Rabo pungkasan diyakini sebagai hari turunnya 320 bala atau bencana, karena itu dilakukan petik laut untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT

Ilex Vis – Banyuwangi menggelar Festival Perahu Layar di perairan selat bali, yang di ikuti puluhan perahu nelayan dari Banyuwangi dan Pulau Bali.

Dalam kegiatan yang di gelar di area pantai Waru Doyong Kelurahan Bulusan Kecamatan Kalipuro, Rabu (30/11) tersebut, di ikuti 60 perahu nelayan dari Desa Ketapang dan Kelurahan Bulusan Kecamatan Kalipuro. Serta nelayan dari Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo. Juga dari Gilimanuk dan Jembrana Bali.

Puluhan perahu nelayan dengan layar terkembang tersebut, saling beradu cepat di laut selat Bali. Arus air dan tiupan angin menjadi penunjuk arah andalan nelayan untuk menentukan laju perahu. Terik panas matahari tidak menyurutkan semangat mereka untuk mendayung perahu hingga menjadi yang tercepat.

Ketua Nelayan Bulusan, Sujarno mengatakan Lomba Perahu Layar menjadi salah satu even yang diselenggarakan rutin setiap tahun oleh para nelayan setempat.

“Kegiatan yang pertama kalinya masuk agenda Banyuwangi Festival ini merupakan bagian dari Tradisi Petik Laut Rabo Pungkasan warga desa setempat,” kata Sujarno.

“Tradisi ini setiap tahun dilaksanakan pada hari Rabo akhir dibulan Shafar,” imbuhnya.

Rabo pungkasan ini diyakini sebagai hari turunnya 320 bala atau bencana, karena itu dilakukan petik laut untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT dan memohon agar di hari-hari berikutnya hasil laut dan bumi masih dapat dinikmati serta terhindar dari segala macam bala bencana.

“Pada ritual petik laut ini, warga juga melakukan larung sesaji hasil bumi. Kemudian dilanjutkan dengan Lomba Perahu Layar,” tutur Sujarno.

Lomba ini mulai dijadikan bagian dari tradisi pada tahun 2000. Namun untuk kali ini, pesertanya mencapai 60 orang yang merupakan nelayan pancing Banyuwangi dan Bali yang sama-sama mencari ikan di selat Bali.

“Even Lomba Perahu Layar ini adalah cara untuk mempererat tali persaudaran di antara sesama nelayan,” ujar Sujarno.

Pada lomba ini ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh nelayan untuk menjadi peserta. Yakni, perahu yang digunakan tanpa mesin, hanya menggunakan layar dengan ketinggian 7,3 meter. Lomba dimulai dari Pantai Waru Doyong hingga mencapai Pantai Gilimanuk lalu kembali lagi menuju Pantai Waru Doyong, dengan jarak tempuh sepanjang 8 mil.

Dan siapa yang paling cepat sampai kembali di pantai Waru Doyong, maka dialah yang menjadi pemenangnya dan berhak atas piala bergilir serta hadiah uang tunai.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pemerintah daerah mengangkat tradisi masyarakat nelayan Bulusan kedalam Banyuwangi Festival sebagai cara untuk mempromosikan potensi desa-desa di Banyuwangi.

“Saat ini desa telah menjadi frontline pembangunan daerah, sehingga segenap potensi yang mampu memajukan desa akan terus dipromosikan,” tutur Bupati Anas.

“Tradisi nelayan Bulusan ini sangat unik dan menjanjikan untuk dapat menarik wisatawan,” pungkas Bupati berusia 43 tahun tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *