Inilah Kisah Banyuwangi Libatkan Arsitek Pada Pengembangan Daerah

Pemerintahan
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Selama delapan tahun terakhir, Pemkab Banyuwangi mengembangkan daerahnya dengan pendekatan arsitektur berkonsep jelas.

Sejumlah arsitek tersohor dilibatkan mengembangkan berbagai ruang publik, mulai bandara, taman, destinasi wisata, hotel, lembaga pendidikan, hingga Puskesmas.

Dalam Festival Arsitektur Nusantara di Banyuwangi, Kamis-Jumat (14-15/3), sejumlah arsitek memaparkan pengalamannya ketika diajak Bupati Abdullah Azwar Anas mengembangkan Banyuwangi.

Arsitek Yori Antar mengatakan, selama ini ada kecenderungan arsitek ogah bermitra dengan pemerintah.

“Selain soal administrasi yang relatif tidak memahami dunia arsitektur, terkadang paradigma aparat birokrasi juga tidak selaras dengan cara pandang arsitek,” ungkap Yori.

Namun Yori mengaku sering menyampaikan kepada para arsitek, untuk tidak malas bermitra dengan pemerintah karena hal itu berarti membantu republik ini.

“Jika di Banyuwangi para arsitek merasa senang karena Bupati Abdullah Azwar Anas mempunyai komitmen dan keyakinan bahwa arsitektur bisa membawa daerah menjadi lebih baik,” papar Yori yang dikenal dengan julukan “Pendekar Arsitektur Nusantara” tersebut.

Menurut Yori, di Banyuwangi masyarakat dan arsitekturnya berada dalam satu gerak. Masyarakat disiapkan bersinergi dengan arsitektur yang sengaja dirancang berfungsi sosial budaya.

“Penyiapan masyarakat itu misalnya mendorong pengembangan budaya dan tradisi lokal melalui festival,” tuturnya.

Hasilnya kata Yori, antara arsitektur dan masyarakat tidak ada jarak. Banyak juga pemimpin daerah yang menyenangi arsitektur namun tidak menyiapkan masyarakatnya, akhirnya arsitekturnya berjarak menyebabkan monumen mati.

“Dan itu tidak untuk di Banyuwangi,”  ungkapnya.

Yori sendiri menggarap ruang terbuka hijau dan destinasi di Banyuwangi.

Sementara itu, Arsitek Budi Pradono, yang mengarsiteki Stadion Diponegoro dengan ornamen penari Gandrung dan Pantai Grand Watudodol, mengatakan, pelibatan arsitek adalah langkah terobosan karena dinilai mampu mendorong kemajuan pariwisata daerah.

Budi mengibaratkan apa yang dilakukan Banyuwangi seperti keputusan Presiden Prancis (1981-1995) Francois Mitterrand yang mengajak arsitek untuk merevitalisasi Paris dengan pembangunan berbagai karya arsitektur.

“Saat itu, banyak yang menentang ide Mitterrand. Hasilnya, sekarang Paris maju karena mengandalkan pariwisata. Kini, semua orang datang hanya untuk menikmati bangunan seperti Piramida Louvre,” papar Budi.

Spirit inilah kata Budi, yang ditangkap Banyuwangi dengan segala kebersahajaannya, yang dinilai sudah mulai berjalan meski pasti bertahap.

Arsitek Denny Gondo menambahkan, saat ini justru banyak arsitek yang ingin berkontribusi mengembangkan Banyuwangi.

“Seperti saya, sejak mendengar bagaimana perubahan Banyuwangi, saya ingin sekali berkontribusi buat Banyuwangi,” kata Denny.

“Saya senang banget akhirnya diajak pengembang hotel dan PT INKA, mendesain proyek mereka di Banyuwangi,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengucapkan terima kasih kepada para arsitek yang telah berkontribusi untuk Banyuwangi.

“Banyuwangi bukan kota besar, sedangkan para arsitek tersebut karyanya lintas negara,” kata Bupati Anas.

“Saya senang mereka antusias karena mungkin merasa cocok,” imbuhnya.

Seperti Andra Matin (arsitek terminal hijau Bandara Banyuwangi) yang menelfhonnya dan mengatakan bahwa kantor arsitekturnya punya CSR, sehingga bisa membantu Banyuwangi mendesainkan bangunan yang akan digarap.

 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS
Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.