radiovisfm.com, Banyuwangi - Memasuki awal tahunn 2019 ini, DPRD telah mengagendakan pembahasan sejumlah rancangan peraturan daerah atau raperda yang masuk dalam program pembahasan peraturan daerah tahun 2019 yang sudah ditetetapkan sebanyak 20 raperda.  Raperda awal yang akan dibahas rencanayan adalah dua raperda inisiatif dewan, yakni raperda perencanaan pembangunan daerah dan raperda tentang pengelolaan sepadan sungai, sepadan pantai dan jaringan irigasi di Banyuwangi.

Wakil ketua badan pembentuk peraturan daerah DPRD Banyuwangi Basuki Rahmad menuturkan, diawal tahun 2019 ini, dewan merencanakan pembahasan dua raperda yang merupakan raperda inisiatif anggota dewan. Dibahasnya raperda tentang perencanaan pembangunan kabupaten Banyuwangi ini, akan menjadi payung hukum bagi anggota dewan, untuk lebih masiv lagi dalam melakukan proses perencanaan pembangunan. Mengingat selama ini, proses perencanaan pembangunan didominasi oleh eksekutif. 

Basuki menjelaskan, fungsi kerja anggota dewan salah satunya adalah Budgeting atau penyusunan penganggaran APBD kabupaten. Namun dalam pelaksanaannya, fungsi budgeting tersebut masih dirasa kurang maksimal dalam mewujudkan harapan masyarakat dalam proses pembangunan di Banyuwangi. DPRD sebagai wakil rakyat saat turun dilapangan, kerap mendapatkan keluhan dari masyarakat, karena rencana pembangunan yang sudah diusulkan dalam Musrenbang desa atau musrenbang kecamatan, kerap tidak masuk dalam APBD sehingga tidak bisa terealisasi. Melalui raperda perencanaan pembangunan  daerah yang akan dibahasnya ini, dewan berharap nantinya bisa menjadi payung hukum anggota dewan untuk berperan aktif dalam proses perencanaan pembangunan. 

Basuki rahmad menambahkan, sedangkan rencana dewan menyusun raperda tentang pengelolaan sepadan sungai, sepadan pantai dan jaringan irigasi di Banyuwangi ini bertujuan sebagai payung hukum anggota dewan dalam melakukan pengawasan secara aktif terhadap keberadaan tanah sepadan sungai, sepadan pantai dan jaringan irigasi. Karena selama ini kebaradaan tanah di sepadan sungai, pantai dan jaringan irigasi ini, kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Sehingga banyak difungsikan secara liar, apakah memiliki ijin atau tidak. Sehingga pemanfaatan tanah sepadan sungai, pantai dan jaringan irigasi di banyuwangi ini kerap berbenturan dengan peraturan perundang undangan yang ada.  

" Banyak sepadan sungai da sepadan pantai termanfaatkan dengan liar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab", katanya. 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam Perda nomor 5 tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani yang di gulirkan Pemprov Jawa Timur, tercatat bahwa Jeruk dan Buah Naga belum termasuk komoditas unggulan strategis.

Sementara, dalam perda tersebut komoditas unggulan strategis yang mendapat perlindungan meliputi Padi, Jagung, Kedelai, Tebu, Bawang Merah, Cabai dan Sapi Potong.

Hal ini terungkap dalam Sarasehan menuju Petani Sejahtera yang digelar Irwan Setiawan, anggota DPRD Jawa Timur, Minggu (3/2/2019).

Sarasehan itu sendiri digelar untuk merespon anjloknya harga produksi buah naga di Banyuwangi. Sebelumnya, Irwan yang juga merupakan Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur tersebut telah melakukan kunjungan ke beberapa daerah sentra buah naga di wilayah Banyuwangi Selatan.

Dalam sarasehan yang di hadiri 6 kelompok petani dari wilayah Kecamatan Bangorejo Banyuwangi itu, Irwan menjelaskan tentang Pemprov jawa timur yang telah memiliki payung hukum berupa perda untuk melindungi dan memberdayakan petani yaitu Perda No. 5 tahun 2015 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani.

Ini untuk meningkatkan kesejahteraan petani, meningkatkan produktifitas usaha tani, dan memberdayakan petani agar tercipta sinergi dan keberlanjutan produktifitas pertanian,” ujar Irwan.

Selain itu, juga di jelaskan bahwa Perlindungan Petani dilakukan dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana produksi, perlindungan terhadap komoditas unggulan strategis, penetapan harga pokok produksi pembelian Pemerintah, mekanisme penyangga produksi, asuransi pertanian, dan sistem peringatan dini.

“Perlindungan itu diberikan kepada petani yang melakukan usaha tani yang tidak memiliki lahan sendiri dan petani yang melakukan usaha tani di lahan milik sendiri dengan luasan kurang dari 2 (dua) hectare,” papar Irwan yang mewakili Dapil Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso tersebut.

Dia juga mengungkapkan bahwa jeruk dan buah naga belum termasuk komoditas unggulan strategis dalam Perda Perlindungan dan Pemberdayaan Petani tersebut.

Untuk itulah, kami berharap pemerintah kabupaten dapat memberikan perhatian terhadap 2 komoditas unggulan Banyuwangi tersebut agar bisa juga mendapatkan perlindungan sebagaimana harapan para petani yang hadir dalam sarasehan,” kata Irwan.

Sementara itu ungkap Irwan, selain membatasi terbitnya rekomendasi impor terhadap komoditas ungulan strategis, pemerintah juga memberikan perlindungan dalam hal produksi komoditas unggulan strategis yang dihasilkan petani melimpah (over production).

Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi dapat membeli hasil produksi petani minimal berdasarkan harga pembelian pemerintah yang telah ditetapkan Pemerintah Pusat,” tuturnya.

Dalam kesempatan ini, salah satu kelompok tani menyampaikan bahwa hasil panen buah naganya sekitar 3 ton saat panen raya, dengan harga hanya Rp1500/kg untuk kategori A dan jika semua dijual dengan harga itu saja dinilai sudah merugi. Apalagi hasil panen tersebut terdiri dari kategori A, B, dan C.

Kondisi yang sama terjadi saat panen Jeruk tahun 2018, salah seorang petani menyampaikan 80 pohon yang dimilikinya menghasilkan 7 ton dengan harga Rp1500/kg.

Para petani yang hadir juga berharap, perluasan pasar juga mendapatkan perhatian pemerintah, serta pengolahan pasca produksi yang secara massif dan bersama agar bisa diterima dipasar secara lebih meluas.

Dalam kesempatan ini pula, Irwan membeli 3,6 Kwintal buah naga yang di bawa oleh kelompok tani tersebut dengan harga 5000/ kg.

Ini sebagai salah satu bagian suport secara moril,” ungkapnya.

Irwan mengharapkan hasil sarasehan ini dapat menjadi bahan diskusi dan masukan bagi stake holder terkait baik Pemkab maupun Pemprov.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Mantan Hakim Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD mengaku tidak bersedia jika dirinya di calonkan sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang baru.

Kursi ketua umum PSSI saat ini ditempati pelaksana tugas Joko Driyono. Dalam Kongres Luar Biasa (KLB), pemilik suara masih terbelah untuk menentukan ketua umum. Sebagian menginginkan ada pergantian di pucuk pimpinan dan jajaran komite eksekutif dalam waktu dekat, sebagian lain memilih melanjutkan yang sudah ada.

Beberapa nama pun muncul meramaikan calon ketua umum baru. Di antaranya, Erick Thohir, Muhaimin Iskandar, Basuki Tjahaja Purnama, dan Mahfud MD.

Menanggapi hal ini, Mahfud mengaku tidak mengetahuinya. Bahkan dia juga mengaku bukan hanya tidak siap namun juga tidak tahu menahu mengenai urusan PSSI.

“Saya hanya penonton bola yang bagus, tentang organisasi PSSI saya tidak mengetahui,” ujar Mahfud.

“Memang sebelumnya saya pernah bertemu dengan Erick Tohir untuk berdiskusi mengenai permasalahan yang terjadi di dalam tubuh PSSI,” imbuhnya.

Dan dia diminta untuk membantu pembenahan dan itu disanggupinya, namun hal ini di nilai tidak ada kaitannya dengan ketua umum.

Ditemui di Hotel Santika Banyuwangi, Selasa (29/1), Mahfud juga mengaku tidak bersedia jika di dorong untuk menjadi ketua umum PSSI.

“Nantinya akan tambah rusak jika saya jadi pimpinan PSSI bahkan akan menjadi dagelan,” kata Mahfud.

Sementara itu, terkait dengan info yang beredar bahwa Wakil MPR RI, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mencalonkan sebagai ketua umum PSSI, Mahfud mempersilahkannya sedangkan dirinya dipastikan tidak akan bersedia.

“Ini sangat bagus jika ada orang lain yang mewakafkan diri untuk mengurus organisasi PSSI,” pungkas Mahfud.

 

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dari hasil evaluasi Pemerintah Pusat selama 2017-2018, di sepanjang poros pantai di Indonesia di temukan 1,2 juta ton sampah plastic yang 41 persennya ada di laut.

Kondisi ini menjadi permasalahan besar karena dari hasil penelitian Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, didalam tubuh ikan yang dibedah ternyata di dalamnya berisi plastic.

Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan M. R. Karliansyah dalam kunjungannya ke Banyuwangi mengatakan, pihaknya bersama guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian di sungai Ciliwung dan sungai Citarum.

“Hasilnya cukup mengejutkan karena perilaku mikro plastic di sungai itu berbeda beda,” ujar Karliansyah.

“Di Ciliwung tinggi sekali, tapi di Citarum justru rendah. Dan setelah di deteksi lebih jauh ternyata sumbernya adalah limbah plastic dan textile,” ungkapnya.

Karena menurut Karliansyah, di sepanjang sungai Citarum banyak berdiri pabrik textile.

“Indonesia merupakan negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah laut,” tuturnya.

Saat ini di dunia, sampah plastic menjadi ancaman, padahal 60 persen sumber kehidupan manusia seperti energy dan pangan berasal dari pantai.

“Sehingga sampah plastic harus di perangi bersama,” imbuh Karliansyah.

Dan pada November 2018 lalu, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan International tentang Penanganan Sampah yang Berbasis dari daratan.

Ajang ini digelar badan dunia PBB masalah lingkungan, United Nation Environment Program (UNEP) di Denpasar Bali yang di hadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya serta ratusan pejabat pemerintahan dari 108 negara.

“Dari pertemuan ini disepakati bahwa permasalahan sampah di laut harus di selesaikan,” kata Karliansyah.

Dalam kunjungannya ke Banyuwangi ini, Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan M. R. Karliansyah melakukan bersih bersih pantai Cemara.

Di sepanjang pinggir pantai tersebut di penuhi pohon cemara berukuran kecil, sedang hingga besar. Bahkan dalam kegiatan tersebut, juga di laksanakan penanaman 20.000 bibit pohon Cemara Udang.

“Keberadaan pohon cemara itu sangat penting guna menahan abrasi serta meminimalisir masuknya air laut ke daratan jika terjadi bencana tsunami,” tutur Karliansyah.

Sementara itu, Karliansyah juga mengapresiasi kondisi di sepanjang pantai Cemara yang tidak di temukan adanya sampah plastic dan hanya di temukan sampah ranting ranting pepohonan.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Banyuwangi Festival 2019 bakal menggelar 99 atraksi wisata, dan 30 persen diantaranya menyasar kelompok Milenial. Sementara, peluncuran agenda Banyuwangi Festival 2019 ini di gelar di Jakarta, Selasa malam (29/1).

Peluncuran Banyuwangi Festival semakin spesial dengan doa yang dibacakan Ustadz Yusuf Mansur.

Dari ke 99 atraksi tersebut, 3 diantaranya masuk dalam 100 kalender event nasional yang di tetapkan oleh Kementrian Pariwisata.

Saat meluncurkan perhelatan Banyuwangi Festival 2019, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi upaya Pemkab Banyuwangi yang terus konsisten mengembangkan atraksi wisata.

“Kunci bagi suatu daerah ingin jadi destinasi unggulan, salah satunya harus mempunyai atraksi unggulan,” ujar Menpar Arief.

“Banyuwangi konsisten menghadirkan hal itu,” imbuhnya.

Bahkan, lanjut Menpar Arief, tiga atraksi di Banyuwangi telah masuk jajaran kalender wisata nasional, yaitu Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Festival Gandrung Sewu, dan International Banyuwangi Tour de Ijen.

“Banyuwangi adalah Kabupetan terbaik di dalam menggelar berbagai festival. Karena untuk ukuran daerah kecil seperti Banyuwangi, ada tiga atraksi yang masuk kalender wisata nasional dan itu merupakan capaian yang luar biasa,” papar Menpar Arief.

Dia juga mengapresiasi Banyuwangi yang telah mendesain atraksi wisata untuk milenial.

“Ini penting karena 50 persen lebih wisatawan itu datang dari kelompok milenial,” kata Menpar Arief.

Sebab itu, Menpar Arief menganggap setidaknya ada 30 persen event Banyuwangi Festival yang telah mengakomodasi kelompok milenial, seperti Jazz Pantai, Jazz Gunung Ijen, bahkan ada Festival Juragan Pintar yang berkolaborasi dengan startup ritel yang digerakkan anak-anak muda.

“Ini sudah ada kesadaran untuk menggarap milenial secara detil,” ungkap Menpar Arief.

“Itu bagus karena mereka konsumen terbesar saat ini dan masa depan. Who wins the future, wins the game,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, atraksi-atraksi di Banyuwangi Festival memang didesain sesuai segmentasi pasar. Ada untuk wisatawan milenial, yakni sekitar 30 persen dari total 99 event untuk segmen milenial.

“Itu pun dipilah, ada milenial penggemar sport, music juga seni-budaya local,” tutur Bupati Anas.

“Ada untuk wisatawan perempuan, penggemar wisata religi. Juga segmen wisatawan dari kalangan birokrasipun di buat kami, sehingga ini saling mengisi,” ujarnya.

Namun menurut Bupati Anas, pihaknya fokus ke kelompok milenial sebagai pasar terbesar.

Sejumlah atraksi wisata di Banyuwangi Festival 2019, antara lain, Jazz Pantai Banyuwangi, Jazz Gunung Ijen, Festival Gandrung Sewu, Alas Purwo Geopark Run, Banyuwangi Ijen Green Run, Blue Fire Ijen Cycling, Banyuwangi Ethno Carnival, Chocolate Glenmore Run, Festival Arsitektur Nusantara, dan Festival Santripreneur.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Dinas Pertanian Banyuwangi menggulirkan program sedekah buah naga, menyusul saat ini tengah berlangsung panen raya buah naga di Banyuwangi.

Dalam artian, hasil panen yang belum terserap pasar dibeli oleh BPP se-Banyuwangi dengan harga di atas pasar, dan dibagikan ke panti asuhan serta masyarakat tak mampu.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan mengatakan, untuk menyerap sebagian hasil panen, pihaknya melalui BPP membeli buah naga dari petani. Kemudian, disedekahkan ke panti asuhan maupun masyarakat yang tidak mampu.

“Sekaligus bagian dari menjaga kesehatan masyarakat karena buah naga mempunyai banyak manfaat bagi tubuh,” ujar Arief.

“Dalam sehari, ada 400 kilogram buah naga dibeli oleh BPP langsung ke petani dan langsung pula dibagikan ke sejumlah pihak, seperti panti asuhan Budi Mulia dan lain sebagainya,” paparnya.

Arief mengaku, jika dilihat jumlahnya dinilai memang belum seberapa. Namun hal ini sebagai upaya jangka pendek yang secara pararel di lakukan pemerintah daerah, diikuti dengan langkah jangka menengah dan panjang seperti pengaturan kembali lahan buah naga, pengembangan buah naga organik yang lebih stabil harganya, sampai peningkatan usaha olahan buah.

Pemkab Banyuwangi berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian juga terus mendorong kontrak-kontrak pembelian baru dalam skala besar bagi petani buah naga Banyuwangi.

“Sebagian besar kontrak didapatkan dari pedagang atau perusahaan asal Jakarta,” ungkap Arief.

Dengan terbukanya pasar baru tersebut, imbuh Arief, dapat mengerek harga di pasaran. Per 24 Januari 2019, kiriman buah naga ke Jakarta dan Surabaya telah mencapai 15.000 kilogram sejak ada kontrak pembelian pada 21 Januari lalu. Rata-rata per hari dikirim 5 hingga 6 ribu kilogram. 

“Selain berbagai kontrak yang sudah didapatkan secara individu oleh petani, Dinas Pertanian terus memfasilitasi kontrak-kontrak baru,” kata Arief.

Dia berharap, apabila kualitas barang memuaskan maka intensitas pengiriman terus ditambah.

“Sehingga Buah naga grade A maupun B semua bisa diterima pasar,” ungkap Arief.

Selain sejumlah pengiriman ke luar kota, Pemkab Banyuwangi juga terus meningkatkan pengolahan hasil panen, termasuk meningkatkan berbagai pelatihan pengolahan hasil panen yang selama ini telah dilakukan.

“Stok buah naga yang melimpah sebagian dibuat kripik, dodol, sirup dan lainnya. Saat ini, pemasarannya terus disiapkan bersama dengan dinas terkait,” tutur Arief.

Selain itu, para petani juga memiliki kreativitas tersendiri untuk mengatasi panen yang melimpah. Kualitas buah naga yang tidak diterima di pasaran, diolah menjadi pupuk organik.

Salah satu kelompok tani yang melakukannya adalah Sinar Cabe dari Sumbermulyo Kecamatan Pesanggaran.

Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian Kecamatan Pesanggaran, Suratijo mengatakan, buah yang kualitasnya di bawah, diolahnya menjadi pupuk organik.

“Pupuknya sendiri digunakan untuk pengelolaan buah naga organik yang saat ini sedang dikembangkan oleh sejumlah kelompok tani. Kreativitas lain yang dilakukan oleh para petani adalah dengan membuka wisata petik buah naga,” papar Suratijo.

Kawasan Pesanggaran memiliki posisi strategis dalam pengembangan wisata petik tersebut karena daerahnya dilalui oleh perlintasan wisatawan yang akan menuju ke pantai Pulau Merah, Sukomade, Mustika maupun ke Teluk Ijo.

Suratijo yang juga menjadi petani buah naga tersebut juga mengaku, perpaduan dengan unsur wisata ini, memberikan nilai lebih pada harga jual buah naga.

“Meski relatif kecil secara jumlah, tapi pengembangan ini bisa dirasakan manfaatnya oleh kelompok tani,” pungkas Surajito.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tiga kepala daerah di Indonesia secara bersamaan ke Banyuwangi untuk menjalin kerja sama.

Mereka melakukan kerja sama tentang penerapan sejumlah inovasi yang telah di kembangkan Banyuwangi untuk diterapkan di masing masing daerahnya.

Ketiga kepala daerah tersebut adalah Bupati Pasuruan (Jatim) Irsyad Yusuf, Bupati Kepulauan Sitaro (Sulawesi Utara) Evangelian Sasingen, dan Bupati Manokwari (Papua Barat) Demas Paulus Mandacan.

Tanda tangan perjanjian kerja sama ini di gelar di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Senin malam (28/1).

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pihaknya baru saja meneken perjanjian kerja sama.

“Era kompetisi sudah usai dan yang diperlukaan saat ini adalah coopetion, kompetisi dan kolaborasi secara bersamaan. Artinya harus maju barsama sama,” papar Bupati Anas.

Dia menambahkan, banyak pula kabupaten lain datang ke Banyuwangi untuk belajar tentang pengembangan e-village budgeting dan e-monitoring system yang mengatur tata kelola pembangunan serta keuangan desa. 

“Sebenarnya tantangan semua daerah itu sama yakni keterbatasan anggaran dan SDM,” kata Bupati Anas.

“Dengan luasnya wilayah yang ada, Pemkab Banyuwangi mengambil skala prioritas di tengah keterbatasan, salah satunya dengan melakukan inovasi,” ungkapnya.

Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf mengatakan, kolaborasi dengan Banyuwangi terkait pengelolaan keuangan daerah.

“Karena Banyuwangi telah berhasil menjalankan pengelolaan keuangan daerah yang berbasis akrual dengan pendekatan teknologi informasi,” tutur Kepala daerah yang biasa di sapa Gus Irsyad tersebut.

Dia mengaku ingin mendapatkan ilmu, bukan saja tentang ide-ide pengelolaan pariwisata namun juga pengelolaan keuangan daerah dari Banyuwangi.

“Sebab pengelolaan keuangan berbasis teknologi informasi sudah menjadi kebutuhan kami,” tutur Gus Irsyad.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bupati Manokwari Demas Paulus.

“Manokwari perlu belajar banyak masalah pengelolaan keuangan kepada Banyuwangi,” kata Demas.

“Secara khusus akan belajar tentang pemanfaatan sistem informasi manajemen perencanaan, penganggaran dan pelaporan keuangan daerah,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Kepulauan Sitaro Evangelian Sasingen mengungkapkan kedatangannya ke Banyuwangi dalam rangka belajar membuat event festival.

“Banyuwangi dengan puluhan festival disetiap tahunnya menjadi inspirasi daerah kami untuk mengembangkan pariwisata daerah,” tutur Evangelian.

“Di Kepulauan Sitaro baru mempunyai satu event festival,” ungkapnya.

Sedangkan di Banyuwangi dinilainya mempunyai banyak sekali festival dan semua bisa diselenggarakan dengan baik dengan melibatkan masyarakat.

“Inilah yang ingin kami pelajari dari Banyuwangi,” imbuhnyua.

Dan kedepan, pihaknya akan membawa stafnya untuk belajar di Banyuwangi.

More Articles ...