radiovisfm.com, Banyuwangi - Di akhir pekan ini, Banyuwangi akan diramaikan dengan tiga event menarik. Event tersebut adalah Indonesia Writers Festival, Jazz Gunung Ijen, dan Kebo-Keboan Alas Malang. Wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi bisa menikmati beragam agenda selama tiga hari, mulai Jumat-Minggu, 21-23 September 2018.

Diawali hari Jumat dan Sabtu (21 dan 22 September), Banyuwangi akan menjadi tuan rumah festival penulis berskala nasional, Indonesia Writers Festival (IWF) dengan mengambil lokasi di Jiwa Jawa Resort Kecamatan Licin.

Acara bertajuk Empowering Indonesia Trough Writing tersebut bakal dihadiri ratusan penulis dari berbagai kota. Mereka akan mengabarkan tentang Indonesia yang dimulai dari Banyuwangi melalui tulisan. Sejumlah narasumber pilihan juga akan hadir di sini. Ada jurnalis senior sekaligus founder Narasi Channel Najwa Shihab, jurnalis senior Uni Lubis, serta novelis Fira Basuki, dan masih banyak lainnya.

Bisa dibayangkan serunya saat penulis-penulis hebat berkumpul di Banyuwangi. Apalagi mereka berkompetisi membuat tulisan dengan Gunung Ijen sebagai obyek tulisannya. Secara tidak langsung ini akan menjadi media promosi bagi Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku berterima kasih kepada penyelenggara yang telah memilih Banyuwangi sebagai lokasi perhelatan tersebut. Mengambil lokasi di kaki Gunung Ijen, IWF ini menawarkan sensasi menulis yang berbeda.

“Penulis bisa berlomba sekaligus menikmati keindahan lansekap Gunung Ijen,” ujar Bupati Anas.

Dia mengatakan, keputusan yang tepat memilih lokasi di kaki Ijen. Pasalnya, panorama yang elok akan menjadi sumber inspirasi bagi penulis.

“Setelah berlomba, mereka bisa langsung berwisata sehingga di anggap tidak akan menyesal datang ke Banyuwangi,” imbuhnya.

Masih di hari Sabtu (22/9), Banyuwangi akan menggelar pertunjukan Jazz Gunung Ijen di Amfiteater Taman Gandrung Terakota – Jiwa Jawa Resort- Ijen.

Amfiteater ini menawarkan pemandangan dengan latar belakang kawasan persawahan berupa ratusan patung terakota berwujud penari Gandrung yang tersebar di sekitar persawahan 600 meter di atas permukaan laut. Sangat eksotis karena venue ini berada di areal resort yang sama dengan lokasi IWF.

“Acaranya dimulai pukul 15.30 WIB sehingga penonton bisa menikmati keindahan panorama Gunung Ijen sebelum pertunjukan musik jazz dimulai,” tutur Bupati Anas.

Jazz Gunung Ijen sendiri menawarkan konsep bermusik yang berbeda. Lokasi panggung yang berdekatan dengan posisi penonton akan membuat interaksi antara penampil dan penonton menjadi semakin intim dan lebih hangat. Penonton akan terasa lekat tanpa sekat seakan menyaksikan penampilan musik di belakang rumah sendiri.

Bupati Anas menambahkan, deretan musisi-musisi jazz ternama Indonesia akan menyemarakkan ajang tahunan yang digelar sejak 2013 tersebut.

Ada Andien, Shadow Puppets feat. Marcell Siahaan, serta Idang Rasjidi & The Next Generation feat Mus Mujiono, hingga Sastrani. 

“Suguhan musik jazz berkelas dan pemandangan venue yang eksotis akan berpadu di sini,” ungkap Bupati Anas.

Ditambah lagi duo MC kawakan Alit-Gundhi dan Djaduk Ferianto sebagai pembawa acara akan semakin mencairkan suasana dingin menjadi lebih hangat dengan penuh gelak tawa.

Keesokan harinya, Minggu 23 September, wisatawan bisa menyaksikan tradisi Kebo-Keboan di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh. Ritual ini merupakan tradisi masyarakat setempat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

“Setelah puas menikmati pertunjukan jazz, wisatawan bisa menyaksikan kebo-keboan untuk melengkapi liburan akhir pekannya di Banyuwangi,” kata Bupati Anas.

Kebo-keboan adalah tradisi unik Desa Alas Malang yang rutin digelar setiap bulan Muharam sejak 300 tahun lalu. Ritual ini akan dimulai pukul 10.00 WIB.

Diawali dengan kenduri desa dan diakhiri dengan ritual ider bumi, dimana puluhan “kerbau” mengelilingi empat penjuru arah mata angin di desa tersebut. Serta melakukan ritual layaknya siklus bercocok tanam, mulai dari membajak sawah, mengairi, hingga kerbau ini menemani petani saat menabur benih padi. Mereka juga bertingkah layaknya kerbau sungguhan seperti berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang dilewati.

"Kerbau-kerbau" tersebut melakukannya secara tidak sadar karena sedang dirasuki roh leluhur. Uniknya, “Kerbau” dalam tradisi ini adalah petani yang didandadi layaknya seekor kerbau. Badannya dilumuri jelaga hingga hitam pekat seperti kerbau, di kepalanya juga mengenakan asesoris berbentuk tanduk dan gelang kerincing di tangan dan kakinya. Persis Kerbau. 

“Tradisi kebo-keboan di Banyuwangi berkembang di dua daerah,” imbuh Bupati Anas.

Yaitu, di Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh dan Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi. Kedua tradisi keboan ini, telah masuk dalam bagian Banyuwangi Festival sebagai bentuk apresiasi pemda kepada masyarakat yang telah melestarikan budaya warisan leluhurnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi berharap agar para pengembang perumahan yang tergabung dalam Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) memasukkan unsur budaya dan kearifan lokal daerah setempat dalam pembangunan perumahan.

Hal ini dikatakan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) REI Jatim di eL Royale Hotel, Banyuwangi, Jumat (21/9).

“REI Jawa Timur bisa menjadi pionir dengan memasukkan unsur-unsur budaya dan kearifan lokal daerah setempat dalam desain arsitektur perumahan,” papar Bupati Anas.

Misalnya di Banyuwangi, pengembang bisa membangun rumah khas Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) atau unsur-unsur budaya Banyuwangi lainnya. Demikian juga dengan daerah lainnya, bisa mengangkat budaya dan kearifan lokal dalam pembangunan perumahan.

“Dengan memasukkan unsur-unsur tersebut akan menambah daya tarik tersendiri, dan menjadi karakteristik daerah itu. Karena produk properti dengan arsitektur yang mengadopsi kearifan lokal bisa menjadi landmark atau ikon baru pariwisata,” ujar Bupati Anas.

Dia menjelaskan, langkah tersebut dirasa tepat, apalagi Rakerda REI Jatim mengangkat tema “Sinergitas Sektor Properti dan Pariwisata dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Daerah”. Properti berkaitan erat dengan pariwisata.

“Di Banyuwangi telah menerapkan harus memasukkan unsur kearifan lokal dalam pembangunan hotel di Banyuwangi,” imbuh Bupati Anas.

Dalam artian, sebelum IMB terbit, pemerintah meminta investor hotel untuk presentasi. Apabila tidak ada unsur kearifan lokal Banyuwangi, maka IMB tidak akan diterbitkan.

Bupati Anas menambahkan, hal itulah yang membuat hotel-hotel dan pembangunan di Banyuwangi lainnya memiliki unsur budaya dan kearifan lokal dalam desan arsitekturnya.

Seperti di el Royale Hotel terdapat patung gandrung di lobi hotel. Bahkan atap el Royale memiliki desain atap Rumah Osing. Lalu di Hotel Santika juga mengadopsi model Gajah Oling, motif batik khas Banyuwangi.

“Di resor-resor pun juga membangun rumah khas Suku Osing di pinggir pantai,” pungkas Bupati Anas.

Sekretaris Jenderal DPP REI, Totok Lusida, mengatakan, pembangunan properti harus bersinergi dengan pariwisata. Dia juga mendukung gagasan untuk mengadopsi kearifan lokal ke sektor properti.

“REI ikut berkomitmen mengembangkan sektor pariwisata, termasuk dengan mengembangkan produk-produk properti untuk menunjang kawasan pariwisata,” ujar Totok.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Keberhasilan Banyuwangi mempertahankan opini Wajar Tanpa Perkecualian (WTP) pada Laporan Kinerja Pemerintah Daerah (LKPD) selama lima tahun berturut-turut mendapat apresiasi khusus dari Kementerian Keuangan RI.

Mewakili Banyuwangi, Sekretaris Daerah Banyuwangi, Djajat Sudrajat menerima plakat penghargaan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani pada acara Rakernas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah di Gedung Dhanapala, Jakarta, Kamis (20/9).

Sekda Djajat mengatakan, Kemenkeu memberikan apresiasi kepada Banyuwangi berupa plakat penghargaan khusus karena berhasil mempertahankan opini LKPD WTP Murni dalam kurun 2013-2017.

Opini WTP sendiri merupakan hasil penilaian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai kewajaran laporan keuangan daerah untuk mewujudkan penyelenggaraan keuangan yang akuntabel.

“Kami bersyukur, Banyuwangi mendapatkan apresiasi ini sebagai bekal pemerintah daerah untuk mendorong dan memotivasi terus dilakukannya perbaikan pertanggung jawaban pelaksanaan APBD ke depan,” papar Djajat.

Dia menambahkan, penilaian WTP Murni diraih salah satunya karena Banyuwangi menerapkan pengendalian internal yang bagus. Dari tahun ke tahun, tingkat penyimpangan atau kesalahan yang material terus menurun.

Ini menghasilkan pengelolaan keuangan efektif dan efisien,” imbuhnya.

Djajat menjelaskan, Banyuwangi menerapkan sistem aplikasi keuangan yang terintegrasi dan saling terkontrol, mulai mekanisme pencairan, penerimaan daerah hingga pelaporan.

Penggunaan sistem akrual sejak 2014 oleh Banyuwangi juga menghadirkan pelaporan yang akuntabel, transparan, serta tepat waktu,” pungkas Djajat.

Sementara itu, Bupati Azwar Anas mengatakan, opini dari BPK ini memotivasi Banyuwangi untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola APBD-nya.

“Capaian WTP ini meyakinkan masyarakat bahwa program pelayanan publik yang inovatif dan penuh terobosan yang dilakukan Banyuwangi selama ini ternyata bisa sejalan dengan akuntabilitas keuangan,” papar Bupati Anas.

Dia menjelaskan, dulu banyak yang mengkhawatirkan sejumlah program baru yang bersifat inovatif, seperti Banyuwangi Festival, pelibatan banyak pihak dalam pengentasan kemiskinan, Smart Kampung, serta Mal Pelayanan Publik.

Misalnya dalam Smart Kampung, pemda mewajibkan desa belanja teknologi informasi untuk meningkatkan pelayanan publik di level desa, padahal itu tidak ada aturan secara formal. 

“Tapi berkat kepatuhan dan ketelitian mengelola program itu sesuai kaidah akuntansi negara, sehingga semua pertanggungjawabannya cukup bagus,” ujar Bupati Anas.

Banyuwangi sebelumnya juga pernah mendapatkan penghargaan Anugerah Dana Rakca dari Menteri Keuangan. Penghargaan ini diberikan kepada daerah berkinerja pengelolaan keuangan terbaik.

Selain itu kinerja peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat menjadi pertimbangan utama,” pungkasnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Persiapan Pemerintah Pusat telah mencapai 94 persen didalam menyambut ajang International Monetary Fund (IMF) - World Bank (WB) Annual Meetings yang bakal digelar 8-14 Oktober 2018 di Bali. Akhir September 2018, semua persiapan dipastikan sudah mencapai 100 persen.

Dan minggu ini, pemerintah akan mengecek infrastruktur IT untuk memperlancar konektivitas. Termasuk Banyuwangi sebagai daerah penyangga dari kegiatan tersebut terus disiapkan.

Hal ini di sampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat membuka seminar dalam program “Voyage to Indonesia” di Banyuwangi, Rabu (19/8), yang digelar dalam rangkaian menyambut ajang IMF World Bank Annual Meetings yang bakal digelar Oktober 2018 di Bali, dengan topik menangani industry pariwisata atau pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif.

“Banyuwangi telah ditetapkan sebagai daerah penyangga Bali untuk pertemuan yang bakal diikuti 17.000 delegasi berbagai negara di dunia itu,” ungkap Menteri Sri Mulyani

Dia mengatakan, pihaknya memilih Banyuwangi sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan ini karena dianggap unik untuk menggambarkan bahwa berbagai macam kegiatan pariwisata di Indonesia bisa dikembangkan oleh daerah, dan biasanya didukung leadership, peran kepala daerahnya menjadi sangat penting.

“Contohnya Bupati Anas, sebagai salah seorang bupati yang memiliki visi dan kreativitas dengan menciptakan kegiatan-kegiatan yang sangat impresif dalam mengembangkan masyarakat,” tutur Menteri yang telah dinobatkan sebagai menteri terbaik di dunia di ajang World Government Summit 2018 tersebut.

Dia menambahkan, dalam konteks ekonomi nasional, pembangunan pariwisata bisa membantu ekonomi rakyat sekaligus menambah devisa negara. Pariwisata bukan semata penerimaan devisa, namun lebih pada bagaimana masyarakat menikmati pembangunan pariwisata.

“Oleh karena itu, pengembangan pariwisata harus inklusif,” imbuhnya.

Menteri Sri Mulyani mengaku, Banyuwangi menjadi tempat yang bisa dijadikan contoh dalam menciptakan pariwisata yang inklusif. Diantaranya ada homestay rakyat serta ada pelibatan rakyat dalam kegiatan pariwisata.

Selain Menteri Sri Mulyani, hadir dalam seminar itu berbagai pemangku kepentingan di industri pariwisata, baik dalam maupun luar negeri. Di antaranya Utusan Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim Rachmat Witoelar, Program Leader Bank Dunia Yongmei Zhou, Deputi Pengembangan Destinasi Kementerian Pariwisata Dadang Rizki Ratman, Dewan Eksekutif Pacific Asia Travel Association Abdulla Ghiyas, dan CEO ayojalanjalan.com Muhammad Syafaat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berterima kasih atas dukungan pemerintah pusat yang terus mendukung daerah untuk mengembangkam berbagai sektor potensial.

“Infrastruktur ke akses destinasi wisata sebagai pendukung ajang IMF-WB itu juga telah dibantu pemerintah pusat yang bisa ikut menggerakkan ekonomi local,” tutur Bupati Anas.

Pemerintah pusat sendiri telah menuntaskan perbaikan akses ke Kawah Ijen yang memiliki fenomena api biru (blue flame) mendunia, serta akses ke Taman Nasional Alas Purwo yang memiliki Pantai Plengkung (G-Land) dengan ombak selancar terbaik dunia dan Sabana Sadengan sebagai habitat banteng.

“Dana sekitar Rp50 miliar telah dialokasikan untuk perbaikan itu,” kata Bupati Anas.

Adapun melalui perusahaan negara PT Angkasa Pura II telah dikucurkan ratusan miliar untuk penebalan dan perpanjangan landasan Bandara Banyuwangi, serta perluasan apron. Bandara Banyuwangi nantinya bakal didarati oleh rombongan menteri keuangan sejumlah negara yang mengikuti ajang IMF-WB.

“Banyuwangi siap menyambut ajang IMF-WB yang ditargetkan bisa menggaet 1.500-2.000 delegasi. Apalagi ada banyak hotel berbintang baru yang telah beroperasi, sehingga fasilitas semakin lengkap,” pungkas Bupati Anas.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Inovasi Pemkab Banyuwangi, Gancang Aron, terpilih masuk Top 99 Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK) yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN & RB).

Program Gancang Aron ini berhasil dinobatkan sebagai 99 inovasi terbaik dari 2.824 inovasi di seluruh Indonesia.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri PAN&RB, Syafruddin di Hotel Shangrila Surabaya, Rabu malam (19/9) kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Djadjat Sudradjat mewakili Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Gancang Aron akronim dari Gugus Antisipasi Cegah Antrian Panjang Dengan Antar Obat ke Rumah Pasien, yang dalam bahasa lokal artinya ‘Lekas Sembuh’. Program ini diluncurkan sejak November 2017 lalu.

“Munculnya inovasi ini berawal dari keluhan masyarakat terkait lamanya antrean dalam pelayanan obat,” tutur Bupati Anas.

Dalam beberapa kasus penyakit, penyiapan obat memang membutuhkan waktu karena harus diracik terlebih dahulu oleh apoteker sehingga kasihan pasiennya.

Sudah sakit, masih disuruh harus menunggu obat,” imbuhnya.

Lalu menurut Bupati Anas, pihaknya mencoba mengatur strategi sampai lahir inovasi tersebut. Dimana, setelah berobat, pasiennya bisa langsung pulang beristrirahat di rumah. Obatnya nanti diantar setelah disiapkan apoteker dan Gratis, tanpa di pungut biaya apapun,” tutur Bupati Anas.

Program itu kemudian diberi sentuhan inovatif tambahan dengan menggandeng Go-Jek. Pasalnya kata Bupati Anas, personel dan armada kendaraan rumah sakit milik pemerintah daerah terbatas.

Akhirnya di kolaborasikan dengan Go-Jek,” ujarnya.

Dengan kolaborasi ini, di nilainya lebih hemat karena tidak perlu pengadaan armada kendaraan.

Meski diantar Gojek, rumah sakit milik pemerintah daerah itu tetap memantau ketepatan pengiriman obat. Namun sebelumnya, pasien telah diedukasi tentang obat yang dikonsumsinya saat menyerahkan resep.

“Untuk memastikan bahwa obat diterima dengan tepat oleh pasien, maka driver Gojek diberikan pendidikan khusus,” kata Bupati Anas.

Pasalnya, tidak semua driver Go-Jek bisa mengantar obat. Sehingga perlu diseleksi dan diberikan pendidikan khusus. Selain itu, juga ada sistem pengamanan lain untuk memastikan obat sampai serta informasi tentang obat itu sendiri tersampaikan dengan baik ke pasien.

“Berkat program ini, keluhan pasien akan pelayanan obat menjadi jauh berkurang,” tutur Bupati Anas.

Selain itu, waktu tunggu antrian menjadi lebih pendek. Yang dulunya bisa mencapai 240 menit, sekarang waktu tunggu antrian dipangkas maksimal 60 menit.

Direktur RSUD Blambangan, dr Taufik Hidayat menambahkan, ada sejumlah prosedur lain yang harus dilalui dalam program ini selain pendidikan untuk driver. Di antaranya, apoteker menentukan terlebih dahulu obat-obatan yang dapat diantar dan tidak untuk menjaga keamanan, fungsi dan kualitas obat.

Obat juga dikemas khusus menggunakan plastik hitam agar tidak terkena matahari dan tidak terbaca,” ujar Taufiq.

Selain sinergi dengan Gojek, program layanan antar obat ‘Gancang Aron’  ini juga menyediakan pelayanan “home care”, di mana apoteker mendatangi warga yang membutuhkan edukasi lebih tentang pengobatannya.

“Layanan ini untuk kasus penyakit tertentu yang membutuhkan edukasi ekstra. Misalnya, penyakit TBC,” pungkas Taufiq.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Rabu (19/9), Pemkab Banyuwangi secara resmi mengumumkan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018.

Formasi ini berdasarkan Peraturan Menteri PAN RB (MenPAN – RB) Nomor 36 Tahun 2018, sesuai dengan kebutuhan pegawai aparatur sipil negara di Banyuwangi.

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Djadjat Sudradjat, menyatakan, rekrutmen CPNS tahun 2018 Banyuwangi akan menerima formasi sebanyak 600 orang, yang terbagi untuk formasi umum, khusus, disabilitas dan cumlaude.

Adapun rincian detailnya, formasi formasi umum terbagi tenaga guru 171 orang, tenaga kesehatan 188 orang dan tenaga teknis lainnya 64 orang.

Pada rekrutmen tahun ini, pemkab memang lebih mengutamakan pada tenaga pendidikan dan kesehatan.

“Selain karena kebutuhan yang mendesak, ini juga sebagai upaya pemkab untuk meningkatkan kualitas kehidupan maayarakat,” tutur Djajat.

Dia menjelaskan, formasi tahun ini memang difokuskan pada tenaga pendidikan dan kesehatan.

“Mereka akan ditempatkan menyebar ke wilayah Banyuwangi yang memang membutuhkan tenaga mereka,” imbuhnya.

Formasi khusus, terbagi tenaga guru dan kesehatan yang masuk Kategori II (K II) 177 orang. Sedangkan formasi disabilitas, 6 orang dan formasi cumlaude 30 orang. Djajat mengaku, semua formasi ini sesuai dengan peraturan MenPAN – RB dan kebutuhan pegawai aparatur sipil negara di lingkungan kabupaten Banyuwangi.

“Sejak diumumkan ini masyarakat bisa melengkapi syarat-syarat untuk mendaftar CPNS,” kata Djajat.

Adapun persyaratannya yang dibutuhkan pendaftaran ini, antara lain formasi umum, memiliki kualifikasi pendidikan sesuai jabatan yang dbutuhkan. Indek prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,5 untuk perguruan tinggi terkadreditasi C, IPK 3,25 untuk akreditasi B dan IPK 3,00 untuk akreditasi A. Untuk formasi ini usia paling rendah 18 tahun dan paling tinggi maksimal 35 tahun per 19 September 2018.

Sementara formasi khusus bagi tenaga honorer, syaratnya antara lain usia paling tinggi 35 tahun per 1 Agustus 2018, telah berijazah sarjana strata satu (S-I) untuk guru dan tenaga kesehatan minimal berijazah diploma tiga (D-III) sebelum masuk seleksi tenaga honorer K-II pada 3 November 2013. Serta harus memiliki tanda bukti nomor ujian tenaga honorer K-2 tahun 2013.

“Sedangkan formasi disabilitas, IPK minimal 2,75 untuk lulusan perguruan tinggi swasta dan IPK 2,5 lulusan negeri. Formasi cumlaude sendiri, IPK minimal 3,5 dengan perguruan tinggi terakreditasi A dan dipastikan unggul pada saat kelulusan,” papar Djajat.

Dia mengatakan, semua persyaratan ini bisa discan dan di file- kan, karena pendaftarannya menggunakan sistem online. Sehingga masyarakat bisa mendaftar dimana saja yang penting ada jaringan internet.

“Untuk pendaftarannya, pemerintah belum bisa memastikan tanggalnya karena masih menunggu infomasi resmi dari Badan Kepegawaian Negara (BKN),” tutur Djajat.

Menurut rencana pendaftaran secara online akan dibuka tanggal 26 September 2018, di portal sscn.bkn.go.id. Sehingga dengan pengumuman ini, masyarakat yang ingin mendaftarkan diri bisa mempersiapkan semua persyaratan yang belum dimiliki dari sekarang.

Djajat menambahkan, bagi masyarakat yang belum jelas dengan pengumuman rekrutmen ini, bisa melihat di media massa atau meng-akses portal BKN yang memaparkan secara detail semua persyaratan dan tata cara pendaftaran CPNS 2018.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi telah mengirimkan surat kepada Pemerintah Pusat  melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (KemenPAN RB), agar memperhatikan aspirasi para Tenaga Honorer K2 yang meminta untuk mengkaji ulang persyaratan seleksi CPNS, menyusul para Guru Honorer di Banyuwangi masih melakukan mogok mengajar.

Hal ini disampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kepada sejumlah wartawan, Rabu (19/9).

Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) menggulirkan berbagai persyaratan untuk pendaftaran CPNS yang mulai dibuka pada 19 September 2018 lewat situs resmi BKN di sscn.bkn.go.id. Seleksi CPNS ini memiliki formasi khusus termasuk bagi tenaga pendidik dan tenaga kesehatan.

Yakni, untuk mengikuti seleksi CPNS 2018 melalui formasi khusus Tenaga Honorer K2 (THK2), peserta harus memenuhi syarat berdasarkan PANRB No 36/2018. Diantaranya, terdaftar dalam database BKN, minimal S1 bagi tenaga pendidik dan D3 bagi tenaga kesehatan, berusia maksimal 35 tahun, dan telah memiliki pengalaman kerja selama 10 tahun.

Sejumlah persyaratan inilah yang dinilai memberatkan mereka yang sudah bertahun tahun menjadi THK2, salah satunya berusia maksimal 35 tahun. Karena sebagian besar THK2 di Banyuwangi berusia 40 tahun keatas yang sudah mengabdi puluhan tahun, utamanya Guru Honorer.

“Saya telah berkirim surat ke Pemerintah Pusat yang menyatakan di Banyuwangi ada aspirasi tersebut,” kata Bupati Anas.

“Diharapkan, pemerintah bisa merespon secara arif dan mendengar seluruh aspirasi para THK2 diseluruh Indonesia khususnya Banyuwangi,” imbuhnya.

Disatu sisi kata Bupati Anas, kemungkinan pendapatan Negara ini masih terbatas sehingga muncul berbagai persyaratan seleksi CPNS tersebut. Namun dia juga berharap, secara bertahap Pemerintah bisa mengakomodir aspirasi mereka ketika perekonomian semakin bagus.

“Saya juga telah menyampaikan kepada Pemerintah saat menggelar rapat dengan Propinsi dan Nasional terkait aspirasi para THK2 di Banyuwangi,” tutur Bupati Anas.

Sementara, sejak Selasa (18/9) seluruh Guru Honorer K2 di Banyuwangi mogok mengajar, yang rencananya dilakukan hingga Sabtu (22/9) mendatang. Pada seleksi CPNS 2018 ini, Banyuwangi mendapat kuota 600 orang.

Tenaga Honorer K2 di Banyuwangi sendiri sebanyak 1.925 orang. Dari jumlah tersebut, 177 orang diantaranya masih berusia 35 tahun sehingga mempunyai peluang untuk mengikuti seleksi CPNS.

Sementara 171 lainnya adalah Guru Honorer K2 serta 88 orang tenaga kesehatan dan 64 orang tehnis lain yang seluruhnya berusia diatas 35 tahun, yang dinilai tidak bisa mengikuti seleksi CPNS karena kebijakan pemerintah tersebut.

 

More Articles ...