Ilex VIS- Pemerintah daerah Banyuwangi menjamin pendidikan anak anak dari para mantan pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Banyuwangi. Berdasarkan data yang ada, jumlah warga Banyuwangi yang sebelumnya mengikuti paham Gafatar tersebut adalah 18 orang yang terbagi dalam 3 kepala keluarga. Dari ke 18 orang tersebut, 11 di antaranya masih berusia antara 1,5 tahun sampai 11 tahun. Sehingga 11 anak itulah yang di jamin pendidikannnya oleh pemkab Banyuwangi, karena rumah dan berbagai sarana prasarana dari orang tuanya telah di jual, untuk biaya mengikuti Gafatar. Sekretaris Dinas Pendidikan Banyuwangi, Dwi Yanto mengatakan, anak anak dari mantan pengikut Gafatar tersebut bukanlah pelaku, namun mereka adalah korban. Pasalnya, tidak hanya seorang petani saja, bahkan seorang dokter pun telah mampu di pengaruhi dan di cuci otaknya oleh Gafatar. Sehingga apabila di marahi oleh berbagai pihak, maka mereka akan semakin jauh dari masyarakat serta pemahamanan tentang Gafatarnya semakin menguat. Oleh karena itulah menurut Dwi Yanto, pemerintah daerah akan merangkul dan memungut serpihan serpihan duka mereka agar menjadi anak anak yang berguna bagi bangsa dan negara. Sementara terkait dengan penjaminan pendidikan anak anak mantan pengikut Gafatar tersebut kata Dwi Yanto, pihaknya akan memasukkan mereka ke sekolah pada tahun ajaran baru mendatang, karena saat ini sudah masuk dalam semester dua. Sehingga secara administratif, pemerintah daerah hanya bisa memberikan semacam pengenalan berbagai pelajaran sekolah saja. Hal ini di khususkan bagi anak anak yang masih usia sekolah, dan bagi mereka yang usianya sudah di luar pendidikan sekolah maka dinas pendidikan akan mendaftarkannya ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau PKBM untuk mengikuti kejar Paket A, B dan Paket C. Dwi Yanto menceritakan, saat ini mereka masih berada di rumah penampungan sementara milik pemerintah daerah. Dan penjaminan pendidikan ini akan di berikan apabila mereka sudah di kembalikan ke kampung halaman mereka masing masing, dengan berkoordinasi pada ketua Rt dan RW setempat. Dalam artian, mereka akan di kembalikan ke sekolah sekolah terdekat, jika sudah berada di kampung asalnya. Termasuk ke lokasi lokasi PKBM terdekat. Sementara untuk biaya pendidikannya, di jamin sepenuhnya oleh pemerintah daerah. Karena kabupetan banyuwangi telah memiliki program banyuwangi cerdas serta program Siswa Asuh Sebaya. Sedangkan bagi yang mengikuti kejar paket, pemerintah daerah sudah menganggarkan pada APBD sebesar 1 milyar rupiah lebih untuk biaya mereka, dalam rangka pengangkatan murid putus sekolah. Dwi Yanto mengaku, pemerintah daerah juga sudah mempunyai program Gerakan Masyarakat Pemberantasan Tributa dan Pengangkatan Anak Putus sekolah atau Gempita Perpus yang di fokuskan untuk anak anak yang putus sekolah, termasuk anak anak dari mantan pengikut Gafatar tersebut. Sementara itu dari data yang ada, warga banyuwangi yang mengikuti paham Gafatar tersebut adalah sebanyak 18 orang yang terbagi dalam 3 kepala keluarga. Untuk yang berasal dari dusun muncar desa kedungrejo kecamatan muncar sebanyak 2 orang dewasa dan 3 anak anak. Juga yang berasal dari dusun Silir Baru RT.4 RW.5 desa sumber agung kecamatan pesanggaran sebanyak 2 orang dewasa dan 7 anaknya. Serta yang berasal dari dusun krajan RT.1 RW.7 desa tembokrejo kecamatan muncar sebanyak 2 orang dewasa dan 2 anaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *