Para siswa tersebut mengunjungi Sanggar Seni Barong milik Sucipto di Desa Kemiren Kecamatan Glagah.

Ilex Vis – Ratusan siswa siswi SMA Santo Carolus Surabaya melakukan studi lingkungan dan budaya di Banyuwangi.

Mereka berjumlah 169 siswa dan 8 guru pendamping, datang ke Banyuwangi mulai 26 – 27 Oktober 2016. Banyak dari para siswa ini menyesal karena hanya punya waktu dua hari mengunjungi Banyuwangi karena mengaku maish belum puas.

Rombongan SMA Carolus ini tiba di Banyuwangi, Selasa (25/10) malam. Mereka mengendarai empat bus untuk mengeskplore Banyuwangi.

Selama di Banyuwangi banyak tempat yang mereka kunjungi. Para siswa ini mengunjungi galeri batik, Mangrove Bedul, dan Pantai Pulau Merah pada Rabu (26/10).

Keesokan harinya, Kamis (27/10), mereka menghabiskan waktu di Kampung Using desa Kemiren Kecamatan Glagah Banyuwangi. Di Kemiren mereka belajar tari gandrung dan barong, serta budaya Suku Using lainnya.

Banyak hal baru yang mereka dapatkan di Banyuwangi. Seperti ?saat di kawasan ekowisata Mangrove Bedul dan Taman Nasional Alas Purwo. Pengalaman seru mereka dapatkan, saat menelusuri sungai menggunakan perahu gondang-gandung. Di Mangrove Bedul para siswa mempelajari flora dan fauna, serta kehidupan masyarakat di sana. ?

Tidak hanya di Mangrove Bedul, pengalaman yang belum pernah didapatkan lainnya saat belajar menyanting batik di Galeri Batik Pringgokusumo Banyuwangi.

“Ini pengalaman pertama dirinya menyanting batik,” kata salah satu siswa kelas 10 IPA 1, Gede Khuta Richie Dharmawan.

Tapi Richie mengaku masih penasaran dengan Pantai Pulau Merah, yang di kunjunginya hanya sebentar. Dan dia berjanji akan kembali lagi ke Banyuwangi di lain waktu.

Keesokan harinya, para siswa ini mengunjungi Sanggar Seni Barong Kemiren, milik Sucipto. Di sana, mereka makan di bawah pepohonan, duduk di kursi bambu di dekat sawah, sambil menyaksikan dan belajar seni gandrung dan barong. Suasana kian nyentrik dengan banyaknya gubuk-gubuk bambu beratap alang-alang kering.

Di Kampung Using ini, banyak siswa yang mengaku baru pertama kali melihat langsung penari gandrung. Mereka juga menyempatkan diri ikut menari bersama penari gandrung.? Di Kampung Kemiren ini, ada beberapa anak menyabuti alang-alang yang menjadi atap gubuk-gubuk di dekat sawah. ?Bagi mereka, itu merupakan pengalaman pertama melihat langsung gubuk yang menggunakan atap dari alang-alang kering. Alang-alang itu nantinya akan menjadi bahan penelitian.

Selama di Banyuwangi, para siswa SMA Santo Carolus ini tidak hanya berwisata, namun juga melakukan studi biologi, geografi, ekonomi, ?bahasa Indonesia, dan pendidikan karakter.

Martha Dwi Jayanti, guru yang mendampingi para siswa mengatakan, Banyuwangi memiliki banyak ikon yang menarik dan di Banyuwangi siswa siswi bisa belajar banyak. Mulai dari budaya, biologi, dan geografi.

“Banyuwangi saat ini mulai dikenal, mulai dari budaya dan alamnya. Sehingga cocok untuk menjadi tempat studi budaya dan lingkungan,” imbuh Martha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *