Top Stories

Grid List

radiovisfm.com, Banyuwangi - Di akhir pekan ini, Banyuwangi akan diramaikan dengan tiga event menarik. Event tersebut adalah Indonesia Writers Festival, Jazz Gunung Ijen, dan Kebo-Keboan Alas Malang. Wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi bisa menikmati beragam agenda selama tiga hari, mulai Jumat-Minggu, 21-23 September 2018.

Diawali hari Jumat dan Sabtu (21 dan 22 September), Banyuwangi akan menjadi tuan rumah festival penulis berskala nasional, Indonesia Writers Festival (IWF) dengan mengambil lokasi di Jiwa Jawa Resort Kecamatan Licin.

Acara bertajuk Empowering Indonesia Trough Writing tersebut bakal dihadiri ratusan penulis dari berbagai kota. Mereka akan mengabarkan tentang Indonesia yang dimulai dari Banyuwangi melalui tulisan. Sejumlah narasumber pilihan juga akan hadir di sini. Ada jurnalis senior sekaligus founder Narasi Channel Najwa Shihab, jurnalis senior Uni Lubis, serta novelis Fira Basuki, dan masih banyak lainnya.

Bisa dibayangkan serunya saat penulis-penulis hebat berkumpul di Banyuwangi. Apalagi mereka berkompetisi membuat tulisan dengan Gunung Ijen sebagai obyek tulisannya. Secara tidak langsung ini akan menjadi media promosi bagi Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku berterima kasih kepada penyelenggara yang telah memilih Banyuwangi sebagai lokasi perhelatan tersebut. Mengambil lokasi di kaki Gunung Ijen, IWF ini menawarkan sensasi menulis yang berbeda.

“Penulis bisa berlomba sekaligus menikmati keindahan lansekap Gunung Ijen,” ujar Bupati Anas.

Dia mengatakan, keputusan yang tepat memilih lokasi di kaki Ijen. Pasalnya, panorama yang elok akan menjadi sumber inspirasi bagi penulis.

“Setelah berlomba, mereka bisa langsung berwisata sehingga di anggap tidak akan menyesal datang ke Banyuwangi,” imbuhnya.

Masih di hari Sabtu (22/9), Banyuwangi akan menggelar pertunjukan Jazz Gunung Ijen di Amfiteater Taman Gandrung Terakota – Jiwa Jawa Resort- Ijen.

Amfiteater ini menawarkan pemandangan dengan latar belakang kawasan persawahan berupa ratusan patung terakota berwujud penari Gandrung yang tersebar di sekitar persawahan 600 meter di atas permukaan laut. Sangat eksotis karena venue ini berada di areal resort yang sama dengan lokasi IWF.

“Acaranya dimulai pukul 15.30 WIB sehingga penonton bisa menikmati keindahan panorama Gunung Ijen sebelum pertunjukan musik jazz dimulai,” tutur Bupati Anas.

Jazz Gunung Ijen sendiri menawarkan konsep bermusik yang berbeda. Lokasi panggung yang berdekatan dengan posisi penonton akan membuat interaksi antara penampil dan penonton menjadi semakin intim dan lebih hangat. Penonton akan terasa lekat tanpa sekat seakan menyaksikan penampilan musik di belakang rumah sendiri.

Bupati Anas menambahkan, deretan musisi-musisi jazz ternama Indonesia akan menyemarakkan ajang tahunan yang digelar sejak 2013 tersebut.

Ada Andien, Shadow Puppets feat. Marcell Siahaan, serta Idang Rasjidi & The Next Generation feat Mus Mujiono, hingga Sastrani. 

“Suguhan musik jazz berkelas dan pemandangan venue yang eksotis akan berpadu di sini,” ungkap Bupati Anas.

Ditambah lagi duo MC kawakan Alit-Gundhi dan Djaduk Ferianto sebagai pembawa acara akan semakin mencairkan suasana dingin menjadi lebih hangat dengan penuh gelak tawa.

Keesokan harinya, Minggu 23 September, wisatawan bisa menyaksikan tradisi Kebo-Keboan di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh. Ritual ini merupakan tradisi masyarakat setempat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

“Setelah puas menikmati pertunjukan jazz, wisatawan bisa menyaksikan kebo-keboan untuk melengkapi liburan akhir pekannya di Banyuwangi,” kata Bupati Anas.

Kebo-keboan adalah tradisi unik Desa Alas Malang yang rutin digelar setiap bulan Muharam sejak 300 tahun lalu. Ritual ini akan dimulai pukul 10.00 WIB.

Diawali dengan kenduri desa dan diakhiri dengan ritual ider bumi, dimana puluhan “kerbau” mengelilingi empat penjuru arah mata angin di desa tersebut. Serta melakukan ritual layaknya siklus bercocok tanam, mulai dari membajak sawah, mengairi, hingga kerbau ini menemani petani saat menabur benih padi. Mereka juga bertingkah layaknya kerbau sungguhan seperti berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang dilewati.

"Kerbau-kerbau" tersebut melakukannya secara tidak sadar karena sedang dirasuki roh leluhur. Uniknya, “Kerbau” dalam tradisi ini adalah petani yang didandadi layaknya seekor kerbau. Badannya dilumuri jelaga hingga hitam pekat seperti kerbau, di kepalanya juga mengenakan asesoris berbentuk tanduk dan gelang kerincing di tangan dan kakinya. Persis Kerbau. 

“Tradisi kebo-keboan di Banyuwangi berkembang di dua daerah,” imbuh Bupati Anas.

Yaitu, di Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh dan Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi. Kedua tradisi keboan ini, telah masuk dalam bagian Banyuwangi Festival sebagai bentuk apresiasi pemda kepada masyarakat yang telah melestarikan budaya warisan leluhurnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi berharap agar para pengembang perumahan yang tergabung dalam Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) memasukkan unsur budaya dan kearifan lokal daerah setempat dalam pembangunan perumahan.

Hal ini dikatakan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) REI Jatim di eL Royale Hotel, Banyuwangi, Jumat (21/9).

“REI Jawa Timur bisa menjadi pionir dengan memasukkan unsur-unsur budaya dan kearifan lokal daerah setempat dalam desain arsitektur perumahan,” papar Bupati Anas.

Misalnya di Banyuwangi, pengembang bisa membangun rumah khas Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) atau unsur-unsur budaya Banyuwangi lainnya. Demikian juga dengan daerah lainnya, bisa mengangkat budaya dan kearifan lokal dalam pembangunan perumahan.

“Dengan memasukkan unsur-unsur tersebut akan menambah daya tarik tersendiri, dan menjadi karakteristik daerah itu. Karena produk properti dengan arsitektur yang mengadopsi kearifan lokal bisa menjadi landmark atau ikon baru pariwisata,” ujar Bupati Anas.

Dia menjelaskan, langkah tersebut dirasa tepat, apalagi Rakerda REI Jatim mengangkat tema “Sinergitas Sektor Properti dan Pariwisata dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Daerah”. Properti berkaitan erat dengan pariwisata.

“Di Banyuwangi telah menerapkan harus memasukkan unsur kearifan lokal dalam pembangunan hotel di Banyuwangi,” imbuh Bupati Anas.

Dalam artian, sebelum IMB terbit, pemerintah meminta investor hotel untuk presentasi. Apabila tidak ada unsur kearifan lokal Banyuwangi, maka IMB tidak akan diterbitkan.

Bupati Anas menambahkan, hal itulah yang membuat hotel-hotel dan pembangunan di Banyuwangi lainnya memiliki unsur budaya dan kearifan lokal dalam desan arsitekturnya.

Seperti di el Royale Hotel terdapat patung gandrung di lobi hotel. Bahkan atap el Royale memiliki desain atap Rumah Osing. Lalu di Hotel Santika juga mengadopsi model Gajah Oling, motif batik khas Banyuwangi.

“Di resor-resor pun juga membangun rumah khas Suku Osing di pinggir pantai,” pungkas Bupati Anas.

Sekretaris Jenderal DPP REI, Totok Lusida, mengatakan, pembangunan properti harus bersinergi dengan pariwisata. Dia juga mendukung gagasan untuk mengadopsi kearifan lokal ke sektor properti.

“REI ikut berkomitmen mengembangkan sektor pariwisata, termasuk dengan mengembangkan produk-produk properti untuk menunjang kawasan pariwisata,” ujar Totok.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Inovasi Pemkab Banyuwangi, Gancang Aron, terpilih masuk Top 99 Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK) yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN & RB).

Program Gancang Aron ini berhasil dinobatkan sebagai 99 inovasi terbaik dari 2.824 inovasi di seluruh Indonesia.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri PAN&RB, Syafruddin di Hotel Shangrila Surabaya, Rabu malam (19/9) kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Djadjat Sudradjat mewakili Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Gancang Aron akronim dari Gugus Antisipasi Cegah Antrian Panjang Dengan Antar Obat ke Rumah Pasien, yang dalam bahasa lokal artinya ‘Lekas Sembuh’. Program ini diluncurkan sejak November 2017 lalu.

“Munculnya inovasi ini berawal dari keluhan masyarakat terkait lamanya antrean dalam pelayanan obat,” tutur Bupati Anas.

Dalam beberapa kasus penyakit, penyiapan obat memang membutuhkan waktu karena harus diracik terlebih dahulu oleh apoteker sehingga kasihan pasiennya.

Sudah sakit, masih disuruh harus menunggu obat,” imbuhnya.

Lalu menurut Bupati Anas, pihaknya mencoba mengatur strategi sampai lahir inovasi tersebut. Dimana, setelah berobat, pasiennya bisa langsung pulang beristrirahat di rumah. Obatnya nanti diantar setelah disiapkan apoteker dan Gratis, tanpa di pungut biaya apapun,” tutur Bupati Anas.

Program itu kemudian diberi sentuhan inovatif tambahan dengan menggandeng Go-Jek. Pasalnya kata Bupati Anas, personel dan armada kendaraan rumah sakit milik pemerintah daerah terbatas.

Akhirnya di kolaborasikan dengan Go-Jek,” ujarnya.

Dengan kolaborasi ini, di nilainya lebih hemat karena tidak perlu pengadaan armada kendaraan.

Meski diantar Gojek, rumah sakit milik pemerintah daerah itu tetap memantau ketepatan pengiriman obat. Namun sebelumnya, pasien telah diedukasi tentang obat yang dikonsumsinya saat menyerahkan resep.

“Untuk memastikan bahwa obat diterima dengan tepat oleh pasien, maka driver Gojek diberikan pendidikan khusus,” kata Bupati Anas.

Pasalnya, tidak semua driver Go-Jek bisa mengantar obat. Sehingga perlu diseleksi dan diberikan pendidikan khusus. Selain itu, juga ada sistem pengamanan lain untuk memastikan obat sampai serta informasi tentang obat itu sendiri tersampaikan dengan baik ke pasien.

“Berkat program ini, keluhan pasien akan pelayanan obat menjadi jauh berkurang,” tutur Bupati Anas.

Selain itu, waktu tunggu antrian menjadi lebih pendek. Yang dulunya bisa mencapai 240 menit, sekarang waktu tunggu antrian dipangkas maksimal 60 menit.

Direktur RSUD Blambangan, dr Taufik Hidayat menambahkan, ada sejumlah prosedur lain yang harus dilalui dalam program ini selain pendidikan untuk driver. Di antaranya, apoteker menentukan terlebih dahulu obat-obatan yang dapat diantar dan tidak untuk menjaga keamanan, fungsi dan kualitas obat.

Obat juga dikemas khusus menggunakan plastik hitam agar tidak terkena matahari dan tidak terbaca,” ujar Taufiq.

Selain sinergi dengan Gojek, program layanan antar obat ‘Gancang Aron’  ini juga menyediakan pelayanan “home care”, di mana apoteker mendatangi warga yang membutuhkan edukasi lebih tentang pengobatannya.

“Layanan ini untuk kasus penyakit tertentu yang membutuhkan edukasi ekstra. Misalnya, penyakit TBC,” pungkas Taufiq.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kecamatan Songgon berhasil menyabet juara pertama dalam Lomba Kesadaran Hukum (Kadarkum) 2018, yang di selenggarakan oleh Pemkab Banyuwangi.

Kegiatan ini merupakan agenda tahunan, yang di gelar dalam upaya untuk menuju masyarakat sadar hukum. Lomba Kadarkum ini di ikuti 25 Kecamatan se Kabupaten Banyuwangi yang terbagi dalam 5 zona, yang masing masing zona terdiri dari 5 kecamatan.

Dari setiap zona ini, di ambil 1 juara untuk menuju babak final. Selanjutnya, 5 juara dari masing masing zona tersebut kembali bertarung di babak final untuk menjadi yang terbaik.

Sementara, sebagai dewan juri melibatkan dari berbagai stake holder mulai dari Kepolisian, Pemerintah Daerah juga unsur akademisi.

Ketua dewan juri, Iptu Suryono Bhakti mengatakan, materi lomba ini diantaranya menyangkut UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika juga UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, UU nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, Pengelolaan Keuangan desa, Pemendagri nomor 29 tahun 2018, Peraturan Bupati nomor 15 tahun 2018, Peraturan Bupati nomor 17 tahun 2015, serta pemberlakukan Tax Monetor, Permenpar nomor 18 tahun 2016, Perlindungan Perempuan dan Anak juga wawasan kebangsaan. “Dari ke 25 peserta berhasil terjaring 5 kecamatan yang masuk ke babak final,” ujar Ketua Dewan juri yang juga merupakan Kasubag Hukum Polres Banyuwangi tersebut.

Dan setelah menjalani babak final yang di gelar di aula Kantor Kecamatan Genteng, Senin (24/9), akhirnya Kecamatan Songgon berhasil menjadi jawara dalam lomba Kadarkum 2018 ini.

“Sebagai juara kedua adalah Kecamatan Gambiran dan juara ketiga Kecamatan Pesanggaran,” tutur Suryono.

Sementara juara harapan 1 Kecamatan Genteng dan harapan 2 adalah Kecamatan Tegalsari.

“Dari kegiatan ini diharapkan masyarakat dapat mengaplikasikan dalam kehidupannya bermasyarakat,” pungkasnya.

Dalam lomba Kadarkum 2017 lalu, Kecamatan Genteng menjadi yang terbaik. Di susul Kecamatan Srono sebagai juara kedua dan ketiga adalah Kecamatan Gambiran.

Sedangkan Juara Harapan 1 Kecamatan Glagah dan Harapan 2 Kecamatan Songgon.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Banyuwangi mendapatkan dukungan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk peningkatan kapasitas UMKM daerah.

LIPI akan meningkatkan kualitas produk UMKM melalui sentuhan teknologi tepat guna. Komitmen untuk mendukung Banyuwangi tersebut ditandai dengan penandatanganan kerjasama kedua pihak tentang Penelitian, Pengembangan dan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Serta Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Kerjasama tersebut ditandatangani Wakil Kepala LIPI Prof. Dr. Ir. Bambang Subiyanto dengan Bupati Abdullah Azwar Anas, di area Taman Gandrung Terakota (TGT) di Jiwa Jawa Resort, Desa Tamansari, Kecamatan Licin Banyuwangi, Sabtu (22/9).

Prof. Bambang mengatakan LIPI memiliki program pendampingan bagi pengembangan teknologi di desa-desa di Indonesia.

“Di Banyuwangi, program ini secara khusus akan menyasar peningkatan kapasitas UMKM untuk meningkatkan kualitas produknya melalui teknologi tepat guna,” ujar Bambang.

Menurutnya, salah satu syarat untuk bisa dilakukannya transfer teknologi tepat guna tersebut adalah kesiapan SDM. Banyuwangi dinilainya sebagai salah satu daerah yang siap SDM nya.

“Ke depan, para peneliti LIPI akan turun langsung mendampingi proses itu,” ungkapnya.

Bambang mencontohkan, teknologi tepat guna yang akan diberikan misalnya dalam pengolahan kopi dengan memberikan informasi proses pengolahan yang tepat serta pengembangan alat roasting yang mudah dan efisien.

Selain itu juga melatih bagaimana melakukan diversifikasi produk kopi seperti pembuatan kopi jahe, kopi susu dan lain-lain atau bisa juga untuk pengolahan cokelat yang menjadi salah satu potensi Banyuwangi selain kopi.

“Saat ini, LIPI tengah menurunkan peneliti ke desa-desa di Banyuwangi melihat potensi desa, untuk kemudian dibantu pengembangannya lewat teknologi dari LIPI,” papar Bambang.

“Setelah itu, LIPI akan langsung mendampingi UMKM untuk proses transfer teknologi hingga pelaku UMKM benar-benar menguasai teknologi itu,” imbuhnya.

Bambang mengaku, pihaknya akan terus mendampingi sampai mereka benar-benar menguasai dan tidak akan ditinggal begitu saja saat teknologi datang.

“Untuk mendukung kerja sama ini, kami telah mengagendakan menggelar Pekan Ilmiah Remaja 2019 di Banyuwangi yang akan diikuti ribuan peneliti muda dari seluruh nusantara,” tutur Bambang.

Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut baik sinergi yang terjalin dengan LIPI.

“Saya harap UMKM Banyuwangi akan mendapatkan manfaat yang optimal dari sinergi ini,” ungkapnya.

Bupati Anas berterima kasih kepada LIPI yang telah ikut peduli pada perkembangan UMKM Banyuwangi.

“Kerjasama ini menjadi penyemangat bagi daerah untuk terus melakukan yang terbaik,” imbuhnya.

Bupati Anas juga meminta kepada LIPI untuk pengiriman SDM guna membantu pengembangan UMKM. Misalnya praktisi pemasaran, sehingga jika produknya bagus, bisa langsung dikoneksikan dengan buyer.

“Saat ini pemerintah daerah sendiri juga terus mendukung peningkatan kapasitas UMKM Banyuwangi,” kata Bupati Anas.

Mulai peningkatan kualitas produk dan kemasan hingga pemasarannya salah satunya melalui fasilitas banyuwangimall.com.

 

Pembebasan pajak daerah ini di mulai 24 September hingga 15 Desember 2018.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang laki laki dan wanita paru baya memaksa menjual gadis ABG di lokalisasi untuk melayani tamu, hingga keduanya diamankan kepolisian.

Mereka adalah Syaiful Bahri (25) warga Dusun Rogojampi Utara Desa Rogojampi Kecamatan Rogojampi Banyuwangi dan Niwati alias Eva (40) warga asli Dusun Sasitangor Desa Sukosari Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember, yang kini menempati salah satu rumah di dalam area Lokalisasi Padang Bulan Kecamatan Singojuruh Banyuwangi.

Sebelumnya lokalisasi tersebut sudah di tutup oleh pemerintah daerah bersama kepolisian, dan sejumlah PSK yang berasal dari luar kota sudah di pulangkan ke kampung halamannya. Sedangkan yang berasal dari Banyuwangi di berikan berbagai pelatihan. Namun rupanya, upaya berbagai stake holder ini tidak membuat mereka jera bahkan kembali melakukan aktifitasnya sebagai PSK.

Kasus ini terbongkar berawal dari laporan Sa’I (70) warga Dusun Krajan Desa Pakistaji Kecamatan Kabat Banyuwangi kepada kepolisian. Dia mengaku, cucunya berinisial LA masih berusia 15 tahun di jemput oleh seorang perempuan bernama Dewi warga Kecamatan Blimbingsari Banyuwangi, untuk di janjikan pekerjaan. Pasalnya, korban sudah tidak sekolah dan hanya tamatan SD.

Selang 6 hari korban tidak juga pulang ke rumahnya, hingga Sa’I pun mencari Dewi dan meminta agar cucunya tersebut segera di kembalikan. Tapi Dewi mengaku, korban berada di lokalisasi Padang Bulan.

Selanjutnya, Sa’I menjemput cucunya dengan dihantarkan Dewi lalu di bawa pulang.

Saat di mintai keterangan kakeknya, korban mengaku di pekerjakan sebagai PSK dan dipaksa untuk melayani laki laki hidung belang. Karena tidak terima, Sa’I pun melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian.

Kapolsek Kabat Banyuwangi, AKP Supriyadi mengatakan, kepada petugas korban mengaku di paksa melayani tamu sebanyak 2 kali dengan mendapatkan bayaran Rp 400.000.

“Namun sebelumnya korban di cekoki minuman keras terlebih dahulu,” ujar Kapolsek.

AKP Supriyadi menjelaskan, dari pengakuan korban pula, dirinya dibawa oleh Dewi lalu di pertemukan dengan tersangka Syaiful Bahri yang selanjutnya di tempatkan di lokalisasi Padang Bulan di kamar kontrakan tersangka Niwati alias Eva untuk di pekerjakan sebagai PSK.

“Kepolisian pun mengejar keberadaan ketiga tersangka hingga berhasil menangkap Syaiful Bahri dan Niwati, sedangkan Dewi berhasil melarikan diri dan menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO),” pungkas Kapolsek.

Kini, kedua tersangka meringkuk di dalam sel tahanan Mapolsek Kabat Banyuwangi. Dan sejumlah barang bukti pun di amankan kepolisian, seperti 1 buah sprei motif kembang dan 1 buah bantal serta 2 lembar uang kertas pecahan Rp 100.000.

Atas perbuatannya, mereka di jerat pasal 76 jonto pasal 83 dan 88 UU RI nomor 35 tahun 2014,  tentang perubahan UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak subsider pasal 297 KUHP, dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) atas kasus perdagangan anak di bawah umur, kepolisian berhasil menangkap seorang mucikari asal Kecamatan Blimbingsari Banyuwangi.

Dia adalah Dewi Refa Lestari (26) bertempat tinggal di Dusun Krajan RT 03 RW 04 Desa Badean.

Tersangka disebut sebut telah memperdagangkan seorang gadis dibawah umur, LA warga Desa Pakistaji Kecamatan Kabat Banyuwangi di lokalisasi Padang Bulan Kecamatan Singojuruh.

Bahkan, korban yang masih berusia 15 tahun dan hanya tamatan SD itu di paksa melayani tamu sebanyak 2 kali dengan bayaran Rp 400.000, di lokalisasi yang sebelumnya sudah ditutup oleh Pemkab Banyuwangi bersama kepolisian tersebut.

Kapolsek Kabat Banyuwangi, AKP Supriyadi mengatakan, tersangka ditangkap kepolisian di rumahnya tanpa perlawanan.

“Selama pelariannya, tersangka gaku sempat kabur ke Jember dan menginap di rumah saudaranya di Desa Sumber Beras Kecamatan Muncar Banyuwangi,” papar Kapolsek.

Dia menjelaskan, tersangka Dewi ini berperan menjemput korban di rumahnya lalu di perkenalkan kepada Syaiful Bahri (25) warga Dusun Rogojampi Utara Desa Rogojampi Kecamatan Rogojampi Banyuwangi.

Oleh Syaiful, korban di serahkan kepada tersangka Niwati alias Eva (40) warga asli Dusun Sasitangor Desa Sukosari Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember, yang kini menempati salah satu rumah di dalam area lokalisasi Padang Bulan.

“Selanjutnya, korban di paksa melayani tamu namun terlebih dahulu di cekoki minuman keras,” kata Kapolsek.

“Korban mengaku tergiur dengan ajakan Dewi, karena dijanjikan akan di beri pekerjaan. Namun rupanya malah di pekerjakan sebagai PSK,” imbuh AKP Supriyadi.

Kapolsek menambahkan, kakek korban melapor ke pihak kepolisian atas kasus ini, yang selanjutnya di lakukan penangkapan terhadap tersangka Syaiful Bahri dan Niwati, namun tersangka Dewi berhasil kabur.

“Aparat kepolisian lakukan pengembangan penyidikan dan menyanggong tersangka di sekitar rumahnya, karena diyakini dia tidak akan pergi jauh karena mempunyai anak masih kecil,” tutur Kapolsek.

Dan setelah diketahui tersangka pulang ke rumahnya itulah, kepolisian langsung menangkap tersangka tanpa perlawanan.

Kini, tersangka Dewi di jebloskan ke dalam sel tahanan Mapolsek Kabat gabung bersama 2 tersangka lainnya.

Dan atas semua perbuatannya, di jerat pasal 76 jonto pasal 83 dan 88 UU RI nomor 35 tahun 2014,  tentang perubahan UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak subsider pasal 297 KUHP, dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tidak hanya pil koplo, pelajar berusia 18 tahunan di Banyuwangi ditangkap saat mengedarkan narkotika jenis sabu.

Dia berinisial ASD menempuh pendidikan di salah satu sekolah swasta, dan tercatat sebagai warga Kelurahan Mojopanggung Kecamatan Giri Banyuwangi.

Selain itu, Satreskoba Polres Banyuwangi juga menangkap seorang pengedar lainnya, Muhammad Zaldi Ghiffary (20) warga Jalan Andalas nomor 1 RT 02 RW 01 Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi kota.

 Mereka ditangkap di rumah kost Khenzi di kawasan Jalan Kepiting Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi kota.

Kasat Narkoba Polres Banyuwangi, AKP Imron mengatakan, awalnya kepolisian mendapat laporan dari masyarakat mengenai sepak terjang kedua tersangka yang di sebut sebut sebagai pengedar sabu.

“Aparat kepolisian pun melakukan pengembangan penyidikan hingga berhasil mengendus keberadaan keduanya di TKP,” tutur AKP Imron.

Kasat Narkoba menjelaskan, dari penggerebekan di rumah kost tersebut, kepolisian berhasil mengamankan barang bukti 3 paket sabu seberat 0,59 gram, 1 buah timbangan digital, 1 bendel plastic klip, 2 buah korek gas, 13 buah sedotan warna putih, 1 ATM BCA atas nama ASD serta 1 unit ponsel.

“Kini kepolisian terus melakukan pengembangan penyidikan untuk mengungkap asal muasal barang haram yang di perjual belikan oleh kedua tersangka itu,” ungkap Kasat Narkoba.

Kini, keduanya harus meringkuk di dalam sel tahanan Mapolres Banyuwangi guna mempertanggung jawabkan semuanya.

Dan atas perbuatannya, mereka di jerat pasal 114 subsider pasal 112 UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika, dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pebalap dari 22 negara siap berkompetisi dalam lomba balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018, yang tahun ini bertemakan Spirit of Blue Fire.

Kompetisi balap sepeda 2.2 yang masuk agenda resmi federasi balap dunia United Cycliste International (UCI) ini digelar pada 26-29 September, yang akan menempuh empat etape dengan rute sepanjang 599 kilometer.

Memasuki tahun ketujuh pelaksanaannya, ITdBI tahun ini diikuti 20 tim continental yang pesertanya berasal dari 22 negara. Antara lain dari New Zealand, Australia, Malaysia, Thailand, Afrika Selatan, Eritria, Yunani dan Belgia. Juga ada dari Prancis, Inggris, Jerman, Colombia, Spanyol, Jepang, Belanda, China, dan Slovenia.  

Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, Banyuwangi konsisten menggelar ITdBI untuk ketujuh kalinya sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah berkontribusi bagi Indonesia dalam penyelenggaraan ajang internasional.

“Diharapkan, event ini akan jadi bagian yang mengabarkan hal positif tentang Indonesia kepada dunia,” ungkap Bupati Anas.

“Ajang ini juga menjadi pemicu pariwisata dengan datangnya delegasi dalam dan luar negeri serta penggemar sepeda,” imbuhnya.

Dengan sendirinya, ITdBI menaikkan awareness publik terhadap Kawah Ijen sebagai destinasi unggulan dengan fenomena api biru (blue flame) yang mendunia.

Sementara, Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Banyuwangi, Wawan Yadmadji mengatakan, para pebalap akan diajak menyusuri panorama elok Bumi Blambangan hingga berpacu menaklukkan tantangan ekstrim tanjakan Gunung Ijen. Semua rute tersaji lengkap, mulai perdesaan, perkebunan, pegunungan, hingga pantai.

“Bahkan, para pebalap juga di perkenalkan lokasi bersejarah di Banyuwangi, salah satunya Rowo Bayu Kecamatan Songgon yang di jadikan sebagai garis finish di salah satu etape,” papar Wawan.

Dia mengaku, dari 4 etape tersebut ada 2 tanjakan yang harus ditaklukkan oleh para pebalap yakni menuju Wisata Rowo Bayu serta ke Paltuding Kawah Ijen. Disepanjang rute, pebalap melewati berbagai kawasan indah yang bervariasi lengkap dengan keramahan warga.

“Ini sesuai dengan konsep sport tourism ITdBI, di mana ajang olahraga berpadu dengan strategi pengembangan pariwisata,” ujarnya.

Wawan menjelaskan, pada etape terakhir, pebalap akan mengambil titik start dari Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran, desa terujung selatan Banyuwangi yang berdekatan dengan Pantai Sukamade, salah satu segitiga destinasi wisata andalan Banyuwangi.

“Sepanjang jalan yang akan dilewati pebalap sudah dalam kondisi prima. Ini menunjukkan bahwa pariwisata bisa menjadi sarana konsolidasi infrastruktur,” pungkas Wawan.

Chairman ITdBI Guntur Priambodo mengatakan, jalur tanjakan menuju Gunung Ijen paling dinantikan, karena salah satu yang terekstrem di Asia dengan ketinggian 1.871 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan merupakan level tertinggi di balap sepeda (hors categorie).

“Ketinggiannya melampaui tanjakan Genting Highland dalam Tour de Langkawi Malaysia yang sekitar 1.500 mdpl,” ujar Guntur.

Untuk Stage 1 ITdBI 2018 sejauh 153,1 KM start Kantor Bupati Banyuwangi dan Finish Rowo Bayu Songgon. Etape 2 sejauh 179,3 KM start Stasiun Kalibaru serta Etape 3 sejauh 139,4 KM start RTH Maron Kecamatan Genteng. Di kedua etape ini finish di Kantor Bupati Banyuwangi.

Sementara etape 4 atau disebut etape neraka sejauh 127,2 KM, start Pasar Sarongan dan finish Paltuding Kawah Ijen.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Masyarakat Kelurahan Banjar Sari Kecamatan Glagah Banyuwangi menggelar ritual bersih desa, Senin (24/9), yang di awali dengan selamatan bersama di sumber mata air yang ada di Lingkungan Pancoran.

Selamatan ini di laksanakan pagi hari dengan di pimpin langsung oleh Camat Glagah Banyuwangi, Astorik didampingi Lurah Banjar Sari, Senari. Dalam selamatan tersebut, ratusan warga membawa bekal nasi pecel petek, yang merupakan makanan khas banyuwangi.

Sebelum menyantap nasi pecel petek, terlebih dahulu di lakukan pembacaan do’a yang di pimpin oleh tokoh masyarakat setempat. Sementara untuk lokasi sumber mata air tersebut, berjarak kurang lebih 2 kilometer ke arah barat dari pemukiman penduduk.

Untuk menuju ke lokasi, warga berjalan beriringan melewati pematang sawah yang di sisi kanan dan kirinya mengalir air jernih yang berasal dari sumber air Pancoran. Dan air tersebut di manfaatkan oleh warga untuk mengairi sawah mereka. Sementara di lokasi sumber mata air, terdapat pohon beringin cukup besar.

Lurah Banjar Sari, Senari mengatakan, ritual bersih desa di Kelurahan Banjar Sari ini di laksanakan setiap satu tahun sekali di tanggal 14 Muharram.

“Ritual ini sengaja di awali dengan do’a bersama di sumber mata air pancoran karena di anggap sebagai sumber dari air yang mengalir dan memberikan kehidupan terhadap masyarakat setempat, yang sebagian besar adalah petani,” papar Senari.

Selain itu menurut Senari, warga setempat juga terlebih dahulu meminta restu kepada mbah buyut Sentono yang dipercaya sebagai penjaga sumber mata air tersebut, sebelum melaksanakan ritual bersih desa.

“Setelah sholat maghrib, seluruh masyarakat di Kelurahan Banjarsari menggelar selamatan kampung di depan rumah mereka masing masing, dengan menyajikan makanan yang sama yaitu pecel petek,” ujar Senari.

Dia menambahkan, di malam harinya, di gelar pengajian dan pembacaan lontar yusuf di kantor Kelurahan Banjar Sari semalam suntuk.

Camat Glagah Banyuwangi, Astorik menjelaskan, sumber mata air tersebut sesungguhnya bisa di kelola dengan baik menjadi destinasi wisata baru untuk bisa mendatangkan wisatawan.

“Yang nantinya di harapkan, dari pengelolaan wisata sumber mata air ini bisa berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat,” ungkap Astorik.

Pasalnya menurut Astorik, di lokasi tersebut di nilai cukup bagus apalagi di dalamnya terdapat pohon beringin berukuran cukup besar dan rindang, lengkap dengan suara gemericik air di sepanjang aliran mata air tersebut.

“Saya minta pada Lurah dan masyarakat setempat untuk saling berkoordinasi menentukan berbagai langkah di dalam upaya rencana pembukaan wisata sumber mata air itu,” tutur Astorik.

Sementara itu, dari data yang ada, jumlah penduduk di Kelurahan Banjar Sari mencapai 6 ribuan orang lebih. Mereka bertempat tinggal di 5 lingkungan, yaitu Lingkungan Sukorojo, Krajan, Gunung Sari, Tembakon dan Lingkungan Pancoran.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Masyarakat Desa Alas Malang Kecamatan Singojuruh Banyuwangi menggelar ritual Kebo Keboan, Minggu (23/9)  sebagai rasa ucap syukur kepada Yang Maha Kuasa atas karunia tanah yang subur dan panen yang melimpah.

Ritual di mulai dengan selamatan Ijab Qobul yang di pimpin oleh tetua adat, dilanjutkan dengan makan nasi tumpeng bersama di sepanjang jalan desa.

Lalu, di lanjutkan dengan ritual ider bumi kebo keboan. Dimana, puluhan warga yang berperan sebagai hewan kerbau memakai replica tanduk serta di sekujur tubuhnya di lumuri cairan arang sehingga seluruhnya menghitam beserta wajahnya. Mereka berkeliling kampung dengan di iringi kesenian barong. Ada pula Dewi Sri, yang merupakan simbol kesuburan masyarakat agraris, yang ditandu mengikuti manusia kerbau diarak. 

Ribuan masyarakat pun memadati lokasi acara. Banyak dari mereka tidak bisa menghindari saat di dekati dan di usap arang oleh para kebo jadi jadian tersebut.

Kubangan yang di gunakan tempat kebo keboan ini berada tepat di depan Rumah Budaya Kebo Keboan. Dimana sebelumnya adalah di lahan sawah kering yang di sulap menjadi kubangan air.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ini merupakan model yang cukup baik di tengah gempuran moderenitas namun kebudayaan local terus tumbuh. Dan masyarakat semakin bangga dengan budaya lokal.

“Saya apresiasi peningkatan kwalitas ritual KeboKeboan yang cukup segnifikan disetiap tahunnya,” ungkap Bupati Anas.

Bahkan di tahun ini, kemasan acaranya di buat semakin menarik dengan berbagai sentuhan yang menggambarkan adat budaya masyarakat setempat,” imbuhnya.

Juga di setiap pintu masuk di sulap menjadi pintu gerbang yang kental filosofi budaya, dengan di lengkapi sayuran maupun buah hasil pertanian masyarakat setempat.

Bupati Anas mengaku, ini bisa di contoh daerah lain karena kegiatan sebesar itu tidak meminta bantuan anggaran ke Pemerintah Daerah dan sepenuhnya swadaya masyarakat.

Ketua Panitia Indra Gunawan menjelaskan tradisi ini merupakan selamatan desa sebagai ucapan syukur masyarakat tani atas hasil limpahan panen dan doa buat musim tanam di tahun depan.  

Dulu acara ini hanya sebatas kegiatan ritual biasa di desa di sekitar sawah dan perkampungan,” ujar Indra’

Tapi dengan sentuhan pemkab menurutnya, acara ini dikemas kolosal yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Sementara, kegiatan ini mendapat apresiasi dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid yang langsung hadir dilokasi.

Hilmar mengaku sangat tertarik dengan event budaya ini. Dia menilai warga  Alasmalang berhasil menjaga dan melestarikan tradisi turun temurun ini. 

"Nilai dari budaya ini mempunyai makna, festival kebo-keboan ini dalam rangka menyambut kehidupan mengenal alam, dan menjadi tradisi yang memiliki nilai besar bagi masyarakat. Dan saya salut, warga berhasil meleatarikan, bahkan semua swadaya dan bergerak bersama. Satu kata untuk Alasmalang, hebat," ujarnya. 

Menurutnya, Banyuwangi telah berhasil membuat event sederhana menjadi sangat luar biasa. Even ini, kata dia, merupakan paket lengkap karena menggabungkan pariwisata, sosial, pendidikan dan tentunya kebudayaan.

 

 

 

 

Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.
Advertisement