Pelaku dan Korban Bully di SMP Banyuwangi Dapat Sangsi Pendidikan Karakter

Pemerintahan
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan memberikan sangsi pendidikan karakter terhadap pelaku maupun korban bully yang terjadi di SMP Negeri 1 Songgon Banyuwangi, setelah sebelumnya videonya sempat viral di media social.

Dalam video berdurasi 15 detik tersebut tergambar bahwa seorang siswa memakai baju batik biru di tendang oleh seorang siswa berbaju batik warna hijau. Akibatnya, korban terjatuh di selokan depan kelas yang mengakibatkan kakinya lecet.

Tidak hanya itu, seorang siswa lainnya mengarahkan kakinya ke atas kepala korban sambil di tertawakan oleh beberapa siswa lainnya. Kontan saja, video ini menjadi viral hanya dalam hitungan menit di seantero Banyuwangi dan luar daerah, baik melalui aplikasi WA maupun Facebook.

Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Sulihtiyono mengaku kaget mendapati video bully yang sudah tersebar luas dan menjadi viral tersebut.

“Saya langsung berkomunikasi dengan Kepala Sekolah SMPN 1 Songgon, pak Samsudin Ali untuk mendapatkan penjelasan,” ujar Sulihtiyono.

Menurutnya, peristiwa ini terjadi karena guyonan antar siswa namun hal itu tidak di perbolehkan mengingat sifatnya membahayakan, sehingga sempat terjadi pertentangan antar kedua orang tua siswa tersebut karena tidak terima.

“Pihak sekolah bersama kepolisian pun memfasilitasi pertemuan dengan kedua orang tua pelaku maupun korban untuk mencari penyelesaian,” ungkap Sulihtiyono.

Hingga akhirnya disepakati diantara mereka menempuh jalan damai, dengan di buktikan surat pernyataan agar mereka tidak mengulangi perbuatannya kembali.

Sementara, sangsi pendidikan karakter pun di berikan pemerintah daerah kepada 2 pelaku maupun korban. Untuk korban di wajibkan membaca Al-Qur’an sampai hatam dengan selalu melaporkan hasilnya kepada guru agama.

Sedangkan untuk kedua pelaku di wajibkan membaca Al-Qur’an sampai hatam. Selain itu, mereka juga diharuskan berada di salah satu SMP Luar Biasa (SMPLB) selama satu minggu dengan di hantarkan oleh orang tuanya.

Kepala Sekolah SMPN 1 Songgon, Samsudin Ali menjelaskan, sangsi pendidikan ini sengaja di berikan agar mereka mengetahui kesalahannya dan tidak mengulangi perbuatannya kembali.

“Untuk pelaku, dengan di tempatkannya di SMPLB di harapkan dia bisa mengetahui bahwa kesempurnaan tubuhnya tidak untuk digunakan menyalahi orang lain,” ungkap Samsudin.

“Peristiwa ini terjadi pada Kamis (15/8/2019) di depan kelas 9E,” imbuhnya.

Saat itu, korban berinisial FK (13) kelas 7C menemui beberapa siswa kelas 9 karena sebelumnya mengaku di panggil. Mereka mengatakan bahwa RK, siswi kelas 9 suka kepada FK. Karena hatinya berbunga bunga, FK pun mendatangi kelas RK.

Namun ternyata, justru FK di tendang oleh 2 siswa kelas 9 masing masing berisial FB (15) dan FE (15) karena menurut mereka RK tidak pantas suka dengan FK. Secara bersamaan, RK memvideokan aksi penendangan tersebut lalu hasilnya diminta oleh RE, temannya. Rupanya video ini viral, setelah RE menjadikannya sebagai story di WA nya.

Samsudin menyesalkan kasus ini terjadi dilingkungan sekolah yang dipimpinnya, karena pihaknya sudah memberlakukan pelarangan membawa ponsel di sekolah.

“Tapi masih saja ada siswa yang mencuri kesempatan dengan membawa ponsel mereka,” pungkas Samsudin.

 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS