radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi menggelar Smart Kampung Festival untuk menampilkan berbagai inovasi desa. Kegiatan ini dihelat di Gesibu Banyuwangi, Sabtu - Minggu (27-28/7/2019). 

Saat membuka acara tersebut, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, festival ini menjadi etalase berbagai inovasi pada pelayanan publik dan UMKM kreatif yang ada di tingkat desa.

“Melalui program smart kampung, kami mendorong desa untuk mengadaptasi kemajuan teknologi informasi dalam memberikan pelayanan,” ujar Bupati Anas.

“Desa yang selama ini dianggap kampungan dan tertinggal, ingin kami ubah dengan sentuhan digital,” imbuhnya.

Bupati Anas menjelaskan, belanja desa tidak hanya membeli batu dan semen, sehingga melalui smart kampung ini diharus pula belanja bandwidth untuk memberikan pelayanan berbasis online. 

Program smart kampung ini juga diharapkan untuk menuntut desa dalam memaksimalkan gelontoran Dana Desa.

Sehingga jangan sampai Dana Desa itu tidak berbuah apa-apa bagi masyarakat,” kata Bupati Anas.

Ada 16 smart kampung yang ditampilkan selama dua hari tersebut. Mereka mengusung berbagai inovasi pelayanan publik berbasis digital. Baik untuk memberi layanan administrasi, pemberdayaan UMKM hingga kesehatan. 

Salah satu inovasi yang cukup menarik adalah layanan "Siap Cantik" dari Desa Genteng Wetan.

Siap Cantik yang merupakan akronim dari Sistem Aplikasi Posyandu dengan Pencatatan Elektronik itu, merupakan layanan digital berbasis android. Para ibu hamil maupun ibu balita dapat menggunakan layanan tersebut. Mulai P3K, update perkembangan janin dan balita, imunisasi hingga cek nutrisi. 

Yang tidak kalah menariknya adalah inovasi yang dilakukan oleh Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Desa ini memberikan layanan dan pelaporan berbasis online. Melalui aplikasi android, warga bisa meminta berbagai jenis layanan administratif cukup dari rumah. 

Kepala Desa Ketapang Selamet Kasiyono mengatakan, warga tinggal memasukkan Nomor Induk Kependudukan dan layanan pun bisa diberikan dimanapun serta kapanpun.

Keenambelas stand smart kampung yang tampil dalam festival tersebut, merupakan desa terpilih. Mereka merupakan pemenang kompetisi smart kampung yang dihelat setiap tahun sejak 2017.

Ini juga sebagai referensi bagi desa-desa lain di Banyuwangi untuk melakukan studi tiru terhadap desa yang telah sukses menerapkan smart kampong,” pungkas Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kusyadi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah pusat sepakat Banyuwangi menjadi pilot project untuk General Aviation alias penerbangan non terjadwal berbasis tourism, guna mendukung pariwisata Indonesia.

Diharapkan, dengan adanya akses General Aviation yang merupakan pesawat non komersil yang dimiliki orang pribadi ini, bisa dimanfaatkan untuk berangkat dengan base nya di Bandara Banyuwangi.

Usai membuka seminar “General Aviation for Tourism” yang digelar di Banyuwangi, Jumat (26/7/2019), Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, jika itu sudah terjadi maka akses penerbangan akan semakin baik terutama ke daerah yang relative jauh dari Banyuwangi, seperti daerah yang banyak kepulauan.

“Ini akan memudahkan Banyuwangi menarik wisatawan dari dan ke Bali, terutama wisatawan premium karena tarifnya yang tinggi,” ungkap Menpar Arief.

“Penerbangan tak berjadwal ini akan menguntungkan bagi perkembangan pariwisata Banyuwangi. Karena pesawat-pesawat itu akan menghubungkan Banyuwangi dengan daerah sekitarnya, seperti Bali dan Lombok,” paparnya.

Seminar itu juga dihadiri Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) II Mohamad Awaluddin, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan berbagai pelaku industri penerbangan di Indonesia.

“Seperti di Maldive yang transportasinya adalah pesawat. Kemana mana taksinya sea plane,” kata Menpar Arief.

Diakuinya, General Aviation ini memang cocok digunakan untuk kawasan kepulauan. Dan apabila di Banyuwangi berhasil, maka nanti akan di copy ke kepulauan lain.

“Seperti Wakatobi, Bunaken, Raja Ampat, Maldive, Kepulauan Riau, Bintan, Batam serta di beberapa daerah yang banyak pulaunya,” tutur Menpar.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut gembira rencana tersebut. General aviation akan membuka akses ke kawasan wisata yang potensial, namun masih terbatas aksesnya. 

“Ini pas untuk di Banyuwangi karena ada sejumlah destinasi yang indah namun terbatas menjangkaunya. Misalnya di Taman Nasional Alas Purwo dan Meru Betiri,” ungkap Bupati Anas.

“Sehingga dengan pesawat ini, tentunya akan semakin tumbuh destinasi baru di Banyuwangi,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) II Mohamad Awaluddin menjelaskan sejumlah faktor dipilihnya Banyuwangi sebagai pilot project. Selain dari sisi kesiapan operatornya dalam hal ini adalah AP II, fasilitas Bandara Banyuwangi juga dinilai telah memadai. 

“Secara institusi kami melihat berbagai hal,” kata Awaluddin.

Diantaranya, konsep General Aviation tourism ini akan membuka satu wacana berpikir baru tentang sharing ekonomi di transportasi udara, karena orang akan menikmati terbang dengan kebutuhan pariwisata tidak perlu mempunyai pesawat sendiri dan bisa menyewa.

“Ini adalah satu bagian yang harus di kolaborasikan bersama dengan berbagai pihak, karena tidak mungkin dilakukan sendiri,” ujar Awaluddin.

Contohnya regulasi yang masih membatasi, yang masih mengatur jenis pesawat serta regulasi yang mempertimbangkan factor safety yang harus menjadi factor sangat kuat untuk mengawal keselamatan penerbangan pesawat General Aviation.

“Bahkan factor fiskal pajak untuk pengadaan pesawat pun juga masih cukup tinggi,” pungkas Awaluddin.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Menteri Pariwisata, Arief Yahya di pastikan akan membuka perhelatan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2019 bertemakan The Kingdom of Blambangan.

Satu di antara Top 10 Event Pariwisata Nasional tersebut bakal tersaji kepada masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi pada Sabtu (27/7/2019), mulai pukul 12.00 WIB.

Dengan mengangkat tema “The Kingdom of Blambangan”, sekitar 120 talent menyajikan kostum indah dan megah.

Bukan hanya sedap dipandang, kostum yang terbagi dalam sepuluh sub tema itu sarat makna historis tentang kejayaan Kerajaan Blambangan, yang merupakan cikal bakal Banyuwangi. Para talent bakal berparade di jalan-jalan pusat Kota Banyuwangi. Tepatnya dari garis start di kawasan jalan Veteran area Taman Blambangan, lalu menuju jalan PB Sudirman, dan finish di Stadion Diponegoro melalui jalan Jaksa Agung Suprapto.

“BEC merupakan salah satu atraksi wisata budaya daerah yang dibalut dalam kemegahan karnaval modern,” kata Bupati Abdullah Azwar Anas.

“Tahun 2019 ini adalah penyelenggaraan BEC kali kesembilan yang di kemas lebih atraktif dari tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Tahun ini BEC mengangkat tema “Kingdom of Blambangan”. Tema besar King of Blambangan ini lalu dipecah menjadi 10 sub tema yang dituangkan dalam 120 busana etnik.

Bupati Anas menjelaskan, disetiap sub tema dibuatkan satu panggung yang tersebar di sepanjang rute yang dilalui. Sehingga penonton bisa mengeksplorasi setiap sub tema yang ditampilkan dan bisa menjelajah satu panggung ke panggung lainnya.

Kemeriahan parade busana etnik kontemporer ini akan diwarnai penampilan istimewa. Acara dibuka dengan sendratari berkisah tentang “Amuke Satria Blambangan”. Selanjutnya menyusul parade talent kehormatan yang dibawakan antara lain oleh Putri Pariwisata Indonesia 2018 dan Miss Toursm and Culture Indonesia Tahun 2019.

 Barisan selanjutnya adalah parade ratusan talent yang menggambarkan tema The Kingdom of Blambangan. Mereka membawakan kostum yang tersaji dalam 10 tematik yaitu kedhaton (kerajaan), raja, putri, resi sapta manggala, pusaka kerajaan, pelabuhan Loh Pampang, pura agung Blambangan, kapal Jong Blambangan, setinggil, dan nelayan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Muhammad Yanuarto Bramuda menambahkan, event BEC yang sekaligus menjadi ajang promosi wisata Banyuwangi ini sangat menarik perhatian para wisatawan domeatik dan mancanegara. 

“Karnaval megah ini dipastikan disaksikan ribuan wisatawan. Para penonton bisa menyaksikan parade ini pada 10 panggung yang disediakan di sepanjang jalur yang dilewati,” papar Bramuda.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi melakukan perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) karena target kinerja pada saat penyusunan RPJMD tahun 2016-2021 telah tuntas sejak tahun 2017.

Dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Perubahan RPJMD di Banyuwangi, Kamis (25/7/2019), Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, ada tiga hal yang melandasi perubahan tersebut, yakni penyesuaian regulasi penyusunan RPJMD, hasil evaluasi yang menunjukkan adanya isu-isu yang telah tercapai, serta munculnya prioritas dan arah pembangunan baru yang berimplikasi pada desain kelembagaan.

“Target kinerja yang telah terlampaui antara lain Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2018 telah tercapai 70,03 dari target RPJMD yang 68,31. Angka kemiskinan yang kini sudah 7,8 persen, dari target yang 8,55 persen,” ujar Bupati Anas.

“Indeks Pembangunan gender tercapai 90,72 dari targetnya yang 85,86. Begitu halnya dengan Indeks Kepuasan Masyarakat tercapai 80,08 dari target 79,23,” imbuhnya.

Bupati Anas memaparkan, selain penuntasan target kinerja, perubahan RPJMD juga dilakukan karena dari hasil evaluasi menunjukkan munculnya isu-isu baru yang urgen untuk dituntaskan hingga akhir periode RPJMD 2021.

“Untuk itu, kami melakukan penajaman sejumlah program untuk dimasukkan dalam RPJMD,” kata Bupati Anas.

Selain fokus pada pengembangan SDM, revisi RPJMD kali ini juga berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian perekonomian nasional, pengembangan pariwisata menjadi opsi yang diambil Banyuwangi dalam pengembangan ekonomi.

“Untuk itu, setiap dinas diharapkan harus bisa menjadi dinas pariwisata, setiap tempat adalah destinasi dan setiap aktivitas harus bisa menjadi atraksi,” ungkap Bupati Anas.

Pariwisata sendiri, imbuh Bupati Anas, tidak melulu di destinasi wisata yang telah ada. Namun, harus bisa dikembangkan hingga di tingkat desa. Melalui BUMDes, bisa menjadi penggerak utama pariwisata di seluruh pelosok desa.

Bupati Anas menjelaskan, Menteri PDT telah menyampaikan bahwa dana desa tahun depan akan meningkat menjadi 400 triliun.

“Ini bisa menjadi modal penting bagi desa untuk membangun destinasi wisata dan infrastruktur lainnya guna meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Sehingga semua desa harus bisa menjadi desa kreatif. Segala potensi yang dimiliki bisa dikreasikan menjadi destinasi wisata yang unik dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” papar Bupati Anas.

Dia juga mengharapkan, semua warga dan pengunjung bisa menjadi public relation (PR) bagi pariwisata Banyuwangi. Promosi dinilainya penting untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Namun yang lebih penting adalah testimoni dari setiap pengunjung.

“Untuk itu, perlu adanya peningkatan layanan. RPJMD juga menyoroti upaya pengentasan kemiskinan,” tuturnya.

Selama ini, penurunan angka kemiskinan di Banyuwangi menjadi rujukan provinsi dan nasional. Pada 2018, angka kemiskinan di Banyuwangi berkisar pada 7,8 persen dengan laju penurunan rata-rata 4,1 persen. Meski demikian, berbagai inovasi perlu terus ditingkatkan.

Bupati Anas memaparkan, selain inovasi seperti rantang kasih, UGD Kemiskinan dan layanan prioritas lainnya yang telah dikembangkan, pengembangan sektor UMKM menjadi fokus ke depannya.

“Pelibatan CSR juga perlu terus didorong untuk mempercepat upaya mengurangi kemiskinan,” kata Bupati Anas.

Fokus keempat dari perubahan RPJMD kali ini adalah meningkatkan kualitas pelayanan. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mengubah mindset para Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam memberikan layanan. ASN diharapkan bisa menerapkan konsep sikap yang ditulis oleh Daniel H. Pink dalam “A Whole New Mind”. Di mana, ASN dituntut untuk meningkatkan kualitas diri.

Bupati Anas mengaku, bukan hanya fungsi namun juga desain. Bukan hanya argument namun juga cerita. Tidak hanya fokus, tapi juga simfoni. Tidak hanya logika, tapi juga empati. Bukan hanya keseriusan, tapi juga empati. Dan, tidak hanya akumulasi, namun perlu juga makna.

“Selain perubahan sikap sendiri, untuk peningkatkan pelayanan, diperlukan peningkatkan infrastruktur fisik dan teknologi informasi,” jelas Bupati Anas.

“Tapi melihat coverage Banyuwangi yang begitu luas, pemerintah daerah perlu mensinergikannya dengan pemerintah provinsi dan nasional,” pungkasnya.

Perubahan RPJMD 2016 – 2021 Pemerintah Kabupaten Banyuwangi ini, merupakan mandat dari Permendagri 86 Tahun 2017. Selain itu, juga untuk menyesuaikan dengan visi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia Terpilih 2019 – 2024, serta RPJMD Provinsi Jawa Timur yang beberapa waktu lalu ditetapkan.

 

 

 

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi mendapat predikat kekeringan ekstrim dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), karena daerahnya memiliki curah hujan yang lebih sedikit dibanding kecamatan lain.

Kecamatan Wongsorejo ini memiliki luas wilayah 462,58 Km2 yang terbagi dalam 12 desa. Wilayah kecamatan ini dilewati beberapa sungai seperti Sungai Bajulmati, Sungai Sodong, Sungai Maelang (Kali Maelang), Sungai Tangkup, Sungai Curah Badolan, dan Sungai Curah Alasbuluh.

Camat Wongsorejo Banyuwangi, Sulistyowati mengatakan, predikat kekeringan ekstrim tersebut di berikan BMKG karena hujan di wilayah setempat hanya terjadi selama 4 bulan. Sedangkan kekeringan berlangsung hingga 8 bulan.

“Meski demikian, di Wongsorejo tidak pernah kehabisan air bersih karena yang di bor adalah sumur bawah tanah hingga mencapai 100 meter, sehingga tingkat serapannya cukup tinggi,” ujar Sulistyowati.

Meski demikian, Sulistyowati tidak menampik jika memasuki musim kemarau panjang seperti saat ini, ada beberapa desa di wilayahnya yang mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih.

Seperti yang terjadi di 3 desa yaitu Desa Sidowangi tepatnya di Dusun Pancoran, juga Dusun Jatian Desa Bangsring dan Dusun Karangrejo Selatan Desa Wongsorejo. Disaat musim kemarau panjang seperti saat ini, sumur warga mengalami kekeringan.

“Untuk di Dusun Pancoran, air bersih baru bisa keluar setelah di lakukan pengeboran sumur sedalam 100 meter,” kata Sulistyowati.

Untuk itu, warga setempat selama ini mendapatkan pasokan air dari sumber di sungai pasewaran melalui pipa. Sementara memasuki musim kemarau ini, sumber mata air mulai berkurang sehingga disaat sampai ke pemukiman warga kondisi air sudah kotor.

Sedangkan untuk masyarakat di Dusun Jatian menggantungkan air dari mata air di perkebunan selogiri melalui pipa berjarak kurang lebih 15 KM dari pemukiman penduduk.

“Kalau di tengah hutan pipanya putus atau di sumbernya tidak keluar air, maka masyarakat setempat sudah tidak bisa mendapatkan air bersih,” tutur Sulistyowati.

Sementara untuk di Dusun Karangrejo Selatan, masyarakat setempat menggantungkan pasokan air dari sumur bor yang di bangun oleh pemerintah daerah.

Kecamatan Wongsorejo ini merupakan ujung utara dari wilayah Kabupaten Banyuwangi. Kawasan ini kurang produktif untuk usaha pertanian, oleh karena itu peruntukan kawasan ini untuk industri dan peternakan.

Sementara keberadaan waduk Bajulmati di desa Bajulmati, diharapkan debit air dari waduk tersebut dapat mensuplai kebutuhan air baku untuk industri dan pertanian di wilayah Kecamatan Wongsorejo.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tenaga kesehatan dan kader PKK di Banyuwangi menyatakan sikap untuk memerangi stunting. Bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Ketua TP PKK Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menandatangani piagam kesepakatan penanganan stunting di Banyuwangi.

Penandatanganan itu juga melibatkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), kepala puskesmas se-Banyuwangi, dan para camat. Mereka bersepakat mendorong percepatan penanganan stunting di Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyebutkan penanganan stunting dinilainya menjadi program yang penting bagi Pemkab Banyuwangi.

“Penanganan stunting ini sesuai dengan arahan Presiden Jokowi,” ungkap Bupati Anas.

Penanganannya yang masuk dalam program kesehatan ibu dan anak menjadi salah satu prioritas pembangunan yang masuk dalam target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

“Sebab ini menyangkut investasi masa depan negara,” ujar Bupati Anas.

Stunting adalah kondisi dimana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan seusianya. Penyebabnya adalah kekurangan gizi kronis sejak dalam kandungan hingga anak lahir dan ini terlihat ketika anak memasuki usia 2 tahun.

Bupati Anas berharap, penanganan stunting ini dilakukan kolaborasi banyak pihak. Mulai dari kecamatan, puskesmas, desa, bidan, kader PKK hingga tokoh masyarakat turut dilibatkan supaya penanganannya akan menjadi mudah.

“Sebab kesehatan ibu dan anak memang menjadi prioritas yang diharapkan target ke depan bisa tercapai,” tutur Bupati Anas.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Banyuwangi, dr Juwana mengatakan Banyuwangi telah mengambil langkah lebih dahulu untuk mendorong percepatan penanganan stunting. 

Meskipun, Banyuwangi bukan lokus stunting di Jawa Timur, yang standardnya telah ditetapkan adalah 28 persen.

“Ini tetap harus diwaspadai. Sebab di tahun 2030, Indonesia akan mendapatkan puncak bonus demografi, dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding usia non produktif,” papar Bupati Anas.

“Diharapkan anak-anak yang berusia produktif pada saat itu adalah anak-anak yang sehat,” imbuhnya.

Juwana menyebutkan, kasus stunting biasanya ditemukan di daerah dataran tinggi. Di kawasan tersebut, biasanya konsumsi yodium, air yang tidak sehat, banyaknya zat-zat yang menghambat penyerapan gizi (blocking agent) dan konsumsi ikan laut tergolong rendah. Di mana kekurangan zat-zat tersebut mengakibatkan stunting.

“Untuk itu kami lebih banyak focus ke kawasan dataran tinggi,” kata Juwana.

Salah satunya dengan menggerakkan tukang sayur (wlijo) di daerah tersebut. Wlijo ini akan membantu distribusi ikan laut atau garam beryodium yang cukup bagi penduduk di kawasan yang rawan stunting.

Juwana lalu menjelaskan sejumlah upaya pencegahan yang dilakukan Dinas Kesehatan Banyuwangi terkait stunting.Yakni, memastikan asupan nutrisi pada ibu hamil, saat bayi lahir dan disusui serta pemberian makanan tambahan hingga 1.000 hari pertama kehidupan bayi.

“Untuk program ini, kami telah mengajak kader PKK dan posyandu untuk rajin memantau perkembangan gizi serta nutrisi ibu hamil dan balita di daerahnya masing-masing,” ujarJuwana.

“Jika ada kecenderungan stunting, diminta untuk segera melaporkan ke puskesmas atau pihak kecamatan dan desa setempat agar segera diatasi bersama,” pungkasnya.  

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi menggelar pelatihan pengolahan kopi yang dikemas dalam event Coffee Processing Festival 2019, guna melatih para pelaku usaha kopi hingga menghasilkan kualitas yang semakin meningkat.

Pelatihan ini mulai dari pengolahan hingga pengemasan produk agar siap memasuki industri kopi. Kegiatan ini di gelar di Rumah Kreatif Banyuwangi, Kamis (25/7/2019) dengan melibatkan puluhan pelaku usaha kopi dengan mendatangkan barista nasional Muhammad Agha.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, usaha dan industri berbasis kopi tumbuh pesat di Banyuwangi sejak beberapa tahun terakhir. Pemkab pun berupaya hadir untuk mendorong para pelaku usaha berbasis kopi naik kelas agar daya saingnya meningkat.

“Beberapa rumus di kegiatan ini lebih meningkat dibanding tahun kemarin yang hanya menyiapkan biji kopi lalu di proses menjadi baik dan benar,” ungkap Bupati Anas.

“Tapi untuk tahun ini, sudah pada tingkat bagaimana menyajikan dan mencampur kopi dengan yang lain untuk bisa menghasilkan rasa yang berbeda,” tuturnya.

Untuk itu, Bupati Anas berharap dengan adanya kegiatan ini bisa tumbuh Start Up dan pengrajin kopi hingga semakin meluas.

Bupati Anas menjelaskan bahwa pemkab setiap tahun menggelar festival yang berkaitan dengan kopi untuk mengungkit sektor kreatif di Banyuwangi.

“Hasilnya, pelaku usaha kopi di banyuwangi dinilai tumbuh pesat. Jumlah UMKM kopi di Banyuwangi sendiri terus tumbuh,” kata Bupati Anas.

Pada 2013 jumlahnya tidak sampai 10, namun sekarang sudah mencapai lebih dari 40 UMKM. Kafe yang menyajikan kopi juga mulai menjamur di penjuru kabupaten.

“Untuk itu, kami juga mengajak puluhan pelajar di pelatihan ini, berupaya untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur di kalangan mereka mengingat potensi bisnis kopi yang trennya positif,” papar Bupati Anas.

Dia menambahkan, pemkab telah memiliki klinik kopi yang didalamnya dilengkapi sejumlah peralatan pemrosesan kopi. Ke depan, pemkab akan membantu menyediakan alat-alat kopi berdasar cluster.

“Sehingga bagi pelaku usaha yang tidak mempunyai dana untuk investasi peralatan, bisa dibawa ke klinik kopi. Selain itu, anak-anak dengan mudah dan cepat bisa menjadi wirausahawan kopi,” pungkas Bupati Anas.

Sementara itu, para peserta mengaku memanfaatkan pelatihan ini untuk menambah wawasan mereka. Salah satunya adalah Ibu Suhatin, pengusaha kopi asal Kalibaru, Banyuwangi.

“Saya telah mendapatkan manfaat dari pelatihan dan pendampingan yang dilakukan Dinas Peridustrian dan Perdagangan (Disperindag),” kata Suhatin di depan Bupati Anas dan para peserta.

Suhatin menuturkan berawal dari keprihatinan yang menjual biji kopi, kini dirinya memulai usaha kopi kemasan dan cafe. Saat itu, biji kopi hasil kebunnya hanya dibeli seharga Rp 25 ribu per kilogram (kg).

“Setelah ikut pelatihan dirinya mulai belajar mengolah dan menjemur sendiri dengan dibimbing staf Disperindag hingga cara pengemasannya. Misalnya apabila dijual ke café harus ukuran berapa, kalau untuk oleh-oleh ukuran berapa,” papar Suhatin yang memiliki brand Kopi RDK (Rumah Durian Kalibaru) tersebut.

Dia mengaku, saat ini mampu menjual 100 Kg lebih kopi. Satu kemasan bubuk kopi seberat 2 ons dijual seharga Rp 22 ribu. Artinya, harga bubuk kopi per Kg mencapai Rp 110 ribu.

Namun Suhatin mengaku belum puas. Tahun ini dia kembali mengikuti Coffee Processing Festival untuk belajar hal lain yang belum dia kuasai. Salah satunya adalah belajar membuat cappuchino.

“Seberapa hari lalu ada rombongan turis ke café saya dan ingin minum cappuchino tapi saya tidak mengetahui caranya. Untuk itu, saya belajar agar ke depan bisa membuat cappuchino sehingga tidak ada lagi pengunjung yang kembali,” ungkap Suhatin.

Selama mengikuti pelatihan tiga hari ini, para peserta akan mendapatkan sejumlah materi tentang memproses hingga pengemasan kopi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, dan Setiawan Subekti, pelaku usaha kopi asal Banyuwangi.

Bahkan juga ada kelas barista yang mendatangkan barista nasional Muhammad Agha.

“Saya akan mengajari para barista untuk meningkatkan kualitasnya,” ujar Agha.

Karena menurut Agha, seiring dengan perkembangan Banyuwangi, baristanya pun harus mempunyai kapasitas yang berskala nasional.

“Saya sharing materi soal kompetisinya, yang diharapkan ini bisa jadi inspirasi bagi barista di Banyuwangi,” pungkas Agha.

 

More Articles ...