjadi atraksi yang ditunggu para wisatawan.

Tari Gandrung sendiri adalah tari khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Pagelaran seni ini dibuka dengan munculnya ribuan penari Gandrung dengan senyum yang khas dari bibir pantai.

Gending tradisional yang rancak mengiringi gerak penari Gandrung yang berselendang merah menyala. Berbagai formasi tarian ditampilkan dalam langgam yang indah. Hentakan kipas yang bergoyang mengikuti irama gending bersambut gemuruh tepuk tangan ribuan penonton.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam keterangannya mengatakan, Festival Gandrung Sewu dinilai bukan hanya peristiwa biasa, namun bagian dari upaya pemajuan kebudayaan daerah.

“Banyuwangi konsisten mengembangkan pariwisata berbasis budaya untuk menggerakkan ekonomi warga. Karena sektor kreatif inilah yang memperkuat dan mampu bertahan terhadap potensi resesi dunia,” ujar Bupati Anas.

Sudah terbukti kunjungan wisatawan yang terus meningkat di Banyuwangi menjadi motor bagi geliat ekonomi daerah,” imbuhnya.

Oleh karena itulah, untuk  menjaga agar agenda pariwisata daerah terjaga keberlangsungannya, maka Banyuwangi Festival akan dibuatkan peraturan daerahnya.

Sehingga siapapun kelak yang menjadi pemimpin Banyuwangi, kegiatan yang mengungkit ekonomi dan kreativitas rakyat ini akan terus berjalan,” tutur Bupati Anas.

Salah satu penari, Yuandira mengaku sangat bangga bisa terlibat dalam perhelatan Gandrung Sewu kali ini.

“Karena untuk bisa menjadi talent ini cukup sulit karena harus melalui beberapa persyaratan dan seleksi,” ungkap Siswi kelas 8 di SMPN2 Rogojampi tersebut.

Yuandira terpilih bersama 16 temannya satu sekolahan, lalu berlatih di kantor Kecamatan hampir disetiap hari bersama pelatih yang sudah ditunjuk.

“Kurang seminggu kegiatan digelar, saya bersama ribuan penari lain berlatih di Stadion Diponegoro Banyuwangi sebanyak 4 kali untuk penentuan formasi,” tutur Yuandira.

Sementara itu, seorang wisatawan asal Jakarta, Novi Budhiastuti mengaku sudah tiga tahun ini dirinya tidak pernah melewatkan event tersebut. Baginya ini adalah atraksi keren.

Menonton ribuan penari gandrung dengan gerak gemulainya di pinggir pantai benar-benar membuat saya merinding karena pesonanya,” kata Novi.

Menjadi salah satu agenda tetap pariwisata daerah, Gandrung Sewu selalu tampil istimewa dengan tema-tema yang berangkat dari sejarah dan kisah perjuangan masa lalu.

Di tahun 2019 ini, Panji-Panji Sunangkoro menjadi tema yang ditampilkan. Tema ini mengisahkan prajurit pahlawan Rempeg Jogopati yang terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Mereka mendapat dukungan secara diam-diam dari Bupati Banyuwangi pertama, Mas Alit. Namun, dukungan ini terendus oleh VOC, dan Mas Alit dipanggil ke Semarang. Penjajah lalu melakukan langkah licik dengan menaikkan Mas Alit ke kapal berbendara VOC.

Para prajurit yang sudah siap melakukan perlawanan di laut dengan membawa Panji Sunangkoro, begitu melihat kapal VOC melintas mereka langsung menyerang kapal tersebut tanpa tahu bahwa di dalamnya ada Mas Alit. Perlawanan gigih terhadap kolonial inilah yang divisualisasikan ribuan penari Gandrung dalam sebuah pagelaran seni kolosal Gandrung Sewu.

Sementara, musisi Indra Lesmana yang ikut menyaksikan ajang tersebut menyatakan kekagumannya terhadap perhelatan Gandrung Sewu. Yang menurutnya ini sebuah garapan kolosal yang spektakuler.

Saya bukan hanya terkesima dengan keindahan garapan yang sudah berjalan 8 tahun itu, tapi saya juga terinspirasi akan indahnya keragaman negeri Indonesia,” ungkap mantan artis Sophia Latjuba tersebut.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna melestarikan warisan leluhur sekaligus mengangkat seni dan budaya daerah setempat, masyarakat Desa Kemiren Kecamatan Glagah Banyuwangi menggelar Festival Ngopi Sepuluh Ewu, Sabtu malam (12/10/2019).

Ngopi sepuluh ewu merupakan festival Ngopi tahunan yang diadakan di Desa Kemiren. Bukan hanya festival Ngopi biasanya yang menunjukan citarasa kopi, teknik pembuatan, teknologi dan lain-lain, namun disini lebih kepada menjalin persaudaraan.

Kegiatan ini bertemakan “Sak Corot Dadi Seduluran”, yakni sebuah ungkapan dari masyarakat setempat yang bermakna dari secangkir kopi yang dinikmati bersama akan menumbuhkan persaudaraan.

Dari ungkapan itulah, membuat acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu ini berjargon “Sekali Seduh Kita Bersaudara”.

Seperti biasanya, masyarakat desa kemiren menyiapkan meja dan kursi lengkap dengan cangkir-cangkir kopi khas kemiren dengan motif kembang di depan rumah mereka masing masing. Selain itu juga di sajikan jajanan pasar khas Banyuwangi yang ditata diatas meja untuk menyambut para tamu. Seperti pisang goreng, apem, tape dan sebagainya.

Setelah melewati waktu Magrib, perlahan-lahan desa ini mulai didatangi oleh masyarakat dari berbagai penjuru Banyuwangi, bahkan dari luar kota. Termasuk Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Wakil Bupati Yusuf Widiatmoko beserta jajaran forum pimpinan daerah. Hadir pula Dirjen Otonomi Daerah Kementrian Dalam Negeri, Akmal Malik.

Dalam sambutannya, Akmal mengapresiasi upaya Pemkab Banyuwangi yang terus melestarikan adat dan kebudayaan daerahnya. Salah satunya ritual Ngopi Sepuluh Ewu ini yang sudah menjadi tradisi masyarakat Desa Kemiren di dalam menyambut kehadiran para tamunya dengan menyajikan kopi.

“Saya juga mengapresiasi anemo masyarakat yang memenuhi lokasi acara untuk ikut terlibat. Selain itu, kegotong royongan warga Desa Kemiren untuk mensukseskan kegiatan ini tidak pernah saya temui didaerah lain,” puji Akmal.

Sementara itu, dalam sambutannya Bupati Anas menyampaikan terima kasihnya kepada masyarakat Desa Kemiren yang selalu memeriahkan Festival Ngopi Sepuluh Ewu dengan swadaya sendiri.

Pemerintah daerah tidak memberikan anggaran dana apapun di dalam kegiatan ini,” tutur Bupati Anas.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda menjelaskan, Ngopi Sepuluh Ewu ini merupakan tradisi lokal warga Kemiren yang ditangkap oleh pemerintah daerah untuk diangkat dalam perhelatan Festival.

Sebenarnya masyarakat setempat tidak memiliki tradisi ngopi, tapi mereka memiliki cangkir dengan motif yang sama yakni bergambar bunga, yang berjumlah hungga ribuan,” ungkap Bramuda.

“Dari tradisi menyimpan cangkir warisan nenek moyang mereka dan kebiasaan minum kopi disetiap pagi inilah, kami membrandingnya menjadi ngopi yang jumlahnya hampir sepuluh ribu lebih dan itu bebas di minum oleh masyarakat yang datang,” paparnya.

Bramuda menambahkan, dari kegiatan ini, pemkab ingin mengenalkan kopi lokal Banyuwangi sekaligus menarik wisatawan untuk datang sekaligus mencicipi kopi asli Desa Kemiren.

Kopi disajikan dalam cangkir kecil berwarna putih bergambar bunga yang khas dan ditutup agar panasnya lebih tahan lama. Cara minum kopi seperti ini merupakan tradisi masyarakat Osing Desa Kemiren yang merupakan suku asli Banyuwangi. Suku ini mempunyai tradisi minum kopi yang sudah ada sejak jaman nenek moyang dahulu.

Sesepuh adat Desa Kemiren, Suhailik menjelaskan warga Kemiren memiliki falsafah lungguh, suguh dan gupuh dalam menghormati. Ngopi Sepuluh Ewu sangat menggambarkan falsafah yang dipegang warga.

“Lungguh adalah menyiapkan tempat. Sedangkan 'suguh' adalah menyajikan hidangan. Adapun 'gupuh' adalah kesigapan tuan rumah dalam menyambut tamu itu,” ungkap Suhailik.

Sehingga menurutnya, masyarakat Desa Kemiren menyiapkan tempat duduk di sepanjang teras warga sebagai bagian dari 'lungguh'. Juga sisiapkan kopi dan beragam jajanan tradisional sebagai 'suguh'. Serta masyarakat setempat berupaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik sebagai bentuk dari 'gupuh' tersebut.

Di tengah ribuan pengunjung dari berbagai kota di Indonesia, hadir pula Bupati Gresik Sambari Halim, hingga musisi Indra Lesmana. Mereka berbaur bersama masyarakat menikmati seduhan kopi Banyuwangi. Hadirnya ribuan tamu wisatawan ini, Suhailik berharap mereka bisa menjadi saudara bagi warga kemiren.

“Dengan ngopi bareng di sini, kami ingin mereka menjadi saudara. Karena masyarakat setempat mempunyai semboyan, Sak Corot Dadi Sakduluran - Menyeduh Bersama maka Kita Bersaudara,” pungkas Suhailik.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk kesepuluh kalinya, Festival Lembah Ijen kembali digelar dan berhasil memukau para penonton serta wisatawan yang memenuhi amfiteater di Taman Gandrung Terakota Ijen, Sabtu malam (12/10/2019).  

Digelar di ketinggian 600 mdpl, event ini tampil kian atraktif dan menghibur penontonnya. Festival Lembah Ijen menghadirkan sebuah pertunjukan Sendratari Meras Gandrung, yakni pertunjukan dramaa minim dialog yang dikemas dalam sendratari berkisah tentang perjalanan penari menjadi seorang “Gandrung”.

Dimana penari tersebut tidak hanya dituntut menjadi seorang penari profesional, namun juga harus bisa menjadi sinden.

Pertunjukan ini mengambil seting masa kolonial Belanda, karena Gandrung di masa penjajahan memiliki peran besar dalam memperjuangkan kemerdekaan. Diiringi musik gamelan, pertunjukan ini tampil memukau dengan melibatkan puluhan pemain lintas usia, mulai 6 hingga 60 tahun.

Selama satu jam, mereka menghibur para pengunjung dengan menyuguhkan tarian dan suara merdu khas sinden.

Pertunjukan ini semakin menarik dengan hadirnya maestro Gandrung Banyuwangi, Temu Misti.

Atraksi ini pun menuai banyak pujian dari para penonton. Termasuk Direktur Jenderal (Dirjen) Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri, Akmal Malik.

“Ini adalah bagian dari keberhasilan Banyuwangi me-regenerasi dan mempersiapkan agents of change khususnya di bidang seni budaya. Dan hal ini bisa dicontoh oleh daerah yang lain,” ungkap Akmal.

“Banyuwangi berhasil memajukan daerahnya dengan mengerahkan semua potensi yang dimilikinya. Tidak hanya itu, pemimpin Banyuwangi juga berhasil mendorong warganya untuk bersama-sama membangun daerahnya,” tutur Akmal.

Dia mengatakan, jika ingin melihat pelaksanaan otonomi daerah, di Banyuwangi inilah tempatnya. Spirit yang dibangun warga dan pemerintahnya untuk memajukan daerah harus di contoh bersama.

Pertunjukan seni ini mampu memikat musisi nasional, Indra Lesmana. Indra mengaku gembira bisa menyaksikan Festival Lembah Ijen yang rutin digelar setiap bulan.

“Bagi saya, apa yang dilakukan Banyuwangi ini bisa menjaga kebudayaan nasional,” kata Indra Lesmana.

“Budaya akan tetap lestari jika ada sarana. Dan ini adalah sarana yang tepat untuk memajukan budaya local setempat,” imbuhnya.

Event ini juga dinilainya bisa meningkatkan apresiasi dan kualitas pertunjukan budaya lokal.

“Saya suka event ini. Amfiteaternya intimate serta Fibrasinya juga enak sekali,” tutur Indra Lesmana.

Atraksi ini digelar di sebuah amfiteater terbuka yang berada di Taman Gandrung Terakota di kawasan Jiwa Jawa Resort. Kawasan ini berada di ketinggian dataran Banyuwangi, tepatnya di Desa Tamansari, Kecamatan Licin Banyuwangi yang berada di kaki Gunung Ijen. Amfiteater ini menawarkan pemandangan dengan latar belakang persawahan dengan ratusan patung terakota berwujud penari Gandrung yang tersebar di antaranya.

Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto mengaku kagum dengan pergelaran Festival Lembah Ijen tersebut yang dinilainya sangat keren.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sehari menjelang atraksi kolosal Festival Gandrung Sewu, sekaligus untuk memberikan perhatian kepada para seniman, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengunjungi maestro penari Gandurng, Temu Misti di rumahnya di kawasan Desa Adat Kemiren Kecamatan Glagah, Jm’at sore (11/10/2019).

Kehadiran Bupati Anas disambut semringah Temu Misti yang berdiri di pintu masuk rumahnya. Temu mempersilakan Bupati Anas duduk di serambi depan yang juga difungsikan sebagai sanggar tari.

Disini, Bupati Anas menyampaikan terima kasih atas dedikasi maestro seni berusia 66 tahun tersebut dalam melestarikan Tari Gandrung, sebuah tarian khas Banyuwangi yang telah mendunia dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak-Benda Indonesia.

“Temu menjadi salah satu inspirasi bagi Banyuwangi untuk menggelar Festival Gandrung Sewu, sebuah ikhtiar untuk melestarikan seni-budaya local,” ungkap Bupati Anas.

Festival Gandrung Sewu digelar rutin saban tahun sejak delapan tahun terakhir, dan selalu sukses mendatangkan ribuan wisatawan.

Bupati Anas mengaku bangga memiliki Temu yang dinilainya tidak pernah lelah dan bosan menguri-uri kesenian Gandrung.

“Festival Gandrung Sewu ini juga terinspirasi dari semangat Temu Misti,” kata Bupati Anas.

Bupati Anas melanjutkan, kedatangannya tersebut juga tidak lepas dari pertemuannya dengan Presiden ke-5, Megawati Soekarnoputri, dalam beberapa kesempatan.

“Bu Megawati menaruh perhatian besar pada kemajuan kebudayaan daerah yang ada di Indonesia. Bu Mega meminta saya untuk menanyakan kesehatan Temu secara langsung,” papar Bupati Anas.

Sebelumnya, Megawati membaca kisah Gandrung Temu dari salah satu koran nasional. Lalu saat bertemu Bupati Anas, dia secara khusus menitipkan salam dan minta tolong agar dicek kondisi kesehatannya.

“Bu Mega sangat mengapresiasi dedikasi para maestro seni-budaya di berbagai daerah, termasuk Gandrung Temu,” tuturnya.

Bupati Anas menambahkan, Megawati juga berpesan agar Tari Gandrung terus dilestarikan.

“Karena seni dan budaya menjadi magnet yang bisa memunculkan semangat gotong royong dan menyatukan rakyat,” pungkasnya.

Temu Misti telah menggeluti Tari Gandrung sejak usia 15 tahun. Jenis Gandrung yang digelutinya adalah Gandrung Terob, yaitu menari sekaligus menembang semalam suntuk.

Di usianya yang kini menginjak 66 tahun, Temu masih menekuni kesenian ini. Temu kerap diundang ke berbagai negara, bahkan juga tampil di ajang pameran buku terbesar dunia, Frankfurt Bookfair, Jerman. Dia juga memiliki sanggar “Sopo Ngiro” yang memiliki puluhan murid.

“Walaupun usia emake (ibuk) sudah kepala 6, tapi job manggung sebagai Gandrung Terob sampai sekarang tidak pernah sepi,” ungkap Temu.

“Untuk di bulan Oktober 2019 ini, saya dapat 4 job di 4 lokasi yang berbeda,” tuturnya.

Saat menerima kunjungan Bupati Anas, Gandrung Temu sempat menyanyikan satu buah gending atau lagu yang di beri judul Rondo STW atau setengah tuwek. Kontan saja, suara Temu yang melengking tinggi mendapat apresiasi dari Bupati Anas.

Sementara itu, Festival Gandrung Sewu yang akan berlangsung Sabtu (12/10/2019) bakal diikuti lebih dari 1.300 pelaku seni. Tahun ini, Festival Gandrung Sewu bertema ”Panji-Panji Sunangkoro” yang dibalut dalam sendratari berkisah perjuangan heroik rakyat Bumi Blambangan melawan kolonialisme Belanda.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Festival Gandrung Sewu terbukti memanifestasi partisipasi public yang luar biasa, untuk ikut terlibat meningkatkan kwalitas event yang di gelar Pemkab Banyuwangi disetiap tahun tersebut.

Tercatat ada 1.300 seniman muda yang 60 persen diantaranya adalah penari baru, terlibat dalam perhelatan Gandrung Sewu yang di gelar di Pantai Marina Boom, Sabtu (12/10/2019).

Dan jika di akumulasi, seluruhnya bisa menelan anggaran dana mencapai Rp 5 Miliar. Sementara Pemerintah Daerah hanya menyiapkan ratusan juta rupiah.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, untuk mengatasi permasalahan anggaran itulah, masyarakat ikut terlibat dan berpatisipasi agar kwalitas perhelatan Gandrung Sewu semakin meningkat.

“Contohnya, para orang tua menginginkan anak anaknya yang ikut menari di Festival Gandrung Sewu untuk lebih nyaman. Yang biasanya mereka dari Kecamatan naik truck untuk menuju ke lokasi acara, kini orang tuanya menyewa mobil dengan saling iuran,” ujar Bupati Anas.

Selain itu, yang sebelumnya anak anak mereka menginap di sekolah sekolah menjelang pelaksanaan. Para orang tuanya pun merasa kasihan sehingga menginapkan di hotel dengan menggunakan anggaran dana sendiri.

“Inilah yang terkadang di sorot orang dan di duga adanya pungutan dalam pelaksanaan Festival Gandrung Sewu,” ujarnya.

Meski demikian, Bupati Anas mengapresiasi kegiatan ini dan dinilainya sebagai konsolidasi budaya dikalangan anak anak ditengah gempuran moderenisasi. Ketika saat ini anak anak lain selalu berpikiran main gadget, namun mereka tetap berlatih dilapangan dengan menyiapkan waktu untuk berinteraksi dengan teman temannya sehingga filosofinya dapat.

“Bagi Banyuwangi, selain sebagai peristiwa budaya, Festival Gandrung Sewu ini juga merupakan gathering investasi,” kata Bupati Anas.

“Banyak pelaku ekonomi dan investor dari berbagai daerah datang ke Banyuwangi untuk menyaksikan event ini. Artinya, makna Gandrung Sewu ini sudah meluas. Selain sebagai konsolidasi kebudayaan, juga jadi bagian penting untuk meluaskan nilai nilai kesenian untuk gathering dan investasi,” papar Bupati Anas.

Ditahun 2019 ini, Festival Gandrung Sewu mengambil tema ”Panji-Panji Sunangkoro” yang dibalut dalam sendratari berkisah perjuangan heroik rakyat Blambangan melawan kolonialisme Belanda. Dan sebanyak 1.300 penari dan seniman muda terlibat langsung dalam perhelatan tersebut, yang sebelumnya mereka diseleksi melalui masing masing kecamatan.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi menilai, perhelatan Gandrung Sewu menjadi atraksi wisata sekaligus memproduksi pengetahuan budaya khususnya bagi generasi muda.

Gandrung Sewu di gelar rutin setiap tahun dan telah menjadi ikon Kabupaten Banyuwangi. Ribuan penari yang beraksi di tepi Pantai Marina Boom berlatar Selat Bali selalu mengundang minat ribuan wisatawan di setiap tahunnya. Untuk di tahun 2019 ini, event tersebut di ikuti 1.300 seniman muda yang 60 persen diantaranya adalah penari baru.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, itu artinya disini ada proses regenerasi. Selama proses persiapan, mereka ikut workshop, latihan juga diskusi. Dari sanalah pengetahuan budaya diproduksi dan didistribusikan untuk anak-anak muda dengan melibatkan seniman, budayawan, komunitas sanggar seni, hingga guru-guru.

“Idealnya, sebuah festival bukan semata-mata memproduksi produk seni-budaya, tapi juga harus mampu memproduksi pengetahuan budaya,” ungkap Bupati Anas.

Hal inilah yang menurut Bupati Anas di ikhtiarkan dirinya di Banyuwangi. Sehingga festival bukan hanya atraksi wisata, namun juga bagian integral dari upaya pemajuan kebudayaan.

“Selain kepada anak-anak muda pelaku seni, produksi pengetahuan budaya juga menyasar khalayak umum lewat berbagai saluran. Termasuk nantinya saat pelaksanaan, ada pengetahuan yang bisa disimak melalui sendratari dan beragam materi promosi,” papar Bupati Anas.

Untuk itu Bupati Anas berharap, festival bukan hanya berdampak pada ekonomi, namun juga peningkatan pengetahuan budaya warga.

“Gandrung Sewu ini juga menjadi gathering yang luar biasa, bukan hanya bagi kesenian dan kebudayaan tapi juga untuk investasi,” kata Bupati Anas.

“Itu terbukti, banyak para pelaku ekonomi dan investor dari berbagai kota datang ke Banyuwangi ingin menyaksikan perhelatan Gandrung Sewu,” imbuhnya.

Demikian halnya dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang telah melakukan reservasi untuk datang ke Banyuwangi.

Dari sini kata Bupati Anas, makna Festival Gandrung Sewu telah meluas.

“Selain jadi alat konsolidasi kebudayaan, juga jadi bagian penting untuk meluaskan nilai nilai kesenian serta untuk gathering investasi,” tutur Bupati Anas.

Sementara itu, dari aspek pariwisata, Festival Gandrung Sewu telah terbukti terus meningkat kualitasnya sehingga ditetapkan sebagai 10 Best Calendar of Event pariwisata Indonesia. Pada saat bersamaan, Festival Gandrung Sewu memproduksi pengetahuan budaya melalui serangkaian workshop, latihan, diskusi tema, hingga seleksi penari-penari baru yang melibatkan ribuan anak muda Banyuwangi.

Bupati Anas menambahkan, sesuai Undang-Undang Nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, obyek pemajuan kebudayaan harus dilakukan inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, dan penyelamatan. Obyek pemajuan kebudayaan sendiri terdiri atas sepuluh hal, mulai tradisi lisan, adat istiadat, manuskrip, permainan rakyat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, hingga ritus.

Ketua Panitia Festival Gandrung Sewu Budianto menambahkan, aksi kolosal ribuan penari Gandrung tahun ini bertema ”Panji-Panji Sunangkoro” yang dibalut dalam sendratari berkisah perjuangan heroik rakyat Blambangan melawan kolonialisme Belanda. 

“Digelar rutin sejak delapan tahun terakhir, Festival Gandrung Sewu selalu mengangkat tema yang berbeda di setiap tahunnya,” kata Budianto.

“Regenerasi pelaku seni hingga produksi pengetahuan budaya berlangsung dalam proses ini,” pungkasnya.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Logistik kebutuhan pemilu tiba di Banyuwangi. Logistik awal, KPU Banyuwangi mulai menerima kiriman surat suara untuk kebutuhan pemilu tahun 2019. Sejak hari kamis kemarin, KPUD Banyuwangi sudah menerima 2.375 boks surat suara untuk DPR RI, dari kebutuhan sebanyak 2.688 boks.

Ketua KPU Banyuwangi, Samsul Arifin menuturkan, surat suara yang diterima KPU Banyuwangi, baru surat suara untuk calon legislatif DPR RI. Sedangkan untuk surat suara DPRD Propinsi, DPRD kabupaten, DPD dan Pilpres secara bertahap akan datang sampai  bulan Maret 2019 mendatang. 

Dijelaskan oleh Samsul, surat suara DPR RI yang diterima KPU Banyuwangi masih dalam kondisi tersegel, dan pihaknya langsung melakukan pengecekan untuk memastikan apakah surat suara yang dikirim, jumlahnya sudah sesuai dengan dokumen pengiriman.

Selain datangnya surat suara Pemilu, KPU Banyuwangi juga telah melakukan proses perakitan kotak suara. Jumlah kotak suara yang harus dirakit untuk kebutuhan Pemilu 2019 di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 25.580 kotak suara.

Kotak suara jumlahnya disesuaikan dengan jumlah Tempat Pemungutan Suara, yakni 5.116 TPS, setiap TPS mendapatkan lima kotak suara dan empat bilik suara. Syamsul menambahkan, Dalam proses perakitan kotak suara tersebut, KPU Banyuwangi melibatkan masyarakat setempat, dan Samsul menargetkan perakitan kotak suara dapat secepatnya diselesaikan. Dari awal bulan Pebruari jumat siang, sudah terakit sebanyak  3.000 lebih kotak suara.

 

 

 

Radiovisfm.com, Banyuwangi -  DPRD Banyuwangi meminta kepada pemerintah untuk mengganti alat pendeteksi dini bencana atau Early Warning System (EWS) yang rusak. Ini dilakukan untuk menghindari kehilangan yang lebih lama. Terlebih saat ini, Banyuwangi dianggap sebagai daerah yang rawan bencana tsunami.

 

Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara menuturkan, alat pendeteksi dini bencana saat ini sangat penting, terlebih lagi wilayah Banyuwangi memiliki ancaman bencana yang cukup tinggi. Mengingat kata Made, Pemerintah Banyuwangi diharapkan untuk segera menginventarisir alat yang diperlukan untuk penggunaan dini di Banyuwangi.

 

Intinya pemerintah harus tanggap terkait alat-alat yang bisa mencegah bencana jika ada yang rusak. Jika ada yang hilang segera di inventarisir dan segera diganti. Karena hal ini kata Terbuat dari nyawa masyarakat Banyuwangi terjadi kompilasi bencana.

 

Dibeberapa wilayah di Indonesia sudah terjadi tsunami. Bukan tidak mungkin Banyuwangi yang memiliki panjang pantau 175,8 kilometer juga diterjang tsunami. Bagaimana jika Banyuwangi memiliki alat pendeteksi dini bencana, maka potensi bencana yang akan terjadi dapat lebih dini dan dapat meminimalisir korban jiwa yang terkait dengan bencana tersebut.

 

DPRD juga mendesak BPBD segera bergerak untuk berkoordinasi dengan Pemkab Banyuwangi untuk perlindungan seluruh peralatan penanggulangan bencana

 

Made mengaku, pihaknya belum mengecek apakah di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Banyuwangi tahun 2019 ini sudah ada atau belum untuk pembelian alat pendeteksi dini bencana tersebut. Jika belum, pihaknya akan menambahkan anggaran pembelian EWS itu pada APBD perubahan nanti, karena yang terpenting kata Made Banyuwangi harus mempunyai alat pendeteksi dini bencana. 

 

“ Pemerintah harus tanggap terkait alat pendeteksi bencana kalau memang ada yang rusak, karena ini menyangkut nyaa masyarakat Banyuwangi ketika ada korban bencana, dan BPBD segera bergerak koordinasi dengan Pemkab untuk mendeteksi peralatan dan potensi bencana terkait tsunami dan tanah longsor karena sekarang posisi sedang musim hujan deras”, ujarnya.

 

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat merilis ada sekitar 45 desa yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, rawan sekali dihantam bencana tsunami. Sebab desa- desa tersebut letaknya berdekatan dengan pantai.

 

Menurut kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Fajar Suasana, puluhan desa itu diantaranya, Desa Sambimulyo, Temurejo, Pakis, Sobo, Kertosari, Ketapang, Sumberagung, Pesanggaran, Grajagan dan Desa Sumbersewu. 

 

Dari puluhan desa itu, tingkat kerawananya berbeda- beda. Mulai dari tingkat kerawanan tinggi, sedang, hingga ringan. Kata Fajar, untuk desa yang tingkat kerawananya tinggi itu yang letaknya berada di pantai laut lepas, seperti laut Selatan Jawa. Sedangkan yang tingkat kerawanan sedang hingga ringan yang daerah pantainya tidak di laut lepas.

 

Di wilayah Kabupaten Banyuwangi sendiri merupakan daerah yang paling luas rawan Tsunami di Pulau Jawa. Sehingga untuk mengetahui dini potensi bencana tsunami Banyuwangi sangat membutuhkan alat pendeteksi dini tsunami atau Early Warning System (EWS).

 

Menurut Fajar, alat pendeteksi dini bencana ini, berfungsi selain dapat mendeteksi dini bencana tsunami juga bisa mendeteksi dini bencana banjir bandang, tanah longsor dan bencana Gunung Meletus. Sedangkan Kabuaten Banyuwangi sendiri telah memiliki 7 EWS bantuan dari BNPB. Namun alat tersebut saat ini kondisinya sudah rusak karena komponennya dicuri. 

 

BPBD Banyuwangi saat ini memerlukan EWS milik BMKG Banyuwangi. Untuk itu, BPBD mengharap Pemerintah Banyuwangi tahun 2019 ini memprioritaskan pengadan EWS, sehingga potensi lebih awal yang bisa membuat Banyuwangi berhasil.

radiovisfm.com, Banyuwangi - 3 orang jaringan pengedar Pil Koplo di wilayah Banyuwangi di ringkus aparat Kepolisian, yang salah satunya adalah perempuan. Menariknya, salah satu dari tersangka tersebut kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service.

Mereka adalah Ica Camelia Agustin (19) warga Jalan Karimun Jawa Kelurahan Lateng Kecamatan Banyuwangi dan kekasihnya, Sugianto (27) warga Dusun Purwosari Desa Tanjungsari Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember, yang selama ini kost di kawasan Jalan Ikan Arwana Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi.

Satu lagi, Indra Wahyu (23) warga Jalan Ikan Wijinongko Kelurahan Sobo Kecamatan Banyuwangi.

Terungkapnya jaringan peredaran pil koplo ini berawal dari penangkapan Ica Camelia Agustin oleh tim buser Polsekta Banyuwangi, di sebuah warung depan Pabrik Kertas Basuki Rahmat.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki mengatakan, dari tangan gadis belia tersebut di amankan barang bukti 10 butir pil jenis Trihexyphenidyl dan uang tunai Rp 30 ribu hasil dari penjualan obat obatan sediaan farmasi tersebut.

“Kepada petugas, tersangka mengaku hanya sebagai kurir yang mengantarkan pesanan si pembeli. Sementara pil tersebut di akui adalah milik Sugianto,” papar AKP Ali Masduki.

“Dari keterangan tersangka inilah, aparat kepolisian bergerak cepat menuju ke tempat kos Sugianto hingga berhasil dilakukan penangkapan,” imbuhnya.

Dari tangan tersangka, petugas mengamankan 110 butir obat Trihexyphenidyl.

Bersamaan dengan itu, tiba tiba datang Indra Wahyu ke tempat kost tersangka hendak memasok pil Trihexyphenidyl. Kondisi ini langsung di manfaatkan oleh petugas untuk menangkap Indra Wahyu, yang rupanya membawa 1000 butir pil Trihexyphenidyl.

“Tersangka Indra Wahyu mengaku mendapatkan obat obatan tersebut dari pemasoknya yang berasal dari Jember, tapi tidak diketahui namanya,” tutur Kapolsek.

Selanjutnya, ketiga tersangka itu di gelandang ke Mapolsekta Banyuwangi guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dan dihadapan penyidik, tersangka Indra Wahyu mengaku awalnya hanya sebagai pengguna saja. Namun lama kelamaan dia mulai menjadi pengedar dan penyuplai pil koplo karena tergiur dengan keuntungan dari penjualan.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service tersebut mengaku sudah mengenal pil Trihexyphenidyl sejak masih duduk di bangku SMA. Dan sebelum ditangkap, setiap hari dia selalu mengkonsumsi pil itu kurang lebih 3 butir, namun di minum satu satu.

“Atas perbuatannya,  ketiga tersangka di jerat pasal 197 subsider pasal 196 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” pungkas Kapolsek.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah mengapresiasi pembukaan galeri lukis oleh perupa nasional asal Banyuwangi, S.Yadi K, yang dinilai akan semakin memperkaya khazanah kesenian dan kebudayaan di Banyuwangi.

Hal ini di sampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka galeri tersebut, Senin malam (01/10).

Galeri seni yang berada di jalan Kuntulan, nomor 135, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah ini menyajikan puluhan lukisan karya S Yadi K dan para pelukis asal Banyuwangi lainnya.

Tampak hadir puluhan seniman dan budayawan Banyuwangi dalam pembukaan semalam tersebut. Hadir pula budayawan nasional dan penulis buku Candra Malik pada kesempatan tersebut.

Bupati Anas mengatakan, Kesenian Banyuwangi memiliki keistimewaan tersendiri. Mulai dari lagu, tari-tarian hingga karya lukis para perupanya.

“Tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga di nasional, bahkan kancah internasional,” ujarnya.

Menurut Bupati Anas, dengan adanya galeri ini, seni lukis dinilai akan semakin memperbesar sumbangsihnya pada khazanah kebudayaan di Banyuwangi.

Yadi merupakan salah seorang pelukis kenamaan Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di tingkat nasional maupun internasional. Pameran tunggalnya pernah dihelat di Edwin Gallery dan Taman Ismil Marzuki Jakarta.

Salah satu karyanya berjudul "Paju Gandrung" menjadi salah satu koleksi istana negara. Beberapa karyanya juga pernah dilelang di Balai Lelang Christie's dan Shotheby's di Singapura.

Dalam kesempatan itu, Bupati Anas juga mendorong tempat tersebut tidak hanya eksklusif untuk para pecinta seni saja. Namun, juga bisa menjadi salah satu alternative destinasi wisata baru di Banyuwangi.

“Selama ini banyak tamu saya penasaran dengan proses kreatif dari Yadi,” tutur Bupati Anas.

“Akan lebih menarik bila wisatawan bisa langsung datang ke galeri Yadi,” imbuhnya.

Selain menikmati lukisan, mereka juga bisa menyaksikan dan terlibat langsung dari aktivitas melukis.

Keberadaan Omah Seni tersebut, lanjut Bupati Anas, akan melengkapi destinasi Gunung Ijen. Para wisatawan setelah mendaki ke Ijen, bisa menikmati jenis wisata lain di bawahnya.

Selain Taman Terakota Gandrung di Jiwa Jawa Resort yang menonjolkan seni patung, mereka juga bisa menikmati seni lukis di Omah Seni S Yadi K tersebut.

“Apalagi, tempat tersebut terhitung masih dalam satu jalur menuju ke Ijen. Ini akan jadi destinasi minat khusus yang menarik wisatawan,” papar Bupati Anas.

Dia juga berjanji bakal turut serta mempromosikan keberadaan galeri tersebut.

“Ini akan jadi paket-paket wisata yang bakal ditawarkan kepada wisatawan yang ke Banyuwangi,” tutur Bupati Anas.

Apalagi sebentar lagi akan ada Annual Meeting IMF World Bank. Sehingga dinilai mereka akan tertarik dengan kesenian semacam ini.

“Selama ini kami banyak melibatkan para seniman dan budayawan dalam menentukan kebijakan. Terutama dalam menentukan berbagai bangunan-bangunan besar, seperti hotel dan tempat-tempat umum,” papar Bupati Anas.

Dicontohkan, arsitek hotel ataupun tempat-tempat umum di Banyuwangi di wajibkan untuk presentasi terlebih dahulu kepada para seniman dan budayawan. Mereka harus memastikan bangunan yang ada akan mengadaptasi konsep kebudayaan lokal. Di sejumlah hotel, bahkan sudah ada lukisan dan potret tentang Banyuwangi di setiap kamarnya.

“Di sinilah kami menitipkan peradaban Banyuwangi,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, S Yadi K merasa tertantang dengan dorongan dari Bupati Anas. Ia menyampaikan bahwa geleri seninya tersebut akan menjadi pusat berkegiatan para perupa di Banyuwangi. Nantinya, mereka akan menggelar workshop maupun pameran di tempat tersebut.

“Galeri saya ini akan menjadi markas para perupa Banyuwangi yang siapa saja nantinya bisa berkunjung,” kata Yadi.

Dia juga mendukung ide Bupati Anas, yang diharapkan galeri seninya bisa menjadi bagian dari mengembangkan seni di Banyuwangi.

Acara tersebut juga dibarengi dengan pagelaran pameran lukisan bertajuk Kembang Kawitan. Berbagai karya lukis dari perupa Banyuwangi ditampilkan di Omah Seni S Yadi K. Pameran tersebut dijadwalkan satu bulan penuh hingga November mendatang.

 

 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Delapan buruh bangunan harus mendekam di sel tahanan Polsek Ilir Timur II, Sumatera Selatan, lantaran kedapatan mengkonsumsi sabu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI George E. Supit memerintahkan satuan TNI kewilayahan untuk membentuk tim SAR (Search and Rescue) dalam membantu pencarian pesawat Dimonim Air.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pembalap asal Lumajang pemenang Asia Mountain Bike Series 2018 di Malaysia, berhasil menjuarai event balap sepeda Chocolate Happy Cycling di Banyuwangi.

Ribuan penggowes MTB (mountain bike) dari berbagai kota di Indonesia ikut menjajal rute jalanan perkebunan kakao, di kawasan wisata Doesoen Kakao di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Minggu (17/02/2019).

Sejumlah pembalap MTB nasional juga turun dalam ajang yang pertama kali digelar ini. Mereka semua ingin menjajal trek sepeda sepanjang 20,4 KM yang membelah perkebunan kakao yang konturnya berbukit. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengungkapkan pelaksanaan Chocolate Happy Cycling ini sebagai bagian dari sporttourism yang sedang dikembangkan Banyuwangi.

Di Banyuwangi sendiri, terdapat 16 event yang masuk dalam agenda spor tourism,” ungkap Bupati Anas.

“Kategori MTB ini melengkapi event balap sepeda di Banyuwangi yang telah ada. Sport tourism sengaja dipilih oleh Banyuwangi untuk menggenjot segmentasi kunjungan wisatawan,” paparnya.

Berdasarkan hasil riset, sport tourism menjadi penarik minat wisatawan selain budaya dan alam. 

Bupati Anas menjelaskan, dari segmentasi sport tourism ini pemerintah ingin menyasar kalangan milenial, mereka yang hobinya olahraga dan traveling.

Sehingga Banyuwangi mencoba masuk diceruk ini,” pungkasnya.

Kompetisi ini dimenangi oleh pembalap MTB nasional, yakni Zainal Fanani. 

Juara Men Elite Asia Mountain Bike Series 2018 di Malaysia ini berhasil menyingkirkan ratusan peserta open race sepeda gunung yang melewati kawasan perkebunan Kendang Lembu, Glenmore milik PTPN XII itu. Pembalap berusia 29 tahun itu, mampu menempuh rute sejauh 20,4 KM dalam waktu 47 menit.

Kelokan, turunan dan tanjakan yang menjadi ciri dari rute off road mampu dilaluinya dengan mudah.

Ia mendahului Angga Dwi Wahyu Prahesta dan Ihza Muhammad yang harus puas finish di urutan kedua dan ketiga.

Keseruan rute juga diakui oleh Linda. Pemenang seri Women Open Chocholate Happy Cycling tersebut, mengaku rutenya ekstream.

“Tapi jalannya cukup lebar sehingga tidak terlalu merepotkan,” ujar Linda.

Linda adalah pebalap asal Samarinda dan merupakan pemegang dua medali emas cabang MTB pada Porprov Kalimantan Timur tahun lalu. Pebalap usia 20 tahun itu, mampu mendahului Bela Anjar Wulan yang finish diurutan kedua.

Chocholate Happy Cycling sendiri tidak hanya terdiri dari kelas open race. Ada beberapa kategori lainnya untuk memeriahkan event yang masuk dalam kalender Banyuwangi Festival tersebut.

Selain kategori open, juga ada Master A untuk pebalap berusia 30 - 39 tahun, Master B untuk usia 40 - 49 tahun, dan Master C untuk usia 50 - 59 tahun. Ada pula kategori happy gowes untuk para pecinta sepeda. 

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banyuwangi Wawan Yadmadi mengatakan, total peserta yang mengikuti event ini sejumlah 1386 peserta. Mereka tidak hanya dari Banyuwangi.

“Tapi juga datang dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali hingga Kalimantan. Bahkan juga ada peserta difabel, Mudiono pebalap asal Lumajang,” papar Wawan.

Event ini merupakan rangkaian chocolate festival di Banyuwangi yang di gelar selama dua hari (16-17 Februari), di kawasan Doesoen Kakao, yang sebelumnya juga di laksanakan Chocolate Glenmore Run dan Chocolate Jazz and Food Festival.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tiga pelari asal Kenya mendominasi juara pada lomba lari Chocolate Glenmore Run 2019 yang di gelar di kawasan perkebunan Kakao Kendeng Lembu Kecamatan Glenmore Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019).

Sebut saja Thomas Kipkor Maritim, menjadi yang tercepat dalam kategori 10 KM putra dengan catatan waktu 32 menit 42 detik. Disusul Hillary Kipkering di urutan kedua dengan catatan waktu 32 menit 47 detik. Dan posisi ketiga di raih Sutikno pelari asal Lumajang yang berhasil mencatat waktu 35 menit 51 detik.

Untuk di kategori 10 KM putri, juga di raih pelari asal Kenya, Daisy Cherono dengan catatan waktu 45 menit 39 detik. Urutan kedua Ilmi, pelari asal Lumajang yang mencetak 51 menit 38 detik serta posisi ketiga pelari asal Magelang, Waliyanti dengan catatan waktu 52 menit 23 detik.

“Saya sangat senang mengikuti kompetisi yang diikuti ribuan pelari dari nusantara ini karena menyuguhkan trek yang cukup menantang,” ungkap Thomas.

“Melewati perkebunan kakao yang berbukit, menembus hutan kecil, dan jalanannya berbatu,” imbuhnya.

Selain itu, Thomas juga mengaku sangat menikmati lomba ini. Lingkungan serta hawa sejuk di area perkebunan menjadi daya tarik tersendiri selama melalui rute tersebut. 

“Meski rutenya menantang tapi jadi menarik karena udaranya sejuk dan lingkungan nya bersih. Terutama pemandangannya sangat menarik,” kata Thomas.

Sementara itu, pemenang 10KM putri Daisy Cherono mengungkapkan bahwa lingkungan yang sejuk membantu dia melewati lomba ini dengan baik. 

“Dari awal start sampai garis finish, saya konsisten tetap berlari. Hawa yang sejuk juga pemandangan sangat indah memudahkan dirinya untuk menyelesaikan lomba,” papar Daisy.

Dia mengaku baru pertama kali ikut lomba lari di Banyuwangi.

“Ini jadi ajang saya untuk menguji speed, karena pada 24 Februari mendatang akan ikut lomba di Malaysia,” ujar Daisy.

Sementara itu, untuk pemenang pada kategori 5 KM didominasi oleh peserta dari luar daerah. Seperti kategori SMA putra diraih oleh Ardi Wirayuda dari SMAN Madinatul Ulum Jombang dan Kategori Putri diraih Ernovyan dari SMAN 2 Genteng Banyuwangi. 

Sedangkan kategori SMP putri dimenangkan oleh Eva Yunita (15) dari SMPN 1 Rowo Kangkung Lumajang, untuk putra diraih Dandi Sampurna (15) SMPN 1 Gambiran Banyuwangi.

Kategori SD Putri diraih Siti Wulandari (9) dari SD Curah Poh 2 Bondowoso dan SD putra diraih Krisna dari MI Islamiah Glenmore, Banyuwangi.

Ajang Chocolate Glenmore Run ini dimulai tepat pukul 06.30 WIB di Doesoen Kakao, sebuah kawasan wisata yang terdapat pabrik pengolahan coklat yang lokasinya berada di perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Event lari yang dibuka oleh Menteri BUMN Rini Soemarno ini melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer dan diikuti lebih dari 2.000 peserta dari seluruh wilayah Indonesia, juga manca negara. 

Para peserta diajak menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao sepanjang rute, para pelari juga bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat. 

Sementara pada Minggu (17/2/2019) akan digelar lomba balap sepeda Chocolate Happy Cycling. Di mana pembalap akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama, yaitu di Doesoen Kakao. Untuk memeriahkan aksi lari dan bersepeda ini digelar pula Chocolate Jazz and Food Festival di kawasan yang sama selama dua hari, 16 - 17 Februari.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah melepas ribuan peserta Chocolate Glenmore Run di lokasi wisata Doesoen Kakao Kecamatan Glenmore Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019), Menteri BUMN Rini Soemarno ikut serta berlari sejauh 5 KM.

Dari data yang ada, sekitar 2.000 an peserta dari dalam dan luar negeri mengikuti event yang baru pertama kali di gelar, dan masuk dalam salah satu rangkaian Banyuwangi Festival 2019 tersebut.

Menteri Rini pun ikut berlari bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Kapolres AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi dan para Bos Bank BUMN menyusuri belantara perkebunan kakao yang merupakan bahan baku cokelat.

Lomba lari ini menyuguhkan trek perkebunan di Perkebunan Kendenglembu. Para peserta melintasi perkebunan kakao dan karet di sepanjang rute. Dari perkebunan di Glenmore itulah, kakao diekspor ke berbagai belahan dunia menjadi cokelat terbaik. 

Bos-bos BUMN pun terlihat menikmati suasana yang sejuk dengan berlari kecil mengiringi ayunan kaki Menteri Rini.

Tampak hadir Direktur Utama BNI Achmad Baiquni, Dirut Bank Mandiri Kartiko Wirjoatmojo, Dirut BRI Suprajarto, Dirut BTN Maryono, Dirut Perhutani Denaldy Maunda, dan para direksi BUMN perkebunan. Hadir pula Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro dan sejumlah deputi menteri.

Menteri Rini mengaku senang bisa berlari ditengah perkebunan dengan udaranya yang sejuk.

“Ini adalah ajang sport tourism yang sangat potensial untuk dikembangkan,” ujarnya.

Menteri Rini dan bos-bos BUMN papan atas Indonesia itu tertawa lepas saat sepatunya basah kuyup saat melintasi sungai kecil di tengah perkebunan.

Meski terus berlari dan basah oleh air, Menteri Rini tetap semringah. Tangannya terus melambai dan bibirnya selalu tersenyum. Beberapa kali dia melepas topi dan mengelap peluh yang menetes di dahinya.

“Kementerian BUMN sangat mendukung program ini sekaligus ingin mendukung Banyuwangi semakin cantik dan terkenal sebagai destinasi wisata nasional maupun internasional,” papar Menteri Rini dalam sambutan singkatnya.

Menurut Menteri Rini, di Kecamatan Glenmore ini pemandangannya sangat indah, dan mempunyai keterikatan kuat dengan dunia karena cokelatnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Sementara itu, Bupati Anas menyatakan, kolaborasi dengan BUMN dinilai memungkinkan ada akselerasi dalam pembangunan daerah.

“Pemerintahan Jokowi memang mendesain BUMN sebagai agen pemerataan dan pemercepat pembangunan,” ungkap Bupati Anas.

Dia bersyukur Banyuwangi bisa terus memperkuat kolaborasi dengan banyak BUMN, termasuk untuk memajukan pariwisata.

“Dulu di zaman sebelum kemerdekaan, daerah Glenmore adalah favorit Belanda. Saat ini aspek historis itu mampu menarik wisatawan untuk datang,” papar Bupati Anas.

“Melalui event ini, Pemkab Banyuwangi ingin mengenalkan salah satu kakao terbaik dunia. Wisatawan juga bisa menikmati cokelat terbaik yang telah dihasilkan di negeri ini,” pungkasnya.

Doesoen Kakao sendiri adalah kawasan wisata yang menjual eksotika perkebunan kakao lengkap dengan pengolahan cokelat yang berlokasi di Perkebunan Kendeng Lembu, Glenmore, Banyuwangi.

Dengan hawa yang sejuk karena terletak di dataran tinggi, kualitas cokelat terbaik, dan aspek historis, Glenmore menjadi favorit wisatawan terutama dari Eropa.

Perkebunan kakao di Glenmore ini telah dikenal sebagai penghasil kakao untuk bahan coklat terbaik di dunia. Kakao Glenmore telah banyak diekspor ke Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Selama dua hari, 16 - 17 Februari, di Doesoen Kakao Banyuwangi akan digelar Chocolate Glenmore Run, Chocolate Happy Cycling, dan Chocolate Jazz and Food Festival. Menteri BUMN Rini Soemarno akan membuka Chocolate Glenmore Run, sebagai event pembuka, Sabtu (16 Februari).

Dikatakan Djuang Pribadi, Kabag Humas Setda Banyuwangi Menteri Rini akan hadir dalam kompetisi lari yang menyuguhkan trek perkebunan kakao di kawasan Glenmore Banywuangi.

"Bu Menteri Rini yang didampingi sejumlah pejabat BUMN akan hadir dalam Chocolate Glenmore Run, bahkan rencananya beliau akan ikut berlari bersama peserta," kata Djuang.

Event lari tersebut akan dimulai pukul 06.00 di Doesoen Kakao, sebuah kawasan wisata yang terdapat pabrik pengolahan coklat yang lokasinya berada di perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yadmadi menambahkan kompetisi lari ini akan melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer.

Kompetisi lari tersebut akan diikuti 1.000 peserta dari seluruh wilayah Indonesia. Bahkan terdapat dua pelari asing asal Kenya yang turut bertanding dalam kompetisi ini.

"Para peserta akan menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao sepanjang rute, para pelari dan pesepeda bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat," kata Wawan.

Hari berkutnya, Minggu (17 Februari) akan digelar Chocolate Happy Cycling, di mana pembalap akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama,  yaiu di Doesoen Kakao.

“Lintasan yang akan dilalui peserta 80 persen offroad. Setelah melewati jalur mulus di jalan lintas selatan, mereka akan memasuki jalanan terjal dan berbatu di pinggiran perkebunan cokelat yang rimbun,” ujar Wawan.

“Tantangan akan semakin berat pada 2 kilometer terakhir saat peserta harus menaklukkan rute menanjak dan beraspal yang licin,” imbuhnya.

Ajang ini terdiri atas 2 kategori lomba, yakni Racing (kompetisi) dan Gowes Happy. Untuk Racing, dibagi menjadi 4 kelompok, yakni  open (semua usia), Master A (usia 30-39 tahun), Master B (40-49 tahun), dan master C (50 tahun ke atas). Sementara Gowes Happy terbuka untuk segala usia.  

Sementara, untuk memeriahkan aksi lari dan sepeda tersebut digelar pula Chocolate Jazz and Food Festival di area setempat selama dua hari, 16 - 17 Februari.

"Pastinya ini akan menjadi pengalaman yang unik menikmati musik jazz sembari menyesap kelezatan coklat tepat di tengah-tengah perkebunannya. Apalagi Glenmore merupakan kawasan perkebunan yang sejuk," pungkas Wawan.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tim Jelajah Sepeda Nusantara (JSN) 2018 diberangkatkan dari Banyuwangi, Rabu pagi (7/11). Banyuwangi menjadi kota pertama di Pulau Jawa yang menjadi titik pemberangkatan rombongan pesepeda ini. Belasan pesepeda tersebut dilepas  Asisten Perekonomian dan Kesra, Iskandar Azis didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi, Wawan Yadmadi dari Kantor Pemkab Banyuwangi. Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jember yang menjadi rute berikutnya. Saat melepas rombongan, Iskandar Azis mengucapkan terima kasihnya kepada mereka yang telah berkunjung ke Banyuwangi. Menurutnya, apa yang dilakukan Banyuwangi selama ini khususnya terkait pengembangan sport tourism dengan mengenalkan titik-titik wisata baru dinilai sudah sejalan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Rombongan ini telah tiba di Banyuwangi pada Selasa malam (6/11) setelah mereka menyelesaikan rute bersepedanya di Pulau Dewata-Bali.

Dikatakan Staf di Asisten Deputi Olahraga Rekreasi, Deputi Pemberdayaan Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Agus Santoso yang mengawal tim JSN, tim ini start sejak 30 Juni 2018 dari pos lintas batas negara yang ada di Entikong, Kalimantan Barat. Dari situ mereka menjelajah seluruh Kalimantan, yakni mulai Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara. Kemudian menjelajah seluruh Sulawesi, baru kemudian menyeberang ke Bali, dan tiba di Banyuwangi selasa malam. Agus menambahkan, tidak hanya sekedar bersepeda, para peserta juga bisa sekaligus menikmati keindahan destinasi wisata yang mereka lalui di sepanjang rute. Walau hanya berhenti selama beberapa saat sambil mengambil foto atau pun menikmati kuliner di tempat tersebut.

Tim JSN ini, imbuh Agus, dijadwalkan  menempuh jarak total sejauh 6700 kilometer dengan melintasi 4 pulau yakni Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Jawa. Dan akan finish di Yogyakarta pada 18 November. Ketika mereka tiba di Banyuwangi, total 6200 km telah ditempuh. Sebelumnya mereka sempat jeda sejenak saat Asian Games dan Asian Paragames digelar. Pesertanya yang terdiri dari 15 atlet itu berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Antara lain dari Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Timur, Lampung dan Bali.

Ada 7 atlet laki-laki dan 8 perempuan. Agus menjelaskan, mereka merupakan atlet pilihan yang sudah menjalani seleksi dari Kemenpora. Dari segi usia, ada yang tua dan ada yang muda. Tertua 56 tahun dan yang termuda 18 tahun. Tujuan perbedaan usia itu sebagai penyeimbang dari tim. Yang tua menyemangati yang muda, dan sebaliknya. Misi JSN ini sendiri kata Agus, untuk mengkampanyekan olahraga. Namun bukan hanya dengan bersepeda, melainkan untuk semua cabang olahraga. Kebetulan saja pihaknya menggunakan sepeda, dengan asumsi bahwa sepeda itu alat olahraga yang terjangkau berbagai kalangan, bisa digunakan oleh siapa pun, baik tua maupun muda, dan tidak ada orang yang bersepeda yang hatinya tidak gembira. Intinya menurut Agus, pihaknya ingin mengkampanyekan dengan olahraga bisa sehat. Dengan sehat masyarakat bisa bergerak dan melakukan apa saja.

Salah satu atlet yang menjadi peserta JSN ini, Rendra Bayu mengaku sangat excited setiap kali berkunjung ke Banyuwangi. Dia mengaku sudah beberapa kali ke Banyuwangi dan selalu kangen dengan nasi tempongnya. Menariknya, Rendra pernah tercatat sebagai peserta International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) selama 4 kali, yakni di 2013, 2015, 2016 dan 2018. Rendra menjelaskan, JSN ini berbeda dengan ITdBI. Jika di ITdBI dirinya full kompetisi, kalau di sini lebih pada mempromosikan olahraga terhadap masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota yang disinggahi.

Selama perjalanan, menurut Rendra, seluruh anggota tim sangat support satu sama lain. Hampir tak ada kendala berarti yang mereka temui. Kesulitan sempat mereka temui saat melintasi Kalimantan, ada beberapa wilayahnya yang belum diaspal. Juga di Sulawesi yang jalanannya sudah bagus, tapi jarak rumah antar satu penduduk dengan penduduk lainnya agak jarang. Sedangkan di Pulau Jawa ini dinilai cukup banyak tanjakan, diantaranya tanjakan Gunung Kumitir dan Bromo. JSN ini digelar untuk kedua kalinya. Jika di tahun ini diberi nama Jelajah Sepeda Nusantara, di tahun 2017 lalu dikenal dengan nama Gowes Touring Pesona Nusantara dengan menempuh daerah Sabang - Magelang. Dalam 1 hari, rata-rata pesepeda ini mengayuh sejauh 100 – 130 km per hari, start pada pukul 07.00 hingga finish pada pukul 17.00 WIB. Dan sejak awal penyelenggaraan, event ini dinyatakan sebagai event yang zero accident.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) menginginkan level International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) naik tingkat menjadi 2.1.

Direktur Kompetisi Manager PB ISSI, Sondi Sampurno mengatakan, di 2018 ini pelaksanaan ITdBI telah memasuki tahun ke 7.

“Saya sarankan agar levelnya sudah bisa naik 2.1 pada pelaksanaan di tahun 2019 mendatang,” ujar Sondi.

Sehingga menurut Sondi, nantinya akan banyak lagi tim yang datang dan mengikuti kegiatan ini serta nama ITdBI semakin terangkat.

“ITdBI sudah memenuhi syarat untuk naik level 2.1 karena sarana prasarananya sudah mendukung,” tutur Sondi.

Seperti, semakin banyak berdiri hotel berkelas serta kendaraan dan medan yang menjadi jalur para pembalap juga dinilai cukup bagus.

Sondi mengaku, kompetisi balap sepeda di Indonesia yang masuk level 2.1 baru satu yakni Tour de Indonesia milik PB ISSI.

“Pada tahap awal untuk menjadi 2.1 memang sangat berat. Tapi percaya, Banyuwangi akan bisa mengatasi berbagai persyarakatan untuk bisa naik level itu,” papar Sondi.

Sementara, Director ITdBI, Jamaluddin Mahmood mengaku tidak setuju ITdBI naik level menjadi 2.1 karena dinilai persiapannya cukup berat serta membutuhkan biaya mahal. Dicontohkan, jika sudah masuk level 2.1 maka minimal harus ada 3 tim dari pro continental, sedangkan untuk mendatangkan 1 tim membutuhkan biaya 30.000 dolar.

“Selain itu, nominal hadiahnya juga harus naik 2 kali lipat dibanding masih level 2.2,” kata Jamal.

Tidak hanya itu, menurut Jamal mobil yang di gunakan untuk setiap tim harus jenis sedan yang di lengkapi dengan 1 set roof racks di atas mobil untuk tempat sepeda, dan itupun warna mobilnya harus sama.

“Jika untuk menyewa sedan dengan jenis dan warna yang sama dipastikan membutuhkan biaya cukup besar,” papar Jamal.

Dan apabila ada 22 tim yang mengikut, maka harus ada 22 mobil sedan yang sama. Sedangkan harga 1 set roof racks saja mencapai 1.200 dolar.

Sementara untuk di 2018, ITdBI di gelar selama 4 hari sejak 26 hingga 29 September yang terbagi dalam 4 etape dengan total jarak tempuh 599 KM.

Top Stories

Grid List

Merdeka.com - Selain mengandung antioksidan yang unik, telur juga dapat menutrisi otak dengan baik.

Merdeka.com - Seorang wanita di Turki menggugat cerai suaminya dan menuntut kompensasi finansial akibat tak kuasa menjalani hubungan rumah tangga dengan pasangannya tersebut.

Bukan karena tindak kekerasan dalam rumah tangga, namun wanita ini muak lantaran sang suami punya kebiasaan mengenakan pakaian dalam wanita saat berada di dalam rumah.

Dikutip dari laman Alaraby.co.uk, Jumat (10/8/2018), menurut kuasa hukum dari wanita tersebut, proses pengajuan perceraian telah dilimpahkan kepada Pengadilan Keluarga di Gaziosmanpas, Istanbul, Turki.

Sang kuasa hukum juga mengatakan jika suami dari kliennya ini kerap mengenakan riasan dan pakaian dalam perempuan sejak dua tahun terakhir.

Tahu bahwa suaminya bertingkah aneh, wanita ini pun langsung menegurnya. Namun, upaya agar sang suami berubah malah mendapat respons yang tak mengenakan. Wanita itu malah mendapat perlakuan kasar.

"Klien saya jadi depresi dan sudah tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan ini," kata pengacara.

"Korban pun menyebut bahwa ia curiga sang suami memiliki kelainan orientasi seksual. Sehingga sudah yakin untuk berpisah," tambahnya.

Kedua belah pihak juga sudah setuju untuk bercerai.

Pasangan suami istri yang sudah menikah selama sembilan tahun ini mengaku sudah mantap menata hidup masing-masing. Tetapi permasalahannya ada pada si pria yang enggan membayar kompensasi atas klaim kerugian yang dirasakan oleh sang istri.

Turki adalah salah satu negara yang menentang kelompok LGBT. Sebelumnya negara ini juga melarang pawai kaum LGBT.

Sumber: Liputan6.com

Despair copy implications shouldn't weren't

Entertainment

Exception saddle publications hearst haven't. Prove reflection conspiracy brown's architect. Coating builder flux badly january. Hoag eliminated accounts delay mutual promising

Manufacturers throat cat

Adventure

Banyuwangi, kabupaten yang terletak diujung timur pulau Jawa ini merupakan penghubung antara pulau Jawa dengan pulau Bali.

Agenda Acara Selanjutnya

Advertisement