radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 850 orang warga Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Banyuwangi mendapatkan sertifikat tanah melalui program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL).

Dan ratusan sertifikat tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widiatmoko kepada para penerima di Kantor Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, Kamis (04/04/2019).

Penyerahan tersebut melengkapi target 58 ribu bidang sertifikat tanah milik warga Banyuwangi untuk tahun 2018 oleh Kantor Pertanahan Banyuwangi.

“Saya mengapresiasi Badan Pertanahan Nasional (BPN) Banyuwangi yang dinilai getol melakukan sosialisasi program ini ke masyarakat desa,” kata Wabup Yusuf.

“Karena lewat program ada kepastian hukum bagi tanah milik rakyat, maka warga akan terhindar dari permasalahan sengketa tanah. Dan ada banyak manfaat yang didapat dari program ini,” paparnya.

Wabup Yusuf juga mengajak warga yang belum memanfaatkan program ini untuk segera mendaftar.

Salah seorang warga Musiyah (58) mengaku senang karena sertifikat tanahnya sudah jadi.

“Selain tidak rumit, biaya saya keluarkan tidak besar yakni hanya membayar Rp 600 ribu,” tutur Musiyah.

Musiyah mendaftarkan tanahnya seluas 1.000 meter persegi pada tahun 2018 lalu.

Sementara itu, Kepala Kantor Pertanahan Banyuwangi Damar Galih Widhiasta menyampaikan pada 2018, target penerbitan sertifikat tanah dari program PTSL Banyuwangi sebesar 58 ribu sertifikat.

Dari total tersebut, hampir semuanya telah diserahkan pihaknya kepada warga di 20 desa yang tersebar di Banyuwangi.

“Program PTSL sendiri akan terus dilanjutkan untuk tahun 2019 ini,” ungkap Damar.

Pihaknya menargetkan 61 ribu sertifikat dari PTSL tersebut. Sasarannya diutamakan tanah rakyat berupa tanah pertanian, tanah milik nelayan, UMKM dan kelompok masyarakat menengah ke bawah.

“Saya berharap, masyarakat benar-benar memanfaatkan program ini. Sehingga mereka bisa memiliki sertifikat bidang tanahnya masing-masing,” pungkas Damar.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Perhelatan Banyuwangi Underwater Festival 2019 berlangsung meriah, dengan kehadiran Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, Selasa (02/04/2019).

Saat tiba di wisata Bangsring Underwater Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi, tempat pelaksanaan kegiatan, Menteri Susi di sambut ratusan siswa siswi SD/MI dan SMP/Mts yang mayoritas anak nelayan. Mereka dengan antusias menunggu Menteri Susi untuk mendengarkan pesannya.

Menteri Susi memotivasi dan mengajak mereka untuk tidak membuang sampah ke laut, terutama bahan plastic. 

“Ini adalah salah satu cara untuk menjaga laut,” ungkapnya.

Bahkan, Menteri Susi berjanji akan memberikan bantuan “Google” (kaca mata renang) untuk anak anak, asalkan mereka mau menjaga laut.

“Saya sangat menikmati kawasan konservasi ini. Saya mengapresisi kelompok nelayan Samudera Bhakti, pengelola pantai ini, yang berhasil mengubah mindset nelayan di kawasan sini,” ujar Menteri Susi.

Dari semula pengebom ikan, kini justru mereka menjaga laut, seperti menanam terumbu karang. Perubahan mindset yang dilakukan mereka ini dinilai sangat baik.

“Mereka menghidupkan wisata bahari dengan cara menjaganya. Yang akhirnya menghasilkan sebuah kawasan wisata yang hidup dan terintegrasi,” ungkapnya.

Menteri Susi berharap, apa yang dilakukan Banyuwangi ini ditiru oleh nelayan lain di Indonesia. Dengan mengembangkan wisata konservasi bahari, perekonomian daerah bisa tumbuh tanpa harus merusak ekosistem laut. 

“Dengan cara ini masyarakat bisa mendapatkan uang tanpa harus mengambil dan merusak apapun dari laut. Itu seharusnya dilakukan oleh setiap daerah, memupuk ekonomi semacam ini. Mendapatkan uang, tapi laut tetap terjaga,” papar Menteri Susi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjelaskan bahwa festival ini adalah kampanye konservasi laut. Dia mengajak masyarakat untuk mencontoh semangat nelayan Samudera Bhakti yang gigih melestarikan laut. 

“Wisata bahari Bangsring underwater kini terus berkembang. Kecintaan mereka untuk menjaga laut ini lah yang ingin kami sampaikan lewat festival itu,” kata Bupati Anas.

“Berkat berbagai program kolaborasi pemkab dan nelayan setempat, kawasan itu kini bergeliat,” imbuhnya.

Bupati Anas mengatakan, tahun 2018 kemarin, setidaknya 130 ribu wisatawan mengunjungi pantai ini. 

“Ekonomi di sini tumbuh, nelayan akhirnya mendapatkan hasil tambahan dari perkembangan wisata,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Menteri Susi melakukan penanaman terumbu karang tranplantasi dengan menenggelamkannya di area rumah apung. Selain itu, dia juga melakukan pengobatan dan melepas ikan hiu di Klinik Hiu yang ada di rumah apung. 

Saat di rumah apung, tiba-tiba Susi mengajak melakukan olahraga paddleboarding. Susi mengayuh board-nya berputar mengelilingi rumah apung, lalu menuju dermaga.

Melihat puluhan Gandrung yang berdiri di dermaga, Menteri Susi langsung naik ke dermaga dan selfie sebentar dengan mereka. Banyuwangi Underwater festival merupakan rangkaian event yang ada dalam agenda wisata Banyuwangi Festival.

Berbagai acara digelar dalam festival bawah laut tersebut. Mulai pelatihan mengolah sampah, memungut sampah di pantai oleh 1.000 nelayan, dan lomba mengolah barang bekas menjadi barang seni dan bermanfaat.

Dalam acara itu, Menteri Susi juga meresmikan Bank Sampah yang ada di Pantai Bangsring.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kementrian Kelautan dan Perikanan sudah tidak lagi menerbitkan Sertifikat Kesehatan untuk karang dilaut, guna menjaga keberlanjutan ekosistem ikan. Pasalnya, jika karangnya hancur ataupun di ambil oleh manusia maka lama kelamaan ikan ikan hias juga akan hilang.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti usai membuka kegiatan Banyuwangi Underwater Festival di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi, Selasa (02/04/2019).

“Ikan ikan hias hidupnya diantara karang karang. Oleh sebab itu, keberadaan karang di dasar laut harus terus dijaga sebagai rumahnya ikan,” ungkap Menteri Susi.

“Selain untuk kehidupan ikan, keberadaan karang karang itu juga sebagai pertahanan abrasi. Jika karangnya hancur maka pantainya mudah sekali dihantam abrasi,” paparnya.

Menteri Susi juga meminta di sepanjang pinggir pantai tidak hanya di tanami pohon cemara saja, tapi juga tanaman bakau pasir yang akar dan batangnya sangat kuat sehingga dianggap bisa untuk menahan abrasi.

“Kami tidak lagi menerbitkan Sertifikat Kesehatan untuk karang itu sejak 1 tahun terakhir ini, supaya karang tidak bisa diambil seenaknya untuk di perjual belikan dan itu dilarang oleh pemerintah,” ujar Menteri Susi.

Sehingga jika ditemukan adanya ekspor karang, Menteri Susi mengaku hal itu adalah illegal dan harus ditangkap oleh aparat kepolisian untuk di proses hukum.

Dia juga mengaku mendapatkan data kerusakan karang di berbagai perairan strategis di Indonesia mencapai 85 persen. Namun Menteri Susi tidak mempercayainya, karena dari pantauan dilapangan hanya tersisa 60 persen saja perairan dengan kondisi karang laut yang masih bagus.

“Untuk itu, saya minta agar masyarakat tidak mengambil atau merusak karang laut, guna menjaga ekosistem ikan ikan,” tuturnya.

Menteri Susi menambahkan, memberantas para mafia pencurian karang di laut tersebut di perlukan adanya keterlibatan aparat keamanan, baik kepolisian maupun TNI untuk ikut serta melakukan pengawasan di seluruh pantai.

Data terbaru dari Badan Informasi Geospasial (BIG) menyebutkan, total panjang garis pantai Indonesia adalah 99.093 kilometer. Data itu merujuk hasil telaah teknik pemetaan Tim Kerja Pembakuan Nama Pulau, Perhitungan Garis Pantai dan Luas Wilayah Indonesia.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Bupati Abdullah Azwar Anas menyerahkan SK Pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) kepada 538 Calon Pegawai, di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan Banyuwangi, Senin (01/04/2019).

Dalam sambutannya, Bupati Anas mengaku bersyukur SK ini sudah di serahkan yang dinilai sebagai pertanda bahwa mereka telah menjadi abdi negara.

“Setelah menerima SK ini dan sebelum pulang ke rumah, saya harap mampir ke panti asuhan ataupun ke tetangga yang kurang mampu untuk bersedekah,” ujar Bupati Anas.

“Juga meminta do’a agar selalu di berikan kesukseskan didalam bekerja,” imbuhnya.

Dan Bupati Anas juga menitipkan do’a untuk kemajuan Banyuwangi. Selanjutnya, mereka bisa sumkem kepada bapak ibunya guna memperkuat niat bekerja untuk Banyuwangi dan Indonesia.

“Sbesoknya, sudah mulai bekerja serius dan cepat,” tuturnya.

Bupati Anas juga menyampaikan perlunya perubahan sikap dan mental para CPNS sebagai bagian dari reformasi birokrasi.

“Jangan berpikir jadi PNS bisa bekerja santai. Justru amanah di pundak anda semua dan ini berat, harus dikerjakan serius, cepat, tepat,” imbuhnya.

Bupati Anas mengaku optimistis, anak-anak muda tersebut akan mampu menjadi tambahan tenaga pendorong kemajuan daerah. Mereka memiliki mental yang tangguh, berintegritas tinggi, dan siap kerja keras.

“Apalagi, rekrutmen CPNS di tahun 2018 juga dianggap sangat sulit. Kualifikasinya tinggi, seleksinya ketat, dan transparan. Sehingga tidak ada celah untuk berbuat curang,” papar Bupati Anas.

Para PNS baru itu juga diminta membangun kultur kerja keras dan kultur kolaboratif untuk mencapai target pembangunan daerah.

Pasalnya kata Bupati Anas, kultur kolaboratif ini penting dan jangan ada ego sektoral.

“Perkuat jaringan dengan pihak eksternal serta ajak berkolaborasi mengembangkan Banyuwangi,”  pungkas Bupati Anas.

Salah seorang CPNS, Rhenif Oktora, mengaku bangga bisa diterima sebagai CPNS di Banyuwangi yang daerahnya dianggap sedang terkenal ini.

“Saya sudah tidak sabar untuk segera bergabung mengamalkan ilmu saya,” kata Rhenif.

Rhenif adalah CPNS dari formasi disabilitas lulusan D3 jurusan statistik komputerisasi Universitas Negeri Semarang.

Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Pelatihan Banyuwangi Nafiul Huda mengatakan, SK CPNS 2018 ini dibagikan kepada 538 orang. Mereka dari formasi umum, honorer K2, cumlaude, dan disabilitas.

“Mereka akan mulai kerja pada hari Selasa, 2 April 2019 langsung ke masing masing SKPD sesuai SK penempatan,” ungkap Huda.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Pusat mendukung upaya Pemkab Banyuwangi yang menerapkan Moratorium Tambak Udang, karena multiplier effectnya dinilai tidak terlalu berpengaruh terhadap penambahan tenaga kerja di daerah.

Tercatat sudah 7 tahun terakhir ini, Banyuwangi menerapkan kebijakan tersebut menyusul jumlah tambak di wilayah setempat terbilang cukup banyak, namun ternyata tidak bisa berkontribusi untuk mengurangi angka pengangguran di Banyuwangi.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengatakan, hal itu harus dilakukan oleh setiap kepala daerah untuk menjaga dan memastikan eksploitasi wilayah pesisir agar tidak berlebihan.

“Jika ekosistem pesisir rusak, itu disebabkan karena dampak dari keberadaan tambak yang juga memakai bahan bahan kimia,” ungkap Menteri Susi.

“Salah satunya adalah intensifikasi pakan seperti Tiodan atau Saponin yang di pakai untuk membunuh hewan hewan di laut,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, penggunaan bahan bahan ini bisa mematikan ikan ikan di pantai, yang ada di sekitar tambak udang.

Menteri Susi meminta masyarakat untuk menggalakkan budidaya ikan dengan cara yang aman serta tidak boleh yang tidak berkelanjutan.

“Artian, yang tidak berkelanjutan itu adalah yang berlebihan merusak tanaman bakau, pesisirnya hancur serta ekosistemnya rusak,” tutur Menteri Susi.

Dia mengaku, pemerintah hanya memperbolehkan budidaya ikan dengan menggunakan kaidah dan ukuran serta parameter yang berkelanjutan.

“Karena jika tidak, maka semua yang ada di pantai akan rusak,” kata Menteri Susi.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku, Pemkab Banyuwangi sudah 7 tahun terakhir ini menerapkan kebijakan moratorium tambak udang karena dinilai tidak padat pekerjaan.

“Saat ini tenaga yang banyak ada di tambak adalah menggunakan mesin dan sudah tidak lagi menggunakan tenaga manusia,” kata Bupati Anas.

“Oleh sebab itu, keberadaan tambak itu tidak memberikan multiplier effect terlalu banyak terhadap penyerapan tenaga kerja di Banyuwangi,” pungkasnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi akan mendalami tiga produk teknologi solusi pariwisata yang dihasilkan dari seleksi 150 peserta ajang Hackathon Pintar 1.0 agar bisa diterapkan untuk membantu pengembangan daerah.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku, sudah ada tiga produk teknologi sebagai juara, dari hasil 24 jam ngoprek yang dilakukan anak-anak muda, kolaborasi dengan startup Warung Pintar.

“Nantinya dipilih yang sekiranya relevan dengan kebutuhan serta didalami untuk bisa diterapkan,” tutur Bupati Anas.

Tiga produk teknologi itu adalah aplikasi Mbok Wangi, RITA, dan Slebew Pintar. Mbok Wangi yang dihasilkan Rico Arisandy, Muhammad Alfian, dan Elsa Mayang dari Politeknik Negeri Surabaya memfokuskan diri membantu backpacker yang ingin berwisata lebih komplit, termasuk ke destinasi tersembunyi yang belum banyak dikenal.

Adapun RITA dihasilkan Dimas Nashiruddin, Syafirah Abdullah, dan Komang Gustiana dari Universitas Telkom Bandung adalah aplikasi asisten virtual bagi wisatawan untuk mencari berbagai destinasi wisata.

Sementara Slebew Pintar yang diproduksi Muhammad Rezaldy, Yudit Adythia, dan Arya Bariz dari UGM Yogyakarta adalah aplikasi rekomendasi guide lokal. Titik tekannya adalah mempertemukan antara wisatawan dan guide lokal yang tepercaya lengkap dengan kisaran biaya untuk menikmati sejumlah paket wisata.

“Hackathon jadi cara baru bagi pemerintah daerah untuk berkolaborasi dengan para pengembang teknologi. Sehingga masalah di masyarakat bisa dicari solusinya lewat pendekatan teknologi,” papar Bupati Anas.

Setelah hackathon seri pertama yang mengangkat tema UMKM dan pariwisata, Banyuwangi akan menggelar seri lanjutan dengan tema beragam.

“Pemerintah daerah akan membuat hackathon untuk pertanian, pelayanan publik, dan anggaran. Misalnya pertanian, bisa ada teknologi untuk membantu petani dari sisi hulu sampai hilirnya,” ujar Bupati Anas.

Hackathon adalah istilah untuk ajang lomba penciptaan produk teknologi. Mereka beradu dalam 24 jam untuk menciptakan solusi teknologi.

Di Banyuwangi, Hackathon Pintar 1.0 yang berkolaborasi dengan startup Warung Pintar digelar dengan Dewan Juri CEO dan co-founder Warung Pintar Agung Bezharie, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, dan Executive Vice President Digital BRI Kaspar Sitomorang.

Chief Technology Office Warung Pintar Sofian Hadiwijaya mengatakan, ajang hackathon diharapkan bisa membantu pariwisata Banyuwangi agar terus melaju.

“Banyak produk teknologi dari peserta yang mengangkat destinasi yang menarik, tapi belum banyak dikenal. Juga ditopang dengan cara pemesanan yang mudah,” papar Sofian.

“Model-model solusi teknologi ini efektif untuk mengakselerasi kemajuan daerah,” imbuhnya.

Sofian juga mengaku, Warung Pintar senang bisa menjadi bagian dari upaya mendorong pengembangan Banyuwangi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Direncanakan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti akan membuka kegiatan Banyuwangi Underwater Festival, yang merupakan Festival Bawah Laut di wisata Bangsring Underwater, Selasa (02/04/2019).

Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesra Pemkab Banyuwangi Suyanto Waspo Tondo mengatakan, Menteri Susi dijadwalkan akan membuka acara tersebut pada Selasa pagi dengan mengikuti serangkaian acara festival.

“Mulai dari marine education yang diikuti pelajar yang kebanyakan anak nelayan, hingga menenggelamkan terumbu karang transplantasi,” ujar pejabat yang biasa disapa Yayan tersebut.

Dia menjelaskan, saat marine education, Menteri Susi akan memotivasi siswa-siswa sekolah tentang pentingnya menjaga ekosistem laut. Selain itu, juga akan turut mengobati ikan hiu yang luka dan melepas hiu yang sembuh yang berada di Rumah Apung Bangsring Underwater.

“Bahkan rencananya Menteri Susi juga akan bermain kano di lokasi setempat,” tutur Yayan.

Kawasan wisata Bangsring Underwater adalah kawasan konservasi laut. Kelompok nelayan di sini berhasil memperbaiki ekosistem laut dengan mengubah perilaku dan budaya tangkap ikan para nelayan.

Sekitar 2 km dari bibir pantai, berdiri Rumah Apung yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Di rumah apung tersebut, para wisatawan bisa diving, snorkeling, atau sekedar bermain dengan ikan-ikan hias yang ada di sana.

Nelayan setempat juga menyewakan perahu bagi wisatawan yang hendak menyeberang ke Pulau Tabuhan, sebuah pulau tidak berpenghuni yang menawarkan pasir putih bersih dengan kekayaan biota laut yang menawan.

Festival bawah laut ini diwarnai sederet kegiatan menarik yang sarat edukasi. Seperti lomba memungut sampah laut oleh 1000 nelayan, pelatihan mengolah sampah oleh 500 nelayan, hingga lomba mengolah sampah menjadi barang seni dan bermanfaat.

Selain Banyuwangi Underwater Festival, dalam Bulan April ini terdapat delapan event lainnya. Yakni Festival Musik Jalanan (6 April), Festival Lembah Ijen (20 April), Festival Kebaya (24 April), Banyuwangi Agro Expo (25 April – 1 Mei). Lalu festival Toilet dan Kali Bersih (26 April), Banyuwangi Culinary Festival dan Banyuwangi Art week (27 April - 1 Mei) dan Women Cycling Challenge (27 April).

More Articles ...