Banyuwangi Hari Ini News

Pasca Insident Penyerangan Gereja, Pemuka Agama Banyuwangi Pererat Kerukunan

Ilex VIS
Written by Ilex VIS

Reporter          : Ilex Vis

radiovisfm.com, Banyuwangi – Untuk tetap menjaga kerukunan umat beragama pasca peristiwa penyerangan jemaat Gereja Santa Lidwina Sleman Yogyakarta, Pemkab Banyuwangi menggelar pertemuan dengan para pemuka agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Senin (12/2).

Ketua FKUB Banyuwangi KH Muhammad Yamin LC berharap, umat di daerahnya terus menjaga kerukunan dalam keberagaman.

“Saat ini, di sejumlah daerah terjadi kekerasan yang berpotensi mengganggu kerukunan umat, seperti persekusi biksu di Tangerang, kekerasan terhadap kiai di Bandung, dan penyerangan terhadap gereja di Sleman,” ujar KH Yamin.

Menurutnya, seluruh umat beragama di Banyuwangi menyesalkan berbagai tindakan aksi kekerasan untuk dan atas nama apapun.

“Termasuk adanya penyerangan gereja yang di nilai bukanlah perilaku yang dibenarkan ajaran agama manapun,” imbuhnya.

Sementara, pelaku penyerangan gereja tersebut di ketahui warga Dusun Krajan Desa Kandangan Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi, bernama Suliono (23).

KH Muhammad Yamin yang juga merupakan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi tersebut menjelaskan, keprihatinan tersebut harus disikapi dengan terus meningkatkan dan menjaga kerukunan antar umat bergama.

“Terkait pelaku penyerangan gereja yang merupakan warga Banyuwangi itu, kami minta umat di Banyuwangi tetap tenang dan terus menjaga kerukunan,” tutur KH Yamin.

Hal senada juga diutarakan Romo Yosep Utus O.Carm. Sebagai Ketua Umat Katolik di Banyuwangi, ia meminta kerukunan yang telah terjalin sangat baik tidak tergoyahkan dengan kejadian-kejadian di luar daerah.

“Kami menyesalkan aksi kekerasan itu,” ungkap Romo Yosep.

Namun dia yakin dengan kerukunan umat yang sangat solid, dipastikan kejadian kekerasan tidak akan terjadi Banyuwangi.

“Saya harap peristiwa ini bisa di jadikan pelajaran bagi seluruh masyarakat agar tetap menghargai keyakinan yang di anut oleh masing masing umat beragama,” pungkasnya.

Romo Fajar Tejo Sukarno menambahkan, masyarakat Banyuwangi tidak perlu terprovokasi dengan sejumlah kekerasan di luar daerah. Dalam artian, masalah besar di kecilkan, dan masalah kecil di hilangkan.

Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Banyuwangi Pendeta Anang Sugeng, yang bertetangga dekat dengan pelaku tindak kekerasan di Sleman meyakini bahwa kejadian itu tidak mengganggu harmoni antar umat beragama di daerahnya.

“Jarak rumah saya dengan rumah terduga pelaku kekerasan di Sleman itu sekitar 200 meter,” kata Pendeta Anang.

“Masyarakat di Desa Kandangan di nilai hidup rukun antar umat dan tidak ada pertentangan sedikit pun. Seluruh umat beragama di wilayah setempat berkomitmen bersama untuk terus menjaga kerukunan,” paparnya.

Pertemuan itu juga dihadiri Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Suminto, perwakilan umat Tri Dharma Indrana Tjahjana, dan sejumlah pemuka lainnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengucapkan terima kasih atas kesigapan para pemuka agama dalam membangun keharmonisan.

“Semua kemajuan yang diperoleh Banyuwangi saat ini tidak terlepas dari kerja para pemuka agama dalam mendoakan Banyuwangi dan terus menjaga kerukunan dan kedamaian,” ujar Bupati Anas.

Atas nama pemerintah daerah dan masyarakat Banyuwangi, Bupati Anas meminta maaf kepada semua umat Katolik atas tindakan yang dilakukan salah seorang warganya di Sleman.

“Saya harap peristiwa ini bisa menjadi pelajaran untuk senantiasa menjaga kedamaian,” pungkas Bupati Anas.

 

About the author

Ilex VIS

Ilex VIS

Ilex VIS, salah satu jurnalis Radio VIS FM dan Penyiar. Anda bisa mendengarkan suara khasnya dalam program radio informasi, seperti Bingkai Pagi dan Inti VIS FM.

Leave a Comment