Reporter          : Ilex Vis

radiovisfm.com, Banyuwangi – Dalam rangka meningkatkan keselamatan bandara menjelang pertemuan Annual Meeting IMF-World Bank di Bali, BMKG pusat akan memasang sejumlah sarana prasarana di bandara Banyuwangi.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat, Prof. Dwikorita Karnawati, saat berkunjung ke Banyuwangi.

“Untuk menyukseskan Annual Meeting IMF-World Bank, di Bali, yang akan dihadiri 18.000 delegasi dari 189 negara tersebut, kami berkomitmen meningkatkan keselamatan penerbangan di Bandara Ngurah Rai dan bandara-bandara pendukung guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya kondisi darurat di Bandara Ngurah Rai,” papar Dwikorita.

Dia mengaku, selain Ngurah Rai sebagai bandara utama, ada lima bandara pendukung yang akan diperkuat, yaitu Bandara Banyuwangi, Juanda Surabaya, Sultan Hasanuddin Makasar, Bandara Lombok dan Bandara Komodo di Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur.

Pada bandara-bandara tersebut, BMKG akan melengkapinya dengan peralatan yang fungsinya meningkatkan pemantauan kondisi cuaca di antaranya tekanan udara, temperatur dan kecepatan angin.

“Karena itulah, BMKG Pusat akan segera memasang alat-alat tambahan tersebut dalam waktu dekat,” ungkapnya.

Dwikorita menambahkan, untuk Bandara Banyuwangi, ada tiga alat yang akan segera dipasang. Yaitu, AWOS (Automatic Weather observation System) alat pengamatan cuaca otomatis yang ditempatkan di ujung-ujung landasan pacu bandara. Alat ini untuk mengetahui kondisi tekanan udara di ujung-ujung landasan pacu.

“Sebenarnya Bandara Banyuwangi sudah dipasangi AWOS. Tapi dengan adanya perpanjangan runway di Bandara Banyuwangi, maka kami akan menambah satu lagi untuk dipasang di ujung berikutnya,” tutur Dwikorita.

Sehingga saat pesawat take off dan landing bisa lebih terdeteksi perbedaan tekanan udaranya serta bisa disesuaikan agar tidak terjadi gangguan saat take off dan landing.

Alat berikutnya adalah Lidar, yaitu alat untuk mendeteksi sebaran partikel di udara utamanya abu vulkanik. Seandainya ada erupsi, maka alat ini akan menunjukkan ke arah mana penyebaran abu vulkaniknya. Sehingga bisa diketahui apakah mengganggu penerbangan atau tidak.

Terakhir adalah Client Radar. Alat ini untuk memantau akurasi prakiraan cuaca guna kepentingan penerbangan maupun publik.

“Tidak hanya keselamatan di jalur udara, pemerintah juga berupaya meningkatkan keselamatan pengguna jalur laut,” kata Dwikorita.

BMKG akan memasang radar maritim yang berfungsi mengukur tinggi gelombang dan kecepatan arus. Alat ini akan dipasang di dua titik, yaitu pelabuhan Boom Marina dan Pelabuhan Ketapang.

Dengan alat ini kata Dwikorita, transportasi kapal bisa terpantau untuk meningkatkan keselamatan perhubungan darat dan laut. Semua alat ini ditargetkan bisa digunakan mulai September 2018.

“ Sehingga pada Juli dan Agustus sudah mulai dipasang,” pungkasnya.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, Bandara Banyuwangi akan menjadi salah satu pendukung Bandara Ngurah Rai Bali.

Dan dia mengaku berterima kasih kepada pemerintah pusat yang bergerak cepat mematangkan persiapan Bandara Banyuwangi.

“Setelah infrastruktur fisik yang mulai diperbaiki, kini BMKG juga hadir untuk menambah sistem pengamanan di Bandara Banyuwangi,” ungkap Bupati Anas.

“Saya telah bertemu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat, untuk mematangkan peningkatan keselamatan bandara, Kamis (17/5),” tutur Bupati Anas.

Bandara Banyuwangi merupakan bandara pertama di Indonesia yang mengusung konsep bandara hijau. Sejak Desember 2017 lalu, Bandara Banyuwangi resmi dikelola PT Angkasa Pura II (Persero).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *