Reporter          : Ilex Vis

radiovisfm.com, Banyuwangi – Dari hasil penggeledahan di rumah Suliono, pelaku penyerangan di Gereja Santa Lidwina Sleman Yogyakarta, tim Densus 88 Mabes Polri di bantu Polres Banyuwangi masih belum menemukan benda apapun yang mengarah pada jaringan teroris.

Sebelumnya, Satuan Reskrim Polres Banyuwangi hanya berhasil mengamankan 1 buah kalender yang bertuliskan nama Pondok Pesantren tempat Suliono mengenyam ilmu agama saat ini. Kalender tersebut bertuliskan Pondok Pesantren Berpayaman II Padepokan Topo Lelono Pangeran Krincing yakni Sirojul Muklisin dan Ummahtul Mukminin di Krincing Secang Magelang.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Sodik Efendi mengatakan, penggeledahan di rumah Suliono yang ada di kawasan Dusun Krajan Desa Kandangan Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi telah di lakukan beberapa kali, dan di nilai kepolisian belum menemukan barang apapun yang terkait dengan kelompok islam radikal.

“Dari fakta di lapangan kepolisian mendapatkan berbagai informasi bahwa, di saat Suliono pulang ke kampung halamannya selalu berdebat dengan tetangganya terkait aliran atau paham yang mereka yakini,” papar AKP Sodik.

Dia menjelaskan, dari hasil pemeriksaan sementara, orang tuanya, Mistadji (58) dan Edi Susiyah (54) mengaku terakhir kali bertemu dengan Suliono setelah Hari Raya Idul Fitri lalu. Bahkan menurut mereka, anak ketiganya tersebut cenderung tertutup terhadap orang tua maupun adik dan kakak kakaknya.

“Polres Banyuwangi hanya sebatas melakukan pemantauan dan monitor di lapangan mengenai kemungkinan adanya kegiatan yang dinilai menyalahi aturan, yang sebelumnya di lakukan oleh Suliono,” tutur Kasat Reskrim.

“Secara kebetulan, dia merupakan warga Banyuwangi dan melakukan penyerangan kepada para jemaat di gereja Santa Lidwina Sleman Yogyakarta,” imbuhnya.

Suliono (23) merupakan anak ketiga dari pasangan Mistaji (58) dan Edi Susiyah (54) yang bertempat tinggal di Dusun Krajan RT 02 RW 01 Desa Kandangan Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi.

Kakak pertamanya adalah Totok Atmojo (31) saat ini berdomisili di Papua. Kedua Moh.Sarkoni (29) bekerja di Palu Sulawesi. Adiknya, Solikhin (18) saat ini masih kuliah di kampus Ibrahimi sekaligus mondok di Pondok Pesantren Ibnu Sina Kecamatan Genteng Banyuwangi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *