Arsitek Tersohor Ramaikan Puncak Festival Arsitek Nusantara Banyuwangi

Pemerintahan
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sejumlah arsitek papan atas tanah air menghadiri puncak acara Festival Arsitek Nusantara yang di gelar di Banyuwangi, Kamis (14/03).

Para arsitek kondang yang karyanya telah lintas negara tersebut adalah Andra Matin, Yori Antar, Budi Pradono, Jeffrey Budiman, Ary Indra, Denny Gondo, Gregorius Supie Yolodi, dan Achmad Noerzaman.

Sebagian dari mereka adalah arsitek yang terlibat dalam pengembangan Banyuwangi selama beberapa tahun terakhir. Mereka saling berbagi ilmu dan pengalaman menerapkan rancangannya.

Sejumlah keunikan ide desain menjadi bahasan yang hangat di kalangan arsitek.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang Banyuwangi, Mujiono mengatakan, jika ditotal ada 300 arsitek dari berbagai daerah di Tanah Air yang menghadiri festival ini.

“Termasuk para mahasiswa dan dosen arsitektur,” ungkapnya.

Arsitek Andra Matin mengatakan, keterlibatan arsitek pada bangunan yang didanai pemerintah akan membuatnya tidak hanya fungsional, tapi juga indah, ikonik, dan tidak lekang oleh waktu. 

“Sebuah bangunan juga akan mencerminkan peradaban dan sebagai tanda zaman. Langkah ini mulai dilakukan Bupati Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi,” papar Andra Martin.

Andra Martin adalah arsitek yang mendesain terminal Bandara Banyuwangi yang merupakan terminal berkonsep hijau pertama di Indonesia.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, arsitektur Nusantara bukan semata karya seni semata, namun juga instrumen mendorong kemajuan daerah.

“Srsitektur Nusantara dan pariwisata mempunyai keterkaitan erat,” ungkapnya.

“Arsitektur telah menjaga keberlanjutan seni-budaya dan tradisi Nusantara sekaligus pendorong ekonomi daerah dengan banyaknya orang yang datang berkunjung,” ujar Bupati Anas yang merupakan peraih penghargaan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) tersebut.

Dia mencontohkan sejumlah ikon baru di Banyuwangi yang dibangun dengan pendekatan arsitektur nusantara, dalam hal ini mengadopsi budaya khas Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi).

Misalnya di terminal bandara, lansekap destinasi wisata, hotel, ruang terbuka hijau, bangunan pemerintah, industri, hingga lembaga pendidikan dan kesehatan.

“Semua wajib memasukkan unsur budaya lokal, termasuk arsitektur khas Suku Osing. Dan terbukti itu disukai dan menarik perhatian wisatawan,” tutur Bupati Anas.

Arsitek Yori Antar mengapresiasi keberanian Banyuwangi untuk menjadikan arsitektur sebagai ujung tombak pembangunan. 

“Banyuwangi membuat arsitektur tidak berjarak dengan masyarakat,” ujarnya.

“Arsitektur dan masyarakat menjadi generator kemajuan daerah jika bersinergi dengan baik,” imbuh Yori.

Yori Antar pendesain sejumlah ruang terbuka hijau dan destinasi wisata di Banyuwangi.

Selain mengikuti pameran karya arsitektur dan berbagai sesi diskusi, arsitek dari berbagai daerah itu diajak berkeliling mengunjungi sejumlah bangunan di Banyuwangi yang didesain para arsitek kondang Indonesia. 

Festival Arsitektur Nusantara digelar berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), PT Propan Raya, dan komunitas Arsitek Muda Banyuwangi (AMB).

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS
Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.