Reporter          : Ilex Vis

radiovisfm.com, Banyuwangi – Berbagai program pengembangan daerah yang dijalankan Kabupaten Banyuwangi selama lima tahun terakhir mendapat perhatian Bank Indonesia (BI) untuk mengundang Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berbagi pengalaman.

Bupati Anas diundang di forum High Level Meeting BI di Medan, Sumatera Utara, Jumat (10/3).

Acara ini dihadiri Kepala Bank Indonesia Sumatera Utara Arief Budi Santoso, Walikota Pematangsiantar Hefriansyah, dan jajaran pegawai BI.

Bupati Anas mengatakan, Banyuwangi memiliki banyak tantangan, mulai dari aspek infrastruktur hingga Sumber Daya Manusia (SDM). Namun, tantangan itu kemudian dimaknai sebagai peluang untuk berkembang sekaligus dicari solusinya secara bertahap.

“Inilah tantangan daerah skala kecil-menengah seperti Banyuwangi, yang tentu berbeda dengan kota-kota besar yang infrastruktur dan SDM-nya sudah sangat mapan,” ujar Bupati Anas.

Dia mencontohkan tantangan geografis. Banyuwangi berada di ujung timur Pulau Jawa, jauh dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi utama. Sehingga pergerakan ekonomi pun dinilai tidak seberapa kencang.

“Tantangan itu kemudian diatasi dengan membuka aksesibilitas,” ungkapnya.

Dimana, pengoperasian Bandara Banyuwangi menjadi program 100 hari saat Bupati Anas kali pertama menjabat pada akhir 2010.

“Aksesabilitas yang membaik itu sekaligus ikut mendongkrak pariwisata,” kata Bupati Anas.

Bupati Anas menjelaskan, dari dulu tidak ada penerbangan, namun kini ada tujuh kali dalam sehari, yaitu tiga kali dari Surabaya, serta empat kali dari Jakarta. Jumlah penumpang pun melonjak 1.400 persen. Selain itu, Pemerintah Daerah juga mendesain terminal bandara dengan unik, menjadi terminal berkonsep hijau pertama di Indonesia yang di anggap menjadi diferensiasi Banyuwangi dibanding daerah wisata lain.

“Untuk penguatan SDM, kami fokus pada upaya memberi akses pendidikan seluas mungkin bagi kelompok warga kurang mampu,” ungkap Bupati Anas.

Dalam lima tahun terakhir, Pemkab Banyuwangi menggelontorkan anggaran Rp 15 miliar bagi lebih dari 700 anak muda untuk berkuliah dari berbagai kampus di seluruh Indonesia. Banyuwangi juga memberikan tabungan Rp 1 juta untuk ribuan pelajar miskin, serta bantuan uang saku dan transportasi untuk empat kecamatan dengan potensi kemiskinan tertinggi.

Untuk peningkatan kualitas SDM, Banyuwangi mendorong geliat kampus-kampus, termasuk pendirian Universitas Airlangga (Unair) kampus Banyuwangi dan Politeknik Negeri.

“Gerak ekonomi di Banyuwangi semakin menguat ditopang antara lain oleh sektor pariwisata yang menjadi payung bagi sektor lainnya, mulai dari UMKM hingga pertanian,” papar Bupati Anas.

Bupati Anas juga merasa bersyukur, beragam program terpadu mampu mendorong peningkatan pendapatan per kapita warga dua kali lipat dari Rp 20,8 juta (2010) menjadi Rp 41,5 juta per orang per tahun (2016). Kemiskinan turun cukup pesat ke level 8,6 persen, lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jatim yang masih tembus dua digit.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *