Pemkab Banyuwangi berkolaborasi dengan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk menggelar Kelas Kreatif BUMN. Dalam kegiatan yang di gelar di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan Banyuwangi, Minggu (31/3) tersebut, diikuti oleh seribu pelajar, santri, dan anak-anak muda di Banyuwangi.

Acara ini juga dihadiri Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro dan sejumlah direksi BUMN.

Direktur Teknologi dan Informasi BNI Dadang Setiabudi menuturkan, Kelas Kreatif ini merupakan ikhtiar BUMN mendorong semangat kewirausahaan berbasis ekonomi kreatif di kalangan anak muda.

“Di harapkan dapat meningkatkan kompetensi generasi milenial dalam menghadapi persaingan global melalui pembelajaran berbasis keterampilan hidup atau life-skilled based education,” papar Dadang.

Metode kelas dibuat ringan. Ada empat kelas yang dibuka sesuai tren kewirausahaan kreatif yang sedang berkembang, yaitu bisnis dan digital marketing, make-up atau kecantikan, dan fotografi.

“Semua kelas menghadirkan para pakar dan praktisi di bidangnya,” ungkap Dadang.

“Misalnya kopi, mendatangkan praktisi dari PTPN XII yang telah banyak mengekspor kopi ke Eropa,” imbuhnya.

Sekretaris Perusahaan BNI, Meiliana menambahkan, pihaknya juga mengajak peserta untuk tergerak memulai bisnis secara riil, dengan menggelar kompetisi 'Aku Saudagar Muda'.

“Anak-anak muda Banyuwangi ini akan mendapatkan pendampingan selama tiga bulan untuk mempertajam skill dan pemasarannya,” tutur Meiliana.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, kolaborasi dengan BUMN ini didasari pada visi untuk melahirkan sebanyak mungkin generasi baru pengusaha.

“Dalam praktik dunia usaha termasuk para konglomerat, ada pengusaha yang lahir by nasab, artinya kakek-neneknya memang pengusaha. Sehingga anak itu hanya mewarisi dan ini dinamakan family business,” kata Bupati Anas.

“Lalu ada yang menjadi pengusaha by nasib, karena kepepet, juga kalau tidak nekat tidak makan,” ungkapnya.

Bupati Anas menilai, yang paling ideal itu adalah menjadi pengusaha by design. Memang dibentuk dengan pendidikan kewirausahaan, dengan kurikulum, dengan pelatihan dan pendampingan, termasuk yang dilakukan BNI ini.

“Kolaborasi ini tidak berhenti hanya pelatihan, tapi juga dirangkai dalam berbagai program,” tutur Bupati Anas.

Pasalnya kata Bupati Anas, karena visinya adalah melahirkan pengusaha by design, maka programnya berkelanjutan. Banyuwangi mempunyai banyak program tersebut, mulai kompetisi business plan pertanian, kolaborasi dengan startup ritel Warung Pintar, hingga pendampingan santripreneur kopi bersama PTPN XII dan salah satu bank BUMN.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pembangunan industri kereta api terbesar se-Indonesia di Banyuwangi resmi dimulai, yang di prediksikan bisa memproduksi 4 kereta api disetiap hari untuk memenuhi pesanan dari sejumlah negara.

Dan Groundbreaking dilakukan Sekretaris Menteri BUMN Imam Apriyanto Putro dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di areal pabrik yang ada di kawasan Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro, Minggu (31/3/2019).

Pabrik KA milik BUMN PT INKA di lahan seluas 83 hektar dengan investasi Rp 1,6 triliun itu bakal difokuskan menggarap pasar ekspor ke Asia, Afrika, dan Australia.

“Pabrik ini membawa teknologi terbaru hasil kolaborasi dengan Stadler Rail Group, salah satu perusahaan kereta api terbesar dunia,” kata Imam.

“Pasar ekspor INKA dinilai semakin berkembang. Oleh sebab itu kini dibangun pabrik yang baru dan lebih canggih di Banyuwangi,” paparnya.

Imam mengaku sengaja memilih Banyuwangi karena daerahnya mempunyai pelabuhan ekspor sehingga bisa menekan biaya pengiriman.

“Selain itu, komitmen Banyuwangi dalam mendukung investasi juga menjadi pertimbangan,” tutur Imam.

Imam menambahkan, pabrik anyar itu bakal menghasilkan hingga 4 gerbong kereta per hari, jauh lebih besar dibanding pabrik INKA di Madiun yang hanya menghasilkan satu kereta per hari.

Direktur Utama PT INKA, Budi Noviantoro memaparkan, saat ini INKA menerima banyak pesanan kereta untuk ekspor. Salah satunya Srilanka yang memesan 250 kereta dengan nilai USD 100 juta.

“Belum lagi untuk memenuhi pesanan dari Bangladesh dan Filipina,” tutur Budi.

INKA juga menjajaki peluang pasar baru di Afrika, Australia, dan Taiwan. Untuk itulah, Budi berkeinginan pabrik Banyuwangi bisa cepat selesai. Dan ditargetkan, di pertengahan tahun 2020 mendatang sudah jalan produksinya. INKA bakal merekrut 2000 pekerja lokal. Sebagian bakal dikirim magang 3 bulan di Swiss sembari menunggu proses pembangunan pabrik.

“INKA berkolaborasi dengan Pemkab Banyuwangi membuka jurusan perkerataapian di Politeknik Negeri Banyuwangi dan sejumlah SMK,” kata Budi.

Bupati Anas mengatakan, Banyuwangi menyambut INKA dalam kerangka pengembangan sektor pariwisata (tourism), perdagangan (trade), dan investasi (investment).

“TTI atau tourism, trade dan investment itu dipadukan,” ujar Bupati Anas.

Tourism karena di industri ini juga ada Museum Kereta Api terbesar yang bakal menjadi destinasi. Penguatan trade karena ini ekspor, sehingga lewat INKA ini juga pemkab mengirim pesan tentang keuntungan berinvestasi di Banyuwangi yang memiliki pelabuhan laut dalam alami yang bisa disinggahi kapal besar.

“Adapun terkait investment, kehadiran INKA memperkuat Banyuwangi sebagai destinasi investasi yang prospektif. Sehingga antara tourism, trade, dan investment, dinilai sebagai tiga aspek kunci dalam pembangunan daerah, dijadikan dalam satu tarikan nafas,” papar Bupati Anas.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi berkolaborasi dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) membikin serangkaian program untuk membangun visi kewirausahaan kopi di kalangan santri.

Sebanyak 150 santri dari berbagai pondok pesantren di Banyuwangi mengikuti kelas pengolahan kopi, Sabtu (30/3/2019).

Barista papan atas, Rendi Anugrah Mahesa, langsung didatangkan untuk membangun visi kewirausahaan kopi ke kalangan santri.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pemerintah bersama BRI menyiapkan program berkelanjutan. Bukan hanya pelatihan, namun juga memfasilitasi alat dan modal kerja.

“Untuk hulunya, dilibatkan PT Perkebunan Nusantara XII yang dikenal sebagai eksportir kopi Banyuwangi ke Eropa, guna memberikan pemahaman terhadap santri soal perkebunan kopi,” ujar Bupati Anas.

“Selama ini santri dikenal memiliki mental tangguh dan keilmuan tinggi. Tinggal disentuh sedikit saja dengan visi kewirausahaan, mereka bakal menjadi entreprenur muslim penggerak ekonomi umat,” paparnya.

Pemkab merintis hal itu bersama BUMN, dengan beragam program berkelanjutan sampai peringatan Hari Santri pada Oktober 2019.

“Ini juga bagian dari upaya Banyuwangi menerjemahkan visi Presiden Jokowi untuk pemberdayaan ekonomi umat,” kata Bupati Anas.

Rendy Anugrah Mahesa, barista nasional peraih Juara Roasting Throwdown 2018, mengatakan, santri harus melihat kopi ini sebagai peluang bisnis yang besar.

Rendy menceritakan, dulu dirinya sempat ditentang oleh orang tuanya, namun dia justru melihat bisnis kopi ini bakal berkembang.

“Dengan ditunjang passion yang kuat, saya pun keluar dari pekerjaan untuk menekuni bisnis kopi sejak 2013,” tutur Pemilik Shoot me in the Head (SMITH) di Jakarta tersebut.

“Saya mendukung para santri untuk menekuni bisnis kopi,” imbuhnya.

Apalagi, Banyuwangi yang merupakan salah satu penghasil kopi di Indonesia, sehingga akan memudahkan para santri untuk mendapat biji kopi yang terbaik.

Rendy juga mengapresiasi upaya Banyuwangi yang berani mengajak santrinya untuk belajar bisnis kopi.

“Ini perlu didukung, apalagi ngopi adalah kultur yang positif,” kata Rendy.

Di kelas tersebut, Rendy memberikan pengetahuan seputar kopi dan prospek bisnisnya. Selain itu, mereka juga diajarkan praktek manual brewing.

Rendy menceritakan, tingkat konsumsi kopi di Indonesia sekitar 1 kg/orang/tahun. Padahal, jumlah penduduknya 254 juta jiwa.

“Ini artinya, prospek bisnis kopi luar biasa sehingga jangan takut untuk memulai bisnis ini,” ungkap Rendy.

Sementara itu, Wakil Pimpinan Wilayah BRI Kanwil Malang Heru Jatmiko menambahkan, pihaknya membuka kelas untuk santri ini menumbuhkan jiwa entrepreneurship di lingkungan pondok pesantren.

“Kami tidak berhenti disini saja. Kami sudah menggandeng barista dan pelaku bisnis kopi di Banyuwangi, untuk bersama-sama melahirkan santri dan anak muda pengusaha kopi sukses,” papar Heru.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi berkolaborasi dengan startup teknologi ritel Warung Pintar menggelar ajang Hackathon Pintar 1.0, Jumat (29/3) hingga Sabtu (30/3).

Sebanyak 150 orang pengembang teknologi ambil bagian dalam kompetisi untuk mencari solusi dan mengakselerasi kinerja UMKM dan pariwisata di Banyuwangi tersebut.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, jika di Pemerintahan, Hackathon ini semacam Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang.

“Ini Musrenbang gaya baru dengan mengajak anak-anak muda urun solusi lewat teknologi, mengenai apa yang mereka tawarkan dan rencanakan untuk meningkatkan kinerja pariwisata dan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM),” papar Bupati Anas.

Menurutnya, ajang ini adalah wujud pemerintahan kolaboratif. Di era saat ini, tidak bisa lagi pemerintah daerah merasa sok pintar, sehingga yang harus dilakukan adalah kolaborasi. 

Diakui Bupati Anas, pemerintah akan membuat hackathon seri berikutnya. Sekarang UMKM dan pariwisata, nanti ada Hackathon Pelayanan Publik, mencari ide segar layanan warga. Juga membuat Hackathon Anggaran Publik untuk mencari terobosan pengelolaan APBD yang makin akuntabel.

“Dalam dunia teknologi, hackathon adalah ajang pengembangan teknologi untuk tujuan tertentu,” kata Bupati Anas.

Di ajang Hackathon Banyuwangi ini, para pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras berkolaborasi, mulai pemrogram komputer, desainer grafis, hingga desainer antarmuka, untuk menciptakan teknologi bagi pengembangan UMKM dan wisata.

“Ke 150 peserta tersebut tergabung dalam 50 tim. Nantinya di pilih tiga pemenang yang menawarkan solusi paling tepat untuk UMKM dan pariwisata dengan hadiah Rp30 juta,” papar Bupati Anas.

Ajang ini disambut antusias para milenial pengembang teknologi dari berbagai daerah. Seperti Surabaya, Bali, Jember, Banten, Malang, Bandung, dan Balikpapan. Salah satunya Putu Gery Wahyu dari Bandung.

“Selain untuk menuangkan ide-ide, saya ikut hackathon ini untuk traveling. Kebetulan Banyuwangi lagi menjadi buah bibir wisata, makanya kesini sekalian ingin mengeksplorasi destinasi wisatanya,” papar Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Dia bersama dua rekannya membuat aplikasi bernama Jelajah Banyu yang menawarkan kemudahan bagi wisatawan yang ingin mengeksplorasi Banyuwangi.

Misalnya, saat wisatawan klik Pantai Bangsring Underwater, muncul fasilitas apa saja yang bisa dinikmati, mulai diving, snorkeling, hingga melihat baby hiu.

“Sehingga tidak perlu bingung bertanya lagi,”  ungkap Putu.

Chief Technology Officer Warung Pintar Sofian Hadiwijaya menambahkan, peserta kompetisi merupakan tim pilihan yang proposal karyanya telah diseleksi terlebih dahulu.

“Dari 88 tim yang mendaftar, hanya dipilih 50 tim terbaik untuk ikut ajang ini,” tutur Sofian.

Selanjutnya, saat hackathon berlangsung, mereka diberi waktu 24 jam untuk merealisasikan idenya.

“Juri akan melihat originalitas ide, konsep, dan manfaatnya kepada masyarakat Banyuwangi,” pungkasnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Di dorong kesamaan visi, Start Up Warung Pintar dan Pemkab Banyuwangi memaksimalkan potensi bisnis Mikro dan sector Pariwisata, dengan memanfatakan tekhnologi pada era Revolusi Industri 4.0.

Sejak 11 November 2017, Warung Pintar perusahaan start-up teknologi mikro-retail telah memiliki lebih dari 1.200 warung di daerah Jabodetabek. 27 Februari 2019 lalu, Warung Pintar mempertegas komitmennya dengan mengakuisisi Limakilo, sebuah platform yang menyederhanakan rantai pasokan makanan dengan menghubungkan petani ke akses pasar. Akuisisi ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pemilik warung.

Dan pada Sabtu (30/03/2019), Warung Pintar mengumumkan secara resmi berekspansi ke Banyuwangi yang pada tahun 2018 menjadi kota dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Indonesia.

COO & Co-founder Warung Pintar, Harya Putra mengatakan keterbukaan Pemkab Banyuwangi terhadap perubahan dan pemanfaatan teknologi ini menjadi awal yang kuat dari kerja sama dengan Warung Pintar.

“Berkat keterbukaan dan semangat meningkatkan ekonomi, sebulan sebelum diresmikan, 101 warung sudah dapat ditemukan di Banyuwangi. Setelah sebelumnya tercatat ada 800 yang mendaftar,” ujar Harya.

“Pemerintah Banyuwangi juga membuat regulasi khusus yang memberi kesempatan kepada pemilik Warung Pintar untuk membuka di fasilitas umum milik pemerintah,” imbuhnya.

Saat ini masyarakat dapat menemukan Warung Pintar di 6 fasilitas umum, antara lain Taman Blambangan, Stadion Diponegoro, RTH Sayuwiwit, Kantor Kecamatan Genteng, Mal Pelayanan Publik, serta pusat oleh-oleh.

Harya menjelaskan, kolaborasi Warung Pintar dan Pemkab Banyuwangi ini menepis stigma negatif tentang adanya jarak antara masyarakat dan pemerintah.

“Dalam kolaborasi ini, masyarakat dan pemerintah dijembatani oleh Warung Pintar sebagai profesional bersama-sama membangun ekonomi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik,” ungkap Harya.

Kolaborasi ini pun mempertegas bahwa Kota Banyuwangi terus menunjukkan pertumbuhan dan dapat bersaing dengan kota besar di Indonesia.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Tahun 2020 pihaknya optimis ekonomi daerah Banyuwangi akan tumbuh di kisaran 5,5 – 5,7 persen, di atas prediksi ekonomi nasional yang hanya sebesar 5,1-5,5 persen.

“Ini bukti bahwa pemerintah mengerti kondisi dan kemampuan masyarakat sehingga berupaya keras untuk mewujudkannya,” ungkapnya.

Bupati Anas mengaku, Pemkab Banyuwangi pun menggunakan kesempatan ini untuk pertama kalinya bekerja sama dengan start-up, yaitu Warung Pintar.

Untuk mencapai target tersebut, Warung Pintar dan Pemkab Banyuwangi menerapkan strategi hyperlocal berupa pemberdayaan UMKM setempat untuk berjualan di Warung Pintar dan menjadikan Warung Pintar sebagai pusat informasi pariwisata.

“Dengan begitu, UMKM yang bekerja sama dengan Warung Pintar dari berbagai kota dapat saling terhubung dan meningkatkan kapabilitas bisnisnya,” tutur Bupati Anas.

Menurutnya, tidak hanya berjualan produk kebutuhan sehari-hari, masyarakat juga dapat memperoleh produk UMKM setempat seperti kopi, sale pisang, keripik singkong dan produk olahan lainnya di Warung Pintar Banyuwangi.

Bupati Anas menjelaskan, kolaborasi antara Warung Pintar dan Banyuwangi ini hanyalah langkah pembuka dari rencana besar Warung Pintar dalam menghubungkan UMKM lokal di tiap daerah di Indonesia.

Tidak berhenti di siklus hubungan petani dan pemilik warung lokal, Warung Pintar juga berencana untuk membangun infrastruktur sehingga tercipta akses yang lebih baik untuk pendistribusian barang.

“Sesuai dengan visinya, Warung Pintar ingin menciptakan golden standard untuk bisnis mikro di Indonesia dengan memberikan dampak yang lebih besar tiap tahunnya untuk ekonomi masyarakat,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, sebagai tanda peresmian ekspansi dan perayaan berdirinya 101 warung serta sudah lebih dari 800 orang yang antusias mendaftarkan diri untuk membuka Warung Pintar, Sabtu (30/03/2019) digelar acara Festival Juragan Pintar di Gesibu Banyuwangi dari jam 10 pagi hingga 10 malam.

Bertemakan “pesta rakyat”, rangkaian acara ini bertujuan untuk mengedukasi mengenai pintarnya Warung Pintar dan mengingatkan kembali kehangatan warung dari zaman dulu dikemas dengan cara yang menyenangkan.

Terdapat festival Game Pintar, cerita Juragan Pintar, UMKM, kuliner pintar, dan kompetisi e-sport dengan total hadiah 10 juta rupiah.

Festival Juragan Pintar menargetkan sebanyak 2.000 pengunjung, termasuk Juragan Warung Pintar Banyuwangi, Calon Juragan Warung Pintar Banyuwangi, Komunitas Pedagang Banyuwangi, masyarakat Banyuwangi, VIP/VVIP, serta media.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 1000 pelari akan ikut ambil bagian di ajang sport tourism lomba lari Banyuwangi Mandiri Half Marathon. Dalam kegiatan yang akan di gelar pada Minggu pagi, 31 Maret 2019 rencananya dilepas oleh Menteri BUMN Rini Soemarno.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banyuwangi Wawan Yadmadi mengatakan, ribuan pelari dari berbagai kota di Indonesia akan meramaikan event yang baru pertama digelar di Banyuwangi ini. Ajang ini sendiri melombakan tiga kategori. Yakni 21K (half marathon), 10K, dan 5K. 

"Untuk kategori 21 K merupakan kelas khusus bagi pelari maraton profesional yang akan diikuti 100 pelari. Sisanya, adalah peserta kategori 10 K dan 5 K. Mereka semua akan mengambil start dan finish di Taman Blambangan," kata Wawan. 

Even sporttourism yang menjadi salah satu agenda Banyuwangi Festival 2019 ini juga dipastikan bakal semakin meriah karena rencananya dilepas langsung oleh Menteri BUMN Rini Soemarno.

“Selain melepas para peserta marathon, Menteri Rini juga akan mengikuti lomba lari kategori 5 KM,” ujar Wawan.

Ajang maraton ini sendiri menawarkan sensasi kompetisi lari yang berbeda. Start dan finish di Taman Blambangan, peserta diajak menyusuri kawasan perkotaan dan perdesaan Banyuwangi. Mereka akan melintasi jalan-jalan protokol perkotaan, areal persawahan, dan kawasan permukiman penduduk.

 

“Ini yang membedakan ajang ini dengan event serupa di daerah lain. Kalau biasanya ajang marathon hanya melewati jalan-jalan perkotaan, di sini juga disuguhkan suasana perdesaan,” ungkap Wawan.

“Event ini juga mengkombinasikan olah raga dan budaya,” imbuhnya.

Di sepanjang rute, peserta akan dimanjakan dengan beragam budaya dan kesenian daerah. Seperti tari gandrung, barong osing, kuntulan, dan barongsai.

“Sudah kami siapkan 8 spot entertainment di sepanjang rute. Pasti menyenangkan, peserta bisa berekreasi saat berkompetisi,” cetus Wawan.

Race director Mandiri Half Marathon Pandu B. Buntaran menambahkan, para pelari dari tiap kategori akan memulai lomba dengan selisih waktu 15 menit. Meskipun sama-sama melalui jalur dalam kota namun dipastikan pelari di tiap kategori tidak akan saling bertemu.

“Untuk yang half marathon, kami berangkatkan pukul 05.00. Sementara yang 10K akan memulai start pukul 05.30, dan 5K akan dimulai 15 menit setelah 10K," pungkas Pandu.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Pusat segera melakukan berbagai langkah penanganan terhadap persoalan semakin berkurangnga hasil tangkapan ikan lemuru di sepanjang perairan Selat Bali, dengan melibatkan sejumlah Kementrian.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan saat mengunjungi kawasan Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jumat (29/3/2019).

Luhut meninjau pasar ikan, dermaga, dan melakukan temu wicara dengan ribuan nelayan Banyuwangi. Permasalahan ikan lemuru tersebut di keluhkan oleh salah satu nelayan asal Muncar, saat menggelar dialog dengan Menteri Luhut, yang mengaku habitat ikan lemuru berkurang sejak 2005 silam.

“Pemerintah segera menindaklanjuti dengan melakukan penelitian terlebih dahulu, yang tentu melibatkan Kementrian Kelautan dan Perikanan serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT),” ujar Menteri Luhut.

“Sehingga nantinya bisa di ketahui, apakah penyebabnya karena masalah migrasi ikan atau terkait palung laut,” tuturnya.

BPPT adalah Lembaga Pemerintah Non-Kementerian yang berada dibawah koordinasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan teknologi.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Luhut mengajak para nelayan untuk menjaga kebersihan Pelabuhan Muncar yang memiliki potensi sebagai salah satu destinasi wisata daerah.

“Presiden telah mencanangkan program Indonesia bersih dan sehat. Untuk itu masalah kebersihan menjadi aspek yang sangat penting,” kata Menteri Luhut.

“Banyuwangi juga mempunyai peran yang penting untuk kesuksesan program tersebut. Apalagi saat ini Banyuwangi menjadi salah satu daerah tujuan wisata,” paparnya.

Menteri Luhut mengaku, Muncar mempunyai daya tarik pariwisata yang unik. Utamanya, potensi ikan dan budaya lokalnya. Seperti pasar ikan Muncar akan menjadi destinasi wisata yang menarik untuk turis.

Sebab itu, Menteri Luhut meminta harus dijaga kebersihannya, serta tidak membuang sampah plastic ke laut. Karena jika partikel sampah plastic tersebut dimakan oleh ikan, maka akan tersimpan sebagai racun di tubuh ikan.

“Apabila ikan itu dimakan oleh manusia akan menjadi sumber penyakit bagi tubuh, salah satunya Stunting,” imbuh Menteri Luhut.

Dalam kesempatan ini, Menko Luhut juga meminta agar nelayan ikut menjaga tanaman mangrove di sekitar pantai sebagai tempat berkembang biak ikan.

“Saya melihat, dari udara mangrovenya sangat bagus,” pungkas Menteri Luhut.

Terkait masalah sampah, Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan wilayah Muncar saat ini menjadi salah satu fokus penanganan pemerintah daerah. Bersama dengan salah satu NGO dunia asal Norwegia Systemiq, Pemkab terus melakukan pendampingan penanganan sampah laut.

“Program yang dijalankan ini telah berjalan satu tahun dengan mendorong peningkatan kapasitas warga desa dalam masalah pengelolaan sampah,” tutur Bupati Anas.

“Saya bersyukur, meski masih melibatkan 3.214 KK, namun sudah mulai tumbuh budaya di kalangan masyarakat untuk mengurangi serta mengolah sampah di kawasan Muncar,” ungkapnya.

Ditargetkan, ada 22 ribu KK ikut dalam program ini pada akhir 2019. Di TPST Desa Tembokrejo Kecamatan Muncar, sampah yang diangkut dari rumah warga lantas dipilah dan dikelola oleh Bumdes setempat.

Sampah organik dimanfaatkan untuk kompos dan budidaya larva lalat black soldier fly. Larva lalat jenis ini memiliki kemampuan mengurai sampah organik selain juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Sementara yang nonorganik, dipilah sesuai jenisnya untuk dijual.

“Sejak April 2018 hingga Februari tahun ini, jumlah sampah nonorganik yang terjual mencapai 10,4 ton oleh 16 pengepul sampah,” pungkas Bupati Anas.

 

 

More Articles ...