Cari Inspirasi, Arsitek Asing dan Indonesia Berwisata Arsitektur di Banyuwangi

Pemerintahan
Typography

radiovsifm.com, Banyuwangi - Sejumlah arsitek dari dalam dan luar negeri melakukan wisata arsitektur di Banyuwangi, untuk mengetahui berbagai ruang publik di Banyuwangi yang dibangun dengan melibatkan sejumlah arsitek kondang. Seperti Andra Matin, Adi Purnomo, Yori Antar, dan Budi Pradono.

Kedatangan para arsitek dalam dan luar negeri itu diinisiasi oleh Archinesia, sebuah penerbitan ternama khusus arsitektur. Dan wisata arsitektur tersebut diikuti oleh 15 arsitek, antara lain dari Kuala Lumpur, Jakarta, Surabaya, dan Bandung. 

Selama tiga hari, para arsitek ini mengunjungi berbagai tempat ikonik Banyuwangi. Lokasi yang dikunjungi antara lain Bandara Banyuwangi, Pendopo Kabupaten, Ruang Terbuka Hijau Sayu Wiwit, penginapan atlet, Grand Watu Dodol, hingga Kantor Pemkab Banyuwangi.

Kedatangan mereka di sambut oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

“Kami mengajak sejumlah arsitek untuk berkolaborasi membangun daerah, guna mengoptimalkan fungsi produk infrastruktur baik secara fisik maupun non-fisiknya,” ujar Bupati Anas.

Dia mengatakan, pendekatan arsitektur yang berkonsep dinilai sangat penting untuk memastikan ruang publik yang dibangun dengan dana rakyat bisa berfungsi optimal.

“Bangunan harus bagus dari aspek teknis, tapi fungsinya juga harus bermanfaat bagi masyarakat,” kata Bupati Anas.

“Tidak semata-mata bangunan dalam arti fisik semata, tapi juga jadi ruang berinteraksi, membangun keakraban, dan sebagainya,” imbuhnya.

Sebelumnya, Bupati Anas pernah mendapat penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Keterlibatan arsitek di Banyuwangi terekam jelas, contohnya seperti bangunan Pendopo dan Taman Blambangan dirancang Adi Purnomo. Adapun Andra Matin adalah arsitek dari Bandara Banyuwangi, Terminal Pariwisata Terpadu, dan RTH Taman Sayuwiwit.

Yori Antar mendesain ruang terbuka hijau Kedayunan dan rest area di Ijen. Sedangkan Budi Prodono mendesain Stadion Diponegoro dan Lapangan Atletik GOR Tawangalun.

Banyuwangi juga mewajibkan bangunan baru berskala besar untuk memasukkan unsur budaya lokal dalam arsitekturnya, seperti hotel hingga gedung perkantoran.

“Ini sebagai upaya menitipkan kebudayaan Banyuwangi agar lestari. Disini, masyarakat bisa melihat hotel berbintang memasukkan batik bermotif Gajah Oling dalam arsitekturnya, dan sebagainya,” papar Bupati Anas.

Sementara itu, Chief Editor Archinesia Imelda Akmal mengatakan, tur arsitektur ini dilakukan sebagai ajang saling mencari inspirasi.

“Banyuwangi layak dikunjungi karena perkembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir diiringi dengan keterlibatan arsitek,” ungkapnya.

Menuru Imelda, biasanya pihaknya tur ke negara lain, namun di awal tahun ini secara khusus ke Banyuwangi, dan rupanya banyak yang berminat ikut. Mereka tertarik karena banyak arsitek nasional yang terlibat di sini.

“Selama ini jarang sekali arsitek dilibatkan dalam pembangunan daerah. Selain juga, dari faktor arsitek sendiri yang kerap enggan berurusan dengan urusan birokrasi,” papar Imelda.

Tapi dia melihat di Banyuwangi berbeda, justru bisa menjembatani masalah tersebut. Banyuwangi bisa mewujudkan bangunan sesuai desain yang diinginkan arsitek.

“Tidak heran, banyak arsitek yang terlibat pembangunan di Banyuwangi menjadi happy. Padahal, arsitek yang terlibat di sini masuk jajaran Top 10 di Indonesia,” pungkas Imelda.

Salah satu peserta tur dari Kuala Lumpur, Malaysia Mustofa Kamal mengaku kagum dengan berbagai desain arsitektur yang ditemui di Banyuwangi, yang dinilainya sangat unik.

“Memiliki banyak karakteristik tradisional tapi tetap modern,” tutur Mustofa.

 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS
Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.