radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi menggelar Young Enterpreneurship Festival, guna melatih generasi Milenial mengenai berbagai keahlian di bidang e-commerce dan aneka keterampilan praktis lainnya di dalam menyambut era industry 4.0.

Kegiatan ini digelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sayu Wiwit Jalan Ahmad Yani tepat depan Kantor Pemkab Banyuwangi, pada 20-21 Maret 2019.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, saat ini dunia tengah memasuki era industri 4.0 yakni sebuah era industri yang didominasi penggunaan teknologi digital dan internet. 

“Di era ini generasi muda dihadapkan oleh tantangan dan persaingan usaha yang semakin berat. Sehingga mereka perlu dibekali dengan ketrampilan yang tepat untuk memasuki era industri ini,” papar Bupati Anas.

Salah satu yang dilakukan oleh Banyuwangi adalah dengan menggelar Festival Young Enterpreneurship. Di even ini, generasi milenial dibekali ilmu dan keahlian praktis dunia online salah satunya pelatihan e-commerce.

Pelatihan ini diikuti oleh 120 peserta yang terdiri dari masyarakat umum, santri dan ibu-ibu milenial.

“Pemerintah sengaja menyasar tiga segmen itu karena ketiganya mempunyai potensi yang sangat bisa dikembangkan. Tidak hanya pemuda umum, tapi santri dan ibu-ibu muda generasi milenial juga perlu mendapatkan bekal pelatihan untuk bisa mandiri,” ujar Bupati Anas.

Sedangkan untuk pemateri pelatihan diisi oleh pihak yang mumpuni di bidang e-commerce, di antaranya dari Google dan Start Up Warung Pintar.

“Kami ingin para generasi milenial ini mendapatkan ilmunya langsung dari pelaku utama di dunia online, seperti Google yang menjadi perusahaan arus utama di bidang teknologi komunikasi dan internet,” ungkap Bupati Anas.

Sedangkan Start Up Warung Pintar merupakan perusahaan yang mengembangkan jejaring warung berbasis teknologi dan internet.

“Pengalaman dari keduanya tidak perlu diragukan,” tuturnya.

Selain pelatihan e-commerce, Festival Young enterpreneurship juga menghadirkan sharing session dari komunitas usaha yang ada di daerah seperti komunitas desainer, desain grafis, barbershop, clothing, arsitek muda, kuliner kreatif, photografi dan barista. Sharing sesion ini sebagai bekal inspirasi usaha bagi generasi milenial.

“Jika di pelatihan e-commerce para pemuda dibekali cara pemasaran secara online. Sedangkan untuk inspirasi apa yang akan dipasarkan lewat e commerce itu, bisa didapat dari sharing session ini,” kata Bupati Anas.

Peserta dikenalkan beragam usaha dan cerita jatuh bangun hingga kesuksesannya.

“Ini sebagai alternatif inspirasi usaha diluar e-commerce,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Banyuwangi Budi Santoso menambahkan, Festival Young Enterpreneurship berlangsung selama dua hari yakni 20 dan 21 Maret. Selain pelatihan e-commerce dan sharing session juga dimeriahkan performance live musik dan art competiton.

“Juga ada enterpreneur booth yang memamerkan produk dan usaha enterpreneur local,” ujar Budi.

“Diantaranya komunitas desainer, desain grafis, barbershop dan lainnya. Peserta bisa melihat proses produksi hingga hasil produknya,” imbuhnya.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Alunan musik tradisional Banyuwangi yang mengiringi tari Keter Gandrung yang di tarikan 7 orang penari Sanggar Jinggo Sobo Srono, mampu memukau para pengunjung acara Archipelago Exhibition  (ARCHEX) 2019, yang di gelar di Aula Hasanuddin Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Senin (18/03/2019).

Tampak Dubes Rusdi Kirana yang didampingi para pejabat KBRI serta tamu dari Kementerian Budaya dan Pariwisata Malaysia serta pejabat Kemenpar RI, sangat menikmati tarian khas Banyuwangi tersebut.

Acara archipelago exhibition 2019 ini merupakan kegiatan yang bertujuan mempromosikan wisata dan budaya Banyuwangi di Malaysia yang digelar KBRI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan Kemenpar RI.

Selain tampilan kesenian tradisional Banyuwangi, diacara yang akan berlangsung hingga 19 Maret 2019 tersebut, juga memamerkan berbagai produk UMKM Banyuwangi, seperti batik Banyuwangi, kopi, souvenir dan lain lain.

Paket-paket wisata Banyuwangi juga ditawarkan ke publik Malaysia oleh Tour operator Banyuwangi yang sengaja datang untuk berbagai event promosi wisata di Malaysia.

Tampak pula perwakilan beberapa hotel bintang 3 dan 4 di Banyuwangi yang sibuk melayani pertanyaan para pengunjung.

Dalam sambutannya Dubes Rusdi Kirana menyampaikan bahwa, Banyuwangi memiliki potensial wisata alam dan budaya yang sangat potensial.

Contohnya pantai G-Land sebagai landmark surfing internasional dan Alas Purwo sebagai taman nasional, serta blue fire Ijen yang merupakan fenomena alam yang tiada duanya di dunia,” ujar Dubes Rusdi.

“Banyuwangi juga dekat dengan Bali,”  imbuhnya.

Dihadapan para pengunjung pameran dengan mengenakan udeng kebanggaan warga Banyuwangi Rusdi Kirana menjelaskan bahwa, selain destinasi wisata alam, Banyuwangi juga memiliki seni budaya yang menarik terutama tarian tradisionalnya.

Selain Gandrung, ada seblang, kuntulan, damarwulan, angklung caruk, dan lain sebagainya.

Tampilan kesenian tradisional Banyuwangi di KBRI ini, merupakan rangkaian perjalanan promosi budaya dan wisata Banyuwangi di Malaysia, mulai dari event pameran wisata Malaysia Tour and Travel (MATTA)  Fair tanggal 15 – 17 Maret kemudian Archipelago Exhibition  (ARCHEX) 2019 mulai 18 – 19 Maret dan Banyuwangi Cultural Week di di Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 20 – 24 Maret 2019. 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi merapatkan barisan untuk menyukseskan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) pada 17 April 2019 mendatang.

Beberapa kesatuan di bawah pemerintah kabupaten yang memiliki kompetensi dalam bidang keamanan mulai turut disiagakan.

Hal tersebut terungkap dalam gelar pasukan yang dirangkai dengan peringatan hari lahir Satuan Pemadam Kebakaran (Damkar) ke-100, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) ke-60 dan Satuan Perlindungan Masyarakat (Sat-Linmas) ke-57 di Taman Blambangan, Senin (18/3/2019). 

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiyatmoko yang menjadi inspektur upacara meminta berbagai kesatuan tersebut, untuk menjadi agen aktif dalam menyukseskan Pemilu.

“Lawan segala parasit demokrasi, seperti halnya money politik, ujaran kebencian dan hoax agar terwujud Pemilu yang bersih dan damai,” ungkap Wabup Yusuf.

Selain aparat kepolisian dan TNI, keberadaan satuan sipil memiliki peran penting dalam menyukseskan Pemilu.

Wabup Yusuf mengaku, mereka akan terlibat langsung dalam pengamanan Pemilu sebelum pelaksanaan, hari-H, hingga penghitungan di tingkat kabupaten tuntas.

“Pemkab akan terus membangun koordinasi dengan pihak kepolisian dan TNI, untuk kesiapan dan keamanan pemilu,” tutur Wabup Yusuf.

Sementara itu, Plt Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Banyuwangi Anacleto da Silva menyebutkan pasukannya telah melakukan berbagai simulasi keamanan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama pelaksanaan pemilu.

“Kami menyiapkan sejumlah pasukan di berbagai kecamatan,” tuturnya.

Selain itu, Pemadam Kebakaran (Damkar) juga disebar di beberapa pos sebagai antisipasi jika terjadi kebakaran yang tidak disengaja maupun karena adanya gerakan massa.

Kesiapan juga terlihat di Satuan Pengamana Lingkungan (Sat-Linmas). Satuan Linmas akan berjaga secara langsung di TPS, Kantor Desa/ Kelurahan, dan juga Kantor Kecamatan.

“Di masing-masing TPS dijaga dua orang Linmas, di Kantor Desa ada 7 orang Linmas, sedangkan di Kantor Kecamatan ada lima orang,” pungkas Anacleto.

Pada pelaksanaan Pemilu 2019 ini, untuk pertama kalinya Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan secara bersamaan dengan pemilihan DPR RI, DPRD Tk. I, DPRD Tk. II dan DPD.

Di Banyuwangi sendiri, akan dilaksanakan pemilihan di 5.120 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar di 217 desa/ kelurahan di 25 Kecamatan se Banyuwangi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Selama delapan tahun terakhir, Pemkab Banyuwangi mengembangkan daerahnya dengan pendekatan arsitektur berkonsep jelas.

Sejumlah arsitek tersohor dilibatkan mengembangkan berbagai ruang publik, mulai bandara, taman, destinasi wisata, hotel, lembaga pendidikan, hingga Puskesmas.

Dalam Festival Arsitektur Nusantara di Banyuwangi, Kamis-Jumat (14-15/3), sejumlah arsitek memaparkan pengalamannya ketika diajak Bupati Abdullah Azwar Anas mengembangkan Banyuwangi.

Arsitek Yori Antar mengatakan, selama ini ada kecenderungan arsitek ogah bermitra dengan pemerintah.

“Selain soal administrasi yang relatif tidak memahami dunia arsitektur, terkadang paradigma aparat birokrasi juga tidak selaras dengan cara pandang arsitek,” ungkap Yori.

Namun Yori mengaku sering menyampaikan kepada para arsitek, untuk tidak malas bermitra dengan pemerintah karena hal itu berarti membantu republik ini.

“Jika di Banyuwangi para arsitek merasa senang karena Bupati Abdullah Azwar Anas mempunyai komitmen dan keyakinan bahwa arsitektur bisa membawa daerah menjadi lebih baik,” papar Yori yang dikenal dengan julukan “Pendekar Arsitektur Nusantara” tersebut.

Menurut Yori, di Banyuwangi masyarakat dan arsitekturnya berada dalam satu gerak. Masyarakat disiapkan bersinergi dengan arsitektur yang sengaja dirancang berfungsi sosial budaya.

“Penyiapan masyarakat itu misalnya mendorong pengembangan budaya dan tradisi lokal melalui festival,” tuturnya.

Hasilnya kata Yori, antara arsitektur dan masyarakat tidak ada jarak. Banyak juga pemimpin daerah yang menyenangi arsitektur namun tidak menyiapkan masyarakatnya, akhirnya arsitekturnya berjarak menyebabkan monumen mati.

“Dan itu tidak untuk di Banyuwangi,”  ungkapnya.

Yori sendiri menggarap ruang terbuka hijau dan destinasi di Banyuwangi.

Sementara itu, Arsitek Budi Pradono, yang mengarsiteki Stadion Diponegoro dengan ornamen penari Gandrung dan Pantai Grand Watudodol, mengatakan, pelibatan arsitek adalah langkah terobosan karena dinilai mampu mendorong kemajuan pariwisata daerah.

Budi mengibaratkan apa yang dilakukan Banyuwangi seperti keputusan Presiden Prancis (1981-1995) Francois Mitterrand yang mengajak arsitek untuk merevitalisasi Paris dengan pembangunan berbagai karya arsitektur.

“Saat itu, banyak yang menentang ide Mitterrand. Hasilnya, sekarang Paris maju karena mengandalkan pariwisata. Kini, semua orang datang hanya untuk menikmati bangunan seperti Piramida Louvre,” papar Budi.

Spirit inilah kata Budi, yang ditangkap Banyuwangi dengan segala kebersahajaannya, yang dinilai sudah mulai berjalan meski pasti bertahap.

Arsitek Denny Gondo menambahkan, saat ini justru banyak arsitek yang ingin berkontribusi mengembangkan Banyuwangi.

“Seperti saya, sejak mendengar bagaimana perubahan Banyuwangi, saya ingin sekali berkontribusi buat Banyuwangi,” kata Denny.

“Saya senang banget akhirnya diajak pengembang hotel dan PT INKA, mendesain proyek mereka di Banyuwangi,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengucapkan terima kasih kepada para arsitek yang telah berkontribusi untuk Banyuwangi.

“Banyuwangi bukan kota besar, sedangkan para arsitek tersebut karyanya lintas negara,” kata Bupati Anas.

“Saya senang mereka antusias karena mungkin merasa cocok,” imbuhnya.

Seperti Andra Matin (arsitek terminal hijau Bandara Banyuwangi) yang menelfhonnya dan mengatakan bahwa kantor arsitekturnya punya CSR, sehingga bisa membantu Banyuwangi mendesainkan bangunan yang akan digarap.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tarian Gandrung Banyuwangi yang ditampilkan dalam pameran pariwisata terbesar di Malaysia, MATTA Fair, berhasil memukau wisatawan dan pelaku wisata manca negara yang hadir.

Penampilan tarian Gandrung tersebut di fasilitasi Kementrian Pariwisata, dalam rangka promosi Pariwisata Banyuwangi di Manca Negara.

Lokasi pertunjukan Gandrung sangat strategis. Posisinya ada di Hall 1M Putra World Trade Center, Kuala Lumpur. Berdekatan dengan booth papan atas Asia, seperti Taiwan, Korea, Jepang, Thailand serta Tiongkok.

Saat tampil, Gandrung Banyuwangi langsung banjir pujian. Datuk Musa Yusof, Director General of Tourism Malaysia dan Datuk Tan Kok Liang, President of MATTA memberi emoji tiga jempol untuk tarian khas daerah berjuluk Sunrise of Java itu.

“Ini show yang sangat berkelas, salut untuk Banyuwangi,” ungkap Datuk Musa Yusof.

Sementara, Datuk Tan Kok Liang juga mengapresiasi penampilan Gandrung tersebut, sehingga dia meminta traveler Malaysia harus datang ke Banyuwangi untuk melihat dari dekat Tari Gandrung.

Di MATTA Fair 2019, penampilan Gandrung Banyuwangi memang sangat berkelas.

Suguhannya tidak kalah dengan penampilan sebelumnya di Remarkable Indonesia Fair yang dihadiri oleh 2.000 pengusaha dan masyarakat Chicago, Kentucky, Illinois, dan Minnesota, Amerika Serikat (AS). Sekitar 15 menit semua pengunjung dari berbagai negara terpukau dengan musik pengiring dan rancaknya Tari Gandrung.

Sebagian ada yang sibuk foto. Sebagian lagi terlihat asyik merekam penampilan Gandrung.

Selain menampilkan Gandrungnya, Banyuwangi diberi kesempatan berpameran menawarkan destinasinya selama Matta Fair berlangsung.

“Penampilan Tari Gandrung di Malaysia adalah kehormatan dan kebanggaan bagi Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

“Ini adalah apresiasi yang tinggi dari pemerintah pusat dan dunia terhadap seni-budaya Banyuwangi,” imbuhnya.

Bupati Anas mengaku, lewat branding Banyuwangi di luar negeri seperti ini, dirinya berharap bisa mendatangkan turis Malaysia ke Banyuwangi. Apalagi kini ada penerbangan langsung Kuala Lumpur - Banyuwangi pp.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun turut senang dengan penampilan Gandrung di Matta Fair.

Menpar Arief mengatakan bahwa pihaknya akan terus memberikan support kepada daerah yang concern penuh untuk mengembangkan wisata daerahnya, termasuk Banyuwangi.

“Salah satunya, dengan mempromosikan potensi wisatanya di manca negara,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kementrian Pariwisata telah memasarkan Banyuwangi di sejumlah event dunia dengan mem-branding bus di kota setempat. Mulai di London, di Amerika Serikat, di Rusia saat perhelatan Piala Dunia 2018, dan pameran wisata terbesar dunia di ITB Berlin, Jerman. 

“Ini jemput momentum dan timing yang pas disaat pelaku industri pariwisata, buyers, investor sedang berkumpul di Malaysia,” ujar Menpar Arief.

“Lewat branding Wonderful Indonesia, Kemenpar mempromosikan beragam pesona Indonesia untuk menggaet turis Malaysia dan Asia ke Indonesia,” pungkasnya.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pelaku seni Banyuwangi tampil di 3 lokasi di Malaysia selama 10 hari, sekaligus untuk mempromosikan wisata dan budaya Banyuwangi hingga ke Asia.

Rombongan yang berangkat total ada 30 orang, yang terdiri dari 23 penari dan panjak serta 7 orang pendamping.

Diawali pada tanggal 15 hingga 17 Maret 2019, mereka tampil pada kegiatan pameran MATTA Fair Kuala Lumpur I di Putra World Trade Center (PWTC), Kuala Lumpur, Malaysia dengan mengangkat destinasi Banyuwangi sebagai Tema Utama pada Paviliun Indonesia.

Sementara, kesenian Banyuwangi sendiri bergabung di Indonesia New Destination Corner dan tampil pada acara Daily Performance di Main Stage MATTA.

Selanjutnya, di hari Senin dan Selasa, 18-19 Maret 2019, tim kesenian Banyuwangi tampil di Aula Hasanudin Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Malaysia dalam penyelenggaraan Archipelago Exhibition (ARCHEX).

Kegiatan ini rutin di selenggarakan oleh KBRI sebagai sarana promosi potensi ekonomi Indonesia baik pariwisata, perdagangan dan investasi langsung kepada pelaku usaha dan masyarakat di Malaysia.

Dalam rangka mendukung pencapaian target kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sebanyak 20 juta orang pada tahun 2019, sector yang di pilih untuk penyelenggaraan ARCHEX 2019 adalah pariwisata dan pendidikan. Khusus pariwisata, focus yang diambil adalah promosi pariwisata di Banyuwangi dan Provinsi Jawa Timur pada umumnya.

Terakhir, tim kesenian Banyuwangi akan tampil di Departure Hall Anjungan Tinjau, Kuala Lumpur International Airport (KLIA) selama 5 hari sejak 20 hingga 24 Maret 2019.

Hal ini adalah sebagai upaya mempromosikan pariwisata Indonesia, khususnya Banyuwangi untuk wilayah pasar Malaysia, serta untuk mempertahankan keberlangsungan rute penerbangan langsung international Banyuwangi – Kuala Lumpur maupun sebaliknya yang telah di buka oleh Citilink sejak tanggal 19 Desember 2018 lalu.

Oleh sebab itu, Kementrian Pariwisata melaksanakan kegiatan yang juga bersinergi dengan Maskapai Citilink berupa Banyuwangi Cultural Week di KLIA tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, MY Bramuda mengatakan, untuk di kegiatan MATTA Fair Kuala Lumpur I, duta Banyuwangi akan menampilkan 30 kesenian dengan 6 jenis tarian seperti Tari Jejer Gandrung, Tari Jaripah, Tari Rodath Siiran dan Sorote Lintang serta Tari Gandrung Kembang Menur dan Layar Kumendung.

“Disini, merupakan pamaran promosi wisata terbesar di Malaysia,” ujar Bramuda.

Sementara untuk di KBRI Kuala Lumpur ditampilkan 4 tarian dan lagu lagu using Banyuwangi. Dan direncanakan, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas juga akan hadir di kegiatan tersebut.

“Untuk acara Banyuwangi Cultural Week di Kuala Lumpur International Airport, Banyuwangi akan menampilkan 6 jenis kesenian yang setiap harinya tampil selama 3 jam,” tutur Bramud.

“Disini juga disiapkan stand khusus untuk menampilkan produk produk UMKM Banyuwangi,” imbuhnya.

Bramuda menjelaskan, selain kesenian, pemerintah daerah juga akan berjualan paket paket wisata dengan melibatkan beberapa hotel dan Tour Travel Agen Banyuwangi, guna menjaring dan berjualan paket wisata dari Malaysia ke Banyuwangi maupun sebaliknya.

“Wisata yang dijual Banyuwangi tentu yang menjadi daya tarik wisatawan selama ini, seperti pegunungan, alam serta kebudayaan yang dinilai sebagai penguat,” paparnya.

Bramuda berharap, para Travel Agen yang di kirim ke berbagai acara tersebut bisa menjadi pioneer pembuka pintu masuknya hotel hotel di Banyuwangi untuk menarik perhatian masyarakat Malaysia, bahkan Asia.

“Karena di kegiatan pameran MATTA Fair Kuala Lumpur itu tidak hanya dihadiri masyarakat Malaysia saja, tapi juga Asia,” pungkas Bramuda.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sejumlah arsitek papan atas tanah air menghadiri puncak acara Festival Arsitek Nusantara yang di gelar di Banyuwangi, Kamis (14/03).

Para arsitek kondang yang karyanya telah lintas negara tersebut adalah Andra Matin, Yori Antar, Budi Pradono, Jeffrey Budiman, Ary Indra, Denny Gondo, Gregorius Supie Yolodi, dan Achmad Noerzaman.

Sebagian dari mereka adalah arsitek yang terlibat dalam pengembangan Banyuwangi selama beberapa tahun terakhir. Mereka saling berbagi ilmu dan pengalaman menerapkan rancangannya.

Sejumlah keunikan ide desain menjadi bahasan yang hangat di kalangan arsitek.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang Banyuwangi, Mujiono mengatakan, jika ditotal ada 300 arsitek dari berbagai daerah di Tanah Air yang menghadiri festival ini.

“Termasuk para mahasiswa dan dosen arsitektur,” ungkapnya.

Arsitek Andra Matin mengatakan, keterlibatan arsitek pada bangunan yang didanai pemerintah akan membuatnya tidak hanya fungsional, tapi juga indah, ikonik, dan tidak lekang oleh waktu. 

“Sebuah bangunan juga akan mencerminkan peradaban dan sebagai tanda zaman. Langkah ini mulai dilakukan Bupati Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi,” papar Andra Martin.

Andra Martin adalah arsitek yang mendesain terminal Bandara Banyuwangi yang merupakan terminal berkonsep hijau pertama di Indonesia.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, arsitektur Nusantara bukan semata karya seni semata, namun juga instrumen mendorong kemajuan daerah.

“Srsitektur Nusantara dan pariwisata mempunyai keterkaitan erat,” ungkapnya.

“Arsitektur telah menjaga keberlanjutan seni-budaya dan tradisi Nusantara sekaligus pendorong ekonomi daerah dengan banyaknya orang yang datang berkunjung,” ujar Bupati Anas yang merupakan peraih penghargaan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) tersebut.

Dia mencontohkan sejumlah ikon baru di Banyuwangi yang dibangun dengan pendekatan arsitektur nusantara, dalam hal ini mengadopsi budaya khas Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi).

Misalnya di terminal bandara, lansekap destinasi wisata, hotel, ruang terbuka hijau, bangunan pemerintah, industri, hingga lembaga pendidikan dan kesehatan.

“Semua wajib memasukkan unsur budaya lokal, termasuk arsitektur khas Suku Osing. Dan terbukti itu disukai dan menarik perhatian wisatawan,” tutur Bupati Anas.

Arsitek Yori Antar mengapresiasi keberanian Banyuwangi untuk menjadikan arsitektur sebagai ujung tombak pembangunan. 

“Banyuwangi membuat arsitektur tidak berjarak dengan masyarakat,” ujarnya.

“Arsitektur dan masyarakat menjadi generator kemajuan daerah jika bersinergi dengan baik,” imbuh Yori.

Yori Antar pendesain sejumlah ruang terbuka hijau dan destinasi wisata di Banyuwangi.

Selain mengikuti pameran karya arsitektur dan berbagai sesi diskusi, arsitek dari berbagai daerah itu diajak berkeliling mengunjungi sejumlah bangunan di Banyuwangi yang didesain para arsitek kondang Indonesia. 

Festival Arsitektur Nusantara digelar berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), PT Propan Raya, dan komunitas Arsitek Muda Banyuwangi (AMB).

More Articles ...