radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah resmi di ekspor ke Italia, Pemerintah Daerah berharap ekspor produk beras organik Banyuwangi semakin meluas. Utamanya ke Amerika Serikat (AS) dan Jerman sebagai pasar pertanian organik terbesar di dunia.

Saat mengunjungi pusat produksi beras organik, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, Jumat (22/3/2019), Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, produk beras organik Banyuwangi semakin diminati, baik di dalam maupun luar negeri.

“Diharapkan dengan pengenalan yang luas, tahun depan bisa ekspor ke negara lain, seperti Jerman atau AS,” kata Bupati Anas.

“Selain itu, tentu menggarap pasar dalam negeri yang juga besar,” imbuhnya.

Kelompok tani yang berhasil ekspor di daerah tersebut mendapat pendampingan dari Pemkab Banyuwangi dan Bank Indonesia (BI). Beras yang diekspor berasal dari tiga varietas padi asli Banyuwangi yang telah didaftarkan di Kementerian Pertanian. Seperti, Beras Merah Varietas Segobang A3, Beras Hitam Melik A3, dan Beras Sunrise of Java.

“Mengutip data Federasi Internasional Gerakan Pertanian Organik (IFOAM) dan Lembaga Riset Pertanian Organik, pasar produk organik tumbuh cepat,” ujar Bupati Anas.

AS adalah pasar organik terbesar di dunia dengan nilai USD 27,04 miliar, diikuti Jerman USD 8,45 miliar, Perancis USD 4,8 miliar, dan Tiongkok USD 2,67 miliar. Sehingga kata Bupati Anas, pasarnya harus terus diperluas. “Saya juga berterima kasih ke Bank Indonesia (BI) yang bersama sama membantu kelompok tani di wilayah setempat. Ini sebagai wujud kolaborasi yang baik,” tutur Bupati Anas.

Dengan keberhasilan ini, Bupati Anas juga mengajak BUMN-BUMN untuk ikut membantu petani Banyuwangi.

“Saat ini pengembangan beras organik dilakukan di 9 kecamatan seluas 81,49 hektar dengan produksi 515,5 ton per tahun,” imbuhnya.

Sebanyak tujuh kecamatan telah mendapatkan sertifikat pertanian organik Standar Nasional Indonesia (SNI). Tahun ini dua kecamatan dalam proses SNI.

“Kami targetkan, tahun depan bisa dikembangkan hingga 200 hektar padi organic bersama petani dengan menggunakan APBD. Kelompok-kelompok tani terus dilatih masuk ke pertanian organik, karena keuntungan lebih besar dengan permintaan ekspor yang tinggi,” pungkas Bupati Anas.

Ketua Kelompok Tani Mendo Sampurno (produsen beras organik) Samanhudi menjelaskan, penjualannya terus meningkat. Per bulan, mereka mengirim hingga 200 kilogram beras organik ke Australia dan 20 kilogram ke Taiwan.

“Juga ada pesanan berkala dari China dan Amerika Serikat,” ungkap Samanhudi.

Kelompok tani itu bermitra dengan PT Sirtanio, perusahaan agribisnis yang digerakkan anak-anak muda Banyuwangi. Bahkan kata Samanhudi, dalam dua hari ini saja, ada tambahan pesanan dalam negeri mencapai 1 ton. Dari Surabaya 400 kg, Tangerang dan Lumajang 100 kg, Malang 60 kg, Jember 400 kg, Bekasi 75 kg, serta Balikpapan 100 kg.

Di luar pesanan itu, setiap bulan mereka mengirim hingga 30 ton per bulan ke produsen makanan nasional.

“Saya ucapkan terima kasih pada Pemkab Banyuwangi dan BI, karena tanpa pendampingan itu tidak bisa sejauh ini perkembangannya,” imbuh Samanhudi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna mengembangkan berbagai destinasi wisata baru di Indonesia melalui sport tourism, pemerintah daerah berkolaborasi dengan BUMN PT Bank Mandiri (Persero) Tbk siap menggelar “Mandiri Banyuwangi Half Marathon. Kegiatan ini masuk dalam salah satu agenda Banyuwangi festival, yang akan di gelar pada Minggu, (31/03/2019).

Dalam keterangan persnya di Hotel Dialoog,Kamis (21/03/2019), Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, penyelenggaraan ajang ini diharapkan semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai destinasi wisata di Tanah Air.

“Saat ini, animo pecinta olahraga lari sungguh luar biasa. Inilah alasan Pemkab Banyuwangi menggelar event itu,” ujar Bupati Anas.

Meski saat ini masih skala nasional, namun pihaknya berupaya agar ke depan Banyuwangi bisa menaikkan kembali kelasnya sehingga menjadi salah satu daerah yang dapat menggelar ajang maraton internasional.

Ajang maraton ini menawarkan sensasi kompetisi lari yang berbeda. Dengan start dan finish di Taman Blambangan, peserta diajak menyusuri kawasan perkotaan dan perdesaan Banyuwangi. Mereka akan melintasi jalan-jalan protokol perkotaan, areal persawahan, dan kawasan permukiman penduduk.

“Inilah yang membedakan ajang itu dengan event serupa di daerah lain,” ungkap Bupati Anas.

“Jika biasanya ajang marathon hanya melewati jalan-jalan perkotaan, di sini juga disuguhkan suasana perdesaan,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Bupati Anas, event ini juga mengkombinasikan olah raga dan budaya.

Di sepanjang rute, peserta akan dimanjakan dengan beragam budaya dan kesenian daerah. Seperti tari gandrung, barong osing, kuntulan, dan barongsai.

“Disepanjang rute, disiapkan 8 spot entertainment yang dipastikan akan menyenangkan bagi para peserta, karena bisa berekreasi saat berkompetisi,” kata Bupati Anas.

Vice President Corporate Communication Bank Mandiri Rudi As-Aturridha mengungkapkan, dukungan Bank Mandiri terhadap event ini karena ingin berperan aktif dalam mengembangkan destinasi-destinasi wisata baru di Indonesia melalui sport tourism.

“Kami memilih Banyuwangi, karena daerahnya memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat beragam,” kata Rudi.

Selain itu, juga sangat inovatif dan kreatif menciptakan atraksi wisata untuk menarik wisatawan sehingga pihaknya merasa tertarik ikut serta mengembangkan pariwisata di kota Banyuwangi melalui olahraga lari yang sedang menjadi tren di dunia.

“Jika respon kegiatan ini cukup bagus, maka direncanakan kedepan dibuat event Full Marathon,” tutur Rudi.

Bahkan, Rudi juga berinisiatif untuk menggelar Sport Series Mandiri dengan menggabungkan beberapa event yang sudah ada baik di Jakarta, Jogjakarta maupun Bali dengan Banyuwangi.

Sementara itu, Race Director Mandiri Banyuwangi Half Marathon, Pandu B Buntaran, menjelaskan, ajang ini melombakan tiga kategori. Yakni 21 K (half marathon), 10 K, dan 5 K.

Untuk kategori 21 K merupakan kelas khusus bagi pelari maraton profesional. Sementara kategori 10 K dan 5 K dibuka untuk peserta umum. Dan para peserta dari semua kategori akan dilepas dan finis di lokasi yang sama yakni di Taman Blambangan.

Tentu dengan waktu start yang bervariasi. Dimulai kategori 21K pada pukul 05.00 WIB, disusul 10 K pukul 05.30 WIB, dan 5K pukul 05.45 WIB.

“Kategori 21K akan dilaksanakan dalam 2 putaran masing-masing 10,5K,” ungkap Pandu.

“Rute yang dilalui cukup menarik,” imbuhnya.

Separuh lintasan melalui kawasan perkotaan dan sisanya melewati perdesaan dan areal persawahan. Pendaftaran bisa melalui mandiribanyuwangihalfmarathon.com.

“Jumlah peserta kini sudah mencapai yang ditargetkan, sebanyak 1000 orang,” pungkas Pandu.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pengembangan sejumlah ruang publik dan bangunan di Banyuwangi yang mengedepankan visi arsitektural, rupanya menarik perhatian penulis spesialis arsitektur, Imelda Akmal yang dituangkan dalam buku berjudul "Banyuwangi Now".

Imelda mengaku, langkah Banyuwangi mengembangkan daerah dengan melibatkan para arsitek merupakan dobrakan yang tidak banyak dilakukan oleh daerah lain.

“Itulah yang buat saya tertarik untuk melihat langsung dan menuliskannya,” ungkap Imelda.

Buku setebal 160 halaman yang diterbitkan Penerbit IMAJI Jakarta tersebut telah diperkenalkan saat Festival Arsitektur Nusantara di Banyuwangi yang dihadiri 380 arsitek dan peminat arsitektur dari berbagai daerah, 14 - 15 Maret 2019 lalu.

Imelda Akmal sendiri adalah penulis yang telah 16 tahun bergelut dengan publikasi arsitektur.

Imelda menjelaskan, “Banyuwangi Now” mengupas karya-karya yang melibatkan para arsitek kenamaan Indonesia. Seperti Andra Matin, Adi Purnomo, Budi Pradono, Yori Antar, dan Gregorius Supie Yolodi.

Mereka mendesain mulai terminal Bandara Banyuwangi yang menjadi terminal hijau pertama di Indonesia, terminal pariwisata terpadu, fasilitas olahraga, pendopo, tempat ibadah, ruang terbuka hijau, lembaga pendidikan, hingga hotel.

“Banyak hal yang bisa didapat dari buku itu tentang ide ruang publik. Misalnya, terminal bandara tidak harus ber-AC,” kata Imelda.

Hal itu dibuktikan dengan Bandara Banyuwangi yang hemat energi tetap sejuk dengan memanfaatkan kolam dan angin yang ada di sekitarnya.

Sonny Sandjaya, salah seorang tim penyusun buku, menambahkan, buku ini dianggap penting dibaca oleh para pemangku kebijakan lainnya, termasuk kepala daerah.

“Cara Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas me-rebranding daerahnya dengan melibatkan arsitek patut diketahui kepala daerah lain,” papar Sonny.

Ini terbukti, begitu arsitek Andra Matin mendesain bandara di Banyuwangi, dinilai banyak kepala daerah yang terinspirasi.

“Kamiingin inspirasi itu terus meluas, antara lain lewat buku ini,” ungkapnya.

Sonny menambahkan, tidak seperti kota besar lain, salah satunya Bandung yang telah sejak lama dikenal dengan arsitekturalnya. Sedangkan Banyuwangi benar-benar memulainya dari nol dan itu berhasil.

“Succes story inilah yang patut disebarluaskan,” tutur Sonny.

Bupati Abdullah Azwar Anas mengaku berterima kasih ada penulis yang membukukan pengembangan Banyuwangi dalam beberapa tahun terakhir. 

“Banyuwangi menjadikan arsitek dan arsitektur sebagai bagian integral pembangunan daerah karena ingin bangunan publik tidak hanya fungsional, namun juga estetis dan berkelanjutan,” papar Bupati Anas.

“Sekaligus menjadi destinasi wisata yang memberi manfaat sosial-ekonomi ke warga,” imbuhnya.

Bupati Anas juga mengaku tidak menyangka Banyuwangi bisa dibantu arsitek top. Seperti Andra Matin, Yori Antar, Adi Purnomo, Budi Pradono, Denny Gondo dan Gregorius Supie.

“Jika dibayar secara profesional, tentu kami tidak kuat. Tapi karena persahabatan, mereka senang ada pemerintah daerah yang concern melibatkan arsitek, sehingga mau membantu,” ujar Bupati Anas.

Dia berharap, buku ini semakin mendorong pengembangan daerah ke depan.

“Tentu tidak berhenti di sini saja, masih ada rencana pengembangan lain yang diharapkan semakin memajukan daerah,” pungkas Bupati Anas.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Ratusan anak muda mengikuti Young Enterpreneurship Festival yang di gelar Pemkab Banyuwangi, Rabu (20/03/2019).

Pemkab Banyuwangi menggelar ini adalah untuk melatih generasi Milenial mengenai berbagai keahlian di bidang e-commerce dan aneka keterampilan praktis lainnya di dalam menyambut era industry 4.0. Kegiatan ini digelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sayu Wiwit Jalan Ahmad Yani tepat depan Kantor Pemkab Banyuwangi hingga Kamis 21 Maret 2019.

Dalam sambutannya melalui Facetime, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, saat ini dunia tengah memasuki era industri 4.0 yakni sebuah era industri yang didominasi penggunaan teknologi digital dan internet. 

“Bahkan di era ini generasi muda dihadapkan oleh tantangan dan persaingan usaha yang semakin berat. Sehingga mereka perlu dibekali dengan ketrampilan yang tepat untuk memasuki era industri ini,” papar Bupati Anas.

Salah satu yang dilakukan oleh Banyuwangi adalah dengan menggelar Festival Young Enterpreneurship.

Di even ini, generasi milenial dibekali ilmu dan keahlian praktis dunia online salah satunya pelatihan e-commerce. Pelatihan ini diikuti oleh 120 peserta yang terdiri dari masyarakat umum, santri dan ibu-ibu milenial.

Bupati Anas mengaku, pemerintah sengaja menyasar tiga segmen tersebut karena ketiganya dinilai mempunyai potensi yang sangat bisa dikembangkan.

“Tidak hanya pemuda umum, tapi santri dan ibu-ibu muda generasi milenial juga perlu mendapatkan bekal pelatihan untuk bisa mandiri,” tutur Bupati Anas.

Sedangkan untuk pemateri pelatihan diisi oleh pihak yang mumpuni di bidang e-commerce, di antaranya dari Google dan Start Up Warung Pintar.

Bupati Anas menginginkan, para generasi milenial ini mendapatkan ilmunya langsung dari pelaku utama di dunia online, seperti Google yang menjadi perusahaan arus utama di bidang teknologi komunikasi dan internet.

“Sedangkan Start Up Warung Pintar merupakan perusahaan yang mengembangkan jejaring warung berbasis teknologi dan internet,” tuturnya.

Sehingga menurut Bupati Anas, pengalaman dari keduanya tidak perlu diragukan. Selain pelatihan e-commerce, Festival Young enterpreneurship juga menghadirkan sharing session dari komunitas usaha yang ada di daerah seperti komunitas desainer, desain grafis, barbershop, clothing, arsitek muda, kuliner kreatif, photografi dan barista.

Sharing sesion ini sebagai bekal inspirasi usaha bagi generasi milenial.

Bupati Anas mengatakan, jika di pelatihan e-commerce para pemuda dibekali cara pemasaran secara online. Sedangkan untuk inspirasi apa yang akan dipasarkan lewat e commerce tersebut, bisa didapat dari sharing session ini.

“Peserta dikenalkan beragam usaha dan cerita jatuh bangun hingga kesuksesannya. Ini alternatif inspirasi usaha diluar e-commerce,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Banyuwangi Budi Santoso menambahkan, Festival Young Enterpreneurship berlangsung selama dua hari yakni 20 dan 21 Maret.

Selain pelatihan e-commerce dan sharing session juga dimeriahkan performance live musik dan art competiton.

“Juga ada enterpreneur booth yang memamerkan produk dan usaha enterpreneur local,” ungkap Budi.

“Diantaranya komunitas desainer, desain grafis, barbershop dan lainnya. Peserta bisa melihat proses produksi hingga hasil produknya,” imbuhnya.

 

 

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Beras Organik produksi Banyuwangi resmi di ekspor ke Italia. Italia adalah pasar terbaru dari beras organik Banyuwangi setelah sebelumnya diekspor ke sejumlah negara.

Prosesi ekspor perdana tersebut berlangsung di Padepokan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pertanian Swadaya (P4S) Sirtanio, Kecamatan Singojuruh, Kamis (21/3/2019).

Para petani di sana merupakan kluster binaan Bank Indonesia (BI) dan Pemkab Banyuwangi. Pelepasan ekspor dilakukan Kepala Bank Indonesia (BI) Jatim, Difi Johansyah.

Beras yang diekspor itu adalah produksi PT Sirtanio, perusahaan agribisnis Banyuwangi yang digerakkan anak-anak muda. Seperti Beras Merah Varietas Segobang A3, Beras Hitam Melik A3, dan Beras Sunrise of Java. Varietas-varietas itu telah didaftarkan sebagai padi asli Banyuwangi oleh Dinas Pertanian di Kementerian Pertanian.

“Kami bangga dengan ekspor perdana ini sebagai prestasi petani Banyuwangi,” kata Difi.

Dia juga mengaku, BI mendukung pertanian organik di beberapa daerah, namun yang berhasil tembus ekspor baru Banyuwangi. Sehingga, Banyuwangi menjadi contoh bagi pertanian organik yang sukses.

“Pasar Eropa itu susah ditembus, tapi berkat kegigihan kelompok tani di wilayah setempat, mereka bisa masuk pasar Eropa,” ungkap Difi.

Produksi beras organik Sirtanio bersama petani mitranya mencapai 30 ton per bulan di lahan 70 hektar.

“Kami mengambil segmen terkecil, yaitu Italia,” imbuh Difi.

Sementara, Samanhudi, ketua Kelompok Tani Mendo Sampurno yang memproduksi beras ekspor tersebut mengaku, perbulan para petani mengirim 2,8 ton. Ada tim yang memantau pengelolaan lahan organik khusus ekspor, sembari terus ditingkatkan lahan organik lainnya agar bisa standar ekspor.

“Permintaan luar negeri terhadap beras organik Banyuwangi sangat besar. Dari China, misalnya, sebesar 60 ton per bulan. Belum lagi dari Amerika Serikat,” papar Samanhudi.

Dia mengaku, kapasitas pihaknya terbatas sehingga ini dipenuhi bertahap. “Ke depan, kami terus merangkul para petani lainnya,” kata Samanhudi.

Para petani tersebut awalnya adalah kelompok yang mendapatkan pendidikan dan pelatihan pertanian organik Dinas Pertanian Banyuwangi. Bersama-sama PT Sirtanio yang dikomandoi Ahmad Tessario, mereka berkolaborasi menjadi badan usaha yang kini menaungi 200 petani organik lokal. Produk mereka juga dibeli berbagai perusahaan makanan raksasa.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ekspor perdana ke Italia adalah bukti bahwa beras organik Banyuwangi telah memiliki standar mutu dan kualitas internasional.

“Dengan beras organik, petani mempunyai nilai tambah, dengan mendapatkan harga lebih baik dibanding beras biasa,” tutur Bupati Anas.

Saat ini pengembangan beras organik Banyuwangi dilakukan di 9 kecamatan seluas 81,49 hektar dengan produksi 515,5 ton per tahun. Sebanyak tujuh kecamatan telah mendapatkan sertifikat pertanian organik Standar Nasional Indonesia (SNI). Tahun ini dua kecamatan dalam proses mendapat SNI pertanian organik.

“Lewat APBD, pemerintah akan mengembangkan tambahan sekitar 120 hektar lahan padi organik bersama petani, sehingga pertengahan tahun depan sudah ada 200 hektar lahan padi organik untuk memenuhi permintaan ekspor yang tinggi,” papar Bupati Anas.

Sementara, untuk pengembangan pertanian organik, Pemkab Banyuwangi melakukan pelatihan agen hayati, pengembangan laboratorium mini agen hayati, hingga fasilitasi sertifikasi nasional dan internasional organik.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah di Matta Fair, Pariwisata Banyuwangi kembali di promosikan secara massif di Kuala Lumpur, Malaysia.

Difasilitasi Kementerian Pariwisata, event Banyuwangi Cultural Week digelar di Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia dari 20 - 24 Maret 2019.

Banyuwangi Cultural Week adalah event berupa exhibition (pameran) bergaya galeri. Pavilion Indonesia menampilkan potret pariwisata Banyuwangi, mulai destinasi wisata alam, kuliner dan kebudayaan.

Kegiatan ini digelar di stage area, Level 5 Hall Keberangkatan, Gedung Terminal Utama KLIA, Kuala Lumpur, Malaysia.

Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Aksesibilitas Judi Rifajantoro, mengatakan bandara utama Kuala Lumpur dipilih sebagai venue karena merupakan pintu keluar masuk serta sebagai meltingpot. Posisinya dinilai sangat strategis untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.

“Rata-rata pergerakan penumpang harian untuk tahun 2018 di kedua terminal KLIA tersebut adalah sekitar 170.000 penumpang,” ujar Judi.

“Kementerian Pariwisata memanfaatkan lalu lalang pengunjung KLIA tersebut untuk memasarkan Banyuwangi di Malaysia,” imbuhnya.

Sementara, event Banyuwangi Cultural Week tersebut di launching pada Rabu (20/3).

Turut hadir dalam acara tersebut, pengelola bandara KLIA Megat Ardian Wira, Branch Manager Citilink di Kuala Lumpur M Dikdik Mulyana, dan Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi M Yanuarto Bramuda.

Judi mengatakan, Banyuwangi Cultural Week 2019 yang berkolaborasi dengan maskapai nasional Citilink ini adalah event spesial. Ada banyak warna eksotis Banyuwangi yang ditampilkan.

“Ini sangat bagus untuk mendukung pergerakan wisatawan dari Kuala Lumpur ke Banyuwangi. Sebab, potensi pasar di Malaysia sangat kompetitif,” tuturnya.

Judi pun menambahkan, promosi ini dilangsungkan di Kuala Lumpur karena sejak Desember 2018 lalu telah dibuka rute penerbangan langsung Kuala Lumpur - Banyuwangi.

“Potensi promosi di KLIA sangat besar,” kata Judi.

“Seiring direct flight dari Kuala Lumpur ke Banyuwangi, promosi di sini cukup bagus untuk pengembangan pariwisata Banyuwangi,” imbuhnya.

Acara launching Banyuwangi Cultural Week 2019 ini dimeriahkan dengan Tari Gandrung Keter, Jak Ripah, Sorote Lintang, juga Rodat Siiran. Suasana semakin hangat dengan kenikmatan kopi khas Indonesia. Ada juga workshop hingga panel exhibition.

Secara terpisah, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyatakan apresiasinya yang tinggi kepada pemerintah pusat yang telah memfasilitasi promosi pariwisata Banyuwangi di Malaysia sejak 15 hingga 24 Maret mendatang.

“Ini jadi spirit baru dan penyemangat bagi pemerintah daerah untuk terus berinovasi mengembangkan pariwisata Banyuwangi,” ungkap Bupati Anas.

Bahkan kata Bupati Anas, bagi Banyuwangi, ini sangat membantu Banyuwangi mengejar target 100 ribu wisatawan Malaysia ke Banyuwangi.

“Sejak pekan lalu, pariwisata Banyuwangi telah dipasarkan di Malaysia,” tutur Bupati Anas.

Dimulai dari mengikuti Matta Fair 2019, pameran pariwisata terbesar di Malaysia pada 15 - 17 Maret 2019. Berlanjut, Banyuwangi diundang untuk mengikuti Indonesia Archipelago Exhibition 2019 yang digelar di Kedutaan Besar RI di Malaysia. Sebuah ajang promosi untuk meningkatkan akses pasar produk Indonesia serta mendorong investasi asing dan wisatawan mancanegara asal Malaysia.

Bupati Anas menambahkan, event ini tentu akan memberikan dampak positif bagi pariwisata Banyuwangi, bahkan Indonesia secara keseluruhan.

“Sebab, arus kunjungan wisatawan dari keberangkatan Kuala Lumpur akan makin optimal. Sedangkan efek positifnya akan terus berlangsung lama,” pungkas Bupati Anas.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Komisi X DPR RI yang menangani bidang ekonomi kreatif melakukan kunjungan kerja spesifik ke Banyuwangi, Selasa (19/3/2019), guna mencari masukan untuk pengembangan sector ekonomi kreatif di Indonesia.

Wakil Ketua Komisi X, Reni Marlinawati yang memimpin rombongan anggota parlemen tersebut mengatakan, saat ini sektor pariwisata menduduki posisi kedua penyumbang devisa terbesar Indonesia setelah kelapa sawit, mengalahkan minyak dan gas.

“Itu sebabnya, ekonomi kreatif sebagai penopang sektor pariwisata juga jadi hal yang sangat penting dan perlu terus dikembangkan,” ujar Reni.

Oleh sebab itu kata Reni, pihaknya melakukan kunjungan spesifik ke Banyuwangi yang dia tahu progress ekonomi kreatifnya dianggap cukup baik.

“Saat memutuskan pariwisata sebagai andalan pengembangan daerahnya, kami lihat Banyuwangi juga mendorong sektor ekonomi kreatifnya secara maksimal,” kata Reni saat berkunjung di Sanggar Genjah Arum Desa Kemiren, Kecamatan Glagah Banyuwangi.

“Kami ingin mengetahui strategi pengembangan ekonomi kreatif di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini,” imbuhnya.

Reni fokus ingin mengetahui budaya ekonomi kreatif di Banyuwangi terkait beberapa hal. Mulai dari infrastruktur, model pendampingan, proses pengajuan hak kekayaan intelektual, hingga strategi pemkab dalam memajukan sektor ini. Selain itu, juga ingin menjaring masukan dari para pelaku ekonomi kreatif Banyuwangi sebagai bahan diskusi mereka dalam pengambilan kebijakan di tingkat pusat.

“Saat ini kami tengah menyusun Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang ekonomi kreatif. Sehingga kesempatan ini sekaligus dimanfaatkan untuk mendengar aspirasi maupun kendala para pelaku kreatif di tingkat bawah,” papar anggota dewan dari fraksi PPP tersebut.

Menurutnya, apa yang didapatkannya ini nantinya akan menjadi bahan perumusan pasal dalam RUU, maupun bahan pengambilan kebijakan bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Pada kunjungannya ini, Reni datang bersama 10 orang rombonganya. Selain anggota Komisi X DPR RI, termasuk di dalamnya Direktur Standarisasi dan Regulasi Bekraf, Sabar Tua.

Selama sehari penuh, rombongan ini berkeliling mengunjungi sejumlah pelaku kreatif dan UKM, serta tempat-tempat pelayanan publik di Banyuwangi. Mulai dari Lounge pelayanan publik, mal pelayanan publik, hingga Pendopo Kabupaten yang berarsitektur green building.

Sementara itu, Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesra Banyuwangi Suyanto Waspo Tondo yang mendampingi rombongan tersebut menjelaskan, sejak delapan tahun lalu Banyuwangi memutuskan memilih pariwisata sebagai payung pengembangan daerah.

“Pemerintah daerah memilih konsep ekoturisme karena kekuatan Banyuwangi adalah alam,” ujar Yayan.

“Untuk mendukung sektor pariwisata, kami juga terus mengembangkan sektor pendukung dan penopang lainnya. Salah satunya, ekonomi kreatif,” ungkapnya.

Sementara, untuk mendorong bidang ekonomi kreatif, pemkab telah melakukan berbagai strategi dan inovasi. Selain rutin memberikan pelatihan, bantuan akses permodalan, dan fasilitasi pengajuan hak kekayaan intelektual, pemkab juga menggagas digital market place ‘Banyuwangi Mal’ untuk memfasilitasi pemasaran produk UKM lokal.

Banyuwangi juga telah menyulap hampir seluruh desanya menjadi smart kampung, yang mendorong pelayanan desa berbasis IT. Saat ini, 172 desa dari total 189 desa telah teraliri fiber optic, dan 1400 titik wifi gratis telah terpasang di ruang-ruang publik.

Tidak hanya itu kata Yayan, Banyuwangi juga akan segera meluncurkan co working space di Taman Sayu Wiwit.

“Semua fasilitas ini sebagai upaya pemerintah daerah didalam memberikan kemudahan kepada para pelaku kreatif, utamanya untuk memasarkan produknya secara online,” pungkas Yayan.

More Articles ...