Home / News / Festival Pendidikan Tingkatkan Kualitas Pendidikan Banyuwangi

Festival Pendidikan Tingkatkan Kualitas Pendidikan Banyuwangi

Siswa Asuh Sebaya (SAS), sebuah program kepedulian oleh para siswa didik mampu untuk membantu siswa yang tidak mampu.

Ilex Vis – Menjelang Hari Pendidikan Nasional, Pemerintah Daerah menggelar Festival Pendidikan guna meningkatkan kwalitas dan mutu pendidikan di Banyuwangi.

Kegiatan ini di gelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bajulmati Kecamatan Wongsorejo, Kamis (27/4), yang merupakan sebuah festival yang menampilkan beragam inovasi dan kreasi para pelajar.

Sebanyak 5 Ribuan siswa siswi dari jenjang PAUD hingga SLTA sekaligus para pendidik terlibat meramaikan kegiatan tersebut.

Dalam festival ini, berbagai inovasi sekolah dipamerkan dalam etalase pameran pendidikan. Antara lain, gerakan sepeda ontel oleh beberapa SD, Program Siswa Asuh Sebaya, karya solar cell oleh siswa SMK, hingga program peduli lingkungan laut seperti yang digagas SD Islam Sunan Kalijaga Wongsorejo, yang lokasi sekolahnya berada di pinggir pantai.

Festival Pendidikan dibuka Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas via whatsapp call, karena sedang menghadiri High Level Meeting Leadership Enhancement and Administrative Development for Innovative Governance in Asia (LEADING) di Tokyo Jepang.

“Pendidikan adalah pilar utama untuk mencapai kemajuan sebuah bangsa. Untuk itu, guru dan generasi muda sangat berperan penting,” kata Bupati Anas.

“Pemkab terus berkomitmen meningkatkan pendidikan. Porsi APBD terbesar masih untuk pendidikan untuk mendukung berbagai program pendidikan agar warga bisa menikmati pendidikan yang lebih baik dan jenjang lebih tinggi,” paparnya.

Di hadapan para siswa tersebut, Bupati Anas juga mendorong mereka terus meningkatkan kapasitasnya untuk bisa bersaing di ranah global. Dalam artian, meski pendidikan di Banyuwangi di nilai maju, namun tetap harus berpijak pada budaya dan tradisi lokal yang luhung.

“Contohnya di Jepang, pendidikan mereka maju tapi tradisinya tetap dipegang kuat dan harus percaya diri,” pungkasnya.

Selain unjuk inovasi program, even dimaksud juga menampilkan permainan tradisional, seperti lomba egrang, kelompen, dagongan, gobag sodor yang di jadikan sebagai media pengungkit semangat kekompakan dan kebersamaan antar pendidik, sehingga bisa diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.

Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Sulihtiyono mengatakan, jika semua kompak dan mau bergotong royong, maka seluruh program pendidikan di nilai akan dapat terwujud.

“Melalui Festival ini, di harapkan bisa meningkatkan kwalitas pelayanan pendidikan serta meningkatkan mutu pendidikan,” ujar Sulihtiyono.

“Sehingga mendorong kepada para insan pendidik untuk bisa meningkatkan pelayanan pendidikan supaya tidak mengecewakan. Setelah di layani dengan baik, maka kwalitas pendidikan juga harus di tingkatkan dengan baik pula,” pungkasnya.

Banyuwangi sendiri selama enam tahun terakhir ini telah menggagas sejumlah inovasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Di antaranya, Siswa Asuh Sebaya (SAS), sebuah program kepedulian oleh para siswa didik mampu untuk membantu siswa yang tidak mampu. Sejak dilaunching 2013 hingga saat ini, telah terkumpul Rp 9,5 miliar. Dari jumlah ini, 90 persennya telah terdistribusi untuk membantu meringankan biaya pendidikan anak yang tidak mampu.

Selain itu juga ada Beasiswa Banyuwangi Cerdas, bantuan biaya pendidikan gratis bagi siswa tidak mampu namun berprestasi yang diberikan kepada siswa dari jenjang SD hingga perguruan tinggi. Program beasiswa Banyuwangi Cerdas pada 2016 dialokasikan Rp 3,75 miliar bagi mahasiswa yang berprestasi tidak mampu, mahasiswa yatim piatu, dan penyandang disabilitas berprestasi.

Total sejak 2011, beasiswa yang telah disalurkan mencapai Rp 14,4 miliar untuk membiayai 700 anak muda berprestasi yang kuliah di berbagai perguruan tinggi, baik di Banyuwangi maupun luar Banyuwangi.

Bagi mereka yang tidak bisa melanjutkan sekolah, pemkab telah menyiapkan jaring dalam sebuah program Gerakan Daerah Angkat Anak Putus Sekolah (Garda Ampuh). Hingga akhir 2016 lalu telah mampu meluluskan 5.098 siswa yang putus sekolah.

Banyuwangi juga memiliki program pemerataan pendidikan yang dirangkai dalam Gerakan Banyuwangi Mengajar. Para fresh graduate diajak untuk mengabdikan ilmunya di daerah pelosok. Di bawah keterbatasan akses dan fasilitas, para anak muda ini ditantang untuk bisa mengamalkan ilmunya.

About farizkurnia

Check Also

Ditengah Rintik Hujan, Ribuan JCH Banyuwangi Diberangkatkan

radiovisfm.com, Banyuwangi – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas memberangkatkan ribuan jamaah calon haji (JCH) Banyuwangi, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *