radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk memperkenalkan Kecamatan Glenmore sebagai salah satu penghasil kakao terbaik di dunia, Pemkab Banyuwangi menggelar 2 event Sport Tourism di area Perkebunan Kakao. Yakni event Chocolate Glenmore Run (16 Februari) dan Chocolate Happy Cycling (17 Februari).

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, event yang dipusatkan di kawasan wisata Doesoen Kakao, perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore tersebut juga dirangkai dengan Chocolate Jazz & Food Festival.

“Pemerintah daerah ingin memperkenalkan Glenmore sebagai salah satu penghasil kakao terbaik dunia,” ujar Bupati Anas.

Kakao dari perkebunan Glenmore Banyuwangi ini telah diekspor ke berbagai penjuru dunia dan menjadi bahan cokelat terbaik di dunia.

Para peserta akan diajak menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao di sepanjang rute, para pelari dan pesepeda bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat.

“Untuk memeriahkan aksi lari dan sepeda tersebut digelar pula Chocolate Jazz and Food Festival di kawasan tersebut selama dua hari, 16 - 17 Februari,” tutur Bupati Anas.

“Yang di pasti akan jadi pengalaman yang unik menikmati musik jazz sembari menyesap kelezatan coklat tepat di tengah-tengah perkebunannya. Apalagi Glenmore merupakan kawasan perkebunan yang sejuk,” paparnya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banyuwangi, Wawan Yadmadi menambahkan kompetisi lari ini akan melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer.

“Para wisatawan juga bisa mengikuti kompetisi sepeda menaklukkan lintasan menantang dalam Chocolate Happy Cycling,” tutur Wawan.

“Peserta akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama, yaitu di Doesoen Kakao,” imbuhnya.

Wawan menjelaskan, lintasan yang akan dilalui peserta 80 persen offroad. Setelah melewati jalur mulus di jalan lintas selatan, mereka juga akan memasuki jalanan terjal dan berbatu di pinggiran perkebunan cokelat yang rimbun.

“Tantangan akan semakin berat pada 2 kilometer terakhir saat peserta harus menaklukkan rute menanjak dan beraspal yang licin,” ungkap Wawan.

Ajang ini terdiri atas 2 kategori lomba, yakni Racing (kompetisi) dan Gowes Happy. Untuk Racing, dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu open (semua usia), Master A (usia 30-39 tahun), Master B (40-49 tahun), dan master C (50 tahun ke atas).

“Sementara Gowes Happy terbuka untuk segala usia,” pungkas Wawan.

 

 

radiovsifm.com, Banyuwangi - Sejumlah arsitek dari dalam dan luar negeri melakukan wisata arsitektur di Banyuwangi, untuk mengetahui berbagai ruang publik di Banyuwangi yang dibangun dengan melibatkan sejumlah arsitek kondang. Seperti Andra Matin, Adi Purnomo, Yori Antar, dan Budi Pradono.

Kedatangan para arsitek dalam dan luar negeri itu diinisiasi oleh Archinesia, sebuah penerbitan ternama khusus arsitektur. Dan wisata arsitektur tersebut diikuti oleh 15 arsitek, antara lain dari Kuala Lumpur, Jakarta, Surabaya, dan Bandung. 

Selama tiga hari, para arsitek ini mengunjungi berbagai tempat ikonik Banyuwangi. Lokasi yang dikunjungi antara lain Bandara Banyuwangi, Pendopo Kabupaten, Ruang Terbuka Hijau Sayu Wiwit, penginapan atlet, Grand Watu Dodol, hingga Kantor Pemkab Banyuwangi.

Kedatangan mereka di sambut oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

“Kami mengajak sejumlah arsitek untuk berkolaborasi membangun daerah, guna mengoptimalkan fungsi produk infrastruktur baik secara fisik maupun non-fisiknya,” ujar Bupati Anas.

Dia mengatakan, pendekatan arsitektur yang berkonsep dinilai sangat penting untuk memastikan ruang publik yang dibangun dengan dana rakyat bisa berfungsi optimal.

“Bangunan harus bagus dari aspek teknis, tapi fungsinya juga harus bermanfaat bagi masyarakat,” kata Bupati Anas.

“Tidak semata-mata bangunan dalam arti fisik semata, tapi juga jadi ruang berinteraksi, membangun keakraban, dan sebagainya,” imbuhnya.

Sebelumnya, Bupati Anas pernah mendapat penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Keterlibatan arsitek di Banyuwangi terekam jelas, contohnya seperti bangunan Pendopo dan Taman Blambangan dirancang Adi Purnomo. Adapun Andra Matin adalah arsitek dari Bandara Banyuwangi, Terminal Pariwisata Terpadu, dan RTH Taman Sayuwiwit.

Yori Antar mendesain ruang terbuka hijau Kedayunan dan rest area di Ijen. Sedangkan Budi Prodono mendesain Stadion Diponegoro dan Lapangan Atletik GOR Tawangalun.

Banyuwangi juga mewajibkan bangunan baru berskala besar untuk memasukkan unsur budaya lokal dalam arsitekturnya, seperti hotel hingga gedung perkantoran.

“Ini sebagai upaya menitipkan kebudayaan Banyuwangi agar lestari. Disini, masyarakat bisa melihat hotel berbintang memasukkan batik bermotif Gajah Oling dalam arsitekturnya, dan sebagainya,” papar Bupati Anas.

Sementara itu, Chief Editor Archinesia Imelda Akmal mengatakan, tur arsitektur ini dilakukan sebagai ajang saling mencari inspirasi.

“Banyuwangi layak dikunjungi karena perkembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir diiringi dengan keterlibatan arsitek,” ungkapnya.

Menuru Imelda, biasanya pihaknya tur ke negara lain, namun di awal tahun ini secara khusus ke Banyuwangi, dan rupanya banyak yang berminat ikut. Mereka tertarik karena banyak arsitek nasional yang terlibat di sini.

“Selama ini jarang sekali arsitek dilibatkan dalam pembangunan daerah. Selain juga, dari faktor arsitek sendiri yang kerap enggan berurusan dengan urusan birokrasi,” papar Imelda.

Tapi dia melihat di Banyuwangi berbeda, justru bisa menjembatani masalah tersebut. Banyuwangi bisa mewujudkan bangunan sesuai desain yang diinginkan arsitek.

“Tidak heran, banyak arsitek yang terlibat pembangunan di Banyuwangi menjadi happy. Padahal, arsitek yang terlibat di sini masuk jajaran Top 10 di Indonesia,” pungkas Imelda.

Salah satu peserta tur dari Kuala Lumpur, Malaysia Mustofa Kamal mengaku kagum dengan berbagai desain arsitektur yang ditemui di Banyuwangi, yang dinilainya sangat unik.

“Memiliki banyak karakteristik tradisional tapi tetap modern,” tutur Mustofa.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi saat ini tengah melakukan lelang jabatan Dinas pemberdayaan perempuan dan keluarga berencana atau DPP KB untuk mengisi kekosongan kepala dinas yang sebelumnya dijabat oleh Pua Jiwa. Sedangkan saat ini, selain DPP KB, ada 6 instansi lain yang juga mengalami kekosongan jabatan pucuk pimpinan.

Menyikapi adanya proses lelang jabatan yang saat ini tengah berjalan, DPRD Banyuwangi berharap proses lelang jabatan yang tersebut, bisa menghasilkan pejabat devinitif yang berkualitas. Namun disisi lain, DPRD juga berharap Pemkab Banyuwangi segera melakukan lelang jabatan terhadap 6 instansi lainnya, agar jalannya kinerja pemerintahan bisa lebih maksimal.

Wakil ketua DPRD Banyuwangi Ruliyono menuturkan, lelang jabatan kepala dinas ini menjadi wewenang bupati sebagai kepala daerah. Karena beliaulah yang paling mengerti kinerja perangkat dibawahnya. 

Kebijakan pemerintah mencari sosok kepala dinas melalui proses lelang jabatan ini kata Ruliyono dianggap langkah tepat  dalam mendapatkan pejabat yang profesional dan kompeten di bidangnya, sehingga jauh dari kesan like and dislake dalam mendapatkan  pucuk pimpinan sebuah instansi. 

Namun demikian, politisi Golkar aal Glenmore ini juga berharap, Bupati selaku kepala daerah bisa segera mengusulkan lelang jabatan 6 SKPD lain yang saat ini masih diduduki oleh pejabat berstatus PLT, utamanya SKPD penghasil. Agar pelaksanaan kinerja SKPD tersebut bisa lebih maksimal, khususnya dalam meningkatkan pendapatan daerah.

“ Lelang jabatan itu bagus karena nanti orang yg terpilih itu betul-betul berkompeten di bidangnya, tapi paling tidak 7 SKPD itu di lelang semua, tapi itu hak bupati, tapi harapan kita ya di lelang semua”, kata Ruliyono

Sebagaimana diketahui, Pemkab Banyuwangi melakukan pengisian jabatan pimpinan Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPP-KB), Selang sebulan setelah ditinggalkan M. Pua Jiwa yang pensiun per 1 Januari lalu. pemkab kini melelang jabatan pimpinan tinggi pratama yang kosong tersebut.

Informasi yang dihimpun VIS FM, lelang jabatan Kepala DPP-KB resmi dibuka sejak Rabu kemarin. Seleksi tersebut terbuka bagi seluruh pegawai negeri sipil (PNS) yang telah memenuhi syarat, baik PNS di lingkungan Pemkab Banyuwangi dan di lingkup pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota se-Jatim.

Sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi pelamar antara lain, memiliki pangkat/golongan ruang sekurang-kurangnya Pembina (IV/a). Pernah atau sedang menduduki jabatan administrator eselon III/a sekurang-kurangnya dua tahun atau eselon III/b sekurang-kurangnya tiga tahun. Selain itu, pelamar harus berpendidikan minimal sarjana (S-1) atau sederajat.

Para pendaftar bisa memasukkan berkas pendaftaran secara langsung ke Sekretariat Panitia Seleksi (Pansel) di kantor Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD), jalan Agus Salim, Banyuwangi hingga 20 Februari mendatang. Pengumuman hasil akhir seleksi dijadwalkan berlangsung pada 2 Maret. Selanjutnya, hasil akhir seleksi akan disampaikan kepada bupati selaku pembina kepegawaian pada 4 Maret mendatang.

Selain Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, ada 6 instansi yang masih dipimpin pejabat berstatus PLT, yakni dinas PU Cipta karya dan penataan ruang, Satpol PP, Badan pemberdayaan masyarakat dan pemerintahan desa, dinas komunikasi informatika dan persandian, dinas penanaman modal dan pelayanan terpadu serta RSUD Blambangan.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Kota Bengkulu belajar sejumlah program yang berhasil di gulirkan Pemkab Banyuwangi. Wakil Walikota (Wawali) Bengkulu, Dedi Wahyudi membawa serta 12 stafnya dan mereka ditemui Bupati Banyuwangi di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Jumat (8/2).

Dedi mengaku tertarik untuk menimba ilmu di Banyuwangi, mulai dari program Siswa Asuh Sebaya (SAS), e-Village Budgeting, hingga pengelolaan pasar. Juga tidak tertutup kemungkinan untuk belajar program lainnya yang dirasa baik untuk diterapkan di Bengkulu.

“Dipilihnya Banyuwangi sebagai jujugan ini bukan tanpa pertimbangan,” kata Dedi.

Referensi didapatnya setelah googling di internet terkait daerah-daerah yang maju karena inovasinya. Dan nama Banyuwangi banyak muncul beserta inovasinya sehingga dia sepakat untuk datang kemari.

“Kami berharap, sepulang dari Banyuwangi, program yang dipelajari dari Banyuwangi bisa segera diterapkan di Bengkulu dan diterima oleh masyarakat,” ujar Dedi.

Namun program yang membuatnya paling tertarik untuk belajar ke Banyuwangi adalah Siswa Asuh Sebaya (SAS), yang dinilai sebagai program baru bagi pihaknya dan belum pernah melaksanakan yang semacam ini.

Di Bengkulu ada program 8 tekad, yang di dalamnya mencakup tentang “Kepedulian”.

“Selama ini yang dibantu kami adalah masyarakat secara umum seperti program Jemput Sakit Pulang Sehat, tapi belum menyentuh siswa,” papar Dedi.

Oleh sebab itu, Pemkot Bengkulu ingin belajar tentang program ini, sekaligus melihat praktiknya secara teknis di lapang.

“Ini program bagus sekali, apalagi melibatkan banyak pihak. Jika suatu program seperti pengentasan kemiskinan hanya dibebankan pada pemerintah, tentu akan sangat berat, apalagi pendapatan asli daerah (PAD) Pemkot Bengkulu tidak terlalu besar,” papar Dedi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku senang mendapatkan kunjungan tersebut. Pihaknya membuka lebar kepada semua daerah, yang di hadapkan mengambil hal-hal positif yang ada di Banyuwangi.

“Sebaliknya, Pemkab Banyuwangi pun bisa mengambil manfaat baik dari Bengkulu dengan sharing seperti ini,” ungkap Bupati Anas.

SAS merupakan program mengumpulkan dana sukarela dari siswa mampu, lalu diberikan untuk rekannya dari keluarga kurang mampu. Program ini pertama kali diluncurkan pada 2011.

Bupati Anas menjelaskan, tidak semua permasalahan pendidikan mampu ditangani oleh pemerintah daerah. Program SAS menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan tangan pemerintah dalam membiayai pendidikan masyarakat.

“Pengelolaannya pun dilakukan dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa dengan bimbingan dari guru,” kata Bupati Anas.

Bantuan SAS ini diberikan ke siswa yang membutuhkan tanpa melalui prosedur yang berbelit dan tepat sasaran karena sasarannya siswa yang ada di lingkungan sekolah.

Bupati Anas mengaku, laporannya juga transparan. Dana SAS yang dihimpun tiap sekolah dilaporkan kepada Dinas Pendidikan setiap bulan secara online. Bahkan bisa diakses melalui situs www.pendidikan.banyuwangikab.go.id.

“Program SAS diikuti oleh seluruh sekolah di Banyuwangi mulai tingkat SD, SMP sampai SMA sejumlah 911 sekolah,” ungkap Bupati Anas.

Setiap minggu, siswa di sekolah menggalang dana secara sukarela untuk membantu temannya yang kurang mampu dan mereka menyisihkan sebagian uang sakunya. Ada yang menyumbang Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000.

Dan dari tahun ke tahun, partisipasi siswa terus meningkat pada program ini.

“Ini menunjukkan tingkat kepedulian siswa terhadap rekannya begitu besar. Sehingga program SAS ini bukan sekadar membantu siswa, tapi juga membangun kepedulian di lingkungan generasi muda,” papar Bupati Anas.

Rasa peduli inilah yang coba ditumbuhkan dikalangan siswa, agar tidak hilang di masyarakat.

Gerakan SAS menjadi pelengkap dari program intervensi kebijakan pemerintah daerah lainnya di bidang pendidikan. Antara lain program Banyuwangi Cerdas dan Banyuwangi Belajar di mana para pemegang kartu program tersebut bisa mengakses pendidikan hingga perguruan tinggi dengan beasiswa dari Pemkab Banyuwangi. Juga ada Garda Ampuh (Gerakan Daerah Angkat Anak Putus Sekolah), dimana anak-anak putus sekolah disisir dan dikembalikan ke bangku sekolah.

Wawali Bengkulu menghabiskan waktu selama dua hari di Banyuwangi, Kamis dan Jum’at (7 dan 8/2). Mereka juga berkesempatan untuk berkunjung ke Mall Pelayanan Publik Banyuwangi untuk melihat bagaimana proses pelayanan satu pintu (one stop service) berjalan dan pasar tradisional Banyuwangi.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyatakan bahwa kebijakan public memang harus di desain secara kreatif, karena pemerintah selalu di hadapkan pada tantangan.

Hal ini disampaikan orang nomor satu pada jajaran Pemkab Banyuwangi tersebut, saat diundang berbagi pengalaman mengembangkan kebijakan publik yang kreatif di hadapan ratusan publik muda Bandung di Sasana Budaya Ganesha, ITB, Sabtu malam (9/2).

Kegiatan ini juga di hadiri Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Walikota Bogor Bima Arya, dan mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

“Setidaknya ada tiga tantangan yang dihadapi, yaitu keterbatasan anggaran, sumberdaya manusia, dan waktu,” ujar Bupati Anas.

“Maka jalan yang harus ditempuh mesti kreatif, karena kalau bersandar pada program rutin yang itu-itu saja, maka akselerasi daerah sulit dilakukan,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, berkat kreativitas birokrasi dan rakyat, Banyuwangi bisa berkembang seperti saat ini. Kemiskinan diturunkan ke level 7,8 persen, padahal sebelumnya selalu dua digit.

Bupati Anas mengaku, kebijakan publik kreatif, berbasis pada nilai-nilai kolaborasi dan adaptasi. Kolaborasi menjadi jalan untuk menyiasati berbagai keterbatasan yang menjadi tantangan pemerintah daerah. 

“Misalnya soal program pengembangan pariwisata yang dikolaborasikan dengan banyak pelaku usaha,” kata Bupati Anas.

Juga program layanan kesehatan seperti pengantaran obat ke pasien kurang mampu yang dikolaborasikan dengan Go-Jek. Sedangkan adaptasi, diperlukan untuk menjawab tantangan perubahan zaman yang kian cepat karena teknologi.

“Jika pemda tidak adaptif terhadap teknologi, dipastikan ketinggalan kereta,” ungkap Bupati Anas.

Maka di Banyuwangi di gulirkan program Smart Kampung, dengan pendekatan teknologi untuk meningkatkan pelayanan desa, juga membangun tata kelola keuangan desa lewat e-village budgeting.

Dia juga mengaku sangat terbantu dengan model kolaborasi yang sekarang banyak dikembangkan oleh pemerintah pusat untuk memperkuat kerja sama antar-daerah.

“Seperti Ridwan Kamil, Bima Arya, dan Dedi Mulyadi, mereka adalah pemimpin-pemimpin visioner. Saya ikut terinspirasi dengan kepemimpinan mereka sehingga kolaborasi hadir dari inspirasi ini,” papar Bupati Anas.

Dia juga memberi pesan tentang pentingnya skala prioritas. Karena tanpa skala prioritas, tidak akan ada keberhasilan yang terukur.

“Memang banyaknya tantangan dan keterbatasan, sehingga pemerintah tidak akan bisa mengerjakan semua hal bersamaan, artinya tidak akan menyenangkan semua orang. Maka harus focus dan mempunyai prioritas,” ujar Bupati Anas.

Jika Presiden Jokowi menyatakan, ‘Mulailah sebuah perjalanan dengan tujuan akhir yang jelas.’

“Maka fokus tujuan itu adalah bagian dari skala prioritas, sehingga programnya terarah,” pungkasnya.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk berkolaborasi menggarap bisnis rintisan (Startup) berbasis pertanian.

Untuk mendetailkan langkah teknis dalam memacu Startup tersebut, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk Suprajarto menggelar pertemuan di Banyuwangi, Jum’at (8/2).

Sejumlah potensi pertanian Banyuwangi, seperti kopi, cokelat, dan buah naga akan digarap dengan melibatkan anak muda Banyuwangi. Bupati Anas mengatakan, setiap tahun Banyuwangi menggelar kompetisi startup pertanian dan tahun lalu diikuti 300 anak muda.

Sementara ditahun 2019 ini, bisnis olahan pertanian untuk anak-anak muda terus di pacu termasuk ke para santri.

Bupati Anas merasa bersyukur bahwa sebagai BUMN rupanya BRI benar-benar hadir untuk negeri.

“Ini sebagai upaya bareng untuk membuat pertanian diminati anak-anak muda,” ujar Bupati Anas.

Sementara itu, pada pekan ketiga Februari 2019 nanti, program pertama kolaborasi dengan BRI akan dimulai dengan menggeber pendidikan bisnis kopi, termasuk  ke sejumlah pesantren.

“Akan ada mentoring bisnis kopi dari hulu sampai hilir,” ungkap nya.

Bupati Anas mengaku, banyak pesantren yang lokasinya tidak jauh dari perkebunan kopi dan itu bisa disentuh. Namun agar profitable maka perlu dididik dan sentuhan, termasuk yang kini dilakukan BRI.

“Skema kolaborasi ini menguntungkan karena bisa langsung mendapat pembiayaan dari BRI,” kata Bupati Anas.

Dalam artian, setelah dididik dan didampingi, lalu mereka bisa feasible nanti untuk dibiayai BRI.

“Diharapkan ini menumbuhkan banyak pengusaha muda baru, sejalan dengan program Presiden Jokowi yang mendorong kiprah anak muda menggerakkan perekonomian, termasuk santri-santri,” papar Bupati Anas.

Dirut BRI Suprajarto mengatakan, potensi sektor pertanian Banyuwangi terbilang bagus. BRI ingin terlibat jauh dalam mengembangkan sektor agribisnis Banyuwangi.

“BRI ditugaskan Presiden Jokowi untuk mengembangkan sektor pertanian,” ujar Suprajarto.

“Di Banyuwangi kami melihat adanya potensi yang sangat besar dan kami ingin menumbuhkannya dengan melibatkan generasi muda,” ungkapnya.

Sebagai langkah awal, BRI akan menggelar Barista Santri dalam rangkaian Festival Kopi di Banyuwangi. BRI akan melatih ratusan santri terkait pengolahan kopi dengan mendatangkan barista level Asia.

Suprajarto mengaku, BRI mengajak para santri untuk mengungkit jiwa entrepreneurship mereka.

“Apalagi di Banyuwangi perkebunan kopi rakyat banyak sekali, sehingga ini sangat potensial,” tutur Suprajarto.

Oleh sebab itu, BRI akan memfasilitasi pengembangan bisnisnya bagi yang benar-benar tertarik. Hal ini merupakan titik awal kolaborasi BRI dengan Banyuwangi untuk mengajak anak muda mengembangkan agribisnis.

“Tidak hanya kopi, cokelat dan buah naga juga turut dikembangkan BRI,” tuturnya.

Suprajarto menambahkan, pihaknya mempunyai inkubasi bisnis untuk UMKM Banyuwangi. Seperti pengolahan pasca panen buah naga maupun sentra kakao untuk cokelat di Banyuwangi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Hingga memasuki awal 2019, angka penderita HIV Aids di Banyuwangi masih tembus 3.902 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persennya adalah usia produktif. Sedangkan sisanya merambah mulai bayi, balita hingga orang dewasa bahkan lansia.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Banyuwangi, Waluyo mengatakan, dari angka 70 persen itulah yang kini tengah di garap pihaknya bersama sama dengan seluruh kekuatan yang ada termasuk beberapa stakeholder terkait, untuk mencegah penularan lebih meluas karena di akuinya generasi muda Banyuwangi tidak boleh terserang HIV Aids.

“Untuk yang sudah terlanjur dinyatakan positif terjangkit HIV Aids, akan di lakukan pengobatan dengan rutin,” ungkap Waluyo.

“Termasuk juga di berikan dukungan social dan psikososial,” imbuhnya.

Bahkan dalam 2 tahun terakhir ini ada dukungan spiritual dari para penyuluh agama islam yang tersebar di 25 Kecamatan se Banyuwangi.

Waluyo menjelaskan, dimasing masing kecamatan terdapat seorang penyuluh agama islam yang memberikan pencerahan tentang bahayanya HIV Aids serta menghindari berbagai tindakan yang mengarah pada penularan penyakit mematikan tersebut dengan menggunakan Bahasa agama.

“Mereka sudah bersinergi dengan KPA Banyuwangi, termasuk terus melakukan koordinasi jika menemukan adanya berbagai perkembangan di lapangan,” ujar Waluyo.

Dia memaparkan, kini Pemkab Banyuwangi melalui KPA terus melakukan Three Zero yakni menekan angka penularan kasus HIV Aids baru juga menekan diskriminasi dan stigma serta menekan kematian ODHA.

“Karena dalam jangka panjang Indonesia termasuk Banyuwangi akan menuju eleminisasi HIV Aids. Artinya, tidak ada lagi orang terjangkit HIV Aids dengan kriteria Three Zero itu,” papar Waluyo.

“Gerakan ini terus di lakukan pihaknya secara berkelanjutan dengan semakin memperkuat sinergitas ke semua pihak yang terkait,” ungkapnya.

Dicontohkan, di tingkat sekolah dan masyarakat umum, akan terus menerus di lakukan penyuluhan karena hingga saat ini masih di temukan diskriminasi stigma terhadap ODHA atau orang yang positif penderita HIV Aids.

“Artinya, pemahaman masyarakat luas masih belum seperti yang kami harapkan karena mereka mengetahuinya secara sepintas dan belum meluas,” kata Waluyo.

Dia mengaku, masih ada orang takut saat makan bersama dengan penderita ODHA. Ini membuktikan bahwa mereka masih belum sepenuhnya memahami tentang HIV Aids, sementara untuk penularan virus HIV Aids sendiri terbilang sangat sulit.

“Penularan tertinggi virus mematikan ini adalah melalui hubungan seks beresiko, salah satunya bergonta ganti pasangan serta menggunakan jarum suntik narkoba bergantian,” pungkas Waluyo.

Sementara itu, dari angka 3.902 tersebut menempatkan Banyuwangi di posisi ke 4 dengan jumlah penderita HIV Aids terbanyak di Jawa Timur.

Untuk urutan pertama adalah Surabaya, kedua Jember dan ketiga adalah Malang. Sedangkan sebelumnya, Banyuwangi menduduki urutan kedua di Jawa Timur.

 

More Articles ...