Top Stories

Grid List

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah resmi di ekspor ke Italia, Pemerintah Daerah berharap ekspor produk beras organik Banyuwangi semakin meluas. Utamanya ke Amerika Serikat (AS) dan Jerman sebagai pasar pertanian organik terbesar di dunia.

Saat mengunjungi pusat produksi beras organik, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, Jumat (22/3/2019), Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, produk beras organik Banyuwangi semakin diminati, baik di dalam maupun luar negeri.

“Diharapkan dengan pengenalan yang luas, tahun depan bisa ekspor ke negara lain, seperti Jerman atau AS,” kata Bupati Anas.

“Selain itu, tentu menggarap pasar dalam negeri yang juga besar,” imbuhnya.

Kelompok tani yang berhasil ekspor di daerah tersebut mendapat pendampingan dari Pemkab Banyuwangi dan Bank Indonesia (BI). Beras yang diekspor berasal dari tiga varietas padi asli Banyuwangi yang telah didaftarkan di Kementerian Pertanian. Seperti, Beras Merah Varietas Segobang A3, Beras Hitam Melik A3, dan Beras Sunrise of Java.

“Mengutip data Federasi Internasional Gerakan Pertanian Organik (IFOAM) dan Lembaga Riset Pertanian Organik, pasar produk organik tumbuh cepat,” ujar Bupati Anas.

AS adalah pasar organik terbesar di dunia dengan nilai USD 27,04 miliar, diikuti Jerman USD 8,45 miliar, Perancis USD 4,8 miliar, dan Tiongkok USD 2,67 miliar. Sehingga kata Bupati Anas, pasarnya harus terus diperluas. “Saya juga berterima kasih ke Bank Indonesia (BI) yang bersama sama membantu kelompok tani di wilayah setempat. Ini sebagai wujud kolaborasi yang baik,” tutur Bupati Anas.

Dengan keberhasilan ini, Bupati Anas juga mengajak BUMN-BUMN untuk ikut membantu petani Banyuwangi.

“Saat ini pengembangan beras organik dilakukan di 9 kecamatan seluas 81,49 hektar dengan produksi 515,5 ton per tahun,” imbuhnya.

Sebanyak tujuh kecamatan telah mendapatkan sertifikat pertanian organik Standar Nasional Indonesia (SNI). Tahun ini dua kecamatan dalam proses SNI.

“Kami targetkan, tahun depan bisa dikembangkan hingga 200 hektar padi organic bersama petani dengan menggunakan APBD. Kelompok-kelompok tani terus dilatih masuk ke pertanian organik, karena keuntungan lebih besar dengan permintaan ekspor yang tinggi,” pungkas Bupati Anas.

Ketua Kelompok Tani Mendo Sampurno (produsen beras organik) Samanhudi menjelaskan, penjualannya terus meningkat. Per bulan, mereka mengirim hingga 200 kilogram beras organik ke Australia dan 20 kilogram ke Taiwan.

“Juga ada pesanan berkala dari China dan Amerika Serikat,” ungkap Samanhudi.

Kelompok tani itu bermitra dengan PT Sirtanio, perusahaan agribisnis yang digerakkan anak-anak muda Banyuwangi. Bahkan kata Samanhudi, dalam dua hari ini saja, ada tambahan pesanan dalam negeri mencapai 1 ton. Dari Surabaya 400 kg, Tangerang dan Lumajang 100 kg, Malang 60 kg, Jember 400 kg, Bekasi 75 kg, serta Balikpapan 100 kg.

Di luar pesanan itu, setiap bulan mereka mengirim hingga 30 ton per bulan ke produsen makanan nasional.

“Saya ucapkan terima kasih pada Pemkab Banyuwangi dan BI, karena tanpa pendampingan itu tidak bisa sejauh ini perkembangannya,” imbuh Samanhudi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna mengembangkan berbagai destinasi wisata baru di Indonesia melalui sport tourism, pemerintah daerah berkolaborasi dengan BUMN PT Bank Mandiri (Persero) Tbk siap menggelar “Mandiri Banyuwangi Half Marathon. Kegiatan ini masuk dalam salah satu agenda Banyuwangi festival, yang akan di gelar pada Minggu, (31/03/2019).

Dalam keterangan persnya di Hotel Dialoog,Kamis (21/03/2019), Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, penyelenggaraan ajang ini diharapkan semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai destinasi wisata di Tanah Air.

“Saat ini, animo pecinta olahraga lari sungguh luar biasa. Inilah alasan Pemkab Banyuwangi menggelar event itu,” ujar Bupati Anas.

Meski saat ini masih skala nasional, namun pihaknya berupaya agar ke depan Banyuwangi bisa menaikkan kembali kelasnya sehingga menjadi salah satu daerah yang dapat menggelar ajang maraton internasional.

Ajang maraton ini menawarkan sensasi kompetisi lari yang berbeda. Dengan start dan finish di Taman Blambangan, peserta diajak menyusuri kawasan perkotaan dan perdesaan Banyuwangi. Mereka akan melintasi jalan-jalan protokol perkotaan, areal persawahan, dan kawasan permukiman penduduk.

“Inilah yang membedakan ajang itu dengan event serupa di daerah lain,” ungkap Bupati Anas.

“Jika biasanya ajang marathon hanya melewati jalan-jalan perkotaan, di sini juga disuguhkan suasana perdesaan,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Bupati Anas, event ini juga mengkombinasikan olah raga dan budaya.

Di sepanjang rute, peserta akan dimanjakan dengan beragam budaya dan kesenian daerah. Seperti tari gandrung, barong osing, kuntulan, dan barongsai.

“Disepanjang rute, disiapkan 8 spot entertainment yang dipastikan akan menyenangkan bagi para peserta, karena bisa berekreasi saat berkompetisi,” kata Bupati Anas.

Vice President Corporate Communication Bank Mandiri Rudi As-Aturridha mengungkapkan, dukungan Bank Mandiri terhadap event ini karena ingin berperan aktif dalam mengembangkan destinasi-destinasi wisata baru di Indonesia melalui sport tourism.

“Kami memilih Banyuwangi, karena daerahnya memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat beragam,” kata Rudi.

Selain itu, juga sangat inovatif dan kreatif menciptakan atraksi wisata untuk menarik wisatawan sehingga pihaknya merasa tertarik ikut serta mengembangkan pariwisata di kota Banyuwangi melalui olahraga lari yang sedang menjadi tren di dunia.

“Jika respon kegiatan ini cukup bagus, maka direncanakan kedepan dibuat event Full Marathon,” tutur Rudi.

Bahkan, Rudi juga berinisiatif untuk menggelar Sport Series Mandiri dengan menggabungkan beberapa event yang sudah ada baik di Jakarta, Jogjakarta maupun Bali dengan Banyuwangi.

Sementara itu, Race Director Mandiri Banyuwangi Half Marathon, Pandu B Buntaran, menjelaskan, ajang ini melombakan tiga kategori. Yakni 21 K (half marathon), 10 K, dan 5 K.

Untuk kategori 21 K merupakan kelas khusus bagi pelari maraton profesional. Sementara kategori 10 K dan 5 K dibuka untuk peserta umum. Dan para peserta dari semua kategori akan dilepas dan finis di lokasi yang sama yakni di Taman Blambangan.

Tentu dengan waktu start yang bervariasi. Dimulai kategori 21K pada pukul 05.00 WIB, disusul 10 K pukul 05.30 WIB, dan 5K pukul 05.45 WIB.

“Kategori 21K akan dilaksanakan dalam 2 putaran masing-masing 10,5K,” ungkap Pandu.

“Rute yang dilalui cukup menarik,” imbuhnya.

Separuh lintasan melalui kawasan perkotaan dan sisanya melewati perdesaan dan areal persawahan. Pendaftaran bisa melalui mandiribanyuwangihalfmarathon.com.

“Jumlah peserta kini sudah mencapai yang ditargetkan, sebanyak 1000 orang,” pungkas Pandu.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Beras Organik produksi Banyuwangi resmi di ekspor ke Italia. Italia adalah pasar terbaru dari beras organik Banyuwangi setelah sebelumnya diekspor ke sejumlah negara.

Prosesi ekspor perdana tersebut berlangsung di Padepokan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pertanian Swadaya (P4S) Sirtanio, Kecamatan Singojuruh, Kamis (21/3/2019).

Para petani di sana merupakan kluster binaan Bank Indonesia (BI) dan Pemkab Banyuwangi. Pelepasan ekspor dilakukan Kepala Bank Indonesia (BI) Jatim, Difi Johansyah.

Beras yang diekspor itu adalah produksi PT Sirtanio, perusahaan agribisnis Banyuwangi yang digerakkan anak-anak muda. Seperti Beras Merah Varietas Segobang A3, Beras Hitam Melik A3, dan Beras Sunrise of Java. Varietas-varietas itu telah didaftarkan sebagai padi asli Banyuwangi oleh Dinas Pertanian di Kementerian Pertanian.

“Kami bangga dengan ekspor perdana ini sebagai prestasi petani Banyuwangi,” kata Difi.

Dia juga mengaku, BI mendukung pertanian organik di beberapa daerah, namun yang berhasil tembus ekspor baru Banyuwangi. Sehingga, Banyuwangi menjadi contoh bagi pertanian organik yang sukses.

“Pasar Eropa itu susah ditembus, tapi berkat kegigihan kelompok tani di wilayah setempat, mereka bisa masuk pasar Eropa,” ungkap Difi.

Produksi beras organik Sirtanio bersama petani mitranya mencapai 30 ton per bulan di lahan 70 hektar.

“Kami mengambil segmen terkecil, yaitu Italia,” imbuh Difi.

Sementara, Samanhudi, ketua Kelompok Tani Mendo Sampurno yang memproduksi beras ekspor tersebut mengaku, perbulan para petani mengirim 2,8 ton. Ada tim yang memantau pengelolaan lahan organik khusus ekspor, sembari terus ditingkatkan lahan organik lainnya agar bisa standar ekspor.

“Permintaan luar negeri terhadap beras organik Banyuwangi sangat besar. Dari China, misalnya, sebesar 60 ton per bulan. Belum lagi dari Amerika Serikat,” papar Samanhudi.

Dia mengaku, kapasitas pihaknya terbatas sehingga ini dipenuhi bertahap. “Ke depan, kami terus merangkul para petani lainnya,” kata Samanhudi.

Para petani tersebut awalnya adalah kelompok yang mendapatkan pendidikan dan pelatihan pertanian organik Dinas Pertanian Banyuwangi. Bersama-sama PT Sirtanio yang dikomandoi Ahmad Tessario, mereka berkolaborasi menjadi badan usaha yang kini menaungi 200 petani organik lokal. Produk mereka juga dibeli berbagai perusahaan makanan raksasa.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ekspor perdana ke Italia adalah bukti bahwa beras organik Banyuwangi telah memiliki standar mutu dan kualitas internasional.

“Dengan beras organik, petani mempunyai nilai tambah, dengan mendapatkan harga lebih baik dibanding beras biasa,” tutur Bupati Anas.

Saat ini pengembangan beras organik Banyuwangi dilakukan di 9 kecamatan seluas 81,49 hektar dengan produksi 515,5 ton per tahun. Sebanyak tujuh kecamatan telah mendapatkan sertifikat pertanian organik Standar Nasional Indonesia (SNI). Tahun ini dua kecamatan dalam proses mendapat SNI pertanian organik.

“Lewat APBD, pemerintah akan mengembangkan tambahan sekitar 120 hektar lahan padi organik bersama petani, sehingga pertengahan tahun depan sudah ada 200 hektar lahan padi organik untuk memenuhi permintaan ekspor yang tinggi,” papar Bupati Anas.

Sementara, untuk pengembangan pertanian organik, Pemkab Banyuwangi melakukan pelatihan agen hayati, pengembangan laboratorium mini agen hayati, hingga fasilitasi sertifikasi nasional dan internasional organik.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk mengatasi persoalan pengangguran di Indonesia yang jumlahnya terus meningkat dengan di dominasi anak muda, Cawapres Sandiaga Uno berjanji akan mendirikan Rumah Siap Kerja.

Hal ini di nilai sebagai satu tuntuan dari anak anak muda yang saat ini mendominasi jumlah angka pengangguran di Indonesia.

Usai bertemu dengan relawan 9 Kecamatan di Banyuwangi, Selasa (19/03/2019) Sandiaga mengatakan, di dalam Rumah Siap Kerja tersebut nantinya akan di berikan bimbingan kepada para pemuda untuk bisa mendapatkan lapangan pekerjaan, serta keterampilan khusus yang di butuhkan di dunia usaha Jaman Now.

“Selain itu, mereka juga mendapatkan info mengenai beasiswa dan berbagai program lowongan kerja dari para penyedia kerja seperti dunia usaha,” ujar Sandiaga.

“Dengan focus Rumah Siap Kerja ini, saya yakin nantinya bisa disandingkan dengan program OK OCE yang saat ini tengah diperjuangkan Prabowo-Sandi jika terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode mendatang,” paparnya.

Sandiaga juga berharap, bagi masyarakat yang ingin membuka lapangan kerja bisa menjadi wirausaha seperti yang ada di Banyuwangi, banyak UMKM yang berhasil mengekspor produknya ke mancanegara.

“Rumah Siap Kerja ini merupakan rumah workshop yang didalamnya ada fasilitas pelatihan, pendampingan serta bimbingan yang juga di lengkapi dengan jaringan Wifi gratis,” kata Sandiaga.

“Didalamnya juga terdapat tempat olah raga kecil seperti tenis meja, basket dan futsal kecil, yang nantinya bisa di gunakan anak anak muda nongkrong,”  imbuhnya.

Dan Rumah Siap Kerja ini diklaim merupakan kemitraan antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha karena penyediaannya dilakukan bersama sama.

Dalam kunjungannya ke Banyuwangi kali ini, Cawapres Sandiaga Uno mengawalinya dengan bertemu para nelayan dan Relawan di kawasan Kecamatan Muncar. Dilanjutkan dengan bertemu relawan 9 kecamatan yang di pusatkan di gedung Graha Bhakti Sport Center desa Setail Kecamatan Genteng.

Lalu memberikan pelatihan OK OCE untuk Santripreneur bagi 700 orang santri dan petani di lingkungan Pondok Pesantren di desa parijatah Kulon Kecamatan Srono. Terakhir, bersilaturahmi dengan Kiyai, Hababib dan Masyayikh se Tapal Kuda di kawasan Dusun Selogiri Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Nahdlatul Ulama (NU) Banyuwangi mengecam keras aksi penembakan di dua masjid di Selandia Baru, sekaligus menyerukan kepada seluruh warga Nahdliyin untuk menggelar Sholat Ghaib.

Hal ini sebagai bentuk penghormatan serta mendo’akan kepada puluhan umat islam di Selandia Baru yang meninggal dalam incident penembakan tersebut.

Seperti yang di lakukan oleh puluhan warga Nahdliyin, yang menggelar Sholat Ghaib bersama di Mushollah Yayasan Pendidikan Sosial Darun Najah Kelurahan Tukangkayu Kecamatan Banyuwangi Kota, Sabtu (16/03).

Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, Ahmad Qosim mengatakan, pihaknya menyerukan kepada seluruh jajaran pengurus NU baik di tingkat MWCNU hingga ranting untuk melaksanakan Sholat Ghaib, sebagai bentuk keprihatinan terhadap para korban.

“Sekaligus mendo’akan agar amal ibadah para korban di terima Allah SWT,” ungkap Qosim.

Dikabarkan, penembakan itu terjadi di Masjid Al Noor dan Linwood, Christchurch, Selandia Baru yang menyebabkan setidaknya 49 orang dinyatakan meninggal dunia.

Qosim menyebutkan, atas nama PCNU Banyuwangi pihaknya ikut prihatin dan berduka cita atas meninggalnya puluhan umat islam yang meninggal dunia saat menjalankan sholat Jum’at di 2 masjid di Selandia Baru tersebut.

“Seluruh warga Nadhiliyin Banyuwangi mengutuk keras para pelaku yang di nilainya sangat biadab, yang telah membunuh puluhan umat muslim,” ujar Qosim.

Oleh sebab itulah, dalam do’a Sholat Ghaib ini juga di panjatkan permohonan ampunan atas dosa dosa para korban kepada Allah SWT.

“Semoga mereka wafat dalam kondisi Husnul Khotimah,” kata Qosim.

Senada dengan Ahmad Qosim, Wakil PCNU Banyuwangi, Arif Rahman Mulyadi juga mengaku bersyukur bahwa kaum Nahdiliyin di Indonesia khususnya warga NU dinilai kompak mendo’akan saat mendapati warga muslim di Selandia Baru yang meninggal dunia dalam aksi penembakan tersebut.

“Apalagi di Selandia Baru ini dikenal sebagai daerah yang aman sehingga tidak pernah terbayang jika terjadi aksi keji itu,” tutur Arif.

Dia mengatakan, masyarakat NU Banyuwangi mengutuk keras atas kejadian tersebut, dan terus mendo’akan agar para korban diampuni dosa dosanya serta di terima segala amal kebaikannya.

“PCNU Banyuwangi juga terus berkoordinasi serta memberikan instruksi kepada seluruh pengurus cabang MWCNU sampai ranting untuk serentak melaksanakan Sholat Ghaib khususnya di Banyuwangi dan seluruh Indonesia,” papar Arif.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kegiatan rutin Bhakti Sosial Peduli Sesama yang di gelar oleh Polsek Giri Banyuwangi bersama Bhayangkari ranting giri, kali ini menyasar wilayah Desa grogol.

Tercatat ada 4 orang warga kurang mampu yang mendapatkan bantuan. Yaitu Siyami, Tuhriyah dan Sutiyani, ketiganya janda berusia 66 tahun serta Nawe, janda berusia 89 tahun. Mereka bertempat tinggal di Dusun Kupendukuh Desa grogol Kecamatan Giri.

Kapolsek Giri Banyuwangi, Iptu Suryono Bhakti mengatakan, Bhakti Sosial Peduli Sesama ini di laksanakan setiap 2 minggu sekali dengan sasaran kaum dhuafah dan fakir miskin yang hidupnya dinilai sangat membutuhkan bantuan, namun belum tersentuh bantuan pemerintah.

“Bantuan ini berupa paket sembako yang berisi beras, gula, mie instan, teh kemasan kotak dan minyak goreng serta uang tunai,” tutur Kapolsek.

“Seluruh dana bantuan tersebut berasal dari sumbangan keikhlasan dari para anggota Polsek Giri dan Bhayangkari, yang di harapkan kedepan juga ada kepedulian dari masyarakat untuk ikut serta membantu,” paparnya.

Iptu Suryono mengaku, pendataan warga miskin tersebut di lakukan oleh Babinkamtibmas dan Babinsa. Dari hasil pendataan ini dirangking terlebih dahulu untuk menentukan kondisi warga miskin yang benar benar memprihatinkan.

“Selanjutnya, masing masing warga yang masuk kriteria sangat miskin itulah yang di berikan bantuan terlebih dahulu,” kata Kapolsek.

“Kami berharap, kegiatan ini bisa memunculkan empati dari masyarakat agar ikut perduli terhadap warga sekitar yang kondisinya dinilai kurang mampu,” imbuhnya.

Selain itu, kegiatan ini juga untuk membantu program social yang di gulirkan Pemkab Banyuwangi di dalam menangani permasalahan warga miskin. Seperti Rantang Kasih, pemberian asupan makanan bergizi kepada warga miskin yang hidup sebatang kara.

“Ini sebagai upaya untuk membantu masyarakat yang belum tercover dengan berbagai bantuan pemerintah,” pungkas Iptu Suryono.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dua residivis pelaku pencurian dibekuk Satuan Reskrim Polres Banyuwangi, setelah diketahui melakukan aksi kejahatan dengan modus mengaku sebagai pegawai PLN yang akan memperbaiki instalasi listrik di rumah seorang guru.

Mereka adalah Heri Guswanto (38) dan M.Humaidi (36), keduanya warga Dusun krajan Desa Dadapan Kecamatan Kabat Banyuwangi.

Kedok tersangka terbongkar setelah melakukan pencurian di rumah Lilik Sumarni (52), di kawasan Jalan KH Thoha RT 01 RW 02 Desa Pakis Kecamatan Kabat pada Kamis (31/01/2019) lalu.

Menurut pengakuan korban kepada pihak kepolisian, saat itu dirinya baru pulang mengajar di SDN 1 Pakis. Memang selama ini, keseharian korban berprofesi sebagai seorang guru.

Sesampainya di rumah, korban menaruh HP Samsung A3 dan Laptop Acer miliknya diruang keluarga. Selang beberapa lama, korban yang berada didalam kamar mengaku masih mendengar ponselnya berbunyi. Dan baru diketahui hilang, saat korban hendak memasukkan file dari flash disk ke Laptopnya. Korban menduga, saat itu ada 2 pelaku tersebut yang mengaku sebagai petugas PLN.

Selanjutnya, korban melapor ke bagian SPKT Polres Banyuwangi guna meminta penanganan hukum.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Pratista Wijaya mengatakan, berdasarkan laporan korban serta adanya beberapa kajadian dengan modus yang sama di sejumlah TKP di Banyuwangi, Unit Resmob pun melakukan pengembangan penyidikan hingga selama 3 bulan.

“Hingga akhirnya berhasil menangkap 8 orang yang membeli barang hasil dari kejahatan kedua tersangka,” tutur AKP Panji.

Hal ini terungkap dari ponsel milik guru tersebut yang dicuri oleh kedua tersangka dan di beli oleh salah satu penadah, lalu di jual ke beberapa orang.

“Dari catatan kriminalitas, tersangka Heri Guswanto merupakan residivis pelaku kasus Curat pada tahun 2005, 2008 dan 2014 yang di tangani Polres Banyuwangi. Sedangkan M.Humaidi merupakan residivis pelaku kasus pencurian tahun 2017 yang ditangani Polsek Muncar,” papar Kasat Reskrim.

Yang cukup mengejutkan, mereka juga mengaku telah melakukan aksi yang sama di 13 TKP di wilayah Banyuwangi dan 2 TKP di wilayah Bondowoso. Kini, kedua tersangka berserta barang bukti milik para korban diamankan kepolisian. Juga, 8 orang yang disebut sebut sebagai penadah barang hasil kejahatan tersangka digelandang ke Mapolres Banyuwangi.

Untuk kedua pelaku utama di jerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

“Sedangkan 8 orang lainnya di jerat pasal 480 KUHP tentang penadah, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara juga,” pungkas AKP Panji.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Para guru TK se Banyuwangi selama ini mengaku merasa tertekan dengan penggunaan dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) yang di terimanya, karena penyalurannya dalam ancaman sejumlah oknum yang mengaku dari pihak Kejaksaan dan Dinas Pendidikan.

Hal itu terungkap dalam kegiatan Sharing Session dan penerangan hukum penggunaan dana BOP PAUD formal dan non formal, yang di gelar Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Senin (18/03) yang di hadiri puluhan guru TK.

Disetiap tahun, masing masing TK mendapatkan anggaran dana BOP beragam sesuai dengan jumlah siswa siswinya. Dan per siswa dapat jatah Rp 600.000. Sementara dari data yang ada, jumlah TK se Banyuwangi mencapai 756 lembaga dengan jumlah murid sebanyak 32.000 siswa. Namun dari ke 756 lembaga itu ada beberapa yang tidak menerima dana BOP karena belum mempunyai NPSN atau belum terakreditasi.

NPSN adalah kode pengenal yang ditetapkan oleh Pusat Data dan Statistik Pendidikan (PDSP) dan diberikan kepada satuan pendidikan (sekolah) melalui dinas pendidikan kabupaten/kota diseluruh wilayah Indonesia.

Ada pula lembaga yang terus terang menolak kucuran dana BOP tersebut.

Dalam kegiatan itu, mereka mengeluhkan apa yang selama ini mereka alami saat penyaluran dana BOP, yang diakui banyak penekanan dari sejumlah pihak, termasuk yang mengaku oknum dari Kejaksaan Negeri sebagai pemilik CV. Mereka di paksa untuk membeli berbagai produk sebagai penunjang anak anak didik, dan jika itu tidak dilakukan maka diancam akan di cari kesalahan kesalahan.

Kasi Intel Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Bagus Nur Jakfar Adi Saputro yang mendampingi mereka mengatakan, rupanya selama ini para guru TK mengeluhkan adanya beberapa penggunaan dana BOP yang dinilai tidak sesuai dengan peruntukkannya.

“Apa yang tertera di Juknis seolah olah ada pengkondisian untuk membeli satu barang tertentu, padahal itu tidak ada dalam Rencana Anggaran Belanja (RAK) TK,” ujar Bagus.

“Ini jadi satu hal yang krusial sehingga saat kami melakukan pendampingan, banyak suatu emosional yang terjadi karena mereka menginginkan keterbukaan dan keterbebasan penggunaan dana BOP sesuai dengan peraturan yang ada,” paparnya.

Bagus juga mengaku miris dengan dunia pendidikan di Banyuwangi yang di anggapnya di tumpangi berbagai kepentingan, yang mengatas namakan institusi tertentu dengan mengambil keuntungan dan hasil dari dunia pendidikan.

“Contohnya pengadaan susu kemasan kotak, yang dipaksa harus di beli oleh seluruh TK,” ungkap Bagus.

Beberapa kasus di wilayah Kecamatan Rogojampi, di dapati adanya susu yang sudah mengental didalam kemasan, yang di duga sudah kadar luasa.

“Padahal untuk pemberian susu kemasan kepada anak anak harus melalui saran dan rekomendasi dari dokter tentang cocok atau tidaknya penggunaan susu,” kata Bagus.

Dari hasil penelusuran Bagus, di temukan ada beberapa orang yang mengatas namakan Kejaksaan dan Dinas Pendidikan ikut andil mengumpulkan uang pembelian buku menggunakan dana BOP tersebut.

“Kami harap semua pihak mendukung upaya transparansi penggunaan dana BOP oleh Kejaksaan Negeri, yang nantinya dimulai dalam pencanangan Festival Anggaran Bantuan Operasional Penyelenggara (BOP) PAUD,” pungkas Bagus.

Sementara, Ketua Ikatan Guru Taman Kanak Kanak Indonesia (IGTKI) Banyuwangi, Tri Puji Lestari mengaku terbantu dengan pendampingan dari pihak Kejaksaan Negeri tersebut, yang dinilai bisa lebih transparan dalam penggunaan dana BOP ke depan.

“Jika dalam 5 tahun mendatang lembaga di berikan kewenengan untuk menyalurkan dana sesuai dengan kebutuhan, maka semua lembaga di Banyuwangi akan jauh lebih baik,” papar Puji.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian melimpahkan pelaku beserta barang bukti kasus pengrusakan Alat Peraga Kampanye (APK) kepada Kejaksaan Negeri Banyuwangi karena sudah dinyatakan P21 atau lengkap.

Dalam hal ini, sentra Penegakkan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Polres Banyuwangi yang dipimpin penyidik kepolisian, Ipda Joko Suhartono melimpahkan ke sentra Gakkumdu Kejaksaan Negeri, yang di terima Ketut Gede Dame, Senin (18/03).

Pengrusakan APK ini di lakukan oleh Darmawan (45) warga Dusun Krajan RT 03 RW 01 Desa Barurejo Kecamatan Silir Agung, terhadap baliho bergambar Banyu Biru Jarot, yang merupakan Caleg DPR RI Dapil III meliputi Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso dari PDI P.

Serta baliho bergambar Mohammad Kojin, Caleg DPRD Kabupaten Dapil IV dari PKB.

Kedua baliho tersebut terpasang tidak jauh dari rumah pelaku, di lokasi yang dianggapnya tidak sesuai dengan peraturan yang ada, lalu dia melakukan pengrusakan.

“Terkait kasus pengrusakan APK untuk maju ke tahap dua dimulai dari proses klarifikasi pertama lalu klarifikasi kedua, sampai kemudian di jadikan purna pengambilan keputusan,” ujar Joko.

“Sehingga jika sudah memenuhi unsur maka Bawaslu membawanya ke pihak kepolisian. Kemudian di lanjutkan sampai ke tingkat penyidikan lalu diserahkan ke Jaksa Penuntut,” imbuhnya.

Joko mengatakan, setelah berkas dinyatakan P21 maka kewajiban kepolisian untuk menyerahkan tersangka beserta barang buktinya kepada Jaksa Penuntut tersebut.

Dalam hal ini, barang bukti yang diamankan adalah 2 baliho yang kondisinya sudah rusak serta 9 lembar screenshots berisi percakapan pelaku.

Atas semua perbuatannya, pelaku di jerat pasal 280 ayat 1 huruf G UU nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu, dengan ancaman hukuman 2 tahun penjara dan denda Rp 24 juta.

“Untuk penahanan pelaku kami serahkan ke pihak Kejaksaan Negeri,” tutur Joko.

Sementara itu, Kasi Intel Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Bagus Nur Jakfar Adi Saputro mengatakan, pihaknya menerima pelimpahan perkara dari penyidik Polres Banyuwangi mengenai kasus pengrusakan Alat Peraga Kampanye, sesuai dengan UU nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu.

“Pada pelimpahan tahap dua ini, Kejaksaan Negeri diberikan kesempatan waktu selama 20 hari untuk melakukan penelitian sebelum nantinya di limpahkan ke Pengadilan Negeri Banyuwangi,” ungkap Bagus.

Namun Bagus mengaku, pihaknya akan segera melimpahkan berkas kasus ini ke Pengadilan dalam 2 hari ke depan, mengingat singkatnya waktu penanganan perkara pemilu.

“Kejaksaan tidak melakukan penahanan terhadap pelaku karena selama ini dia dinilai kooperatif,” tuturnya.

“Juga seusai dengan pasal 21 UU nomor 7 tahun 2017 tersebut, yang mempertimbangkan unsur unsur obyektif dan unsur subyektif terkait masa masa penahanan,” pungkas Bagus.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Terjadi bentrokan di kantor KPU Banyuwangi, yang berlanjut dengan aksi saling serang antara massa dengan aparat kepolisian yang bertugas.

Unjuk rasa ini di sebabkan karena para pendukung salah satu paslon yang kalah, tidak terima dengan hasil penghitungan suara. Ratusan massa memaksa masuk ke dalam kantor KPU Banyuwangi. Sedangkan puluhan anggota Polwan yang berjaga berusaha melakukan negosiasi, namun tidak berhasil.

Dan massa semakin beringas, sehingga keberadaan polwan tersebut tidak bisa mengatasi kerumunan massa lalu digantikan dengan dalmas awal untuk melakukan penghadangan sesuai tupoksi Satuan Sabhara.

Kondisi ini justru di manfaatkan oleh massa untuk melempar bahan peledak maupun air mineral kemasan gelas ke arah aparat kepolisian. Bahkan, diantara mereka juga membakar ban sebagai bentok protes atas hasil penghitungan akhir KPU. Serta menendang tameng yang di pegang aparat kepolisian secara brutal.

Sementara itu, karena kondisi unjuk rasa semakin memanas, sejumlah mobil WaterCannon diturunkan ke lokasi lalu menembakkan air ke arah kerumunan massa untuk mengurai agar mereka bubar.

Itulah gambaran simulasi penanganan unjuk rasa saat dilaksanakan apel gelar pasukan dalam rangka PAM menghadapi Pemilu tahun 2019, di depan Pendopo Sabha Swagatha Blambangan Banyuwangi, Jum’at (22/03/2019).

Kegiatan ini melibatkan ratusan aparat kepolisian Polres Banyuwangi dari seluruh kesatuan. Ada yang berperan sebagai pengunjuk rasa juga massa pendukung paslon saat melakukan kampanye. Juga ada yang berperan sebagai aparat kepolisian sendiri di dalam melakukan pengamanan.

Dan kegiatan ini, juga di saksikan langsung oleh Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi bersama jajaran forum pimpinan daerah.

“Apel gelar pasukan ini dilaksanakan untuk memantau kesiapan para personel yang terlibat dalam pengamanan, baik TNI, Polri maupun Linmas,” ungkap Kapolres.

“Sekaligus sebagai langkah antisipasi jika terjadi unjuk rasa karena tidak puas dengan hasil penghitungan suara,” imbuhnya.

Kapolres menjelaskan, dalam pengamanan pemilu ini di siagakan 11.536 personel. Khusus aparat TNI Polri di turunkan 1.296 personel. Sedangkan 10.240 personel lainnya adalah dari Linmas.

Sementara, dalam Pemilu 2019 ini KPU Banyuwangi Banyuwangi menyiapkan 5.120 TPS yang terbagi dalam beberapa kualifikasi dari pihak kepolisian.

“4.908 TPS kurang aman, 205 TPS rawan dan 7 TPS yang sangat rawan,” tutur Kapolres.

Simulasi ini di awali dengan penggambaran sterilisasi TPS oleh pasukan K9 Sabhara Polres Banyuwangi. Lalu dilaksanakan kampanye dari Paslon dengan berorasi di depan massa untuk memberikan visi dan misinya.

Juga di gambarkan adanya oknum yang berusaha melakukan penusukan ke salah satu paslon yang sedang menggelar kampanye, untuk selanjutnya ditindak lanjuti oleh aparat kepolisian yang bertugas.

Di beberapa bagian, juga di tampilkan patroli skala besar kepolisian sembari mencari dan pendataan terhadap Alat Peraga Kampanye yang di sinyalir masih terpasang, meskipun sudah memasuki masa tenang.

Di sisi lain, ada 2 orang dalam kondisi mabuk berat memaksa untuk mencoblos di TPS. Namun dengan sigap, aparat kepolisian yang bertugas mengamankan mereka.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dari 5.120 TPS di Banyuwangi yang disiapkan untuk pelaksanaan Pemilu 2019, ratusan TPS diantaranya masuk dalam kategori rawan dan sangat rawan. Tepatnya, 205 TPS rawan dan 7 TPS yang sangat rawan. Sedangkan 4.908 TPS lainnya kurang rawan.

Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi mengatakan, kualifikasi pemetaan TPS tersebut berdasarkan dari sisi geografis daerah setempat.

“Ke 7 TPS yang masuk dalam daerah sangat rawan itu, 3 diantaranya di Lapas. Juga 3 TPS di wilayah kecamatan Songgon dan 1 TPS di kawasan Kecamatan Kalipuro,” ujar Kapolres.

“Untuk pengamanan Pemilu 2019 di Banyuwangi ini, disiagakan 11.536 personel gabungan. Yang terbagi dalam 1.296 aparat kepolisian dan TNI, serta 10.240 anggota linmas,” paparnya.

Sementara sebelumnya, pada Jum’at pagi (22/03/2019) dilaksanakan apel gelar pasukan dalam rangka PAM menghadapi Pemilu 2019 di depan Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, dengan melibatkan seluruh personel yang ada.

Kapolres menjelaskan, apel pengamanan penyelenggaraan kesiapan PAM kampanye ini dilaksanakan serentak secara nasional. Pasalnya, tahapan pemilu sudah dimulai pada Minggu (24/03/2019) dengan di lakukan rapat umum terbuka selama 21 hari.

“Di lanjutkan dengan masa tenang lalu pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara,” imbuhnya.

Kapolres mengaku, untuk pengamanan di seluruh TPS yang rawan dan sangat rawan akan disiagakan 2 aparat kepolisian di masing masing TPS. Bahkan selama pelaksanaan Pemilu ini, Polres Banyuwangi juga mendapat bantuan personel pengamanan dari Brimob Polda Jawa Timur.

“Tapi belum diketahui kepastian jumlah personelnya,” pungkasnya.

Sementara itu, KPU Banyuwangi sendiri saat ini sudah memasuki tahapan pelipatan kertas suara, yang dilanjutkan dengan setting logistic dan belum dilakukan pergeseran ke setiap kecamatan.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Menjelang masa kampanye terbuka 24 Maret 2019, KPU Banyuwangi kini sudah menyelesaikan proses pelipatan kertas suara meskipun ada beberapa yang rusak.

Ketua KPU Banyuwangi, Samsul Arifin mengatakan, prosentase kerusakan kertas suara tersebut dinilainya masih sangat kecil dan secara umum masih cukup baik.

“Contohnya, kertas suara untuk Pilpres yang rusak hanya sebanyak 142 lembar,” ungkapnya.

Samsul mengaku, kerusakan tersebut sudah berhasil di atasi. Sementara untuk kertas suara lainnya diakui masih terpantau tidak ada yang mengalami kerusakan.

“Kami sudah siap dari segi penyelenggaran pemilu, tinggal menghadapi hari pelaksanaan. Sedangkan dari sisi pengamanan adalah kewenangan kepolisian dan TNI juga stakeholder lainnya,” papar Samsul.

Setelah proses pelipatan kertas suara selesai kata Samsul, kini pihaknya melakukan setting logistik. Sedangkan untuk pergeseran ke seluruh kecamatan masih belum dilaksanakan.

Sementara, dalam Pemilu 2019 ini KPU Banyuwangi Banyuwangi menyiapkan 5.120 TPS yang terbagi dalam beberapa kualifikasi oleh pihak kepolisian. Yakni 4.908 TPS kurang aman, 205 TPS rawan dan 7 TPS yang sangat rawan, yakni 3 TPS di lapas, 3 TPS di wilayah Kecamatan Songgon dan 1 TPS lainnya di area Kecamatan Kalipuro.

“Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Banyuwangi dalam Pemilu 2019 ini, tercatat ada 1,3 juta orang,” kata Samsul.

Sementara itu, dari jadwal yang ada, Kampanye terbuka akan di gelar mulai 24 Maret hingga 13 April mendatang.

“KPU Banyuwangi juga telah memetakan beberapa titik yang bisa di gunakan untuk lokasi kampanye akbar, diantaranya Taman Blambangan dan Stadion Diponegoro,” pungkas Samsul.

Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.
Advertisement