54 Tim Finalis Agribusiness Startup Competition 2019 Ikuti Presentasi dan Interview

Pemerintahan
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Ajang Agribusiness Startup Competition (ASC) 2019 mulai memasuki babak presentasi dan interview yang di laksanakan selama 2 hari, Jum’at dan Sabtu (21-22/6/2019) di Aula Kantor Dinas Pertanian Banyuwangi.

Tercatat ada 54 tim yang lolos sebagai finalis, terbagi 27 tim dari kategori Rintisan Usaha Agribisnis dan 27 tim dari kategori Ide Usaha Agribisnis.

Sebelumnya, sejak pendaftaran ASC di buka mulai 1 April hingga 30 April 2019 secara online, peserta yang mendaftar sejumlah 653 orang dengan membentuk 267 tim untuk mengirimkan proposal, yang terdiri dari 104 tim kategori Rintisan Usaha Agribisnis dan 163 tim kategori Ide Usaha Agribisnis.

Selanjutnya, di lakukan penilaian dan seleksi oleh tim juri yang berkompeten di bidangnya, seperti dari Universitas Jember, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Politekhnik Negeri Banyuwangi dan Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (Stikom) Banyuwangi.

Dan pada tanggal 25 Mei 2019 di laksanakan rapat pleno oleh tim juri, hingga ditentukan 54 tim sebagai finalis.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan mengatakan, dari ke 54 tim finalis tersebut tidak hanya berasal dari Banyuwangi saja, namun juga dari Malang, Batu, Jember, Surabaya, Bondowoso, Pasuruan, Kediri, Tulungagung, Lamongan, Bangkalan, Semarang, Jogja, Depok, Bogor, Bandung, Cianjur, Makassar, Manado dan Mataram.

“Setelah menjalani presentasi dan interview, nantinya akan di pilih 10 tim terbaik untuk menentukan para juaranya pada Grand Final tanggal 29 Juni 2019 mendatang,” papar Arief.

Dia mengaku, dari berbagai produk yang di paparkan oleh para finalis tersebut dianggap masih meniru beberapa produk sejenis yang sudah ada.

“Seharusnya mereka bisa memunculkan banyak ide untuk menginisiasi dan memberikan peluang kepada anak anak muda untuk di lakukan,” kata Arief.

Menurutnya, pertanian tidak hanya persoalan tanaman pangan saja. Namun jasa ditanaman pangan juga dianggap sangat penting.

“Misalnya tanaman padi terkena serangan hama dan bagaimana caranya untuk mengendalikan. Ini juga bisa dikemas oleh para peserta jadi satu terobosan agar dimanfaatkan dan menginisiasi pihak lain,” ujar Arief.

“Selain itu, Dinas Pertanian juga memiliki bidang Hortikultura dan peternakan yang belum di kemas oleh peserta,” imbuhnya.

Lebih lanjut Arief mengatakan, pihaknya tidak hanya sekedar menggelar kegiatan Agribusiness Startup Competion ini saja.

“Kami akan dampingi para pemenang di dalam membuat rintisan usaha agribisnis maupun yang sudah mempunyai ide usaha agribisnis agar bisa bersaing dengan para competitor lainnya,” tutur Arief.

Tentu dengan pendampingan pula dari Badan Pengkajian dan Penerapan Tekhnologi (BPPT) Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Agribusiness Startup Competition adalah ikhtiar Banyuwangi di dalam menarik minat generasi milenial agar terjun ke bisnis pertanian sekaligus untuk meregenerasi pelaku usaha pertanian. Pasalnya, regenerasi ini dianggap penting karena 61 persen petani di Indonesia berusia 45 tahun ke atas.

Kompetisi tersebut juga untuk menarik minat anak-anak muda dengan kualifikasi pendidikan yang cukup memadai untuk mengakselerasi dunia pertanian.

Data menunjukkan bahwa 72% petani berpendidikan SD. Untuk itu, dari ajang ini diharapkan lahir petani-petani muda visioner dan melek teknologi, baik untuk peningkatan produktivitas, pengolahan pascapanen, maupun pemasaran pertanian.

Sementara itu, dari ke 10 finalis yang terpilih pada Grand Final tersebut akan di tentukan juara pertama mendapatkan hadiah uang tunai Rp 50 juta, juara kedua Rp 30 juta, juara ketiga Rp 20 juta, juara ke empat Rp 15 juta dan juara kelima Rp 10 juta.

Sedangkan untuk 5 finalis lainnya masing masing mendapatkan uang tunai Rp 5 juta.

 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS