Ilex VIS- Omset penjualan terompet di Banyuwangi menurun drastis di banding tahun lalu, akibat dari banyaknya masyarakat yang ketakutan membeli terompet, karena di khawatirkan pembuatannya menggunakan kertas yang bukan pada peruntukkannya. Kondisi ini di keluhkan oleh produsen pembuatan terompet di Banyuwangi, Eko Yunianto. Menurut laki laki asal kabupetan Wonogiri – Solo Jawa Tengah tersebut, dirinya sudah 7 kali ke Banyuwangi untuk memproduksi sekaligus menjual terompet di saat menjelang perayaan malam tahun baru. Eko mengaku, hampir dalam setiap tahun di setiap bulan Desember, dirinya ke Banyuwangi untuk memproduksi terompet di dalam area pasar Mojopanggung kecamatan Giri yang berada di kawasan jalan Gajah Mada. Dan dalam setiap tahun itu pula, dirinya bisa memproduksi terompet berbagai bentuk hingga 3 ribuan terompet. Baik terompet berbentuk ular naga maupun bentuk drod serta terompet bentuk seperti pada umumnya. Eko menjelaskan, biasanya dirinya membuat 1000 an lebih untuk masing masing bentuk. Namun tahun ini, hanya membuat 500 sampai 800 an untuk setiap bentuk dan jenis terompet. Eko mengaku sengaja melakukan hal ini, karena omset penjualan maupun anemo masyarakat untuk membeli terompet menurun drastis mencapai 50 persen, pasca di temukannya terompet yang terbuat dari kertas bertuliskan ayat ayat suci Al-Qur’an di beberapa kabupetan dan kota di luar banyuwangi. Padahal menurut Eko, dirinya murni membuat terompet tersebut dari kertas yang tidak di larang. Dan dia berharap kepada semua pihak agar tidak terlalu membesar besarkan permasalahan ini, supaya penjualan terompet di seluruh daerah bisa berjalan seperti biasanya. Sehingga baik pembuat maupun penjualnya bisa mendapatkan penghasilan, untuk menghidupi keluarga mereka. Eko menjelaskan, dirinya berada di banyuwangi sejak tanggal 1 desember 2015 lalu, dan menggunakan pasar mojopanggung untuk memproduksi terompet. Dan apabila hingga awal januari 2016 stok terompetnya masih banyak, dirinya akan membawanya ke kampung halamannya di wonogiri jawa tengah untuk di jual kembali. Kondisi ini juga di keluhkan oleh seorang penjual terompet di kawasan jalan sasuit tubun – Tri Prahoro. Menurutnya, biasanya per hari bisa terjual hingga 30 terompet. Namun saat ini, dalam satu hari terjual 10 terompet saja di nilai sudah sangat bagus. Tri mengaku,penjualan terompetnya di tahun ini menurun drastis di banding tahun lalu. Kondisi ini di anggap karena dampak dari kasus di temukannya terompet yang pembuatannya menggunakan kertas bertuliskan ayat ayat suci Al-Qur’an, di beberapa kabupetan dan kota di luar banyuwangi. Sementara itu, untuk terompet berbentuk biasa di jual seharga 5 ribu rupiah. Sedangkan Bentuk ular naga di jual antara 15 ribu sampai 30 ribu rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *