Pemkab Banyuwangi sudah menyiapkan anggaran untuk penanganan pemakaman jenazah Mr.X ataupun orang orang terlantar.

Reporter : Ilex Vis

radiovisfm.com, Banyuwangi – Setelah mendapat surat rekomendasi dari kepolisian, jenazah bayi perempuan yang sebelumnya di tinggalkan oleh orang tuanya di RSUD Blambangan Banyuwangi, akhirnya di makamkan pada Rabu (29/11) di pemakaman umum belakang rumah sakit.

Pemakaman ini melibatkan petugas kamar mayat di bantu beberapa staf rumah sakit.

Pemakaman ini di lakukan karena berdasarkan peraturan yang ada, batas maksimal penyimpanan jenazah di ruang pendingin kamar mayat RSUD Blambangan adalah selama 2 hari. Namun sejak dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (25/11) lalu belum juga ada pihak keluarga yang mengambilnya.

Penjaga Kamar Mayat RSUD Blambangan Banyuwangi, Yudi mengatakan, dari peraturan yang ada, mayat di titipkan di kamar mayat selama 2 kali 24 jam.

“Jika melebihi batas waktu yang di tentukan itu belum juga di ambil, maka pihak rumah sakit akan memakamkan jenazah yang bersangkutan,” kata Yudi.

“Tapi terlebih dahulu, menunggu surat persetujuan yang di layangkan oleh pihak kepolisian yang menangani kasus tersebut, dalam hal ini adalah Mapolsekta Banyuwangi,” imbuhnya.

Yudi menjelaskan, terkait dengan biaya pemakaman di tanggung oleh pihak rumah sakit melalui dana yang sudah di anggarkan untuk orang terlantar.

“Pemkab Banyuwangi sudah menyiapkan anggaran untuk penanganan pemakaman jenazah Mr.X ataupun orang orang terlantar,” pungkas Yudi.

Sebelumnya, pada Sabtu dini hari lalu (25/11) datang seorang perempuan ke RSUD Blambangan Banyuwangi sambil membawa bayinya yang dalam kondisi kritis. Selain lahir premature, berat badan bayi hanya mencapai 1,5 KG. Berdasarkan KTP yang di serahkan pada pihak rumah sakit, perempuan itu bernama Carina Aprilianwar (22) warga Desa Badean Kecamatan Bondowoso Kabupaten Bondowoso.

Dia datang dengan di temani seorang laki laki bernama Gilang Candra Kurniawan (22) warga Jalan Piere Tendean RT 22 RW 04 Desa Badean Kecamatan Bondowoso Kabupaten Bondowoso. Namun mereka tidak mengaku sebagai suami istri, hanya mengaku sebagai teman baik.

Pertama kali datang, bayi tersebut mengalami sesak nafas dan kekurangan darah (Anemia). Dengan kondisi seperti itu dimungkinkan bayi itu di lahirkan secara tidak wajar ataupun di gugurkan secara paksa.

Setelah di rumah sakit, ibu bayi di rawat di ruang bersalin sedangkan bayinya di rawat di ruang Perin guna mendapat penanganan medis. Namun selang beberapa jam mendapat perawatan, ibu si bayi memaksa pulang dengan di temani oleh teman lelakinya tersebut.

Sedangkan bayinya di tinggalkan begitu saja di rumah sakit, setelah mendapat rincian biaya yang harus di bayarkan hingga akhirnya meninggal dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *