Penyerbuan warga ke area tambang emas Tumpang Pitu adalah klimaks kekecewaan warga sekitar tambang.

Daus VIS- Penolakan keberadaan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, di Kecamatan pesanggaran, Banyuwangi, terus saja berlanjut. Aksi penolakan kali ini berdampak pada terjadinya bentrok antara warga dengan polisi dan TNI yang terjadi hari Rabu (25/11) siang hingga malam kemarin yang memakan korban 4 orang warga tertembak peluru karet Brimob, serta dua orang polisi yang mengalami luka terkena lemparan batu.

Peristiwa ini terjadi pada Rabu (25/11) siang kemarin saat sekitar 500an warga sekitar tambang mendatangi lokasi penambangan. Dalam aksi ini, Sunar warga Desa Sumber Agung, Pesanggaran menjadi korban setelah bagian telinga tertembus peluru karet petugas Brimob yang berjaga di lokasi tambang emas. Melihat salah satu rekannya terluka parah, warga lain langsung menyelamatkan korban. Tak ingin kembali ada yang terluka atau korban nyawa, massa memutuskan meninggalkan area pertambangan.

Penyerbuan warga ke area tambang emas Tumpang Pitu adalah klimaks kekecewaan warga sekitar tambang. Mereka marah dan tersinggung dengan ucapan yang dilontarkan Kapolres Banyuwangi, AKBP Bastoni Purnama saat mediasi di aula hotel Baru Indah jajag, yang mengatakan bahwa warga Pesanggaran tidak memiliki etika. Salah satu warga pesanggaran Ali mengatakan bahwa demo penolakan tambang ini adalah keinginan warga setempat, pasalnya keberadaan tambang selama ini merugikan warga utamanya para nelayan.

Sebelumnya, aksi penolakan tambang emas Tumpang Pitu, terjadi pada Minggu malam (22/11) kemarin. Peristiwa ini juga membawa korban dari kalangan warga. Angga, warga Desa Sumber Agung kecamatan Pesanggaran mengalami luka-luka akibat terkena popor senjata Brimob. Satu warga lagi diamankan petugas Polres Banyuwangi yang selanjutnya dilepaskan kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *