Top Stories

Grid List

Irjen. Pol. Drs. Rachmat Mulyana, S.H mengaku sengaja datang jauh jauh dari Jakarta ke Banyuwangi, hanya ingin menyaksikan secara langsung perhelatan Gandrung Sewu, yang di gelar di Pantai Boom Marina, Sabtu (20/10).

Perwira tinggi Polri yang sejak 13 Agustus 2018 menjabat sebagai Staf Ahli Sosial Ekonomi Kapolri, menggantikan Irjen. Pol. Bambang Sunarwibowo tersebut datang bersama istrinya, Hj Ati Rachmat Maulana berbaur dengan Menteri Pariwisata, Arief Yahya dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas duduk di kursi kehormatan.

Matanya seakan tidak berkedip dan terkagum kagum menyaksikan setiap gerakan tarian yang di persembahkan oleh sekitar 1173 penari gandrung, dari para siswi tingkat SMA se Banyuwangi. Mereka terpilih melalui seleksi dari 6000 siswi yang mendaftar.

“Saya sengaja datang dari Jakarta ke Banyuwangi hanya untuk menyaksikan pergelaran tarian kolosal ini,” kata Irjen Pol Rachmat.

“Di media sosial acara ini cukup viral, jadi saya penasaran ingin nonton,” imbuhnya.

Usai menyaksikan perhelatan yang memasuki tahun ke 7 gelaran di 2018 tersebut, perwira kelahiran 31 Januari 1965 itupun mengabadikannya dengan langsung berfoto bersama ribuan penari gandrung.

“Ini tradisi budaya lokal yang harus terus dilestarikan di tengah gempuran budaya modern,” tutur Rachmat.

“Satu kata untuk Banyuwangi, Sangat Mengesankan,” pungkasnya di dalam mengungkapkan kekagumannya terhadap Banyuwangi.

Irjen. Pol. Drs. Rachmat Mulyana, S.H memulai karirnya di kedinasan kepolisian sejak tahun 1988 dan dia berpengalaman dalam bidang reserse. 

Bahkan, pernah menjabat sebagai Kapolres Banyuwangi selama 2 tahun periode 2008-2009.

Dari catatan Kementrian Pariwisata, Festival Gandrung Sewu Banyuwangi ini masuk dalam Top 100 kalender nasional.

Di tahun 2018 ini, Gandrung Sewu mengambil tema Layar Kumendumg.

Tema Layar Kumendung merupakan salah satu judul tembang yang menjadi pengiring pada tari Gandrung. Tema ini masih berkaitan dengan tema di tahun-tahun sebelumnya yang juga mengangkat gending-gending pengiring Gandrung seperti Podo Nonton, Seblang Lukinto, dan Kembang Pepe. Tema Layar Kumendung yang diangkat pada tahun ini, menampilkan kisah heroisme Bupati pertama Banyuwangi Raden Mas Alit dalam menentang pendudukan VOC Belanda.

Meski kemudian Raden Mas Alit harus gugur dalam sebuah ekspedisi pelayaran (Layar) hingga menyebabkan kesedihan (Kumendung) bagi rakyat Banyuwangi.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam menyikapi pernyataan oknum Ormas yang menghubungkan perhelatan Gandrung Sewu dengan terjadinya bencana alam kaena dinilai sebagai suatu kemaksiatan, 3 Lembaga Nahdlatul Ulama (NU) Banyuwangi mengaku apapun jenis kesenian sesungguhnya tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Lantaran kesenian bersifat lokalistik, sedangkan nilai nilai islam bersifat universal. Misalnya, upacara Petik Laut di Muncar adalah ungkapan syukur atas hasil laut. Juga tradisi Kebo Keboan dan Seblang dinilai sebagai ungkap syukur kepada Tuhan atas hasil hasil Bumi.

Hal itu di sampaikan Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Banyuwangi, KH Sholehuddin di kantor PCNU Banyuwangi.

“Menerima nilai nilai syukur itu sebagai suatu perilaku keagamaan yang diajarkan islam. Bukan melihat bagaimana syukur itu di ungkapkan, karena setiap ungkapan akan berbeda beda atau lokalistik sifatnya,” papar Sholehuddin.

Dia menjelaskan, kebudayaan adalah seni kehidupan yang ditegakkan dan di gerakkan oleh begitu banyak unsur di tengah masyarakat. Dan bentuk kesenian itu sendiri dinilai hasil dari gerak kebudayaan, bukan budaya itu sendiri. Sementara budaya itu sendiri ialah gerak kreatif atau gerak kontinyu yang kemudian menciptakan bentuk bentuk kesenian.

“Kesenian sebagai bentuk atau hasil kebudayaan tidak dapat berubah. Tetapi kebudayaan senantiasa berubah, sehingga kebudayaan dapat memodifikasi bentuk bentuk kesenian,” ujar Sholehuddin.

Diakui pula, Gandrung adalah hasil kebudayaan Banyuwangi, tarian yang menyimbolkan ungkapan syukur kepada Pencipta dan symbol perlawanan kepada penindasan. Busana Gandrung pun tentu tidak dapat dirubah dengan “ baju agama” karena seni bukan agama.

“Oleh karena itulah, agama tidak perlu menyerang kesenian karena agama lebih agung daripada kesenian. Agama adalah ruh kebudayaan atau bagian integral dari kebudayaan,” kata Sholehuddin.

Sementara yang perlu di lakukan agama ialah memesrai gerak budaya dalam keutuhan dan bukan subordinasi atasnya.

Sholehuddin menambahkan, berdasarkan rilis resmi BMKG Banyuwangi yang menjelaskan bahwa factor factor penyebab gempa itu karena adanya pergeseran kerak bumi (lempeng) atau bisa juga karena getaran dari letusan gunung berapi.

Hal ini di lontarkannya di dalam menyikapi adanya pernyataan kelompok agama tertentu yang berpendapat bahwa fenomena alam gempa dan bencana alam lainnya, di akibatkan karena perilaku maksiat masyarakat dan kemudian menyerukan untuk menghentikan berbagai kegiatan yang di anggap bisa mendatangkan bencana sehingga menimbulkan pro kontra di masyarakat.

Dalam hal ini, 3 lembaga NU Banyuwangi yakni Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam PCNU), Lembaga Bahtsul Masail (LBM PCNU) dan Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi PCNU) memberikan pernyataan sikap bahwa, sebuah pemahaman keagamaan apapun dinilai tidak boleh di paksakan, apalagi pemahaman yang bersifat sepihak untuk menjadi pemahaman bersama di masyarakat.

“Terlebih di paksakan untuk dijadikan sebuah kebijakan di pemerintahan,” tutur Sholehuddin.

“Pemerintah daerah dan aparat kepolisian wajib melakukan upaya antisipasi dan pencegahan atas gerakan apapun yang terindikasi memaksakan kehendak,” pungkas Sholehuddin.

Senada dengan Sholehuddin, Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi, Zainal Mustofa juga meminta semua elemen bangsa harus terus melakukan kajian dan edukasi sehingga perbedaan pandangan seagama maupun antar agama tidak menjadi pemicu koflik dan alat profokasi di masyarakat.

“Kami tidak mendukung terhadap segala bentuk kemaksiatan, tapi apabila terjadi kemaksiatan dari hasil kajian secara komprehensif, maka kami akan menghilangkannya dengan tidak meninggalkan prinsip prinsip dasar Amar Ma’ruf Nahi Mungkar,” papar Zainal.

Dalam hal ini, dia juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan nilai nilai toleransi guna menjaga kerukunan dan ketentraman di masyarakat.

“Kami minta pihak kepolisian untuk melihat persoalan ini dari sisi hukum,” ungkap Zainal.

Jika perbuatan memaksakan pendapat atau kehendak dalam kehidupan masyarakat termasuk dalam kategori melanggar hukum, maka pihaknya berharap dapat di proses oleh pihak kepolisian sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk ke 7 kalinya, di tahun 2018 ini Pemkab Banyuwangi kembali menggelar Festival Gandrung Sewu dengan melibatkan sekitar seribuan lebih penari yang dinilai sebagai media untuk mempelajari kepahlawan melawan penjajah.

Festival Gandrung Sewu ini di gelar pada Sabtu 20 Oktober 2018 di area pantai Boom Marina, dengan melibatkan 1173 penari yang sebagian besar adalah para pelajar tingkat SMP dan SMA se Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku bersyukur karena selama ini Festival Gandrung Sewu telah disambut antusias oleh wisatawan.

“Ini berdampak positif ke ekonomi lokal, ada ribuan warga yang menerima berkah ekonominya, mulai warung, jasa transportasi, restoran, homestay, hotel, sampai UMKM produsen oleh-oleh,” papar Bupati Anas.

Dia menjelaskan, kedatangan ribuan wisatawan dalam dan luar negeri untuk menyaksikan perhelatan Gandrung Sewu tersebut secara langsung ikut menambah pendapatan warga Banyuwangi. 

“Yang di harapkan bisa terus meningkat dan ikut menciptakan peluang ekonomi bagi warga,” ungkap Bupati Anas.

Tari Gandrung sendiri adalah tari khas daerah yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Bukan Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di masa kolonialisme, Tari Gandrung adalah bagian tak terpisahkan dari taktik untuk melawan penjajahan.

Bupati Anas menjelaskan, tahun ini, pergelaran Gandrung Sewu mengangkat tema “Layar Kumendung”.

Penonton tidak hanya akan menyaksikan kemegahan tarian, tapi juga fragmen drama kepahlawanan yang menyertainya. Pertunjukan ini melibatkan sebanyak 1173 penari, 64 penampil fragmen, dan 65 pemusik.  Di pertunjukkan ini, koreografi tarian diselingi dengan fragmen drama Layar Kumendung dengan perbandingan 70 persen tarian dan 30 persen fragmen.

“Dijamin pertunjukan Gandrung Sewu akan semakin menarik,” tutur Bupati Anas.

Sementara itu, mengenai adanya pro dan kontra di masyarakat melalui medsos terhadap perhelatan yang telah masuk dalam salah satu rangkaian Banyuwangi Festival tersebut, Bupati Anas menganggap ini sebagai masukan untuk lebih menyempurnakan kegiatan kebudayaan tersebut ke depannya.

“Tidak harus membenturkan antara budaya dan agama yang akhirnya harus mengorbankan yang lain,” kata Bupati Anas.

Menurutnya, para budayawan telah mempersiapkan perhelatan Gandrung Sewu ini di setiap tahunnya, mulai dari seleksi penari, koreografi hingga melatih sendiri.

“Ini sebagai kemandirian para budayawan untuk menampilkan Gandrung Sewu dengan baik,” ujar Bupati Anas.

Sementara, menurut Bupati Anas, Pemerintah Daerah mendukung apa yang terbaik yang di lakukan oleh para budayawan, termasuk gelaran Gandrung Sewu.

Tema Layar Kumendung merupakan salah satu judul tembang yang menjadi pengiring pada tari Gandrung. Tema ini masih berkaitan dengan tema di tahun-tahun sebelumnya yang juga mengangkat gending-gending pengiring Gandrung seperti Podo Nonton, Seblang Lukinto, dan Kembang Pepe.

Tema Layar Kumendung yang diangkat pada tahun ini, menampilkan kisah heroisme Bupati pertama Banyuwangi Raden Mas Alit dalam menentang pendudukan VOC Belanda. Meski kemudian Raden Mas Alit harus gugur dalam sebuah ekspedisi pelayaran (Layar) hingga menyebabkan kesedihan (Kumendung) bagi rakyat Banyuwangi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seni Hadrah Kuntulan akan mewarnai penampilan Gandrung Sewu yang di gelar di pantai Boom Marina pada Sabtu 20 Oktober 2018. Kesenian Hadrah Kuntulan akan menjadi pembuka dalam perhelatan yang sudah di laksanakan untuk ke 7 kalinya ini.

Sebanyak 150 anak muda akan melantunkan bait-bait pujian Islami dengan alunan musik hadrah.

Sabar Harianto, pelatih seni kuntulan yang merupakan salah satu budaya khas Banyuwangi mengatakan, mereka akan mengumandangkan puji-pujian tentang keagungan Allah SWT dan shalawat, yang di dalamnya juga terselip doa dan permohonan ampunan seorang hamba kepada Sang Khalik, serta memohon keselamatan dunia akhirat.

“Di Banyuwangi, Tari Kuntulan biasanya tampil pada waktu peringatan hari besar keagamaan,” ujar Sabar.

Para penarinya menampilkan tari Rodat, dengan memakai kerudung, sarung tangan, dan kaus kaki. Setiap tahun juga digelar Festival Kuntulan yang mempertemukan berbagai kelompok musik Islami dari seluruh Banyuwangi.

“Para penari Kuntulan ini akan menampilkan koreografi yang didominasi permainan tangan dan badan. Mereka terus berlatih untuk menyiapkan penampilannya. Serta perpaduan dengan musik Hadrah juga terus diasah,” papar Sabar.

Selain hadrah kuntulan, para penonton juga menyaksikan aksi qori (pembaca Al Quran) Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi, Muhamad Qudus, yang akan melantunkan sholawat Nabi. Qudus akan diiringi hadrah Al Banjari untuk mengumandangkan puji-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda menjelaskan, seni hadrah kuntulan itu dipastikan bakal semakin menyemarakkan Festival Gandrung Sewu.

Bramuda menjelaskan, tahun ini, pergelaran Gandrung Sewu mengangkat tema “Layar Kumendung”.

“Tema ini mengacu dari salah satu tembang yang menjadi pengiring pada tari Gandrung,” tuturnya.

Ceritanya menampilkan kisah heroisme Bupati pertama Banyuwangi, Raden Mas Alit dalam menentang pendudukan VOC Belanda. Meski kemudian Raden Mas Alit harus gugur dalam ekspedisi pelayaran (Layar) hingga menyebabkan kesedihan (Kumendung) bagi rakyat Banyuwangi.

“Kisah kepahlawanan itu dikemas dalam fragmen menarik, sehingga pertunjukan ini tidak sekadar peristiwa seni dan budaya namun juga menjadi media untuk kembali mengingat sejarah pahlawan yang telah berjasa bagi daerah Banyuwangi,” papar Bramuda.

“Sehingga masyarakat bisa terus mencintai daerah ini serta tergerak untuk memajukan,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berharap, tampilnya kuntulan hadrah itu bakal semakin menumbuhkan iklim mencintai seni-budaya daerah.

“Saya ingin anak-anak muda juga mencintai seni kuntulan sekaligus bagian dari dakwah,” ujar Bupati Anas.

“Selain itu, tentu kesenian-kesenian lainnya agar bisa terus lestari di tengah kemajuan zaman dan gempuran seni-budaya global,” pungkasnya.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Menjelang perhelatan Festival Gandrung Sewu yang di gelar Sabtu 20 Oktober 2018, okupansi hotel di Banyuwangi melonjak cukup segnifikan.

Ribuan wisatawan datang ke Banyuwangi untuk menyaksikan perhelatan yang sudah di gelar untuk ke 7 kalinya ditahun ini tersebut. Sebagian besar hotel di Banyuwangi telah kehabisan kamar.

General Manager Hotel El Royale Agus Setiawan mengatakan, tingkat hunian kamar di hotel bintang empat yang dikelolalanya untuk pekan ini memang mengalami peningkatan tajam.

“Dari 161 kamar yang ada, hanya tersisa 3 kamar,” ujar Agus

Diakui, peningkatan ini sudah terjadi mulai hari senin (15/10) hingga Minggu (21/10). Hari biasa okupansi hanya berkisar 60 persen, pekan ini 95 persen, bahkan hari Jumat ini sudah 100 persen.

“Meningkatnya jumlah hunian kamar di hotel kami ini, salah satunya diisi wisatasan yang akan menonton Festival Gandrung Sewu,” ungkap Agus.

Mereka rata-rata mulai masuk sejak Kamis (18/10) dan Jumat (19/10), lalu akan keluar pada Minggu (21/10).

Agus mengatakan, setiap ada festival di Banyuwangi dipastikan berimbas dengan hunian hotel El Royale.

“Para wisatawan rata-rata juga menyewa kendaraan selama di Banyuwangi dari para pelaku usaha jasa transportasi local,” imbuh Agus.

Kenaikan tajam tingkat okupansi juga terjadi di seluruh hotel berbintang di Banyuwangi, mulai Dialoog Hotel, Illira, Aston, Santika, Ketapang Indah, hingga yang berkonsep resor dan villa seperti Solong Villa.

Pengelola hotel Ketapang Indah Banyuwangi, Hawa Suciati mengatakan, pada akhir pekan ini tepatnya mulai Jumat-Sabtu (19-20/10), okupansi hotel yang terletak di pinggir pantai tersebut mencapai lebih dari 90 persen. 

“Pelanggannya rata-rata wisatawan yang berlibur di Banyuwangi baik dalam negeri maupun mancanegara. Mereka sengaja untuk berwisata sekaligus menonton Festival Gandrung Sewu,” papar Agus.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY. Bramuda mengatakan, pihaknya gembira karena festival yang digelar oleh pemerintah daerah dinilai memberikan dampak positif bagi geliat ekonomi termasuk hotel.

“Efek domino dari perhelatan Festival Gandrung Sewu dinilai cukup banyak mulai hotel, para driver yang disewa wisatawan, warung-warung, pusat oleh-oleh, dan sebagainya,” ungkap Bramuda.

“Kehadiran ribuan wisatawan di Festival Gandrung Sewu menjadi berkah ekonomi bagi warga Banyuwangi,” pungkasnya.

Selain hotel dan penginapan, yang juga mendapat berkah ekonomi dari kedatangan wisatawan pada perhelatan Gandrung Sewu ini adalah para pelaku usaha kuliner khas, mulai dari warung pinggir jalan sampai restoran.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk menggali spirit Transformasi, para Banker menggelar Meeting Top Managemen di Banyuwangi. Rupanya, transformasi Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang berkembang di Indonesia, menjadi inspirasi banyak pihak.

Termasuk para banker tersebut yang juga terilhami dengan kisah Banyuwangi dan mereka datang langsung ke Banyuwangi ingin menyerap semangat transformasi. 

Lebih dari 100 jajaran top manajemen Bank CIMB Niaga melakukan meeting di Banyuwangi. Mereka sengaja memilih Banyuwangi untuk menggali spirit transformasi yang dilakukan daerah di ujung timur Jawa itu. 

Presiden Direktur CIMB Niaga Tigor M. Siahaan saat gala dinner di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Kamis malam (18/10) mengaku, pihaknya banyak mendengar selama ini bagaimana Banyuwangi melakukan transformasi dalam banyak hal.

“Spirit inilah yang coba kami serap dari Banyuwangi,” tutur Tigor.

“Transformasi Banyuwangi, menjadi contoh yang tepat untuk jajaran manajemen CIMB Niaga,” imbuhnya.

Bagaimana yang dulu sebagai daerah yang tidak dikenal, kini berubah menjadi daerah yang banyak diperbincangkan. Tidak hanya di tingkat nasional, tapi juga di level internasional. 

“Di era disrupsi seperti saat ini, perbankan harus cepat beradaptasi dan bertransformasi. Diantaranya menjadi perbankan yang tanggap terhadap konsumen,” papar Tigor.

Transformasi seperti inilah yang diakui Tigor harus dipelajari dari Banyuwangi. Lebih dari itu, dia juga tertegun dengan kemajuan Banyuwangi. Mulai dari pariwisatanya hingga tingkat kebersihannya.

“Saya buktikan langsung tentang apa yang saya dengar selama ini mengenai Banyuwangi. Ternyata lebih dari ekspetasi yang ada di benak saya,” papar Tigor.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut hangat kedatangan rombongan dari CIMB Niaga. Baginya, kedatangan mereka tidak sekadar tamu. Namun, menjadi mitra yang turut mempromosikan Banyuwangi. 

“Karena saya harap, mereka bisa kembali datang ke Banyuwangi mengajak keluarga dan koleganya,” tutur Bupati Anas.

Bagi Bupati Anas sendiri, CIMB Niaga adalah kawan lama. Pada masa awal kepemimpinannya, dia diperkenalkan ke dunia perbankan oleh almarhum Robby Djohan, Presiden Direktur Bank Niaga yang menjadi cikal bakal CIMB Niaga. 

“Dia tidak hanya mengajari saya mengenai bagaimana cara mengambil keputusan, tapi juga banyak memperkenalkannya kepada para banker,” ujar Bupati Anas.

Rombongan CIMB Niaga mengadakan kegiatan di Banyuwangi selama empat hari sejak Rabu (17/10). Tidak hanya melakukan meeting, tapi juga diagendakan berwisata. Antara lain di Bangsring Underwater, Gunung Ijen dan menyaksikan pagelaran Gandrung Sewu.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah mengapresiasi pembukaan galeri lukis oleh perupa nasional asal Banyuwangi, S.Yadi K, yang dinilai akan semakin memperkaya khazanah kesenian dan kebudayaan di Banyuwangi.

Hal ini di sampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka galeri tersebut, Senin malam (01/10).

Galeri seni yang berada di jalan Kuntulan, nomor 135, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah ini menyajikan puluhan lukisan karya S Yadi K dan para pelukis asal Banyuwangi lainnya.

Tampak hadir puluhan seniman dan budayawan Banyuwangi dalam pembukaan semalam tersebut. Hadir pula budayawan nasional dan penulis buku Candra Malik pada kesempatan tersebut.

Bupati Anas mengatakan, Kesenian Banyuwangi memiliki keistimewaan tersendiri. Mulai dari lagu, tari-tarian hingga karya lukis para perupanya.

“Tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga di nasional, bahkan kancah internasional,” ujarnya.

Menurut Bupati Anas, dengan adanya galeri ini, seni lukis dinilai akan semakin memperbesar sumbangsihnya pada khazanah kebudayaan di Banyuwangi.

Yadi merupakan salah seorang pelukis kenamaan Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di tingkat nasional maupun internasional. Pameran tunggalnya pernah dihelat di Edwin Gallery dan Taman Ismil Marzuki Jakarta.

Salah satu karyanya berjudul "Paju Gandrung" menjadi salah satu koleksi istana negara. Beberapa karyanya juga pernah dilelang di Balai Lelang Christie's dan Shotheby's di Singapura.

Dalam kesempatan itu, Bupati Anas juga mendorong tempat tersebut tidak hanya eksklusif untuk para pecinta seni saja. Namun, juga bisa menjadi salah satu alternative destinasi wisata baru di Banyuwangi.

“Selama ini banyak tamu saya penasaran dengan proses kreatif dari Yadi,” tutur Bupati Anas.

“Akan lebih menarik bila wisatawan bisa langsung datang ke galeri Yadi,” imbuhnya.

Selain menikmati lukisan, mereka juga bisa menyaksikan dan terlibat langsung dari aktivitas melukis.

Keberadaan Omah Seni tersebut, lanjut Bupati Anas, akan melengkapi destinasi Gunung Ijen. Para wisatawan setelah mendaki ke Ijen, bisa menikmati jenis wisata lain di bawahnya.

Selain Taman Terakota Gandrung di Jiwa Jawa Resort yang menonjolkan seni patung, mereka juga bisa menikmati seni lukis di Omah Seni S Yadi K tersebut.

“Apalagi, tempat tersebut terhitung masih dalam satu jalur menuju ke Ijen. Ini akan jadi destinasi minat khusus yang menarik wisatawan,” papar Bupati Anas.

Dia juga berjanji bakal turut serta mempromosikan keberadaan galeri tersebut.

“Ini akan jadi paket-paket wisata yang bakal ditawarkan kepada wisatawan yang ke Banyuwangi,” tutur Bupati Anas.

Apalagi sebentar lagi akan ada Annual Meeting IMF World Bank. Sehingga dinilai mereka akan tertarik dengan kesenian semacam ini.

“Selama ini kami banyak melibatkan para seniman dan budayawan dalam menentukan kebijakan. Terutama dalam menentukan berbagai bangunan-bangunan besar, seperti hotel dan tempat-tempat umum,” papar Bupati Anas.

Dicontohkan, arsitek hotel ataupun tempat-tempat umum di Banyuwangi di wajibkan untuk presentasi terlebih dahulu kepada para seniman dan budayawan. Mereka harus memastikan bangunan yang ada akan mengadaptasi konsep kebudayaan lokal. Di sejumlah hotel, bahkan sudah ada lukisan dan potret tentang Banyuwangi di setiap kamarnya.

“Di sinilah kami menitipkan peradaban Banyuwangi,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, S Yadi K merasa tertantang dengan dorongan dari Bupati Anas. Ia menyampaikan bahwa geleri seninya tersebut akan menjadi pusat berkegiatan para perupa di Banyuwangi. Nantinya, mereka akan menggelar workshop maupun pameran di tempat tersebut.

“Galeri saya ini akan menjadi markas para perupa Banyuwangi yang siapa saja nantinya bisa berkunjung,” kata Yadi.

Dia juga mendukung ide Bupati Anas, yang diharapkan galeri seninya bisa menjadi bagian dari mengembangkan seni di Banyuwangi.

Acara tersebut juga dibarengi dengan pagelaran pameran lukisan bertajuk Kembang Kawitan. Berbagai karya lukis dari perupa Banyuwangi ditampilkan di Omah Seni S Yadi K. Pameran tersebut dijadwalkan satu bulan penuh hingga November mendatang.

 

 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Delapan buruh bangunan harus mendekam di sel tahanan Polsek Ilir Timur II, Sumatera Selatan, lantaran kedapatan mengkonsumsi sabu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI George E. Supit memerintahkan satuan TNI kewilayahan untuk membentuk tim SAR (Search and Rescue) dalam membantu pencarian pesawat Dimonim Air.

MAGELANG, KOMPAS.com - Sebagian wilayah di lereng pegunungan Menoreh, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mulai mengalami krisi air bersih sebagai dampak musim kemarau.

MATARAM, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) mencatat telah terjadi sebanyak 344 kali gempa di Lombok sampai Kamis (9/8/2018) pagi.

SOLO, KOMPAS.com — Gempa bermagnitudo 7 di Lombok, Nusa Tenggara Barat ( NTB), pada Minggu (5/8/2018), membubarkan acara makan malam para menteri dari Indonesia dan Australia.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) menginginkan level International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) naik tingkat menjadi 2.1.

Direktur Kompetisi Manager PB ISSI, Sondi Sampurno mengatakan, di 2018 ini pelaksanaan ITdBI telah memasuki tahun ke 7.

“Saya sarankan agar levelnya sudah bisa naik 2.1 pada pelaksanaan di tahun 2019 mendatang,” ujar Sondi.

Sehingga menurut Sondi, nantinya akan banyak lagi tim yang datang dan mengikuti kegiatan ini serta nama ITdBI semakin terangkat.

“ITdBI sudah memenuhi syarat untuk naik level 2.1 karena sarana prasarananya sudah mendukung,” tutur Sondi.

Seperti, semakin banyak berdiri hotel berkelas serta kendaraan dan medan yang menjadi jalur para pembalap juga dinilai cukup bagus.

Sondi mengaku, kompetisi balap sepeda di Indonesia yang masuk level 2.1 baru satu yakni Tour de Indonesia milik PB ISSI.

“Pada tahap awal untuk menjadi 2.1 memang sangat berat. Tapi percaya, Banyuwangi akan bisa mengatasi berbagai persyarakatan untuk bisa naik level itu,” papar Sondi.

Sementara, Director ITdBI, Jamaluddin Mahmood mengaku tidak setuju ITdBI naik level menjadi 2.1 karena dinilai persiapannya cukup berat serta membutuhkan biaya mahal. Dicontohkan, jika sudah masuk level 2.1 maka minimal harus ada 3 tim dari pro continental, sedangkan untuk mendatangkan 1 tim membutuhkan biaya 30.000 dolar.

“Selain itu, nominal hadiahnya juga harus naik 2 kali lipat dibanding masih level 2.2,” kata Jamal.

Tidak hanya itu, menurut Jamal mobil yang di gunakan untuk setiap tim harus jenis sedan yang di lengkapi dengan 1 set roof racks di atas mobil untuk tempat sepeda, dan itupun warna mobilnya harus sama.

“Jika untuk menyewa sedan dengan jenis dan warna yang sama dipastikan membutuhkan biaya cukup besar,” papar Jamal.

Dan apabila ada 22 tim yang mengikut, maka harus ada 22 mobil sedan yang sama. Sedangkan harga 1 set roof racks saja mencapai 1.200 dolar.

Sementara untuk di 2018, ITdBI di gelar selama 4 hari sejak 26 hingga 29 September yang terbagi dalam 4 etape dengan total jarak tempuh 599 KM.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Federasi Balap Sepeda Dunia (UCI) menilai, kualitas kompetisi balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) masuk dalam level 2.2 terbaik Asia.

Director ITDBI, Jamaluddin Mahmood, mengatakan, digelar sejak 2012, kualitas balap sepeda internasional level 2.2 yang telah masuk agenda rutin UCI itu terus meningkat. Sehingga berdampak pada kemudahan mengundang tim mancanegara. 

“Jika sebelumnya untuk mengundang tim, Banyuwangi harus subsidi. Tapi saat ini mereka langsung datang. Seperti Kinan Cycling Team, juara Asia Tour, ikut tanpa subsidi,” papar Jamal.

“Yang terpenting mereka bisa datang balapan dan menambah poin UCI,” imbuh Warga Malaysia yang malang-melintang menangani ajang balap di berbagai negara tersebut.

Dia menjelaskan, saat ini ITdBI sudah digolongkan sebagai balap level 2.2 terbaik bahkan di Asia. Level 2.2 sendiri adalah tiga tingkat di bawah World Tour Team seperti Tour de France.

“Selain Banyuwangi, ada China, Jepang, Hongkong, Langkawi juga Kazakhstan,” ungkap Jamal.

Predikat terbaik tersebut diberikan karena kualitas lomba. Begitu juga antusiasme penonton yang tinggi, namun trafik tetap terjaga. Dan yang tidak kalah penting adalah nilai jual event berkat dukungan media.

“Saya optimistis, ITDBI makin banyak diramaikan tim mancanegara, apalagi fasilitas di Banyuwangi terus tumbuh,” kata Jamal.

“Jika sebelumnya karena keterbatasan hotel, tim hanya membawa 5 pembalap, tapi kini hotel di Banyuwangi tambah banyak dan setiap tim bisa mengirimkan 6-7 orang pembalap sehingga bisa mencapai 22 tim yang ikut kompetisi ini,” papar Jamal.

Salah satu pembalap yang sangat senang ikut kompetisi ITdBI ini adalah Benjamin Dyball. Dia bersama timnya yang tergabung dalam St George Continental Cycling Australia sangat menikmati seluruh rute.

“Banyuwangi indah, saya suka makanannya,” kata Dyball.

Pada ITdBI 2018 ini, Benjamin Dybal merupakan juara umum.

Para commissaire (juri) dari Federasi Balap Sepeda Dunia alias UCI (Union Cycliste Internationale) kompak menilai ITDBI 2018 berjalan sukses. Seperti yang di sampaikan juri asal China, Zhao Jinshan yang mengaku ITDBI adalah pelaksanaan terbaik lomba balap sepeda 2.2 yang pernah dia ikuti.

Sementara, juri asal Jepang, Tsunenori Kikuchi mengatakan, ini merupakan salah satu balap sepeda kategori 2.2 terbaik, tidak hanya di Asia, namun di dunia.

“Saya selalu suka suasana Gunung Ijen,” tutur Kikuchi.

Commissaire Michale Robb dari Irlandia mengatakan, dirinya telah banyak mengikuti balap sepeda mewakili UCI.

“Rute yang disajikan Banyuwangi lebih bagus dibanding berbagai negara. Misalnya, rute tanjakan menuju Gunung Ijen,” ujar Micky.

Rute ini salah satu terekstrem di Asia karena melalui tanjakan berketinggian 1880 meter di atas permukaan laut dan tingkat elevasi 20 persen. Rutenya menyajikan kemiringan lereng 45 derajat.

“Rute di ITdBI mirip dengan kejuaraan World Tour yang pernah di ikutinya, salah satunya Giro Italia yang Excellent route,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Azwar Anas berterima kasih atas dukungan berbagai pihak terhadap pelaksanaan ITDBI.

“Dari tahun ke tahun kami terus berbenah,” kata Bupati Anas.

“Bagi saya, ITDBI bukan hanya ajang olahraga berbalut wisata, tapi juga bagian dari konsolidasi perbaikan infrastruktur dan pengungkit ekonomi daerah,” paparnya.

Bupati Anas juga mengaku, perhelatan ITdBI ini dipastikan akan kembali di gelar di tahun 2019 mendatang.

Sementara untuk di 2018, ITdBI di gelar selama 4 hari sejak 26 hingga 29 September yang terbagi dalam 4 etape dengan total jarak tempuh 599 KM.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk menjaga stamina agar tetap kuat selama mengikuti kompetisi balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), para pembalap mengkonsumsi sejumlah makanan bernutrisi tinggi.

Pada ITdBI 2018 ini, para pembalap harus menempuh lintasan sejauh 599 KM selama 4 hari yang terbagi dalam 4 etape. Dan tentunya ini dibutuhkan stamina yang kuat untuk bisa menyelesaikan perhelatan yang telah masuk dalam level 2.2 terbaik di Asia tersebut.

Lantas, apa saja yang dikonsumsi para pembalap untuk menjaga daya tahan tubuh mereka?

Vera Shafira, Director Operational eL Royale Hotel and Resort Banyuwangi, mengatakan, setiap makan malam dan sarapan pihaknya menyiapkan ratusan omelet telur untuk konsumsi para pembalap. 

“Sekali makan, pembalap itu bisa menghabiskan enam hingga delapan omelet telur,” ujar Vera.

Dia mengatakan, di eL Royale terdapat sekitar 105 tamu yang terlibat di ITdBI. Mulai dari pembalap, official, tim teknis lainnya. Tiap penyajian makan malam dan sarapan, para pembalap meminta menu khusus. Dan permintaanya lebih banyak telur juga daging.

“Untuk karbohidratnya, nasi dan pasta harus selalu ada. Roti juga disediakan banyak. Selain itu, makanan tidak boleh pedas,” papar Vera.

Menurut Vera, para pembalap lebih menyukai omlet. Pernah disiapkan telur rebus, hanya beberapa pembalap yang mengonsumsi. 

Oleh karena itulah, Vera mengaku pihaknya selalu menyiapkan ratusan telur untuk omlet di setiap makan malam dan sarapan. Dan ini tidak pernah ada komplain dari panitia tentang menu disajikan.

“Selain itu, buah-buahan juga harus tersedia untuk pembalap dan mereka banyak yang menyukai semangka,” tutur Vera.

Chairman ITdBI 2018, Guntur Priambodo, mengatakan saat balapan, mereka membutuhkan nutrisi kompleks. Seperti, makanan tinggi protein, karborhidrat rendah glukosa, elektrolit, dan vitamin yang bisa membentuk otot-otot neurotrophic.

“Rute ITdBI sangat panjang ditambah cuaca yang panas selama empat etape,” kata Guntur.

“Setiap satu jam energi pembalap habis, sehingga perlu asupan nutrisi tepat waktu,” imbuhnya.

Nutrisi ini seperti vitamin, karbohidrat murni yang bisa didapat dari oatmeal, beras merah, kacang-kacangan, buah pisang, dan kurma. Air minum dan susu murni juga menjadi faktor penting. 

Guntur menjelaskan, setiap satu jam, harus ada nutrisi masuk tubuh. Apalagi saat balapan jangan sampai terlambat, agar tidak terjadi defisiensi karbohidrat yang bikin tubuh melemah.

Untuk menjaga asupan nutrisi, Niels Van Der Pijl, pembalap Belanda dari PCS Cycling Team selalu membawa dua pisang, dua snack power bar, dan satu botol minuman elektrolit yang diselipkan di belakang kaosnya selama balapan untuk mengganti energy yang hilang.

“Tapi sesekali saya juga mencoba kuliner khas nusantara,” ujar Niels.

Seperti yang dilakukannya sesaat sebelum ikut lomba di etape tiga. Sambil ngopi, Niels bersama rekan-rekannya satu tim membeli krupuk ikan yang dijajakan oleh pedagang keliling.

“Kopi Banyuwangi cukup enak,” pungkasnya.

Tidak hanya dari Belanda, sejumlah pembalap lain dari Eropa dan Jepang sering terlihat ngopi di warung-warung sekitar lokasi start. 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi – Federasi Balap Sepeda Dunia (UCI) me nilai, sepanjang empat etape rute yang disuguhkan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018 begitu menantang, dan bahkan sudah berkelas dunia.

Commissaire 2 UCI (Union Cycliste Internationale) Michale Robb dari Irlandia mengatakan dirinya sudah banyak mengikuti kejuaraan dunia mewakili UCI. Rute yang disajikan ITdBI menurutnya tidak kalah dengan kejuaraan dunia di berbagai negara.

"Semua rutenya dari stage 1 sampai terakhir sempurna, tidak kalah dengan Eropa. Pemandangannya juga sangat indah, setelah pulang saya akan promosi tentang Banyuwangi dan mengajak orang orang untuk berwisata dan berinvestasi di Banyuwangi," ujar Micky, panggilan akrabnya.

Rute ITdBI juga dinilai sangat menantang dan teknikal bagi para pembalap. Dimulai dari etape 3 yang menurut Micky sangat pas pilihan rutenya.

“Di etape ini, pembalap melewati dua tanjakan yang masuk kategori 3, dan rutenya rolling (naik turun),” tutur Micky. 

Hal yang sama juga di etape 4, yang menyajikan tanjakan menuju Gunung Ijen. Rute ini memang menjadi yang terberat karena melalui tanjakan Gunung Ijen dengan ketinggian 1880 mdpl dan tingkat elevasi hingga 20 persen. Rutenya juga menyajikan kemiringan lereng hingga 45 derajat.

"Excellent route, sangat teknikal. Saya pernah ikut World Tour salah satunya Giro de Italia, rute disini mirip dengan kejuaraan tersebut," kata Micky.

"Semua berjalan dengan lancar aman dan sesuai standar, tidak ada komplain. Panitia sudah melakukan pekerjaannya dengan baik, well organized, saya juga merasa nyaman disini. Terima kasih untuk semuanya, saya merasa beruntung terlibat di even ini," papar Micky.

Terkait rute, jawara ITDBI 2018 Benjamin Dybal mengaku jika rute etape 1 hingga 4 semuanya berat. Dan etape empat membuatnya harus ektra menguras tenaga dan mengatur teknik bersepeda.

"Saya sudah berulang kali menghadapi tanjakan. Ini adalah tanjakan terberat  yang pernah saya taklukkan. Mungkin satu dari tiga tanjakan terberat yang pernah saya selesaikan sepanjang karier balapan saya," sebut pembalap berusia 29 tahun itu.

Tidak hanya memuji pilihan rute ITdBI Micky juga menilai keseluruhan pelaksanaan ITdBI telah dilakukan secara profesional. Mulai penataan lokasi start dan finish termasuk penataan barrier, pengambilan video semua terkoordinasi dengan baik.

Ditambahkan Commissaire 3 ITdBI Tsunenori Kikuchi di setiap tahun dirinya terlibat di even ITdBI selalu ada kejutan. Tahun ini dia sangat suka dengan area finish etape ke empat yang berlangsung di area Gunung Ranti yang lokasinya terpaut hanya 50 meter dari Paltuding Ijen.

“Lokasi ini menyuguhkan panorama lansekap pegunungan yang indah dengan latar Gunung Ranti yang menjulang gagah,” ungkap Kikuchi.

"Saya merasa ITdBI adalah lomba yang terbaik untuk kategori 2.2 tidak hanya di Asia tapi di dunia," cetusnya. 

Sementara itu Bupati Abdullah Azwar Anas menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan kepada ITdBI oleh para juri tersebut.

Bupati Anas mengatakan Banyuwangi senantiasa memperbaiki kualitas penyelenggaraan ITdBI sebagaimana masukan dari UCI setiap tahunnya.

"Kami ingin memberikan yang terbaik bagi para pembalap yang bertanding di even ini," ujar Bupati Anas.

Dia menambahkan Banyuwangi sendiri memiliki potensi alam yang kaya dan inilah yang ingin ditonjolkan pada ITdBI. Lansekap Banyuwangi dengan segala keeksotikan alamnya, mampu menjadi panggung yang indah bagi para pembalap. 

"Banyuwangi adalah daerah terluas di Jawa Timur, didukung komitmen untuk terus memperbaiki infrastruktur daerah, kami akan terus berusaha menyajikan rute yang menantang dan menarik bagi pembalap dunia ini," pungkas Bupati Anas.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pembalap Australia menjadi juara umum di kompetisi balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018 etape 4, Sabtu (29/9) setelah berhasil menaklukkan tanjakan menuju kawah Ijen yang tergolong terekstrim di Asia.

Dia adalah Benjamin Dyball bernomor punggung 93 dari tim St George Continental Cycling Australia, menjadi yang tercepat sejak start di Pasar Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran dan finish di Paltuding Kawah Ijen di lintasan sepanjang 127,2 KM dengan catatan waktu 3 jam 49 menit 44 detik.

Selisih waktu 47 detik dari pemenang etape ketiga Jesse Ewart (Tim Sapura Cycling Malaysia) dan Thomas Lebas (Tim Kinan Cycling Jepang) sekitar 1 menit 4 detik dinilai sudah cukup membuatnya tidak terkejar di papan klasemen general classification.

Dyball menguasai ITdBI 2018 mulai etape pertama hingga empat dengan catatan waktu total 15 jam 8 menit 7 detik. Berselisih 58 detik dari Ewart dan 1 menit 14 detik dari Lebas. 

Seperti prediksi sebelumnya, tiga pembalap climber terbaik tersebut bertarung habis-habisan di etape terakhir. Ewart, Lebas, dan Dyball saling menempel sejak 20 kilometer terakhir.

Namun, pada 7 km terakhir Dyball meninggalkan Ewart, pesaing terdekatnya, setelah lebih dulu melewati Lebas. Dyball, pembalap 29 tahun tersebut mengaku sebenarnya tidak berencana attack dan dia hanya fokus pada pace dan ritmenya sendiri.

Dyball awalnya mewaspadai Lebas dalam persaingan etape pemungkas mendaki tanjakan terberat dalam standar federasi balap sepeda dunia, hors categorie, tersebut. Namun, ternyata bukan Lebas yang menempelnya ketat. Justru Ewart yang sehari sebelumnya memenangi etape tiga.

“Sejak stage 1 hingga 4 terutama yang terakhir, cukup berat utamanya angin dan cuaca panas. Karena itulah, saya mengatur strategi dan attack bersama tim,” papar Dyball.

“Semua etape sangat bagus dan dia menjaga energinya dengan menyiapkan makan dan minum yang cukup,” imbuhnya.

Kemenangan Dyball tak hanya mencatatkan namanya sebagai juara umum pada debutnya di ITdBI. Tapi juga memperpanjang capaian impresif St George Continental di sejumlah race di Indonesia.

Sebab, sebelumnya di Tour de Siak 2018 mereka juga mendominasi balapan. Mereka merebut juara umum, etape, sekaligus juara tim.

Di ITdBI 2018, tim asal Australia itu kembali mengulanginya. Selain juara general classification, mereka menjadi juara tim dan juara etape pertama atas nama Marcus Culey.

Bahkan, kekuasaan Culey di general classification tidak tergantikan sejak kemenangan di hari perdana ITdBI itu sampai akhirnya dikudeta rekannya sendiri.

Begitu juga status sebagai raja tanjakan. Gelar King of Mountain diberikan kepada Benjamin Dyball.

Sementara itu, untuk dua kategori lainnya, pembalap Indonesia Jamalidin Novardianto (PGN Road Cycling Team) menjadi sprinter terbaik (green jersey). Khusus untuk kategori pembalap Indonesia terbaik alias red and white jersey, rekan setim Jamalidin, Jamal Hibatullah, menjadi pembalap Merah Putih terbaik.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018 etape 4 dihelat Sabtu (29/9) berjarak tempuh sepanjang 127,2 KM dan melintasi tanjakan terekstrem di Asia.

Tepatnya di tanjakan menuju Kawah Ijen sepanjang lebih dari 12 KM dengan gradiet di atas 20 persen, dengan ketinggian 1.871 meter diatas permukaan laut (mdpl) dan merupakan level tertinggi di balap sepeda. Bahkan sudah masuk dalam kategori paling berat dalam standar balap sepeda dunia, yakni hors categorie.

Di etape terakhir ini, diikuti 82 pembalap yang tergabung dalam 19 tim dari 22 negara, dengan mengambil start dari Pasar Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran dan finis di kaki Gunung Ijen Banyuwangi, tepatnya di Gunung Rante.

Event Director ITdBI Jamaloodin Mahmud mengatakan di etape keempat ini para pembalap jago tanjakan, berebut posisi menjadi yang terkuat dan tercepat.

“Persaingan di etape ini berjalan seru karena banyak tim-tim kuat yang selama tiga etape kemarin masih menyimpan jago climbernya, bakal keluar dan bertarung habis-habisan,” papar Jamal.

Dia mengaku, di etape empat ini pertandingan lebih banyak didominasi pembalap yang jago di tanjakan.

Seperti Thomas Lebas dari Team Kinan Japan, pembalap asal Australia di tim Sapura Cycling Malaysia, Jesse Ewart yang merupakan pemenang etape tiga, juga dari Indonesia ada Aiman Cahyadi.

“Dengan kondisi ini, pemegang yellow jersey Marcus Culey (St George Continental Cycling) belum bisa dikatakan aman,” kata Jamal.

“Meski dia mempunyai keunggulan waktu 2 menit 54 detik, belum menjamin dia bakal menjadi yang tercepat di etape terakhir ini,” imbuhnya.

Pasalnya, tanjakan Ijen ini dinilai panjang dan berat, jarak 2 menit 54 detik tidak terlalu jauh bagi lawan untuk menyalip. Karena 1 km sebenarnya bagi mereka hanya butuh 3 menit, jadi peluang yang lain untuk menang masih terbuka.

“Sehingga, Culey harus ekstra bekerja keras kalau mau mempertahankan yellow jersey,” tutur Jamal.

Sementara, Culey sendiri sudah mengibarkan bendera putih bahwa dirinya tidak mungkin menang jika sudah di tanjakan Ijen karena karakternya dinilai benar-benar berbeda.

“Tapi saya berusaha mendorong Benjamin Dyball untuk meraih kemenangan di sana,” ungkap Culey.

Culey memang bukan climber murni. Karakternya sebagai pembalap all-round membuatnya mampu melahap dua tanjakan kategori dua di etape pertama. Hasilnya, selama dua hari kepemimpinannya di papan klasemen general classification tidak terganggu.

Hal senada juga diungkapkan Thomas Lebas. Pembalap Prancis itu menganggap saingan terdekatnya di etape empat adalah Dyball. Karena itu, sepanjang etape tiga kemarin dia memilih untuk menempelnya.

Hasilnya, selisih waktu antar mereka tidak lebih dari 4 detik.

“Supaya beban saya di etape empat tidak terlalu berat. Baik Dyball maupun Lebas dalam kondisi terbaik untuk menaklukan Ijen,” papar Lebas.

Apalagi bagi Team Kinan, ITdBI merupakan target utama setelah mereka menjadikan Tour de Siak sebagai ajang latihan sebelum ke Banyuwangi.

Juara nasional Jepang yang juga rider dari Team Kinan, Genki Yamamoto mengatakan, Siak rutenya tidak terlalu menanjak berbeda dengan Ijen.

“Karena itu saya di Siak tidak terlalu ngotot karena anggota tim semuanya adalah climber,” ungkap Lebas.

Sementara itu ditambahkan Chairman ITdBI Guntur Priambodo, etape keempat ini para pebalap melakukan start di Pasar Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran. Lokasi ini merupakan desa ujung paling selatan Banyuwangi yang membutuhkan jarak tempuh sekitar tiga jam dari Kota Banyuwangi.

“Ini juga sebagai cara untuk melibatkan warga Desa Sarongan sebagai desa terjauh untuk ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan event daerah,” pungkas Guntur.

 

Cuaca

Banyuwangi Indonesia Mostly Cloud (night), 22 °C
Current Conditions
Sunrise: 4:57 am   |   Sunset: 5:17 pm
95%     10.0 mph     33.695 bar
Forecast
Sun Low: 22 °C High: 28 °C
Mon Low: 23 °C High: 29 °C
Tue Low: 23 °C High: 30 °C
Wed Low: 24 °C High: 30 °C
Thu Low: 23 °C High: 30 °C
Fri Low: 23 °C High: 30 °C
Sat Low: 23 °C High: 30 °C
Sun Low: 23 °C High: 30 °C
Mon Low: 23 °C High: 31 °C
Tue Low: 21 °C High: 30 °C
Advertisement

Top Stories

Grid List

Merdeka.com - Selain mengandung antioksidan yang unik, telur juga dapat menutrisi otak dengan baik.

Merdeka.com - Seorang wanita di Turki menggugat cerai suaminya dan menuntut kompensasi finansial akibat tak kuasa menjalani hubungan rumah tangga dengan pasangannya tersebut.

Bukan karena tindak kekerasan dalam rumah tangga, namun wanita ini muak lantaran sang suami punya kebiasaan mengenakan pakaian dalam wanita saat berada di dalam rumah.

Dikutip dari laman Alaraby.co.uk, Jumat (10/8/2018), menurut kuasa hukum dari wanita tersebut, proses pengajuan perceraian telah dilimpahkan kepada Pengadilan Keluarga di Gaziosmanpas, Istanbul, Turki.

Sang kuasa hukum juga mengatakan jika suami dari kliennya ini kerap mengenakan riasan dan pakaian dalam perempuan sejak dua tahun terakhir.

Tahu bahwa suaminya bertingkah aneh, wanita ini pun langsung menegurnya. Namun, upaya agar sang suami berubah malah mendapat respons yang tak mengenakan. Wanita itu malah mendapat perlakuan kasar.

"Klien saya jadi depresi dan sudah tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan ini," kata pengacara.

"Korban pun menyebut bahwa ia curiga sang suami memiliki kelainan orientasi seksual. Sehingga sudah yakin untuk berpisah," tambahnya.

Kedua belah pihak juga sudah setuju untuk bercerai.

Pasangan suami istri yang sudah menikah selama sembilan tahun ini mengaku sudah mantap menata hidup masing-masing. Tetapi permasalahannya ada pada si pria yang enggan membayar kompensasi atas klaim kerugian yang dirasakan oleh sang istri.

Turki adalah salah satu negara yang menentang kelompok LGBT. Sebelumnya negara ini juga melarang pawai kaum LGBT.

Sumber: Liputan6.com

Despair copy implications shouldn't weren't

Entertainment

Exception saddle publications hearst haven't. Prove reflection conspiracy brown's architect. Coating builder flux badly january. Hoag eliminated accounts delay mutual promising

Manufacturers throat cat

Adventure

Banyuwangi, kabupaten yang terletak diujung timur pulau Jawa ini merupakan penghubung antara pulau Jawa dengan pulau Bali.

Agenda Acara Selanjutnya

Advertisement