radiovisfm.com, Banyuwangi – Memasuki tahun 2018 ini, Kabupaten Banyuwangi mengalami surplus beras hingga 360.000 ton. Hal ini merupakan keberhasilan para petani di Banyuwangi yang terus meningkatkan produksi padi di setiap tahunnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, daerahnya selama ini menjadi salah satu lumbung pangan di Jawa Timur. Untuk itu, pemerintah daerah terus menjalankan berbagai upaya untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan produksi pangan khususnya beras.

“Di tengah upaya pemerintah dalam memajukan daerah lewat sektor pariwisata, tapi tetap menjaga stabilisasi produksi pangan,” ujar Bupati Anas.

“Pemerintah daerah juga terus mengawal produksi padi agar jumlahnya tetap terjaga,” imbuhnya.

Oleh karena itulah, Bupati Anas mengaku Banyuwangi tidak perlu import beras karena dinilai sudah surplus bahkan bisa memasok ke berbagai daerah, utamanya di wilayah Indonesia Timur.

“Kami juga terus menjaga sistem irigasi pertanian, sekaligus menjalankan dengan baik berbagai kebijakan pertanian. Hasilnya, sistem irigasi pertanian Banyuwangi mendapat apresiasi dari pemerintah pusat karena dianggap bagus,” papar Bupati Anas.

Data Dinas Pertanian Banyuwangi menyebutkan, produksi padi pada 2017 mencapai 817.512 ton, meningkat dibanding produksi 2016 yang sebesar 790.623 ton. Luas tanam padi juga terjaga di angka 124.828 hektar.

Kepala Dinas Pertanian Arief Setiawan menambahkan, produksi beras daerah pada tahun lalu juga mengalami surplus. Produksi gabah kering sebesar 817.512 ton, setara dengan 512.907 ton beras.

“Angka ini jauh lebih tinggi dibanding kebutuhan konsumsi masyarakat Banyuwangi yang hanya 152.267 ton per tahun. Sehingga ada surplus sebesar 360.640 ton beras yang kemudian didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia,” papar Arief.

Dari produksi beras tersebut, telah diserap oleh Bulog sebanyak 85.000 ton sepanjang tahun 2017. Jumlah ini melebihi target yang ditetapkan Bulog yang hanya hanya 63.000 ton.

Arief mengaku, angka serapan Bulog ini dipastikan akan mengalami peningkatan pada bulan Maret 2018 seiring dengan musim panen raya padi Maret-April 2018. Apalagi lahan panen warga yang saat ini semakin meluas, diperkirakan mencapai 20.016 hektar pada periode Maret-April.

“Terjaganya stabilitas produksi padi di Banyuwangi, tidak lepas dari berbagai program pengembangan pertanian yang dijalankan pemerintah daerah,” tutur Arief.

Arief mengaku, tantangan paling berat yang dihadapi adalah alih fungsi lahan pertanian, namun pihaknya telah mengambil tindakan preventif dengan membuat aturan lahan abadi yang saat ini terus di matangkan oleh pemerintah daerah, seiring itu juga terus dilakukan berbagai program untuk meningkatkan produksi padi.

Peningkatan produktivitas pertanian, juga dilakukan dengan berbagai cara. Mulai meningkatkan kapasitas petani dengan mengirim tim pertanian ke sekolah lapang, mekanisasi pertanian dan bantuan bibit unggul.

“Pemkab Banyuwangi juga membikin lahan uji coba atau demplot dengan dana APBD untuk menguji coba sejumlah varietas unggul,” ujar Arief.

Selain itu, kata Arief, pihaknya juga menata sistem irigasi pertanian berkolaborasi dengan Dinas Pengairan. Dan embung-embung dibangun sebagai cadangan air saat musim kemarau tiba.

Dinas Pertanian juga membuka layanan masalah pertanian on call yang dinamakan Bilaperdu (Mobil Layanan Pertanian Terpadu). Petani cukup menelpon nomor hotline Dinas Pertanian dengan menyebutkan masalah tanamannya.

“Selanjutnya, petugas akan langsung turun ke lapangan, lengkap dengan peralatan dan obat-obatan yang diperlukan,” pungkas Arief.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *