Top Stories

Grid List

radiovisfm.com, Banyuwangi - Menjelang Angkutan Natal 2018 dan Tahun baru 2019, PT KAI DAOP 9 Jember mengganti rangkaian baru Kereta Api Mutiara Timur dengan menggunakan Stainles Steel (New Image).

Perubahan stamformasi atau susunan rangkaian KA Mutiara Timur siang relasi Stasiun Banyuwangi Baru – Surabaya Gubeng ini, mulai di lakukan pada Minggu (16/12). Sedangkan penggantian untuk KA Mutiara Timur malam mulai dilaksanakan pada Selasa (18/12).

Manager Humas PT KAI DAOP 9 Jember, Luqman Arif mengatakan, perubahan ini sebagai program PT  KAI  untuk memperbarui armada serta meningkatkan keselamatan, keamanan dan kenyamanan bagi pelanggan setia kereta api, khususnya KA Mutiara Timur.

“Okupansi atau tingkat keterpenuhan KA Mutiara Timur selama ini di nilai sangat bagus. Untuk Week Day, rata rata terpenuhi 80 %. Sedangkan saat Week End dan hari libur, okupansi hampir mencapai 100 % dari total kapasitas tempat duduk,” papar Luqman.

Sementara, rangkaian KA Mutiara Timur New Image ini terdiri dari 4 kereta kelas Eksekutif, 3 Kereta kelas Ekonomi, 1 kereta makan dan 1 kereta pembangkit dengan total kapasitas 392 tempat duduk.

Luqman menegaskan, penggantian rangkaian KA Mutiara Timur ini tidak merubah jadwal keberangkatannya.

“Untuk KA Mutiara Timur siang berangkat dari Stasiun Banyuwangi Baru pada pukul 09.00 WIB. Sedangkan KA Mutiara Timur malam berangkat dari Stasiun Banyuwangi Baru pada pukul 22.00 WIB,” ujarnya.

Luqman mengaku, meskipun dilakukan penggantian rangkaian ini, namun tiket KA Mutiara Timur kelas Eksekutif tidak mengalami kenaikan dan mengacu pada aturan tariff batas bawah dan tariff batas atas.

“Artinya, tariff antara di hari biasa dengan hari libur atau Week End itu berbeda. Sedangkan tariff untuk kelas ekonomi dinilai flat dan tidak ada perubahan,” ungkap Luqman.

Sebelumnya, rangkaian KA Mutiara Timur tersebut adalah Kereta kelas Eksekutif, Bisnis dan Kereta Makan serta Kereta pembangkit.

Namun dengan adanya penggantian rangkaian menggunakan New Image ini, untuk kelas bisnis ditiadakan diganti dengan kelas ekonomi dengan fasilitas yang cukup nyaman.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk mengangkat jajanan khas daerah setempat, warga Desa Jelun Kecamatan Licin Banyuwangi menggelar Festival Sumping Kopi Pait.

Dalam kegiatan yang di gelar pada Sabtu (15/12) tersebut menyuguhkan jajanan khas Desa Jelun, yakni sumping.

Sumping, adalah jajanan yang terbuat dari tepung beras, yang biasa dikenal dengan kue nagasari. Bedanya, warga Jelun membuat kue sumping ini dengan berbagai varian isi. Tidak hanya pisang, namun juga diisi dengan kacang hijau, ketela manis, hingga ketela pohon. 

Festival yang untuk kali pertama digelar ini dibuka Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan menjadi tontotan baru bagi ratusan warga dan wisatawan yang datang ke Banyuwangi untuk berakhir pekan.

“Festival yang mengangkat tradisi lokal ini terus digalakkan dan dikembangkan. Selain untuk melestarikan tradisi, dengan difestivalkan ini bisa jadi perekat gotong royong warga,” ujar Bupati Anas.

“Saya bangga dengan masyarakat sini yang bisa memanfaatkan potensi yang ada menjadi sebuah festival yang menarik. Ini bisa terus menjadi contoh desa-desa lain,” paparnya.

Ditambahkan Bupati Anas, festival yang berangkat dari potensi warga setempat ini, diharapkan bisa menjadi sumber ekonomi masyarakat. Serta bisa lebih dikembangkan sehingga bisa menjadi alternatif wisata kuliner tradisional baru di Banyuwangi.

“Apalagi Desa Jelun berada di kaki Gunung Ijen yang tentunya hawanya masih segar dan daerahnya masih alami, yang dipastikan menarik untuk wisatawan,” kata Bupati Anas.

Jajanan sumping biasanya disuguhkan saat hajatan atau lebaran saja. Dalam festival ini, warga setempat mengenalkan cara menikmati kue sumping ala Desa Jelun. Kudapan sumping dinikmati bareng secangkir kopi hitam yang rasanya pahit.

 Oleh sebab itu, festival ini diberi nama Festival Sumping Kopi Pait. Namun jika ingin kopi yang rasanya manis, bisa di campur gula aren untuk pemanisnya. Karena gula aren adalah khas desa setempat.

Di festival ini, juga bisa ditemukan aneka makanan khas Desa Jelun lainnya. Mulai nasi keruk, pecelan, urap-urap, semanggi kukus, pepesan belut hingga semur jengkol.

Tak hanya itu, jajanan lainnya seperti cenil, cendol, rujak kecut dan buah-buahan yang menjadi andalan juga disajikan. 

Festival Sumping ini berlangsung mulai Jumat (14/12) hingga Minggu (16/12), dari pukul 08.00 – 22.00 Wib.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pembelian tiket untuk penerbangan Kuala Lumpur – Banyuwangi sudah bisa dilayani secara online di laman resmi Maskapai Citilink. Yakni, di www.citilink.co.id atau langsung ke loket Citilink.

Sementara, penerbangan International rute Kuala Lumpur – Banyuwangi sendiri resmi dibuka pada 19 Desember 2018 oleh maskapai Citilink dengan menggunakan pesawat jenis Airbus A-320 berkapasitas 180 penumpang. Dan rute penerbangan ini mendapat slot di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) Terminal 2.

Untuk jam keberangkatan, sesuai yang tertera di laman resmi Citilink, dari Banyuwangi pesawat berangkat pukul 08.20 WIB dan sampai di Kuala Lumpur pukul 12.10 waktu setempat, dengan harga tiket Rp 1.027.900. Dengan estimasi penerbangan hanya sekitar 3 jam.

Sementara untuk jadwal dari Kuala Lumpur pukul 13.20 waktu setempat dan sampai di Banyuwangi pukul 15.10 WIB, dengan harga tiket Rp 1.097.500.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pembukaan rute internasional menjadi awal baru untuk terus meningkatkan aksesibilitas ke Banyuwangi setelah sebelumnya ada rute dari Surabaya dan Jakarta, yang di harapkan bisa semakin menggerakkan perekonomian local.

“Rute ini menyasar wisatawan milenial Malaysia yang ingin menikmati wisata alam Banyuwangi termasuk ke Kawah Ijen tanpa harus transit ke Jakarta,” ujar Bupati Anas.

“Potensi ini paling besar, karena Malaysia tidak memiliki gunung api,” ungkapnya.

Selain itu, rute ini juga menyasar wisatawan religius dari kelompok masyarakat India Tamil yang jumlahnya mencapai 10 persen dari total jumlah penduduk Malaysia.

Bupati Anas mengaku, warga Malaysia dari kelompok India Tamil tertarik mengunjungi Pura Agung Blambangan di Kecamatan Muncar dan Pura Agung Kawitan di Taman Nasional Alas Purwo yang selalu ramai dikunjungi umat Hindu dari berbagai daerah di Indonesia.

“Pangsa pasar yang juga disasar dalam rute ini ialah pekerja migran Indonesia asal Banyuwangi, Jember, Situbondo dan Bondowoso yang bekerja di Malaysia,” pungkas Bupati Anas.

Sebelumnya, Pemkab Banyuwangi telah mempertemukan 20 agen perjalanan wisata Malaysia dan 20 agen Indonesia. Pertemuan tersebut secara khusus untuk membahas pangsa pasar wisatawan yang bisa digarap dari dibukanya rute Kuala Lumpur –Banyuwangi tersebut.

Sementara itu, di hari yang sama, Rabu (19/12) juga akan di laksanakan penerbangan perdana Banyuwangi – Jakarta Pulang Pergi dari Maskapai Batik Air anak perusahaan dari Lion Air.  

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Di bulan Desember 2018 ini, Pemkab Banyuwangi akan melaunching program Warung Pintar untuk mengangkat daya saing warung warung kecil dan menumbuhkan iklim wirausaha di daerah.

Hal ini merupakan kolaborasi dengan startup teknologi ritel “Warung Pintar” yang merupakan perusahaan rintisan (startup) yang menggarap teknologi sektor ritel. Warung-warung kecil didigitalisasi dan dipermak sedemikian rupa untuk membuatnya berdaya saing saat harus berhadapan dengan ritel-ritel modern.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, setidaknya terdapat dua skema yang bakal dijalankan dalam program ini. Pertama, menempatkan Warung Pintar di ruang-ruang publik dan destinasi wisata. K

“Ke depan, di harapkan yang memiliki warung pintar ini bukan orang per orang tapi komunitas,” ujar Bupati Anas.

“Dalam launching kali ini baru 10 warung yang merupakan milik pesapon dan tukang parkir,” imbuhnya.

Yang di harapkan, bisa menjadi Tourism Center atau jendela promosi wisata daerah serta menjadi bagian edukasi digital kreatif. Pasalnya, di Warung Pintar ini, selain skema digitalisasi untuk manajemennya, yang ditawarkan antara lain desain yang lebih modern. Di antaranya dilengkapi infrastruktur perangkat lunak seperti charger station serta perangkat promosi wisata.

“Berdasarkan riset, digitalisasi ala Warung Pintar mampu meningkatkan pendapatan bulanan warung-warung kecil sebesar 89 persen,” kata Bupati Anas.

“Ini adalah wujud inklusi ekonomi lewat teknologi,” tuturnya.

Dalam artian, teknologi tidak memakan yang kecil. Sehingga dia mendorong warung-warung yang sudah ada untuk didigitalisasi melalui Warung Pintar, agar lebih kompetitif saat harus berhadapan dengan ritel modern.

“Bagi masyarakat yang mempunyai lahan bisa mengajukan pendirian warung pintar kepada pemerintah daerah, untuk selanjutnya di survey apakah sesuai kriteria ataukah tidak,” papar Bupati Anas.

Lebih lanjut Bupati Anas mengatakan, saat ini di Banyuwangi dilakukan pembatasan ketat pergerakan ritel modern. Kalau di daerah lain jumlah ritel modern bisa ratusan unit, di Banyuwangi baru puluhan karena memang dibatasi supaya warung-warung tradisional tetap harus maju, sehingga perlu ditingkatkan sistemnya.

“Maka Warung Pintar ini bisa menjadi salah satu solusi,” pungkasnya.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Rangkaian peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke 247 tahun yang jatuh pada 18 Desember 2018, di awali dengan kegiatan malam renungan dan do’a bersama di kawasan Rowo Bayu Kecamatan Songgon, Kamis malam (13/12).

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang hadir pada acara tersebut menegaskan bahwa, malam renungan ini dinilai penting sebagai bagian dari mengenang jasa para pendahulu.

“Banyuwangi yang dikenal saat ini, tidak bisa dilepaskan dari kontribusi para pendahulu,” ujarnya.

Bupati Anas mengatakan, pada kesempatan ini, masyarakat Banyuwangi tidak hanya mendoakan para pendahulu. Namun juga mengenang perjuangan mereka.

“Ini sebagai upaya untuk menghargai dan menyambungkan spirit perjuangan,” tutur Bupati Anas.

Pemilihan Rowo Bayu sebagai tempat perenungan bukan tanpa alasan. Di tempat tersebut, pada rentang waktu tahun 1771 - 1772 menjadi saksi bisu kegigihan rakyat Blambangan mempertahankan tanah airnya dari gempuran penjajah. Dari rangkaian perjuangan itulah, lantas menjadi momentum lahirnya Kabupaten Banyuwangi.

Bupati Anas menjelaskan, tepatnya pada 18 Desember 1771 terjadi pertempuran besar antara Kerajaan Blambangan yang dipimpin oleh Pangeran Rempeg Jogopati melawan penjajah. Pertempuran itu dimenangkan oleh rakyat Blambangan.

“Peristiwa heroik itulah yang dijadikan momentum hari lahir Banyuwangi,” kata Bupati Anas.

Acara malam renungan tersebut, juga menjadi bagian dari Festival Rowo Bayu. Dimana terdapat beberapa acara dalam rangkaian festival tersebut, yang salah satunya adalah napak tilas perang Puputan Bayu.

Camat Songgon Banyuwangi, Kunto Prastowo mengungkapkan, puncak kegiatan Festival Rowo Bayu ini adalah napak tilas yang dilaksanakan pada 16 Desember 2018.

“Selain Festival Rowo Bayu, peringatan Harjaba juga diperingati dengan sejumlah kegiatan,” tutur Kunto.

Salah satunya, Bupati Anas telah menginstruksikan diadakan khotmil quran dan istighosah di seluruh Banyuwangi tepat tanggal 18 Desember 2018.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mendirikan pabrik pengolahan kopi berskala kecil, guna meningkatkan ekonomi petani.

Pabrik tersebut didirikan di Desa Kalibaru Wetan Kecamatan Kalibaru yang mayoritas warganya merupakan pekebun kopi.

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko mengatakan, pendirian pabrik pengolahan kopi tersebut untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pekebun.

“Warga yang selama ini hanya menjual buah dan biji kopi, kini didorong mengolah kopi dan menjual kopi bubuk,” ujar Wabup Yusuf

“Kami ucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Kemendes PDT yang terus bersinergi dengan daerah untuk meningkatkan perekonomian daerah,” imbuhnya.

Menurut Wabup Yusuf, bantuan alat pemrosesan kopi ini dinilai akan sangat berdampak langsung pada peningkatan kesejateraan petani.

Pabrik pengolahan kopi berskala kecil tersebut mendapat bantuan sejumlah peralatan pengolahan dari Kemendes PDT. Bantuan senilai Rp 1,2 miliar itu berupa mesin pengupas kulit buah, pengering kapasitas 5 kuintal, pemisah kulit ari, sortasi (grading), sangrai (roasting), pembubuk (grinder) dan alat penyegel kemasan (sealer).

Wabup Yusuf mengaku, jika sebelumnya masyarakat hanya menjual dalam bentuk kopi glondongan atau asalan (cherry bean), maka kini mereka bisa menjual dalam bentuk bubuk dalam kemasan.

“Ini tentunya bisa menambah nilai ekonomis warga,” kata Wabup Yusuf.

Selain itu, pemkab juga akan melakukan pendampingan kepada petani. Bisa mulai dari proses awal petik kopi, sangrai, hingga tahapan pasaran. 

“Pendampingan akan diberikan hingga tahap pengemasan dan penjualan. Pekebun akan dilatih mendesain kemasan yang menarik dan dibukakan jaringan penjualan kopi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banyuwangi,” papar Wabup Yusuf.

Pelaksana Tugas Kepala Desa Kalibaru Wetan Muji Purwanto mengatakan ada lahan hutan milik Perhutani seluas 2.700 hektar yang dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan.

“Lahan itu digunakan 334 kepala keluarga sebagai kebun kopi dengan sistem tumpang sari tanpa mengurangi tegakan tanaman hutan,” ungkapnya.

Muji menuturkan, buah kopi biasa dijual Rp 5.000 hingga Rp 5.200 per kg untuk kategori asalan dan Rp 5.800 hingga Rp 6.000 per kg untuk kategori petik merah. Adapun gabah biasa dijual dengan harga Rp 23.000 hingga Rp 25.000 per kg untuk kategori asalan dan Rp 28.000/kg untuk petik merah.

“Dengan adanya pabrik pengolahan kopi berskala kecil, para pekebun kini bisa menjual hasil panennya berupa kopi bubuk, yang di harapkan mereka mendapat nilai lebih dari usahanya sehingga perekonomian mereka meningkat,” papar Muji.

Sementara itu, dari pengakuan petani, puncak panen kopi di mulai dari bulan Juli sampai November. Dan jika saat musim hujan datang, mereka mengaku kebingungan untuk menjemur kopi. Namun saat ini sudah ada oven yang membantu menjaga kualitas kopi agar bisa tetap bagus.

Ada lima desa yang mendapat bantuan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Selain di Kalibaru Wetan, juga Bumdes bersama Desa Bulusari dan Kelurahan Kalipuro Kecamatan Kalipuro. Dua desa itu mendapatkan bantuan berupa pengelolaan susu kambing etawa menjadi susu bubuk. Serta Desa Jembewangi Kecamatan Sempu mendapat bantuan berupa pengolahan kakao.

radiovisfm.com, Banyuwangi - 3 orang jaringan pengedar Pil Koplo di wilayah Banyuwangi di ringkus aparat Kepolisian, yang salah satunya adalah perempuan. Menariknya, salah satu dari tersangka tersebut kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service.

Mereka adalah Ica Camelia Agustin (19) warga Jalan Karimun Jawa Kelurahan Lateng Kecamatan Banyuwangi dan kekasihnya, Sugianto (27) warga Dusun Purwosari Desa Tanjungsari Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember, yang selama ini kost di kawasan Jalan Ikan Arwana Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi.

Satu lagi, Indra Wahyu (23) warga Jalan Ikan Wijinongko Kelurahan Sobo Kecamatan Banyuwangi.

Terungkapnya jaringan peredaran pil koplo ini berawal dari penangkapan Ica Camelia Agustin oleh tim buser Polsekta Banyuwangi, di sebuah warung depan Pabrik Kertas Basuki Rahmat.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki mengatakan, dari tangan gadis belia tersebut di amankan barang bukti 10 butir pil jenis Trihexyphenidyl dan uang tunai Rp 30 ribu hasil dari penjualan obat obatan sediaan farmasi tersebut.

“Kepada petugas, tersangka mengaku hanya sebagai kurir yang mengantarkan pesanan si pembeli. Sementara pil tersebut di akui adalah milik Sugianto,” papar AKP Ali Masduki.

“Dari keterangan tersangka inilah, aparat kepolisian bergerak cepat menuju ke tempat kos Sugianto hingga berhasil dilakukan penangkapan,” imbuhnya.

Dari tangan tersangka, petugas mengamankan 110 butir obat Trihexyphenidyl.

Bersamaan dengan itu, tiba tiba datang Indra Wahyu ke tempat kost tersangka hendak memasok pil Trihexyphenidyl. Kondisi ini langsung di manfaatkan oleh petugas untuk menangkap Indra Wahyu, yang rupanya membawa 1000 butir pil Trihexyphenidyl.

“Tersangka Indra Wahyu mengaku mendapatkan obat obatan tersebut dari pemasoknya yang berasal dari Jember, tapi tidak diketahui namanya,” tutur Kapolsek.

Selanjutnya, ketiga tersangka itu di gelandang ke Mapolsekta Banyuwangi guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dan dihadapan penyidik, tersangka Indra Wahyu mengaku awalnya hanya sebagai pengguna saja. Namun lama kelamaan dia mulai menjadi pengedar dan penyuplai pil koplo karena tergiur dengan keuntungan dari penjualan.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai Cleaning Service tersebut mengaku sudah mengenal pil Trihexyphenidyl sejak masih duduk di bangku SMA. Dan sebelum ditangkap, setiap hari dia selalu mengkonsumsi pil itu kurang lebih 3 butir, namun di minum satu satu.

“Atas perbuatannya,  ketiga tersangka di jerat pasal 197 subsider pasal 196 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” pungkas Kapolsek.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah mengapresiasi pembukaan galeri lukis oleh perupa nasional asal Banyuwangi, S.Yadi K, yang dinilai akan semakin memperkaya khazanah kesenian dan kebudayaan di Banyuwangi.

Hal ini di sampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka galeri tersebut, Senin malam (01/10).

Galeri seni yang berada di jalan Kuntulan, nomor 135, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah ini menyajikan puluhan lukisan karya S Yadi K dan para pelukis asal Banyuwangi lainnya.

Tampak hadir puluhan seniman dan budayawan Banyuwangi dalam pembukaan semalam tersebut. Hadir pula budayawan nasional dan penulis buku Candra Malik pada kesempatan tersebut.

Bupati Anas mengatakan, Kesenian Banyuwangi memiliki keistimewaan tersendiri. Mulai dari lagu, tari-tarian hingga karya lukis para perupanya.

“Tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga di nasional, bahkan kancah internasional,” ujarnya.

Menurut Bupati Anas, dengan adanya galeri ini, seni lukis dinilai akan semakin memperbesar sumbangsihnya pada khazanah kebudayaan di Banyuwangi.

Yadi merupakan salah seorang pelukis kenamaan Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di tingkat nasional maupun internasional. Pameran tunggalnya pernah dihelat di Edwin Gallery dan Taman Ismil Marzuki Jakarta.

Salah satu karyanya berjudul "Paju Gandrung" menjadi salah satu koleksi istana negara. Beberapa karyanya juga pernah dilelang di Balai Lelang Christie's dan Shotheby's di Singapura.

Dalam kesempatan itu, Bupati Anas juga mendorong tempat tersebut tidak hanya eksklusif untuk para pecinta seni saja. Namun, juga bisa menjadi salah satu alternative destinasi wisata baru di Banyuwangi.

“Selama ini banyak tamu saya penasaran dengan proses kreatif dari Yadi,” tutur Bupati Anas.

“Akan lebih menarik bila wisatawan bisa langsung datang ke galeri Yadi,” imbuhnya.

Selain menikmati lukisan, mereka juga bisa menyaksikan dan terlibat langsung dari aktivitas melukis.

Keberadaan Omah Seni tersebut, lanjut Bupati Anas, akan melengkapi destinasi Gunung Ijen. Para wisatawan setelah mendaki ke Ijen, bisa menikmati jenis wisata lain di bawahnya.

Selain Taman Terakota Gandrung di Jiwa Jawa Resort yang menonjolkan seni patung, mereka juga bisa menikmati seni lukis di Omah Seni S Yadi K tersebut.

“Apalagi, tempat tersebut terhitung masih dalam satu jalur menuju ke Ijen. Ini akan jadi destinasi minat khusus yang menarik wisatawan,” papar Bupati Anas.

Dia juga berjanji bakal turut serta mempromosikan keberadaan galeri tersebut.

“Ini akan jadi paket-paket wisata yang bakal ditawarkan kepada wisatawan yang ke Banyuwangi,” tutur Bupati Anas.

Apalagi sebentar lagi akan ada Annual Meeting IMF World Bank. Sehingga dinilai mereka akan tertarik dengan kesenian semacam ini.

“Selama ini kami banyak melibatkan para seniman dan budayawan dalam menentukan kebijakan. Terutama dalam menentukan berbagai bangunan-bangunan besar, seperti hotel dan tempat-tempat umum,” papar Bupati Anas.

Dicontohkan, arsitek hotel ataupun tempat-tempat umum di Banyuwangi di wajibkan untuk presentasi terlebih dahulu kepada para seniman dan budayawan. Mereka harus memastikan bangunan yang ada akan mengadaptasi konsep kebudayaan lokal. Di sejumlah hotel, bahkan sudah ada lukisan dan potret tentang Banyuwangi di setiap kamarnya.

“Di sinilah kami menitipkan peradaban Banyuwangi,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, S Yadi K merasa tertantang dengan dorongan dari Bupati Anas. Ia menyampaikan bahwa geleri seninya tersebut akan menjadi pusat berkegiatan para perupa di Banyuwangi. Nantinya, mereka akan menggelar workshop maupun pameran di tempat tersebut.

“Galeri saya ini akan menjadi markas para perupa Banyuwangi yang siapa saja nantinya bisa berkunjung,” kata Yadi.

Dia juga mendukung ide Bupati Anas, yang diharapkan galeri seninya bisa menjadi bagian dari mengembangkan seni di Banyuwangi.

Acara tersebut juga dibarengi dengan pagelaran pameran lukisan bertajuk Kembang Kawitan. Berbagai karya lukis dari perupa Banyuwangi ditampilkan di Omah Seni S Yadi K. Pameran tersebut dijadwalkan satu bulan penuh hingga November mendatang.

 

 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Delapan buruh bangunan harus mendekam di sel tahanan Polsek Ilir Timur II, Sumatera Selatan, lantaran kedapatan mengkonsumsi sabu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI George E. Supit memerintahkan satuan TNI kewilayahan untuk membentuk tim SAR (Search and Rescue) dalam membantu pencarian pesawat Dimonim Air.

MAGELANG, KOMPAS.com - Sebagian wilayah di lereng pegunungan Menoreh, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mulai mengalami krisi air bersih sebagai dampak musim kemarau.

MATARAM, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) mencatat telah terjadi sebanyak 344 kali gempa di Lombok sampai Kamis (9/8/2018) pagi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tim Jelajah Sepeda Nusantara (JSN) 2018 diberangkatkan dari Banyuwangi, Rabu pagi (7/11). Banyuwangi menjadi kota pertama di Pulau Jawa yang menjadi titik pemberangkatan rombongan pesepeda ini. Belasan pesepeda tersebut dilepas  Asisten Perekonomian dan Kesra, Iskandar Azis didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi, Wawan Yadmadi dari Kantor Pemkab Banyuwangi. Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jember yang menjadi rute berikutnya. Saat melepas rombongan, Iskandar Azis mengucapkan terima kasihnya kepada mereka yang telah berkunjung ke Banyuwangi. Menurutnya, apa yang dilakukan Banyuwangi selama ini khususnya terkait pengembangan sport tourism dengan mengenalkan titik-titik wisata baru dinilai sudah sejalan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Rombongan ini telah tiba di Banyuwangi pada Selasa malam (6/11) setelah mereka menyelesaikan rute bersepedanya di Pulau Dewata-Bali.

Dikatakan Staf di Asisten Deputi Olahraga Rekreasi, Deputi Pemberdayaan Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Agus Santoso yang mengawal tim JSN, tim ini start sejak 30 Juni 2018 dari pos lintas batas negara yang ada di Entikong, Kalimantan Barat. Dari situ mereka menjelajah seluruh Kalimantan, yakni mulai Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara. Kemudian menjelajah seluruh Sulawesi, baru kemudian menyeberang ke Bali, dan tiba di Banyuwangi selasa malam. Agus menambahkan, tidak hanya sekedar bersepeda, para peserta juga bisa sekaligus menikmati keindahan destinasi wisata yang mereka lalui di sepanjang rute. Walau hanya berhenti selama beberapa saat sambil mengambil foto atau pun menikmati kuliner di tempat tersebut.

Tim JSN ini, imbuh Agus, dijadwalkan  menempuh jarak total sejauh 6700 kilometer dengan melintasi 4 pulau yakni Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Jawa. Dan akan finish di Yogyakarta pada 18 November. Ketika mereka tiba di Banyuwangi, total 6200 km telah ditempuh. Sebelumnya mereka sempat jeda sejenak saat Asian Games dan Asian Paragames digelar. Pesertanya yang terdiri dari 15 atlet itu berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Antara lain dari Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Timur, Lampung dan Bali.

Ada 7 atlet laki-laki dan 8 perempuan. Agus menjelaskan, mereka merupakan atlet pilihan yang sudah menjalani seleksi dari Kemenpora. Dari segi usia, ada yang tua dan ada yang muda. Tertua 56 tahun dan yang termuda 18 tahun. Tujuan perbedaan usia itu sebagai penyeimbang dari tim. Yang tua menyemangati yang muda, dan sebaliknya. Misi JSN ini sendiri kata Agus, untuk mengkampanyekan olahraga. Namun bukan hanya dengan bersepeda, melainkan untuk semua cabang olahraga. Kebetulan saja pihaknya menggunakan sepeda, dengan asumsi bahwa sepeda itu alat olahraga yang terjangkau berbagai kalangan, bisa digunakan oleh siapa pun, baik tua maupun muda, dan tidak ada orang yang bersepeda yang hatinya tidak gembira. Intinya menurut Agus, pihaknya ingin mengkampanyekan dengan olahraga bisa sehat. Dengan sehat masyarakat bisa bergerak dan melakukan apa saja.

Salah satu atlet yang menjadi peserta JSN ini, Rendra Bayu mengaku sangat excited setiap kali berkunjung ke Banyuwangi. Dia mengaku sudah beberapa kali ke Banyuwangi dan selalu kangen dengan nasi tempongnya. Menariknya, Rendra pernah tercatat sebagai peserta International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) selama 4 kali, yakni di 2013, 2015, 2016 dan 2018. Rendra menjelaskan, JSN ini berbeda dengan ITdBI. Jika di ITdBI dirinya full kompetisi, kalau di sini lebih pada mempromosikan olahraga terhadap masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota yang disinggahi.

Selama perjalanan, menurut Rendra, seluruh anggota tim sangat support satu sama lain. Hampir tak ada kendala berarti yang mereka temui. Kesulitan sempat mereka temui saat melintasi Kalimantan, ada beberapa wilayahnya yang belum diaspal. Juga di Sulawesi yang jalanannya sudah bagus, tapi jarak rumah antar satu penduduk dengan penduduk lainnya agak jarang. Sedangkan di Pulau Jawa ini dinilai cukup banyak tanjakan, diantaranya tanjakan Gunung Kumitir dan Bromo. JSN ini digelar untuk kedua kalinya. Jika di tahun ini diberi nama Jelajah Sepeda Nusantara, di tahun 2017 lalu dikenal dengan nama Gowes Touring Pesona Nusantara dengan menempuh daerah Sabang - Magelang. Dalam 1 hari, rata-rata pesepeda ini mengayuh sejauh 100 – 130 km per hari, start pada pukul 07.00 hingga finish pada pukul 17.00 WIB. Dan sejak awal penyelenggaraan, event ini dinyatakan sebagai event yang zero accident.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) menginginkan level International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) naik tingkat menjadi 2.1.

Direktur Kompetisi Manager PB ISSI, Sondi Sampurno mengatakan, di 2018 ini pelaksanaan ITdBI telah memasuki tahun ke 7.

“Saya sarankan agar levelnya sudah bisa naik 2.1 pada pelaksanaan di tahun 2019 mendatang,” ujar Sondi.

Sehingga menurut Sondi, nantinya akan banyak lagi tim yang datang dan mengikuti kegiatan ini serta nama ITdBI semakin terangkat.

“ITdBI sudah memenuhi syarat untuk naik level 2.1 karena sarana prasarananya sudah mendukung,” tutur Sondi.

Seperti, semakin banyak berdiri hotel berkelas serta kendaraan dan medan yang menjadi jalur para pembalap juga dinilai cukup bagus.

Sondi mengaku, kompetisi balap sepeda di Indonesia yang masuk level 2.1 baru satu yakni Tour de Indonesia milik PB ISSI.

“Pada tahap awal untuk menjadi 2.1 memang sangat berat. Tapi percaya, Banyuwangi akan bisa mengatasi berbagai persyarakatan untuk bisa naik level itu,” papar Sondi.

Sementara, Director ITdBI, Jamaluddin Mahmood mengaku tidak setuju ITdBI naik level menjadi 2.1 karena dinilai persiapannya cukup berat serta membutuhkan biaya mahal. Dicontohkan, jika sudah masuk level 2.1 maka minimal harus ada 3 tim dari pro continental, sedangkan untuk mendatangkan 1 tim membutuhkan biaya 30.000 dolar.

“Selain itu, nominal hadiahnya juga harus naik 2 kali lipat dibanding masih level 2.2,” kata Jamal.

Tidak hanya itu, menurut Jamal mobil yang di gunakan untuk setiap tim harus jenis sedan yang di lengkapi dengan 1 set roof racks di atas mobil untuk tempat sepeda, dan itupun warna mobilnya harus sama.

“Jika untuk menyewa sedan dengan jenis dan warna yang sama dipastikan membutuhkan biaya cukup besar,” papar Jamal.

Dan apabila ada 22 tim yang mengikut, maka harus ada 22 mobil sedan yang sama. Sedangkan harga 1 set roof racks saja mencapai 1.200 dolar.

Sementara untuk di 2018, ITdBI di gelar selama 4 hari sejak 26 hingga 29 September yang terbagi dalam 4 etape dengan total jarak tempuh 599 KM.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Federasi Balap Sepeda Dunia (UCI) menilai, kualitas kompetisi balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) masuk dalam level 2.2 terbaik Asia.

Director ITDBI, Jamaluddin Mahmood, mengatakan, digelar sejak 2012, kualitas balap sepeda internasional level 2.2 yang telah masuk agenda rutin UCI itu terus meningkat. Sehingga berdampak pada kemudahan mengundang tim mancanegara. 

“Jika sebelumnya untuk mengundang tim, Banyuwangi harus subsidi. Tapi saat ini mereka langsung datang. Seperti Kinan Cycling Team, juara Asia Tour, ikut tanpa subsidi,” papar Jamal.

“Yang terpenting mereka bisa datang balapan dan menambah poin UCI,” imbuh Warga Malaysia yang malang-melintang menangani ajang balap di berbagai negara tersebut.

Dia menjelaskan, saat ini ITdBI sudah digolongkan sebagai balap level 2.2 terbaik bahkan di Asia. Level 2.2 sendiri adalah tiga tingkat di bawah World Tour Team seperti Tour de France.

“Selain Banyuwangi, ada China, Jepang, Hongkong, Langkawi juga Kazakhstan,” ungkap Jamal.

Predikat terbaik tersebut diberikan karena kualitas lomba. Begitu juga antusiasme penonton yang tinggi, namun trafik tetap terjaga. Dan yang tidak kalah penting adalah nilai jual event berkat dukungan media.

“Saya optimistis, ITDBI makin banyak diramaikan tim mancanegara, apalagi fasilitas di Banyuwangi terus tumbuh,” kata Jamal.

“Jika sebelumnya karena keterbatasan hotel, tim hanya membawa 5 pembalap, tapi kini hotel di Banyuwangi tambah banyak dan setiap tim bisa mengirimkan 6-7 orang pembalap sehingga bisa mencapai 22 tim yang ikut kompetisi ini,” papar Jamal.

Salah satu pembalap yang sangat senang ikut kompetisi ITdBI ini adalah Benjamin Dyball. Dia bersama timnya yang tergabung dalam St George Continental Cycling Australia sangat menikmati seluruh rute.

“Banyuwangi indah, saya suka makanannya,” kata Dyball.

Pada ITdBI 2018 ini, Benjamin Dybal merupakan juara umum.

Para commissaire (juri) dari Federasi Balap Sepeda Dunia alias UCI (Union Cycliste Internationale) kompak menilai ITDBI 2018 berjalan sukses. Seperti yang di sampaikan juri asal China, Zhao Jinshan yang mengaku ITDBI adalah pelaksanaan terbaik lomba balap sepeda 2.2 yang pernah dia ikuti.

Sementara, juri asal Jepang, Tsunenori Kikuchi mengatakan, ini merupakan salah satu balap sepeda kategori 2.2 terbaik, tidak hanya di Asia, namun di dunia.

“Saya selalu suka suasana Gunung Ijen,” tutur Kikuchi.

Commissaire Michale Robb dari Irlandia mengatakan, dirinya telah banyak mengikuti balap sepeda mewakili UCI.

“Rute yang disajikan Banyuwangi lebih bagus dibanding berbagai negara. Misalnya, rute tanjakan menuju Gunung Ijen,” ujar Micky.

Rute ini salah satu terekstrem di Asia karena melalui tanjakan berketinggian 1880 meter di atas permukaan laut dan tingkat elevasi 20 persen. Rutenya menyajikan kemiringan lereng 45 derajat.

“Rute di ITdBI mirip dengan kejuaraan World Tour yang pernah di ikutinya, salah satunya Giro Italia yang Excellent route,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Azwar Anas berterima kasih atas dukungan berbagai pihak terhadap pelaksanaan ITDBI.

“Dari tahun ke tahun kami terus berbenah,” kata Bupati Anas.

“Bagi saya, ITDBI bukan hanya ajang olahraga berbalut wisata, tapi juga bagian dari konsolidasi perbaikan infrastruktur dan pengungkit ekonomi daerah,” paparnya.

Bupati Anas juga mengaku, perhelatan ITdBI ini dipastikan akan kembali di gelar di tahun 2019 mendatang.

Sementara untuk di 2018, ITdBI di gelar selama 4 hari sejak 26 hingga 29 September yang terbagi dalam 4 etape dengan total jarak tempuh 599 KM.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk menjaga stamina agar tetap kuat selama mengikuti kompetisi balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), para pembalap mengkonsumsi sejumlah makanan bernutrisi tinggi.

Pada ITdBI 2018 ini, para pembalap harus menempuh lintasan sejauh 599 KM selama 4 hari yang terbagi dalam 4 etape. Dan tentunya ini dibutuhkan stamina yang kuat untuk bisa menyelesaikan perhelatan yang telah masuk dalam level 2.2 terbaik di Asia tersebut.

Lantas, apa saja yang dikonsumsi para pembalap untuk menjaga daya tahan tubuh mereka?

Vera Shafira, Director Operational eL Royale Hotel and Resort Banyuwangi, mengatakan, setiap makan malam dan sarapan pihaknya menyiapkan ratusan omelet telur untuk konsumsi para pembalap. 

“Sekali makan, pembalap itu bisa menghabiskan enam hingga delapan omelet telur,” ujar Vera.

Dia mengatakan, di eL Royale terdapat sekitar 105 tamu yang terlibat di ITdBI. Mulai dari pembalap, official, tim teknis lainnya. Tiap penyajian makan malam dan sarapan, para pembalap meminta menu khusus. Dan permintaanya lebih banyak telur juga daging.

“Untuk karbohidratnya, nasi dan pasta harus selalu ada. Roti juga disediakan banyak. Selain itu, makanan tidak boleh pedas,” papar Vera.

Menurut Vera, para pembalap lebih menyukai omlet. Pernah disiapkan telur rebus, hanya beberapa pembalap yang mengonsumsi. 

Oleh karena itulah, Vera mengaku pihaknya selalu menyiapkan ratusan telur untuk omlet di setiap makan malam dan sarapan. Dan ini tidak pernah ada komplain dari panitia tentang menu disajikan.

“Selain itu, buah-buahan juga harus tersedia untuk pembalap dan mereka banyak yang menyukai semangka,” tutur Vera.

Chairman ITdBI 2018, Guntur Priambodo, mengatakan saat balapan, mereka membutuhkan nutrisi kompleks. Seperti, makanan tinggi protein, karborhidrat rendah glukosa, elektrolit, dan vitamin yang bisa membentuk otot-otot neurotrophic.

“Rute ITdBI sangat panjang ditambah cuaca yang panas selama empat etape,” kata Guntur.

“Setiap satu jam energi pembalap habis, sehingga perlu asupan nutrisi tepat waktu,” imbuhnya.

Nutrisi ini seperti vitamin, karbohidrat murni yang bisa didapat dari oatmeal, beras merah, kacang-kacangan, buah pisang, dan kurma. Air minum dan susu murni juga menjadi faktor penting. 

Guntur menjelaskan, setiap satu jam, harus ada nutrisi masuk tubuh. Apalagi saat balapan jangan sampai terlambat, agar tidak terjadi defisiensi karbohidrat yang bikin tubuh melemah.

Untuk menjaga asupan nutrisi, Niels Van Der Pijl, pembalap Belanda dari PCS Cycling Team selalu membawa dua pisang, dua snack power bar, dan satu botol minuman elektrolit yang diselipkan di belakang kaosnya selama balapan untuk mengganti energy yang hilang.

“Tapi sesekali saya juga mencoba kuliner khas nusantara,” ujar Niels.

Seperti yang dilakukannya sesaat sebelum ikut lomba di etape tiga. Sambil ngopi, Niels bersama rekan-rekannya satu tim membeli krupuk ikan yang dijajakan oleh pedagang keliling.

“Kopi Banyuwangi cukup enak,” pungkasnya.

Tidak hanya dari Belanda, sejumlah pembalap lain dari Eropa dan Jepang sering terlihat ngopi di warung-warung sekitar lokasi start. 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi – Federasi Balap Sepeda Dunia (UCI) me nilai, sepanjang empat etape rute yang disuguhkan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018 begitu menantang, dan bahkan sudah berkelas dunia.

Commissaire 2 UCI (Union Cycliste Internationale) Michale Robb dari Irlandia mengatakan dirinya sudah banyak mengikuti kejuaraan dunia mewakili UCI. Rute yang disajikan ITdBI menurutnya tidak kalah dengan kejuaraan dunia di berbagai negara.

"Semua rutenya dari stage 1 sampai terakhir sempurna, tidak kalah dengan Eropa. Pemandangannya juga sangat indah, setelah pulang saya akan promosi tentang Banyuwangi dan mengajak orang orang untuk berwisata dan berinvestasi di Banyuwangi," ujar Micky, panggilan akrabnya.

Rute ITdBI juga dinilai sangat menantang dan teknikal bagi para pembalap. Dimulai dari etape 3 yang menurut Micky sangat pas pilihan rutenya.

“Di etape ini, pembalap melewati dua tanjakan yang masuk kategori 3, dan rutenya rolling (naik turun),” tutur Micky. 

Hal yang sama juga di etape 4, yang menyajikan tanjakan menuju Gunung Ijen. Rute ini memang menjadi yang terberat karena melalui tanjakan Gunung Ijen dengan ketinggian 1880 mdpl dan tingkat elevasi hingga 20 persen. Rutenya juga menyajikan kemiringan lereng hingga 45 derajat.

"Excellent route, sangat teknikal. Saya pernah ikut World Tour salah satunya Giro de Italia, rute disini mirip dengan kejuaraan tersebut," kata Micky.

"Semua berjalan dengan lancar aman dan sesuai standar, tidak ada komplain. Panitia sudah melakukan pekerjaannya dengan baik, well organized, saya juga merasa nyaman disini. Terima kasih untuk semuanya, saya merasa beruntung terlibat di even ini," papar Micky.

Terkait rute, jawara ITDBI 2018 Benjamin Dybal mengaku jika rute etape 1 hingga 4 semuanya berat. Dan etape empat membuatnya harus ektra menguras tenaga dan mengatur teknik bersepeda.

"Saya sudah berulang kali menghadapi tanjakan. Ini adalah tanjakan terberat  yang pernah saya taklukkan. Mungkin satu dari tiga tanjakan terberat yang pernah saya selesaikan sepanjang karier balapan saya," sebut pembalap berusia 29 tahun itu.

Tidak hanya memuji pilihan rute ITdBI Micky juga menilai keseluruhan pelaksanaan ITdBI telah dilakukan secara profesional. Mulai penataan lokasi start dan finish termasuk penataan barrier, pengambilan video semua terkoordinasi dengan baik.

Ditambahkan Commissaire 3 ITdBI Tsunenori Kikuchi di setiap tahun dirinya terlibat di even ITdBI selalu ada kejutan. Tahun ini dia sangat suka dengan area finish etape ke empat yang berlangsung di area Gunung Ranti yang lokasinya terpaut hanya 50 meter dari Paltuding Ijen.

“Lokasi ini menyuguhkan panorama lansekap pegunungan yang indah dengan latar Gunung Ranti yang menjulang gagah,” ungkap Kikuchi.

"Saya merasa ITdBI adalah lomba yang terbaik untuk kategori 2.2 tidak hanya di Asia tapi di dunia," cetusnya. 

Sementara itu Bupati Abdullah Azwar Anas menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan kepada ITdBI oleh para juri tersebut.

Bupati Anas mengatakan Banyuwangi senantiasa memperbaiki kualitas penyelenggaraan ITdBI sebagaimana masukan dari UCI setiap tahunnya.

"Kami ingin memberikan yang terbaik bagi para pembalap yang bertanding di even ini," ujar Bupati Anas.

Dia menambahkan Banyuwangi sendiri memiliki potensi alam yang kaya dan inilah yang ingin ditonjolkan pada ITdBI. Lansekap Banyuwangi dengan segala keeksotikan alamnya, mampu menjadi panggung yang indah bagi para pembalap. 

"Banyuwangi adalah daerah terluas di Jawa Timur, didukung komitmen untuk terus memperbaiki infrastruktur daerah, kami akan terus berusaha menyajikan rute yang menantang dan menarik bagi pembalap dunia ini," pungkas Bupati Anas.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pembalap Australia menjadi juara umum di kompetisi balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018 etape 4, Sabtu (29/9) setelah berhasil menaklukkan tanjakan menuju kawah Ijen yang tergolong terekstrim di Asia.

Dia adalah Benjamin Dyball bernomor punggung 93 dari tim St George Continental Cycling Australia, menjadi yang tercepat sejak start di Pasar Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran dan finish di Paltuding Kawah Ijen di lintasan sepanjang 127,2 KM dengan catatan waktu 3 jam 49 menit 44 detik.

Selisih waktu 47 detik dari pemenang etape ketiga Jesse Ewart (Tim Sapura Cycling Malaysia) dan Thomas Lebas (Tim Kinan Cycling Jepang) sekitar 1 menit 4 detik dinilai sudah cukup membuatnya tidak terkejar di papan klasemen general classification.

Dyball menguasai ITdBI 2018 mulai etape pertama hingga empat dengan catatan waktu total 15 jam 8 menit 7 detik. Berselisih 58 detik dari Ewart dan 1 menit 14 detik dari Lebas. 

Seperti prediksi sebelumnya, tiga pembalap climber terbaik tersebut bertarung habis-habisan di etape terakhir. Ewart, Lebas, dan Dyball saling menempel sejak 20 kilometer terakhir.

Namun, pada 7 km terakhir Dyball meninggalkan Ewart, pesaing terdekatnya, setelah lebih dulu melewati Lebas. Dyball, pembalap 29 tahun tersebut mengaku sebenarnya tidak berencana attack dan dia hanya fokus pada pace dan ritmenya sendiri.

Dyball awalnya mewaspadai Lebas dalam persaingan etape pemungkas mendaki tanjakan terberat dalam standar federasi balap sepeda dunia, hors categorie, tersebut. Namun, ternyata bukan Lebas yang menempelnya ketat. Justru Ewart yang sehari sebelumnya memenangi etape tiga.

“Sejak stage 1 hingga 4 terutama yang terakhir, cukup berat utamanya angin dan cuaca panas. Karena itulah, saya mengatur strategi dan attack bersama tim,” papar Dyball.

“Semua etape sangat bagus dan dia menjaga energinya dengan menyiapkan makan dan minum yang cukup,” imbuhnya.

Kemenangan Dyball tak hanya mencatatkan namanya sebagai juara umum pada debutnya di ITdBI. Tapi juga memperpanjang capaian impresif St George Continental di sejumlah race di Indonesia.

Sebab, sebelumnya di Tour de Siak 2018 mereka juga mendominasi balapan. Mereka merebut juara umum, etape, sekaligus juara tim.

Di ITdBI 2018, tim asal Australia itu kembali mengulanginya. Selain juara general classification, mereka menjadi juara tim dan juara etape pertama atas nama Marcus Culey.

Bahkan, kekuasaan Culey di general classification tidak tergantikan sejak kemenangan di hari perdana ITdBI itu sampai akhirnya dikudeta rekannya sendiri.

Begitu juga status sebagai raja tanjakan. Gelar King of Mountain diberikan kepada Benjamin Dyball.

Sementara itu, untuk dua kategori lainnya, pembalap Indonesia Jamalidin Novardianto (PGN Road Cycling Team) menjadi sprinter terbaik (green jersey). Khusus untuk kategori pembalap Indonesia terbaik alias red and white jersey, rekan setim Jamalidin, Jamal Hibatullah, menjadi pembalap Merah Putih terbaik.

 

 

Cuaca

Banyuwangi Indonesia Cloudy, 24 °C
Current Conditions
Sunrise: 5:0 am   |   Sunset: 5:37 pm
81%     10.0 mph     33.627 bar
Forecast
Sun Low: 25 °C High: 30 °C
Mon Low: 25 °C High: 30 °C
Tue Low: 25 °C High: 28 °C
Wed Low: 24 °C High: 29 °C
Thu Low: 24 °C High: 29 °C
Fri Low: 23 °C High: 29 °C
Sat Low: 23 °C High: 30 °C
Sun Low: 24 °C High: 30 °C
Mon Low: 24 °C High: 28 °C
Tue Low: 23 °C High: 29 °C
Advertisement

Top Stories

Grid List

Merdeka.com - Selain mengandung antioksidan yang unik, telur juga dapat menutrisi otak dengan baik.

Merdeka.com - Seorang wanita di Turki menggugat cerai suaminya dan menuntut kompensasi finansial akibat tak kuasa menjalani hubungan rumah tangga dengan pasangannya tersebut.

Bukan karena tindak kekerasan dalam rumah tangga, namun wanita ini muak lantaran sang suami punya kebiasaan mengenakan pakaian dalam wanita saat berada di dalam rumah.

Dikutip dari laman Alaraby.co.uk, Jumat (10/8/2018), menurut kuasa hukum dari wanita tersebut, proses pengajuan perceraian telah dilimpahkan kepada Pengadilan Keluarga di Gaziosmanpas, Istanbul, Turki.

Sang kuasa hukum juga mengatakan jika suami dari kliennya ini kerap mengenakan riasan dan pakaian dalam perempuan sejak dua tahun terakhir.

Tahu bahwa suaminya bertingkah aneh, wanita ini pun langsung menegurnya. Namun, upaya agar sang suami berubah malah mendapat respons yang tak mengenakan. Wanita itu malah mendapat perlakuan kasar.

"Klien saya jadi depresi dan sudah tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan ini," kata pengacara.

"Korban pun menyebut bahwa ia curiga sang suami memiliki kelainan orientasi seksual. Sehingga sudah yakin untuk berpisah," tambahnya.

Kedua belah pihak juga sudah setuju untuk bercerai.

Pasangan suami istri yang sudah menikah selama sembilan tahun ini mengaku sudah mantap menata hidup masing-masing. Tetapi permasalahannya ada pada si pria yang enggan membayar kompensasi atas klaim kerugian yang dirasakan oleh sang istri.

Turki adalah salah satu negara yang menentang kelompok LGBT. Sebelumnya negara ini juga melarang pawai kaum LGBT.

Sumber: Liputan6.com

Despair copy implications shouldn't weren't

Entertainment

Exception saddle publications hearst haven't. Prove reflection conspiracy brown's architect. Coating builder flux badly january. Hoag eliminated accounts delay mutual promising

Manufacturers throat cat

Adventure

Banyuwangi, kabupaten yang terletak diujung timur pulau Jawa ini merupakan penghubung antara pulau Jawa dengan pulau Bali.

Agenda Acara Selanjutnya

Advertisement