Pada ITdBI etape 3 ini, terdapat 3 sprint dan 3 King of Mountain (KOM) atau tanjakan.

Reporter : Ilex Vis

Radiovisfm.com, Banyuwangi – Perhelatan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) etape 3 di ikuti 72 pembalap yang tergabung dalam 19 tim dari 29 negara. Sebelumnya pada etape pertama Rabu (27/9) di ikuti 94 pembalap dan pada etape dua Kamis (28/9) di ikuti 79 pembalap.

Memasuki etape ketiga, 7 pembalap tumbang dan tidak bisa melanjutkan kejuaraan balap sepeda kategori 2.2 tersebut di akibatkan karena waktu tempuh mencapai garis finish di nilai jauh melampaui dari yang di targetkan.

ITdBI etape 3 yang di gelar Jum’at (29/9) ini berjarak tempuh 116,3 KM dengan start TPI Kecamatan Muncar dan finish di Paltuding Kawah Ijen. Para pembalap harus melewati tanjakan menuju Gunung Kawah Ijen di Banyuwangi yang di kenal terekstrem di Asia yakni berada di ketinggian 1.871 mdpl dengan kemiringan mencapai 45 derajat, yang melampaui ketinggian tanjakan di Genting Highland dalam Tour de Langkawi Malaysia yang berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl.

Pada ITdBI etape 3 ini, terdapat 3 sprint dan 3 King of Mountain (KOM) atau tanjakan. Untuk sprint pertama di kawasan kecamatan Purwoharjo pada KM 24,6. Sprint kedua di Desa Tembok Rejo pada KM 46,1 dan sprint ketiga berada di kawasan Kecamatan Rogojampi pada KM 66,0.

Sedangkan KOM pertama berada di Kantor Desa Jambesari pada KM 89,9. KOM kedua di KM 99,6 tepatnya di perkebunan karet kalibendo. Sedangkan KOM ketiga berada di tanjakan terekstrim sebelum Paltuding Kawah Ijen.

Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widiatmoko saat membuka etape 3 mengatakan, start sengaja di laksanakan di TPI muncar karena pantai muncar di kenal sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia.

“Sekaligus ini jadi ajang promosi kepada para pembalap,” ungkap Wabup Yusuf.

Setelah bertarung habis habisan pada etape pertama hingga ketiga, para pembalap pun akan siap menghadapi International Tour de Banyuwangi Ijen etape empat yang mengambil start dari Ponpes Darussalam Blok Agung Kecamatan Tegalsari, Sabtu (30/9) dan finish di Kantor Pemkab Banyuwangi, berjarak tempuh sejauh 98,1 KM.

Uniknya, saat di garis start seluruh pembalap memakai sarung dan kopiah sebagai seremoni saja. Namun saat lepas dari garis start, seluruh sarung dan kopiah di lepas kembali.

Pada etape ini, Pemerintah Daerah ingin mengkampanyekan pada dunia bahwa Pondok Pesantren merupakan model pendidikan yang toleran di dalam menyemaikan perdamaian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *