radiovisfm.com, Banyuwangi - Menjelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Pertanian Banyuwangi memberikan surat Legitimasi terhadap para pedagang hewan kurban, jika hewan yang dijualnya dinyatakan sehat oleh tim medis.

Bahkan, pemerintah daerah juga telah melayangkan surat ke masing masing desa dan  kecamatan agar hewan kurban yang di jual para pedagang harus sesuai peraturan yang ada, seperti kondisi hewan harus Asuh yaitu Aman, Sehat, Utuh dan Halal serta umurnya memenuhi syarat sesuai syariah.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan mengatakan, petugas medis dan paramedis dari pihaknya terus melakukan pemeriksaan awal terhadap kesehatan hewan kurban yang dijual oleh para pedagang, yang kini mulai menjamur di wilayah Banyuwangi.

“Setelah hewan hewannya dinyatakan aman untuk dijual, maka kami akan pasang banner untuk memperkuat legalisasi usaha mereka,” ujar Arief. Selain itu menurut Arief, pemeriksaan ini juga melibatkan tim medis dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di masing masing masing kecamatan.

“Di Banyuwangi ada 6 Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang tersebar di sejumlah kecamatan. Masyarakat bisa memanfaatkan RPH terdekat untuk pemotongan hewan kurban, agar prosesnya sesuai dengan yang disyaratkan,” papar Arief.

Sementara itu, populasi hewan sapi dan kambing di Banyuwangi dinilai mencukupi untuk kebutuhan Hari Raya Idul Adha mendatang.

Kepala Bidang Budidaya dan Kelembagaan Ternak Dinas Pertanian Banyuwangi, Nanang Sugiharto menambahkan, populasi sapi saat ini mencapai 119 ribu ekor dan kambing sebanyak  256 ribu ekor.

“Untuk kebutuhan masyarakat Banyuwangi per harinya 4,3 ton daging sapi atau setara 36 hingga 40 ekor sapi. Sedangkan daging kambing sebanyak 2,3 ton atau setara 50 hingga 100 ekor,” ujar Nanang.

Dia mengaku, populasi sapi terbanyak ada di wilayah Kecamatan Wongsorejo yang mencapai 23 ribu ekor dan di Kecamatan Kalipuro sebanyak 19 ribu ekor.

“Populasi kambing terbanyak di Kecamatan Kalipuro yang saat ini mencapai 23 ribu ekor. Juga di Kecamatan Kalibaru, tapi terbanyak adalah domba,” pungkas Nanang.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kementrian Hukum dan HAM memperketat pengawasan terhadap turis mancanegara hingga ke tingkat kecamatan di seluruh daerah, dengan membentuk tim Pengawasan Orang Asing.

Kepala Bidang Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Kemenkum HAM Jawa Timur, Wisnu Daru Fajar, mengatakan, untuk wilayah Jember dan Banyuwangi dari tahun 2017 pihaknya sudah diperintahkan untuk membentuk tim pengawasan orang asing hingga ke level Kecamatan.

“Sektor pariwisata dan investasi yang terbuka di Banyuwangi membuat lalu lintas orang asing semakin tinggi. Sehingga tidak menutup kemungkinan orang asing yang berada di Banyuwangi melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan peraturan,” papar Wisnu.

Untuk itu diperlukan pengawasan bersama yang melibatkan seluruh elemen mulai dari Imigrasi, Dinas Tenaga Kerja dan aparat keamanan,” tuturnya.

Usai menggelar rapat Tim Pengawasan Orang Asing di Banyuwangi, Wisnu menjelaskan, tim tersebut terdiri dari unsur SKPD, Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Camat.

Salah satu fungsi dari tim ini sebagai wadah untuk saling bertukar informasi, saling berkolaborasi, saling bersinergi semua elemen untuk mengawasi kegiatan orang asing yang tidak dikehendaki masyarakat selama berada di Indonesia.

“Di Jawa Timur sampai bulan Juni 2019 ada sekitar 300 orang asing yang melanggar dan sudah dilakukan tindakan administrasi keimigrasian. Jenis pelanggarannya bermacam-macam,” ungkap Wisnu.

“Akibat pelanggaran yang dilakukannya,  orang asing yang bersangkutan langsung dipulangkan,” imbuhnya.

Dijelaskan Wisnu, pelanggaran yang dilakukan seperti pelanggaran karena tidak patuh terhadap izin tinggal yang diberikan atau istilahnya biasa disebut overstay maupun melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan perizinan yang diberikan kepada dia. 

Ada juga yang mantan warga binaan pemasyarakatan yang sudah selesai menjalani hukuman di Indonesia kemudian dipulangkan,” jelas Wisnu.

Secara terpisah, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut baik dengan pengawasan warga asing yang datang ke Banyuwangi.

Ini dilakukan sebagai filter bagi Banyuwangi siapa saja yang datang berwisata ataupun berinvestasi di Kabupaten paling ujung Timur Pulau Jawa ini. 

“Pemerintah daerah selalu memiliki target bidikan wisatawan asing yang mungkin bisa dikatakan santun,” kata Bupati Anas.

“Tidak pada wisatawan asing yang banyak masalah. Segala pengawasan juga dilakukan oleh ASN dilingkup Pemkab Banyuwangi,” tuturnya.

Tidak hanya itu, pengawasan juga dilakukan oleh aparat kepolisian dan TNI di masing-masing wilayah. 

“Para camat yang dibantu forpimka mengawasi hingga ke desa dan kelurahan,” pungkas Bupati Anas.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Cacalan untuk memperkenalkan kawasan kuliner ikan bakar dan jus jambe di kota Banyuwangi. Hal ini sebagai upaya pemerintah daerah di dalam mengembangkan destinasi wisata pantainya.

Festival Pantai Cacalan yang digelar Rabu, (31/07/2019) di Pantai Cacalan Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro ini dibuka Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko. 

Dan festival ini berlangsung meriah. Ratusan pengunjung yang hadir, disuguhkan deretan kuliner ikan bakar. Aroma khas ikan yang dibakar pun meruak di sekitar lokasi. Membuat para pengunjung tidak sabar ingin segera mencicipi ikan bakar yang diolah oleh nelayan setempat. 

Tidak hanya ikan, warung makanan di sana juga menyediakan Jus Jambe segar yang dikenal dengan khasiatnya untuk vitalitas tubuh.

“Festival ini digelar untuk mengenalkan destinasi bahari di sekitar kota, yang dilengkapi dengan kuliner ikan bakar,” ujar Wabup Yusuf.

“Ikan yang dijual juga tergolong fresh, karena langsung dibeli dari nelayan yang melabuhkan kapalnya di kawasan ini,” imbuhnya.

Menurut Wabup Yusuf, dengan dibukanya festival ini secara otomatis, menjadi identitas baru Pantai Cacalan sebagai destinasi yang menyajikan kuliner ikan bakar.

“Wisatawan yang ingin menikmati ikan bakar yang fresh, dan lokasi tidak jauh dari pusat kota bisa datang ke Pantai Cacalan,” tutur Wabup Yusuf.

Dalam kesempatan itu, Wabup Yusuf ikut membakar ikan bersama istri dan nelayan setempat. Dia juga mengingatkan agar pengunjung minum Jus Jambe.

“Meski ada rasa sedikit getir dari jambenya, tapi segar. Cocok untuk mereka yang ingin meningkatkan stamina tubuh,” tutur Wabup Yusuf.

Dia menambahkan atraksi seni akan menjadi agenda tetap yang akan ditampilkan di Pantai Cacalan. Festival Cacalan ini tidak hanya untuk mengenalkan destinasinya saja, namun juga mengenalkan budaya dari warga setempat.

“Sehingga di setiap kawasan destinasi, akan mengangkat budaya yang berbeda, tergantung tradisi warga setempat,” pungkas Wabup Yusuf.

Festival Cacalan dibuka dengan tarian kuntulan dan hadrah kolosal. Sebanyak 200 penabuh hadrah memukul rebana dengan rancak, mereka dengan kompak menyanyikan lagu-lagu Islami mengiringi para penari dengan berlatar belakang pantai. Turis asing yang hadir pun turut menikmati atraksi yang ditampilkan.

Sementara, Camat Kalipuro Hendry Suhartono menambahkan, dengan dibukanya festival ini maka seluruh warung yang ada di pantai Cacalan telah siap menyajikan menu ikan bakar hasil tangkapan sendiri.

“Mereka ini, sebelumnya telah dilatih oleh Dinas Perikanan dan Pangan mengenai cara mengolah ikan bakar dengan higienis,” kata Hendry.

“Pesertanya rata-rata istri nelayan. Mereka diajarkan bagaimana membuat diversifikasi usaha,” paparnya.

Tidak hanya menjual ikan dalam bentuk mentah, namun diedukasi bagaimana ikan lokal di branding secara higienis. Selain dilatih cara membakar, mereka juga diajari bagaimana menjadikan ikan bakarnya berkualitas. Mulai dari cara membersihkannya, membakar, membumbui dan menyajikan ikan bakarnya ala restoran.

“Dan yang pasti, mereka juga diajarkan bagaimana memilih dan membuat jus jambe yang pas di lidah,” pungkas Hendry.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Meski potensi luasan tambak di Banyuwangi mencapai 1.783 hektar, namun ada beberapa permasalahan di dalam budidaya udang sehingga hasil produksinya kurang maksimal. Potensi luas tambak tersebut berdasarkan Perda nomor 8 tahun 2012, sementara yang existing seluas 1.381 hektar.

Dari luasan tersebut tercatat ada di 7 kecamatan yaitu Pesanggaran seluas 40 hektar, Tegaldlimo 85 hektar, Muncar 767 hektar, Rogojampi 200 hektar, Kabat 150 hektar, Wongsorejo 375 hektar dan Kecamatan Banyuwangi 150 hektar.

Kepala Dinas Perikanan dan Pangan (Disperipangan) Banyuwangi, Hary Cahyo Purnomo mengatakan, udang merupakan komoditas dengan nilai ekonomis yang tinggi (high economic value) dan mempunyai pasar yang cukup besar (international dan nasional).

Sementara itu, teridentifikasi beberapa permasalahan dalam budidaya udang di Banyuwangi. Diantaranya, sebagian besar saluran irigasi tambak mengalami pendangkalan dan kerusakan, pembudidaya mengalami trauma terhadap adanya virus dan belum semuanya mengetahui teknologi terkini untuk mengatasinya.

“Serta pembudidaya mengalami kesulitan permodalan,” ungkap Hary.

“Untuk mewujudkan keberhasilan revitalisasi tambak udang, maka di perlukan sinergitas kegiatan baik yang bersifat sectoral maupun lintas sectoral dengan melibatkan seluruh stakeholder, mulai dari pemerintah, swasta dan kelompok pembudidaya,” paparnya.

Hary menjelaskan, sasaran strategis dari pembangunan perikanan di Banyuwangi adalah produksi perikanan budidaya, peningkatan daya saing produk perikanan budidaya, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya, keamanan dan ketahanan pangan, kecukupan gizi masyarakat, penyerapan tenaga kerja juga peningkatan investasi usaha perikanan budidaya, kelestarian sumberdaya perikanan budidaya dan kelestarian usaha perikanan budidaya.

“Kami juga melakukan CSR dengan perusahaan perikanan di Banyuwangi berupa Paket Kolam Terpal (Bundar), pakan ikan dan bibit lele,” tutur Hary.

Data realisasi kegiatan CSR untuk budidaya ikan lele sampai dengan bulan Desember 2018 adalah sebanyak 120 unit dari 50 petambak di Banyuwangi.

Sementara, luasan jalan produksi tambak yang sudah di bangun Dinas Perikanan dan Pangan Banyuwangi adalah sepanjang 600 meter yang berlokasi di Desa Bomo Kecamatan Blimbingsari 300 meter dan di Desa Wringin Putih Kecamatan Muncar 300 meter.

“Saluran tambak yang sudah dibangun sepanjang 600 meter yang berlokasi di Desa Wringin Putih Kecamatan Muncar,” pungkas Hary.

Sementara itu, dari data Dinas Perikanan dan Pangan, produksi budidaya udang ditambak Banyuwangi terus mengalami peningkatan disetiap tahunnya. Ditahun 2015 sebanyak 14 ton, 2016 sekitar 16,5 ton, 2017 sebanyak 17 ton lebih dan di tahun 2018 sebanyak 20,5 ton

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna menumbuh kembangkan potensi di wilayah setempat, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi menggelar program Desa dan Kelurahan Berseri 2019.

Kegiatan ini dilaksanakan di 189 desa dan 28 kelurahan yang tersebar di 25 kecamatan se Banyuwangi.

Kasi Pengembangan Kapasitas dan Informasi Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup Banyuwangi, Samsul Arif mengatakan, kegiatan ini sengaja mengadopsi dari program Go Green Provinsi atau menuju Provinsi Hijau sesuai Pergub nomor 69 tahun 2019.

“Warga di seluruh desa dan kelurahan diharapkan mampu menumbuh kembangkan potensi di daerahnya agar terwujud lingkungan yang bersih dan lestari,” ujar Arif.

“Juga untuk meningkatkan ekonomi hijau di desa kelurahan berseri,” imbuhnya.

Arif mencontohkan potensi sumber daya alam setempat. Misalnya, warga mempunyai keahlian melalui karya karya utamanya para pemuda dan kader lingkungan dan PKK. Maka hasil produk yang di hasilkan bisa dipromokan lewat Bumdes.

“Penilaian Desa Kelurahan Berseri ini dilakukan 2 tahap,” tutur Arif.

Diantaranya adalah evaluasi administrasi yaitu melalui data link yang berisi terkait dengan kelembagaan, pengelolaan lingkungan hidup, pengelolaan sumber daya alam serta kader kader yang aktif di desa dan kelurahan tersebut.

“Yang dijadikan titik pantau di setiap desa dan kelurahan adalah 2 RT dan 2 RW yang di agendakan masuk data link itu,” kata Arif.

Sementara itu, untuk seleksi dokumen atau data link di laksanakan pada 12 Juli 2019. Setelah hasil seleksi administrasi atau verifikasi dokumen maka ditindak lanjuti dengan verifikasi tekhnik lapangan ke desa dan kelurahan yang masuk penilaian 10 besar untuk dilakukan tinjau lokasi.

“Pelaksanaan verifikasi tekhnik lapangan ini dilaksanakan pada 17 hingga 24 Juli 2019,” pungkas Arif.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Meski target Indeks Pembangunan Manusia (IPM) telah terlampaui, namun Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas terus mendorong para camat dan kepala desa untuk meningkatkan pembangunan SDM.

IPM Banyuwangi kini telah mencapai 70,03 persen. Dan pemerintah daerah meminta pendidikan formal serta pembinaan karakter perlu terus dilakukan.

Bupati Anas pun menggelar rapat koordinasi yang dihadiri para camat, para kepala satuan koordinasi wilayah pendidikan (satkorwildik), kelompok kerja kepala sekolah (K3S) jenjang SD, kepala sekolah SMP, camat, kepala desa, serta segenap elemen terkait.

Mereka diajak untuk bisa menyelesaiakan masalah pendidikan dasar salah satunya. Semua diminta harus berkolaborasi menangani anak putus sekolah. Selain anak putus sekolah, penanganan juga harus dilakukan terhadap warga di luar usia sekolah namun belum pernah mengenyam pendidikan di sekolah.

“Berdasarkan hasil survei terbaru, tingkat kepuasan rakyat terhadap pemkab sangat tinggi,” ujar Bupati Anas.

“Tingkat kepuasan terhadap bupati mencapai 84,3 persen, tingkat kepuasan terhadap program pendidikan sebesar 85 persen, dan tingkat kepuasan terhadap program kesehatan lebih dari 80 persen,” imbuhnya.

Hal ini dinilainya sebagai momentum yang baik dan diharapkan tidak menyia-nyiakan kepercayaan rakyat.

Untuk itu, Bupati Anas mengajak untuk bersama sama mengentaskan masalah pendidikan dasar tersebut.

“Di tahun 2018, IPM Banyuwangi mencapai 70,06 persen. Sedangkan di tahun yang sama, angka harapan lama sekolah yang menjadi salah satu alat dimensi pengukuran IPM sebesar 12,69 persen atau setara dengan jenjang diploma satu (D-1),” kata Bupati Anas.

“Pada periode yang sama, rata-rata lama sekolah di Banyuwangi berada pada angka 7,12 persen atau setara kelas dua SMP,” tuturnya.

Untuk mendongkrak IPM tersebut, Bupati Anas meminta para camat, kades, kepala sekolah, dan guru rajin turun lapangan untuk “memotret” lingkungan sekitar.

“Jika ada anak usia sekolah yang putus sekolah, maka diatasi lewat program pemburu anak putus sekolah. Camat, kades bersama jajaran pendidikan diminta harus bergerak bersama,” pinta Bupati Anas.

Dia mengaku, pemerintah daerah memiliki dana on call lewat SAS atau kolaborasi dengan Baznas untuk mengatasi masalah ini. Sementara bagi warga yang usianya sudah di luar usia sekolah tetapi belum pernah sekolah, maka kades, camat, guru, atau kepala sekolah bisa berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan agar mereka segera diikutkan program Kejar Paket A, Paket B atau Paket C.

Tidak hanya pendidikan formal yang menjadi perhatian Bupati Anas, namun karakter juga menjadi hal penting.

“Itu bisa dilakukan dengan mengenalkan budaya sejak dini pada anak,” kata Bupati Anas.

Maka, Bupati Anas berharap semua kecamatan menggelar pentas kebudayaan di wilayah masing-masing. Pentas yang diperuntukkan bagi anak dan remaja ini bisa digelar sepekan sekali atau sebulan dua kali. Kesenian yang ditampilkan pun harus bersumber dari seni atau budaya setempat. B

“Kesenian yang ditampilkan tidak semua harus gandrung karena masyarakat Banyuwangi heterogen sehingga budaya yang berkembang di masyarakat harus diberi panggung,” ujar Bupati Anas.

“Dengan berkesenian, otak kiri dan kanan anak-anak akan berkembang seimbang yang dampaknya bisa meningkatkan karakter yang kuat pada anak-anak,” pungkasnya.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tokoh otomotif nasional, Tinton Soeprapto melakukan peninjauan di beberapa lokasi di Banyuwangi untuk digunakan pembangunan sirkuit Motocross International.

Hal ini merupakan bentuk keseriusan Direktur Utama Sirkuit International Sentul tersebut, didalam rencananya membangun sirkuit di Banyuwangi.

Dia melihat beberapa lokasi yang tepat untuk pembangunan sirkuit tersebut pada akhir pecan lalu. Itu merupakan kunjungan lanjutan setelah Tinton mengunjungi Banyuwangi pada awal Juli lalu.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku, ini adalah kedatangan Tinton untuk yang kedua kalinya sebagai tindak lanjut rencananya, dengan meninjau sejumlah lokasi yang akan di jadikan area sirkuit.

“Saya harap, pembangunan ini bisa berjalan lancar,” ungkap Bupati Anas.

“Sebab penggemar otomotif pasarnya sangat besar dan itu bisa ditarik ke Banyuwangi dengan inisiatif pak Tinton,” paparnya.

Bupati Anas menambahkan, perpaduan antara olahraga motocross dan pariwisata mempunyai prospek cerah. Selain menarik langsung kunjungan penggemar otomotif, hal ini dinilai cukup efektif sebagai penguat positioning Banyuwangi di industri pariwisata nasional.

“ Selain tentu saja menumbuhkan pusat ekonomi baru di sekitar sirkuit itu,” ujar Bupati Anas.

Sementara itu, Tinton Soeprapto mengatakan ingin turut membangun Banyuwangi lewat industri otomotif, khususnya melalui pengelolaan sirkuit motocross berkelas internasional.

“Saya sudah mengecek ke beberapa daerah untuk melihat lahan yang dianggap cocok untuk dijadikan sirkuit,” tutur Tinton.

Lebih jauh Tinton mengatakan, sirkuit yang ingin dibangunnya adalah sirkuit yang menyajikan atraksi secara lengkap.

“Tidak hanya sekedar lokasi untuk olahraga motocross, tapi juga bisa menjadi destinasi wisata,” tutur Tinton.

“Ini gabungan antara sport dan tourism destination,” imbuhnya.

Sehingga orang yang datang bertanding, bisa menginap di hotel yang didirikan di sekitar area sirkuit, juga bisa menikmati sensasi minum coklat atau panen pisang sekaligus.

“Ini adalah atraksi yang sangat disukai orang karena keunikannya. Hotel, pariwisata dan sirkuit semuanya jalan,” pungkas Tinton.

More Articles ...