Banyuwangi Sukses Usung Konsep Wisata Arsitektur

Pendopo Banyuwangi Jadi Wisata Arsitektur

Pemerintahan
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Konsep wisata arsitektur yang di kukuhkan Kabupaten Banyuwangi semakin di minati berbagai pihak.

Berbagai lembaga, peminat arsitektur, hingga kampus mendatangi kabupaten ujung timur Pulau Jawa tersebut untuk melihat penerapan konsep arsitektur pada sejumlah bangunan dan lansekap.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ikhtiar pihaknya di dalam membangun Banyuwangi dengan melibatkan para arsitektur ternama ternyata membuahkan hasil.

“Selain mengoptimalkan fungsi bangunan maupun lansekap untuk kepentingan pelayanan publik, rupanya ini juga mampu menarik minat orang untuk datang,” ujar Bupati Anas.

Diantaranya, para mahasiswa jurusan arsitektur telah ke Banyuwangi, antara lain Universitas Diponegoro Semarang, ITS, UI, hingga Universitas Atmajaya. Rombongan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dari sejumlah provinsi pun telah mendatangi Banyuwangi. Sejumlah pemerintah kabupaten/kota dari berbagai provinsi juga datang untuk studi penerapan pembangunan yang mengadopsi arsitektur khas lokal.

“Saya juga sudah mendapatkan info mengenai adanya lembaga pegiat arsitektur di Jakarta yang akan membuka tur arsitektur di Banyuwangi pada awal 2019,” ungkap Bupati Anas.

“Mereka membawa para peminat arsitektur dari berbagai daerah,” imbuhnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah arsitek yang karyanya sudah lintas negara memang dilibatkan membangun Banyuwangi, mulai Andra Matin, Budi Pradono, Adi Purnomo, hingga Yori Antar. Mereka mengembangkan ruang terbuka hijau, terminal bandara, fasilitas pendidikan, stadion, pasar tradisional, pendopo, hingga lansekap destinasi wisata.

Bupati Anas pun mengucapkan terima kasihnya kepada para arsitek, karena mereka mempunyai dedikasi tulus mengembangkan daerah lewat arsitektur.

“Banyuwangi juga mewajibkan bangunan baru berskala besar untuk memasukkan unsur budaya lokal dalam arsitekturnya, seperti hotel hingga gedung perkantoran,” kata Bupati Anas.

Diakui Bupati Anas, ini merupakan bagian dari upaya pihaknya dalam menitipkan kebudayaan Banyuwangi agar lestari.

“Di Banyuwangi bisa melihat hotel berbintang memasukkan batik bermotif Gajah Oling dalam arsitekturnya, dan sebagainya,” pungkas Bupati Anas.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Penataan Ruang Banyuwangi, Mujiono, menambahkan, berkat kolaborasi arsitek dan publik Banyuwangi, Bupati Banyuwangi baru saja diganjar penghargaan tertinggi Ikatan Arsitek Indonesia.

Sejumlah bangunan yang kerap dikunjungi untuk wisata arsitektur antara lain Terminal Bandara Banyuwangi yang berkonsep hijau dan mengadopsi penutup kepala khas Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) yang digarap Andra Matin.

“Itu merupakan terminal bandara berkonsep hijau pertama di Indonesia,” kata Mujiono.

Selain itu, imbuh Mujiono, ada pendopo yang digarap Adi Purnomo, dan telah di-review oleh majalah internasional asal Belanda. Pendopo yang juga menjadi destinasi wisata itu dikonsep hijau dengan bunker, sehingga banyak yang menyebutnya sebagai ”Bukit Teletubbies”.

Ada pula Taman Blambangan yang digarap Adi Purnomo sebagai ruang publik tempat masyarakat bercengkerama. Yori Antar juga merancang shelter-shelter menuju kawasan Gunung Ijen. Kemudian Stadion Diponegoro dengan siluet penari Gandrung dikerjakan Budi Pradono.

“Masih banyak lagi bangunan lain berarsitektur khas budaya lokal, mulai gedung olahraga, destinasi, hingga sejumlah ruang terbuka hijau,” tutur Mujiono.

Dan yang terbaru adalah sentra kuliner pasar tradisional di Pasar Sritanjung Banyuwangi.

“Di tahun 2019 mendatang akan di anggarkan Rp 1,5 Miliar hingga Rp 2 Miliar untuk revitalisasi dan pembangunan pasar Sritanjung, khusus untuk area pusat ole-ole khas Banyuwangi dan pasar buah local,” papar Mujiono.

 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS