radiovisfm.com, Banyuwangi – Rumah seorang janda di kawasan Lingkungan Payaman RT 02 RW 02 Kelurahan Giri Kecamatan Giri Banyuwangi ambrol nyaris rata dengan tanah, akibat tertimpa bangunan pondasi milik tetangganya.

Korban naas tersebut adalah Robiah (60) yang selama ini menempati rumah tersebut bersama bibinya, Supami (72). Sementara, 5 orang anak korban sudah berumah tangga, dan tinggal dirumahnya masing masing. Untung saja dalam incident ini tidak ada korban jiwa.

“Peristiwa ini terjadi pada Senin dini hari (16/1) sekira pukul 00.30 WIB,” kata Robiah.

Saat itu, Robiah yang tidur di kamar depan langsung terbangun ketika mendapati rumahnya tertimpa bangunan tembok milik tetangganya, Mohammad yang berada persis dibelakang rumahnya. Sementara Supami yang tertidur pulas di kamar belakang juga berusaha menyelamatkan diri, karena kamar yang di tempatinya hancur. Bahkan, Supami mengalami luka robek pada pelipis kanannya akibat tertimpa reruntuhan bangunan rumah keponakannya tersebut.

“Akibat peristiwa ini, seluruh benda yang ada di dalam rumah saya hancur seperti lemari, meja, kursi maupun berbagai barang berharga lainnya,” ungkap Robiah.

Sambil mengusap air matanya, Robiah mengaku menumpang di rumah tetangganya untuk sementara waktu sembari rumahnya di bangun kembali. Pasalnya, keluarga Mohammad yang memiliki bangunan pondasi tembok tersebut bersedia bertanggung jawab untuk membangun rumah korban.

Tepat di belakang rumah Robiah terdapat aliran sungai, yang sewaktu waktu bisa meluap jika terjadi hujan cukup deras. Sementara di sisi baratnya, terdapat bangunan pondasi tembok cukup tinggi yang memisahkan area rumah Mohammad dengan aliran sungai tersebut.

Seiring berjalannya waktu, di duga pondasi tersebut terkikis air dari sungai sehingga tiba tiba roboh menimpa rumah Robiah.

Sementara itu, Ketua RT 02 RW 02, Ahmad Yani mengakui bahwa si pemilik bangunan pondasi tersebut bertanggung jawab akan membangun kembali rumah Robiah.

“Tadi Kepala Dinas PU Pengairan, Guntur Priambodo bersama stafnya langsung meninjau kondisi aliran sungai di lokasi,” tutur Yani.

Dan di akuinya, pihak Dinas Pengairan akan segera membangun pelengsengan di sepanjang aliran sungai tersebut sepanjang kurang lebih 40 meter.

“Meskipun memiliki 5 orang anak, tapi untuk mencukupi kebutuhan sehari harinya, Robiah bekerja sebagai buruh pengikat bawang merah milik usaha tetangganya,” papar  Yani.

“Tapi terkadang juga mendapatkan berbagai bantuan dari pihak kelurahan, termasuk beras Raskin,” imbuhnya.

Yani mengaku, pihaknya bersama sejumlah warga setempat kini bergotong royong mengevakuasi rumah korban.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *