Press Release KPU Banyuwangi - Calon Legislatif Tetap 2019

Grid List

Top Stories

Grid List

radiovisfm.com, Banyuwangi - Menjelang pengamanan Natal dan Tahun Baru 2020, Kepolisian Polresta Banyuwangi mengamankan beberapa bom ikan siap ledak beserta detonatornya dari tangan seorang perakit.

Kasus ini terbongkar berawal dari laporan masyarakat yang mengatakan bahwa ada seseorang yang membawa bahan peledak atau bom ikan yang biasa di sebut bondet di kawasan Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi.

Dalam keterangan pers nya, Senin (09/12/2019), Kapolresta Banyuwangi AKBP Arman Asmara Syarifudin mengatakan, setelah dilakukan pengembangan penyidikan, aparat kepolisian berhasil menangkap seorang laki laki berinisial AB (33) warga Desa Bengkak Kecamatan Wongsorejo di sebuah warung kopi di wilayah setempat, saat sedang menunggu pembeli dari Kecamatan Muncar.

“Tersangka ngaku bahan peledak itu memang digunakan untuk mengebom ikan di perairan Selat Bali,” ujar Kapolres.

Meski demikian, pihak kepolisian menyatakan bahwa efek dari pengeboman ikan tersebut juga dapat merusak trumbu karang dan hal ini sangat dilarang oleh pemerintah agar ekosistem di laut tetap terjaga.

“Tersangka mengaku merakit sendiri bom ikan itu setelah belajar sejak tahun 1996 silam dari seseorang berinisial A yang kini sudah meninggal dunia akibat terkena ledakan dari bom yang di rakitnya,” kata AKBP Arman.

“Potassium yang digunakan bahan membuat bom ikan itu didapat dari sisa sisa pada saat membuat bersama A dahulu,” imbuhnya.

Selain itu, bahan dari pembuatan bom ikan itu adalah plastic, benang Kasur, botol cuka, solar, cat bronze kering, selang, arang, belerang dan potassium.

Kapolres menambahkan, tersangka mengaku merakit bom ikan sendiri pada bulan September 2019 lalu, yang selanjutnya di jualnya kepada para nelayan dengan harga Rp 300.000 per buah.

“Dari 6 bom ikan yang dibuatnya, sudah terjual 2 buah dan sisanya 4 bom ikan di amankan kepolisian bersama 4 buah detonatornya saat hendak di edarkan,” pungkas Kapolres.

Seluruh barang bukti beserta tersangka di amankan kepolisian di Mapolresta Banyuwangi. Dan atas semua perbuatannya, tersangka di jerat pasal 1 UU darurat RI nomor 12 tahun 1951 tentang membuat, menjual, menyimpan bahan peledak berupa bom ikan, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah ditangkap kepolisian, seorang warga kecamatan Wongsorejo Banyuwangi mengaku terpaksa merakit dan menjual bom ikan karena terlilit hutang.

Hal itu disampaikan AB warga Desa Bengkak Kecamatan Wongsorejo di hadapan aparat kepolisian dan awak media.

Menurut laki laki berusia 33 tahun tersebut, dirinya terlilit hutang sejumlah 1 juta 300 ribu rupiah kepada temannya dan hingga kini tidak bisa membayar.

“Untuk itu, saya terpaksa kembali merakit bom ikan untuk dijual,” ungkap AB.

Dan keahliannya merakit bom ikan ini didapatkan AB setelah belajar kepada seseorang berinisial A warga Kecamatan Wongsorejo yang kini sudah meninggal dunia, akibat terkena ledakan bom ikan yang dirakit sendiri.

“Sebenarnya saya ada rasa ketakutan selama merakit bom ikan itu jika tiba tiba meledak,” kata AB.

Karena selain A, sesudahnya juga diakui ada beberapa orang warga setempat yang meninggal dunia akibat bom ikan yang dirakit meledak.

AB menjelaskan, dirinya baru merakit 6 buah dan 2 diantaranya sudah terjual.

“Rencananya 4 buah bom ikan akan di beli oleh warga Kecamatan Muncar,” tutur AB.

Namun sebelum terjual, aksi tersangka diketahui oleh aparat kepolisian hingga berhasil ditangkap. Meski telah merakit boom ikan, AB mengaku tidak mengetahui daya ledaknya karena dia hanya menjualnya saja.

Sebelumnya, AB di tangkap aparat kepolisian Polresta Banyuwangi di sebuah warung di kawasan Kecamatan Wongsorejo saat menunggu pembeli bom ikan miliknya.

Dari tangan tersangka, di amankan barang bukti 4 buah bom ikan siap ledak beserta 4 buah detonatornya. Tersangka mengaku merakit bom ikan sendiri pada bulan September 2019 lalu, selanjutnya di jual kepada para nelayan dengan harga Rp 300.000 per buah.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kabupaten Banyuwangi diduga menyimpan jejak sejarah panjang dengan Kota Broome, Australia Barat. Kedua kota tersebut pernah terkoneksi pada awal abad 18 dalam satu jalur kabel telegram bawah laut yang dibangun Inggris mulai dari Eropa hingga Australia.

Hal itu diungkapkan oleh Dr. Thor Kerr dari Curtin University Perth Australia dan Irfan Wahyudi, PhD dari Universitas Airlangga.

Kedua peneliti tersebut menjelaskan, terdapat bukti-bukti tertulis keterkaitan antar dua kota itu dan didukung adanya bangunan yang mirip di antara dua kota tersebut.

“Berangkat dari situlah, tim dari Unair dan Curtin University ingin meneliti lebih dalam adanya keterkaitan itu,” ungkap Irfan.

“Kami akan menelusuri kembali lewat penelitian "Memori Kolektif Banyuwangi dan Broome”, tutur Irfan yang juga merupakan dosen dan kepala divisi program internasional Unair tersebut.

Dia menjelaskan, ada kisah historis yang cukup kuat antara Broome dan Banyuwangi. Kedua kota ini pernah terhubung pada 1889 melalui kabel telegram bawah laut yang dibentangkan dari Banyuwangi ke Broome. Kabel ini ditarik dengan kapal selama 10 hari.

“Pada masa itu, Australia sendiri tengah berada dalam pendudukan Inggris,” kata Irfan.

Kabel telegram ini fungsinya untuk menyambungkan orang-orang di Inggris maupun Australia untuk saling berkomunikasi terutama untuk berhubungan dengan sanak famili mereka.

Irfan mengaku, kabel itu sendiri terbentang mulai Eropa di Inggris melalui Afrika sampai Timur Tengah dan India. Dari India menyambung sampai Singapura lalu masuk ke Jawa melalui Batavia terus menuju jalur Deandles (Panarukan-Situbondo) hingga sampai ke Banyuwangi. Dari Banyuwangi, lalu jalurnya langsung menuju Broome. Ada juga yang ke Darwin namun tidak direct.

“Kantor operator untuk yang ada di Banyuwangi adalah asrama Inggrisan. Bangunan itu memiliki kesamaan arsitektur dengan kantor gedung yang menjadi kantor operator di Broome dulu,” papar Irfan.

Diakuinya, saat ditunjukkan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengenai foto Inggrisan dan maket renovasinya, dirinya langsung kaget. Ternyata mirip dan Irfan langsung menunjukkan foto di ponselnya ke Bupati Anas.

“Disitu ada kesamaan arsitekturnya,” tutur Irfan.

Inggrisan adalah bangunan yang dulunya merupakan kantor dagang Inggris yang didirikan oleh British East India Company (BEIC). Bangunan itu kini telah menjadi bangunan cagar budaya Banyuwangi, dan dalam proses revitalisasi dengan melibatkan arsitek Yori Antar.

Bukti lainnya, lanjut Irfan, nama Banyuwangi tertera dengan jelas di dokumen kontrak pemasangan kabel bawah laut dengan tajuk “Banyuwangie and Australia Western Cable”.

“Dokumen ini masih tersimpan dengan rapi di museum Kota Broome,” imbuhnya.

Irfan menambahkan, hal ini semua yang memicu pihaknya untuk melakukan penelitian, yang diharapkan hasilnya bisa menggali lebih dalam sejarah kedua wilayah dan membangun kembali hubungan yang pernah sangat erat tersebut.

Sementara itu, Dr. Thor Kerr menjelaskan bahwa gedung operator di Broome saat ini masih terawat dengan baik. Gedung ini pernah menjadi gedung Pengadilan dan Catatan Sipil, sekarang kosong namun masih dilestarikan. 

“Penelitian ini nantinya akan menggali bukti-bukti keterkaitan itu lebih dalam. Mengingat, pada jaman itu banyak warga nusantara yang bekerja sebagai nelayan mutiara di Broome,” ujar Thor.

“Banyak juga masakan dengan taste Asia di kawasan tersebut. Bahkan disana ada festival kesenian The Window of Asia, Jendela ke Asia. Sehingga mereka tak sadar sebenarnya mereka sangat terhubung dengan Asia tapi tidak tahu memulai dari mana,” paparnya.

Thor yang merupakan dosen departemen komunikasi dan studi budaya di Curtin University tersebut berharap, pihaknya bisa mengorek lagi, sehingga bisa menumbuhkan lagi semangat ada koneksi sebenarnya.

“Penelitian ini mendasari bagaimana orang Broome dan Banyuwangi memaknai atau mengingat, tapi kami juga melihat peluang besar untuk kedua kota ini bisa terhubung lagi,” imbuh Thor.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, temuan sejarah ini akan menambah kekayaan cerita bangunan Inggrisan menjadi semakin menarik.

“Selama ini Gedung Inggrisan adalah monumen sejarah yang penting bagi daerah tapi pengetahuan masyarakat tentang kisah historisnya masih sangat terbatas,” ujar Bupati Anas.

“Fakta ini akan memperkaya pemkab di dalam merenovasi bangunan bersejarah itu,” imbuhnya.

Bupati Anas mengaku semakin optimistis untuk merenovasi gedung Inggrisan ini dikembalikan dengan akar sejarahnya. Diharapkan nantinya, dengan terbukanya sejarah antara gedung Inggrisan di Banyuwangi dan Kota Broome menjadi babak baru hubungan Banyuwangi Australia. Juga menjadi momentum terbukanya pariwisata Banyuwangi dengan Australia.

“Asrama Inggrisan akan menjadi destinasi yang menarik untuk wisata daerah, yang diharapkan bisa mengundang wisatawan dari Australia ke Banyuwangi,” pungkasnya.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah dilakukan pencarian oleh tim gabungan, satu dari 3 pelajar yang dinyatakan hilang terseret ombak di Pantai Trianggulasi Kecamatan Tegaldlimo Banyuwangi akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia, Senin (09/12/2019).

Korban adalah Redi (14) warga Dusun Dambuntung Desa Kedungasri Kecamatan Tegaldlimo.

Sementara 2 korban lainnya yakni Desta (14) warga Dusun Kutorejo Desa Kalipahit dan Sulton (14) warga Dusun Gempol Dampit Desa Kedungwungu hingga kini masih belum diketemukan.

Pencarian ini melibatkan tim gabungan dari petugas Taman Nasional Alas Purwo, Basarnas, Kepolisian dan BPBD Banyuwangi.

Awalnya, pada Minggu siang (08/12/2019) 4 korban mencari kerang di Pantai Trianggulasri yang ada di area Taman Nasional Alas Purwo.

Mereka adalah Reza (14) asal Dusun Purworejo Desa Kalipahit yang berhasil ditolong warga saat memancing di lokasi dan dalam kondisi hidup.

Sementara 3 temannya, Sulton, Desta dan Redi hilang terseret arus cukup kuat. Ke empatnya tercatat sebagai pelajar kelas 2 SMP Negeri 2 Tegaldlimo. Mereka mandi dipantai setelah mencari kerang hingga terseret arus dan tenggelam.

“Tim gabungan berangkat dari pantai Parang Ireng melakukan pencarian dengan menyisir di seputaran lokasi kejadian,” kata Kapolresta Banyuwangi AKBP Arman Asmara Syarifudin.

Dan setelah di lakukan penyisiran sejak Minggu sore hingga Senin pagi (09/12/2019), tim gabungan berhasil menemukan korban Redi yang jenazahnya terombang ambing ditengah laut. Lalu di jemput oleh Skatboot milik Taman Nasional Alas Purwo.

Karena kondisi ombak cukup tinggi, menyebabkan perahu tidak berani menepi. Sesampainya di pinggir pantai Parang Ireng, jenazah korban di evakuasi ke rumah duka dengan menggunakan mobil PKM Kecamatan Tegaldlimo.

“Pencarian ini akan terus dilakukan hingga batas waktu yang belum bisa di pastikan terhadap jenazah kedua korban,” ujar Kapolresta.

“Tapi yang pasti, pencarian tidak dilakukan pada malam hari karena terkendala ombak dan angin yang cukup kencang,” imbuhnya.

Sementara itu, kondisi ombak di kawasan pantai Trianggulasi ini cukup tinggi karena berbatasan langsung dengan pantai G-Land atau pantai Plengkung yang memiliki ombak tertinggi di asia yang selama ini menjadi jujugan para peselancar.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Sedunia, Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuwangi menggelar lomba videography dengan konten anti korupsi, juga membagikan bunga dan stiker kepada para pengguna jalan.

Lomba videography tersebut merupakan pendidikan antikorupsi dari para jaksa kepada siswa siswi.

Kepala Kejari Banyuwangi, Mohamad Mikroj mengatakan peringatan Hari Antikorupsi tidak hanya diperingati sebatas seremonial dengan menggelar upacara, melainkan juga membagikan bunga dan stiker.

Ini bertujuan untuk mengingatkan kepada seluruh masyarakat agar tidak melakukan korupsi,” ujar Kejari.

Korupsi bukan hanya soal suap-menyuap, tapi banyak hal konotasi tentang korupsi yang harus diketahui masyarakat termasuk para pelajar,” imbuhnya.

Oleh karena itu, sebagai salah satu bentuk sosialisasi antikorupsi kepada masyarakat, jajaran korps adhyaksa tersebut juga membagikan bunga dan menempelkan stiker pada mobil dan motor kepada pengendara yang kebetulan melintas di depan Kantor Kejaksaan Negeri Banyuwangi Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Ada 750 stiker yang dibagikan kepada pengendara motor dan mobil. Tidak hanya sekedar membagikan bunga dan stiker, secara khusus untuk generasi millennial, bekerja sama dengan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur di Banyuwangi.

Kejaksaan Negeri Banyuwangi menggelar lomba khusus pelajar SMA dan SMK yakni lomba baca puisi, lomba yel-yel dan dialog theater Hari Anti Korupsi melalui rekaman video.

“Ada 26 sekolah yang telah mendaftar dan akan dipilih 7 peserta terbaik untuk diberikan penghargaan,” kata Kejari.

Lomba tersebut sengaja menyasar kepada pelajar atau generasi millennial untuk menanamkan karakter jiwa anti korupsi. Dengan mendidik anti korupsi, maka generasi millennial dinilai telah memiliki semangat kebangsaan dan bela negara.

Karena jika wawasan kebangsaan sudah tertanam kuat, maka tentu tidak akan melakukan korupsi,” imbuhnya.

Kejari menyatakan bahwa pihaknya membidik anak-anak muda tentang lomba anti korupsi, karena merekalah yang akan meneruskan tongkat kepemimpinan bangsa ini di masa yang akan datang.

“Untuk itu, sejak dini mereka dibentuk karakter kebangsaannya dengan wawasan anti korupsi dan wawasan kebangsaan lainnya,” pungkas Kejari.

Lomba video anti korupsi tersebut juga selaras dengan program cabang dinas pendidikan Provinsi Jawa Timur di Banyuwangi untuk menanamkan karakter kebangsaan dan wawasan tentang korupsi kepada pelajar sejak dini.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas International, para disabilitas di Banyuwangi menggelar reuni akbar disabilitas.

Acara yang diinisiasi oleh Persatuan Istri Veteran Republik Indonesia (Piveri) Kabupaten Banyuwangi tersebut, diikuti 100 penyandang disabilitas lintas usia se-Banyuwangi, Minggu (08/12/2019).

Tampak hadir Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas didampingi istrinya, Ipuk Fiestiandani dan Plt Kepala Dinas Sosial, Peni Handayani.

Mereka berkumpul dalam suasana kekeluargaan yang akrab. Sambil duduk lesehan, para difabel ini terlihat sangat nyaman dan menikmati seluruh rangkaian acara yang disuguhkan. Mulai dari pertunjukan musik, monolog, puisi hingga tausiyah yang seluruhnya ditampilkan oleh para difabel sendiri.

Di lokasi kegiatan, juga ditampilkan beragam karya kreatif para difabel. Seperti lukisan dan batik. Bahkan, para peserta dan pengunjung juga bisa langsung memesan lukisan wajahnya kepada seorang pelukis difabel yang telah stand by di areal kegiatan.  

Ketua Piveri Banyuwangi, Hasiastoeti mengatakan, kegiatan reuni akbar difabel ini diharapkan bisa menjadi ajang silaturahmi para penyandang disabilitas di Banyuwangi.

Para difabel dari berbagai usia diajak berkumpul agar mereka saling mengenal dan memupuk tali persaudaraan.

“Misinya satu, mari jaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ungkap perempuan yang akrab di sapa Ny. Soeherman tersebut.

“Lewat ajang ini, kami ingin mengajak para difabel dan seluruh masyarakat Banyuwangi dari berbagai kalangan usia untuk tetap bersatu mempertahankan NKRI,” ujarnya.

Selain untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional, acara ini juga dalam rangka merayakan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) yang ke 248 yang jatuh pada 18 Desember 2019 mendatang. Bahkan, di kegiatan ini juga di rangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengapresiasi kegiatan yang dinilainya sangat baik ini. Diharapkan, ini bisa membawa manfaat yang besar bagi semua.

Bupati Anas pun menyemangati para difabel yang hadir untuk terus menggali potensi diri.

“Difabel adalah orang yang sama istimewanya dengan yang lain. Difabel juga bisa berprestasi dengan segala kelebihan yang dimiliki. Mari semua terus bergandengan tangan membangun Banyuwangi, karena difabel juga mempunyai andil yang luar biasa untuk membangun Banyuwangi,” papar Bupati Anas.

“Pemda akan tetus mendukung dan mengawal kesejahteraan para penyandang disabilitas di Banyuwangi. Salah satunya, dengan menggelar pelatihan usaha,” tuturnya.

Meski demikian, Bupati Anas mengaku tidak semua keinginan disabilitas bisa dipenuhi, karena anggaran pemerintah terbatas. Tapi pemkab akan tetap mendukung pengembangan keterampilan sebagai modal mereka membuka usaha.

“Tahun ini, pemkab menawarkan tiga pelatihan. Tinggal mereka yang menentukan, kira-kira pelatihan apa yang paling diperlukan,” kata Bupati Anas.

Sebelumnya, Banyuwangi telah menggelar Festival Kita Bisa bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional, pada 3 Desember lalu.

Kegiatan ini mendapat sambutan baik dari para penyandang disabilitas. Diantaranya, Lukman Hakim, seorang pelukis yang merupakan penyandang tuna daksa.

“Bagi saya, kegiatan semacam ini bisa memberikan kesempatan bagi difabel seperti saya untuk unjuk potensi,” ungkap Lukman.

Lukman yang tidak memiliki tangan yang sempurna, mampu membuat berbagai lukisan indah beraliran realis menggunakan kakinya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Logistik kebutuhan pemilu tiba di Banyuwangi. Logistik awal, KPU Banyuwangi mulai menerima kiriman surat suara untuk kebutuhan pemilu tahun 2019. Sejak hari kamis kemarin, KPUD Banyuwangi sudah menerima 2.375 boks surat suara untuk DPR RI, dari kebutuhan sebanyak 2.688 boks.

Ketua KPU Banyuwangi, Samsul Arifin menuturkan, surat suara yang diterima KPU Banyuwangi, baru surat suara untuk calon legislatif DPR RI. Sedangkan untuk surat suara DPRD Propinsi, DPRD kabupaten, DPD dan Pilpres secara bertahap akan datang sampai  bulan Maret 2019 mendatang. 

Dijelaskan oleh Samsul, surat suara DPR RI yang diterima KPU Banyuwangi masih dalam kondisi tersegel, dan pihaknya langsung melakukan pengecekan untuk memastikan apakah surat suara yang dikirim, jumlahnya sudah sesuai dengan dokumen pengiriman.

Selain datangnya surat suara Pemilu, KPU Banyuwangi juga telah melakukan proses perakitan kotak suara. Jumlah kotak suara yang harus dirakit untuk kebutuhan Pemilu 2019 di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 25.580 kotak suara.

Kotak suara jumlahnya disesuaikan dengan jumlah Tempat Pemungutan Suara, yakni 5.116 TPS, setiap TPS mendapatkan lima kotak suara dan empat bilik suara. Syamsul menambahkan, Dalam proses perakitan kotak suara tersebut, KPU Banyuwangi melibatkan masyarakat setempat, dan Samsul menargetkan perakitan kotak suara dapat secepatnya diselesaikan. Dari awal bulan Pebruari jumat siang, sudah terakit sebanyak  3.000 lebih kotak suara.

 

 

 

Radiovisfm.com, Banyuwangi -  DPRD Banyuwangi meminta kepada pemerintah untuk mengganti alat pendeteksi dini bencana atau Early Warning System (EWS) yang rusak. Ini dilakukan untuk menghindari kehilangan yang lebih lama. Terlebih saat ini, Banyuwangi dianggap sebagai daerah yang rawan bencana tsunami.

 

Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara menuturkan, alat pendeteksi dini bencana saat ini sangat penting, terlebih lagi wilayah Banyuwangi memiliki ancaman bencana yang cukup tinggi. Mengingat kata Made, Pemerintah Banyuwangi diharapkan untuk segera menginventarisir alat yang diperlukan untuk penggunaan dini di Banyuwangi.

 

Intinya pemerintah harus tanggap terkait alat-alat yang bisa mencegah bencana jika ada yang rusak. Jika ada yang hilang segera di inventarisir dan segera diganti. Karena hal ini kata Terbuat dari nyawa masyarakat Banyuwangi terjadi kompilasi bencana.

 

Dibeberapa wilayah di Indonesia sudah terjadi tsunami. Bukan tidak mungkin Banyuwangi yang memiliki panjang pantau 175,8 kilometer juga diterjang tsunami. Bagaimana jika Banyuwangi memiliki alat pendeteksi dini bencana, maka potensi bencana yang akan terjadi dapat lebih dini dan dapat meminimalisir korban jiwa yang terkait dengan bencana tersebut.

 

DPRD juga mendesak BPBD segera bergerak untuk berkoordinasi dengan Pemkab Banyuwangi untuk perlindungan seluruh peralatan penanggulangan bencana

 

Made mengaku, pihaknya belum mengecek apakah di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Banyuwangi tahun 2019 ini sudah ada atau belum untuk pembelian alat pendeteksi dini bencana tersebut. Jika belum, pihaknya akan menambahkan anggaran pembelian EWS itu pada APBD perubahan nanti, karena yang terpenting kata Made Banyuwangi harus mempunyai alat pendeteksi dini bencana. 

 

“ Pemerintah harus tanggap terkait alat pendeteksi bencana kalau memang ada yang rusak, karena ini menyangkut nyaa masyarakat Banyuwangi ketika ada korban bencana, dan BPBD segera bergerak koordinasi dengan Pemkab untuk mendeteksi peralatan dan potensi bencana terkait tsunami dan tanah longsor karena sekarang posisi sedang musim hujan deras”, ujarnya.

 

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat merilis ada sekitar 45 desa yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, rawan sekali dihantam bencana tsunami. Sebab desa- desa tersebut letaknya berdekatan dengan pantai.

 

Menurut kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Fajar Suasana, puluhan desa itu diantaranya, Desa Sambimulyo, Temurejo, Pakis, Sobo, Kertosari, Ketapang, Sumberagung, Pesanggaran, Grajagan dan Desa Sumbersewu. 

 

Dari puluhan desa itu, tingkat kerawananya berbeda- beda. Mulai dari tingkat kerawanan tinggi, sedang, hingga ringan. Kata Fajar, untuk desa yang tingkat kerawananya tinggi itu yang letaknya berada di pantai laut lepas, seperti laut Selatan Jawa. Sedangkan yang tingkat kerawanan sedang hingga ringan yang daerah pantainya tidak di laut lepas.

 

Di wilayah Kabupaten Banyuwangi sendiri merupakan daerah yang paling luas rawan Tsunami di Pulau Jawa. Sehingga untuk mengetahui dini potensi bencana tsunami Banyuwangi sangat membutuhkan alat pendeteksi dini tsunami atau Early Warning System (EWS).

 

Menurut Fajar, alat pendeteksi dini bencana ini, berfungsi selain dapat mendeteksi dini bencana tsunami juga bisa mendeteksi dini bencana banjir bandang, tanah longsor dan bencana Gunung Meletus. Sedangkan Kabuaten Banyuwangi sendiri telah memiliki 7 EWS bantuan dari BNPB. Namun alat tersebut saat ini kondisinya sudah rusak karena komponennya dicuri. 

 

BPBD Banyuwangi saat ini memerlukan EWS milik BMKG Banyuwangi. Untuk itu, BPBD mengharap Pemerintah Banyuwangi tahun 2019 ini memprioritaskan pengadan EWS, sehingga potensi lebih awal yang bisa membuat Banyuwangi berhasil.

radiovisfm.com, Banyuwangi - 3 orang jaringan pengedar Pil Koplo di wilayah Banyuwangi di ringkus aparat Kepolisian, yang salah satunya adalah perempuan. Menariknya, salah satu dari tersangka tersebut kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service.

Mereka adalah Ica Camelia Agustin (19) warga Jalan Karimun Jawa Kelurahan Lateng Kecamatan Banyuwangi dan kekasihnya, Sugianto (27) warga Dusun Purwosari Desa Tanjungsari Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember, yang selama ini kost di kawasan Jalan Ikan Arwana Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi.

Satu lagi, Indra Wahyu (23) warga Jalan Ikan Wijinongko Kelurahan Sobo Kecamatan Banyuwangi.

Terungkapnya jaringan peredaran pil koplo ini berawal dari penangkapan Ica Camelia Agustin oleh tim buser Polsekta Banyuwangi, di sebuah warung depan Pabrik Kertas Basuki Rahmat.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki mengatakan, dari tangan gadis belia tersebut di amankan barang bukti 10 butir pil jenis Trihexyphenidyl dan uang tunai Rp 30 ribu hasil dari penjualan obat obatan sediaan farmasi tersebut.

“Kepada petugas, tersangka mengaku hanya sebagai kurir yang mengantarkan pesanan si pembeli. Sementara pil tersebut di akui adalah milik Sugianto,” papar AKP Ali Masduki.

“Dari keterangan tersangka inilah, aparat kepolisian bergerak cepat menuju ke tempat kos Sugianto hingga berhasil dilakukan penangkapan,” imbuhnya.

Dari tangan tersangka, petugas mengamankan 110 butir obat Trihexyphenidyl.

Bersamaan dengan itu, tiba tiba datang Indra Wahyu ke tempat kost tersangka hendak memasok pil Trihexyphenidyl. Kondisi ini langsung di manfaatkan oleh petugas untuk menangkap Indra Wahyu, yang rupanya membawa 1000 butir pil Trihexyphenidyl.

“Tersangka Indra Wahyu mengaku mendapatkan obat obatan tersebut dari pemasoknya yang berasal dari Jember, tapi tidak diketahui namanya,” tutur Kapolsek.

Selanjutnya, ketiga tersangka itu di gelandang ke Mapolsekta Banyuwangi guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dan dihadapan penyidik, tersangka Indra Wahyu mengaku awalnya hanya sebagai pengguna saja. Namun lama kelamaan dia mulai menjadi pengedar dan penyuplai pil koplo karena tergiur dengan keuntungan dari penjualan.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service tersebut mengaku sudah mengenal pil Trihexyphenidyl sejak masih duduk di bangku SMA. Dan sebelum ditangkap, setiap hari dia selalu mengkonsumsi pil itu kurang lebih 3 butir, namun di minum satu satu.

“Atas perbuatannya,  ketiga tersangka di jerat pasal 197 subsider pasal 196 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” pungkas Kapolsek.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah mengapresiasi pembukaan galeri lukis oleh perupa nasional asal Banyuwangi, S.Yadi K, yang dinilai akan semakin memperkaya khazanah kesenian dan kebudayaan di Banyuwangi.

Hal ini di sampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka galeri tersebut, Senin malam (01/10).

Galeri seni yang berada di jalan Kuntulan, nomor 135, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah ini menyajikan puluhan lukisan karya S Yadi K dan para pelukis asal Banyuwangi lainnya.

Tampak hadir puluhan seniman dan budayawan Banyuwangi dalam pembukaan semalam tersebut. Hadir pula budayawan nasional dan penulis buku Candra Malik pada kesempatan tersebut.

Bupati Anas mengatakan, Kesenian Banyuwangi memiliki keistimewaan tersendiri. Mulai dari lagu, tari-tarian hingga karya lukis para perupanya.

“Tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga di nasional, bahkan kancah internasional,” ujarnya.

Menurut Bupati Anas, dengan adanya galeri ini, seni lukis dinilai akan semakin memperbesar sumbangsihnya pada khazanah kebudayaan di Banyuwangi.

Yadi merupakan salah seorang pelukis kenamaan Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di tingkat nasional maupun internasional. Pameran tunggalnya pernah dihelat di Edwin Gallery dan Taman Ismil Marzuki Jakarta.

Salah satu karyanya berjudul "Paju Gandrung" menjadi salah satu koleksi istana negara. Beberapa karyanya juga pernah dilelang di Balai Lelang Christie's dan Shotheby's di Singapura.

Dalam kesempatan itu, Bupati Anas juga mendorong tempat tersebut tidak hanya eksklusif untuk para pecinta seni saja. Namun, juga bisa menjadi salah satu alternative destinasi wisata baru di Banyuwangi.

“Selama ini banyak tamu saya penasaran dengan proses kreatif dari Yadi,” tutur Bupati Anas.

“Akan lebih menarik bila wisatawan bisa langsung datang ke galeri Yadi,” imbuhnya.

Selain menikmati lukisan, mereka juga bisa menyaksikan dan terlibat langsung dari aktivitas melukis.

Keberadaan Omah Seni tersebut, lanjut Bupati Anas, akan melengkapi destinasi Gunung Ijen. Para wisatawan setelah mendaki ke Ijen, bisa menikmati jenis wisata lain di bawahnya.

Selain Taman Terakota Gandrung di Jiwa Jawa Resort yang menonjolkan seni patung, mereka juga bisa menikmati seni lukis di Omah Seni S Yadi K tersebut.

“Apalagi, tempat tersebut terhitung masih dalam satu jalur menuju ke Ijen. Ini akan jadi destinasi minat khusus yang menarik wisatawan,” papar Bupati Anas.

Dia juga berjanji bakal turut serta mempromosikan keberadaan galeri tersebut.

“Ini akan jadi paket-paket wisata yang bakal ditawarkan kepada wisatawan yang ke Banyuwangi,” tutur Bupati Anas.

Apalagi sebentar lagi akan ada Annual Meeting IMF World Bank. Sehingga dinilai mereka akan tertarik dengan kesenian semacam ini.

“Selama ini kami banyak melibatkan para seniman dan budayawan dalam menentukan kebijakan. Terutama dalam menentukan berbagai bangunan-bangunan besar, seperti hotel dan tempat-tempat umum,” papar Bupati Anas.

Dicontohkan, arsitek hotel ataupun tempat-tempat umum di Banyuwangi di wajibkan untuk presentasi terlebih dahulu kepada para seniman dan budayawan. Mereka harus memastikan bangunan yang ada akan mengadaptasi konsep kebudayaan lokal. Di sejumlah hotel, bahkan sudah ada lukisan dan potret tentang Banyuwangi di setiap kamarnya.

“Di sinilah kami menitipkan peradaban Banyuwangi,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, S Yadi K merasa tertantang dengan dorongan dari Bupati Anas. Ia menyampaikan bahwa geleri seninya tersebut akan menjadi pusat berkegiatan para perupa di Banyuwangi. Nantinya, mereka akan menggelar workshop maupun pameran di tempat tersebut.

“Galeri saya ini akan menjadi markas para perupa Banyuwangi yang siapa saja nantinya bisa berkunjung,” kata Yadi.

Dia juga mendukung ide Bupati Anas, yang diharapkan galeri seninya bisa menjadi bagian dari mengembangkan seni di Banyuwangi.

Acara tersebut juga dibarengi dengan pagelaran pameran lukisan bertajuk Kembang Kawitan. Berbagai karya lukis dari perupa Banyuwangi ditampilkan di Omah Seni S Yadi K. Pameran tersebut dijadwalkan satu bulan penuh hingga November mendatang.

 

 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Delapan buruh bangunan harus mendekam di sel tahanan Polsek Ilir Timur II, Sumatera Selatan, lantaran kedapatan mengkonsumsi sabu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI George E. Supit memerintahkan satuan TNI kewilayahan untuk membentuk tim SAR (Search and Rescue) dalam membantu pencarian pesawat Dimonim Air.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pembalap asal Lumajang pemenang Asia Mountain Bike Series 2018 di Malaysia, berhasil menjuarai event balap sepeda Chocolate Happy Cycling di Banyuwangi.

Ribuan penggowes MTB (mountain bike) dari berbagai kota di Indonesia ikut menjajal rute jalanan perkebunan kakao, di kawasan wisata Doesoen Kakao di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Minggu (17/02/2019).

Sejumlah pembalap MTB nasional juga turun dalam ajang yang pertama kali digelar ini. Mereka semua ingin menjajal trek sepeda sepanjang 20,4 KM yang membelah perkebunan kakao yang konturnya berbukit. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengungkapkan pelaksanaan Chocolate Happy Cycling ini sebagai bagian dari sporttourism yang sedang dikembangkan Banyuwangi.

Di Banyuwangi sendiri, terdapat 16 event yang masuk dalam agenda spor tourism,” ungkap Bupati Anas.

“Kategori MTB ini melengkapi event balap sepeda di Banyuwangi yang telah ada. Sport tourism sengaja dipilih oleh Banyuwangi untuk menggenjot segmentasi kunjungan wisatawan,” paparnya.

Berdasarkan hasil riset, sport tourism menjadi penarik minat wisatawan selain budaya dan alam. 

Bupati Anas menjelaskan, dari segmentasi sport tourism ini pemerintah ingin menyasar kalangan milenial, mereka yang hobinya olahraga dan traveling.

Sehingga Banyuwangi mencoba masuk diceruk ini,” pungkasnya.

Kompetisi ini dimenangi oleh pembalap MTB nasional, yakni Zainal Fanani. 

Juara Men Elite Asia Mountain Bike Series 2018 di Malaysia ini berhasil menyingkirkan ratusan peserta open race sepeda gunung yang melewati kawasan perkebunan Kendang Lembu, Glenmore milik PTPN XII itu. Pembalap berusia 29 tahun itu, mampu menempuh rute sejauh 20,4 KM dalam waktu 47 menit.

Kelokan, turunan dan tanjakan yang menjadi ciri dari rute off road mampu dilaluinya dengan mudah.

Ia mendahului Angga Dwi Wahyu Prahesta dan Ihza Muhammad yang harus puas finish di urutan kedua dan ketiga.

Keseruan rute juga diakui oleh Linda. Pemenang seri Women Open Chocholate Happy Cycling tersebut, mengaku rutenya ekstream.

“Tapi jalannya cukup lebar sehingga tidak terlalu merepotkan,” ujar Linda.

Linda adalah pebalap asal Samarinda dan merupakan pemegang dua medali emas cabang MTB pada Porprov Kalimantan Timur tahun lalu. Pebalap usia 20 tahun itu, mampu mendahului Bela Anjar Wulan yang finish diurutan kedua.

Chocholate Happy Cycling sendiri tidak hanya terdiri dari kelas open race. Ada beberapa kategori lainnya untuk memeriahkan event yang masuk dalam kalender Banyuwangi Festival tersebut.

Selain kategori open, juga ada Master A untuk pebalap berusia 30 - 39 tahun, Master B untuk usia 40 - 49 tahun, dan Master C untuk usia 50 - 59 tahun. Ada pula kategori happy gowes untuk para pecinta sepeda. 

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banyuwangi Wawan Yadmadi mengatakan, total peserta yang mengikuti event ini sejumlah 1386 peserta. Mereka tidak hanya dari Banyuwangi.

“Tapi juga datang dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali hingga Kalimantan. Bahkan juga ada peserta difabel, Mudiono pebalap asal Lumajang,” papar Wawan.

Event ini merupakan rangkaian chocolate festival di Banyuwangi yang di gelar selama dua hari (16-17 Februari), di kawasan Doesoen Kakao, yang sebelumnya juga di laksanakan Chocolate Glenmore Run dan Chocolate Jazz and Food Festival.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tiga pelari asal Kenya mendominasi juara pada lomba lari Chocolate Glenmore Run 2019 yang di gelar di kawasan perkebunan Kakao Kendeng Lembu Kecamatan Glenmore Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019).

Sebut saja Thomas Kipkor Maritim, menjadi yang tercepat dalam kategori 10 KM putra dengan catatan waktu 32 menit 42 detik. Disusul Hillary Kipkering di urutan kedua dengan catatan waktu 32 menit 47 detik. Dan posisi ketiga di raih Sutikno pelari asal Lumajang yang berhasil mencatat waktu 35 menit 51 detik.

Untuk di kategori 10 KM putri, juga di raih pelari asal Kenya, Daisy Cherono dengan catatan waktu 45 menit 39 detik. Urutan kedua Ilmi, pelari asal Lumajang yang mencetak 51 menit 38 detik serta posisi ketiga pelari asal Magelang, Waliyanti dengan catatan waktu 52 menit 23 detik.

“Saya sangat senang mengikuti kompetisi yang diikuti ribuan pelari dari nusantara ini karena menyuguhkan trek yang cukup menantang,” ungkap Thomas.

“Melewati perkebunan kakao yang berbukit, menembus hutan kecil, dan jalanannya berbatu,” imbuhnya.

Selain itu, Thomas juga mengaku sangat menikmati lomba ini. Lingkungan serta hawa sejuk di area perkebunan menjadi daya tarik tersendiri selama melalui rute tersebut. 

“Meski rutenya menantang tapi jadi menarik karena udaranya sejuk dan lingkungan nya bersih. Terutama pemandangannya sangat menarik,” kata Thomas.

Sementara itu, pemenang 10KM putri Daisy Cherono mengungkapkan bahwa lingkungan yang sejuk membantu dia melewati lomba ini dengan baik. 

“Dari awal start sampai garis finish, saya konsisten tetap berlari. Hawa yang sejuk juga pemandangan sangat indah memudahkan dirinya untuk menyelesaikan lomba,” papar Daisy.

Dia mengaku baru pertama kali ikut lomba lari di Banyuwangi.

“Ini jadi ajang saya untuk menguji speed, karena pada 24 Februari mendatang akan ikut lomba di Malaysia,” ujar Daisy.

Sementara itu, untuk pemenang pada kategori 5 KM didominasi oleh peserta dari luar daerah. Seperti kategori SMA putra diraih oleh Ardi Wirayuda dari SMAN Madinatul Ulum Jombang dan Kategori Putri diraih Ernovyan dari SMAN 2 Genteng Banyuwangi. 

Sedangkan kategori SMP putri dimenangkan oleh Eva Yunita (15) dari SMPN 1 Rowo Kangkung Lumajang, untuk putra diraih Dandi Sampurna (15) SMPN 1 Gambiran Banyuwangi.

Kategori SD Putri diraih Siti Wulandari (9) dari SD Curah Poh 2 Bondowoso dan SD putra diraih Krisna dari MI Islamiah Glenmore, Banyuwangi.

Ajang Chocolate Glenmore Run ini dimulai tepat pukul 06.30 WIB di Doesoen Kakao, sebuah kawasan wisata yang terdapat pabrik pengolahan coklat yang lokasinya berada di perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Event lari yang dibuka oleh Menteri BUMN Rini Soemarno ini melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer dan diikuti lebih dari 2.000 peserta dari seluruh wilayah Indonesia, juga manca negara. 

Para peserta diajak menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao sepanjang rute, para pelari juga bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat. 

Sementara pada Minggu (17/2/2019) akan digelar lomba balap sepeda Chocolate Happy Cycling. Di mana pembalap akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama, yaitu di Doesoen Kakao. Untuk memeriahkan aksi lari dan bersepeda ini digelar pula Chocolate Jazz and Food Festival di kawasan yang sama selama dua hari, 16 - 17 Februari.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah melepas ribuan peserta Chocolate Glenmore Run di lokasi wisata Doesoen Kakao Kecamatan Glenmore Banyuwangi, Sabtu (16/2/2019), Menteri BUMN Rini Soemarno ikut serta berlari sejauh 5 KM.

Dari data yang ada, sekitar 2.000 an peserta dari dalam dan luar negeri mengikuti event yang baru pertama kali di gelar, dan masuk dalam salah satu rangkaian Banyuwangi Festival 2019 tersebut.

Menteri Rini pun ikut berlari bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Kapolres AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi dan para Bos Bank BUMN menyusuri belantara perkebunan kakao yang merupakan bahan baku cokelat.

Lomba lari ini menyuguhkan trek perkebunan di Perkebunan Kendenglembu. Para peserta melintasi perkebunan kakao dan karet di sepanjang rute. Dari perkebunan di Glenmore itulah, kakao diekspor ke berbagai belahan dunia menjadi cokelat terbaik. 

Bos-bos BUMN pun terlihat menikmati suasana yang sejuk dengan berlari kecil mengiringi ayunan kaki Menteri Rini.

Tampak hadir Direktur Utama BNI Achmad Baiquni, Dirut Bank Mandiri Kartiko Wirjoatmojo, Dirut BRI Suprajarto, Dirut BTN Maryono, Dirut Perhutani Denaldy Maunda, dan para direksi BUMN perkebunan. Hadir pula Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro dan sejumlah deputi menteri.

Menteri Rini mengaku senang bisa berlari ditengah perkebunan dengan udaranya yang sejuk.

“Ini adalah ajang sport tourism yang sangat potensial untuk dikembangkan,” ujarnya.

Menteri Rini dan bos-bos BUMN papan atas Indonesia itu tertawa lepas saat sepatunya basah kuyup saat melintasi sungai kecil di tengah perkebunan.

Meski terus berlari dan basah oleh air, Menteri Rini tetap semringah. Tangannya terus melambai dan bibirnya selalu tersenyum. Beberapa kali dia melepas topi dan mengelap peluh yang menetes di dahinya.

“Kementerian BUMN sangat mendukung program ini sekaligus ingin mendukung Banyuwangi semakin cantik dan terkenal sebagai destinasi wisata nasional maupun internasional,” papar Menteri Rini dalam sambutan singkatnya.

Menurut Menteri Rini, di Kecamatan Glenmore ini pemandangannya sangat indah, dan mempunyai keterikatan kuat dengan dunia karena cokelatnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Sementara itu, Bupati Anas menyatakan, kolaborasi dengan BUMN dinilai memungkinkan ada akselerasi dalam pembangunan daerah.

“Pemerintahan Jokowi memang mendesain BUMN sebagai agen pemerataan dan pemercepat pembangunan,” ungkap Bupati Anas.

Dia bersyukur Banyuwangi bisa terus memperkuat kolaborasi dengan banyak BUMN, termasuk untuk memajukan pariwisata.

“Dulu di zaman sebelum kemerdekaan, daerah Glenmore adalah favorit Belanda. Saat ini aspek historis itu mampu menarik wisatawan untuk datang,” papar Bupati Anas.

“Melalui event ini, Pemkab Banyuwangi ingin mengenalkan salah satu kakao terbaik dunia. Wisatawan juga bisa menikmati cokelat terbaik yang telah dihasilkan di negeri ini,” pungkasnya.

Doesoen Kakao sendiri adalah kawasan wisata yang menjual eksotika perkebunan kakao lengkap dengan pengolahan cokelat yang berlokasi di Perkebunan Kendeng Lembu, Glenmore, Banyuwangi.

Dengan hawa yang sejuk karena terletak di dataran tinggi, kualitas cokelat terbaik, dan aspek historis, Glenmore menjadi favorit wisatawan terutama dari Eropa.

Perkebunan kakao di Glenmore ini telah dikenal sebagai penghasil kakao untuk bahan coklat terbaik di dunia. Kakao Glenmore telah banyak diekspor ke Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Selama dua hari, 16 - 17 Februari, di Doesoen Kakao Banyuwangi akan digelar Chocolate Glenmore Run, Chocolate Happy Cycling, dan Chocolate Jazz and Food Festival. Menteri BUMN Rini Soemarno akan membuka Chocolate Glenmore Run, sebagai event pembuka, Sabtu (16 Februari).

Dikatakan Djuang Pribadi, Kabag Humas Setda Banyuwangi Menteri Rini akan hadir dalam kompetisi lari yang menyuguhkan trek perkebunan kakao di kawasan Glenmore Banywuangi.

"Bu Menteri Rini yang didampingi sejumlah pejabat BUMN akan hadir dalam Chocolate Glenmore Run, bahkan rencananya beliau akan ikut berlari bersama peserta," kata Djuang.

Event lari tersebut akan dimulai pukul 06.00 di Doesoen Kakao, sebuah kawasan wisata yang terdapat pabrik pengolahan coklat yang lokasinya berada di perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yadmadi menambahkan kompetisi lari ini akan melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer.

Kompetisi lari tersebut akan diikuti 1.000 peserta dari seluruh wilayah Indonesia. Bahkan terdapat dua pelari asing asal Kenya yang turut bertanding dalam kompetisi ini.

"Para peserta akan menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao sepanjang rute, para pelari dan pesepeda bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat," kata Wawan.

Hari berkutnya, Minggu (17 Februari) akan digelar Chocolate Happy Cycling, di mana pembalap akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama,  yaiu di Doesoen Kakao.

“Lintasan yang akan dilalui peserta 80 persen offroad. Setelah melewati jalur mulus di jalan lintas selatan, mereka akan memasuki jalanan terjal dan berbatu di pinggiran perkebunan cokelat yang rimbun,” ujar Wawan.

“Tantangan akan semakin berat pada 2 kilometer terakhir saat peserta harus menaklukkan rute menanjak dan beraspal yang licin,” imbuhnya.

Ajang ini terdiri atas 2 kategori lomba, yakni Racing (kompetisi) dan Gowes Happy. Untuk Racing, dibagi menjadi 4 kelompok, yakni  open (semua usia), Master A (usia 30-39 tahun), Master B (40-49 tahun), dan master C (50 tahun ke atas). Sementara Gowes Happy terbuka untuk segala usia.  

Sementara, untuk memeriahkan aksi lari dan sepeda tersebut digelar pula Chocolate Jazz and Food Festival di area setempat selama dua hari, 16 - 17 Februari.

"Pastinya ini akan menjadi pengalaman yang unik menikmati musik jazz sembari menyesap kelezatan coklat tepat di tengah-tengah perkebunannya. Apalagi Glenmore merupakan kawasan perkebunan yang sejuk," pungkas Wawan.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tim Jelajah Sepeda Nusantara (JSN) 2018 diberangkatkan dari Banyuwangi, Rabu pagi (7/11). Banyuwangi menjadi kota pertama di Pulau Jawa yang menjadi titik pemberangkatan rombongan pesepeda ini. Belasan pesepeda tersebut dilepas  Asisten Perekonomian dan Kesra, Iskandar Azis didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi, Wawan Yadmadi dari Kantor Pemkab Banyuwangi. Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jember yang menjadi rute berikutnya. Saat melepas rombongan, Iskandar Azis mengucapkan terima kasihnya kepada mereka yang telah berkunjung ke Banyuwangi. Menurutnya, apa yang dilakukan Banyuwangi selama ini khususnya terkait pengembangan sport tourism dengan mengenalkan titik-titik wisata baru dinilai sudah sejalan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Rombongan ini telah tiba di Banyuwangi pada Selasa malam (6/11) setelah mereka menyelesaikan rute bersepedanya di Pulau Dewata-Bali.

Dikatakan Staf di Asisten Deputi Olahraga Rekreasi, Deputi Pemberdayaan Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Agus Santoso yang mengawal tim JSN, tim ini start sejak 30 Juni 2018 dari pos lintas batas negara yang ada di Entikong, Kalimantan Barat. Dari situ mereka menjelajah seluruh Kalimantan, yakni mulai Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara. Kemudian menjelajah seluruh Sulawesi, baru kemudian menyeberang ke Bali, dan tiba di Banyuwangi selasa malam. Agus menambahkan, tidak hanya sekedar bersepeda, para peserta juga bisa sekaligus menikmati keindahan destinasi wisata yang mereka lalui di sepanjang rute. Walau hanya berhenti selama beberapa saat sambil mengambil foto atau pun menikmati kuliner di tempat tersebut.

Tim JSN ini, imbuh Agus, dijadwalkan  menempuh jarak total sejauh 6700 kilometer dengan melintasi 4 pulau yakni Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Jawa. Dan akan finish di Yogyakarta pada 18 November. Ketika mereka tiba di Banyuwangi, total 6200 km telah ditempuh. Sebelumnya mereka sempat jeda sejenak saat Asian Games dan Asian Paragames digelar. Pesertanya yang terdiri dari 15 atlet itu berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Antara lain dari Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Timur, Lampung dan Bali.

Ada 7 atlet laki-laki dan 8 perempuan. Agus menjelaskan, mereka merupakan atlet pilihan yang sudah menjalani seleksi dari Kemenpora. Dari segi usia, ada yang tua dan ada yang muda. Tertua 56 tahun dan yang termuda 18 tahun. Tujuan perbedaan usia itu sebagai penyeimbang dari tim. Yang tua menyemangati yang muda, dan sebaliknya. Misi JSN ini sendiri kata Agus, untuk mengkampanyekan olahraga. Namun bukan hanya dengan bersepeda, melainkan untuk semua cabang olahraga. Kebetulan saja pihaknya menggunakan sepeda, dengan asumsi bahwa sepeda itu alat olahraga yang terjangkau berbagai kalangan, bisa digunakan oleh siapa pun, baik tua maupun muda, dan tidak ada orang yang bersepeda yang hatinya tidak gembira. Intinya menurut Agus, pihaknya ingin mengkampanyekan dengan olahraga bisa sehat. Dengan sehat masyarakat bisa bergerak dan melakukan apa saja.

Salah satu atlet yang menjadi peserta JSN ini, Rendra Bayu mengaku sangat excited setiap kali berkunjung ke Banyuwangi. Dia mengaku sudah beberapa kali ke Banyuwangi dan selalu kangen dengan nasi tempongnya. Menariknya, Rendra pernah tercatat sebagai peserta International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) selama 4 kali, yakni di 2013, 2015, 2016 dan 2018. Rendra menjelaskan, JSN ini berbeda dengan ITdBI. Jika di ITdBI dirinya full kompetisi, kalau di sini lebih pada mempromosikan olahraga terhadap masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota yang disinggahi.

Selama perjalanan, menurut Rendra, seluruh anggota tim sangat support satu sama lain. Hampir tak ada kendala berarti yang mereka temui. Kesulitan sempat mereka temui saat melintasi Kalimantan, ada beberapa wilayahnya yang belum diaspal. Juga di Sulawesi yang jalanannya sudah bagus, tapi jarak rumah antar satu penduduk dengan penduduk lainnya agak jarang. Sedangkan di Pulau Jawa ini dinilai cukup banyak tanjakan, diantaranya tanjakan Gunung Kumitir dan Bromo. JSN ini digelar untuk kedua kalinya. Jika di tahun ini diberi nama Jelajah Sepeda Nusantara, di tahun 2017 lalu dikenal dengan nama Gowes Touring Pesona Nusantara dengan menempuh daerah Sabang - Magelang. Dalam 1 hari, rata-rata pesepeda ini mengayuh sejauh 100 – 130 km per hari, start pada pukul 07.00 hingga finish pada pukul 17.00 WIB. Dan sejak awal penyelenggaraan, event ini dinyatakan sebagai event yang zero accident.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) menginginkan level International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) naik tingkat menjadi 2.1.

Direktur Kompetisi Manager PB ISSI, Sondi Sampurno mengatakan, di 2018 ini pelaksanaan ITdBI telah memasuki tahun ke 7.

“Saya sarankan agar levelnya sudah bisa naik 2.1 pada pelaksanaan di tahun 2019 mendatang,” ujar Sondi.

Sehingga menurut Sondi, nantinya akan banyak lagi tim yang datang dan mengikuti kegiatan ini serta nama ITdBI semakin terangkat.

“ITdBI sudah memenuhi syarat untuk naik level 2.1 karena sarana prasarananya sudah mendukung,” tutur Sondi.

Seperti, semakin banyak berdiri hotel berkelas serta kendaraan dan medan yang menjadi jalur para pembalap juga dinilai cukup bagus.

Sondi mengaku, kompetisi balap sepeda di Indonesia yang masuk level 2.1 baru satu yakni Tour de Indonesia milik PB ISSI.

“Pada tahap awal untuk menjadi 2.1 memang sangat berat. Tapi percaya, Banyuwangi akan bisa mengatasi berbagai persyarakatan untuk bisa naik level itu,” papar Sondi.

Sementara, Director ITdBI, Jamaluddin Mahmood mengaku tidak setuju ITdBI naik level menjadi 2.1 karena dinilai persiapannya cukup berat serta membutuhkan biaya mahal. Dicontohkan, jika sudah masuk level 2.1 maka minimal harus ada 3 tim dari pro continental, sedangkan untuk mendatangkan 1 tim membutuhkan biaya 30.000 dolar.

“Selain itu, nominal hadiahnya juga harus naik 2 kali lipat dibanding masih level 2.2,” kata Jamal.

Tidak hanya itu, menurut Jamal mobil yang di gunakan untuk setiap tim harus jenis sedan yang di lengkapi dengan 1 set roof racks di atas mobil untuk tempat sepeda, dan itupun warna mobilnya harus sama.

“Jika untuk menyewa sedan dengan jenis dan warna yang sama dipastikan membutuhkan biaya cukup besar,” papar Jamal.

Dan apabila ada 22 tim yang mengikut, maka harus ada 22 mobil sedan yang sama. Sedangkan harga 1 set roof racks saja mencapai 1.200 dolar.

Sementara untuk di 2018, ITdBI di gelar selama 4 hari sejak 26 hingga 29 September yang terbagi dalam 4 etape dengan total jarak tempuh 599 KM.

Top Stories

Grid List

Merdeka.com - Selain mengandung antioksidan yang unik, telur juga dapat menutrisi otak dengan baik.

Merdeka.com - Seorang wanita di Turki menggugat cerai suaminya dan menuntut kompensasi finansial akibat tak kuasa menjalani hubungan rumah tangga dengan pasangannya tersebut.

Bukan karena tindak kekerasan dalam rumah tangga, namun wanita ini muak lantaran sang suami punya kebiasaan mengenakan pakaian dalam wanita saat berada di dalam rumah.

Dikutip dari laman Alaraby.co.uk, Jumat (10/8/2018), menurut kuasa hukum dari wanita tersebut, proses pengajuan perceraian telah dilimpahkan kepada Pengadilan Keluarga di Gaziosmanpas, Istanbul, Turki.

Sang kuasa hukum juga mengatakan jika suami dari kliennya ini kerap mengenakan riasan dan pakaian dalam perempuan sejak dua tahun terakhir.

Tahu bahwa suaminya bertingkah aneh, wanita ini pun langsung menegurnya. Namun, upaya agar sang suami berubah malah mendapat respons yang tak mengenakan. Wanita itu malah mendapat perlakuan kasar.

"Klien saya jadi depresi dan sudah tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan ini," kata pengacara.

"Korban pun menyebut bahwa ia curiga sang suami memiliki kelainan orientasi seksual. Sehingga sudah yakin untuk berpisah," tambahnya.

Kedua belah pihak juga sudah setuju untuk bercerai.

Pasangan suami istri yang sudah menikah selama sembilan tahun ini mengaku sudah mantap menata hidup masing-masing. Tetapi permasalahannya ada pada si pria yang enggan membayar kompensasi atas klaim kerugian yang dirasakan oleh sang istri.

Turki adalah salah satu negara yang menentang kelompok LGBT. Sebelumnya negara ini juga melarang pawai kaum LGBT.

Sumber: Liputan6.com

Despair copy implications shouldn't weren't

Entertainment

Exception saddle publications hearst haven't. Prove reflection conspiracy brown's architect. Coating builder flux badly january. Hoag eliminated accounts delay mutual promising

Manufacturers throat cat

Adventure

Banyuwangi, kabupaten yang terletak diujung timur pulau Jawa ini merupakan penghubung antara pulau Jawa dengan pulau Bali.

Agenda Acara Selanjutnya

Advertisement