Keberhasilan Pemkab Banyuwangi dalam penanggulangan kemiskinan, membuat daerah di ujung timur Pulau Jawa ini layak jadi model masterplan

Ilex Vis – Banyuwangi menjadi Lokus Focus Group Discussion (FGD) dari Kementrian Perencanaan Pembangunan Negara/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), karena di nilai inovatif di dalam menanggulangi kemiskinan.

FGD tentang kajian inovasi dan alternative pendanaan program penanggulangan kemiskinan di wilayah pedesaan Banyuwangi ini, di gelar Selasa (30/8) dengan di hadiri perwakilan dari Bank Jatim sebagai sumber pendanaan lain dan sejumlah perwakilan SKPD terkait penanggulangan kemiskinan.

Diantaranya Dinas Koperasi dan UMKM; Dinas Sosial, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam), serta Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPdes).

Kasubdit pemetaan penduduk miskin Bappenas, Agus Manshur, menyampaikan keberhasilan Pemkab Banyuwangi dalam penanggulangan kemiskinan, membuat daerah di ujung timur Pulau Jawa ini layak dijadikan sebagai model yang bisa dicontoh daerah lain.

“Kami ingin mereplikasi praktik-praktik terbaik yang dilakukan daerah dan di akui Banyuwangi ini advaced dalam inovasi. Sehingga, kami ingin menggali dan belajar secara langsung tentang inovasi terkait penanggulan kemiskinan,” ujar Agus.

Menurutnya, langkah-langkah penanggulangan kemiskinan yang telah didapatkan dari Banyuwangi, akan dijadikannya sebagai bahan penyempurna strategi pengembangan berkelanjutan yang bisa ditularkan ke daerah lain.

“Saya kira banyak daerah lain yang memiliki karakter hampir sama dengan Banyuwangi, hanya saja inovasinya belum tergali,” pungkas Agus.

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko menegaskan Pemkab Banyuwangi memiliki komitmen kuat dalam kegiatan pengentasan kemiskinan. Untuk itulah, Pemkab telah melakukan berbagai program yang semuanya dilaksanakan secara sinergi antar SKPD.

“Dengan demikian hasil yang didapat akan lebih maksimal ketimbang dikerjakan secara sectoral,” kata Wabup.

Upaya-upaya tersebut, imbuh Wabup, diantaranya dilakukan melalui sektor pendidikan seperti program Siswa Asuh Sebaya (SAS), beasiswa Banyuwangi cerdas, dan gerakan pemberantasan buta aksara. Semua itu dilakukan untuk memutus rantai kemiskinan yang berkelanjutan.

Selain itu, juga melalui berbagai sektor yang lain. Di sektor ekonomi, pemkab melakukan pembatasan toko modern berdiri di tengah kota.

“Banyuwangi juga telah memiliki digital market beralamatkan www.banyuwangi-mall.com,” jelas Wabup.

Terkait dengan peningkatan kualitas warga perdesaan, kata Wabup, Banyuwangi juga memiliki terobosan baru yakni program Smart Kampung dan UGD kemiskinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *