Gandrung Sewu Banyuwangi Jadi Atraksi Wisata dan Gathering Investasi

Pemerintahan
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi menilai, perhelatan Gandrung Sewu menjadi atraksi wisata sekaligus memproduksi pengetahuan budaya khususnya bagi generasi muda.

Gandrung Sewu di gelar rutin setiap tahun dan telah menjadi ikon Kabupaten Banyuwangi. Ribuan penari yang beraksi di tepi Pantai Marina Boom berlatar Selat Bali selalu mengundang minat ribuan wisatawan di setiap tahunnya. Untuk di tahun 2019 ini, event tersebut di ikuti 1.300 seniman muda yang 60 persen diantaranya adalah penari baru.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, itu artinya disini ada proses regenerasi. Selama proses persiapan, mereka ikut workshop, latihan juga diskusi. Dari sanalah pengetahuan budaya diproduksi dan didistribusikan untuk anak-anak muda dengan melibatkan seniman, budayawan, komunitas sanggar seni, hingga guru-guru.

“Idealnya, sebuah festival bukan semata-mata memproduksi produk seni-budaya, tapi juga harus mampu memproduksi pengetahuan budaya,” ungkap Bupati Anas.

Hal inilah yang menurut Bupati Anas di ikhtiarkan dirinya di Banyuwangi. Sehingga festival bukan hanya atraksi wisata, namun juga bagian integral dari upaya pemajuan kebudayaan.

“Selain kepada anak-anak muda pelaku seni, produksi pengetahuan budaya juga menyasar khalayak umum lewat berbagai saluran. Termasuk nantinya saat pelaksanaan, ada pengetahuan yang bisa disimak melalui sendratari dan beragam materi promosi,” papar Bupati Anas.

Untuk itu Bupati Anas berharap, festival bukan hanya berdampak pada ekonomi, namun juga peningkatan pengetahuan budaya warga.

“Gandrung Sewu ini juga menjadi gathering yang luar biasa, bukan hanya bagi kesenian dan kebudayaan tapi juga untuk investasi,” kata Bupati Anas.

“Itu terbukti, banyak para pelaku ekonomi dan investor dari berbagai kota datang ke Banyuwangi ingin menyaksikan perhelatan Gandrung Sewu,” imbuhnya.

Demikian halnya dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang telah melakukan reservasi untuk datang ke Banyuwangi.

Dari sini kata Bupati Anas, makna Festival Gandrung Sewu telah meluas.

“Selain jadi alat konsolidasi kebudayaan, juga jadi bagian penting untuk meluaskan nilai nilai kesenian serta untuk gathering investasi,” tutur Bupati Anas.

Sementara itu, dari aspek pariwisata, Festival Gandrung Sewu telah terbukti terus meningkat kualitasnya sehingga ditetapkan sebagai 10 Best Calendar of Event pariwisata Indonesia. Pada saat bersamaan, Festival Gandrung Sewu memproduksi pengetahuan budaya melalui serangkaian workshop, latihan, diskusi tema, hingga seleksi penari-penari baru yang melibatkan ribuan anak muda Banyuwangi.

Bupati Anas menambahkan, sesuai Undang-Undang Nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, obyek pemajuan kebudayaan harus dilakukan inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, dan penyelamatan. Obyek pemajuan kebudayaan sendiri terdiri atas sepuluh hal, mulai tradisi lisan, adat istiadat, manuskrip, permainan rakyat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, hingga ritus.

Ketua Panitia Festival Gandrung Sewu Budianto menambahkan, aksi kolosal ribuan penari Gandrung tahun ini bertema ”Panji-Panji Sunangkoro” yang dibalut dalam sendratari berkisah perjuangan heroik rakyat Blambangan melawan kolonialisme Belanda. 

“Digelar rutin sejak delapan tahun terakhir, Festival Gandrung Sewu selalu mengangkat tema yang berbeda di setiap tahunnya,” kata Budianto.

“Regenerasi pelaku seni hingga produksi pengetahuan budaya berlangsung dalam proses ini,” pungkasnya.

 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS