Satu dari 103 Taruna AAL yang Dibawa KRI Bima Suci adalah Pemuda Banyuwangi

Pemerintahan
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sandarnya KRI Bima Suci di Banyuwangi setelah melakukan misi diplomasi ke 9 negara dalam Satuan Tugas Kartika Jala Krida 2019, menyisakan kisah tersendiri bagi salah satu awak tarunanya.

KRI Bima Sakti tersebut membawa 103 Taruna Taruni Akademi Angkatan Laut (AAL) serta 89 orang ABK dan 19 orang staf pelatih AAL sehingga total ada 211 orang berlayar ke 9 negara selama 96 hari sejak Agustus 2019 lalu.

Ratusan warga menyambut kehadiran KRI Bima Suci yang memiliki panjang kapal 111,20 meter, lebar 13,65 meter, kedalaman lambung 5 meter dan tinggi layar 49 meter tersebut di dermaga Pelabuhan Tanjung Wangi Banyuwangi, Sabtu (9/11/2019) lalu.

Salah satunya adalah Nurjanah yang terlihat begitu bahagia. Perempuan asal Desa Sumber Bulu Kecamatan Songgon Banyuwangi tersebut tampak bahagia melambaikan tangannya ke arah KRI Bima Suci.

Di atas kapal, para taruna AAL berdiri di tiang-tiang layar sembari melambaikan tangan. Memberikan penghormatan kepada orang-orang yang menyambutnya di pelabuhan.

Nur Jannah adalah salah satu dari beberapa keluarga dari Taruna AAL yang mengikuti pelayaran KRI Bima Suci ke sembilan negara itu. Ia adalah ibunda dari taruna bernama Wahyu Wardoyo. Peluk kangen penuh keharuan pun tercipta ketika keduanya bertemu. Pertemuan ibu dan putranya itu, memang terasa spesial.

Sandarnya KRI Bima Suci di Banyuwangi tidak ubahnya pulang ke kampung halaman sendiri. Pasalnya, Wahyu adalah satu-satunya taruna AAL yang berasal dari kota Banyuwangi.

Saat dikonfirmasi, Wahyu mengaku bersyukur bisa menunjukkan keindahan Banyuwangi kepada para taruna lainnya.

Sebagai putra daerah, kebanggaan Wahyu bukan tanpa alasan. Dari 103 taruna AAL angkatan 66 tahun 2017 yang berasal dari seluruh Indonesia itu, tidak semua kampung halamannya bisa disinggahi. Selain di Surabaya, hanya Batam, Bali dan Banyuwangi saja kota di Indonesia yang dihampiri.

“Saya bangga sebagai orang kampung bisa merasakan pelayaran keliling dunia dengan warna warni masyarakatnya,” ungkap Wahyu.

Bahkan dalam lawatannya ini, Wahyu harus menghadapi ombak setinggi 8 meter dan ini bisa dilaluinya dengan kuat berkat dukungan dari sang ibundanya.

“Saya berharap, dengan menjadi taruna ini saya bisa memberikan kebanggaan serta bisa mengharumkan daerah dan membangun Banyuwangi menjadi lebih baik,” ujar Wahyu.

Menjadi taruna AAL, memberikan pengalaman yang mengesankan bagi Wahyu.

Pemuda berperawakan tegap berkulit bersih itu, berasal dari perkampungan di lereng Gunung Raung, Desa Sumber Bulu, Kecamatan Songgon.

“Sebagai anak gunung, saya tidak menyangka bisa mengikuti pelayaran keliling dunia ini,” pungkas Wahyu.

Sejak kecil, putra pertama pasangan almarhum Juhariyanto Handoyo dan Nur Jannah tersebut, memang telah bercita-cita menjadi angkatan laut. Ia harus berkali-kali ikut tes demi bisa masuk AAL.

Nur Jannah menceritakan, anaknya tersebut tiga kali mengikuti tes. Mulai tahun 2015 dan 2016 gagal. Pada 2017, baru berhasil setelah mendaftar lewat Bali.

“Saya sangat bangga kini anak saya bisa mewujudkan cita-citanya sebagai anggota TNI AL, dan bisa mengabdi untuk negara,” pungkas Nurjanah penuh haru.

 

 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS