Perayaan HUT ke 74 RI, 480 Penghuni Lapas Banyuwangi Dapat Remisi

Pemerintahan
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 480 orang penghuni Lapas Banyuwangi mendapat remisi umum pada peringatan HUT ke 74 RI dan 23 orang diantaranya langsung bebas.

Berdasarkan SK Kementrian Hukum dan Hak Azasi Manusia yang diterima Lapas kelas IIB Banyuwangi, jumlah tahanan yang mendapat remisi umum I sebanyak 457 orang, sedangkan remisi umum II sebanyak 23 orang dengan masing masing mendapat potongan masa tahanan antara 1 hingga 6 bulan.

Dari ke 23 tahanan yang langsung bebas tersebut yang masih harus menjalani pidana kurungan pengganti denda sebanyak 2 orang, menjalani pelatihan kerja pada tanggal 17 Agustus 2019 sebanyak 1 orang dan 19 orang lainnya langsung pulang di hari kemerdekaan RI tersebut.

Kepala Lapas Kelas IIB Banyuwangi, Ketut Akbar Hery Achjar mengatakan, jumlah penghuni Lapas Banyuwangi saat ini sudah mencapai 1.058 orang dengan rincian tahanan sebanyak 416 orang dan narapidana 642 orang. Untuk warga binaan laki laki sebanyak 981 orang, wanita 62 orang dan anak anak 15 orang.

Puluhan warga binaan yang langsung bebas pada peringatan HUT ke 74 RI itu adalah yang terlibat criminal umum dan narkoba,” ungkap Akbar.

“Kami mengajukan ke Kementrian Hukum dan HAM sebanyak 538 orang untuk bisa mendapatkan remisi,” tuturnya.

Namun yang di setujui 480 orang. Pengajuan ini secara online sehingga hingga saat ini masih dalam taraf verifikasi seluruh Indonesia.

“Tidak menutup kemungkinan, bagi warga binaan yang belum mendapatkan remisi pada peringatan HUT ke 74 RI ini, bisa terealisasi di beberapa hari mendatang,” kata Akbar.

Pemberian remisi ini serahkan langsung oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di area Lapas Banyuwangi, Sabtu (17/8/2019).

“Diharapkan remisi yang di terima ini bisa jadi motivasi bagi para narapidana untuk bisa berbuat baik dan berprestasi,” kata Bupati Anas.

Dia mengaku, banyak karya karya hebat lahir dari dalam penjara. Salah satunya Hasan Albana, tokoh gerakan mesir yang melahirkan kitab kitab penting dari dalam penjara. Juga Bung Karno yang saat menjadi tahanan politik juga banyak menulis buku tentang keindonesiaan.

“Sesungguhnya penjara ini menjadi madrasah atau sekolah bagi para tahanan untuk bisa melahirkan karya sesuai bakat dan minat mereka,” ujar Bupati Anas.

Tentu diakuinya tidak ada tempat yang sempurna. Sehingga diharapkan, penjara bisa menjadi bagian penting bagi para penghuninya untuk menjadi tokoh ataupun orang yang berhasil di kemudian hari.

“Saya berharap, penjara ini bisa menjadi tempat mendidik mereka untuk bisa bekerja sama dan berkolaborasi membangun komunikasi antar warga binaan dengan bagus,” imbuhBupati Anas.

 Dalam kesempatan ini, Bupati Anas berpesan, sebagai orang terpilih mereka harus menggali berbagai kemampuan dan kreativitas yang mereka punya.  Hard skill atau dikenal sebagai kompetensi dinilai memang penting untuk dimiliki setiap orang.

“Tapi soft skill atau karakter jauh lebih penting,” pungkas Bupati Anas.

 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS