radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 72 pemuda dari 40 negara peserta program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) dari Kementrian Luar Negeri, unjuk kebolehan dalam Pagelaran Seni Indonesia Channel (Inchan) 2019 yang di gelar di Taman Blambangan Banyuwangi, Senin malam (13/8/2019).

Kegitan ini dibuka langsung oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi. Dalam keterangannya, Menlu Retno mengatakan, sebanyak 72 pemuda dari 40 negara sahabat, termasuk Indonesia unjuk kebolehan dalam menari, bermain musik dan melantunkan tembang tradisional dalam suguhan sendra seni budaya kolosal.

“Di tahun ini Inchan mengangkat tema “Mosaic of Indonesia”, merupakan representasi Bhinneka Indonesia yang multietnik dan tradisi, multireligi dan kepercayaan, multi-bahasa yang berharmoni dalam payung kesatuan – INDONESIA,” papar Menlu Retno.

Lokasi pelaksanaan Inchan setiap tahun selalu berubah, tidak hanya di Jakarta, namun juga ke daerah. Tujuannya untuk menebar semangat kepada pemuda-pemuda di tanah air agar semakin mencintai, mempelajari dan melestarikan budaya nusantara.

“Karena budaya adalah jati diri bangsa dan aset ekonomi dan pembangunan,” ungkap Menlu Retno.

BSBI merupakan kegiatan Kemenlu RI yang telah dilaksanakan sejak tahun 2003, yang tahun ini memasuki tahun ke-17. Melalui BSBI, Indonesia mengajak generasi muda dari berbagai negara untuk mempelajari seni dan budaya Indonesia. Mereka kemudian disebar ke sejumlah daerah untuk mempelajari seni, budaya, juga bahasa.

“Tahun ini terdapat enam daerah yang dipilih yakni Padang, Kutai Kartanegara, Makassar, Bali, Banyuwangi, dan Yogyakarta,” tutur Menlu Retno.

Selama 3 (tiga) bulan peserta BSBI tinggal bersama masyarakat dan berlatih di sanggar dan universitas mitra Kemenlu RI. Menteri Retno menambahkan, peserta BSBI diharapkan dapat menjadi sahabat dari Indonesia (friends of Indonesia) di masa mendatang.

“Mereka juga menjadi agen dari perdamaian dan toleransi untuk menghormati perbedaan,” kata Menlu Retno.

Program BSBI yang telah dilaksanakan sejak tahun 2003 memiliki 920 alumni dari 77 negara. Alumni tersebut menjadi Duta Indonesia yang turut mempromosikan Indonesia di negara asalnya. Diakui Menteri Retno, tahun ini, Indonesia menambah alumni dari 3 negara baru, yaitu Gambia, Portugal, dan Kolombia.

Sejumlah aktivitas alumni BSBI bersama Perwakilan RI kerap berpartisipasi dalam ragam program seni budaya dan ekonomi di negara asal. Mereka banyak juga secara mandiri menjadi guru tari dan koreografer tari nusantara di luar negeri, menyelenggarakan pameran lukisan foto dan promosi gastronomi.

“Mereka juga membuat ikatan persahabatan Indonesia dengan negara asal, mendirikan pusat budaya Indonesia, menulis buku tentang Indonesia serta menciptakan lagu dan video klip untuk media sosial,” tutur Menlu.

Jejak rekam aktivitas para alumni dapat diakses melalui media sosial seperti Facebook dan Youtube berdasarkan kata kunci Indonesia Arts and Culture Scholarship (IACS).

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kemenlu RI Cecep Herawan lalu membeberkan kenapa memilih Banyuwangi sebagai lokasi pelaksanaan Inchan 2019.

“Karena Banyuwangi dengan kemajemukannya bisa dikatakan sebagai miniatur Indonesia,” ungkap Cecep.

Mulai dari budaya, religi dan kepercayaan, kreasi dan inovasi pemerintah dan masyarakatnya dalam mengembangkan potensi daerah, khususnya seni budaya. Selain itu juga potensi ekonomi kreatif dan investasi yang perlu semakin dipromosikan.

Cecep mengaku, perhelatan Inchan kali ini dihadiri sejumlah Dubes dan perwakilan diplomatik dari negara sahabat.

“Mereka juga akan dipersiapkan program Diplomatic Tour – ekplorasi potensi ekonomi dan investasi Banyuwangi untuk mereka,” pungkasnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi menggelar Karnaval Festival Kebangsaan dalam rangka HUT ke 74 RI, sebagai bagian dari cara pemerintah untuk mendidik toleransi dikalangan pelajar terhadap seni dan budaya yang tumbuh di berbagai daerah di Indonesia, Selasa (13/8/2019).

Karnaval kali ini bertemakan Kebhinekaan Nusantara dengan ditampilkan beragam seni dan kebudayaan serta suku dari seluruh Indonesia. Seperti Budaya Islami, kostum adat Jogjakarta, Bali, Madura, Minangkabau, Suku Tengger, Suku Osing, Suku Betawi hingga kostum arab, Aceh, Maluku, Jawa Barat, Jawa Timur serta Mataraman.

Disini juga di tampilkan kostum para medis di dunia kesehatan, nelayan, petani dan pejuang.

Dalam sambutan singkatnya, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, tidak semua festival yang di gelar pemerintah daerah untuk wisatawan mancanegara maupun domestic.

“Juga ada berbagai kegiatan untuk mengangkat tradisi dan budaya local Banyuwangi maupun nusantara. Salah satunya adalah Festival Kebangsaan ini yang diikuti 32 pelajar tingkat SMP dan SMA di Banyuwangi,” ujar Bupati Anas.

Menurutnya, ini bagian dari cara Banyuwangi untuk mendidik toleransi anak anak muda agar tumbuh dan berkembang di tengah sikap toleransi yang terus tumbuh di berbagai daerah di Indonesia.

“Biasanya, pelajaran sejarah di dalam kelas hanya terbatas waktunya. Tapi dengan ditampilkannya dalam bentuk karnaval yang di munculkan oleh setiap sekolah, mereka dapat mempelajari sejarah budaya dari berbagai daerah hingga busana dan asal usulnya,” papar Bupati Anas.

Dia mengaku, dengan mempersiapkan sarana prasarana untuk ditampilkan dalam karnaval tersebut semua akan terlibat, tidak hanya pelajar itu sendiri namun juga orang tua dan kerabatnya.

“Dengan ini, mereka bisa memahami dan mempunyai sikap toleransi terhadap berbagai kebhinekaan yang tumbuh di Indonesia,” tuturnya.

Dalam kesempatan ini, Bupati Anas mengutip pernyataan kepala BNPT yang beberapa waktu lalu datang ke Banyuwangi. Bahwa berbagai kegiatan kebudayaan menjadi salah satu cara untuk meredam terorisme dan radikalisme.

“Dengan tema Kebhinekaan Nusantara ini yang menampilkan beragam budaya di berbagai daerah di seluruh Indonesia, di harapkan para pelajar bisa mendapatkan pendidikan toleransi yang tidak hanya melalui pidato pidato di kelas maupun dari para pemimpin,” kata Bupati Anas.

Dia juga menegaskan, karnaval kebangsaan ini juga menjadi bagian dari untuk memperkuat toleransi dan keberagaman yang tumbuh di Banyuwangi.

Hadir pula dalam kegiatan ini, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kemenlu RI, Cecep Hermawan.

Sementara, ribuan pelajar yang terlibat dalam karnaval Festival Kebangsaan ini mengambil start dari depan Kantor Pemkab Banyuwangi dan finish di Stadion Diponegoro.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kementrian Koordinator Kemaritiman mencontohkan Bandara Banyuwangi sebagai bangunan public yang berkonsep hemat energy.

Ini menjadi perhatian pemerintah pusat terkait persoalan konservasi energy. Yang salah satunya adalah membangun gedung yang ramah lingkungan dan hemat energi.

Saat berkunjung ke Banyuwangi, Deputi Bidang Koordinasi Sumberdaya Alam dan Jasa, Kemenko Maritim Agung Kuswandono mengatakan bahwa desain arsitektur Bandara Banyuwangi yang mengusung konsep hijau dinilai sebagai contoh bangunan yang hemat energi sekaligus ramah lingkungan.

“Itu bisa terlihat dari material yang digunakan dan penataan ruang yang memanfaatkan energi yang ada di sekitarnya,” kata Agung.

“Bandaranya benar-benar berkonsep hemat energi. Tidak banyak lampu listrik, dindingnya memakai kayu yang bersekat-sekat sehingga hawa segar angin bisa masuk ke ruangan menggantikan fungsi AC,” paparnya.

Bandara Banyuwangi diarsiteki Andramatin, desainnya mengadopsi kearifan lokal, yaitu arsitektur khas Suku Osing, masyarakat asli Banyuwangi. Dimana atap terminal mengadopsi penutup kepala khas masyarakat Suku Osing, udeng. Selain itu, terminal baru bandara Blimbingsari banyak menggunakan ornamen kayu yang juga dilengkapi dengan ornamen khas Banyuwangi. 

Atas dasar itulah, Agung meminta jajaran Kemenko Kemaritiman untuk mulai mencontoh Banyuwangi yang mengembangkan bangunan publiknya dengan konsep ramah lingkungan.

Sebelumnya, Kemenko Maritin menggelar rakor Konservasi Energi dan Pemenuhan Energi Bagi Pembangunan Daerah  di Banyuwangi, untuk mengenalkan banyak hal terkait kebijakan hemat energi yang bisa dikembangkan oleh daerah. Salah satunya lewat rancangan bangunan publik.

“Banyuwangi tidak hanya bandaranya, tapi juga ada pendoponya yang dirancang ramah lingkungan dan ini menjadi best practice bagi masyarakat,” ungkap Agung.

Beberapa perwakilan pemerintah daerah seperti Mentawai, Subang, dan Manggarai Barat juga hadir dalam rakor tersebut untuk berbagi pengalaman tentang konservasi energi.

Kemenko Maritim juga mengundang kelompok nelayan dari Kuburaya, Kalimantan Barat untuk berbagi inovasi dengan pemkab Banyuwangi karena diinginkan semua daerah saling berbagi pengalaman terbaiknya, sehingga program konversi energi di Indonesia bisa berjalan sesuai yang diharapkan. Lebih lanjut Agung mengatakan, di Pulau Jawa sendiri, saat ini masih terdapat 2500 desa yang belum teraliri listrik oleh PLN.

“Daerah-daerah perlu melakukan inovasi energi yang berkelanjutan sesuai potensi daerahnya,” tutur Agung.

Untuk itu, Agung berharap setiap pemda bisa bergerak dan menggunakan tenaga surya, angin dan mikro hidro.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menyampaikan terima kasih atas kepercayaan Kemenko Kemaritiman yang telah menjadikan Banyuwangi sebagai daerah percontohan. 

“Apresiasi ini sebagai pelecut bagi kami untuk terus mendesain kebijakan hemat energi di daerah,” ungkap Bupati Anas.

Dijelaskan Bupati Anas, Green Airport Banyuwangi dibangun dengan ciri yang Indonesian Style dengan desain green building, di mana bandara sangat meminimalkan penggunaan Air Conditioner (AC).

Terminal ini memanfaatkan sirkulasi udara yang diatur dengan kisi-kisi, juga ada kolam air sebagai pendingin ruangan, yang dibantu aliran air untuk menyejukkan udara, di sekeliling terminal.

“Atap terminal berhamparkan rerumputan hijau, dan energi alami dimanfaatkan dengan mengatur pencahayaan matahari sebagai penerang ruangan di siang hari,” pungkas Bupati Anas.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Perhelatan Banyuwangi Beach Jazz Festival di pantai Boom Marina, Jum’at malam (9/8/2019) berlangsung sukses. Meski digelar di dermaga pantai pada malam hari, suasana hangat mampu disuguhkan dalam konser musik yang menampilkan musisi Glenn Fredly.

Ribuan penonton memadati arena Amphitheater Boom Eco Adventure Park Banyuwangi di Pantai Marina Boom Banyuwangi yang berada di pinggir pantai tersebut. Ini adalah arena baru yang dalam proses pembangunan oleh BUMN PT Pelindo III menjadi marina terintegrasi untuk sandar yacht.

Menempati area tidak terlalu luas, menjadikan arena panggung tidak terlalu berjarak dengan amphitheater penonton. Kedekatan inilah yang akhirnya menjadikan konser terkesan intim. Interaksi antara Glenn Fredly dan penonton pun menjadi lebih hidup.

Desiran angin malam seolah tidak mampu melawan kehangatan suasana yang dihadirkan dalam konser yang dirancang dengan apik tersebut.

“Terima kasih pada warga Banyuwangi yang menyediakan ruang publik seperti ini dan bisa jadi inspirasi daerah lain,” ujar Glenn di sela sela penampilannya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Banyuwangi tidak pernah berhenti untuk terus menghadirkan sesuatu yang baru, termasuk untuk ajang pariwisata. Salah satunya adalah penggunaan amphitheater di dermaga pantai yang menjadi lokasi acara.

“Jazz pantai telah menjadi salah satu ciri khas pariwisata Banyuwangi yang tidak bisa ditemukan di daerah lain, khususnya di Jawa Timur,” kata Bupati Anas.

“Event jazz ini tidak hanya telah menjadi salah satu penanda pariwisata Banyuwangi, tapi juga menjadi saksi perjalanan perubahan Pantai Boom yang kini berproses menjadi pelabuhan marina internasional,” papar Bupati Anas.

Pantai Marina Boom sendiri rutin menjadi tuan rumah perhelatan jazz pantai yang digelar Banyuwangi sejak 2012. Pantai ini tengah bertransformasi menjadi pelabuhan marina yacht internasional. Pantai Marina Boom kini menjadi pusat aktivitas warga kota Banyuwangi yang ingin menghabiskan waktu senggangnya. 

Konser Jazz Pantai Banyuwangi 2019 yang didukung sejumlah BUMN ini pun berlangsung begitu seru dan meriah. Menggebrak di awal dengan lagu “Kala Cinta Menggoda”, Glenn pun berhasil menggoda penonton untuk ikut berdendang. Menyusul kemudian hits “My Everything” dilantunkan. Koor kompak penonton langsung pecah saat Glenn menyanyikan lagu legendaris miliknya, “Terpesona”. 

“Saya sudah tiga kali ke Banyuwangi dan masih terus terpesona,” ungkap Glenn.

“Saya terpesona dengan kopi Banyuwangi. Kalau ke Banyuwangi jangan lupa cicipi kopinya yang sangat luar biasa,” tuturnya.

Saat melakukan komunikasi via Facetime dengan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang sedang menjalankan tugas di Bali, Glenn mengaku sangat menyukai lokasi tempat penyelenggaraan event tersebut.

“Di Jakarta saya tidak menemukan suasana ini,” tutur Glenn.

Suasana semakin hangat dan semarak dengan kelihaian duet MC, Alit dan Gundhi, dalam membawa suasana. Lagu lagu hits terus dinyanyikan oleh Glenn untuk menghangatkan suasana. Momen baper tercipta saat Glenn membawakan lagu “Terserah”, “Cinta dan Rahasia”, dan “Adu Rayu”. Hampir di setiap lagu yang dibawakan, penonton antusias mengikuti lirik yang dibawakan Glenn. 

Membawakan sepuluh lagu, Glenn menutup penampilannya dengan sempurna lewat lagu “Kasih Putih”. Ribuan penonton spontan melakukan aksi menyalakan lampu ponsel.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Ratusan pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengikuti pawai sepeda hias dengan menampilkan beragam potensi kekayaan Banyuwangi.

Kegiatan yang menjadi agenda tahunan di bulan Agustus dan masuk dalam rangkaian Festival Merdeka 2019 Kabupaten Banyuwangi tersebut digelar Senin (12/8/2019) dengan start dari depan Kantor Pemkab Banyuwangi dan finish di kantor Camat Banyuwangi. Para penonton pun juga dengan setia menonton di tepi-tepi jalan yang menjadi rute pawai ini.

Dengan bertemakan "SDM Unggul, Indonesia Maju", para peserta berlomba-lomba menghias sepeda sekaligus mengenakan kostum sesuai dengan kekayaan potensi Banyuwangi. Ada yang menampilkan potensi hasil bumi Banyuwangi seperti buah naga, jeruk juga pisang.

Selain menghias sepedanya dengan gambar buah-buahan asli Banyuwangi itu, peserta juga menyulap kostum dan hiasan sepedanya sesuai bentuk buah yang mereka representasikan. Mulai dari bola yang diubah bentuknya seperti buah naga atau jeruk yang mereka kenakan di kepala seperti topi.

Sementara juga lainnya tidak mau kalah dengan menampilkan potensi kelautan dan perikanan, batik, kuliner Banyuwangi, budaya khas Banyuwangi seperti kebo-keboan dan gandrung. Tempat wisata Pulau Merah dan Ijen yang menjadi destinasi wisata unggulan juga tidak ketinggalan.

Ada pula ajakan mencintai olahraga dan membiasakan diri untuk berolahraga secara teratur, serta gerakan mencintai masjid.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas memberikan apresiasinya atas karya kreatif para pelajar Banyuwangi.

“Di bulan Agustus ini masyarakat diajak mencintai kemerdekaan melalui berbagai segmen. Dan anak-anak sangat suka bersepeda dan menghias sepeda,” ujar Bupati Anas.

“Ini bagus sekali untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada tanah air,” imbuhnya.

Bupati Anas juga mengaku terkesan dengan hiasan yang ditampilkan para peserta. Misalnya tema tentang batik, juga disampaikan tentang sejarah batik.

“Tema tentang jeruk, juga dijelaskan tentang varian dan manfaat jeruk. Sehingga temanya lebih beragam, mengangkat budaya lokal, dan tidak melulu soal perang saja,” papar Bupati Anas.

Diakuinya, ini sekaligus mengingatkan kepada masyarakat bahwa kemajuan sektor-sektor di daerah adalah bagian dari peran kita dalam mengisi kemerdekaan.

Sementara itu, setelah pawai Sepeda Hias, rangkaian Festival Merdeka 2019 di Banyuwangi di lanjutkan dengan Karnaval Kebangsaan pada Selasa (13/8/2019) pukul 07.WIB dengan start dari depan Kantor Bupati dan finish di Stadion Diponegoro.

Lalu pada Rabu (14/8/2019) di gelar pawai Lampion pukul 18.00 WIB, start dari depan kantor Bupati dan finish di Stadion Diponegoro. Pada Sabtu (17/8/2019) di gelar resepsi kenegaraan pukul 19.00 WIB di depan Pendopo Sabha Swagatha Blambangan.

Dan puncaknya pada Sabtu (24/8/20919), dilaksanakan Gerak Jalan Tradisional untuk siswa SD/MI berjarak 8 KM start dari GOR Tawangalun pukul 08.00 WIB dan finish di Gesibu Blambangan.

Untuk kategori SLTP putra putri serta SLTA dan umum putri berjarak 17 KM start dari Kantor Camat Srono pukul 14.00 WIB finisih di BPR Rani Rogojampi.

Sedangkan kategori 45 KM untuk SLTA putra dan umum putra dimulai pukul 16.00 WIB dari Kantor Camat Gambiran dan finish di BPR Rani Rogojampi sejauh 45 KM.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Maskapai nasional Xpressair membuka jalur penerbangan Banjarmasin - Banyuwangi mulai Sabtu (10/8/2019). 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas melalui facetime saat inaugural flight di Bandara Banyuwangi berharap, penambahan rute baru ini, semakin menambah keberkahan bagi masyarakat Banyuwangi. Serta jumlah kunjungan wisatawan bisa semakin meningkat.

“Jalur ke Banjarmasin ini diharapkan bisa jadi pintu gerbang ke Indonesia Timur,” ungkap Bupati Anas.

“Karena Xpress Air yang banyak beroperasi di Indonesia Timur akan bisa menjadi pintu gerbang masuknya wisatawan dari kawasan Timur Indonesia,” paparnya.

Jadwal keberangkatan dari Banjarmasin pada pukul 12.40 WITA dan tiba di Banyuwangi pada pukul 12.55 WIB. Sedangkan kembali ke Banjarmasin pada 13.25 WIB dan tiba pada pukul 15.40 WITA. Pesawat yang digunakan berjenis Boeing 737 dengan kapasitas 123 penumpang dari 140 seat yang tersedia.

Manager Komersial Xpressair, Seran Kathirvelu mengatakan, rute Banjarmasin-Banyuwangi akan terbang tiga kali dalam sepekan, tepatnya pada Selasa, Kamis, dan Sabtu.

“Kami harap seiring waktu, load factor bisa terus ditingkatkan, terlebih melihat potensi Banyuwangi yang sangat bagus,” tutur Seran.

“Kami sudah melakukan kajian, untuk itu kami berani membuka rute Banjarmasin ini. Yang diharapkan, dalam waktu tidak terlalu lama bisa terbang setiap hari,” paparnya.

Sehari sebelumnya, maskapai Citilink telah membuka jalur Denpasar - Banyuwangi pulang pergi yang beroperasi setiap hari dengan menggunakan pesawat Airbus 320. 

Kini, Bandara Banyuwangi melayani 6 jalur penerbangan. Selain dengan Kuala Lumpur, bandara internasional ini juga membuka jalur penerbangan ke Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan Manado. 

Sementara itu, executive general manager Bandara Banyuwangi Anton Marthalius menyatakan apresiasinya terhadap Xpressair yang telah membuka jalur ini. 

“Memang tidak mudah membuka rute baru, dan ini membutuhkan effort yang kuat. Saya mengapresiasi Xpressair,” ujar Anton.

Dia merasa yakin, dengan potensi yang dimiliki Banyuwangi dinilai akan membawa dampak positif bagi semua pihak.

“Apalagi tren kunjungan wisatawan Banyuwangi yang terus meningkat, baik wisatawan nusantara maupun domestic,” pungkas Anton.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Penulis nasional Fahd Pahdepie kembali memberi motivasi kepada masyarakat Banyuwangi, khususnya kalangan milenial. Penulis kelahiran Cianjur, 22 Agustus 1986 itu, mendorong para pemuda di Banyuwangi untuk terus berkarya.

Pada acara bertajuk Nongkrongin Ilmu Bareng (Nongkibar) Millenial di Banyuwangi, Fahd mengatakan, manusia harus memikirkan ending apa yang ingin dicapai dalam hidup ini. Dari sana, kemudian di susun langkah-langkah yang akan di tempuh.

“Saya berharap bisa menciptakan kemenangan-kemenangan kecil di setiap tahapan itu dengan karya,” ungkap Fahd.

“Berkarya adalah bagian dari bagaimana memberikan kontribusi positif seluas-luasnya. Setiap orang bisa memiliki karyanya sendiri dengan kadar kontribusinya masing-masing. Tidak harus saling menjatuhkan, tapi perlu untuk saling berkolaborasi,” papar Fahd.

Menurutnya, setiap karya haruslah melahirkan kesuksesan. Dan kesuksesan itu bukanlah tujuan, namun tiket untuk bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya. Untuk mencapai itu, pemuda harus memiliki keberanian bersikap dan mengambil keputusan. Serta mengikuti passion yang dimiliki dan mengembangkan hingga taraf maksimal.

“Saat usia 23 tahun saya menjadi CPNS. Tapi kemudian saya memutuskan untuk resign, karena itu bukan tempat saya,” kata Salah satu anggota staf kepresidenan tersebut.

Awalnya merasa pusing saat benar-benar resign, namun dengan keberanian tersebut Fahd mengaku mendapatkan sesuatu yang luar biasa.

Motivasi-motivasi Fahd yang ringan, subtantif dan puitis tersebut, memang digemari banyak generasi milenial. Karya-karyanya selalu menjadi best seller. Seperti "Hidup Berawal dari Mimpi", "Jodoh", "Rumah Tangga", "Perjalanan Rasa" hingga yang terbaru berjudul  "Muda, Berdaya, Kaya Karya".

Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Sulihtiyono menambahkan, produktifitas Fahd dan kariernya yang cukup cemerlang di usia yang nisbi muda tersebut yang perlu diteladani oleh generasi muda Banyuwangi.

“Semua memiliki kesempatan menjadi berprestasi seperti mas Fahd itu, asalkan senantiasa belajar dan berkarya,” ujar Sulihtiyono.

“Saya berharap ada motivasi baru dari para kawula muda di bumi Blambangan setelah mengikuti kegiatan ini juga ada semangat baru untuk melahirkan karya,” paparnya.

Acara Nongkibar Milenial sendiri, merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama sejumlah komunitas. Di antaranya adalah KLLC Banyuwangi yang konsen pada pengembangan pendidikan di Banyuwangi.

 

More Articles ...