Top Stories

Grid List

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk mengantisipasi terjadinya kerusuhan antar warga binaan, pihak Lapas Banyuwangi memperkuat pemeriksaan serta menggelar berbagai kegiatan positif.

Seperti memberdayakan tenaga para warga binaan untuk membuat kerajinan baik kayu maupun batik, yang selama ini sudah berlangsung di dalam Lapas. Selain itu, mereka juga di berdayakan dan di beri tanggung jawab untuk mengelola kolam lele serta ikan koi.

Dan hasil dari penjualan kerajinan dan batik juga pengelolaan ikan tersebut, di gunakan untuk biaya operasional. Sisanya, untuk upah para warga binaan agar mereka semakin semangat untuk melakukan berbagai aktifitas tersebut.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II B Banyuwangi, Ketut Akbar Achjar mengatakan, semua itu di lakukan pihaknya untuk keamanan.

“Kami juga di bentuk tim kreatif untuk memberikan berbagai kreatifitas para warga binaan sekaligus pembinaan yang pada akhirnya mengerucut pada keamanan,” ujar Akbar.

“Karena di saat mereka banyak kegiatan dan aktifitas di pastikan akan lupa dengan berbagai macam pikiran negative. Sehingga mereka lebih berpikiran ke hal hal positif, karena disaat capek bekerja maka langsung beristirahat dan besoknya bekerja lagi,” paparnya.

Akbar mengaku, pihaknya memberikan keleluasaan kepada para warga binaan untuk berkreasi agar mereka tidak merasa dibatasi pergerakannya. Bahkan, di dalam Lapas Banyuwangi juga di laksanakan latihan music bagi warga binaan yang menyukai seni.

“Meski memperkuat pemeriksaan tapi kami tidak membatasi jumlah pengunjung, karena itu adalah hak hak mereka untuk mengunjungi sanak saudaranya yang tersandung kasus,” tutur Akbar.

Namun yang semakin di perkuat adalah system pengamanannya dan petugas di lengkapi dengan alat X Ray yang merupakan bantuan dari Kementrian Hukum dan HAM.

X Ray adalah alat untuk mendeteksi barang barang berbahaya yang di bawa oleh para pengunjung, seperti senjata tajam, narkoba maupun jihandak.

Sementara itu, Kain Batik Gajah Oling Jeruji (Bagajo) dan kerajinan bamboo hasil kreasi warga binaan Lapas Banyuwangi, berhasil di ekspor ke berbagai negara.

Kerajinan Bambu tersebut berbentuk berbagai hiasan dinding juga beberapa peralatan dapur, seperti sendok kayu, tempat memotong daging dan sejenisnya. Selama ini telah diekspor ke Belanda dan Korea, tergantung bentuk yang di pesan.

“Untuk desain Batik Gajah Oling Jeruji (Bagajo) mempunyai motif khusus yang menjadi ikon bahwa itu adalah hasil kreasi para warga binaan Lapas Banyuwangi,” ungkap Akbar bangga.

Dalam artian, desain batik gajah olingnya sendiri sesuai dengan pakemnya dan tidak di rubah. Namun ditambah kreasi gambar gelang di setiap ujung lekukan, yang di maksudkan itu adalah borgol.

Batik Gajah Oling Jeruji ini sendiri merupakan batik tulis yang di kerjakan langsung oleh para warga binaan, dan bukan batik cap.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Rumah milik warga Kecamatan Songgon Banyuwangi roboh dan nyaris rata dengan tanah, setelah di guyur hujan cukup deras selama lebih dari 2 jam.

Rumah tersebut milik Lukman (50) di kawasan Dusun Tegalwudi RT 01 RW 02 Desa Bedewang Kecamatan Songgon Banyuwangi. Seluruh bangunan rumah terbuat dari anyaman bambu dan kayu. Sedangkan lantainya beralaskan tanah namun sudah dilengkapi dengan genteng.

Selama ini, Lukman tinggal bersama ibunya, Muslikah (80) di rumah tersebut. Dalam kesehariannya, dia bekerja serabutan demi kelangsungan hidupnya.

Saat terjadi hujan deras, kedua korban berada di dalam rumah sedang beristirahat. Mereka mendengar suara kretek kretek yang di kira suara hujan. Namun setelah terlihat rumah mulai miring, Lukman berlari keluar dan saat itulah rumahnya roboh. Lukman pun teringat ibunya yang masih di dalam rumah.

Selanjutnya, dia bersama adiknya, Imam Muslih, mencari ditumpukan rumah yang hancur tersebut dan terlihat ibu korban merangkak keluar dari reruntuhan rumah.

Camat Songgon Banyuwangi, Kunta Prastawa mengatakan, rumah korban sudah masuk dalam salah satu rumah yang diperbaiki dalam program Bedah Rumah yang digulirkan oleh pihak TNI.

“Untuk di wilayah Kecamatan Songgon, tercatat ada 60 rumah warga kurang mampu yang masuk dalam daftar Bedah Rumah dan salah satunya adalah rumah milik korban itu,” ujar Kunta.

Dia menjelaskan, saat ini seluruh material bahan bangunan sudah ada di lokasi dan rencananya pencanangan program Bedah Rumah akan di laksanakan pada Senin (21/1) mendatang.

“Tapi karena kondisi rumah korban sudah roboh, maka rencananya akan segera di lakukan perbaikan tanpa menunggu pencanangan,” tutur Kunta.

“Selama menunggu proses perbaikan, kini korban mengungsi di rumah tetangganya,” pungkasnya.

Sementara itu, kondisi rumah korban saat ini sangat mengenaskan. Seluruh bagian rumahnya hancur termasuk genteng. Bahkan, kayu kayu yang menopang bangunan rumahpun patah.

Untung saja dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk menumbuhkan rasa kesadaran tentang keselamatan lalu lintas sejak dini, Polres Banyuwangi menggelar sosialisasi Millennial Road Safety Festival di sejumlah sekolah.

Kali ini dilaksanakan di SMK Sritanjung Banyuwangi, Rabu (16/1) dengan tema Mewujudkan Generasi Millenial Cinta Lalu Lintas Menuju Indonesia Gemilang.

Kegiatan ini di ikuti sekitar 40 siswa siswi SMK Sritanjung Banyuwangi, dengan dipimpin langsung Kanit Turjawali, Ipda Heru Selamet.

Disini, petugas mengajak generasi Millenial khususnya remaja Banyuwangi yang berada di kisaran umur 17-35 tahun untuk menumbuhkan budaya tertib berlalu lintas.

“Dengan kegiatan ini diharapkan angka Kecelakaan lalu lintas dan angka fatalitas atau korban meninggal dunia di wilayah Banyuwangi terus mengalami penurunan,” ungkap Ipda Heru.

 Selain itu kata Ipda Heru, ini juga untuk membentuk komunitas Relasi (Relawan Lalu Lintas Indonesia) yang akan menggelorakan tertib berlalu lintas di wilayah Kabupaten Banyuwangi, sehingga terbangun hubungan yang baik antara Polisi lalu lintas dengan komunitas tersebut, dengan sasaran Generasi Millennial.

“Ke depan kegiatan serupa akan di laksanakan di berbagai sekolah secara bertahap,” kata Ipda Heru.

Selain itu, aparat Satuan lalu lintas juga menyebarkan brosur tentang anjuran tertib berlalu lintas, serta dilampirkan pemberitahuan terkait penyelenggaraan Millennial Road Safety Festival Nasional.

Sosialisasi Millennial Road Safety Festival Nasional serentak di gelar di 34 propinsi pada tanggal 2 Februari hingga 31 Maret 2019, dengan puncak acara pada 31 Maret 2019 di Jakarta yang dibuka oleh Presiden Joko Widodo.

Sementara, sosialisasi kegiatan Millennial Road Safety Festival di Jawa Timur dilaksanakan pada 17 Maret 2019 di Jembatan Suramadu Surabaya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab berharap, melalui ajang pemilihan Jebeng Thulik bisa memunculkan jiwa Entrepreneurship terhadap para duta daerah untuk ikut serta mengembangkan potensi Banyuwangi.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Perikanan dan Pangan (Disperipangan) Banyuwangi, Hary Cahyo Purnomo usai menerima para finalis Jebeng Thulik di kantornya, Rabu (16/1).

Total ada 18 pasang atau sekitar 36 finalis yang di pastikan akan menjadi duta daerah. Selama 1 jam lebih, mereka mendapat pemaparan dari Kepala Disperipangan tentang luasan panjang pantai di Banyuwangi yang mencapai 175,8 KM dengan berbagai macam potensi di dalamnya.

“Semuanya harus mempunyai daya tarik sehingga baik Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelatan maupun Pokmaswas harus bergerak secara optimal untuk memanfaatkan pengelolaan potensi local melalui konsep Gema Family Menuju Ekowisata,” papar Hary.

Disini kata Hary, peran para duta daerah tersebut adalah untuk lebih mempercepat dalam hal penginformasian dan keikut sertaan untuk lebih memiliki daya tarik terhadap potensi pantai tersebut.

“Ada 3 hal yang saya sampaikan untuk bisa mewujudkan percepatan itu yakni Fokus, Semangat dan Happy,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, diharapkan muncul jiwa Entrepreneurship dari para duta daerah tersebut melalui berbagai kelompok yang sudah di bentuk Disperipangan, yakni jiwa kewirausahaan yang dibangun bertujuan untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar.

“Dengan branding itulah, mereka bisa melakukan suatu sikap untuk lebih menggarap potensi Banyuwangi hingga Go International melalui kaidah kaidah Entrepreneurship,” tutur Hary.

Untuk itulah, para duta daerah itupun di ajak turun ke Pantai Cemara agar melihat langsung potensi alam yang ada.

Hary menjelaskan, inilah bedanya Banyuwangi dengan kabupaten lain. Dimana, Banyuwangi lebih mengedepankan pada kepentingan rakyat melalui pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan potensi potensi alam agar lebih sejahtera.

“Dengan keterlibatan para duta daerah itu sebagai pemacu sinergitas untuk lebih mengenalkan potensi Banyuwangi,” pungkas Hary.

Pembina Jebeng Thulik, Cornelis Mangisi menjelaskan, dari ke 18 pasang finalis tersebut nantinya akan dipilih 9 pasang duta daerah dan 9 pasang wakil duta. Selanjutnya, dari keseluruhan duta tersebut dipilih 3 pemenang yakni Jebeng Thulik 2019, Wakil satu dan Wakil dua.

“Pada Grand Final 25 Januari 2019, nantinya mereka akan di pilih sebagai Duta Pendidikan, Duta Pertanian, Duta Bahari, Duta Sumber Daya Air, Duta Pelayanan Publik, Duta Kesehatan, Duta Lingkungan Hidup, Duta Generasi Reproduksi dan Duta Pariwisata,” papar Cornelis.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk menggaet wisatawan dari negara jiran Malaysia, Pemkab Banyuwangi menggelar Product Briefing and Busines Matching Banyuwangi Destination dengan di fasilitasi Kementrian Pariwisata RI.

Acara yang dimulai pada Senin (14/1) ini diikuti 36 pelaku usaha wisata, terdiri atas 16 seller dari Banyuwangi dan 20 agen travel besar dan media travel dari Malaysia. Seller dari Banyuwangi antara lain dari hotel, tour operator, pusat oleh-oleh dan restoran.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku, ajang ini dinilai sebagai cara mengenalkan Banyuwangi kepada pelaku usaha wisata Malaysia.

“Kami mempertemukan mereka dengan pelaku usaha Banyuwangi dan juga di ajak merasakan langsung berwisata ke Banyuwangi, sehingga nantinya mereka bisa mengajak wisatawan untuk ke Banyuwangi,” ujar Bupati Anas.

“Program ini adalah tindak lanjut dari promosi paket wisata program Wonderful Banyuwangi Hot Deals yang didukung penuh oleh Kemenpar,” imbuhnya.

Paket ini diluncurkan sebagai bagian untuk mendongkrak kunjungan wisman ke Banyuwangi, khususnya saat low season seperti bulan Januari ini.

“Di awal awal tahun memang biasanya low season, makanya diluncurkan paket ini yang didukung para pelaku usaha wisata di Banyuwangi,” tutur Bupati Anas.

“Table Mart yang digelar ini adalah salah satu strategi untuk mempromosikan paket itu,” imbuhnya.

Dalam Wonderful Banyuwangi Hot Deals tersebut, wisatawan cukup membayar 995 MYR (Ringgit Malaysia) atau berkisar Rp 3,8 juta untuk paket wisata ke Banyuwangi, termasuk tiket pp Kuala Lumpur-Banyuwangi oleh Citilink, menginap dua malam di hotel berbintang di Banyuwangi, transportasi lokal, menikmati sejumlah destinasi wisata, hingga berkuliner.

“Untuk menggaet wisatawan Malaysia, kami juga mengagendakan kegiatan promosi lainnya, seperti famtrip untuk pelaku wisata,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata MY Bramuda.

Oleh sebab itulah, seiring adanya promo Wonderful Banyuwangi Hot Deals yang berlangsung hingga 31 Maret 2019 ini, pihaknya akan gencar membuat acara yang intinya menarik wisatawan Malaysia.

“Sebelumnya, pada Desember 2018 puluhan blogger dan media travel Malaysia telah diundang ke Banyuwangi yang difasilitasi Kemenpar,” ungkap MY Bramuda.

Para agen travel ini pun tampak antusias dengan promosi yang ditawarkan Banyuwangi bagi wisatawan asing. Salah satunya Ramsey Lewis, manajer operasional OTDIX Travel & Tours SDN BHD, Malaysia yang mengaku sangat tertarik dengan paket promo ini.

“Destinasi wisata Banyuwangi sangat laku dijual. Apalagi Kawah Ijen sangat bagus dengan blue firenya yang cantik,” ungkap Ramsey.

“Disana juga ada penambang belerang yang menjadi atraksi Ijen. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi turis,” imbuhnya.

Para agen travel tersebut juga diajak mengeksplore destinasi wisata selama enam hari mulai 13 – 18 Januari.

Antara lain mengunjungi perkebunan kopi Gombengsari, Kalipuro untuk melihat pengolahan kopi tradisional, Kawah Ijen, perkebunan Kalibaru, Pantai Pulau Merah, Taman Nasional Alas Purwo dan Bangsring Under Water.

“Banyuwangi kaya akan kearifan local dan bisa melihat orang bercocok tanam, menangkap ikan, juga cara menyimpan kopi tradisional,” kata Ramsey.

“Apalagi di Banyuwangi masih banyak industri kerajinan tangan yang tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” pungkasnya.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Rencana pembangunan Trase Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) saat ini sudah dalam tahap pembebasan lahan.

Jika kelak sudah sempurna terbangun, Tol Probowangi yang merupakan titik akhir dari jaringan Tol Trans-Jawa ini akan menjadi tol terpanjang di Indonesia dengan panjang 171,90 kilometer, lebih panjang 56,15 kilometer dari Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) milik PT Lintas Marga Sedaya yang membentang 116,75 kilometer.

Selain terpanjang, dari sisi investasi pun, tol yang dikelola PT Jasamarga Probolinggo Banyuwangi (JPB) ini juga mencatat rekor baru yakni senilai Rp 23,391 triliun.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementrian Perhubungan, Budi Setiyadi mengatakan, saat ini tahap pembangunan Tol Probowangi tersebut dalam proses pembebasan lahan.

“Itu adalah kewenangan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),” ujar Budi.

Terkait dengan perubahan trase Tol Probowangi yang semula direncanakan melintasi wilayah Banyuwangi utara dan di geser melewati Banyuwangi Selatan, Budi mengaku tidak mengetahuinya.

Sementara itu, Trase Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi ini merupakan bagian terakhir dari jaringan Tol Trans-Jawa.

Dan jika mengalami perubahan rute, maka berdampak pada pergeseran penentuan lokasi (penlok) pada Seksi I. Meski demikian tetap melalui Probolinggo, Situbondo, dan Banyuwangi sehingga tidak sampai melalui Jember.

Alasan berubahnya trase jalan bebas hambatan ini adalah terkait kawasan strategis milik TNI Angkatan Laut. Dilokasi tersebut atau tepatnya di sisi utara Banyuwangi terdapat tempat latihan menembak TNI AL. Dan dari hasil koordinasi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dengan Mabes TNI bahwa tempat latihan militer tidak bisa serta merta di pindah, sehingga harus merubah rute jalan tol Probowangi tersebut.

Dengan perubahan trase, Tol Probowangi ini akan menghubungkan empat kabupaten yakni Probolinggo, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi. Posisinya yang berada di ujung timur Pulau Jawa menjadi sangat strategis sebagai gerbang distribusi logistik, barang, jasa, dan manusia dari timur ke barat.

 

Radiovisfm.com, Banyuwangi -  DPRD Banyuwangi meminta kepada pemerintah untuk mengganti alat pendeteksi dini bencana atau Early Warning System (EWS) yang rusak. Ini dilakukan untuk menghindari kehilangan yang lebih lama. Terlebih saat ini, Banyuwangi dianggap sebagai daerah yang rawan bencana tsunami.

 

Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara menuturkan, alat pendeteksi dini bencana saat ini sangat penting, terlebih lagi wilayah Banyuwangi memiliki ancaman bencana yang cukup tinggi. Mengingat kata Made, Pemerintah Banyuwangi diharapkan untuk segera menginventarisir alat yang diperlukan untuk penggunaan dini di Banyuwangi.

 

Intinya pemerintah harus tanggap terkait alat-alat yang bisa mencegah bencana jika ada yang rusak. Jika ada yang hilang segera di inventarisir dan segera diganti. Karena hal ini kata Terbuat dari nyawa masyarakat Banyuwangi terjadi kompilasi bencana.

 

Dibeberapa wilayah di Indonesia sudah terjadi tsunami. Bukan tidak mungkin Banyuwangi yang memiliki panjang pantau 175,8 kilometer juga diterjang tsunami. Bagaimana jika Banyuwangi memiliki alat pendeteksi dini bencana, maka potensi bencana yang akan terjadi dapat lebih dini dan dapat meminimalisir korban jiwa yang terkait dengan bencana tersebut.

 

DPRD juga mendesak BPBD segera bergerak untuk berkoordinasi dengan Pemkab Banyuwangi untuk perlindungan seluruh peralatan penanggulangan bencana

 

Made mengaku, pihaknya belum mengecek apakah di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Banyuwangi tahun 2019 ini sudah ada atau belum untuk pembelian alat pendeteksi dini bencana tersebut. Jika belum, pihaknya akan menambahkan anggaran pembelian EWS itu pada APBD perubahan nanti, karena yang terpenting kata Made Banyuwangi harus mempunyai alat pendeteksi dini bencana. 

 

“ Pemerintah harus tanggap terkait alat pendeteksi bencana kalau memang ada yang rusak, karena ini menyangkut nyaa masyarakat Banyuwangi ketika ada korban bencana, dan BPBD segera bergerak koordinasi dengan Pemkab untuk mendeteksi peralatan dan potensi bencana terkait tsunami dan tanah longsor karena sekarang posisi sedang musim hujan deras”, ujarnya.

 

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat merilis ada sekitar 45 desa yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, rawan sekali dihantam bencana tsunami. Sebab desa- desa tersebut letaknya berdekatan dengan pantai.

 

Menurut kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Fajar Suasana, puluhan desa itu diantaranya, Desa Sambimulyo, Temurejo, Pakis, Sobo, Kertosari, Ketapang, Sumberagung, Pesanggaran, Grajagan dan Desa Sumbersewu. 

 

Dari puluhan desa itu, tingkat kerawananya berbeda- beda. Mulai dari tingkat kerawanan tinggi, sedang, hingga ringan. Kata Fajar, untuk desa yang tingkat kerawananya tinggi itu yang letaknya berada di pantai laut lepas, seperti laut Selatan Jawa. Sedangkan yang tingkat kerawanan sedang hingga ringan yang daerah pantainya tidak di laut lepas.

 

Di wilayah Kabupaten Banyuwangi sendiri merupakan daerah yang paling luas rawan Tsunami di Pulau Jawa. Sehingga untuk mengetahui dini potensi bencana tsunami Banyuwangi sangat membutuhkan alat pendeteksi dini tsunami atau Early Warning System (EWS).

 

Menurut Fajar, alat pendeteksi dini bencana ini, berfungsi selain dapat mendeteksi dini bencana tsunami juga bisa mendeteksi dini bencana banjir bandang, tanah longsor dan bencana Gunung Meletus. Sedangkan Kabuaten Banyuwangi sendiri telah memiliki 7 EWS bantuan dari BNPB. Namun alat tersebut saat ini kondisinya sudah rusak karena komponennya dicuri. 

 

BPBD Banyuwangi saat ini memerlukan EWS milik BMKG Banyuwangi. Untuk itu, BPBD mengharap Pemerintah Banyuwangi tahun 2019 ini memprioritaskan pengadan EWS, sehingga potensi lebih awal yang bisa membuat Banyuwangi berhasil.

radiovisfm.com, Banyuwangi - 3 orang jaringan pengedar Pil Koplo di wilayah Banyuwangi di ringkus aparat Kepolisian, yang salah satunya adalah perempuan. Menariknya, salah satu dari tersangka tersebut kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service.

Mereka adalah Ica Camelia Agustin (19) warga Jalan Karimun Jawa Kelurahan Lateng Kecamatan Banyuwangi dan kekasihnya, Sugianto (27) warga Dusun Purwosari Desa Tanjungsari Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember, yang selama ini kost di kawasan Jalan Ikan Arwana Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi.

Satu lagi, Indra Wahyu (23) warga Jalan Ikan Wijinongko Kelurahan Sobo Kecamatan Banyuwangi.

Terungkapnya jaringan peredaran pil koplo ini berawal dari penangkapan Ica Camelia Agustin oleh tim buser Polsekta Banyuwangi, di sebuah warung depan Pabrik Kertas Basuki Rahmat.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki mengatakan, dari tangan gadis belia tersebut di amankan barang bukti 10 butir pil jenis Trihexyphenidyl dan uang tunai Rp 30 ribu hasil dari penjualan obat obatan sediaan farmasi tersebut.

“Kepada petugas, tersangka mengaku hanya sebagai kurir yang mengantarkan pesanan si pembeli. Sementara pil tersebut di akui adalah milik Sugianto,” papar AKP Ali Masduki.

“Dari keterangan tersangka inilah, aparat kepolisian bergerak cepat menuju ke tempat kos Sugianto hingga berhasil dilakukan penangkapan,” imbuhnya.

Dari tangan tersangka, petugas mengamankan 110 butir obat Trihexyphenidyl.

Bersamaan dengan itu, tiba tiba datang Indra Wahyu ke tempat kost tersangka hendak memasok pil Trihexyphenidyl. Kondisi ini langsung di manfaatkan oleh petugas untuk menangkap Indra Wahyu, yang rupanya membawa 1000 butir pil Trihexyphenidyl.

“Tersangka Indra Wahyu mengaku mendapatkan obat obatan tersebut dari pemasoknya yang berasal dari Jember, tapi tidak diketahui namanya,” tutur Kapolsek.

Selanjutnya, ketiga tersangka itu di gelandang ke Mapolsekta Banyuwangi guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dan dihadapan penyidik, tersangka Indra Wahyu mengaku awalnya hanya sebagai pengguna saja. Namun lama kelamaan dia mulai menjadi pengedar dan penyuplai pil koplo karena tergiur dengan keuntungan dari penjualan.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service tersebut mengaku sudah mengenal pil Trihexyphenidyl sejak masih duduk di bangku SMA. Dan sebelum ditangkap, setiap hari dia selalu mengkonsumsi pil itu kurang lebih 3 butir, namun di minum satu satu.

“Atas perbuatannya,  ketiga tersangka di jerat pasal 197 subsider pasal 196 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” pungkas Kapolsek.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah mengapresiasi pembukaan galeri lukis oleh perupa nasional asal Banyuwangi, S.Yadi K, yang dinilai akan semakin memperkaya khazanah kesenian dan kebudayaan di Banyuwangi.

Hal ini di sampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka galeri tersebut, Senin malam (01/10).

Galeri seni yang berada di jalan Kuntulan, nomor 135, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah ini menyajikan puluhan lukisan karya S Yadi K dan para pelukis asal Banyuwangi lainnya.

Tampak hadir puluhan seniman dan budayawan Banyuwangi dalam pembukaan semalam tersebut. Hadir pula budayawan nasional dan penulis buku Candra Malik pada kesempatan tersebut.

Bupati Anas mengatakan, Kesenian Banyuwangi memiliki keistimewaan tersendiri. Mulai dari lagu, tari-tarian hingga karya lukis para perupanya.

“Tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga di nasional, bahkan kancah internasional,” ujarnya.

Menurut Bupati Anas, dengan adanya galeri ini, seni lukis dinilai akan semakin memperbesar sumbangsihnya pada khazanah kebudayaan di Banyuwangi.

Yadi merupakan salah seorang pelukis kenamaan Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di tingkat nasional maupun internasional. Pameran tunggalnya pernah dihelat di Edwin Gallery dan Taman Ismil Marzuki Jakarta.

Salah satu karyanya berjudul "Paju Gandrung" menjadi salah satu koleksi istana negara. Beberapa karyanya juga pernah dilelang di Balai Lelang Christie's dan Shotheby's di Singapura.

Dalam kesempatan itu, Bupati Anas juga mendorong tempat tersebut tidak hanya eksklusif untuk para pecinta seni saja. Namun, juga bisa menjadi salah satu alternative destinasi wisata baru di Banyuwangi.

“Selama ini banyak tamu saya penasaran dengan proses kreatif dari Yadi,” tutur Bupati Anas.

“Akan lebih menarik bila wisatawan bisa langsung datang ke galeri Yadi,” imbuhnya.

Selain menikmati lukisan, mereka juga bisa menyaksikan dan terlibat langsung dari aktivitas melukis.

Keberadaan Omah Seni tersebut, lanjut Bupati Anas, akan melengkapi destinasi Gunung Ijen. Para wisatawan setelah mendaki ke Ijen, bisa menikmati jenis wisata lain di bawahnya.

Selain Taman Terakota Gandrung di Jiwa Jawa Resort yang menonjolkan seni patung, mereka juga bisa menikmati seni lukis di Omah Seni S Yadi K tersebut.

“Apalagi, tempat tersebut terhitung masih dalam satu jalur menuju ke Ijen. Ini akan jadi destinasi minat khusus yang menarik wisatawan,” papar Bupati Anas.

Dia juga berjanji bakal turut serta mempromosikan keberadaan galeri tersebut.

“Ini akan jadi paket-paket wisata yang bakal ditawarkan kepada wisatawan yang ke Banyuwangi,” tutur Bupati Anas.

Apalagi sebentar lagi akan ada Annual Meeting IMF World Bank. Sehingga dinilai mereka akan tertarik dengan kesenian semacam ini.

“Selama ini kami banyak melibatkan para seniman dan budayawan dalam menentukan kebijakan. Terutama dalam menentukan berbagai bangunan-bangunan besar, seperti hotel dan tempat-tempat umum,” papar Bupati Anas.

Dicontohkan, arsitek hotel ataupun tempat-tempat umum di Banyuwangi di wajibkan untuk presentasi terlebih dahulu kepada para seniman dan budayawan. Mereka harus memastikan bangunan yang ada akan mengadaptasi konsep kebudayaan lokal. Di sejumlah hotel, bahkan sudah ada lukisan dan potret tentang Banyuwangi di setiap kamarnya.

“Di sinilah kami menitipkan peradaban Banyuwangi,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, S Yadi K merasa tertantang dengan dorongan dari Bupati Anas. Ia menyampaikan bahwa geleri seninya tersebut akan menjadi pusat berkegiatan para perupa di Banyuwangi. Nantinya, mereka akan menggelar workshop maupun pameran di tempat tersebut.

“Galeri saya ini akan menjadi markas para perupa Banyuwangi yang siapa saja nantinya bisa berkunjung,” kata Yadi.

Dia juga mendukung ide Bupati Anas, yang diharapkan galeri seninya bisa menjadi bagian dari mengembangkan seni di Banyuwangi.

Acara tersebut juga dibarengi dengan pagelaran pameran lukisan bertajuk Kembang Kawitan. Berbagai karya lukis dari perupa Banyuwangi ditampilkan di Omah Seni S Yadi K. Pameran tersebut dijadwalkan satu bulan penuh hingga November mendatang.

 

 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Delapan buruh bangunan harus mendekam di sel tahanan Polsek Ilir Timur II, Sumatera Selatan, lantaran kedapatan mengkonsumsi sabu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI George E. Supit memerintahkan satuan TNI kewilayahan untuk membentuk tim SAR (Search and Rescue) dalam membantu pencarian pesawat Dimonim Air.

MAGELANG, KOMPAS.com - Sebagian wilayah di lereng pegunungan Menoreh, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mulai mengalami krisi air bersih sebagai dampak musim kemarau.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tim Jelajah Sepeda Nusantara (JSN) 2018 diberangkatkan dari Banyuwangi, Rabu pagi (7/11). Banyuwangi menjadi kota pertama di Pulau Jawa yang menjadi titik pemberangkatan rombongan pesepeda ini. Belasan pesepeda tersebut dilepas  Asisten Perekonomian dan Kesra, Iskandar Azis didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi, Wawan Yadmadi dari Kantor Pemkab Banyuwangi. Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jember yang menjadi rute berikutnya. Saat melepas rombongan, Iskandar Azis mengucapkan terima kasihnya kepada mereka yang telah berkunjung ke Banyuwangi. Menurutnya, apa yang dilakukan Banyuwangi selama ini khususnya terkait pengembangan sport tourism dengan mengenalkan titik-titik wisata baru dinilai sudah sejalan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Rombongan ini telah tiba di Banyuwangi pada Selasa malam (6/11) setelah mereka menyelesaikan rute bersepedanya di Pulau Dewata-Bali.

Dikatakan Staf di Asisten Deputi Olahraga Rekreasi, Deputi Pemberdayaan Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Agus Santoso yang mengawal tim JSN, tim ini start sejak 30 Juni 2018 dari pos lintas batas negara yang ada di Entikong, Kalimantan Barat. Dari situ mereka menjelajah seluruh Kalimantan, yakni mulai Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara. Kemudian menjelajah seluruh Sulawesi, baru kemudian menyeberang ke Bali, dan tiba di Banyuwangi selasa malam. Agus menambahkan, tidak hanya sekedar bersepeda, para peserta juga bisa sekaligus menikmati keindahan destinasi wisata yang mereka lalui di sepanjang rute. Walau hanya berhenti selama beberapa saat sambil mengambil foto atau pun menikmati kuliner di tempat tersebut.

Tim JSN ini, imbuh Agus, dijadwalkan  menempuh jarak total sejauh 6700 kilometer dengan melintasi 4 pulau yakni Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Jawa. Dan akan finish di Yogyakarta pada 18 November. Ketika mereka tiba di Banyuwangi, total 6200 km telah ditempuh. Sebelumnya mereka sempat jeda sejenak saat Asian Games dan Asian Paragames digelar. Pesertanya yang terdiri dari 15 atlet itu berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Antara lain dari Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Timur, Lampung dan Bali.

Ada 7 atlet laki-laki dan 8 perempuan. Agus menjelaskan, mereka merupakan atlet pilihan yang sudah menjalani seleksi dari Kemenpora. Dari segi usia, ada yang tua dan ada yang muda. Tertua 56 tahun dan yang termuda 18 tahun. Tujuan perbedaan usia itu sebagai penyeimbang dari tim. Yang tua menyemangati yang muda, dan sebaliknya. Misi JSN ini sendiri kata Agus, untuk mengkampanyekan olahraga. Namun bukan hanya dengan bersepeda, melainkan untuk semua cabang olahraga. Kebetulan saja pihaknya menggunakan sepeda, dengan asumsi bahwa sepeda itu alat olahraga yang terjangkau berbagai kalangan, bisa digunakan oleh siapa pun, baik tua maupun muda, dan tidak ada orang yang bersepeda yang hatinya tidak gembira. Intinya menurut Agus, pihaknya ingin mengkampanyekan dengan olahraga bisa sehat. Dengan sehat masyarakat bisa bergerak dan melakukan apa saja.

Salah satu atlet yang menjadi peserta JSN ini, Rendra Bayu mengaku sangat excited setiap kali berkunjung ke Banyuwangi. Dia mengaku sudah beberapa kali ke Banyuwangi dan selalu kangen dengan nasi tempongnya. Menariknya, Rendra pernah tercatat sebagai peserta International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) selama 4 kali, yakni di 2013, 2015, 2016 dan 2018. Rendra menjelaskan, JSN ini berbeda dengan ITdBI. Jika di ITdBI dirinya full kompetisi, kalau di sini lebih pada mempromosikan olahraga terhadap masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota yang disinggahi.

Selama perjalanan, menurut Rendra, seluruh anggota tim sangat support satu sama lain. Hampir tak ada kendala berarti yang mereka temui. Kesulitan sempat mereka temui saat melintasi Kalimantan, ada beberapa wilayahnya yang belum diaspal. Juga di Sulawesi yang jalanannya sudah bagus, tapi jarak rumah antar satu penduduk dengan penduduk lainnya agak jarang. Sedangkan di Pulau Jawa ini dinilai cukup banyak tanjakan, diantaranya tanjakan Gunung Kumitir dan Bromo. JSN ini digelar untuk kedua kalinya. Jika di tahun ini diberi nama Jelajah Sepeda Nusantara, di tahun 2017 lalu dikenal dengan nama Gowes Touring Pesona Nusantara dengan menempuh daerah Sabang - Magelang. Dalam 1 hari, rata-rata pesepeda ini mengayuh sejauh 100 – 130 km per hari, start pada pukul 07.00 hingga finish pada pukul 17.00 WIB. Dan sejak awal penyelenggaraan, event ini dinyatakan sebagai event yang zero accident.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) menginginkan level International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) naik tingkat menjadi 2.1.

Direktur Kompetisi Manager PB ISSI, Sondi Sampurno mengatakan, di 2018 ini pelaksanaan ITdBI telah memasuki tahun ke 7.

“Saya sarankan agar levelnya sudah bisa naik 2.1 pada pelaksanaan di tahun 2019 mendatang,” ujar Sondi.

Sehingga menurut Sondi, nantinya akan banyak lagi tim yang datang dan mengikuti kegiatan ini serta nama ITdBI semakin terangkat.

“ITdBI sudah memenuhi syarat untuk naik level 2.1 karena sarana prasarananya sudah mendukung,” tutur Sondi.

Seperti, semakin banyak berdiri hotel berkelas serta kendaraan dan medan yang menjadi jalur para pembalap juga dinilai cukup bagus.

Sondi mengaku, kompetisi balap sepeda di Indonesia yang masuk level 2.1 baru satu yakni Tour de Indonesia milik PB ISSI.

“Pada tahap awal untuk menjadi 2.1 memang sangat berat. Tapi percaya, Banyuwangi akan bisa mengatasi berbagai persyarakatan untuk bisa naik level itu,” papar Sondi.

Sementara, Director ITdBI, Jamaluddin Mahmood mengaku tidak setuju ITdBI naik level menjadi 2.1 karena dinilai persiapannya cukup berat serta membutuhkan biaya mahal. Dicontohkan, jika sudah masuk level 2.1 maka minimal harus ada 3 tim dari pro continental, sedangkan untuk mendatangkan 1 tim membutuhkan biaya 30.000 dolar.

“Selain itu, nominal hadiahnya juga harus naik 2 kali lipat dibanding masih level 2.2,” kata Jamal.

Tidak hanya itu, menurut Jamal mobil yang di gunakan untuk setiap tim harus jenis sedan yang di lengkapi dengan 1 set roof racks di atas mobil untuk tempat sepeda, dan itupun warna mobilnya harus sama.

“Jika untuk menyewa sedan dengan jenis dan warna yang sama dipastikan membutuhkan biaya cukup besar,” papar Jamal.

Dan apabila ada 22 tim yang mengikut, maka harus ada 22 mobil sedan yang sama. Sedangkan harga 1 set roof racks saja mencapai 1.200 dolar.

Sementara untuk di 2018, ITdBI di gelar selama 4 hari sejak 26 hingga 29 September yang terbagi dalam 4 etape dengan total jarak tempuh 599 KM.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Federasi Balap Sepeda Dunia (UCI) menilai, kualitas kompetisi balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) masuk dalam level 2.2 terbaik Asia.

Director ITDBI, Jamaluddin Mahmood, mengatakan, digelar sejak 2012, kualitas balap sepeda internasional level 2.2 yang telah masuk agenda rutin UCI itu terus meningkat. Sehingga berdampak pada kemudahan mengundang tim mancanegara. 

“Jika sebelumnya untuk mengundang tim, Banyuwangi harus subsidi. Tapi saat ini mereka langsung datang. Seperti Kinan Cycling Team, juara Asia Tour, ikut tanpa subsidi,” papar Jamal.

“Yang terpenting mereka bisa datang balapan dan menambah poin UCI,” imbuh Warga Malaysia yang malang-melintang menangani ajang balap di berbagai negara tersebut.

Dia menjelaskan, saat ini ITdBI sudah digolongkan sebagai balap level 2.2 terbaik bahkan di Asia. Level 2.2 sendiri adalah tiga tingkat di bawah World Tour Team seperti Tour de France.

“Selain Banyuwangi, ada China, Jepang, Hongkong, Langkawi juga Kazakhstan,” ungkap Jamal.

Predikat terbaik tersebut diberikan karena kualitas lomba. Begitu juga antusiasme penonton yang tinggi, namun trafik tetap terjaga. Dan yang tidak kalah penting adalah nilai jual event berkat dukungan media.

“Saya optimistis, ITDBI makin banyak diramaikan tim mancanegara, apalagi fasilitas di Banyuwangi terus tumbuh,” kata Jamal.

“Jika sebelumnya karena keterbatasan hotel, tim hanya membawa 5 pembalap, tapi kini hotel di Banyuwangi tambah banyak dan setiap tim bisa mengirimkan 6-7 orang pembalap sehingga bisa mencapai 22 tim yang ikut kompetisi ini,” papar Jamal.

Salah satu pembalap yang sangat senang ikut kompetisi ITdBI ini adalah Benjamin Dyball. Dia bersama timnya yang tergabung dalam St George Continental Cycling Australia sangat menikmati seluruh rute.

“Banyuwangi indah, saya suka makanannya,” kata Dyball.

Pada ITdBI 2018 ini, Benjamin Dybal merupakan juara umum.

Para commissaire (juri) dari Federasi Balap Sepeda Dunia alias UCI (Union Cycliste Internationale) kompak menilai ITDBI 2018 berjalan sukses. Seperti yang di sampaikan juri asal China, Zhao Jinshan yang mengaku ITDBI adalah pelaksanaan terbaik lomba balap sepeda 2.2 yang pernah dia ikuti.

Sementara, juri asal Jepang, Tsunenori Kikuchi mengatakan, ini merupakan salah satu balap sepeda kategori 2.2 terbaik, tidak hanya di Asia, namun di dunia.

“Saya selalu suka suasana Gunung Ijen,” tutur Kikuchi.

Commissaire Michale Robb dari Irlandia mengatakan, dirinya telah banyak mengikuti balap sepeda mewakili UCI.

“Rute yang disajikan Banyuwangi lebih bagus dibanding berbagai negara. Misalnya, rute tanjakan menuju Gunung Ijen,” ujar Micky.

Rute ini salah satu terekstrem di Asia karena melalui tanjakan berketinggian 1880 meter di atas permukaan laut dan tingkat elevasi 20 persen. Rutenya menyajikan kemiringan lereng 45 derajat.

“Rute di ITdBI mirip dengan kejuaraan World Tour yang pernah di ikutinya, salah satunya Giro Italia yang Excellent route,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Azwar Anas berterima kasih atas dukungan berbagai pihak terhadap pelaksanaan ITDBI.

“Dari tahun ke tahun kami terus berbenah,” kata Bupati Anas.

“Bagi saya, ITDBI bukan hanya ajang olahraga berbalut wisata, tapi juga bagian dari konsolidasi perbaikan infrastruktur dan pengungkit ekonomi daerah,” paparnya.

Bupati Anas juga mengaku, perhelatan ITdBI ini dipastikan akan kembali di gelar di tahun 2019 mendatang.

Sementara untuk di 2018, ITdBI di gelar selama 4 hari sejak 26 hingga 29 September yang terbagi dalam 4 etape dengan total jarak tempuh 599 KM.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk menjaga stamina agar tetap kuat selama mengikuti kompetisi balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), para pembalap mengkonsumsi sejumlah makanan bernutrisi tinggi.

Pada ITdBI 2018 ini, para pembalap harus menempuh lintasan sejauh 599 KM selama 4 hari yang terbagi dalam 4 etape. Dan tentunya ini dibutuhkan stamina yang kuat untuk bisa menyelesaikan perhelatan yang telah masuk dalam level 2.2 terbaik di Asia tersebut.

Lantas, apa saja yang dikonsumsi para pembalap untuk menjaga daya tahan tubuh mereka?

Vera Shafira, Director Operational eL Royale Hotel and Resort Banyuwangi, mengatakan, setiap makan malam dan sarapan pihaknya menyiapkan ratusan omelet telur untuk konsumsi para pembalap. 

“Sekali makan, pembalap itu bisa menghabiskan enam hingga delapan omelet telur,” ujar Vera.

Dia mengatakan, di eL Royale terdapat sekitar 105 tamu yang terlibat di ITdBI. Mulai dari pembalap, official, tim teknis lainnya. Tiap penyajian makan malam dan sarapan, para pembalap meminta menu khusus. Dan permintaanya lebih banyak telur juga daging.

“Untuk karbohidratnya, nasi dan pasta harus selalu ada. Roti juga disediakan banyak. Selain itu, makanan tidak boleh pedas,” papar Vera.

Menurut Vera, para pembalap lebih menyukai omlet. Pernah disiapkan telur rebus, hanya beberapa pembalap yang mengonsumsi. 

Oleh karena itulah, Vera mengaku pihaknya selalu menyiapkan ratusan telur untuk omlet di setiap makan malam dan sarapan. Dan ini tidak pernah ada komplain dari panitia tentang menu disajikan.

“Selain itu, buah-buahan juga harus tersedia untuk pembalap dan mereka banyak yang menyukai semangka,” tutur Vera.

Chairman ITdBI 2018, Guntur Priambodo, mengatakan saat balapan, mereka membutuhkan nutrisi kompleks. Seperti, makanan tinggi protein, karborhidrat rendah glukosa, elektrolit, dan vitamin yang bisa membentuk otot-otot neurotrophic.

“Rute ITdBI sangat panjang ditambah cuaca yang panas selama empat etape,” kata Guntur.

“Setiap satu jam energi pembalap habis, sehingga perlu asupan nutrisi tepat waktu,” imbuhnya.

Nutrisi ini seperti vitamin, karbohidrat murni yang bisa didapat dari oatmeal, beras merah, kacang-kacangan, buah pisang, dan kurma. Air minum dan susu murni juga menjadi faktor penting. 

Guntur menjelaskan, setiap satu jam, harus ada nutrisi masuk tubuh. Apalagi saat balapan jangan sampai terlambat, agar tidak terjadi defisiensi karbohidrat yang bikin tubuh melemah.

Untuk menjaga asupan nutrisi, Niels Van Der Pijl, pembalap Belanda dari PCS Cycling Team selalu membawa dua pisang, dua snack power bar, dan satu botol minuman elektrolit yang diselipkan di belakang kaosnya selama balapan untuk mengganti energy yang hilang.

“Tapi sesekali saya juga mencoba kuliner khas nusantara,” ujar Niels.

Seperti yang dilakukannya sesaat sebelum ikut lomba di etape tiga. Sambil ngopi, Niels bersama rekan-rekannya satu tim membeli krupuk ikan yang dijajakan oleh pedagang keliling.

“Kopi Banyuwangi cukup enak,” pungkasnya.

Tidak hanya dari Belanda, sejumlah pembalap lain dari Eropa dan Jepang sering terlihat ngopi di warung-warung sekitar lokasi start. 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi – Federasi Balap Sepeda Dunia (UCI) me nilai, sepanjang empat etape rute yang disuguhkan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018 begitu menantang, dan bahkan sudah berkelas dunia.

Commissaire 2 UCI (Union Cycliste Internationale) Michale Robb dari Irlandia mengatakan dirinya sudah banyak mengikuti kejuaraan dunia mewakili UCI. Rute yang disajikan ITdBI menurutnya tidak kalah dengan kejuaraan dunia di berbagai negara.

"Semua rutenya dari stage 1 sampai terakhir sempurna, tidak kalah dengan Eropa. Pemandangannya juga sangat indah, setelah pulang saya akan promosi tentang Banyuwangi dan mengajak orang orang untuk berwisata dan berinvestasi di Banyuwangi," ujar Micky, panggilan akrabnya.

Rute ITdBI juga dinilai sangat menantang dan teknikal bagi para pembalap. Dimulai dari etape 3 yang menurut Micky sangat pas pilihan rutenya.

“Di etape ini, pembalap melewati dua tanjakan yang masuk kategori 3, dan rutenya rolling (naik turun),” tutur Micky. 

Hal yang sama juga di etape 4, yang menyajikan tanjakan menuju Gunung Ijen. Rute ini memang menjadi yang terberat karena melalui tanjakan Gunung Ijen dengan ketinggian 1880 mdpl dan tingkat elevasi hingga 20 persen. Rutenya juga menyajikan kemiringan lereng hingga 45 derajat.

"Excellent route, sangat teknikal. Saya pernah ikut World Tour salah satunya Giro de Italia, rute disini mirip dengan kejuaraan tersebut," kata Micky.

"Semua berjalan dengan lancar aman dan sesuai standar, tidak ada komplain. Panitia sudah melakukan pekerjaannya dengan baik, well organized, saya juga merasa nyaman disini. Terima kasih untuk semuanya, saya merasa beruntung terlibat di even ini," papar Micky.

Terkait rute, jawara ITDBI 2018 Benjamin Dybal mengaku jika rute etape 1 hingga 4 semuanya berat. Dan etape empat membuatnya harus ektra menguras tenaga dan mengatur teknik bersepeda.

"Saya sudah berulang kali menghadapi tanjakan. Ini adalah tanjakan terberat  yang pernah saya taklukkan. Mungkin satu dari tiga tanjakan terberat yang pernah saya selesaikan sepanjang karier balapan saya," sebut pembalap berusia 29 tahun itu.

Tidak hanya memuji pilihan rute ITdBI Micky juga menilai keseluruhan pelaksanaan ITdBI telah dilakukan secara profesional. Mulai penataan lokasi start dan finish termasuk penataan barrier, pengambilan video semua terkoordinasi dengan baik.

Ditambahkan Commissaire 3 ITdBI Tsunenori Kikuchi di setiap tahun dirinya terlibat di even ITdBI selalu ada kejutan. Tahun ini dia sangat suka dengan area finish etape ke empat yang berlangsung di area Gunung Ranti yang lokasinya terpaut hanya 50 meter dari Paltuding Ijen.

“Lokasi ini menyuguhkan panorama lansekap pegunungan yang indah dengan latar Gunung Ranti yang menjulang gagah,” ungkap Kikuchi.

"Saya merasa ITdBI adalah lomba yang terbaik untuk kategori 2.2 tidak hanya di Asia tapi di dunia," cetusnya. 

Sementara itu Bupati Abdullah Azwar Anas menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan kepada ITdBI oleh para juri tersebut.

Bupati Anas mengatakan Banyuwangi senantiasa memperbaiki kualitas penyelenggaraan ITdBI sebagaimana masukan dari UCI setiap tahunnya.

"Kami ingin memberikan yang terbaik bagi para pembalap yang bertanding di even ini," ujar Bupati Anas.

Dia menambahkan Banyuwangi sendiri memiliki potensi alam yang kaya dan inilah yang ingin ditonjolkan pada ITdBI. Lansekap Banyuwangi dengan segala keeksotikan alamnya, mampu menjadi panggung yang indah bagi para pembalap. 

"Banyuwangi adalah daerah terluas di Jawa Timur, didukung komitmen untuk terus memperbaiki infrastruktur daerah, kami akan terus berusaha menyajikan rute yang menantang dan menarik bagi pembalap dunia ini," pungkas Bupati Anas.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pembalap Australia menjadi juara umum di kompetisi balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018 etape 4, Sabtu (29/9) setelah berhasil menaklukkan tanjakan menuju kawah Ijen yang tergolong terekstrim di Asia.

Dia adalah Benjamin Dyball bernomor punggung 93 dari tim St George Continental Cycling Australia, menjadi yang tercepat sejak start di Pasar Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran dan finish di Paltuding Kawah Ijen di lintasan sepanjang 127,2 KM dengan catatan waktu 3 jam 49 menit 44 detik.

Selisih waktu 47 detik dari pemenang etape ketiga Jesse Ewart (Tim Sapura Cycling Malaysia) dan Thomas Lebas (Tim Kinan Cycling Jepang) sekitar 1 menit 4 detik dinilai sudah cukup membuatnya tidak terkejar di papan klasemen general classification.

Dyball menguasai ITdBI 2018 mulai etape pertama hingga empat dengan catatan waktu total 15 jam 8 menit 7 detik. Berselisih 58 detik dari Ewart dan 1 menit 14 detik dari Lebas. 

Seperti prediksi sebelumnya, tiga pembalap climber terbaik tersebut bertarung habis-habisan di etape terakhir. Ewart, Lebas, dan Dyball saling menempel sejak 20 kilometer terakhir.

Namun, pada 7 km terakhir Dyball meninggalkan Ewart, pesaing terdekatnya, setelah lebih dulu melewati Lebas. Dyball, pembalap 29 tahun tersebut mengaku sebenarnya tidak berencana attack dan dia hanya fokus pada pace dan ritmenya sendiri.

Dyball awalnya mewaspadai Lebas dalam persaingan etape pemungkas mendaki tanjakan terberat dalam standar federasi balap sepeda dunia, hors categorie, tersebut. Namun, ternyata bukan Lebas yang menempelnya ketat. Justru Ewart yang sehari sebelumnya memenangi etape tiga.

“Sejak stage 1 hingga 4 terutama yang terakhir, cukup berat utamanya angin dan cuaca panas. Karena itulah, saya mengatur strategi dan attack bersama tim,” papar Dyball.

“Semua etape sangat bagus dan dia menjaga energinya dengan menyiapkan makan dan minum yang cukup,” imbuhnya.

Kemenangan Dyball tak hanya mencatatkan namanya sebagai juara umum pada debutnya di ITdBI. Tapi juga memperpanjang capaian impresif St George Continental di sejumlah race di Indonesia.

Sebab, sebelumnya di Tour de Siak 2018 mereka juga mendominasi balapan. Mereka merebut juara umum, etape, sekaligus juara tim.

Di ITdBI 2018, tim asal Australia itu kembali mengulanginya. Selain juara general classification, mereka menjadi juara tim dan juara etape pertama atas nama Marcus Culey.

Bahkan, kekuasaan Culey di general classification tidak tergantikan sejak kemenangan di hari perdana ITdBI itu sampai akhirnya dikudeta rekannya sendiri.

Begitu juga status sebagai raja tanjakan. Gelar King of Mountain diberikan kepada Benjamin Dyball.

Sementara itu, untuk dua kategori lainnya, pembalap Indonesia Jamalidin Novardianto (PGN Road Cycling Team) menjadi sprinter terbaik (green jersey). Khusus untuk kategori pembalap Indonesia terbaik alias red and white jersey, rekan setim Jamalidin, Jamal Hibatullah, menjadi pembalap Merah Putih terbaik.

 

 

Top Stories

Grid List

Merdeka.com - Selain mengandung antioksidan yang unik, telur juga dapat menutrisi otak dengan baik.

Merdeka.com - Seorang wanita di Turki menggugat cerai suaminya dan menuntut kompensasi finansial akibat tak kuasa menjalani hubungan rumah tangga dengan pasangannya tersebut.

Bukan karena tindak kekerasan dalam rumah tangga, namun wanita ini muak lantaran sang suami punya kebiasaan mengenakan pakaian dalam wanita saat berada di dalam rumah.

Dikutip dari laman Alaraby.co.uk, Jumat (10/8/2018), menurut kuasa hukum dari wanita tersebut, proses pengajuan perceraian telah dilimpahkan kepada Pengadilan Keluarga di Gaziosmanpas, Istanbul, Turki.

Sang kuasa hukum juga mengatakan jika suami dari kliennya ini kerap mengenakan riasan dan pakaian dalam perempuan sejak dua tahun terakhir.

Tahu bahwa suaminya bertingkah aneh, wanita ini pun langsung menegurnya. Namun, upaya agar sang suami berubah malah mendapat respons yang tak mengenakan. Wanita itu malah mendapat perlakuan kasar.

"Klien saya jadi depresi dan sudah tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan ini," kata pengacara.

"Korban pun menyebut bahwa ia curiga sang suami memiliki kelainan orientasi seksual. Sehingga sudah yakin untuk berpisah," tambahnya.

Kedua belah pihak juga sudah setuju untuk bercerai.

Pasangan suami istri yang sudah menikah selama sembilan tahun ini mengaku sudah mantap menata hidup masing-masing. Tetapi permasalahannya ada pada si pria yang enggan membayar kompensasi atas klaim kerugian yang dirasakan oleh sang istri.

Turki adalah salah satu negara yang menentang kelompok LGBT. Sebelumnya negara ini juga melarang pawai kaum LGBT.

Sumber: Liputan6.com

Despair copy implications shouldn't weren't

Entertainment

Exception saddle publications hearst haven't. Prove reflection conspiracy brown's architect. Coating builder flux badly january. Hoag eliminated accounts delay mutual promising

Manufacturers throat cat

Adventure

Banyuwangi, kabupaten yang terletak diujung timur pulau Jawa ini merupakan penghubung antara pulau Jawa dengan pulau Bali.

Agenda Acara Selanjutnya

Advertisement