Jika sudah dinyatakan bebas penyakit, maka kedelai import tersebut baru bisa di pasok ke berbagai daerah di Indonesia.

Reporter : Ilex Vis

radiovisfm.com, Banyuwangi – Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya Wilayah Kerja Tanjung Wangi Banyuwangi melakukan uji laboratorium terhadap 11 ton kedelai import yang masuk ke Banyuwangi, untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Indonesia Timur.

Ke 11 ton kedelai impor tersebut berasal dari Amerika dengan di angkut kapal kargo PAC ALNATH Singapore bernomor lambung IMO : 9265926 dan di bongkar di dermaga Pelabuhan Tanjung Wangi, Kamis (11/1).

Kedelai import tersebut akan di gunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Banyuwangi, serta ke sejumlah daerah di wilayah Indonesia Timur seperti di Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Namun terlebih dahulu di simpan di beberapa gudang di area Banyuwangi.

Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya Wilayah Kerja Tanjung Wangi, Wisnu Widayat mengatakan, sebelum di pasok ke berbagai negara, terlebih dahulu pihaknya melakukan uji laboratorium terhadap kedelai import tersebut.

“Kami ambil beberapa kilogram kedelai di jadikan sampling untuk di bawa ke Laboratorium Balai Besar Karantina Pertanian di Surabaya,” ungkap Wisnu.

Dari hasil pengujian inilah, nantinya bisa di ketahui apakah kedelai import tersebut mengandung penyakit tumbuhan atau Pheronospora Mencurica yang biasa di sebut juga Jamur ataukah tidak, karena Jamur tersebut di nilai sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Jika sudah dinyatakan bebas penyakit, maka kedelai import tersebut baru bisa di pasok ke berbagai daerah di Indonesia,” imbuhnya.

Wisnu mengaku, keberadaan Karantina Pertanian di nilai sangat penting sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya Organisme Penganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) yang keberadaannya belum ada di Indonesia, sesuai dengan UU nomor 16 tahun 1992 dan PP nomor 14 tahun 2002 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan.

“Kedelai merupakan media pembawa penyakit yang langkah,” tutur Wisnu.

Dalam artian, Karantina Pertanian memiliki tupoksi dan tugas pokok sangat penting untuk menjaga NKRI dari ancaman hama penyakit yang masuk ke Indonesia dari mancanegara. Yakni dengan melakukan pengujian laboratorium terhadap hasil pertanian dari luar negeri, sebelum akhirnya beredar di Indonesia.

“Total kedelai import yang di bongkar di dermaga Pelabuhan Tanjung Wangi Banyuwangi tersebut sebanyak 11.375.882 Kg atau 11 ribu ton lebih,” kata Wisnu.

Lebih lanjut Wisnu mengatakan, Kementrian Pertanian mengakui bahwa hasil pertanian import dari 3 negara tidak perlu di lakukan uji laboratorium, karena Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) nya di nilai sudah teruji.

“Yaitu dari negara Amerika, Kanada dan Australia,” ungkapnya.

Namun Wisnu mengaku Karantina Pertanian tetap melakukan uji laboratorium dari beberapa sample barang import, demi keselamatan masyarakat dari berbagai penyakit yang kemungkinan tidak ada di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *