Ilex VIS- Kementrian pariwisata meningkatkan kwalitas SDM pariwisata kabupetan Banyuwangi, di bidang wisata tradisi dan seni budaya atau TSB. Pelatihan kapasitas SDM bidang wisata itu dilakukan pada pekan ini, dan berakhir pada Jum’at(26/2). Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata, Tradisi dan Seni Budaya Kemenpar, Anna Budiarti mengatakan, Banyuwangi dinyatakan layak menjadi lokasi diselenggarakannya Bimbingan teknis Pengelolaan Wisata Tradisi dan Seni Budaya, karena Banyuwangi memiliki potensi seni budaya yang luar biasa.

Kementrian Pariwisata menilai potensi seni budaya Banyuwangi itu luar biasa. Potensi itu akan semakin melejit jika dikemas dengan baik. Karena itu kementrian pariwisata sengaja melibatkan kepala-kepala adat, sanggar-sanggar, para seniman, budayawan dan stakeholder terkait di Banyuwangi. Dalam Kegiatan ini, di hadirkan nara sumber yang kompeten di bidangnya. Antara lain Muhammad Liga Suryadana dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, Rode Ayu Wahyuningputri yang merupakan trainer dari Inspire Travel and Tourism Learning Center, serta dua orang nara sumber lokal seperti Aekanu dan Hasan Basri.

Salah seorang nara sumber, Rode Ayu Wahyuningputri mengatakan, forum ini bukan hanya soal menjaga seni budaya saja, tapi bagaimana seluruh pemangku kepentingan bisa mengembangkan, melakukan aktifitas dan mengelola seni budaya tersebut. Kekayaan seni budaya Banyuwangi ini akan di kelola bersama-sama, bukan hanya berdasarkan pedoman dari Kementrian pariwisata, namun juga disesuaikan dengan standar internasional. Rode melanjutkan, kegiatan ini merupakan upaya dari Kementrian pariwisata dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menggali potensi adat tradisi dan budaya di wilayah Banyuwangi. Sehingga nantinya dapat dilestarikan dan dikembangkan menjadi desa wisata yang memiliki nilai jual dan dikemas sedemikian rupa untuk menarik wisatawan untuk datang dan berkunjung ke Banyuwangi.

Tak hanya berdiskusi, peserta yang terdiri atas seniman, budayawan, delegasi Dewan Kesenian Blambangan, tokoh adat, lurah/kepala desa, Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Association of the Indonesian Tours and Travels Agencies (ASITA), Badan Pusat Statistik (BPS), akademisi dan para pemandu wisata tersebut, juga turun ke lapangan untuk melakukan observasi. Ada beberapa titik yang dituju, yakni Desa Adat Kemiren yang didalamnya juga mengeksplore Sanggar Seni Sayu Sarinah dan Makam Buyut Cili. Buyut Cili merupakan leluhur masyarakat Kemiren. Selain itu mereka juga berkunjung ke Sanggar Batik Pringgokusumo. Setelah observasi, dilakukan diskusi kelompok utk membuat laporan hasil pengamatan, yang kemudian akan dipresentasikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *