Ilex VIS- Selama di penampungan, eks Gafatar asal Banyuwangi mengaku ingin kembali ke Mempawa Kalimantan Barat, selain karena merasa sudah tidak tergabung dalam gafatar, usaha pertanian dan peternakan yang mereka garap selama ini juga mulai berkembang. sementara itu di penampungan para anak eks gafatar di beri pembelajaran lewat permainan dan para orang tua diberi pembinaan oleh MUI dan instansi terkait. Salah satu eks Gafatar, Warni mengatakan, meski terlihat kerasan pasca pemulangan, para eks gafatar justru mengaku ingin kembali ke tempat perantauan mereka di mempawa kalimantan barat. Alasannya mereka merasa sudah bukan anggota gafatar lagi karena sejak dilarang oleh pemerintah, gafatar di mempawa kalimantan barat telah dibubarkan sejak agustus 2014 lalu. Selain itu usaha pertanian dan peternakan yang mereka jalankan di kalimantan barat juga sudah mulai berkembang Sementara itu ketua majlis ulama Indonesia atau MUI Banyuwangi, Mohammad Yamin menilai, para eks gafatar adalah korban yang harus diselamatkan. untuk itu seluruh masyarakat harus lebih peduli dan bersedia menerima mereka kembali ke tengah masyarakat. Selama di penampungan, orang tua eks Gafatar diberi pembinaan terpisah dengan anak – anak, yang didampingi relawan. Mereka diajak belajar sambil bermain. Dengan kegiatan tersebut, mereka terlihat cukup ceria sambil mendengar dari para pendamping yang berasal dari kalangan pengajar. Sedang para orang dewasa, dibina langsung oleh MUI dan instansi terkai. Agar tak terkesan formal, pemberian wawasan kebangsaan dan keagamaan dilakukan dengan cara diskusi. Pemerintah daerah Banyuwangi saat ini telah membentuk tim khusus, untuk menyelamatkan para eks gafata. Sosialisasi telah dilakukan kepada seluruh warga, sehingga mereka dengan tangan terbuka bisa menerima para eks gafatar. Namun terkait permintaan eks gafatar untuk bisa kembali ke Mempawa Kalimantan Barat, pihak pemerintah daerah belum bisa memutuskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *