Reporter          : Ilex Vis

radiovisfm.com, Banyuwangi – Orang tua dari pelaku penyerangan jemaat di Gereja Santa Lidwina Sleman Yogyakarta mengaku terkejut dengan penampilan anaknya saat pulang kampung ke Banyuwangi, dan di kira bergabung dengan teroris.

Hal itu di sampaikan oleh Ketua Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) Kandangan Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi, Mubarok.

Laki laki yang juga merupakan ketua Majelis Takmir Masjid dan Mushollah di dua desa yaiu Desa Kandangan dan Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran tersebut mengatakan, menurut pengakuan orang tuanya, pelaku yang di ketahui bernama Suliono (23) itu hanya setahun sekali pulang ke kampung halamannya di Dusun Krajan Desa Kandangan Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi saat Hari Raya Idul Fitri.

“Itupun hanya 1 minggu lalu pergi lagi,” ujar Mubarok.

Bahkan saat pulang, penampilan anak ketiga pasangan Mistadji (58) dan Edi Susiyah (54) tersebut juga berubah dengan menggunakan jubah berwarna hitam.

Sementara, Mubarok sendiri mengaku sempat bertemu dengan Suliono di tahun 2017 saat pulang kampung terakhir kali dan mengajak debat tentang agama.

“Suliono juga sempat mengajak warga untuk ikut ke dalam aliran yang di anutnya serta mengajak saya berdebat tentang persoalan paham yang dia anut,” papar Mubarok.

Mubarok menjelaskan, sejak SMP kelas 3, Suliono mengaku sangat anti paham dengan ajaran Nahdlatul Ulama (NU) sehingga dia memilih pindah ke Morowali Sulawesi Tengah untuk ikut kakak pertama dan keduanya yang tinggal disana.

“Disini, Suliono selalu bersitegang dengan kakaknya karena mengaku beda paham, hingga dia memilih mondok di Pondok Pesantren di Magelang,” imbuhnya.

Mubarok menjelaskan, dulunya Suliono tersebut di kenal pendiam kemudian berubah sikap dengan berpakaian jubah hitam.

Sejak kecil, Suliono hidup di wilayah setempat dengan mengenyam pendidikan di SDN 5 Kandangan Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi hingga kelas 6. Lalu melanjutkan ke SMP Negeri 1 Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran dan lulus pada tahun 2010. Selanjutnya mondok di Pondok Pesantren Ibnu Sina Jalen Kecamatan Genteng Banyuwangi hanya selama 6 bulan, karena merasa tidak sepaham atau tidak sesuai dengan keyakinannya.

Selanjutnya, Suliono keluar dari kampung halamannya dan pergi ke Witabonda Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah guna meneruskan SMA. Akan tetapi, lagi lagi keyakinannya tidak sepaham dengan kakaknya, Moh.Sarkoni dan kemudian merantau ke Palu Sulawesi untuk meneruskan SMA.

Dari sini, Suliono melanjutkan kuliah di Pondok Pesantren Berpayaman II Padepokan Topo Lelono Pangeran Krincing yakni Sirojul Muklisin dan Ummahtul Mukminin di Krincing Secang Magelang. Selama sekolah di Palu, prilaku Suliono sudah mulai berubah dan cenderung lebih kearah jihad hingga di ketahui berada di Sleman Yogyakarta melakukan penyerangan di gereja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *