radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi resmi mengumumkan dibukanya pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2019 dengan menerima formasi sebanyak 276 orang. Proses pendaftaran untuk menjaring para calon abdi negara tersebut dibuka mulai Senin (11/11/2019).

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Banyuwangi, Mujiono menyampaikan bahwa dari rekrutmen 276 orang CPNS tahun 2019 Banyuwangi tersebut terbagi untuk tenaga pendidikan dan kesehatan.

Formasi ini berdasarkan Peraturan Menteri PAN RB Nomor: 681 Tahun 2019 Tanggal 27 September 2019 Tentang Penepatan Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemkab Banyuwangi Tahun 2019.

“Untuk rekrutmen CPNS, ada dua formasi yang bisa diakses oleh para pelamar, yakni formasi umum dan formasi disabilitas,” ujar Mujiono.

Formasi disabilitas diperuntukkan kalangan berkebutuhan khusus, tepatnya untuk tenaga pendidik jenjang Sekolah Dasar sebanyak 6 orang. Sedangkan sisanya formasi umum, 170 tenaga pendidik dan 100 tenaga kesehatan.

“Pada rekrutmen tahun ini, Pemkab Banyuwangi memang lebih mengutamakan pada tenaga pendidikan dan kesehatan. Selain karena kebutuhan yang mendesak, ini juga sebagai upaya pemkab untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat,” papar Mujiono.

Dijelaskan Mujiono, seperti halnya rekrutmen sebelumnya, pendaftaran CPNS tahun ini terintegrasi secara nasional. Warga yang berminat menjadi PNS bisa mendaftarkan diri secara daring (online) melalui portal sscasn.bkn.go.id.

Setelah masuk portal tersebut, calon pelamar bisa memasukkan akun SSCN 2019 dengan menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nomor kartu keluarga (KK) atau NIK kepala keluarga.

“Lalu melakukan login menggunakan NIK dan password yang telah didaftarkan sebelumnya. Setelah itu, calon pelamar harus bisa meng-unggah foto diri memegang KTP dan kartu informasi akun. Kemudian melengkapi biodata,” papar Mujiono.

“Bagi pelamar dipastikan data yang diisikan telah benar,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Kepegawaian dan Diklat (BKD) Banyuwangi, Nafiul Huda menambahkan, pengumuman dan persyaratan yang harus dilengkapi para calon pelamar CPNS tahun 2019, bisa diunduh di situs resmi BKD Banyuwangi. Yakni di alamat www.bkd.banyuwangikab.go.id.

“Adapun persyaratan yang dibutuhkan pendaftaran ini, antara lain formasi umum, memiliki kualifikasi pendidikan sesuai jabatan yang dbutuhkan,” ujar Huda.

Indek Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,5 untuk perguruan tinggi terkadreditasi C, IPK 3,25 untuk akreditasi B dan IPK 3,00 untuk akreditasi A. Sedangkan formasi disabilitas, IPK minimal 2,75. Untuk formasi ini usia paling rendah 18 tahun dan paling tinggi maksimal 35 tahun saat pendaftaran.

Huda menambahkan, semua persyaratan ini bisa discan dan di file- kan, karena pendaftarannya menggunakan sistem online. Sehingga masyarakat bisa mendaftar dimana saja, yang penting ada jaringan internet.

“Tahap selanjutnya, pelamar memilih formasi dan jabatan sesuai pendidikan. Kemudian, lengkapi data yang ada dan unggah dokumen persyaratan ke portal SSCASN,” kata Huda.

Dan untuk memastikan apakah seluruh dokumen persyaratan berhasil diunggah, pelamar harus mengecek resume dan cetak kartu pendaftaran SSCN 2019. Data seluruh pendaftar akan diverifikasi oleh panitia seleksi CPNS.

“Bagi pelamar yang lolos seleksi administrasi, berhak melaju ke babak seleksi selanjutnya, yakni seleksi kompetensi dasar (SKD) dan seleksi kompetensi bidang (SKB),” tutur Huda.

Sementara bagi pelamar yang dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS) seleksi administrasi diberi waktu sanggah maksimal tiga hari. Sedangkan instansi (pemkab) diberi waktu maksimal tujuh hari untuk menjawab sanggahan tersebut.

“Pelamar hanya bisa mendaftar pada satu instansi dan satu formasi jabatan di kementerian, lembaga, pemerintah provinsi (pemprov) atau pemkab/pemerintah kota (pemkot),” pungkas Huda.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Universitas Airlangga memilih Banyuwangi sebagai daerah dengan inovasi program pembangunan terbaik dan di anugerahi penghargaan “Inovasi Daerah Terbaik”.

Penghargaan ini di serahkan oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro dan Rektor Unair Prof M. Nasih kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di kampus Universitas Airlangga, Senin (11/11/2019).

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga menerima penghargaan “Alumni Berprestasi” dari universitas yang berada pada posisi 651-700 terbaik dunia versi QS World University Ranking tersebut.

Penghargaan ini diberikan dalam rangka menyambut hari jadi (dies natalis) yang ke-65 tahun Universitas Airlangga (Unair), yang tengah melakukan pemeringkatan daerah-daerah dengan inovasi program pembangunan terbaik.

Banyuwangi terpilih sebagai peringkat pertama inovasi daerah terbaik, sehingga dianugerahi penghargaan “Inovasi Daerah Terbaik” dalam Airlangga Performance and Innovation Award.

Bupati Anas menyampaikan terima kasih kepada seluruh sivitas akademika Unair yang telah menyemangati Banyuwangi melalui apresiasi ini.

“Airlangga Performance and Innovation Award ini sebagai pelecut kami untuk terus berinovasi. Sehingga ini bukan semata-mata penghargaan, tapi sebenarnya justru tugas pemerintah daerah untuk terus berinovasi,” papar Bupati Anas.

Dijelaskan Bupati Anas, seperti apa yang dikatakan rector Unair Prof Nasih bahwa kreativitas dan inovasi adalah kunci bagi seluruh entitas, baik itu lembaga pendidikan, pemerintah, maupun dunia usaha, agar bisa berdaya saing.

Dalam pengantar Unair untuk Airlangga Performance and Innovation Award kategori “Inovasi Daerah Terbaik”, sejumlah inovasi Banyuwangi yang diapresiasi antara lain beragam inovasi sosial seperti Rantang Kasih (pemberian makanan bergizi gratis tiap hari untuk warga miskin lanjut usia), uang saku setiap hari dan tabungan pelajar kurang mampu, hingga pengembangan pariwisata melalui festival seni-budaya.

Sebelumnya, pada Oktober lalu, Banyuwangi juga kembali ditetapkan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai “Kabupaten Terinovatif” se-Indonesia.

Bupati Anas menambahkan, keberadaan lembaga pendidikan seperti Unair yang melakukan pemeringkatan inovasi daerah patut diapresiasi sebagai wujud evaluasi dari program-program yang dikembangkan berbagai daerah di Tanah Air.

“Terkadang pemerintah daerah sudah bekerja dan membuat indicator output-outcome sendiri serta menyatakan pekerjaan sudah dilakukan dengan baik,” ungkap Bupati Anas.

Sehingga dengan kehadiran Unair melalui ajang apresiasi seperti ini dinilainya bisa memberi acuan kepada daerah untuk bisa mengetahui berbagai inovasi yang telah di lakukan apakah berdampak ke masyarakat ataukah tidak.

“Inovasi yang dilakukan daerah tidak boleh hanya “asal beda”, melainkan harus berdampak pada peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi warga,” ujar Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) tersebut.

“Gimmick untuk membuat inovasi lebih menarik memang diperbolehkan, namun sasarannya harus jelas,” imbuhnya.

Dan Bupati Anas bersyukur, di Banyuwangi semua indikator menunjukkan kemajuan, tentu dengan sekian kekurangan yang ada.

“Misalnya, kemiskinan yang dulu selalu dua digit, sekarang bisa ditekan hingga 7 persen. Pendapatan per kapita naik dua kali lipat menjadi lebih dari Rp48 juta per orang per tahun,” pungkasnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sandarnya KRI Bima Suci di Banyuwangi setelah melakukan misi diplomasi ke 9 negara dalam Satuan Tugas Kartika Jala Krida 2019, menyisakan kisah tersendiri bagi salah satu awak tarunanya.

KRI Bima Sakti tersebut membawa 103 Taruna Taruni Akademi Angkatan Laut (AAL) serta 89 orang ABK dan 19 orang staf pelatih AAL sehingga total ada 211 orang berlayar ke 9 negara selama 96 hari sejak Agustus 2019 lalu.

Ratusan warga menyambut kehadiran KRI Bima Suci yang memiliki panjang kapal 111,20 meter, lebar 13,65 meter, kedalaman lambung 5 meter dan tinggi layar 49 meter tersebut di dermaga Pelabuhan Tanjung Wangi Banyuwangi, Sabtu (9/11/2019) lalu.

Salah satunya adalah Nurjanah yang terlihat begitu bahagia. Perempuan asal Desa Sumber Bulu Kecamatan Songgon Banyuwangi tersebut tampak bahagia melambaikan tangannya ke arah KRI Bima Suci.

Di atas kapal, para taruna AAL berdiri di tiang-tiang layar sembari melambaikan tangan. Memberikan penghormatan kepada orang-orang yang menyambutnya di pelabuhan.

Nur Jannah adalah salah satu dari beberapa keluarga dari Taruna AAL yang mengikuti pelayaran KRI Bima Suci ke sembilan negara itu. Ia adalah ibunda dari taruna bernama Wahyu Wardoyo. Peluk kangen penuh keharuan pun tercipta ketika keduanya bertemu. Pertemuan ibu dan putranya itu, memang terasa spesial.

Sandarnya KRI Bima Suci di Banyuwangi tidak ubahnya pulang ke kampung halaman sendiri. Pasalnya, Wahyu adalah satu-satunya taruna AAL yang berasal dari kota Banyuwangi.

Saat dikonfirmasi, Wahyu mengaku bersyukur bisa menunjukkan keindahan Banyuwangi kepada para taruna lainnya.

Sebagai putra daerah, kebanggaan Wahyu bukan tanpa alasan. Dari 103 taruna AAL angkatan 66 tahun 2017 yang berasal dari seluruh Indonesia itu, tidak semua kampung halamannya bisa disinggahi. Selain di Surabaya, hanya Batam, Bali dan Banyuwangi saja kota di Indonesia yang dihampiri.

“Saya bangga sebagai orang kampung bisa merasakan pelayaran keliling dunia dengan warna warni masyarakatnya,” ungkap Wahyu.

Bahkan dalam lawatannya ini, Wahyu harus menghadapi ombak setinggi 8 meter dan ini bisa dilaluinya dengan kuat berkat dukungan dari sang ibundanya.

“Saya berharap, dengan menjadi taruna ini saya bisa memberikan kebanggaan serta bisa mengharumkan daerah dan membangun Banyuwangi menjadi lebih baik,” ujar Wahyu.

Menjadi taruna AAL, memberikan pengalaman yang mengesankan bagi Wahyu.

Pemuda berperawakan tegap berkulit bersih itu, berasal dari perkampungan di lereng Gunung Raung, Desa Sumber Bulu, Kecamatan Songgon.

“Sebagai anak gunung, saya tidak menyangka bisa mengikuti pelayaran keliling dunia ini,” pungkas Wahyu.

Sejak kecil, putra pertama pasangan almarhum Juhariyanto Handoyo dan Nur Jannah tersebut, memang telah bercita-cita menjadi angkatan laut. Ia harus berkali-kali ikut tes demi bisa masuk AAL.

Nur Jannah menceritakan, anaknya tersebut tiga kali mengikuti tes. Mulai tahun 2015 dan 2016 gagal. Pada 2017, baru berhasil setelah mendaftar lewat Bali.

“Saya sangat bangga kini anak saya bisa mewujudkan cita-citanya sebagai anggota TNI AL, dan bisa mengabdi untuk negara,” pungkas Nurjanah penuh haru.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Ratusan taruna taruni Akademi Angkatan Laut (AAL) yang menjadi awak KRI Bima Suci menggelar kirab Genderang Seruling dan Display drumband di Banyuwangi, Sabtu sore (9/11/2019).

Ini merupakan rangkaian berbagai kegiatan dari 103 taruna AAL yang singgah di Banyuwangi setelah berkeliling ke 9 negara bersama KRI Bima Suci, dalam rangka diplomasi kemanusiaan.

Aksi Drumband Genderang Seruling (GT) Gita Jala Taruna tersebut berhasil memukau ribuan warga Banyuwangi yang memadati sepanjang jalan protocol, baik mulai dari start depan Kantor Bupati Banyuwangi hingga finish di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan Banyuwangi.

Di garis start, mereka menunjukkan kepiwiaian dan kelihaiannya memainkan beragam peralatan musik drumband. Sembari memainkan alatnya, sejumlah taruna tersebut juga melakukan atraksi yang menarik dan mendebarkan. Seperti taruna yang memainkan alat bass drum. Mereka meliukkan bass drum-nya mengikuti gerak tubuh mereka.

Tidak hanya itu, mereka juga melakukan atraksi yang mendebarkan. Yakni saat bass drum ditumpuk dan mayoret naik ke atasnya sambil memainkan tongkatnya. Tidak pelak, penonton pun langsung bertepuk tangan melihat aksi mendebarkan tersebut.

Tidak hanya beraksi di depan Kantor Bupati, Drumband Genderang Seruling (GS) Gita Jala Taruna ini melakukan kirab menuju Pendopo Banyuwangi. Sepanjang jalan, para taruna-taruni tidak henti menampilkan aksi yang sangat atraktif dan menghibur warga yang memadati jalanan Banyuwangi.

Lagu yang dimainkan tak hanya dari Indonesia, namun juga lagu yang tengah viral saat ini, di antaranya Senorita yang dipopulerkan Shawn Mendes ft Camila Cabello.

Atraksi drum band tersebut disaksikan pula oleh Gubernur AAL, Laksamana Muda Edi Sucipto, Bupati Abdullah Azwar Anas, serta jajaran forpimda Banyuwangi.

Laksamana Muda Edi mengatakan bahwa penampilan GS Gita Jala Taruna ini bagian dari kunjungan KRI Bima Suci di Banyuwangi.

“Saya harap penampilan para taruna di hadapan publik Banyuwangi ini bisa jadi spirit tersendiri bagi warga sekaligus memberi hiburan,” ujar Edi.

“Jika saat ini ada satu taruna asal Banyuwangi yang ikut berkeliling dengan KRI Bima Suci, di harapkan tahun berikutnya bisa tiga atau empat taruna,” paparnya.

Untuk itulah, Laksamana Muda Edi juga berharap dengan kehadiran ratusan taruna taruni tersebut bisa memotivasi warga Banyuwangi untuk masuk AAL, karena negara memerlukan banyak pemuda yang cinta dan mau menjaga NKRI.

“Silahkan bagi warga Banyuwangi untuk menyaksikan langsung KRI Bima Suci yang telah sandar di Pelabuhan Tanjung Wangi mulai Sabtu (9/11) hingga Senin, 11 November,” tutur Edi.

Sementara itu, Bupati Anas menambahkan, ini kesempatan yang yang baik untuk membangkitkan spirit nasionalisme kepada anak muda Banyuwangi.

“Kedatangan taruna dan taruni itu saya harap bisa membangkitkan spirit nasionalisme anak-anak muda Banyuwangi,” ungkap Bupati Anas.

Bupati Anas pun kembali memotivasi warga, khususnya anak muda.

“Semua mempunyai kesempatan yang sama menjadi prajurit. Terbukti, salah satu pemuda asal Kecamatan Songgon juga bisa menjadi taruna. Untuk itu tidak boleh minder. Anak Muda Banyuwangi harus optimis,” papar Bupati Anas.

Perjalanan KRI Bima Suci yang membawa misi diplomasi dan budaya mulai berangkat dari Surabaya sejak 5 Agustus 2019. Mereka mengunjungi Filipina, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Brunai Darussalam, Malaysia, Vietnam, Thailand dan Australia.

Setelah dari Banyuwangi, misi diplomatik bertajuk Kartika Jala Krida 2019 itu, juga akan kembali lagi ke Surabaya tepat hari keseratus.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Banyuwangi akan melakukan penyesuaian tariff sebesar 14 persen pada 2020 mendatang.

Hal ini merupakan dampak dari inflasi yang secara otomatis menyebabkan berbagai bahan dasar juga mengalami kenaikan. Sehingga dari sisi biaya operasional dan perusahaan dinilai tidak tercukupi.

Direktur Utama PUDAM Banyuwangi, Widodo Waluyo mengatakan, penyesuaian tarif 14 persen tersebut dari tariff dasar, khususnya untuk rumah tangga.

“Yang lainnya mengikuti sesuai perhitungan. Jika pemakaiannya banyak ya pembayarannya juga banyak sehingga tidak dipukul rata,” ungkap Widodo.

“Dika dihitung secara normal, penggunakan air di tingkat rumah tangga per hari hanya 10 kibik, dengan perhitungan per orang menggunakan 60 liter air perhari,” paparnya.

Dijelaskan Widodo, penyesuaian tariff PUDAM ini sesuai ketentuan yang tertuang di Permendagri nomor 71 tahun 2016 untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat seiring dengan juga meningkatnya biaya operasional. Sebelumnya, terakhir kali PUDAM melakukan penyesuaian tariff ditahun 2017 lalu.

“Penyesuaian tariff ini adalah untuk meningkatkan cakupan pelayanan. Ditargetkan, disamping untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan juga untuk meningkatkan cakupan pelayanan,” ujar Widodo.

Dia juga menargetkan, disetiap tahun pihaknya akan terus menambah jumlah warga Banyuwangi untuk bisa menikmati air bersih dari PUDAM.

“Saat ini sudah ada sekitar 60 ribuan lebih rumah tangga di 15 dari 25 kecamatan se Banyuwangi yang terlayani air bersih. Sementara di cabang pelayanan PUDAM untuk seluruh Kabupaten Banyuwangi baru sebesar 20,2 persen. Ini masih tergolong rendah,” papar  Widodo.

Sementara, cabang PUDAM Banyuwangi berada di kantor pusat, cabang Rogojampi, Muncar, Tegaldlimo, Genteng, Wongsorejo dan Gambiran.

Lebih lanjut Widodo mengatakan, pihaknya juga akan menjadikan air bersih PUDAM untuk siap minum. Saat ini di Banyuwangi baru diterapkan di 2 kawasan perumahan, yakni di Jati Khayangan dan Griya Harmoni.

“Ke depan akan dilakukan ke berbagai kawasan secara bertahap, mengingat wilayah Banyuwangi cukup luas. Juga tergantung dari kemampuan pendanaan yang ada,” kata Widodo.

Diakui Widodo, ini tidak mungkin hanya bersumber dari hasil rekening air saja namun juga bantuan dari APBN dan APBD. Dan di tahun 2020 mulai dikembangkan di wilayah utara. Salah satunya di kawasan Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro karena kondisi secara tehnis dinilai sudah memenuhi syarat, tinggal pengaturan tehnisnya saja.

“Menjadikan air bersih PUDAM siap minum ini mengabdi pada Permenkes nomor 92 tahun 2010, yang didalamnya juga disebutkan tentang air minum,” imbuh Widodo.

Sementara itu, PUDAM Banyuwangi didirikan dan melakukan kegiatan operasional berdasarkan sejumlah landasan hukum. Diantaranya adalah, Peraturan Pemerintah nomor 54 tahun 2017 tentang Badan Usaha Milik Daerah. Juga Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 2 tahun 2007 tentang Organ dan Kepegawaian Perusahaan Daerah Air Minum.

Serta Perda nomor 8 tahun 1974 tentang Pendirian Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), diubah Perda nomor 1 tahun 1988 tentang Pendirian PDAM Kabupaten Dati II Banyuwangi, diubah Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi nomor 2 tahun 2018 tentang Perusahaan Umum Daerah Air Minum Kabupaten Banyuwangi.

Juga Peraturan Bupati Banyuwangi nomor 9 tahun 2008 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja PDAM Kabupaten Banyuwangi, diubah Perbup Banyuwangi nomor 16 tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Banyuwangi nomor 9 tahun 2008, diubah Peraturan Bupati Banyuwangi nomor 58 tahun 2018 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi nomor 2 tahun 2018 tentang Perusahaan Umum Daerah Air Minum Kabupaten Banyuwangi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November, Pemkab Banyuwangi mengingatkan kepada seluruh masyarakat bahwa kemerdekaan yang didapat saat ini adalah berkat kerja keras para pejuang terdahulu.

Hal itu disampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat menjadi inspektur upacara dalam memperingati Hari Pahlawan di Taman Blambangan, Minggu (10/11/2019).

Upacara diikuti pegawai pemkab Banyuwangi, para veteran, mahasiswa, pelajar, TNI dan Polri. Dalam upacara tersebut, dibacakan pesan mutiara dari para pahlawan kemerdekaan dan nasional. Mulai dari Bung Tomo, Bung Karno, RA Kartini, Jenderal Sudirman, Pattimura, Mohammad Hatta, Nyi Ageng Serang, Supriyadi, hingga WR Supratman. 

Usai pembacaan pesan-pesan pahlawan tersebut, Bupati Anas berharap agar semua pesan itu bisa memotivasi dan dimaknai dengan baik sebagai bekal untuk membangun negeri. 

“Setiap hari pahlawan, masyarakat selalu diingatkan dengan pertempuran hebat 10 November 1945 di Surabaya,” ungkap Bupati Anas.

“Peristiwa heroik ini mengingatkan bahwa kemerdekaan yang didapat saat ini adalah berkat kerja keras para pendahulu,”  imbuhnya.

Sesuai dengan tema Hari Pahlawan tahun ini "Aku Pahlawan Masa Kini", Bupati Anas mengajak semua peserta untuk memaksimalkan peran masing-masing untuk kemajuan daerah dengan cara yang kreatif. 

“Tantangan ke depan sangat berat. Lapangan pekerjaan akan semakin sedikit. Jika semua orang ingin bekerja di sektor formal, tentu lapangan pekerjaan akan semakin sempit,” papar Bupati Anas.

“Karena itu dibutuhkan pribadi-pribadi yang kreatif dan inovatif untuk meningkatkan perekonomian daerah,” tuturnya.

Apalagi, lanjut Bupati Anas, Banyuwangi telah berkomitmen untuk tidak bergantung pada sumber daya alam. Tapi sektor SDM dan jasa menjadi pilihan, salah satunya dengan pengembangan pariwisata. Karena diakui, pariwisata sangat memungkinkan berkembangnya sektor ekonomi kreatif.

“Saya harap dosen, mahasiswa dan pelajar bisa bersama-sama mendorong tumbuhnya sektor kreatif agar lapangan pekerjaan di sektor formal tidak menjadi andalan semata,” kata Bupati Anas.

Peringatan Hari Pahlawan ini sebelumnya diawali dengan ziarah dan prosesi tabur bunga. Ziarah dilakukan pada pagi hari di TMP Wisma Raga Satria dan TMP 0032 di Pantai Marina Boom. 

Tabur bunga juga dilakukan dari atas KRI Bima Suci yang sedang bersandar di Pelabuhan Tanjung Wangi Banyuwangi sejak Sabtu (9/11/2019).

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, warga Banyuwangi menggelar tradisi Endog-endogan dengan mengarak ribuan telur yang ditancapkan di batang pohon pisang. Hal ini sebagai simbol nilai-nilai Islam yang harus dimiliki setiap umat Islam.

Tradisi endog-endogan ini sangat popular di Banyuwangi. Hampir di setiap kampung di Banyuwangi, warga menyambut Maulid Nabi (Kelahiran Nabi Muhammad SAW) secara sukacita dengan mengarak ribuan telur mengelilingi kampungnya.

Ribuan telur yang dihias beraneka warna tersebut ditancapkan dalam sebuah batang pisang (jodang). Satu jodang biasanya terdapat 50 telur yang masing-masing telah ditempatkan sebuah wadah kecil yang menarik.

Saat mengarak telur, warga melantunkan sholawat sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Tua muda, mereka berjalan keliling kampung mengumandangkan sholawat sembari menggaungkan shoalwat nabi

Tradisi yang telah lekat itu pulalah yang mengilhami pemkab Banyuwangi menggelar Festival Endog-endogan dan dimasukkan dalam agenda Banyuwangi Festival. Untuk tahun ini, kegiatan tersebut di gelar Sabtu pagi (9/11/2019).

Dengan mengenakan pakaian serba putih, ribuan warga mengarak jodang telur yang datang dari lima penjuru sebagai pelambangkan jumlah sholat wajib umat muslim. Sholawat Nabi terus dikumandangkan mengiringi arak-arakan telur tersebut.

Selanjutnya, arak arakan itu bertemu tepat di depan Masjid Agung Baiturrahman, Banyuwangi. Lokasi ini merupakan lokasi baru setelah pada tahun tahun sebelumnya Festival Endhog-endhogan selalu berpusat di depan Kantor Pemkab Banyuwangi.

Hadir dalam acara tersebut, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wabup Yusuf Widyatmoko, dan jajaran forpimda lainnya.

Bupati Anas mengatakan tradisi endhog-endhogan merupakan salah satu cara masyarakat Banyuwangi memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Jika biasanya digelar di jalanan kota, tahun ini dipusatkan di Masjid Agung Baiturrahman karena dinilai sebagai simbol persatuan ulama dan umaro atau pemimpin,” ungkap Bupati Anas.

“Kami ingin Banyuwangi kedepannya terus jadi daerah yang maju sekaligus terjaga kesholehan sosialnya dengan tuntunan dari para ulama daerah,” tuturnya.

Bupati Anas mengaku, kegiatan serupa tidak hanya di gelar meriah yang berpusat di Masjid Agung Baiturrahman, namun juga dilaksanakan serentak di setiap masjid di 25 kecamatan se-Banyuwangi.

Ada filosofi yang terkandung dalam tradisi endog-endogan ini. Telur sebagai simbol terdiri dari tiga lapis, yakni kulit, putih telur dan kuning telur.

Kulit telur diibaratkan sebagai lambang keislaman sebagai identitas seorang muslim.

“Putih telur, melambangkan keimanan, yang berarti seorang yang beragama Islam harus memiliki keimanan yakni mempercayai dan melaksanakan perintah Allah SWT,” ujar Bupati Anas.

“Kuning telur melambangkan keihsanan, memasrahkan diri dan ikhlas dengan semua ketentuan Allah SWT,” imbuhnya.

Bupati Anas menjelaskan, Islam, Iman dan Ihsan adalah harmonisasi risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang jika ditancapkan pada diri manusia akan menghasilkan manusia yang mencerminkan akhlak Rasulullah.

“Inilah makna Festival endhog-endhogan agar masyarakat selalu ingat dan menjalankan tuntunan nabi,” tutur Bupati Anas.

Ditambahkan Bupati Anas, festival endhog-endhogan merupakan sebuah syiar Islam yang sarat dengan nilai dan kearifan lokal.

Dalam tradisinya terkandung pula semangat gotong royong dan saling tolong antar sesama. Kegiatan ini juga dinilai untuk mempererat silaturahmi. Bupati Anas dan warga berkumpul, lalu makan bareng memakai ancak (nampan dari daun pisang) diakhir acara. Satu ancak yang berisi nasi dan lauk pauk dimakan oleh 4-5 orang.

“Ini merupakan symbol nilai-nilai kebersamaan yang perlu dijaga dengan baik,” tegas Bupati Anas.

Dalam peringatan tersebut, juga diisi tausiah agama dari KH Ali Makki, Ketua PC NU Banyuwangi.

Dalam tausiahnya, Gus Maki mengatakan jika peringatan Maulid Nabi sudah selayaknya dilakukan oleh umat muslim, sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi yang akan memberikan syafaatnya bagi umat muslim kelak di hari akhir.

 

More Articles ...