Top Stories

Grid List

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah resmi di ekspor ke Italia, Pemerintah Daerah berharap ekspor produk beras organik Banyuwangi semakin meluas. Utamanya ke Amerika Serikat (AS) dan Jerman sebagai pasar pertanian organik terbesar di dunia.

Saat mengunjungi pusat produksi beras organik, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, Jumat (22/3/2019), Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, produk beras organik Banyuwangi semakin diminati, baik di dalam maupun luar negeri.

“Diharapkan dengan pengenalan yang luas, tahun depan bisa ekspor ke negara lain, seperti Jerman atau AS,” kata Bupati Anas.

“Selain itu, tentu menggarap pasar dalam negeri yang juga besar,” imbuhnya.

Kelompok tani yang berhasil ekspor di daerah tersebut mendapat pendampingan dari Pemkab Banyuwangi dan Bank Indonesia (BI). Beras yang diekspor berasal dari tiga varietas padi asli Banyuwangi yang telah didaftarkan di Kementerian Pertanian. Seperti, Beras Merah Varietas Segobang A3, Beras Hitam Melik A3, dan Beras Sunrise of Java.

“Mengutip data Federasi Internasional Gerakan Pertanian Organik (IFOAM) dan Lembaga Riset Pertanian Organik, pasar produk organik tumbuh cepat,” ujar Bupati Anas.

AS adalah pasar organik terbesar di dunia dengan nilai USD 27,04 miliar, diikuti Jerman USD 8,45 miliar, Perancis USD 4,8 miliar, dan Tiongkok USD 2,67 miliar. Sehingga kata Bupati Anas, pasarnya harus terus diperluas. “Saya juga berterima kasih ke Bank Indonesia (BI) yang bersama sama membantu kelompok tani di wilayah setempat. Ini sebagai wujud kolaborasi yang baik,” tutur Bupati Anas.

Dengan keberhasilan ini, Bupati Anas juga mengajak BUMN-BUMN untuk ikut membantu petani Banyuwangi.

“Saat ini pengembangan beras organik dilakukan di 9 kecamatan seluas 81,49 hektar dengan produksi 515,5 ton per tahun,” imbuhnya.

Sebanyak tujuh kecamatan telah mendapatkan sertifikat pertanian organik Standar Nasional Indonesia (SNI). Tahun ini dua kecamatan dalam proses SNI.

“Kami targetkan, tahun depan bisa dikembangkan hingga 200 hektar padi organic bersama petani dengan menggunakan APBD. Kelompok-kelompok tani terus dilatih masuk ke pertanian organik, karena keuntungan lebih besar dengan permintaan ekspor yang tinggi,” pungkas Bupati Anas.

Ketua Kelompok Tani Mendo Sampurno (produsen beras organik) Samanhudi menjelaskan, penjualannya terus meningkat. Per bulan, mereka mengirim hingga 200 kilogram beras organik ke Australia dan 20 kilogram ke Taiwan.

“Juga ada pesanan berkala dari China dan Amerika Serikat,” ungkap Samanhudi.

Kelompok tani itu bermitra dengan PT Sirtanio, perusahaan agribisnis yang digerakkan anak-anak muda Banyuwangi. Bahkan kata Samanhudi, dalam dua hari ini saja, ada tambahan pesanan dalam negeri mencapai 1 ton. Dari Surabaya 400 kg, Tangerang dan Lumajang 100 kg, Malang 60 kg, Jember 400 kg, Bekasi 75 kg, serta Balikpapan 100 kg.

Di luar pesanan itu, setiap bulan mereka mengirim hingga 30 ton per bulan ke produsen makanan nasional.

“Saya ucapkan terima kasih pada Pemkab Banyuwangi dan BI, karena tanpa pendampingan itu tidak bisa sejauh ini perkembangannya,” imbuh Samanhudi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Terjadi bentrokan di kantor KPU Banyuwangi, yang berlanjut dengan aksi saling serang antara massa dengan aparat kepolisian yang bertugas.

Unjuk rasa ini di sebabkan karena para pendukung salah satu paslon yang kalah, tidak terima dengan hasil penghitungan suara. Ratusan massa memaksa masuk ke dalam kantor KPU Banyuwangi. Sedangkan puluhan anggota Polwan yang berjaga berusaha melakukan negosiasi, namun tidak berhasil.

Dan massa semakin beringas, sehingga keberadaan polwan tersebut tidak bisa mengatasi kerumunan massa lalu digantikan dengan dalmas awal untuk melakukan penghadangan sesuai tupoksi Satuan Sabhara.

Kondisi ini justru di manfaatkan oleh massa untuk melempar bahan peledak maupun air mineral kemasan gelas ke arah aparat kepolisian. Bahkan, diantara mereka juga membakar ban sebagai bentok protes atas hasil penghitungan akhir KPU. Serta menendang tameng yang di pegang aparat kepolisian secara brutal.

Sementara itu, karena kondisi unjuk rasa semakin memanas, sejumlah mobil WaterCannon diturunkan ke lokasi lalu menembakkan air ke arah kerumunan massa untuk mengurai agar mereka bubar.

Itulah gambaran simulasi penanganan unjuk rasa saat dilaksanakan apel gelar pasukan dalam rangka PAM menghadapi Pemilu tahun 2019, di depan Pendopo Sabha Swagatha Blambangan Banyuwangi, Jum’at (22/03/2019).

Kegiatan ini melibatkan ratusan aparat kepolisian Polres Banyuwangi dari seluruh kesatuan. Ada yang berperan sebagai pengunjuk rasa juga massa pendukung paslon saat melakukan kampanye. Juga ada yang berperan sebagai aparat kepolisian sendiri di dalam melakukan pengamanan.

Dan kegiatan ini, juga di saksikan langsung oleh Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi bersama jajaran forum pimpinan daerah.

“Apel gelar pasukan ini dilaksanakan untuk memantau kesiapan para personel yang terlibat dalam pengamanan, baik TNI, Polri maupun Linmas,” ungkap Kapolres.

“Sekaligus sebagai langkah antisipasi jika terjadi unjuk rasa karena tidak puas dengan hasil penghitungan suara,” imbuhnya.

Kapolres menjelaskan, dalam pengamanan pemilu ini di siagakan 11.536 personel. Khusus aparat TNI Polri di turunkan 1.296 personel. Sedangkan 10.240 personel lainnya adalah dari Linmas.

Sementara, dalam Pemilu 2019 ini KPU Banyuwangi Banyuwangi menyiapkan 5.120 TPS yang terbagi dalam beberapa kualifikasi dari pihak kepolisian.

“4.908 TPS kurang aman, 205 TPS rawan dan 7 TPS yang sangat rawan,” tutur Kapolres.

Simulasi ini di awali dengan penggambaran sterilisasi TPS oleh pasukan K9 Sabhara Polres Banyuwangi. Lalu dilaksanakan kampanye dari Paslon dengan berorasi di depan massa untuk memberikan visi dan misinya.

Juga di gambarkan adanya oknum yang berusaha melakukan penusukan ke salah satu paslon yang sedang menggelar kampanye, untuk selanjutnya ditindak lanjuti oleh aparat kepolisian yang bertugas.

Di beberapa bagian, juga di tampilkan patroli skala besar kepolisian sembari mencari dan pendataan terhadap Alat Peraga Kampanye yang di sinyalir masih terpasang, meskipun sudah memasuki masa tenang.

Di sisi lain, ada 2 orang dalam kondisi mabuk berat memaksa untuk mencoblos di TPS. Namun dengan sigap, aparat kepolisian yang bertugas mengamankan mereka.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dari 5.120 TPS di Banyuwangi yang disiapkan untuk pelaksanaan Pemilu 2019, ratusan TPS diantaranya masuk dalam kategori rawan dan sangat rawan. Tepatnya, 205 TPS rawan dan 7 TPS yang sangat rawan. Sedangkan 4.908 TPS lainnya kurang rawan.

Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi mengatakan, kualifikasi pemetaan TPS tersebut berdasarkan dari sisi geografis daerah setempat.

“Ke 7 TPS yang masuk dalam daerah sangat rawan itu, 3 diantaranya di Lapas. Juga 3 TPS di wilayah kecamatan Songgon dan 1 TPS di kawasan Kecamatan Kalipuro,” ujar Kapolres.

“Untuk pengamanan Pemilu 2019 di Banyuwangi ini, disiagakan 11.536 personel gabungan. Yang terbagi dalam 1.296 aparat kepolisian dan TNI, serta 10.240 anggota linmas,” paparnya.

Sementara sebelumnya, pada Jum’at pagi (22/03/2019) dilaksanakan apel gelar pasukan dalam rangka PAM menghadapi Pemilu 2019 di depan Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, dengan melibatkan seluruh personel yang ada.

Kapolres menjelaskan, apel pengamanan penyelenggaraan kesiapan PAM kampanye ini dilaksanakan serentak secara nasional. Pasalnya, tahapan pemilu sudah dimulai pada Minggu (24/03/2019) dengan di lakukan rapat umum terbuka selama 21 hari.

“Di lanjutkan dengan masa tenang lalu pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara,” imbuhnya.

Kapolres mengaku, untuk pengamanan di seluruh TPS yang rawan dan sangat rawan akan disiagakan 2 aparat kepolisian di masing masing TPS. Bahkan selama pelaksanaan Pemilu ini, Polres Banyuwangi juga mendapat bantuan personel pengamanan dari Brimob Polda Jawa Timur.

“Tapi belum diketahui kepastian jumlah personelnya,” pungkasnya.

Sementara itu, KPU Banyuwangi sendiri saat ini sudah memasuki tahapan pelipatan kertas suara, yang dilanjutkan dengan setting logistic dan belum dilakukan pergeseran ke setiap kecamatan.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Menjelang masa kampanye terbuka 24 Maret 2019, KPU Banyuwangi kini sudah menyelesaikan proses pelipatan kertas suara meskipun ada beberapa yang rusak.

Ketua KPU Banyuwangi, Samsul Arifin mengatakan, prosentase kerusakan kertas suara tersebut dinilainya masih sangat kecil dan secara umum masih cukup baik.

“Contohnya, kertas suara untuk Pilpres yang rusak hanya sebanyak 142 lembar,” ungkapnya.

Samsul mengaku, kerusakan tersebut sudah berhasil di atasi. Sementara untuk kertas suara lainnya diakui masih terpantau tidak ada yang mengalami kerusakan.

“Kami sudah siap dari segi penyelenggaran pemilu, tinggal menghadapi hari pelaksanaan. Sedangkan dari sisi pengamanan adalah kewenangan kepolisian dan TNI juga stakeholder lainnya,” papar Samsul.

Setelah proses pelipatan kertas suara selesai kata Samsul, kini pihaknya melakukan setting logistik. Sedangkan untuk pergeseran ke seluruh kecamatan masih belum dilaksanakan.

Sementara, dalam Pemilu 2019 ini KPU Banyuwangi Banyuwangi menyiapkan 5.120 TPS yang terbagi dalam beberapa kualifikasi oleh pihak kepolisian. Yakni 4.908 TPS kurang aman, 205 TPS rawan dan 7 TPS yang sangat rawan, yakni 3 TPS di lapas, 3 TPS di wilayah Kecamatan Songgon dan 1 TPS lainnya di area Kecamatan Kalipuro.

“Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Banyuwangi dalam Pemilu 2019 ini, tercatat ada 1,3 juta orang,” kata Samsul.

Sementara itu, dari jadwal yang ada, Kampanye terbuka akan di gelar mulai 24 Maret hingga 13 April mendatang.

“KPU Banyuwangi juga telah memetakan beberapa titik yang bisa di gunakan untuk lokasi kampanye akbar, diantaranya Taman Blambangan dan Stadion Diponegoro,” pungkas Samsul.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna mengembangkan berbagai destinasi wisata baru di Indonesia melalui sport tourism, pemerintah daerah berkolaborasi dengan BUMN PT Bank Mandiri (Persero) Tbk siap menggelar “Mandiri Banyuwangi Half Marathon. Kegiatan ini masuk dalam salah satu agenda Banyuwangi festival, yang akan di gelar pada Minggu, (31/03/2019).

Dalam keterangan persnya di Hotel Dialoog,Kamis (21/03/2019), Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, penyelenggaraan ajang ini diharapkan semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai destinasi wisata di Tanah Air.

“Saat ini, animo pecinta olahraga lari sungguh luar biasa. Inilah alasan Pemkab Banyuwangi menggelar event itu,” ujar Bupati Anas.

Meski saat ini masih skala nasional, namun pihaknya berupaya agar ke depan Banyuwangi bisa menaikkan kembali kelasnya sehingga menjadi salah satu daerah yang dapat menggelar ajang maraton internasional.

Ajang maraton ini menawarkan sensasi kompetisi lari yang berbeda. Dengan start dan finish di Taman Blambangan, peserta diajak menyusuri kawasan perkotaan dan perdesaan Banyuwangi. Mereka akan melintasi jalan-jalan protokol perkotaan, areal persawahan, dan kawasan permukiman penduduk.

“Inilah yang membedakan ajang itu dengan event serupa di daerah lain,” ungkap Bupati Anas.

“Jika biasanya ajang marathon hanya melewati jalan-jalan perkotaan, di sini juga disuguhkan suasana perdesaan,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Bupati Anas, event ini juga mengkombinasikan olah raga dan budaya.

Di sepanjang rute, peserta akan dimanjakan dengan beragam budaya dan kesenian daerah. Seperti tari gandrung, barong osing, kuntulan, dan barongsai.

“Disepanjang rute, disiapkan 8 spot entertainment yang dipastikan akan menyenangkan bagi para peserta, karena bisa berekreasi saat berkompetisi,” kata Bupati Anas.

Vice President Corporate Communication Bank Mandiri Rudi As-Aturridha mengungkapkan, dukungan Bank Mandiri terhadap event ini karena ingin berperan aktif dalam mengembangkan destinasi-destinasi wisata baru di Indonesia melalui sport tourism.

“Kami memilih Banyuwangi, karena daerahnya memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat beragam,” kata Rudi.

Selain itu, juga sangat inovatif dan kreatif menciptakan atraksi wisata untuk menarik wisatawan sehingga pihaknya merasa tertarik ikut serta mengembangkan pariwisata di kota Banyuwangi melalui olahraga lari yang sedang menjadi tren di dunia.

“Jika respon kegiatan ini cukup bagus, maka direncanakan kedepan dibuat event Full Marathon,” tutur Rudi.

Bahkan, Rudi juga berinisiatif untuk menggelar Sport Series Mandiri dengan menggabungkan beberapa event yang sudah ada baik di Jakarta, Jogjakarta maupun Bali dengan Banyuwangi.

Sementara itu, Race Director Mandiri Banyuwangi Half Marathon, Pandu B Buntaran, menjelaskan, ajang ini melombakan tiga kategori. Yakni 21 K (half marathon), 10 K, dan 5 K.

Untuk kategori 21 K merupakan kelas khusus bagi pelari maraton profesional. Sementara kategori 10 K dan 5 K dibuka untuk peserta umum. Dan para peserta dari semua kategori akan dilepas dan finis di lokasi yang sama yakni di Taman Blambangan.

Tentu dengan waktu start yang bervariasi. Dimulai kategori 21K pada pukul 05.00 WIB, disusul 10 K pukul 05.30 WIB, dan 5K pukul 05.45 WIB.

“Kategori 21K akan dilaksanakan dalam 2 putaran masing-masing 10,5K,” ungkap Pandu.

“Rute yang dilalui cukup menarik,” imbuhnya.

Separuh lintasan melalui kawasan perkotaan dan sisanya melewati perdesaan dan areal persawahan. Pendaftaran bisa melalui mandiribanyuwangihalfmarathon.com.

“Jumlah peserta kini sudah mencapai yang ditargetkan, sebanyak 1000 orang,” pungkas Pandu.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Beras Organik produksi Banyuwangi resmi di ekspor ke Italia. Italia adalah pasar terbaru dari beras organik Banyuwangi setelah sebelumnya diekspor ke sejumlah negara.

Prosesi ekspor perdana tersebut berlangsung di Padepokan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pertanian Swadaya (P4S) Sirtanio, Kecamatan Singojuruh, Kamis (21/3/2019).

Para petani di sana merupakan kluster binaan Bank Indonesia (BI) dan Pemkab Banyuwangi. Pelepasan ekspor dilakukan Kepala Bank Indonesia (BI) Jatim, Difi Johansyah.

Beras yang diekspor itu adalah produksi PT Sirtanio, perusahaan agribisnis Banyuwangi yang digerakkan anak-anak muda. Seperti Beras Merah Varietas Segobang A3, Beras Hitam Melik A3, dan Beras Sunrise of Java. Varietas-varietas itu telah didaftarkan sebagai padi asli Banyuwangi oleh Dinas Pertanian di Kementerian Pertanian.

“Kami bangga dengan ekspor perdana ini sebagai prestasi petani Banyuwangi,” kata Difi.

Dia juga mengaku, BI mendukung pertanian organik di beberapa daerah, namun yang berhasil tembus ekspor baru Banyuwangi. Sehingga, Banyuwangi menjadi contoh bagi pertanian organik yang sukses.

“Pasar Eropa itu susah ditembus, tapi berkat kegigihan kelompok tani di wilayah setempat, mereka bisa masuk pasar Eropa,” ungkap Difi.

Produksi beras organik Sirtanio bersama petani mitranya mencapai 30 ton per bulan di lahan 70 hektar.

“Kami mengambil segmen terkecil, yaitu Italia,” imbuh Difi.

Sementara, Samanhudi, ketua Kelompok Tani Mendo Sampurno yang memproduksi beras ekspor tersebut mengaku, perbulan para petani mengirim 2,8 ton. Ada tim yang memantau pengelolaan lahan organik khusus ekspor, sembari terus ditingkatkan lahan organik lainnya agar bisa standar ekspor.

“Permintaan luar negeri terhadap beras organik Banyuwangi sangat besar. Dari China, misalnya, sebesar 60 ton per bulan. Belum lagi dari Amerika Serikat,” papar Samanhudi.

Dia mengaku, kapasitas pihaknya terbatas sehingga ini dipenuhi bertahap. “Ke depan, kami terus merangkul para petani lainnya,” kata Samanhudi.

Para petani tersebut awalnya adalah kelompok yang mendapatkan pendidikan dan pelatihan pertanian organik Dinas Pertanian Banyuwangi. Bersama-sama PT Sirtanio yang dikomandoi Ahmad Tessario, mereka berkolaborasi menjadi badan usaha yang kini menaungi 200 petani organik lokal. Produk mereka juga dibeli berbagai perusahaan makanan raksasa.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ekspor perdana ke Italia adalah bukti bahwa beras organik Banyuwangi telah memiliki standar mutu dan kualitas internasional.

“Dengan beras organik, petani mempunyai nilai tambah, dengan mendapatkan harga lebih baik dibanding beras biasa,” tutur Bupati Anas.

Saat ini pengembangan beras organik Banyuwangi dilakukan di 9 kecamatan seluas 81,49 hektar dengan produksi 515,5 ton per tahun. Sebanyak tujuh kecamatan telah mendapatkan sertifikat pertanian organik Standar Nasional Indonesia (SNI). Tahun ini dua kecamatan dalam proses mendapat SNI pertanian organik.

“Lewat APBD, pemerintah akan mengembangkan tambahan sekitar 120 hektar lahan padi organik bersama petani, sehingga pertengahan tahun depan sudah ada 200 hektar lahan padi organik untuk memenuhi permintaan ekspor yang tinggi,” papar Bupati Anas.

Sementara, untuk pengembangan pertanian organik, Pemkab Banyuwangi melakukan pelatihan agen hayati, pengembangan laboratorium mini agen hayati, hingga fasilitasi sertifikasi nasional dan internasional organik.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Logistik kebutuhan pemilu tiba di Banyuwangi. Logistik awal, KPU Banyuwangi mulai menerima kiriman surat suara untuk kebutuhan pemilu tahun 2019. Sejak hari kamis kemarin, KPUD Banyuwangi sudah menerima 2.375 boks surat suara untuk DPR RI, dari kebutuhan sebanyak 2.688 boks.

Ketua KPU Banyuwangi, Samsul Arifin menuturkan, surat suara yang diterima KPU Banyuwangi, baru surat suara untuk calon legislatif DPR RI. Sedangkan untuk surat suara DPRD Propinsi, DPRD kabupaten, DPD dan Pilpres secara bertahap akan datang sampai  bulan Maret 2019 mendatang. 

Dijelaskan oleh Samsul, surat suara DPR RI yang diterima KPU Banyuwangi masih dalam kondisi tersegel, dan pihaknya langsung melakukan pengecekan untuk memastikan apakah surat suara yang dikirim, jumlahnya sudah sesuai dengan dokumen pengiriman.

Selain datangnya surat suara Pemilu, KPU Banyuwangi juga telah melakukan proses perakitan kotak suara. Jumlah kotak suara yang harus dirakit untuk kebutuhan Pemilu 2019 di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 25.580 kotak suara.

Kotak suara jumlahnya disesuaikan dengan jumlah Tempat Pemungutan Suara, yakni 5.116 TPS, setiap TPS mendapatkan lima kotak suara dan empat bilik suara. Syamsul menambahkan, Dalam proses perakitan kotak suara tersebut, KPU Banyuwangi melibatkan masyarakat setempat, dan Samsul menargetkan perakitan kotak suara dapat secepatnya diselesaikan. Dari awal bulan Pebruari jumat siang, sudah terakit sebanyak  3.000 lebih kotak suara.

 

 

 

Radiovisfm.com, Banyuwangi -  DPRD Banyuwangi meminta kepada pemerintah untuk mengganti alat pendeteksi dini bencana atau Early Warning System (EWS) yang rusak. Ini dilakukan untuk menghindari kehilangan yang lebih lama. Terlebih saat ini, Banyuwangi dianggap sebagai daerah yang rawan bencana tsunami.

 

Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara menuturkan, alat pendeteksi dini bencana saat ini sangat penting, terlebih lagi wilayah Banyuwangi memiliki ancaman bencana yang cukup tinggi. Mengingat kata Made, Pemerintah Banyuwangi diharapkan untuk segera menginventarisir alat yang diperlukan untuk penggunaan dini di Banyuwangi.

 

Intinya pemerintah harus tanggap terkait alat-alat yang bisa mencegah bencana jika ada yang rusak. Jika ada yang hilang segera di inventarisir dan segera diganti. Karena hal ini kata Terbuat dari nyawa masyarakat Banyuwangi terjadi kompilasi bencana.

 

Dibeberapa wilayah di Indonesia sudah terjadi tsunami. Bukan tidak mungkin Banyuwangi yang memiliki panjang pantau 175,8 kilometer juga diterjang tsunami. Bagaimana jika Banyuwangi memiliki alat pendeteksi dini bencana, maka potensi bencana yang akan terjadi dapat lebih dini dan dapat meminimalisir korban jiwa yang terkait dengan bencana tersebut.

 

DPRD juga mendesak BPBD segera bergerak untuk berkoordinasi dengan Pemkab Banyuwangi untuk perlindungan seluruh peralatan penanggulangan bencana

 

Made mengaku, pihaknya belum mengecek apakah di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Banyuwangi tahun 2019 ini sudah ada atau belum untuk pembelian alat pendeteksi dini bencana tersebut. Jika belum, pihaknya akan menambahkan anggaran pembelian EWS itu pada APBD perubahan nanti, karena yang terpenting kata Made Banyuwangi harus mempunyai alat pendeteksi dini bencana. 

 

“ Pemerintah harus tanggap terkait alat pendeteksi bencana kalau memang ada yang rusak, karena ini menyangkut nyaa masyarakat Banyuwangi ketika ada korban bencana, dan BPBD segera bergerak koordinasi dengan Pemkab untuk mendeteksi peralatan dan potensi bencana terkait tsunami dan tanah longsor karena sekarang posisi sedang musim hujan deras”, ujarnya.

 

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat merilis ada sekitar 45 desa yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, rawan sekali dihantam bencana tsunami. Sebab desa- desa tersebut letaknya berdekatan dengan pantai.

 

Menurut kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Fajar Suasana, puluhan desa itu diantaranya, Desa Sambimulyo, Temurejo, Pakis, Sobo, Kertosari, Ketapang, Sumberagung, Pesanggaran, Grajagan dan Desa Sumbersewu. 

 

Dari puluhan desa itu, tingkat kerawananya berbeda- beda. Mulai dari tingkat kerawanan tinggi, sedang, hingga ringan. Kata Fajar, untuk desa yang tingkat kerawananya tinggi itu yang letaknya berada di pantai laut lepas, seperti laut Selatan Jawa. Sedangkan yang tingkat kerawanan sedang hingga ringan yang daerah pantainya tidak di laut lepas.

 

Di wilayah Kabupaten Banyuwangi sendiri merupakan daerah yang paling luas rawan Tsunami di Pulau Jawa. Sehingga untuk mengetahui dini potensi bencana tsunami Banyuwangi sangat membutuhkan alat pendeteksi dini tsunami atau Early Warning System (EWS).

 

Menurut Fajar, alat pendeteksi dini bencana ini, berfungsi selain dapat mendeteksi dini bencana tsunami juga bisa mendeteksi dini bencana banjir bandang, tanah longsor dan bencana Gunung Meletus. Sedangkan Kabuaten Banyuwangi sendiri telah memiliki 7 EWS bantuan dari BNPB. Namun alat tersebut saat ini kondisinya sudah rusak karena komponennya dicuri. 

 

BPBD Banyuwangi saat ini memerlukan EWS milik BMKG Banyuwangi. Untuk itu, BPBD mengharap Pemerintah Banyuwangi tahun 2019 ini memprioritaskan pengadan EWS, sehingga potensi lebih awal yang bisa membuat Banyuwangi berhasil.

radiovisfm.com, Banyuwangi - 3 orang jaringan pengedar Pil Koplo di wilayah Banyuwangi di ringkus aparat Kepolisian, yang salah satunya adalah perempuan. Menariknya, salah satu dari tersangka tersebut kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service.

Mereka adalah Ica Camelia Agustin (19) warga Jalan Karimun Jawa Kelurahan Lateng Kecamatan Banyuwangi dan kekasihnya, Sugianto (27) warga Dusun Purwosari Desa Tanjungsari Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember, yang selama ini kost di kawasan Jalan Ikan Arwana Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi.

Satu lagi, Indra Wahyu (23) warga Jalan Ikan Wijinongko Kelurahan Sobo Kecamatan Banyuwangi.

Terungkapnya jaringan peredaran pil koplo ini berawal dari penangkapan Ica Camelia Agustin oleh tim buser Polsekta Banyuwangi, di sebuah warung depan Pabrik Kertas Basuki Rahmat.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki mengatakan, dari tangan gadis belia tersebut di amankan barang bukti 10 butir pil jenis Trihexyphenidyl dan uang tunai Rp 30 ribu hasil dari penjualan obat obatan sediaan farmasi tersebut.

“Kepada petugas, tersangka mengaku hanya sebagai kurir yang mengantarkan pesanan si pembeli. Sementara pil tersebut di akui adalah milik Sugianto,” papar AKP Ali Masduki.

“Dari keterangan tersangka inilah, aparat kepolisian bergerak cepat menuju ke tempat kos Sugianto hingga berhasil dilakukan penangkapan,” imbuhnya.

Dari tangan tersangka, petugas mengamankan 110 butir obat Trihexyphenidyl.

Bersamaan dengan itu, tiba tiba datang Indra Wahyu ke tempat kost tersangka hendak memasok pil Trihexyphenidyl. Kondisi ini langsung di manfaatkan oleh petugas untuk menangkap Indra Wahyu, yang rupanya membawa 1000 butir pil Trihexyphenidyl.

“Tersangka Indra Wahyu mengaku mendapatkan obat obatan tersebut dari pemasoknya yang berasal dari Jember, tapi tidak diketahui namanya,” tutur Kapolsek.

Selanjutnya, ketiga tersangka itu di gelandang ke Mapolsekta Banyuwangi guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dan dihadapan penyidik, tersangka Indra Wahyu mengaku awalnya hanya sebagai pengguna saja. Namun lama kelamaan dia mulai menjadi pengedar dan penyuplai pil koplo karena tergiur dengan keuntungan dari penjualan.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service tersebut mengaku sudah mengenal pil Trihexyphenidyl sejak masih duduk di bangku SMA. Dan sebelum ditangkap, setiap hari dia selalu mengkonsumsi pil itu kurang lebih 3 butir, namun di minum satu satu.

“Atas perbuatannya,  ketiga tersangka di jerat pasal 197 subsider pasal 196 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” pungkas Kapolsek.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah mengapresiasi pembukaan galeri lukis oleh perupa nasional asal Banyuwangi, S.Yadi K, yang dinilai akan semakin memperkaya khazanah kesenian dan kebudayaan di Banyuwangi.

Hal ini di sampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka galeri tersebut, Senin malam (01/10).

Galeri seni yang berada di jalan Kuntulan, nomor 135, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah ini menyajikan puluhan lukisan karya S Yadi K dan para pelukis asal Banyuwangi lainnya.

Tampak hadir puluhan seniman dan budayawan Banyuwangi dalam pembukaan semalam tersebut. Hadir pula budayawan nasional dan penulis buku Candra Malik pada kesempatan tersebut.

Bupati Anas mengatakan, Kesenian Banyuwangi memiliki keistimewaan tersendiri. Mulai dari lagu, tari-tarian hingga karya lukis para perupanya.

“Tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga di nasional, bahkan kancah internasional,” ujarnya.

Menurut Bupati Anas, dengan adanya galeri ini, seni lukis dinilai akan semakin memperbesar sumbangsihnya pada khazanah kebudayaan di Banyuwangi.

Yadi merupakan salah seorang pelukis kenamaan Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di tingkat nasional maupun internasional. Pameran tunggalnya pernah dihelat di Edwin Gallery dan Taman Ismil Marzuki Jakarta.

Salah satu karyanya berjudul "Paju Gandrung" menjadi salah satu koleksi istana negara. Beberapa karyanya juga pernah dilelang di Balai Lelang Christie's dan Shotheby's di Singapura.

Dalam kesempatan itu, Bupati Anas juga mendorong tempat tersebut tidak hanya eksklusif untuk para pecinta seni saja. Namun, juga bisa menjadi salah satu alternative destinasi wisata baru di Banyuwangi.

“Selama ini banyak tamu saya penasaran dengan proses kreatif dari Yadi,” tutur Bupati Anas.

“Akan lebih menarik bila wisatawan bisa langsung datang ke galeri Yadi,” imbuhnya.

Selain menikmati lukisan, mereka juga bisa menyaksikan dan terlibat langsung dari aktivitas melukis.

Keberadaan Omah Seni tersebut, lanjut Bupati Anas, akan melengkapi destinasi Gunung Ijen. Para wisatawan setelah mendaki ke Ijen, bisa menikmati jenis wisata lain di bawahnya.

Selain Taman Terakota Gandrung di Jiwa Jawa Resort yang menonjolkan seni patung, mereka juga bisa menikmati seni lukis di Omah Seni S Yadi K tersebut.

“Apalagi, tempat tersebut terhitung masih dalam satu jalur menuju ke Ijen. Ini akan jadi destinasi minat khusus yang menarik wisatawan,” papar Bupati Anas.

Dia juga berjanji bakal turut serta mempromosikan keberadaan galeri tersebut.

“Ini akan jadi paket-paket wisata yang bakal ditawarkan kepada wisatawan yang ke Banyuwangi,” tutur Bupati Anas.

Apalagi sebentar lagi akan ada Annual Meeting IMF World Bank. Sehingga dinilai mereka akan tertarik dengan kesenian semacam ini.

“Selama ini kami banyak melibatkan para seniman dan budayawan dalam menentukan kebijakan. Terutama dalam menentukan berbagai bangunan-bangunan besar, seperti hotel dan tempat-tempat umum,” papar Bupati Anas.

Dicontohkan, arsitek hotel ataupun tempat-tempat umum di Banyuwangi di wajibkan untuk presentasi terlebih dahulu kepada para seniman dan budayawan. Mereka harus memastikan bangunan yang ada akan mengadaptasi konsep kebudayaan lokal. Di sejumlah hotel, bahkan sudah ada lukisan dan potret tentang Banyuwangi di setiap kamarnya.

“Di sinilah kami menitipkan peradaban Banyuwangi,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, S Yadi K merasa tertantang dengan dorongan dari Bupati Anas. Ia menyampaikan bahwa geleri seninya tersebut akan menjadi pusat berkegiatan para perupa di Banyuwangi. Nantinya, mereka akan menggelar workshop maupun pameran di tempat tersebut.

“Galeri saya ini akan menjadi markas para perupa Banyuwangi yang siapa saja nantinya bisa berkunjung,” kata Yadi.

Dia juga mendukung ide Bupati Anas, yang diharapkan galeri seninya bisa menjadi bagian dari mengembangkan seni di Banyuwangi.

Acara tersebut juga dibarengi dengan pagelaran pameran lukisan bertajuk Kembang Kawitan. Berbagai karya lukis dari perupa Banyuwangi ditampilkan di Omah Seni S Yadi K. Pameran tersebut dijadwalkan satu bulan penuh hingga November mendatang.

 

 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Delapan buruh bangunan harus mendekam di sel tahanan Polsek Ilir Timur II, Sumatera Selatan, lantaran kedapatan mengkonsumsi sabu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI George E. Supit memerintahkan satuan TNI kewilayahan untuk membentuk tim SAR (Search and Rescue) dalam membantu pencarian pesawat Dimonim Air.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pembalap asal Lumajang pemenang Asia Mountain Bike Series 2018 di Malaysia, berhasil menjuarai event balap sepeda Chocolate Happy Cycling di Banyuwangi.

Ribuan penggowes MTB (mountain bike) dari berbagai kota di Indonesia ikut menjajal rute jalanan perkebunan kakao, di kawasan wisata Doesoen Kakao di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Minggu (17/02/2019).

Sejumlah pembalap MTB nasional juga turun dalam ajang yang pertama kali digelar ini. Mereka semua ingin menjajal trek sepeda sepanjang 20,4 KM yang membelah perkebunan kakao yang konturnya berbukit. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengungkapkan pelaksanaan Chocolate Happy Cycling ini sebagai bagian dari sporttourism yang sedang dikembangkan Banyuwangi.

Di Banyuwangi sendiri, terdapat 16 event yang masuk dalam agenda spor tourism,” ungkap Bupati Anas.

“Kategori MTB ini melengkapi event balap sepeda di Banyuwangi yang telah ada. Sport tourism sengaja dipilih oleh Banyuwangi untuk menggenjot segmentasi kunjungan wisatawan,” paparnya.

Berdasarkan hasil riset, sport tourism menjadi penarik minat wisatawan selain budaya dan alam. 

Bupati Anas menjelaskan, dari segmentasi sport tourism ini pemerintah ingin menyasar kalangan milenial, mereka yang hobinya olahraga dan traveling.

Sehingga Banyuwangi mencoba masuk diceruk ini,” pungkasnya.

Kompetisi ini dimenangi oleh pembalap MTB nasional, yakni Zainal Fanani. 

Juara Men Elite Asia Mountain Bike Series 2018 di Malaysia ini berhasil menyingkirkan ratusan peserta open race sepeda gunung yang melewati kawasan perkebunan Kendang Lembu, Glenmore milik PTPN XII itu. Pembalap berusia 29 tahun itu, mampu menempuh rute sejauh 20,4 KM dalam waktu 47 menit.

Kelokan, turunan dan tanjakan yang menjadi ciri dari rute off road mampu dilaluinya dengan mudah.

Ia mendahului Angga Dwi Wahyu Prahesta dan Ihza Muhammad yang harus puas finish di urutan kedua dan ketiga.

Keseruan rute juga diakui oleh Linda. Pemenang seri Women Open Chocholate Happy Cycling tersebut, mengaku rutenya ekstream.

“Tapi jalannya cukup lebar sehingga tidak terlalu merepotkan,” ujar Linda.

Linda adalah pebalap asal Samarinda dan merupakan pemegang dua medali emas cabang MTB pada Porprov Kalimantan Timur tahun lalu. Pebalap usia 20 tahun itu, mampu mendahului Bela Anjar Wulan yang finish diurutan kedua.

Chocholate Happy Cycling sendiri tidak hanya terdiri dari kelas open race. Ada beberapa kategori lainnya untuk memeriahkan event yang masuk dalam kalender Banyuwangi Festival tersebut.

Selain kategori open, juga ada Master A untuk pebalap berusia 30 - 39 tahun, Master B untuk usia 40 - 49 tahun, dan Master C untuk usia 50 - 59 tahun. Ada pula kategori happy gowes untuk para pecinta sepeda. 

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banyuwangi Wawan Yadmadi mengatakan, total peserta yang mengikuti event ini sejumlah 1386 peserta. Mereka tidak hanya dari Banyuwangi.

“Tapi juga datang dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali hingga Kalimantan. Bahkan juga ada peserta difabel, Mudiono pebalap asal Lumajang,” papar Wawan.

Event ini merupakan rangkaian chocolate festival di Banyuwangi yang di gelar selama dua hari (16-17 Februari), di kawasan Doesoen Kakao, yang sebelumnya juga di laksanakan Chocolate Glenmore Run dan Chocolate Jazz and Food Festival.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tiga pelari asal Kenya mendominasi juara pada lomba lari Chocolate Glenmore Run 2019 yang di gelar di kawasan perkebunan Kakao Kendeng Lembu Kecamatan Glenmore Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019).

Sebut saja Thomas Kipkor Maritim, menjadi yang tercepat dalam kategori 10 KM putra dengan catatan waktu 32 menit 42 detik. Disusul Hillary Kipkering di urutan kedua dengan catatan waktu 32 menit 47 detik. Dan posisi ketiga di raih Sutikno pelari asal Lumajang yang berhasil mencatat waktu 35 menit 51 detik.

Untuk di kategori 10 KM putri, juga di raih pelari asal Kenya, Daisy Cherono dengan catatan waktu 45 menit 39 detik. Urutan kedua Ilmi, pelari asal Lumajang yang mencetak 51 menit 38 detik serta posisi ketiga pelari asal Magelang, Waliyanti dengan catatan waktu 52 menit 23 detik.

“Saya sangat senang mengikuti kompetisi yang diikuti ribuan pelari dari nusantara ini karena menyuguhkan trek yang cukup menantang,” ungkap Thomas.

“Melewati perkebunan kakao yang berbukit, menembus hutan kecil, dan jalanannya berbatu,” imbuhnya.

Selain itu, Thomas juga mengaku sangat menikmati lomba ini. Lingkungan serta hawa sejuk di area perkebunan menjadi daya tarik tersendiri selama melalui rute tersebut. 

“Meski rutenya menantang tapi jadi menarik karena udaranya sejuk dan lingkungan nya bersih. Terutama pemandangannya sangat menarik,” kata Thomas.

Sementara itu, pemenang 10KM putri Daisy Cherono mengungkapkan bahwa lingkungan yang sejuk membantu dia melewati lomba ini dengan baik. 

“Dari awal start sampai garis finish, saya konsisten tetap berlari. Hawa yang sejuk juga pemandangan sangat indah memudahkan dirinya untuk menyelesaikan lomba,” papar Daisy.

Dia mengaku baru pertama kali ikut lomba lari di Banyuwangi.

“Ini jadi ajang saya untuk menguji speed, karena pada 24 Februari mendatang akan ikut lomba di Malaysia,” ujar Daisy.

Sementara itu, untuk pemenang pada kategori 5 KM didominasi oleh peserta dari luar daerah. Seperti kategori SMA putra diraih oleh Ardi Wirayuda dari SMAN Madinatul Ulum Jombang dan Kategori Putri diraih Ernovyan dari SMAN 2 Genteng Banyuwangi. 

Sedangkan kategori SMP putri dimenangkan oleh Eva Yunita (15) dari SMPN 1 Rowo Kangkung Lumajang, untuk putra diraih Dandi Sampurna (15) SMPN 1 Gambiran Banyuwangi.

Kategori SD Putri diraih Siti Wulandari (9) dari SD Curah Poh 2 Bondowoso dan SD putra diraih Krisna dari MI Islamiah Glenmore, Banyuwangi.

Ajang Chocolate Glenmore Run ini dimulai tepat pukul 06.30 WIB di Doesoen Kakao, sebuah kawasan wisata yang terdapat pabrik pengolahan coklat yang lokasinya berada di perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Event lari yang dibuka oleh Menteri BUMN Rini Soemarno ini melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer dan diikuti lebih dari 2.000 peserta dari seluruh wilayah Indonesia, juga manca negara. 

Para peserta diajak menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao sepanjang rute, para pelari juga bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat. 

Sementara pada Minggu (17/2/2019) akan digelar lomba balap sepeda Chocolate Happy Cycling. Di mana pembalap akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama, yaitu di Doesoen Kakao. Untuk memeriahkan aksi lari dan bersepeda ini digelar pula Chocolate Jazz and Food Festival di kawasan yang sama selama dua hari, 16 - 17 Februari.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah melepas ribuan peserta Chocolate Glenmore Run di lokasi wisata Doesoen Kakao Kecamatan Glenmore Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019), Menteri BUMN Rini Soemarno ikut serta berlari sejauh 5 KM.

Dari data yang ada, sekitar 2.000 an peserta dari dalam dan luar negeri mengikuti event yang baru pertama kali di gelar, dan masuk dalam salah satu rangkaian Banyuwangi Festival 2019 tersebut.

Menteri Rini pun ikut berlari bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Kapolres AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi dan para Bos Bank BUMN menyusuri belantara perkebunan kakao yang merupakan bahan baku cokelat.

Lomba lari ini menyuguhkan trek perkebunan di Perkebunan Kendenglembu. Para peserta melintasi perkebunan kakao dan karet di sepanjang rute. Dari perkebunan di Glenmore itulah, kakao diekspor ke berbagai belahan dunia menjadi cokelat terbaik. 

Bos-bos BUMN pun terlihat menikmati suasana yang sejuk dengan berlari kecil mengiringi ayunan kaki Menteri Rini.

Tampak hadir Direktur Utama BNI Achmad Baiquni, Dirut Bank Mandiri Kartiko Wirjoatmojo, Dirut BRI Suprajarto, Dirut BTN Maryono, Dirut Perhutani Denaldy Maunda, dan para direksi BUMN perkebunan. Hadir pula Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro dan sejumlah deputi menteri.

Menteri Rini mengaku senang bisa berlari ditengah perkebunan dengan udaranya yang sejuk.

“Ini adalah ajang sport tourism yang sangat potensial untuk dikembangkan,” ujarnya.

Menteri Rini dan bos-bos BUMN papan atas Indonesia itu tertawa lepas saat sepatunya basah kuyup saat melintasi sungai kecil di tengah perkebunan.

Meski terus berlari dan basah oleh air, Menteri Rini tetap semringah. Tangannya terus melambai dan bibirnya selalu tersenyum. Beberapa kali dia melepas topi dan mengelap peluh yang menetes di dahinya.

“Kementerian BUMN sangat mendukung program ini sekaligus ingin mendukung Banyuwangi semakin cantik dan terkenal sebagai destinasi wisata nasional maupun internasional,” papar Menteri Rini dalam sambutan singkatnya.

Menurut Menteri Rini, di Kecamatan Glenmore ini pemandangannya sangat indah, dan mempunyai keterikatan kuat dengan dunia karena cokelatnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Sementara itu, Bupati Anas menyatakan, kolaborasi dengan BUMN dinilai memungkinkan ada akselerasi dalam pembangunan daerah.

“Pemerintahan Jokowi memang mendesain BUMN sebagai agen pemerataan dan pemercepat pembangunan,” ungkap Bupati Anas.

Dia bersyukur Banyuwangi bisa terus memperkuat kolaborasi dengan banyak BUMN, termasuk untuk memajukan pariwisata.

“Dulu di zaman sebelum kemerdekaan, daerah Glenmore adalah favorit Belanda. Saat ini aspek historis itu mampu menarik wisatawan untuk datang,” papar Bupati Anas.

“Melalui event ini, Pemkab Banyuwangi ingin mengenalkan salah satu kakao terbaik dunia. Wisatawan juga bisa menikmati cokelat terbaik yang telah dihasilkan di negeri ini,” pungkasnya.

Doesoen Kakao sendiri adalah kawasan wisata yang menjual eksotika perkebunan kakao lengkap dengan pengolahan cokelat yang berlokasi di Perkebunan Kendeng Lembu, Glenmore, Banyuwangi.

Dengan hawa yang sejuk karena terletak di dataran tinggi, kualitas cokelat terbaik, dan aspek historis, Glenmore menjadi favorit wisatawan terutama dari Eropa.

Perkebunan kakao di Glenmore ini telah dikenal sebagai penghasil kakao untuk bahan coklat terbaik di dunia. Kakao Glenmore telah banyak diekspor ke Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Selama dua hari, 16 - 17 Februari, di Doesoen Kakao Banyuwangi akan digelar Chocolate Glenmore Run, Chocolate Happy Cycling, dan Chocolate Jazz and Food Festival. Menteri BUMN Rini Soemarno akan membuka Chocolate Glenmore Run, sebagai event pembuka, Sabtu (16 Februari).

Dikatakan Djuang Pribadi, Kabag Humas Setda Banyuwangi Menteri Rini akan hadir dalam kompetisi lari yang menyuguhkan trek perkebunan kakao di kawasan Glenmore Banywuangi.

"Bu Menteri Rini yang didampingi sejumlah pejabat BUMN akan hadir dalam Chocolate Glenmore Run, bahkan rencananya beliau akan ikut berlari bersama peserta," kata Djuang.

Event lari tersebut akan dimulai pukul 06.00 di Doesoen Kakao, sebuah kawasan wisata yang terdapat pabrik pengolahan coklat yang lokasinya berada di perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yadmadi menambahkan kompetisi lari ini akan melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer.

Kompetisi lari tersebut akan diikuti 1.000 peserta dari seluruh wilayah Indonesia. Bahkan terdapat dua pelari asing asal Kenya yang turut bertanding dalam kompetisi ini.

"Para peserta akan menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao sepanjang rute, para pelari dan pesepeda bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat," kata Wawan.

Hari berkutnya, Minggu (17 Februari) akan digelar Chocolate Happy Cycling, di mana pembalap akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama,  yaiu di Doesoen Kakao.

“Lintasan yang akan dilalui peserta 80 persen offroad. Setelah melewati jalur mulus di jalan lintas selatan, mereka akan memasuki jalanan terjal dan berbatu di pinggiran perkebunan cokelat yang rimbun,” ujar Wawan.

“Tantangan akan semakin berat pada 2 kilometer terakhir saat peserta harus menaklukkan rute menanjak dan beraspal yang licin,” imbuhnya.

Ajang ini terdiri atas 2 kategori lomba, yakni Racing (kompetisi) dan Gowes Happy. Untuk Racing, dibagi menjadi 4 kelompok, yakni  open (semua usia), Master A (usia 30-39 tahun), Master B (40-49 tahun), dan master C (50 tahun ke atas). Sementara Gowes Happy terbuka untuk segala usia.  

Sementara, untuk memeriahkan aksi lari dan sepeda tersebut digelar pula Chocolate Jazz and Food Festival di area setempat selama dua hari, 16 - 17 Februari.

"Pastinya ini akan menjadi pengalaman yang unik menikmati musik jazz sembari menyesap kelezatan coklat tepat di tengah-tengah perkebunannya. Apalagi Glenmore merupakan kawasan perkebunan yang sejuk," pungkas Wawan.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tim Jelajah Sepeda Nusantara (JSN) 2018 diberangkatkan dari Banyuwangi, Rabu pagi (7/11). Banyuwangi menjadi kota pertama di Pulau Jawa yang menjadi titik pemberangkatan rombongan pesepeda ini. Belasan pesepeda tersebut dilepas  Asisten Perekonomian dan Kesra, Iskandar Azis didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi, Wawan Yadmadi dari Kantor Pemkab Banyuwangi. Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jember yang menjadi rute berikutnya. Saat melepas rombongan, Iskandar Azis mengucapkan terima kasihnya kepada mereka yang telah berkunjung ke Banyuwangi. Menurutnya, apa yang dilakukan Banyuwangi selama ini khususnya terkait pengembangan sport tourism dengan mengenalkan titik-titik wisata baru dinilai sudah sejalan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Rombongan ini telah tiba di Banyuwangi pada Selasa malam (6/11) setelah mereka menyelesaikan rute bersepedanya di Pulau Dewata-Bali.

Dikatakan Staf di Asisten Deputi Olahraga Rekreasi, Deputi Pemberdayaan Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Agus Santoso yang mengawal tim JSN, tim ini start sejak 30 Juni 2018 dari pos lintas batas negara yang ada di Entikong, Kalimantan Barat. Dari situ mereka menjelajah seluruh Kalimantan, yakni mulai Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara. Kemudian menjelajah seluruh Sulawesi, baru kemudian menyeberang ke Bali, dan tiba di Banyuwangi selasa malam. Agus menambahkan, tidak hanya sekedar bersepeda, para peserta juga bisa sekaligus menikmati keindahan destinasi wisata yang mereka lalui di sepanjang rute. Walau hanya berhenti selama beberapa saat sambil mengambil foto atau pun menikmati kuliner di tempat tersebut.

Tim JSN ini, imbuh Agus, dijadwalkan  menempuh jarak total sejauh 6700 kilometer dengan melintasi 4 pulau yakni Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Jawa. Dan akan finish di Yogyakarta pada 18 November. Ketika mereka tiba di Banyuwangi, total 6200 km telah ditempuh. Sebelumnya mereka sempat jeda sejenak saat Asian Games dan Asian Paragames digelar. Pesertanya yang terdiri dari 15 atlet itu berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Antara lain dari Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Timur, Lampung dan Bali.

Ada 7 atlet laki-laki dan 8 perempuan. Agus menjelaskan, mereka merupakan atlet pilihan yang sudah menjalani seleksi dari Kemenpora. Dari segi usia, ada yang tua dan ada yang muda. Tertua 56 tahun dan yang termuda 18 tahun. Tujuan perbedaan usia itu sebagai penyeimbang dari tim. Yang tua menyemangati yang muda, dan sebaliknya. Misi JSN ini sendiri kata Agus, untuk mengkampanyekan olahraga. Namun bukan hanya dengan bersepeda, melainkan untuk semua cabang olahraga. Kebetulan saja pihaknya menggunakan sepeda, dengan asumsi bahwa sepeda itu alat olahraga yang terjangkau berbagai kalangan, bisa digunakan oleh siapa pun, baik tua maupun muda, dan tidak ada orang yang bersepeda yang hatinya tidak gembira. Intinya menurut Agus, pihaknya ingin mengkampanyekan dengan olahraga bisa sehat. Dengan sehat masyarakat bisa bergerak dan melakukan apa saja.

Salah satu atlet yang menjadi peserta JSN ini, Rendra Bayu mengaku sangat excited setiap kali berkunjung ke Banyuwangi. Dia mengaku sudah beberapa kali ke Banyuwangi dan selalu kangen dengan nasi tempongnya. Menariknya, Rendra pernah tercatat sebagai peserta International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) selama 4 kali, yakni di 2013, 2015, 2016 dan 2018. Rendra menjelaskan, JSN ini berbeda dengan ITdBI. Jika di ITdBI dirinya full kompetisi, kalau di sini lebih pada mempromosikan olahraga terhadap masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota yang disinggahi.

Selama perjalanan, menurut Rendra, seluruh anggota tim sangat support satu sama lain. Hampir tak ada kendala berarti yang mereka temui. Kesulitan sempat mereka temui saat melintasi Kalimantan, ada beberapa wilayahnya yang belum diaspal. Juga di Sulawesi yang jalanannya sudah bagus, tapi jarak rumah antar satu penduduk dengan penduduk lainnya agak jarang. Sedangkan di Pulau Jawa ini dinilai cukup banyak tanjakan, diantaranya tanjakan Gunung Kumitir dan Bromo. JSN ini digelar untuk kedua kalinya. Jika di tahun ini diberi nama Jelajah Sepeda Nusantara, di tahun 2017 lalu dikenal dengan nama Gowes Touring Pesona Nusantara dengan menempuh daerah Sabang - Magelang. Dalam 1 hari, rata-rata pesepeda ini mengayuh sejauh 100 – 130 km per hari, start pada pukul 07.00 hingga finish pada pukul 17.00 WIB. Dan sejak awal penyelenggaraan, event ini dinyatakan sebagai event yang zero accident.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) menginginkan level International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) naik tingkat menjadi 2.1.

Direktur Kompetisi Manager PB ISSI, Sondi Sampurno mengatakan, di 2018 ini pelaksanaan ITdBI telah memasuki tahun ke 7.

“Saya sarankan agar levelnya sudah bisa naik 2.1 pada pelaksanaan di tahun 2019 mendatang,” ujar Sondi.

Sehingga menurut Sondi, nantinya akan banyak lagi tim yang datang dan mengikuti kegiatan ini serta nama ITdBI semakin terangkat.

“ITdBI sudah memenuhi syarat untuk naik level 2.1 karena sarana prasarananya sudah mendukung,” tutur Sondi.

Seperti, semakin banyak berdiri hotel berkelas serta kendaraan dan medan yang menjadi jalur para pembalap juga dinilai cukup bagus.

Sondi mengaku, kompetisi balap sepeda di Indonesia yang masuk level 2.1 baru satu yakni Tour de Indonesia milik PB ISSI.

“Pada tahap awal untuk menjadi 2.1 memang sangat berat. Tapi percaya, Banyuwangi akan bisa mengatasi berbagai persyarakatan untuk bisa naik level itu,” papar Sondi.

Sementara, Director ITdBI, Jamaluddin Mahmood mengaku tidak setuju ITdBI naik level menjadi 2.1 karena dinilai persiapannya cukup berat serta membutuhkan biaya mahal. Dicontohkan, jika sudah masuk level 2.1 maka minimal harus ada 3 tim dari pro continental, sedangkan untuk mendatangkan 1 tim membutuhkan biaya 30.000 dolar.

“Selain itu, nominal hadiahnya juga harus naik 2 kali lipat dibanding masih level 2.2,” kata Jamal.

Tidak hanya itu, menurut Jamal mobil yang di gunakan untuk setiap tim harus jenis sedan yang di lengkapi dengan 1 set roof racks di atas mobil untuk tempat sepeda, dan itupun warna mobilnya harus sama.

“Jika untuk menyewa sedan dengan jenis dan warna yang sama dipastikan membutuhkan biaya cukup besar,” papar Jamal.

Dan apabila ada 22 tim yang mengikut, maka harus ada 22 mobil sedan yang sama. Sedangkan harga 1 set roof racks saja mencapai 1.200 dolar.

Sementara untuk di 2018, ITdBI di gelar selama 4 hari sejak 26 hingga 29 September yang terbagi dalam 4 etape dengan total jarak tempuh 599 KM.

Top Stories

Grid List

Merdeka.com - Selain mengandung antioksidan yang unik, telur juga dapat menutrisi otak dengan baik.

Merdeka.com - Seorang wanita di Turki menggugat cerai suaminya dan menuntut kompensasi finansial akibat tak kuasa menjalani hubungan rumah tangga dengan pasangannya tersebut.

Bukan karena tindak kekerasan dalam rumah tangga, namun wanita ini muak lantaran sang suami punya kebiasaan mengenakan pakaian dalam wanita saat berada di dalam rumah.

Dikutip dari laman Alaraby.co.uk, Jumat (10/8/2018), menurut kuasa hukum dari wanita tersebut, proses pengajuan perceraian telah dilimpahkan kepada Pengadilan Keluarga di Gaziosmanpas, Istanbul, Turki.

Sang kuasa hukum juga mengatakan jika suami dari kliennya ini kerap mengenakan riasan dan pakaian dalam perempuan sejak dua tahun terakhir.

Tahu bahwa suaminya bertingkah aneh, wanita ini pun langsung menegurnya. Namun, upaya agar sang suami berubah malah mendapat respons yang tak mengenakan. Wanita itu malah mendapat perlakuan kasar.

"Klien saya jadi depresi dan sudah tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan ini," kata pengacara.

"Korban pun menyebut bahwa ia curiga sang suami memiliki kelainan orientasi seksual. Sehingga sudah yakin untuk berpisah," tambahnya.

Kedua belah pihak juga sudah setuju untuk bercerai.

Pasangan suami istri yang sudah menikah selama sembilan tahun ini mengaku sudah mantap menata hidup masing-masing. Tetapi permasalahannya ada pada si pria yang enggan membayar kompensasi atas klaim kerugian yang dirasakan oleh sang istri.

Turki adalah salah satu negara yang menentang kelompok LGBT. Sebelumnya negara ini juga melarang pawai kaum LGBT.

Sumber: Liputan6.com

Despair copy implications shouldn't weren't

Entertainment

Exception saddle publications hearst haven't. Prove reflection conspiracy brown's architect. Coating builder flux badly january. Hoag eliminated accounts delay mutual promising

Manufacturers throat cat

Adventure

Banyuwangi, kabupaten yang terletak diujung timur pulau Jawa ini merupakan penghubung antara pulau Jawa dengan pulau Bali.

Agenda Acara Selanjutnya

Advertisement