Festival Janadriyah Jadi Ajang Promosi Wisata Banyuwangi Hingga Kostum Seniman Ludes Terjual

Rombongan seniman disambut di Kantor Pemkab

Pemerintahan
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Banyak cerita dan kisah sangat menarik di balik suksesnya penampilan para seniman Banyuwangi di Gelaran Festival Janadriyah ke 33 tahun 2019 di Riyadh, Arab Saudi.

Diantaranya, para pemusik dan penari yang seluruhnya siswa kelas 6 Sekolah Dasar dari beberapa kecamatan telah menyiapkan 2 tarian seperti Kuntulan, Hadrah dan Kundaran. Direncanakan tampil selama 2 hari, namun karena dinilai tarian tradisional Banyuwangi bagus maka mereka tampil selama 4 hari berturut mulai tanggal 1 Januari hingga 4 Januari.

Namun untuk di tanggal 3 Januari tidak jadi tampil karena di area Festival terjadi badai dan debu beterbangan, sehingga menganggu jarak pandang.

Total ada 20 seniman asal Banyuwangi yang tampil di Festival Janadriyah ke-33 dan 10 diantaranya adalah penari SD tersebut. Di sisi lain, pakaian yang di gunakan para penari habis di beli oleh para pengunjung. Bahkan, peralatan music yang digunakan mengiringi para penari, ludes di beli juga. Salah satunya, alat jedor khusus di beli KBRI Riyadh Arab Saudi.

Tarian yang di tampilkan ini juga sebagai ajang promosi Indonesia ala Banyuwangi di Arab Saudi. Karena di area pameran, hanya dipasang gambar wisata Raja Ampat dan Bali.

Dengan antusiasnya penonton terhadap tarian Banyuwangi, sekaligus di manfaatkan untuk mempromosikan wisata Banyuwangi kepada masyarakat Arab Saudi. Sementara, selama kesenian Banyuwangi tampil menggunakan peralatan secara live. Sedangkan, daerah lain yang juga mewakili Indonesia seperti Reog Ponorogo, menggunakan music dari CD. Hal inilah yang membuat Banyuwangi terus mendapatkan apresiasi selama mengikuti kegiatan tersebut.

Untuk Festival Janadriyah ke-33 ini, Sekolah Indonesia Riyadh mengirimkan 100 pelajar, Sekolah Indonesia Jeddah mengirimkan 40 pelajar, dan Sekolah Indonesia Mekkah mengirimkan 30 pelajar.

Budiyanto, salah satu budayawan yang mendampingi puluhan seniman di Festival Janadriyah tersebut menceritakan, Pemkab Banyuwangi sengaja menurunkan siswi Sekolah Dasar untuk terlibat dalam gelaran itu.

Pasalnya, dari hukum yang berlaku di Arab Saudi bahwa perempuan yang sudah aqil baligh tidak boleh menyanyi atau menari. Jadi yang ditampilkan adalah anak-anak SMP dan SD.

“Sehingga Banyuwangi menghormati ketentuan yang berlaku di Arab Saudi itu,” ujarnya.

Budi mengaku bangga bisa melibatkan para maestro yang ahli di bidang kesenian. Karena disaat diminta untuk melakukan modifikasi music dan tarian sesuai dengan ketepatan dan ketentuannya, mereka langsung bisa mengaplikasikannya dengan cepat.

“Seperti diminta untuk menampilkan 4 tarian dalam 4 hari itu, meskipun yang di siapkan hanya 2 tarian,” kata Budi.

“Seperti tarian jejer kembang menur diiringi hadrah di campur dengan gamelan lalu di modifikasi tarian Rodhat, dan itu terpaksa dilakukan karena dalam kondisi terdesak. Pagi menata music dan tarian, sementara di malam harinya ditampilkan,” papar Budi.

Kondisi ini berlangsung selama 4 hari berturut turut. Bahkan, Pemerintah Arab Saudi juga meminta seniman Banyuwangi menampilkan music kendang kempul. Karena kebingungan, mereka pun menggunakan gong yang di pajang di arena pameran untuk melengkapi peralatan yang ada.

“Setelah tampil selama 4 hari, seluruh seniman termasuk ke 10 penari SD itu menjalani umroh, sebagai apresiasi dari Pemkab Banyuwangi,” tutur Budi.

“Para seniman yang ikut dalam Festival Janadriyah ini, adalah mereka yang telah berkontribusi dalam berbagai kegiatan Banyuwangi Festival,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, mereka di pilih dari seluruh sanggar yang tersebar di sejumlah kecamatan secara merata. Budi berharap, energy positif ini bisa ditularkan kepada para seniman lainnya. Bahkan, para penari siswi Sekolah Dasar itu pun juga bisa menjadi pengalaman yang tidak terlupakan seumur hidup.

“Tidak ada sejarahnya selama ini, para seniman di hadiahi umroh oleh Pemkab Banyuwangi dan baru kali ini. Sangat luar biasa,” pungkas Budi.

Sementara itu, kedatangan puluhan seniman tersebut di Kantor Pemkab Banyuwangi, Rabu malam (9/1) di sambut dengan music hadrah.

Bahkan, para kerabat dan orang tua mereka juga ikut menyambut kedatangan mereka yang membuat suasana semakin haru, meskipun di area Kantor Pemkab Banyuwangi sempat di guyur hujan cukup deras.

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS
Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.