IFC menaungi 118 perancang busana se-Indonesia yang sukses di kancah Nasional dan Internasional.

Ilex VIS- Perkembangan dunia fashion Banyuwangi sudah mulai dilirik kalangan perancang mode nasional. Ali Charisma, desainer national chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) asosiasi baru perancang mode yang menaungi 118 perancang se-Indonesia sengaja datang ke Banyuwangi untuk mengajak pembatik dan desainer Banyuwangi berkiprah lebih luas. Pihaknya ingin membawa desainer dan pengusaha fashion batik lokal Banyuwangi untuk sukses di kancah nasional dan internasional.

“Kami mendengar perkembangan batik serta desainer muda Banyuwangi cukup menggembirakan. Ditambah dukungan pemerintah daerah yang all out terhadap perkembangan fashion, membuat kami tergerak untuk hadir disini saat ini,” kata Ali saat berdialog dengan 40 desainer muda dan pelaku industri batik Banyuwangi, di Banyuwangi

Kehadiran IFC di Banyuwangi atas prakarsa desainer batik nasional Pricilla Saputro yang selama ini bersama dengan pemkab getol mengembangkan batik Banyuwangi lewat berbagai workshop pelatihan dan event Banyuwangi Batik Festival. IFC mempunyai misi untuk membawa desainer dan pelaku mode daerah bisa eksis di tingkat nasional bahkan internasional tanpa harus meninggalkan daerahnya. Ali menganggap Potensi yang dimiliki desainer maupun pengusaha fashion lokal sebenarnya tidak kalah dengan desainer di kota-kota besar seperti Jakarta.

“Namun mereka ini biasanya tidak mengetahui cara untuk masuk ke level itu. Untuk itulah IFC hadir sebagai wadah bagi pelaku mode daerah menaikkan kapabilitas dan kemampuan untuk maju,” kata Ali.

IFC memiliki enam program bagi para anggotanya yakni Education yang berbasis pada sharing ilmu antar anggota baik lewat pelatihan maupun workshop, Young Designer Incubator Program, Local and International trade show, Export Training, Management and Taxes Trraining, Indonesia Trend Forecasting, Marketing, Branding and Digital Media Training dan E-Commerce Activation.

“Lewat wadah ini banyak orang berpengalaman yang akan membantu serta membuka link ke jenjang yang lebih lebih luas. Kita akan benahi semuanya lewat pendampingan mulai dari memperbaiki kualitas produk sampai pemasarannya baik nasional dan ekspor. Kami ingin nantinya tidak akan ada lagi dikotomi desainer lokal dan nasional karena semua desainer memiliki keunggulan masing-masing,” tutur Ali.

Program education berisi pengetahuan mendasar tentang standar fashion nasional, misalnya attitude dalam pengerjaan produk fashion, standarisasi size produk yang berlaku secara nasional dan internasional, dan pembuatan schedule pengerjaan produk.

“Pengetahuan tentang standar fashion ini wajib hukumnya. Kalau sudah bisa standar, maka pelaku akan siap masuk ke pasar nasional maupun internasional. Karena Fashion yang dibuat di Banyuwangi jadi bisa diterima oleh semua kalangan dan bisa dijual dimana saja,” terang Ali.

Sementara itu, Pricilla Saputro yang ikut hadir dalam acara tersebut berharap agar cabang (chapter) IFC Banyuwangi bisa segera berdiri. Wadah ini akan menjadi percepatan bagi desainer dan pengusaha lokal untuk maju ke level yang lebih tinggi.

“Saya sangat optimis fashion batik Banyuwangi bisa berkembang pesat. Harapan kami, para pelaku mode didalamnya bisa kompak untuk mau maju bersama-sama,” ujar Pricilia.

Sementara itu, salah satu desainer muda daerah Anita Yuni juga sangat antusias memanfaatkan IFC sebagai wadah mengembangkan pasar. Desainer yang pernah mengikuti even Muslimah Fashion Festival di Malaysia dengan menampilkan batik Banyuwangi pewarna alam ini pun berharap akan bisa segera bergabung dengan IFC.

“Kami desainer muda akan segera menggandeng pelaku mode Banyuwangi lainnya untuk menginisiasi berdirinya IFC. Karena banyak sekali manfaat yang akan diperoleh dengan berbagi program edukasi dan even nasional dan internasional yang bisa diikuti lewat IFC,” kata Anita.(i/f/n)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *