radiovisfm.com, Banyuwangi - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas baru tiba dari menunaikan ibadah haji pada Senin (27/8).

Ia bersama istrinya, Ipuk Festiandani, melaksanakan rukun Islam kelima itu, tidak semata ibadah. Namun bertujuan untuk mendoakan Banyuwangi. 

Saat acara tasyakuran walimatul haji di kediaman pribadinya, PP. Mabadiul Ihsan Desa Karangdoro Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, Senin malam (27/8), Bupati Anas mengaku, ibadah hajinya kali ini di khususkan untuk mendoakan Kabupaten Banyuwangi agar senantiasa dianugerahi keberkahan, dijauhkan dari malapetaka, dan diberikan kesejahteraan rakyatnya.

“Berbagai persoalan yang dihadapi Pemerintah Daerah Banyuwangi, tidak cukup hanya diatasi dengan pendekatan logika. Akan tetapi, perlu pendekatan spiritual,” papar Bupati Anas.

Ia menjelaskan, banyak tantangan dan persoalan yang dihadapi oleh Banyuwangi dan jika dipikir-pikir dinilai tidak akan sanggup ditangani.

“Tapi berkat doa inilah, saya yakin Banyuwangi dapat memperoleh kemudahan untuk menyelesaikan berbagai persoalan,” ungkap Bupati Anas.

Selain berdoa sendiri, Bupati Anas juga meminta kepada setiap jamaah haji asal Banyuwangi yang ditemuinya untuk mendoakan Banyuwangi di tempat-tempat mustajab di Mekkah.

Bupati Anas juga menegaskan, prosesi haji yang dilakukannya tidak mengurangi satupun kuota haji dari Banyuwangi.

“Saya dapat kuota khusus yang berasal dari undangan Pemerintah Arab Saudi di setiap tahun,” kata Bupati Anas.

Selama berada di Mekkah, Bupati Anas juga mengaku tetap memantau kinerja bawahannya. Melalui berbagai platform teknologi informasi seperti halnya face time dan WhatsApp Grup, ia masih bisa memimpin rapat ataupun membuka acara. 

“Saat ini IT sudah canggih sehingga tidak ada masalah,” tutur Bupati Anas.

Di sela-sela ibadah, dia menyempatkan untuk mengontrol kinerja Pemda. Acara Walimatul Haji dihadiri berbagai kalangan. Selain jajaran Forpimda dan SKPD, juga dihadiri oleh para kiai, tokoh masyarakat dan warga sekitar.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk mengenalkan ritual dan tradisi daerah hingga ke dunia luas, masyarakat Desa Banjar Kecamatan Licin Banyuwangi menggelar Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek.

Dinamakan Kopi Uthek karena cara menikmati kopi tersebut berbeda dari biasanya. Secangkir kopi pahit, dinikmati dengan gigitan gula aren yang terpisah. Saat gula aren digigit akan berbunyi "thek", itu yang menjadi dasar penamaan Kopi uthek. Begitu gula sudah di dalam mulut, kopi pun disruput. Perpaduan keduanya akan menghasilkan cita rasa kopi yang unik nan nikmat.

Selain kopi uthek, warga juga menyajikan sego lemeng atau nasi lemang bagi para pengunjung. Sego lemeng merupakan nasi yang digulung dengan daun pisang dan diisi dengan cacahan daging ayam dan ikan tuna/ikan asin. Lalu gulungan nasi tersebut dimasukkan ke dalam bilah bambu dan dibakar. Paduan aroma daun pisang dan bau asap dari pembakaran bambu yang terperangkap menghasilkan cita rasa sego lemang yang khas, gurih dan sedap.

Untuk mengenalkan berbagai keunikan itulah, masyarakat yang ada di kawasan lereng kaki Gunung Ijen tersebut menggelar Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek, Minggu (26/8) yang dibuka langsung oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas melalui facetime. Pasalnya, Bupati Anas saat ini masih menunaikan ibadah haji di tanah suci mekkah.

“Desa Banjar sangat potensial untuk jadi destinasi pariwisata apalagi lokasinya yang berada dekat dengan Gunung Ijen. Ditambah Kuliner sego lemang dan kopi uthek juga menjadi salah satu daya tariknya,” papar Bupati Anas.

“Saya minta pada pak camat, agar di Desa Banjar segera ada destinasi wisata baru untuk menarik kedatangan wisatawan dengan berkolaborasi antar jajaran forum pimpinan kecamatan,” kata Bupati Anas.

Dalam kesempatan ini, Bupati Anas juga mendorong Camat Licin, untuk bisa segera ada investor yang membeli tanah sekaligus membangun destinasi wisata baru di Desa banjar.

Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiatmoko menambahkan, Pemkab terus mendorong Desa Banjar menjadi desa wisata. Mengingat warga Desa Banjar yang terus berkreasi mengangkat potensinya, di samping kekayaan alam desa tersebut. 

Saya ucapkan terima kasih kepada warga Banjar yang kreatif serta kompak terus memunculkan destinasi baru di Desa Banjar,” ungkap Wabup Yusuf.

Seiring dengan itu, dia meminta agar kebersihan ruang-ruang publik dijaga. Dan pembukaan kegiatan ini ditandai dengan pelepasan busur panah oleh Wabup Yusuf. Maklum saja, sejumlah warga di sana mengembangkan pusat latihan olahraga panahan. 

Saya harus melepaskan 5 kali busur panah, baru bisa nyasar pada balon yang terpasang di papan itu,” ujar Wabup Yusuf sembari tertawa lepas.

Pada festival ini, warga menyulap jalan desa menjadi ruang tamu yang dilengkapi puluhan meja dan kursi untuk menyambut pengunjung yang hadir. Kopi uthek bersama jajanan tradisional menjadi sajian spesial yang disajikan di tiap meja. 

Camat Licin Banyuwangi, Hartono mengatakan, dulu sego lemang merupakan bekal para gerilyawan Desa Banjar saat melawan penjajah belanda, karena lebih awet tidak cepat basi.

Tradisi ini pun di ikuti oleh para penambang belerang di gunung Kawah Ijen, yang di bekali sego lemang oleh istrinya sebagai bekal saat melaksanakan aktifitas penambangan, yang hingga kini menjadi makanan tradisi masyarakat setempat,” papar Camat Hartono.

Di festival ini, pengunjung bisa berwisata kuliner sambil menikmati hijaunya alam Banjar. Even ini juga dimeriahkan Jazz Patrol dan penampilan seni budaya Korea dan Philipina yang dibawakan oleh mahasiswa dan guru program pertukaran budaya.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah menyambut kehadiran salah satu putra terbaik Banyuwangi, yang berhasil terpilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional tahun 2018.  Dia adalah Ananda Micola, yang merupakan siswa kelas dua di SMK 17 Agustus Kecamatan Cluring.

Usai menunaikan tugasnya, Ananda pun pulang kampung dan menceritakan pengalamannya kepada Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko saat di Kantor Pemkab Banyuwangi, Jumat (24/8). Di hadapan Wabup Yusuf, Ananda menceritakan pengalaman berkesannya saat bertugas di Istana Negara pada 17 Agustus lalu.

Ananda merupakan pengerek bendera pada Upacara Penurunan Bendera yang dipimpin langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. 

“Ini adalah pengalaman saya yang sangat mengesankan dan berharga dalam hidup saya,” ungkap Ananda.

Dia pun mengaku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti, dia mengaku sangat bangga dan luar biasa bisa menjadi bagian Tim Paskibraka Nasional. Selain itu, yang juga dinilai paling membanggakan adalah saat dirinya bisa bertemu dan berjabat tangan langsung dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara. 

“Sebagai seorang anak nelayan dan anak desa, saya tidak pernah terpikirkan bisa sampai ke Istana Negara dan bertemu dengan Presiden Jokowi,” tutur Ananda.

Momen bertemu dengan Presiden itu mengingatkan Ananda pada mendiang ibunya yang telah meninggal dunia beberapa bulan lalu. Tepatnya, saat dirinya tengah mengikuti seleksi paskibraka di tingkat provinsi. 

“Ibu saya pasti akan ikut bangga melihat anaknya bisa menjadi tim paskibraka di Istana Negara. Apalagi, menjadi Paskibraka merupakan cita cita saya sejak kecil,” kata Ananda.

Ananda mengungkapkan, terpilihnya dia menjadi petugas pengerek bendera itu di luar dugaannya. Saat pendadaran di Jakarta, dia telah ditetapkan sebagai pasukan 8, pasukan inti pengibar bendera.

“Saya ditunjuk sebagai pengerek bendera, satu jam sebelum upacara berlangsung,” imbuhnya.

“Saya sempet deg degan tapi juga tidak terlalu kaget, karena selama menjalani latihan telah di gembleng untuk siap di posisi manapun,” kata Ananda.

Sehingga, diapun merasa enjoy dan percaya diri melaksanakan tugas tersebut. Dan dia bersyukur, semua berjalan dengan lancar.

Selama menjalani latihan, Ananda juga mendapatkan banyak pengalaman berharga. Selain dilatih baris berbaris, juga masalah kedisiplinan. Baik ketepatan waktu dalam menjalani latihan, hingga disiplin soal makanan.

“Termasuk dibiasakan makan makanan sehat, supaya fisik tetap terjaga,” jelas Ananda.

Salah satunya tidak boleh minum es dan gorengan. Supaya badan tetap fit, juga untuk menjaga diagfragma. Dan yang paling menyenangkan adalah dia bisa bertemu dengan kawan-kawan se-nusantara, yang dinilainya benar-benar membuka matanya kalau Indonesia itu memang kaya dan besar.

Sebelumnya, untuk terpilih sebagai Paskibraka nasional, Ananda melalui seleksi ketat mulai tingkat sekolah, kabupaten, provinsi dan nasional. Materi ujiannya pun meliputi berbagai aspek, mulai dari fisik, psikologi, wawasan kebangsaan, kecakapan berbahasa Inggris, hingga pengetahuan tentang sejarah paskibraka itu sendiri. 

“Saya bersyukur, semua tes bisa saya lalui dengan lancar,” ungkap Ananda.

Dia pun berharap, semua bekal pendidikan di paskibraka kemarin bisa mempermudah jalannya untuk melanjutkan ke akademi militer.

Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko mengucapkan rasa bangganya pada Ananda Micola.

“Atas nama pemerintah daerah, saya mengucapkan terima kasih karena Ananda berhasil membawa nama baik daerah,” kata Wabup Yusuf.

Selain itu, Wabup Yusuf juga memastikan bahwa pemerintah daerah akan menjamin kelancaran pendidikan Ananda Micola karena dia dinilai telah berprestasi.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Beragam seni dan budaya tradisi Banyuwangi mewarnai akhir pecan usai perayaan Hari Raya Idul Adha.

Dimulai pada Kamis, 23 Agustus 2018, di gelar kegiatan Pencak Sumping di Dusun Mondoluko Desa Taman Suruh Kecamatan Glagah, tepat pukul 13.00 WIB.

Pencak silat merupakan kesenian bela diri Indonesia. Di Banyuwangi, Pencak Silat juga dapat di temui dan sangat melekat pada kehidupan Suku Osing di Dusun Mondoluko tersebut. Sementara, Sumping sendiri merupakan nama lain dari kue jajanan tradisional Nogosari berbahan dasar pisang, yang oleh masyarakat Mondoluko lebih di kenal dengan sebutan Sumping. Dan suguhan atraksi Pencak Silat dengan suguhan kuliner Sumping yang khas tersebut menjadi budaya di wilayah setempat. Sehingga, pagelaran tersebut di sebut sebagai kesenian Mencak Sumping.

Berlanjut di hari Sabtu-Minggu (25-26/8) di gelar Festival Sego Lemang dan Kopi Uthek di Desa Banjar Kecamatan Licin. Festival yang mengangkat kuliner khas Sego Lemang yang menjadi primadona masyarakat Desa Banjar ini, secara turun termurun di wariskan sebagai budaya leluhur. Serta dengan Kopi Uthek nya yang unik, dimana masyarakat setempat menikmati kopi dengan potongan gula aren. Uniknya, gula aren ini tidak diadukkan ke dalam cangkir kopi, melainkan langsung digigit setelah menyeruput kopinya.

Di festival ini, juga di gelar Parade Barong dan Country Ethnic Banyuwangi, Parade Kuntulan Music Blues Ethnic serta Festival Batik Banjar dengan menghadirkan hasil rancangan dari para desainer di seluruh Boutiqe di Banyuwangi.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Choliqul Ridho menjelaskan, selanjutnya pada 23-26 Agustus digelar ritual Seblang Bakungan di Kelurahan Bakungan Kecamatan Glagah.

“Di tahun 2018 ini, ritual yang masuk dalam salah satu agenda Banyuwangi Festival ini digelar selama 4 hari berturut turut,” ujar Ridho.

Diawali pada 23 Agustus, di gelar Lomba Mewarnai dan Lomba Tari tingkat TK-SD. Lanjut 24 Agustus, pembukaan pameran UMKM, Festival Layangan Suwangan dan Gebyar Seni Tradisional.

“Di tanggal 25 Agustus, digelar tradisi Sirat-Siratan Lancing Perawan dan Gebyar Tari dan Musik,” imbuhnya.

Ridho mengaku, pada 26 Agustus, di gelar ritual Nyekar di makam Seblang Mbah Putri pada pagi hari dan sorenya digelar Ider Bumi serta Barikan.

“Puncaknya malam hari, di gelar ritual Tari Seblang,” pungkas Ridho.

Sementara itu, di akhir pecan ini bukan hanya tradisi dan kebudayaan Banyuwangi yang bisa di nikmati wisatawan. Namun Pemerintah Daerah juga menggelar Banyuwangi Student Jazz Festival pada hari Sabtu (25/8) di depan gesibu Blambangan Banyuwangi.

Kegiatan ini terbuka bagi para pelajar se Jawa dan Bali, dengan membawakan lagu wajib daerah Banyuwangi bergenre Jazz.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Mengakhiri agenda Festival Kebangsaan 2018, Pemkab Banyuwangi menggelar gerak jalan tradisional. Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko melepas ribuan peserta geraka jalan tersebut di Kantor Kecamatan Srono, Sabtu (25/8).

Pagi itu jalan di depan kantor Kecamatan Srono dipenuhi ribuan peserta gerak jalan 17 km dari para pelajar tingkat SMP/MTs.

Gerak jalan tradisional kali ini, juga diikuti kategori umum dan pelajar SMA sederajat berjarak tempuh 45 KM dengan start dari Kantor Kecamatan Gambiran dan finish di depan Kantor Desa Kedaleman Kecamatan Rogojampi. Demikian halnya dengan peserta kategori SMP, yang finish di lokasi yang sama.

Sementara untuk kategori pelajar SD sederajat dengan start dari GOR Tawang Alun dan Finish di Taman Blambangan sejauh kurang lebih 8 KM. Sesaat sebelum memberangkatkan para peserta dari Kecamatan Srono, Wabup Yusuf menyampaikan apresiasinya terhadap seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini.

“Gerak jalan tradisional ini selalu diminati masyarakat, yang terbukti dengan antusiasme pendaftar yang tinggi,” kata Wabup Yusuf.

“Saya bangga, mereka riang gembira berjalan dengan jarak yang jauh untuk menapaktilasi perjalanan para pejuang dahulu,” imbuhnya.

Usai melepas, Wabup Yusuf pun ikut turun ke jalan untuk berjalan dalam barisan sebagai regu kehormatan bersama Forpimda dan kepala SKPD. Sepanjang jalan, Wabup Yusuf mendapat sambutan meriah dari para warga yang menyaksikan di sepanjang jalan.

Ada yang mengajak Wabup Yusuf bersalaman bahkan ada pula yang menawari mampir untuk mencicipi masakannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Banyuwangi, Wawan Yadmadi menambahkan, gerak jalan tradisional ini diminati masyarakat. Peserta yang ikut membludak, mencapai 1.184 regu yang terbagi dalam tiga kategori.

“Kami tidak membatasi jumlah para peserta, asalkan beregu. Dan pendaftaran gerak jalan ini di buka secara online melalui website Dispora,” ujar Wawan.

Dia memaparkan, untuk kategori I, menempuh jarak 8 km diikuti 893 regu. Kategori I ini, diberangkatkan dari GOR Tawangalun dan finish Taman Blambangan. Selanjutnya, kategori II yang menempuh jarak 17 km diikuti 188 regu, berangkat dari Kecamatan Srono – finish di depan Kantor Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi. Sedangkan kategori III, yang menempuh jarak 45 km, diikuti 103 regu diberangkatkan dari depan Kecamatan Gambiran dan finish di tempat yang sama dengan kategori II.

“Semua kategori ini diberangkatkan secara serempak pada pukul 09.00 WIB dari masing-masing start,” pungkas Wawan.

radiovism.com, Banyuwangi - Tari Niskala Seblang Banyuwangi menyabet 5 penghargaan dalam Festival Karya Tari 2018 tingkat Nasional.

Tarian tersebut mewakili Provinsi Jawa Timur berkompetisi di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta pada 19 Agustus 2018 lalu, dan berhasil mendapatkan banyak penghargaan.

Meski tidak menjadi yang terbaik, namun tarian yang dibawakan oleh 9 penari dari sanggar tari Umah Seni Kuwung Wetan Banyuwangi ini menyabet lima penghargaan. Diantaranya, penghargaan Penyaji terbaik se Jawa-Bali, 5 penata tari unggulan, 5 penata musik unggulan, 5 penata rias dan busana ungggulan serta 13 penyaji unggulan. 

Pimpinan sanggar Umah Seni Kuwung Wetan, Dwi Agus Cahyono mengatakan, meskipun tarian garapannya tidak menyabet penghargaan terbaik, namun hal ini bisa mewujudkan bahwa suguhan pihaknya menyabet predikat unggulan dari 28 Propinsi yang ikut dalam ajang bergengsi ini.

“Ajang ini memperkaya wawasan kami tentang pementasan seni,” ujar Agus.

“Saya juga banyak mendapatkan hikmah dan pengalaman berharga di ajang itu serta banyak pelajaran berharga dalam proses yang kami lalui,” imbuhnya.

Sementara, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Choliqul Ridho menjelaskan, tarian Niskala Seblang yang dibawakan di ajang ini merupakan kisah tradisi Seblang Olehsari yang merupakan sebuah ritual tolak bala warga Desa Olehsari, Kecamatan Glagah Banyuwangi.

“Seblang ini digelar setiap 2 Syawal selama tujuh hari berturut-turut yang dibawakan oleh gadis muda yang menari dalam kondisi trance,” kata Ridho.

“Dipilihnya tarian Niskala Seblang mewakili Jawa Timur, setelah tarian ini memenangi ajang Festival Karya Tari tingkat kabupaten dan provinsi,” pungkasnya.

Secara terpisah, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku bangga dengan prestasi yang ditorehkan kontingen Banyuwangi yang mewakili Jawa Timur di ajang nasional tersebut.

“Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa konsistensi Banyuwangi yang terus memberi ruang pada seniman mendapat apresiasi dari pihak luar,” ungkap Bupati Anas.

Dia mengatakan, beragam atraksi seni dan budaya terus dikembangkan pemerintah daerah. Dan rupanya, ikhtiar ini mendapat sambutan positif dari seniman.

“Itu terbukti, kreasi seniman Banyuwangi terus tumbuh dan terus mencatat prestasi, termasuk Sanggar Umah Seni Kuwung Wetan ini,” ujar Bupati Anas.

Para seniman muda yang terlibat dalam Tarian Niskala Seblang ini adalah anak-anak asli Banyuwangi yang tengah menempuh pendidikan di beberapa perguruan tinggi seperti Politeknik Banyuwangi (Poliwangi), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi meminta agar masyarakat pandai memilah informasi yang diterima dan tidak mudah percaya dengan berita berita bohong (Hoax).

Hal ini di sampaikan Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widiatmoko saat membuka simposium kebangsaan yang digelar Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jaringan Pendamping Kinerja Pemerintah (JPKP) Banyuwangi di gedung Korpri, Senin (20/8).

“Di era digitalisasi seperti saat ini, penyebaran berita-berita bohong atau hoax semakin sulit terbendung. Tidak hanya di negara-negara maju, tapi juga menjangkiti negara berkembang seperti Indonesia, termasuk Banyuwangi,” papar Wabup Yusuf.

Hal tersebut dinilainya sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, pihaknya meminta agar warga Banyuwangi lebih berhati-hati dan tidak mudah terpengaruh berita hoax. Apalagi, Indonesia akan menghadapi tahun politik pada 2019 nanti.

Wabup Yusuf juga memastikan bahwa pelaksanaan pilpres dan pemilihan legislatif di Banyuwangi bebas dari hoax.

“Saya minta warga harus berpikir jernih serta tidak sampai salah pilihan akibat hasutan dari sebuah berita bohong, ini sangat berbahaya,” ujar Wabup Yusuf.

Dengan akal yang jernih, diharapkan agar pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang betul-betul dikehendaki masyarakat Indonesia.

Simposium kebangsaan ini diikuti puluhan peserta. Tampak hadir dalam acara tersebut Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) JPKP Jawa Timur Bambang Kisworo, Ketua DPD JPKP Banyuwangi Johan Okada, perwakilan dari Polres Banyuwangi serta jajaran JPKP Banyuwangi.

Sementara itu, Bambang mengatakan bahwa JPKP siap bersinergi dengan masyarakat dan pemerintah untuk mendukung program-program pemerintah daerah setempat.

“JPKP akan jadi mitra kerja masyarakat dan pemerintah. Jika ada program yang perlu disampaikan ke warga di harapkan untuk segera diteruskan kepada anggota kami,” pungkas Bambang.

 

 

More Articles ...