Reporter          : Ilex Vis

radiovisfm.com, Banyuwangi – Lebih dari 200 an Fotografer dari berbagai daerah di Indonesia ikut meramaikan ajang Banyuwangi Race Photo Competition, yang di gelar Minggu (11/3).

Mereka datang dari berbagai kota di 13 provinsi se Indonesia, diantaranya dari Jayapura, Samarinda, Bali, Pasuruan, Kalimantan Utara, Legian Kuta Bali, Jakarta, Denpasar Bali, Malang, Surabaya, Jember juga Jenggawah.

Sementara sebagai juri, Mario Blanco berdarah Spanyol dan Bali yang juga merupakan ahli fotografer Human Interest and Culture, serta Eko Sumartopo dari Surabaya yang merupakan fotografer landscaper dan pernah menjadi juri Canon Photo Marathon 2016.

Kegiatan ini di pusatkan di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Banyuwangi dan di buka langsung oleh Bupati Abdullah Azwar Anas.

Dalam sambutan singkatnya Bupati Anas mengatakan, ini adalah salah satu strategi pemerintah daerah dalam memasarkan potensi destinasi alam dan budaya Banyuwangi.

“Foto selalu berbicara lebih banyak daripada kata-kata, kemudian ini banyak pula yang di-share di media sosial sehingga sangat efektif dalam mengenalkan destinasi Banyuwangi,” papat Bupati Anas.

Sementara, Mario Blanco, fotografer yang juga salah seorang juri, memberikan acungan jempolnya atas lomba ini.

“Ini adalah cara tepat menyebarluaskan keindahan alam dan budaya Banyuwangi. Begitu banyaknya tempat wisata di Banyuwangi, dengan lomba ini maka pecinta fotografi mendapat kesempatan untuk mengeksplore dan mengekspresikan dirinya,” papar Mario.

Dia mengatakan, para fotografer mempunyai karya-karya yang berkualitas, namun terkadang mereka tidak tahu mau diapakan karyanya alias hanya disimpan.

“Dan jika ada lomba, mereka pasti berharap karyanya bisa terpampang,” ungkap Putra pelukis Italia, Antonio Blanco tersebut.

“Saya senang, lewat lomba ini bisa menjadi cara untuk mendapatkan masukan dari banyak pihak untuk mengemas Banyuwangi supaya bisa menjadi suatu destinasi wisata di Indonesia,” pungka Mario.

Usai dilepas Bupati Anas, ratusan peserta ini langsung menyebar ke sudut-sudut Desa Kemiren. Selama 2,5 jam, mereka bebas mengeksplore beragam seni, budaya dan kuliner warga suku Using – suku asli Desa Kemiren. Mulai dari perajin kesenian barong, mainan tradisional, angklung paglak, beragam UMKM makanan, pandai besi, hingga kuliner khas Suku Osing, masyarakat asli Banyuwangi. Rangkaian lomba foto ini digelar selama dua hari.

Pada hari pertama, Sabtu (10/3), para peserta mengikuti workshop fotografi dengan pemateri Mario Blanco, fotografer spesial lansekap Eko Sumartopo, dan fotografer asal Banyuwangi penyandang disabilitas, Zulkarnain. Baru di hari kedua, Minggu (11/3) mereka saling berlomba mengabadikan Desa Kemiren Kecamatan Glagah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *