radiovisfm.com, Banyuwangi - Selain memberikan panggung bagi kebudayaan daerah lain untuk di tampilkan, Festival Kuwung juga sebagai instrument pelajaran tentang sejarah masa lalu budaya Banyuwangi.

Festival Kuwung, sebagaimana namanya yang berarti pelangi, menghadirkan beragam seni budaya yang tumbuh di seluruh pelosok Banyuwangi.

Festival yang dibuka Bupati Banyuwagi Abdullah Azwar Anas, Sabtu malam (8/12) tersebut menampilkan mulai dari budaya Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) hingga budaya dari berbagai pelosok yang banyak menunjukkan hibriditas budaya. 

Dibarisan pertama, perhelatan ini di buka kontingen dari Kota Probolinggi yang menampilkan seni tradisi Tari Kipas. Di lanjutkan dari Kabupetan Kediri serta Kabupetan Jembrana Bali yang mengambil tema Tari Makepuh.

Ratusan peserta dari luar daerah tersebut menampilkan tradisi budayanya dengan apik, yang menggambarkan alur cerita dari makna yang di maksud.

Dilanjutkan dengan penampilan kesenian dari 25 Kecamatan se Banyuwangi yang terbagi dalam 5 Dapil. Seperti Dapil pertama yang meliputi Kecamatan Banyuwangi, Giri, Kalipuro, Glagah dan Wongsorejo menampilkan tradisi Jelujur Kundaran.

Sedangkan Dapil 2 meliputi Kecamatan Srono, Cluring, Muncar, Purwoharjo dan Tegaldlimo menampilkan tradisi Barong Ider Bumi yang kini masih kental di gelar oleh masyarakat Desa Kemiren Kecamatan Glagah. Juga di tampilkan Meras Gandrung. Dua kesenian tersebut merupakan ritus kebudayaan yang bernilai spritualistik.

Ada pula koreografi bertema "Teji Setro Asnawi". Tari yang dibawakan para seniman dari Kecamatan Bangorejo, Pesanggaran, Siliragung, Tegalsari dan Gambiran tersebut mengisahkan tumbuhnya seni jaranan di Banyuwangi.

Digambarkan tokoh bernama Asnawi yang merupakan pendatang dari wilayah Mataraman (Jawa Timur bagian barat) mengembangkan seni jaranan dan reog ke Banyuwangi. Jaranan pun berkembang dengan cita rasanya tersendiri karena telah terpaut dengan unsur seni Blambangan, kerajaan awal mula Banyuwangi.

“Hibriditas kebudayaan itu adalah perlambang dari inklusivitas warga Banyuwangi. Orang Banyuwangi dinilainya tidak anti keanekaragaman, baik suku, agama, maupun budaya,” papar Bupati Anas.

“Bahkan keanekaragaman itu mampu diolah menjadi modal sosial dalam memajukan daerah. Juga, kreativitas dan keterbukaan menjadi watak dasar warga Banyuwangi yang menjadikannya individu yang inovatif,” imbuhnya.

Bupati Anas mengaku, Festival Kuwung ini merupakan festival original tradisi Banyuwangi dari desa desa yang ditampilkan dan belum tersentuh koreograsi modern, layaknya Banyuwangi Etno Carnival (BEC).

“Festival Kuwung ini lebih memperlihatkan Kebhinekaan berbagai macam varian tradisi di Banyuwangi. Termasuk juga ditampilkan tradisi pengantin Banyuwangi,” ujar Bupati Anas.

Dia berharap, dengan di gelarnya Festival Kuwung ini masyarakat bisa menapaki sejarah dan originalitas tradisi Banyuwangi karena di setiap penampilan selalu di bacakan narasi pendek tentang sejarahnya.

“Sehingga di tengah era milenial dan revolusi 4.0 ini, masyarakat mesti tetap harus ingat sejarah masa lalu utamanya generasi muda,” tutur Bupati Anas.

Lebih lanjut Bupati Anas mengatakan, Kebudayaan Banyuwangi tidak hanya berangkat dari cipta karsa Suku Osing. Perjumpaannya dengan seni budaya dari daerah lain menjadikannya lebih beragam.

“Proses adaptasi dan inovasi dari perjumpaan kebudayaan tersebut menumbuhkan tradisi seni budaya baru seperti yang tersaji di Festival Kuwung,” ujarnya.

Oleh sebab itulah, dalam kegiatan ini juga ditampilkan kesenian dari daerah lain. Ditambahkan Bupati Anas, berbagai festival yang konsisten dikembangkan Banyuwangi ini sebagai upaya untuk memperkuat modal sosial warga Banyuwangi. Festival yang dibuat Banyuwangi merupakan hasil kerja bareng semua warga Banyuwangi yang melibatkan semua kalangan dari berbagai profesi.

“Dari Festival inilah yang bisa mempersatukan rakyat, membaurkan warga lintas suku dan lintas agama. Keterlibatan para Budayawan juga dinilai mensukseskan beragam event dalam Banyuwangi Festival,” pungkas Bupati Anas.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setidaknya 10 akademisi negara mengikuti konferensi Emerging media di Banyuwangi.

Konferensi internasional bertajuk “International Conference on Emerging Media and social science (ICCMS)” tersebut diikuti 160 dosen dan mahasiswa fakultas sosial dan politik dari 10 negara yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) di Kabupaten Banyuwangi, Jumat-Sabtu (7-8/12/2018). Konferensi tersebut diisi oleh pemateri dari dalam dan luar negeri.

Seperti Profesor Panizza Almark dari Edith Cowan Univesity Australia, Dr. NIK Adzreiman Abdul Rahman dari Universiti Utara Malaysia, Prof. Jusuf Irianto dari Universitas Airlangga Surabaya dan Ahmad Riyadh, UB. Ph. D dari UMSIDA. Konferensi dibuka Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melakukan penelitian perkembangan emerging media (sarana komunikasi yang sedang bertumbuh) dan ilmu sosial.

Selain menggelar konferensi, Umsida juga terjun langsung ke masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi. Suku Osing adalah masyarakat asli Banyuwangi. 

Wakil Rektor I UMSIDA, Akhtim Wahyuni mengatakan, saat ini perkembangan emerging media begitu luar biasa. Konstruksi sosial di masyarakat dipengaruhi kehadiran emerging media, mulai dari game, internet, new media seperti media sosial, hingga teknologi-teknologi termutakhir semacam virtual reality.

“Emerging media memberi jalan bagi masyarakat untuk melakukan lompatan ke depan serta memberi banyak kemudahan,” kata Wahyuni.

“Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang mengalami percepatan dalam banyak hal. Percepatan itu juga tidak lepas dari pemanfaatan emerging media secara cerdas yang dilakukan oleh daerah,” paparnya.

Wahyuni menjelaskan, saat ini Banyuwangi tidak hanya pariwisatanya saja yang menarik banyak orang, namun juga kreativitas serta inovasinya yang antara lain lahir dari dorongan emerging media.

Sementara itu, Bupati Azwar Anas mengatakan, kemajuan Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari begitu pesatnya perkembangan emerging media, termasuk di dalamnya new media seperti media sosial.

“Pariwisata Banyuwangi tumbuh salah satunya berkat peran new media yang menciptakan digital economy,” ungkap Bupati Anas.

Begitu mudahnya untuk mengakses berbagai info tentang Banyuwangi lewat internet. Pemasaran digital memudahkan warga menjangkau pasar yang lebih luas.

Dalam kesempatan itu, Bupati Anas juga mengapresiasi Umsida yang menjadikan Banyuwangi sebagai laboratoriun penelitian sosial, khususnya terkait pemanfaataan sarana teknologi komunikasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan. 

“Banyuwangi sangat terbantu oleh perkembangan emerging media, khususnya new media yang terkait media sosial untuk mempercepat penanganan kemiskinan dan berbagai permasalahan social,” papar Bupati Anas.

Misalnya, permasalahan warga miskin yang sakit, anak putus sekolah juga lansia sebatang kara, penanganannya dikoordinasikan lewat media social.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Konsep wisata arsitektur yang di kukuhkan Kabupaten Banyuwangi semakin di minati berbagai pihak.

Berbagai lembaga, peminat arsitektur, hingga kampus mendatangi kabupaten ujung timur Pulau Jawa tersebut untuk melihat penerapan konsep arsitektur pada sejumlah bangunan dan lansekap.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ikhtiar pihaknya di dalam membangun Banyuwangi dengan melibatkan para arsitektur ternama ternyata membuahkan hasil.

“Selain mengoptimalkan fungsi bangunan maupun lansekap untuk kepentingan pelayanan publik, rupanya ini juga mampu menarik minat orang untuk datang,” ujar Bupati Anas.

Diantaranya, para mahasiswa jurusan arsitektur telah ke Banyuwangi, antara lain Universitas Diponegoro Semarang, ITS, UI, hingga Universitas Atmajaya. Rombongan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dari sejumlah provinsi pun telah mendatangi Banyuwangi. Sejumlah pemerintah kabupaten/kota dari berbagai provinsi juga datang untuk studi penerapan pembangunan yang mengadopsi arsitektur khas lokal.

“Saya juga sudah mendapatkan info mengenai adanya lembaga pegiat arsitektur di Jakarta yang akan membuka tur arsitektur di Banyuwangi pada awal 2019,” ungkap Bupati Anas.

“Mereka membawa para peminat arsitektur dari berbagai daerah,” imbuhnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah arsitek yang karyanya sudah lintas negara memang dilibatkan membangun Banyuwangi, mulai Andra Matin, Budi Pradono, Adi Purnomo, hingga Yori Antar. Mereka mengembangkan ruang terbuka hijau, terminal bandara, fasilitas pendidikan, stadion, pasar tradisional, pendopo, hingga lansekap destinasi wisata.

Bupati Anas pun mengucapkan terima kasihnya kepada para arsitek, karena mereka mempunyai dedikasi tulus mengembangkan daerah lewat arsitektur.

“Banyuwangi juga mewajibkan bangunan baru berskala besar untuk memasukkan unsur budaya lokal dalam arsitekturnya, seperti hotel hingga gedung perkantoran,” kata Bupati Anas.

Diakui Bupati Anas, ini merupakan bagian dari upaya pihaknya dalam menitipkan kebudayaan Banyuwangi agar lestari.

“Di Banyuwangi bisa melihat hotel berbintang memasukkan batik bermotif Gajah Oling dalam arsitekturnya, dan sebagainya,” pungkas Bupati Anas.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Penataan Ruang Banyuwangi, Mujiono, menambahkan, berkat kolaborasi arsitek dan publik Banyuwangi, Bupati Banyuwangi baru saja diganjar penghargaan tertinggi Ikatan Arsitek Indonesia.

Sejumlah bangunan yang kerap dikunjungi untuk wisata arsitektur antara lain Terminal Bandara Banyuwangi yang berkonsep hijau dan mengadopsi penutup kepala khas Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) yang digarap Andra Matin.

“Itu merupakan terminal bandara berkonsep hijau pertama di Indonesia,” kata Mujiono.

Selain itu, imbuh Mujiono, ada pendopo yang digarap Adi Purnomo, dan telah di-review oleh majalah internasional asal Belanda. Pendopo yang juga menjadi destinasi wisata itu dikonsep hijau dengan bunker, sehingga banyak yang menyebutnya sebagai ”Bukit Teletubbies”.

Ada pula Taman Blambangan yang digarap Adi Purnomo sebagai ruang publik tempat masyarakat bercengkerama. Yori Antar juga merancang shelter-shelter menuju kawasan Gunung Ijen. Kemudian Stadion Diponegoro dengan siluet penari Gandrung dikerjakan Budi Pradono.

“Masih banyak lagi bangunan lain berarsitektur khas budaya lokal, mulai gedung olahraga, destinasi, hingga sejumlah ruang terbuka hijau,” tutur Mujiono.

Dan yang terbaru adalah sentra kuliner pasar tradisional di Pasar Sritanjung Banyuwangi.

“Di tahun 2019 mendatang akan di anggarkan Rp 1,5 Miliar hingga Rp 2 Miliar untuk revitalisasi dan pembangunan pasar Sritanjung, khusus untuk area pusat ole-ole khas Banyuwangi dan pasar buah local,” papar Mujiono.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pusat Kuliner di Pasar Sritanjung Banyuwangi bisa menjadi alternative masyarakat untuk menikmati makan siang yang nikmat, asyik dan murah.

Pasar yang berada di tengah kota tersebut, kini telah disulap menjadi tempat makan yang asyik dan nyaman, bahkan bisa membeli oleh-oleh khas Banyuwangi juga. Jika dulu enggan makan di pasar tradisional karena terkesan berantakan, kini stigma itu telah terhapus.

Bidak-bidak warung makan di Pasar Sritanjung telah ditata ulang menyerupai stan di pujasera. Aksen ukiran kayu dengan motif lokal semakin menambah keindahan pasar.

Ada banyak menu tradisional yang bisa dinikmati. Mulai rujak soto, tempong, lalapan, nasi campur, rawon, nasi bungkus dan lain sebagainya. Berbagai jenis minuman juga banyak tersedia. Mulai dari jus hingga aneka kopi. Bahkan, ada juga jus jambe.

Sentra kuliner ini dirancang oleh arsitek nasional Adi Purnomo, yang juga merancang bangunan pendopo Banyuwangi yang asri dan hijau. Pasar ini juga dilengkapi dengan fasilitas musholla dan toilet yang bersih. Sehingga pengunjung bisa lebih nyaman saat berbelanja ataupun nongkrong.

Tidak hanya itu, disini juga menjual suvenir dan oleh-oleh khas Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas bersama istri, Ipuk Fiestiandani menyempatkan untuk makan siang disini.

“Secara bertahap Pasar Banyuwangi akan ditata untuk destinasi wisata belanja para wisatawan,” kata Bupati Anas.

“Saat ini ditata warung makanannya terlebih dahulu. Kedepan, secara bertahap akan ditata bidak-bidak yang lain,” imbuhnya.

Bupati Anas mengatakan, pasar bisa menjadi destinasi yang menarik sepanjang didesain menarik dan nyaman.

Wisatawan bisa merasakan pengalaman bertransaksi di pasar tradisional yang khas, sekaligus bisa mendapatkan kuliner dan beragam suvenir lokal. 

“Ditargetkan, pasar tradisional bisa menjadi pusat oleh-oleh dengan harga yang murah, sehingga bisa memberikan kenyamanan bagi wisatawan,” pungkas Bupati Anas.

Di pusat kuliner pasar Sritanjung Banyuwangi terdapat 23 stand yang telah di pugar dan diperbaiki menjadi lebih nyaman dan menarik layaknya kafe-kafe. Sentra kuliner ini didesain cantik menggunakan ukiran-ukiran kayu bermotif khas Banyuwangi. Lantainya memakai ubin klasik, sehingga berkesan heritage. Kesan pasar tradisional yang identik dengan tidak beraturan, kini hilang berubah menjadi tempat yang asyik untuk berkumpul bersama keluarga dan berwisata. 

Sementara itu, Pemkab Banyuwangi secara bertahap terus merevitalisasi pasar tradisional menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat dan wisatawan.

 Selain untuk memenuhi fungsi pasar sebagai tempat warga mendapat kebutuhan berharga murah, revitalisasi dimaksudkan agar pasar juga menjadi destinasi berkumpul dan berwisata. Salah satu yang direvitalisasi kali ini adalah Pasar Sritanjung Banyuwangi yang berada di pusat kota.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pabrik Kereta Api Terbesar se Indonesia segera di bangun di Banyuwangi pada pertengahan Desember 2018. Ini merupakan industri kereta api terintegrasi yang berorientasi ekspor.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku sudah bertemu dengan jajaran direksi BUMN PT Industri Kereta Api atau INKA.

“Infonya groundbreaking pertengahan Desember 2018,” kata Bupati Anas.

“Mereka masih menyelesaikan proses penunjukan kontraktor pelaksananya, direncanakan seminggu ke depan selesai dan siap groundbreaking,” paparnya.

Bupati Anas berharap pengembangan industri kereta api bisa menjadi stimulan baru bagi ekonomi warga.

“Di tengah banyaknya tantangan ekonomi, pengembangan industri kereta api menjadi stimulus baru untuk semakin mengangkat ekonomi lokal sekaligus membawa sektor perkeretaapian nasional semakin berjaya,” ujarnya.

Bupati Anas melanjutkan, INKA berkomitmen mendorong penyerapan tenaga kerja, termasuk meningkatkan kualitas SDM generasi muda Banyuwangi dengan menggandeng SMK-SMK dan Politeknik Negeri Banyuwangi yang akan diberi pengenalan teknologi perkeretaapian.

“Saya mengapresiasi upaya INKA yang menyelipkan unsur budaya lokal pada desain arsitektur bangunan pabrik baru itu, yang nantinya jadi landmark baru sekaligus destinasi wisata,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, Direktur Utama PT INKA Budi Noviantoro mengatakan, saat ini proses persiapan pembangunan pabrik baru tersebut terus dilakukan. Bahkan, proses perizinan juga tidak menjadi kendala karena pemerintah daerah memberikan dukungan positif.

“Saat ini sedang proses teknis penunjukan kontraktor pelaksana pembangunan. Di perkirakan seminggu ke depan sudah selesai,” kata Budi.

Pabrik kereta api di Banyuwangi ini akan dibangun di lahan seluas 83 hektare, menggunakan lahan milik BUMN PTPN XII. Investasi pembangunan pabrik ini diperkirakan mencapai Rp1,6 triliun.

“Pabrik ini akan jadi lokasi industri INKA yang terbesar. Karena pabrik INKA di Madiun hanya seluas 22 hektar,” ujar Budi.

Dia menargetkan, pabrik INKA di Banyuwangi dapat beroperasi pada awal 2020. Dengan menjadi pabrik terbesar, otomatis kapasitas produksinya juga akan lebih banyak.

“Jika pabrik Madiun hanya memproduksi satu gerbong kereta per hari, maka pabrik Banyuwangi akan bisa memproduksi hingga 3 gerbong sehari,” tutur Budi.

Namun apabila sehari INKA bisa memproduksi 4 gerbong per hari, maka akan mempercepat pemenuhan pesanan kereta api dari berbagai negara yang telah memesan.

Budi juga mengapresiasi lokasi pabrik tersebut yang dinilainya sangat strategis. Yakni, dekat dengan Pelabuhan Tanjung Wangi yang dikelola PT Pelindo III, sehingga lebih menyingkat waktu pengiriman ke luar negeri. Industri baru di Banyuwangi ini, nantinya juga akan menyerap banyak tenaga kerja baik di level manajerial maupun teknisi operasional. Diperkirakan total tenaga kerja yang dibutuhkan mencapai 3500 orang.

“Kebutuhan tenaga kerja dipastikan akan diutamakan bisa dipenuhi dari sekolah vokasi di Banyuwangi,” ungkap Budi.

“Kami juga sudah bekerja sama dengan beberapa SMK untuk membuka kelas perkeretaapian,” imbuh Budi.

Selain itu, desain arsitektur pabrik akan memaksimalkan konten khas budaya lokal dan berkonsep arsitektur hijau.

“Ini kami lakukan untuk mengakomodasi kebijakan tata ruang dan desain bangunan yang ada di Banyuwangi,” pungkas Budi.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah mengapresiasi peran umat kristiani bersama umat lain di Banyuwangi, yang di nilai tidak henti menjaga kedamaian antar umat.

Hal ini di sampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat menghadiri Perayaan Natal Bersama Umat Kristiani Se-Kabupaten Banyuwangi di Hotel Surya Jajag, Kecamatan Gambiran, Kamis malam (6/12).

Bupati Anas mengatakan, kondisi Banyuwangi yang selama ini aman, tenang, dan damai adalah buah dari kebersamaan yang terus dijaga oleh umat beragama, termasuk umat Kristiani. 

“Kebersamaan dan kedamaian adalah modal penting bagi Banyuwangi dalam membangun daerah,” ujar Bupati Anas.

“Kalau gedung mungkin bisa dibangun dengan cepat, namun suasana persaudaraan dan perdamaian tidak bisa dibeli dengan nilai apa pun,” imbuhnya.

Oleh sebab itulah, Bupati Anas mengajak masyarakat untuk menjaga modal ini untuk menuju Banyuwangi yang lebih baik. Perayaan Natal bersama ini sendiri diikuti sekitar 2000 umat kristiani dari seluruh penjuru Bumi Blambangan.

Tampak hadir Ketua MUI Banyuwangi KH. Muh.Yamin, Forum Pimpinan Daerah, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama, dan segenap jajaran SKPD. 

Bupati Anas melanjutkan, dengan modal kebersamaan dan kedamaian tersebut pembangunan dapat dilakukan secara lancar dan merata di berbagai aspek sehingga Banyuwangi semakin bangkit. Angka kemiskinan di Banyuwangi juga tercatat turun signifikan dari tahun ke tahun. 

“Awal saya menjabat di 2010, kemiskinan Banyuwangi sekitar 20,09 persen. Saat ini tinggal 8,64 persen,” tutur Bupati Anas.

PDRB Banyuwangi juga naik 112,3 persen, dari Rp. 32,46 triliun menjadi Rp. 72,25 triliun. Begitu juga dengan pendapatan per kapita yang naik 116,3 persen. Dari Rp. 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp. 45,02 juta per orang per tahun. 

“Ini bukti bahwa keharmonisan dapat menciptakan kesejahteraan. Maka setiap pembangunan di Banyuwangi akan selalu memperhatikan nilai-nilai keharmonisan antar umat beragama,” papar Bupati Anas.

Dalam kesempatan itu, Bupati Anas juga menyampaikan bahwa pemkab terus membenahi infrastruktur. Bandara Banyuwangi terus dibenahi. Bahkan, pada 19 Desember 2018 ini akan resmi menjadi Bandara Internasional dengan melayani rute Banyuwangi-Kuala Lumpur, Malaysia langsung.

“Sehingga total akan ada 10 penerbangan di Bandara Banyuwangi. 9 penerbangan rute Banyuwangi-Jakarta pp dan Banyuwangi -Surabaya pp. Serta satu penerbangan Internasional,” papar Bupati Anas.

Dengan akses yang semakin mudah ini menurut Bupati Anas, pihaknya optimistis Banyuwangi akan semakin banyak dikunjungi orang. Baik yang ingin studi tiru atau sekedar berwisata.

Bupati Anas pun mengajak agar seluruh masyarakat, termasuk umat Kristiani, dapat menjaga keramahtamahan agar semua pengunjung merasa nyaman di Banyuwangi.

“Semakin lama mereka tinggal, akan semakin banyak perputaran uang di Banyuwangi,” tuturnya.

Selain itu, Bupati Anas juga mengucapkan terima kasih pada umat Kristiani yang selama ini dinilai turut menjaga kedamaian antar umat beragama sehingga tercipta kondusifitas daerah.

Diakhir sambutannya, Bupati Anas mengucapkan selamat merayakan Natal.

“Saya harap, Natal kali ini bisa menjadi momentum untuk bangkit lebih percaya diri,” pungkas Bupati Anas.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah di tetapkan sebagai kawasan Geological Park (Geopark) Nasional, kini Kabupaten Banyuwangi tengah merancang berbagai upaya untuk bisa menjadi Geopark Dunia.

Pasalnya, jejaring Geopark Dunia itu dinilai sangat penting sehingga menjadi stempel bahwa lingkungan Banyuwangi memiliki alam yang bagus dan nyaman untuk ditempati.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berharap, daerahnya bisa menjadi jejaring Geopark Dunia yang di akui oleh UNESCO, yang ke depan menjadi semacam alat endorse bagi Banyuwangi sendiri untuk mengenalkan pariwisata daerah hingga ke International.

“Banyak daerah yang telah di tetapkan sebagai Geopark Nasional, tapi karena masyarakat dan stake holder terkait tidak bisa menata pembangunan kawasannya, sehingga menyebabkan wilayah setempat menjadi tidak nyaman untuk di datangi masyarakat,” papar Bupati Anas.

“Semua ini tergantung dari keterlibatan pemerintah daerah setempat di dalam meningkatkan kwalitas lingkungan sekitar,” imbuhnya.

Menurut Bupati Anas, status sebagai Geopark nasional dan Cagar Biosfer Dunia dinilai memberi legitimasi bagi Banyuwangi untuk menawarkan paket wisata yang menyajikan kesehatan udara sekaligus keindahan alam serta budaya.

“Saya harap, penetapan Banyuwangi sebagai geopark nasional dan cagar biosfer dunia mampu ditangkap sebagai peluang oleh para pelaku wisata setempat,” ujar Bupati Anas.

Dalam artian, operator tour maupun hotel bisa membuat paket kesehatan, seperti menggabungkan terapi tradisional, akitivitas di taman nasional atau Kawah Ijen, dan konsumsi makanan sehat.

Bupati Anas menjelaskan, terdapat tiga situs di Banyuwangi yang menjadi landasan penetapan geopark nasional, yaitu Blue Fire di Gunung Ijen, Pulau Merah, dan Taman Nasional (TN) Alas Purwo.

“Sebelumnya, status sebagai Cagar Biosfer Dunia ditetapkan oleh UNESCO untuk TN Alas Purwo dan Taman Wisata Alam Kawah Ijen yang kemudian dinamai Cagar Alam Blambangan.,” ungkap Bupati Anas.

Penetapan UNESCO terhadap Banyuwangi sebagai kawasan Geopark Nasional tersebut dilakukan pada sidang International Coordinating Council (ICC) Program MAB (Man and The Biosphere) UNESCO ke-28 di Kota Lima, Peru.

Cagar Biosfer (Biosphere Reserves) merupakan situs yang ditunjuk berbagai negara melalui kerja sama program MAB (Man and The Biosphere)-UNESCO untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati. 

Adapun Banyuwangi sebagai Geopark nasional didukung keanekaragaman hayati dan budaya. Misalnya, TN Alas Purwo sebagai rumah 700 flora, 50 jenis mamalia, 320 burung, 15 jenis amfibi, dan 48 jenis reptil.

“Pantai Pulau Merah dianggap sangat menarik, karena meskipun di sampingnya ada penambangan emas tapi ekosistemnya tidak terganggu dan tetap terjaga,” pungkas Bupati Anas.

More Articles ...