Selama ini kapal hasil buatan PT Lundin yang di ekspor hanya sejenis kapal patroli militer TNI AL, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Reporter : Ilex Vis

radiovisfm.com, Banyuwangi – Nilai ekspor Banyuwangi hingga September 2017 tercatat mencapai 64 juta 370 US Dolar. Sementara untuk nilai import per September 2017 sebesar 16 juta 403 US Dolar.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banyuwangi, Ketut Kencana mengatakan, angka tersebut berdasar pada catatan dari pihaknya sejak awal Januari hingga September 2017.

“Sejumlah barang yang asal Banyuwangi yang di ekspor terdiri dari komoditi ikan hias, koral, udang beku, olahan makan, sarden, sidat, kayu olahan, kayu lapis (bubuk), serta rempah rempah,” ujar Ketut.

Dalam artian, semuanya non migas. Pasalnya menurut Ketut, Banyuwangi merupakan lumbung padi terbesar di Jawa Timur.

“Untuk barang import yang masuk ke Banyuwangi, masih tercatat kedelai dan BBM pertamina yang di angkut kapal kargo dan bersandar di dermaga Pelabuhan Tanjung Wangi Banyuwangi,” papar Ketut.

Dia menjelaskan, untuk barang ekspor masih di kirim melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Kepala Bea Cukai Banyuwangi, I Nyoman Ary Dharma mengatakan, secara global aktifitas ekspor di Banyuwangi melalui Pelabuhan Tanjung Wangi di nilai masih belum ada dan seluruhnya melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

“Karena di Banyuwangi masih belum ada kapal besar untuk mengangkut berbagai barang yang akan di ekspor tersebut,” ujarnya.

Selain itu, dermaga Pelabuhan Tanjung Wangi hanya bisa di sandari kapal kecil saja dan tidak bisa di sandari kapal jenis Kargo yang di gunakan untuk mengirim ke luar negeri.

Kondisi inilah yang di anggap Nyoman sebagai kendala tidak adanya aktifitas ekspor melalui Banyuwangi, sehingga pihaknya mengaku tidak bisa merinci seberapa besar nilai ekspor dari Banyuwangi. Bahkan, pabrik Industri Kapal PT Lundin pun, mengirim barangnya juga melalui Surabaya.

“Selama ini kapal hasil buatan PT Lundin yang di ekspor hanya sejenis kapal patroli militer TNI AL, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tutur Nyoman.

Oleh karena itulah, Nyoman mengaku perlu adanya keterlibatan pemerintah daerah untuk bisa menarik kapal besar ke Banyuwangi, guna meningkatkan nilai ekspor. Sementara untuk import melalui Banyuwangi, Kantor Bea dan Cukai mencatat baru kedelai sebanyak 4 hingga 5 kali dalam setahun, juga BBM dari Pertamina.

“Hingga kini masih belum ada baju baju bekas dari luar negeri yang masuk ke Banyuwangi,” kata Nyoman.

Hal itu di buktikan, sejak 1 bulan menjabat sebagai Kepala Bea dan Cukai Banyuwangi, dirinya belum menangani pasokan baju baju bekas tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *