radiovisfm.com, Banyuwangi - Maskapai Citilink Indonesia resmi membuka kembali jalur penerbangan Denpasar-Banyuwangi pergi-pulang mulai Jumat (9/8/2019). Penerbangan tersebut menggunakan pesawat jenis Airbus 320 (A-320).

Pesawat Citilink dengan kapasitas 180 penumpang itu memulai penerbangan berangkat dari Bandara Banyuwangi pukul 08.00 WIB, dan menempuh perjalanan selama 40 menit untuk tiba di Bandara Ngurah Rai, Bali.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengapresiasi atas dibukanya kembali jalur penerbangan yang menghubungkan Bali dan Banyuwangi secara langsung.

“Dengan jalur ini, rute yang dilayani Bandara Banyuwangi semakin lengkap, mulai dari Jakarta, Surabaya, hingga Kuala Lumpur,” papar Bupati Anas.

“Bali adalah gerbang utama pariwisata Indonesia. Setiap tahun ada 5-6 juta wisatawan mancanegara menuju Bali,” ungkapnya.

Jika Banyuwangi dapat 5 persen saja, maka minimal ada 250.000 wisman. Apalagi destinasi dan atraksi wisata Banyuwangi terus berkembang, sehingga diyakini Banyuwangi bakal menjadi alternatif menarik bagi turis asing untuk melakukan perjalanan wisatanya setelah atau sebelum ke Bali.

“Dengan terhubungkannya Banyuwangi ke pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan wisata di Indonesia, saya optimis kunjungan wisatawan akan semakin meningkat,” kata Bupati Anas.

Dan ke depan juga ada rute Banjarmasin-Banyuwangi dilayani Xpress Air pada 10 Agustus 2019. Diakui Bupati Anas, ini ujungnya akan mengembangkan Banyuwangi, khususnya di sektor pariwisata.

“Kami yakin, kunjungan wisata Banyuwangi akan terus meningkat seiring penerbangan ke Banyuwangi yang semakin semarak,” ujar Bupati Anas.

Pesawat Citilink memulai penerbangan dari Bandara Banyuwangi menuju Bandara Ngurah Rai Denpasar setiap harinya pada pukul 08.00 WIB dan mendarat di Bandara Ngurah Rai pukul 09.40 WITA. Selanjutnya, pesawat akan bertolak dari Bali menuju Banyuwangi pada pukul 10.05 WITA. 

Jumlah penumpang di Bandara Banyuwangi sendiri melonjak dari 7.826 orang pada 2010 menjadi lebih dari 366.164 pada 2018.

Untuk kunjungan wisatawan nusantara, melonjak dari 500 ribu wisatawan pada 2010 menjadi 5,3 juta orang pada 2018. Adapun wisatawan mancanegara naik dari kisaran 7.000 (2010) menjadi 127.420 wisman pada 2018 lalu.

Tingkat kepuasan wisman di Banyuwangi khususnya Kawah Ijen, berdasarkan big data TripAdvisor cukup tinggi, yaitu 76 persen wisman memberi nilai “excellent”. Capaian itu di atas rata-rata destinasi lain di Indonesia.

District Sales Manager Citilink Banyuwangi, Dadang Teguh Setiawan menambahkan, pada penerbangan perdana rute Banyuwangi – Denpasar ini, pesawat mengangkut 151 penumpang.

“Rute ini bakal memiliki prospek cerah. Terbukti, penerbangan perdana sudah dijejali penumpang,” ujar Dadang.

Bahkan menurut Dadang, untuk penerbangan Sabtu (10/8/2019), penumpang yang akan terbang ke Bali dari Banyuwangi sudah mencapai 106 orang. Sebaliknya Denpasar – Banyuwangi sudah terisi 141 pax.

“Kami optimis tingkat keterisian penumpang ini akan terjaga dengan baik. Mengingat Banyuwangi yang telah terkoneksi dengan Jakarta maupun Kuala Lumpur akan memudahkan wisatawan,” papar Dadang.

Menurutnya, sisatawan dari Kuala Lumpur yang berlibur ke Banyuwangi bisa dengan mudah melanjutkan perjalanannya ke Bali, pun sebaliknya. Ataupun mereka yang dari Jakarta, bisa lanjut ke Bali keesokan harinya.

“Kini Banyuwangi bisa dibilang menjadi mini hub. Ini tentunya akan memudahkan wisatawan bepergian,” tutur Dadang.

“Selain itu, daya tarik Banyuwangi lainnya adalah keunikan destinasi dan budaya local,” ungkapnya.

Banyuwangi mempunyai Kawah Ijen dengan eksotika api biru yang telah mendunia, serta 99 atraksi wisata seni budaya yang digelar sepanjang tahun. Apalagi, fasilitas di Banyuwangi semakin lengkap dengan banyaknya hotel berbintang baru.

“Saya semakin optimis dengan dibukanya rute baru ini,” pungkas Dadang.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Perhelatan Banyuwangi Beach Jazz Festival 2019 siap menghibur masyarakat dengan mengahdirkan artis papan atas,Glenn Fredly.

Glenn akan menghibur para pecinta musik jazz pada Jumat, 9 Agustus 2019 di Pantai Boom Marina Banyuwangi. Jazz Pantai Banyuwangi ini menawarkan sisi lain dalam menikmati musik jazz.

Mengambil venue di Pantai Boom Marina yang berlatar belakang Selat Bali, konser ini akan memadukan alunan jazz dan deburan ombak serta keindahan pantai.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, konser jazz ini akan dihelat di amfiteater Pantai Marina Boom yang langsung berseberangan dengan dermaga laut. Sehingga menawarkan suasana lain.

“Baik dari suasana alam terbuka hingga kolaborasi dengan pemusik local,” ujar Bupati Anas.

Jazz pantai yang dihelat tiap tahun oleh pemkab Banyuwangi tersebut telah memasuki tahun ke-sembilan pelaksanaan. Tahun ini artis Glenn Fredly menjadi line up tunggal untuk menghibur para pecinta musik jazz di Pantai Marina Boom. Dijadwalkan, Glenn akan tampil penuh selama dua jam dengan suguhan lagu-lagu romantis miliknya.

“Pembangunan Pantai Marina Boom telah dilakukan secara bertahap, dan kini sejumlah fasilitas yang ada di sana telah selesai dikerjakan, termasuk amfiteaternya,” ujar Bupati Anas.

Sehingga hal ini sekaligus mengenalkan perkembangan wajah baru Pantai Marina Boom yang tengah direnovasi oleh PT. Pelindo untuk menjadi dermaga yacht.

Pantai Marina Boom Banyuwangi adalah destinasi wisata bahari yang ada di tengah kota Banyuwangi. Di kawasan ini tengah dibangun dermaga dengan segala fasilitas pendukung untuk yacht (kapal layar ringan).

Dermaga yang dibangun atas kerjasama PT. Pelindo Properti Indonesia dan Pemkab Banyuwangi ini menjadi dermaga kapal pesiar terintegrasi pertama di Indonesia.

Tampilan Pantai Marina Boom kini telah mulai berubah. Pantai tersebut kini menjadi pusat aktivitas warga untuk menghabiskan waktu luangnya. Sejumlah landmark ikonik dibangun, seperti jembatan lintas (causeway) berbentuk spiral.

Pun rumah lawas peninggalan jaman Belanda juga dipugar dan dipercantik sekitarnya. Tidak heran, kawasan ini dikenal sebagai lokasi yang instagramable.  

Ditambahkan Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesra, Suyanto Waspo Tondo, sebelum penampilan Glenn Fredly tampil, panggung jazz pantai akan dimeriahkan dengan penampilan musisi jazz muda asal Banyuwangi.

“Mereka adalah pemenang Banyuwangi Student Jazz Festival 2018 dan grup musik Jazz Temenggungan,” ujar Yayan, panggilan akrabnya.

“Mereka akan mengkolaborasikan musik jazz dengan musik tradisional sejak sore hari yang dipastikan akan menarik. Dilanjutkan malam hari dengan penampilan Glenn Fredly,” imbuhnya.

Selama bulan Agustus 2019 ini, beragam festival juga akan digelar dalam rangkaian Banyuwangi Festival. Di antaranya Festival Selat Bali (7 Agustus), Festival Lembah Ijen (17 Agustus), dan Indonesia Channel (13 Agustus).

Yayan menjelaskan, Indonesia Channel merupakan malam puncak sekaligus penutupan program Beasiswa Seni dan Budaya (BSBI) yang berupa pagelaran seni dan budaya kolosal yang digelar oleh Kementerian Luar negeri RI. Program BSBI ini diikuti puluhan peserta dari manca negara.

“Rencananya Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi akan hadir pada acara itu,” tutur Yayan.

Selain itu, masih ada event Festival Merah Putih (17 Agustus) dan Student Jazz Festival pada 24 Agustus.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kejaksaan Negeri bersama 3 pilar turun langsung ke kawasan Dusun Paras Putih Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi untuk melakukan pengecekan lapangan, Rabu (7/8/2019) terkait pemberitaan di salah satu media online yang menyoalkan tentang jalan desa yang di tuding pembangunannya bermasalah.

Penyidik Tipikor Kejaksaan Negeri bersama Camat, Kepala Desa, Kepolisian dan TNI juga pihak Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang Banyuwangi mengecek kondisi jalan di desa setempat yang baru saja selesai pembangunannya Juni lalu dengan menggunakan Anggaran Dana Desa 2019 senilai Rp 198 juta.

Kasi Intel Kejaksaan Negeri Banyuwang, Bagus Adi Saputro mengatakan, hasil cek lapangan ini akan dijadikan sample lab lalu di lakukan pengujian untuk memastikan apakah pekerjaan jalan ini sudah sesuai spek ataukah tidak.

“Sesuai dengan pantuan awal, aspal yang digunakan untuk pembangunan jalan itu sudah sesuai ketentuan,” ujar Bagus.

“Tapi untuk meyakinkan jika kondisinya memang kurang seusai, maka nantinya segera di perbaiki oleh pihak penyedia jasa,” imbuhnya.

Bagus menjelaskan, sejauh ini pengerjaan pembangunan jalan tersebut banyak pekerjaan tambahan dan tidak ada pekerjaan yang dikurangi. Lebar awal adalah 2,5 meter namun dari hasil pemeriksaan justru lebarnya lebih dari yang di tetapkan, yakni 2,6 hingga 2,8 meter.

Artinya kata Bagus, jika berbicara peryimpangan maka pekerjaan tersebut sudah sesuai perencanaan.

“Dari berita yang dimuat di portal online itu menyoalkan tentang adanya rumput yang tumbuh di sepanjang pinggir jalan, padahal pembangunannya baru selesai,” tutur Bagus.

Dia mengaku, tumbuhnya rumput itu di sebabkan oleh banyak factor. Salah satunya bisa diakibatkan karena terlalu padat aspalnya saat pembangunan. Meski demikian, tumbuhnya rumput tersebut tidak mengurangi volume aspal karena saat di ukur tingginya bervariasi antara 4 hingga 6 cm.

“Cek lapangan ini selalu kami lakukan bersama 3 pilar untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang di laporkan oleh masyarakat. Dengan adanya berita hoax maka di putar balik dengan berita sebenarnya,” papar Bagus.

Seperti yang di lakukan berbagai elemen tersebut, yang juga mengajak wartawan media online yang bersangkutan untuk mengecek langsung di lapangan.

Kontan saja, kehadiran wartawan berkaca mata dari media online tersebut membuat warga setempat meradang dan sempat hampir terjadi kericuhan. Pasalnya, dalam berita yang di muatnya itu di infokan bahwa ada beberapa warga setempat yang mengeluhkan kondisi jalan baru yang di tumbuhi rumput tersebut. Bahkan di kabarkan warga kecewa dengan kwalitas hasil pembangunan jalan yang dinilai kurang baik.

Sementara itu, Kepala Desa Bangsring, Singhan mengatakan, panjang jalan baru tersebut sejauh 500 meter dengan lebar 2,5 meter yang di kerjakan menggunakan ADD serta dengan partisipasi masyarakat.

“Justru masyarakat setempat sangat senang dengan adanya pembangunan jalan ini yang mengaku terbantu dengan pemerintah,” ungkap Singhan.

“Itu dibuktikan dengan pemasangan umbul umbul di sepanjang jalan oleh para warga,” imbuhnya.

Singhan menjelaskan, terkait dengan pemberitaan di media online tersebut yang mengatakan masyarakat kecewa dengan pembangunan jalan itu, di nilainya sangat tidak benar.

“Untuk itu, kami juga mempertemukan wartawan dari media yang bersangkutan dengan warga, sekaligus bersama pihak Kejaksaan Negeri dan 3 pilar,” pungkas Singhan.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dari hasil pemeriksaan kesehatan hewan kurban di beberapa pedagang, Dinas Pertanian Banyuwangi menemukan adanya kambing sakit dan ada pula yang tidak memenuhi syarat menurut syariat agama.

Satu persatu, hewan kambing yang di jual para pedagang di periksa oleh tim medis dan petugas dari Dinas Pertanian Banyuwangi.
Kegiatan kali ini, di pusatkan di kawasan kota Banyuwangi tepatnya di jalan Brawijaya yang ditemukan banyak pedagang kambing, Selasa (6/8/2019).

Mendapati adanya beberapa ekor kambing yang sakit, para petugas pun dengan sigap melakukan pemeriksaan. Seperti memeriksa suhu badannya, mata juga bulunya. Dan tim medis langsung memberikan antibiotic dan vitamin agar hewan hewan kambing yang di jual para pedagang kembali sehat.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan mengatakan, pihaknya juga menemukan beberapa kambing yang dinilai belum memenuhi syariat agama, namun sudah di jual oleh para pedagang.

“Syariat yang di maksud adalah usia kambing belum satu tahun, bahkan ada kambing yang giginya belum poel,” ungkap Arief.

Menurutnya, berdasarkan syariat yang ada, hewan kambing yang baru bisa di jadikan kurban adalah usianya minimal 1 tahun, serta giginya harus sudah poel.

“Melalui kegiatan ini pemerintah daerah memberikan edukasi kepada masyarakat maupun pedagang agar tidak hanya sekedar membeli hewan kurban karena harganya murah. Tapi juga harus melihat berbagai persyaratan secara administrative dan secara agama maupun tehnis kesehatan,” papar Arief.

Dia menjelaskan, untuk persyaratan secara tehnis bagi hewan sapi yang layak digunakan kurban adalah berusia minimal 2 tahun. Dan hal ini menjadi perhatian dari pemerintah daerah, agar hewan kurban yang dijual para pedagang dalam kondisi Asuh yaitu Aman, Sehat, Utuh dan Halal serta umurnya memenuhi syarat sesuai syariah.

Sementara, pemeriksaan hewan kurban ini dilakukan di seluruh kecamatan di Banyuwangi dengan melibatkan 12 Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang ada.

“Di tahun 2017 lalu, pemotongan hewan kurban jenis sapi di Banyuwangi sebanyak 1.812 ekor, kerbau 1 ekor, kambing 10.271 ekor dan domba 5.556 ekor,” ujar Arief.

Sedangkan ditahun 2018, sapi meningkat menjadi 1.903 ekor, kerbau 2 ekor, kambing 9.726 ekor dan domba 6.316 ekor.

“Kami berharap jumlah hewan kurban di Banyuwangi di tahun 2019 ini semakin meningkat,” pungkasnya.

Setelah hewan hewan yang dijualnya dinyatakan sehat, petugas Dinas Pertanian pun memberikan sertifikat Legitimasi kepada para pedagang.

Sementara, populasi sapi dan kambing di Banywuangi saat ini dinilai mencukup untuk kebutuhan Hari Raya Idul Adha.

Untuk populasi sapi mencapai 119 ribu ekor dan kambing sebanyak 256 ribu ekor. Kebutuhan masyarakat Banyuwangi sendiri per harinya 4,3 ton daging sapi atau setara 36 hingga 40 ekor sapi.

Sedangkan daging kambing sebanyak 2,3 ton atau setara 50 hingga 100 ekor.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi dan Pemkab Jembrana Bali menggelar Festival Selat Bali, guna mempromosikan pariwisata di kedua daerah tersebut.

Ada di wilayah ujung timur pulau jawa, membuat Banyuwangi memiliki persentuhan yang amat dekat dengan Bali. Secara geografis, hanya dipisahkan dengan selat Bali. Sedangkan secara budaya, keduanya saling beririsan.

Fakta-fakta tersebut dimanfaatkan oleh Pemkab Banyuwangi dan Pemkab Jembrana, Bali untuk mempromosikan wisata bersama. Salah satunya dengan menggelar Festival Selat Bali, Rabu sore (7/8/2019).

Saat membuka kegiatan tersebut melalui layanan facetime, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku, saat ini sudah bukan waktunya berkompetisi, namun saatnya berkolaborasi.

“Banyuwangi dan Jembrana yang bertetangga dan saling mengembangkan pariwisata bukan waktunya lagi untuk bersaing, tapi harus bekerjasama untuk saling menyokong,” ujar Bupati Anas.

Dicontohkan keberadaan Bandara Banyuwangi. Meski secara geografis berada di seberang pulau, namun banyak wisatawan yang hendak berlibur ke Bali Barat memanfaatkannya. 

“Hal-hal yang demikian, bisa terus ditingkatkan. Apalagi bandara Banyuwangi sudah menjadi bandara internasional,” kata Bupati Anas.

“Tentu ini bisa jadi modal penting untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara di kedua belah pihak,” imbuhnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Staf Ahli Bupati Jembrana Bidang Keuangan dan Pembangunan I Wayan Sedane. Kebersamaan dan kerja sama antar daerah tetangga memang perlu untuk terus digalakkan.

“Jika untuk kepentingan masyarakat, meningkatkan pendapatan daerah dan memajukan kebudayaan, pemkab Jembrana selalu siap untuk berkolaborasi,” ungkap Sedane.

Sedane juga mengapresiasi kolaborasi kebudayaan ini, yang dinilainya sebagai bagian dari upaya meningkatkan rasa persaudaraan.

“Meski berbeda pulau, pada dasarnya Jembrana tetap satu leluhur dengan Banyuwangi. Kolaborasi ini semakin menyatukan persaudaraan di antara kedua daerah,” papar Sedane.

Dalam Festival Selat Bali kali ini, kedua daerah mempertunjukkan kebudayaannya masing-masing secara kolaboratif.

Sebagai pembuka, ditampilkan tari Kletek Emas dari Banyuwangi dipadu dengan tari Margopati khas Bali. Dilanjutkan dengan tari Makepung yang menyajikan koreografi dari tradisi menggembala kerbau yang biasa dilakukan oleh para petani di Bali belahan barat.

Lantas, disusul dengan tari gandrung yang dibawakan oleh para seniman mancanegara yang mendapatkan Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI). Semakin heboh ketika para peraih BSBI itu, memainkan berbagai alat musik dan melagukan tembang Ulang Andung-Andung, sebuah lagu daerah populer di Banyuwangi.

Para ekspatriat itu, terlihat lues memainkannya. Gemuruh tepuk tangan pun tidak berhenti dari ratusan penonton yang hadir. Tak hanya tarian, alat musik yang dimainkan pun perpaduan dari dua kebudayaan. Gamelan Banyuwangi berpadu padan dengan gamelan Bali. Sedangkan angklung Banyuwangi beradu seru dengan Jegog Bali.

Selain menampilkan aneka tari dan musik khas masing-masing daerah, juga digelar lomba perahu layar. Tak kurang dari 26 perahu layar tradisional, memacu biduknya masing-masing dari bibir pantai Banyuwangi menuju pantai Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali. Lalu, kembali lagi ke titik pemberangkatan di bibir pantai Bulusan, Banyuwangi sejauh 12 mil. Mereka adalah para finalis setelah sebelumnya mengalahkan 120 peserta lain pada babak penyisihan.

Sementara itu, penanggung jawab Banyuwangi Festival 2019, Marhen mengatakan, digelarnya event Festival Selat Bali ini sebagai pertanda menjelang dibukanya penerbangan Denpasar-Banyuwangi pada 9 Agustus 2019.

“Kegiatan ini merupakan event ke 54 dari 99 event dalam gelaran Banyuwangi Festival 2019,” pungkas Marhen.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kodam V Brawijaya bersama Pemkab Banyuwangi bakal merevitalisasi bangunan bersejarah Kantor Dagang Inggris yang berdiri sejak awal abad ke-17 di Banyuwangi.

Hal ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Wisnoe Prasetja Boedi dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas untuk merevitalisasi aset milik TNI AD tersebut untuk dikemas menjadi wisata sejarah.

Usai penandatanganan di Markas Kodam V/Brawijaya Surabaya, Selasa (6/8/2019), Pangdam Wisnoe mengungkapkan apresiasinya terhadap proses yang telah berjalan ini.

“Dengan MoU ini, payung hukum untuk kerjasama revitalisasi Inggrisan telah ada,” ungkap Pangdam Wisnoe.

Begitu halnya dengan Bupati Anas, menyatakan sangat bersyukur dengan proses kerjasama ini.

“Pemkab bersama TNI AD telah sama-sama bersepakat untuk mengembangkan peninggalan bersejarah di Banyuwangi,” tutur Bupati Anas.

“Saya ucapkan terima kasih ke pihak TNI AD yang telah mendukung rencana pengembangan ini untuk mendukung sektor pariwisata di Banyuwangi,” paparnya.

Tempat yang akan direvitalisasi adalah aset bersejarah milik TNI AD yang berlokasi persis di barat Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Blambangan. Bangunan yang diperkirakan didirikan sekitar awal abad 17 ini dulunya merupakan kantor dagang Inggris yang didirikan oleh British East India Company (BEIC). Bangunan itu dikenal dengan nama “Inggrisan”, dan kini telah menjadi bangunan cagar budaya Banyuwangi.

Bupati Anas menjelaskan, dalam pengelolaan bersama ini, aset Inggrisan tetap milik TNI AD. Pekerjaan rehabilitasi akan dilakukan oleh pemkab dengan mengembalikan bentuk asal Inggrisan.

“Inggrisan perlu direhabilitasi karena memiliki nilai sejarah yang tinggi. Banyak nilai historis yang bisa digali dari bangunan itu dan pastinya akan sangat menarik untuk mengetahui sejarah di balik bangunannya,” ujar Bupati Anas.

Dia menjelaskan, saat ini banyak orang yang mulai tertarik dengan wisata sejarah. Mengetahui sejarah zaman dahulu ini bagi sebagian orang menjadi daya tarik wisata tersendiri, seperti di Eropa. Dan inggrisan nantinya bisa dikembangkan menjadi wisata sejarah.

Untuk rehabilitasi Inggrisan ini, kata Bupati Anas, pihaknya akan menggandeng arsitek kondang Yori Antar, yang dikenal sebagai pendekar arsitektur nusantara, yang kerap memasukkan unsur budaya di dalam setiap karyanya.

“Kami telah melakukan riset untuk mengetahui bagaimana dan fungsi Inggrisan zaman dahulu,” tutur Bupati Anas.

Dipastikan, konsepnya tidak akan mengubah bangunan lama. Bangunan kuno bakal dipertahankan, bila ada yang rusak akan dipugar menyesuaikan bentuk aslinya. Istilahnya, Pemkab Banyuwangi melakukan tambal sulam.

Bupati Anas mengungkapkan, Inggrisan nantinya akan dijadikan kawasan wisata heritage.

“Bangunan utama Inggrisan akan difungsikan menjadi hotel yang dilengkapi dengan lansekap khas gaya Belanda zaman dahulu,” kata Bupati Anas.

“Misalnya, dahulu ada sumur atau kolam maka akan di coba dibangun menyesuaikan bangunan yang ada sebelumnya,” pungkasnya.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kabupaten Banyuwangi meluncurkan kartu elektronik ternak (e-Nak) untuk mendata ternak sapi pemiliknya. Kartu tersebut berisi data riwayat ternak sapi, mulai usia, hingga riwayat kesehatan dan riwayat kehamilan. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku, hal ini adalah cara Banyuwangi untuk mengidentifikasi sekaligus sensus bagi sapi dan para peternak.

“Tentu ini akan sangat membantu para peternak, sekaligus memudahkan petugas pemantau hewan ternak yang ada di masing-masing wilayah,” ungkap Bupati Anas.

Secara simbolis kartu itu diperkenalkan saat Festival Hewan Ternak (Cattle and Pets Festival) lalu di Lapangan Glagah Agung, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Festival ini diikuti berbagai ternak unggulan se-Banyuwangi, dirangkai dengan berbagai edukasi peternakan, kontes ternak dan hiburan musik.

Kartu e-Nak adalah kartu yang di dalamnya berisi data tentang ternak, khususnya sapi. Melalui kartu tersebut, sapi yang terdaftar akan terpantau usia, data kepemilikan, kesehatan, hingga riwayat kehamilan. Sehingga peredaran dan perkembangan sapi akan terdata dengan baik.

Sapi yang sudah terdata dipasangi barcode yang dikalungkan di lehernya. Siapa pun bisa melihat riwayat sapi cukup dengan mengunduh aplikasi QR and Barcode Scanner di smartphone untuk mengetahui detail riwayat data sapi dan kepemilikan. Dengan memindai barcode yang dikalungkan di sapi, datanya akan muncul di website Pemkab Banyuwangi.

“Dengan menggunakan sistem barcode semua riwayat sapi bisa terlihat. Dan ini tidak mungkin tertukar karena detail fisik sapi mulai dari tanduk, moncong, dan lainnya sudah difoto. Termasuk titik koordinat keberadaan sapi itu sendiri,” papar Bupati Anas.

Kartu kepemilikan ternak ini langsung terkoneksi dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK/e-KTP) pemilik. Lewat kartu ini, banyak keuntungan yang bisa diperoleh para peternak. Salah satunya, ternak berhak mendapatkan pelayanan kesehatan hewan.

Bupati Anas mengatakan, para pembeli ternakpun juga diuntungkan. Mereka yang akan membeli ternak bisa terhindar dari upaya penipuan. Karena riwayat kesehatan sapi akan terpantau melalui kartu tersebut.

“Misalnya pernah beranak berapa kali, pernah sakit, produktif atau tidak, dan lainnya,” kata Bupati Anas.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan menambahkan, Kartu e-Nak ini juga terkoneksi dengan asuransi, yang melindungi peternak dari kerugian saat sapi meninggal atau dicuri. Dan asuransi tersebut subsidi dari APBN.

Adapun proses pendaftaran kepemilikan Kartu e-Nak cukup mudah.

“Peternak cukup membayar Rp 40 ribu per tahunnya. Kemudian petugas peternakan akan melakukan pendataan secara detail terhadap hewan itu,” ujar Arief.

“Mereka akan langsung diberi kartu, dan mereka akan mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan ternak mereka,” imbuhnya.

Saat ini, imbuh Arief, sapi peserta e-Nak ini mencapai 8000 ekor dari jumlah keseluruhan ternak di Banyuwangi yang 145 ribu ekor. Jumlah yang sudah terdaftar sementara masih di Kecamatan Wongsorejo yang merupakan daerah dengan populasi sapi terbesar di Banyuwangi.

“Secara bertahap program ini akan dilakukan pihaknya di kecamatan yang lain,” pungkasnya.

 

More Articles ...