radiovisfm.com, Banyuwangi - Masyarakat di Dusun Talun Jeruk Desa Glagah Kecamatan Glagah Banyuwangi menggelar ritual Koloan, yakni tradisi anak yang hendak di khitan atau di sunat di mandikan darah ayam.

Untuk hewan ayamnya pun tidak sembarangan. Harus berjenis kelamin jantan dan ayam pilihan. Dengan di gelar ritual ini, di harapkan sang anak yang di khitan nantinya bisa menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab serta berkepribadian sopan dan santun kepada siapapun.

Kali ini, Putra (9) dan Ardan (8) yang merupakan anak pasangan Efendi dan Misriani warga setempat hendak di khitan pada ke esokan hari. Namun sebelum di khitan, mereka menyiapkan sejumlah persiapan di rumahnya sebagai syarat untuk prosesi ritual Koloan. Seperti Kembang Setaman, perasan air kunyit, dua gelas perasan santan kelapa, kemenyan dan dua ekor ayam jantan.

Setelah do’a dipanjatkan oleh sesepuh desa, saatnya Putra dan Ardan menjalani ritual Koloan. Dalam ritual ini, anak yang hendak di sunat harus duduk jongkok sambil menghadap ke arah barat. Sementara ayam jantan yang sudah di siapkan di sembelih tepat di atas kepala sang anak. Hal ini bertujuan agar darah ayam tersebut dapat mengenai kepala dan badan kedua anak tersebut.

Setelah di siram darah ayam, keduanya di mandikan dengan air bunga 7 rupa dan air perasan santan kelapa. Setelah seluruh badan dan kepalanya terlumuri darah ayam, kedua anak yang hendak di khitan itu kemudian di bawa ke sumber mata air untuk di mandikan sebagai symbol sang anak sudah mulai beranjak dewasa dan bisa membedakan mana yang najis dan mana yang suci. Selain itu, ritual ini juga di yakini agar sang anak berani di sunat dan tidak takut lagi.

“Meski ritual ini terlihat sadis, tapi menurut kepercayaan masyarakat using, suku asli Banyuwangi, ritual Koloan ini adalah bentuk meneladani kisah Nabi Ibrahim saat diminta mengkorbankan anaknya, Nabi Ismail,” ujar Sesepuh adat desa setempat, Sanusi Marhaedi.

“Tapi untuk di dusun sini, masyarakat mengislamkan anaknya ditukar dengan darah ayam,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, menurut Sanusi, ritual ini juga bertujuan agar anak yang akan di khitan dijauhkan dari bala serta bisa meneruskan perjuangan leluhur secara turun temurun.

Sementara, Efendi, ayah dari dua anak yang mengikuti ritual Koloan tersebut mengaku ini sudah merupakan tradisi masyarakat Using, suku asli Banyuwangi.

“Yakni menjalani ritual mandi kembang 7 rupa dan dimandikan darah ayam,” ungkap Efendi.

Usai di lakukan ritual, kedua anak yang hendak di khitan tersebut dibawa ke rumahnya untuk di dudukkan di kursi layaknya pasangan pengantin.

Selain itu, berziarah ke makam leluhur adalah proses terakhir yang harus di lakukan dalam ritual Koloan ini yang di harapkan mereka bisa menjaga tradisi leluhur agar tidak punah di terpa arus modernisasi.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Upacara pengukuhan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) Banyuwangi tahun 2019 di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan berlangsung khidmat.

Dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengukuhkan 75 pelajar SMA menjadi anggota Paskibraka yang bertugas mengibarkan sang saka Merah Putih pada peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan ke 74 RI di Taman Blambangan pada 17 Agustus 2019.

Ke 75 anggota paskibraka tersebut berasal dari 25 kecamatan se-Banyuwangi. Mereka terdiri dari putra 41 orang dan putri 34 orang.

Prosesi pengukuhan yang berlangsung pada Kamis malam (15/8/2019) tersebut berlangsung sangat sakral. Suasana haru menyeruak kala prosesi mencium Sang Saka Merah Putih sebagai perlambang mereka bersedia menjalankan tugas tersebut dengan sepenuh jiwa dan raga.

Bupati Anas memberikan ucapan selamat kepada puluhan pelajar tersebut. Menurutnya, mereka adalah anak-anak terpilih yang kelak menjadi ujung tombak persatuan bangsa.

“Kalian patut bersyukur karena berkesempatan mendapatkan pengalaman yang tidak dimiliki banyak orang,” ujar Bupati Anas.

Dalam kesempatan ini, Bupati Anas berpesan, sebagai orang terpilih mereka harus menggali berbagai kemampuan dan kreativitas yang mereka punya. 

Hard skill atau dikenal sebagai kompetensi memang penting untuk dimiliki setiap orang. Tapi soft skill atau karakter jauh lebih penting,” ungkapnya.

Dijelaskan Bupati Anas, sejumlah riset menunjukkan keberhasilan seseorang mencapai puncak karirnya karena memiliki karakter bekerja keras, mempunyai kepercayaan diri tinggi, punya visi ke depan, bisa bekerja dalam tim, mampu berpikir analitis, mudah beradaptasi, mampu bekerja dalam tekanan, cakap berbahasa Inggris, dan mampu mengorganisir pekerjaan.

“Untuk itu, saya meminta para anggota Paskibraka untuk terus belajar dan berkarya. Dan tidak pernah berhenti untuk melakukan hal-hal positif yang menginspirasi anak-anak muda lainnya,” papar Bupati Anas.

Tahun ini, petugas pembawa baki bendera Merah Putih dipercayakan kepada Tiffani Gloria, siswi SMAN 1 Genteng. Sementara pengibar bendera menjadi tugas Bagus Prasetyo (SMAN 2 Genteng), Aldorizo Jati Malle (SMAK Hikmah Mandala), dan Ida Bagus Komang (SMAN 1 Banyuwangi).

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Diperingatan Hari Pramuka, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berpesan tentang pentingnya menumbuhkan sifat peduli terhadap lingkungan sekitar dalam diri setiap anggota pramuka.

Hal ini disampaikan orang nomor satu pada jajaan Pemkab Banyuwangi tersebut, saat memimpin upacara Hari Pramuka yang berlangsung di Gedung Pramuka Banyuwangi, Kamis (15/8/2019).

Upacara ini diikuti sekitar 500 pramuka dari tingkat siaga, penggalang, penegak, dan pandega. Pramuka yang dikenal dengan sikapnya yang suka menolong, diharapkan Bupati Ànas bisa turut membantu memberikan solusi masalah sosial. 

“Saya minta para anggota Pramuka melihat ke lingkungan sekitar, kemungkinan ada tetangganya yang membutuhkan bantuan,” ujar Bupati Anas.

“Jika ada yang sakit, atau putus sekolah segera melaporkan ke lurah atau kepala desa agar nantinya ditangani bersama pemkab,” imbuhnya.

Selain itu, Bupati Anas meminta agar pramuka terus mengasah soft skillnya, yakni berupa karakter diri. Karakter-karakter positif yang bisa ditumbuhkan antara lain kerja keras, bersikap terbuka, mempunyai rasa ingin tahu dan daya juang yang tinggi. 

“Jika pramuka memiliki karakter semacam ini maka akan bisa membantu meraih kesuksesan,” tutur Bupati Anas.

Untuk itulah, mulai saat ini para anggota pramuka harus belajar kerja keras dan rajin menambah wawasan. Yang tidak kalah penting adalah meningkatkan kemampuan bekerja sama dengan pihak lain.

“Saat ini eranya kolaboratif sehingga semua harus bergandengan tangan dengan pihak lain untuk mempercepat kemajuan,” ungkap Bupati Anas.

Sementara itu, pada peringatan Hari Pramuka yang jatuh di setiap tanggal 14 Agustus di Banyuwangi berlangsung meriah.

Tidak hanya upacara peringatan, namun juga digelar pawai lampion, yang telah menjadi tradisi setiap peringatan Hari Pramuka. Kegiatan yang di gelar Rabu malam (14/8/2019) tersebut diikuti lebih dari 700 siswa SD – SMP dengan di lepas langsung oleh Bupati Abdullah Azwar Anas dari depan Kantor Pemkab dan finish di Stadion Diponegoro.

Bahkan, Bupati Anas beserta beberapa pejabat ikut berjalan kaki hingga ke garis finish.

Ratusan lampion dalam berbagai bentuk tampak berkelap kelip di jalanan protokol Banyuwangi yang di bawakan oleh para siswa yang seluruhnya mengenakan seragam pramuka. Menariknya, lampion-lampion itu didesain dalam bentuk-bentuk yang menggambarkan kekayaan seni dan budaya suku bangsa yang ada di Indonesia. Ada lampion yang berbentuk kostum suku Asmat, miniatur rumah joglo, rumah Minangkabau, dan berbagai ornamen lain yang khas Indonesia. 

Maklum saja, pada tahun ini pawai lampion mengangkat tema "Siap Sedia Membangun Keutuhan NKRI,” sehingga semua siswa membawa lampion dengan beragam budaya nusantara. 

Pawai ini pun menjadi tontonan yang menarik bagi warga Banyuwangi yang memadati jalan-jalan protokol yang dilewati peserta pawai.

Selain berpawai lampion, ada beberapa peserta juga menggelar fragmen. Seperti penampilan siswa SMPN 4 Banyuwangi yang menyuguhkan kisah asal usul rumah Minahasa.

Selain itu, ada pula treaterikal yang memperagakan perjuangan para pahlawan kemerdekaan yang berjuang merebut NKRI. Seperti yang dimainkan siswa siswi MTs Darunajah.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Ragam seni dan budaya Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia ditampilkan dengan semarak pada Pagelaran Seni Indonesia Chanel (Inchan) 2019 di Taman Blambangan Banyuwangi, Selasa malam (13/8/2019).

Layaknya seniman lokal, sebanyak 72 pemuda dari 40 negara sahabat menampilkan sendra budaya Nusantara. Mulai dari seni musik dan tari khas Makasar, Banyuwangi hingga Padang, Sumatera Barat dengan sangat memukau.

Sebagai penampilan pembuka, para penerima Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI) dari Kementrian Luar Negeri RI tersebut, memainkan musik daerah. Dari angklung Banyuwangi, gendang tabuik khas Padang, gamelan Bali hingga musik petik khas Bugis Makasar.

Berbagai musik daerah yang dimainkan oleh para friends of Indonesia itu dengan serasi dan harmonis. Dipadu dengan beragam tarian dan lagu-lagu daerah yang membahana sebagai pengiring sepanjang penampilan mereka. Tari gandrung yang dibawakan 12 peserta BSBI yang belajar di Banyuwangi menjadi penampil yang cukup meriah. Begitu pula saat penampilan tari barong, tari topeng, hingga tari piring khas Sumatera Barat juga mendapat apresiasi yang tidak kalah meriahnya.

Mosaic of Indonesia yang menjadi tema pagelaran seni ini dipresentasikan dengan baik lewat penampilan mereka. Aplaus dari ribuan penonton membahana sepanjang pertunjukan.

Aneka kebudayaan nusantara yang dipelajari para pemuda dari berbagai penjuru dunia itu, menjadi diplomasi Indonesia di dunia internasional. Seni budaya sengaja diambil, karena dengan hal tersebut bisa menjadi penjembatan atas beragam perbedaan.

Saat membuka perhelatan tersebut, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, melalui program ini, pihaknya ingin terhubung, membuat ikatan, dan membangun jaringan Friends of Indonesia yang disatukan oleh kecintaan pada seni dan budaya serta semangat pemerintah didalam mempromosikan perdamaian, toleransi dan harmoni.

“Wajah kerja sama, wajah kebersamaan dan persatuan harus menjadi wajah kita, wajah Indonesia dan wajah dunia. You are not only friends of Indonesia but you are also friends of the world,” papar Menlu Retno.

Sementara itu, para peserta BSBI yang terlibat mengaku senang mengikuti program ini. Seperti yang disampaikan Youngtaek Hong dari Korea Selatan.

“Saya belajar tari dan musik daerah selama tiga bulan,” ungkap Youngtaek Hong.

0Bersama 12 rekannya yang lain ia belajar seni budaya Sumatera Barat dan bertempat di Padang. Hal yang sama juga dilakukan oleh para peserta BSBI yang lain.

Dari 72 peserta, mereka terbagi di enam lokasi yang berbeda. Selain di Banyuwangi dan Padang, mereka juga belajar di Bali, Yogyakarta, Kutai Kertanegara dan Makasar.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas merasa tersanjung bisa menjadi salah satu tuan rumah peserta BSBI, sekaligus menjadi tempat pelaksanaan Indonesia Channel 2019. 

“Saya ucapkan terima kasih kepada bu Menlu yang telah mempercayakan Banyuwangi. Jika biasanya hanya ditempatkan di kota-kota besar yang telah mapan seni budayanya, tapi berkat kepercayaan bu Menlu, Banyuwangi sebagai kota yang sedang tumbuh ini pun bisa merasakan peluang yang sama,” papar Bupati Anas.

Dia juga mengharap, program BSBI terus bisa ditempatkan di Banyuwangi pada tahun-tahun mendatang.

“Karena pastinya, mereka akan juga turut mempromosikan Banyuwangi ke negaranya masing-masing,” tutur Bupati Anas.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Di dalam upaya pengurangan sampah plastic di wilayah Banyuwangi, pemerintah daerah segera melaunching kebijakan Merdeka Bebas Dari Sampah Plastik.

Hal ini berlaku utamanya bagi para PKL yang berjualan di area Taman Sritanjung dan Taman Blambangan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, bagi PKL yang kedapatan masih menggunakan plastic didalam mengemas makanan dan minuman yang dijualnya maka di larang untuk masuk ke dalam area dua RTH tersebut.

“Untuk minumanpun di wajibkan tidak boleh memakai sedotan. Sebagai penggantinya, pedagang bisa menggunakan bahan bahan yang recycle atau didaur ulang. Seperti memakai daun pohon jati,” papar Bupati Anas.

Dia beralasan, kebijakan ini di gulirkan karena di setiap selesai adanya berbagai kegiatan, selalu di temukan sampah plastic berserakan di jalanan yang dibuang oleh masyarakat secara tidak bertanggung jawab. Sehingga menyebabkan kondisi jalanan kota Banyuwangi terlihat kotor.

“Membersihkan sampah ini bukan hanya tanggung jawab para pesapon saja. Tapi masyarakat juga harus ikut serta menjaga kebersihan wilayah Banyuwangi dengan membuang sampah di tempatnya,” papar Bupati Anas.

Dan diakui Bupati Anas, kondisi ini cukup miris karena masih ada warga yang tidak peduli terhadap kebersihan disekitarnya.

Sementara itu, Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Banyuwangi, Suyanto Waspotondo Wicaksono mengatakan, kebijakan Merdeka Bebas Dari Sampah Plastik ini mulai di berlakukan 17 Agustus 2019 bersamaan dengan upacara peringatan HUT ke 74 RI.

“Setelah itu dilanjutkan pada kegiatan Student Jazz Festival, 24 Agustus 2019. Hingga berlanjut di berbagai kegiatan yang masuk dalam rangkaian Banyuwangi Festival,” ujar pejabat yang biasa disapa Yayan tersebut.

“Puncak dari kebijakan ini adalah pada perhelatan Festival Gandrung Sewu, 12 Oktober mendatang,” imbuhnya.

Yayan menyebutkan, semua pedagang yang berjualan tidak di perbolehkan menggunakan plastic untuk melayani para pembeli.

“Untuk sosialisasi ini mulai di lakukan melalui social media, radio hingga di group WA seluruh camat, kepala desa dan Lurah se Banyuwangi. Agar mulai memberlakukan kemasan non plastic terhadap seluruh pedagang yang berjualan di wilayahnya masing masing,” pungkas Yayan.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi menilai, pementasan Pagelaran Seni Indonesia Channel (Inchan) 2019 di Banyuwangi terasa lebih special karena di gelar di Kabupaten yang mampu menjaga dan mengembangkan budaya lokalnya.

Dalam pergelaran seni bertemakan “Mosaic of Indonesia” yang di helat di Taman Blambangan, Selasa malam (13/8/2019) tersebut melibatkan 72 pemuda dari 40 negara peserta program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI). 

“Banyuwangi adalah representasi daerah di Indonesia yang tidak hanya mampu mempertahankan budaya serta kebhinnekaannya, tapi pada saat yang sama Banyuwangi bisa melakukan pembangunan yang inovatif,” ujar Menlu Retno.

“Saya telah banyak mendengar tentang perkembangan Banyuwangi. Banyak orang bercerita tentang kemajuan Banyuwangi, dan sudah lama saya ingin ke sini,” ungkapnya.

Menlu juga mengaku sudah mencoba kulinernya yang enak-enak dan dia merasa terhormat bisa hadir di Banyuwangi.

BSBI merupakan kegiatan Kemenlu RI yang telah dilaksanakan sejak 2003. Melalui BSBI, Indonesia mengajak generasi muda dari berbagai negara untuk mempelajari seni dan budaya Nusantara.

Pada malam tersebut, 72 pemuda mancanegara unjuk kebolehan dalam menari, bermain musik dan melantunkan tembang tradisional dalam suguhan sendra seni budaya kolosal. Beragam seni budaya Nusantara ditampilkan dengan ekselen, layaknya seniman lokal. 

“Bukan hal mudah mengkombinasikan antara menjaga kearifan lokal tapi di satu sisi juga melakukan banyak inovasi. Hal itu bisa dilakukan Banyuwangi secara bersamaan,” papar Menlu Retno.

Diakuinya, Banyuwangi mempresentasikan keharmonisan tradisi, toleransi, dan kemajuan.

Menlu Retno memilih Banyuwangi menjadi tempat mempersembahkan hasil belajar mereka selama tiga bulan.

“Ini sangat sesuai dengan tema yang di usung yakni Mosaic of Indonesia. Diketahui bahwa Indonesia beraneka warna tapi Indonesia tetap satu,” kata Menlu Retno.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sangat berterima kasih kepada Kemenlu yang telah memilih Banyuwangi sebagai bagian dari upaya pemerintah mengenalkan budaya Indonesia ke dunia. 

“Budaya telah menjadi bagian yang integral dalam kemajuan Banyuwangi selama ini,” ujar Bupati Anas.

“Di balik kemajuan dan prestasi yang diraih, Banyuwangi tidak pernah meninggalkan budaya dan tradisinya,” imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, Bupati Anas mengucapkan terima kasihnya kepada Menlu Retno yang dianggapnya berani memilih Banyuwangi, yang tergolong daerah baru yang sedang berkembang.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kementrian Luar Negeri menyatakan bahwa 47 atlit renang asal DKI Jakarta yang mengikuti Hongkong Open Swimming Championship 2019 dipastikan akan diterbangkan ke Indonesia, Selasa (13/8/2019) setelah sempat tertahan di Bandara Hongkong akibat adanya unjuk rasa.

Dalam kunjungannya ke Banyuwangi, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, penerbangan para perenang tersebut dari Hongkong di batalkan saat adanya peristiwa demo besar besaran penolakan RUU ekstradisi.

“Kami langsung berkomunikasi dengan tim Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) yang ada di Hongkong untuk memastikan jumlah warga negara Indonesia yang tertahan di Bandara,” papar Menlu Retno.

“Saya juga berbicara langsung dengan kepala rombongan dari atlit renang DKI Jakarta dan sudah mendapat kepastian bahwa kepulangan puluhan atlit itu akan di bagi dalam 2 kloter dengan pesawat komersil,” ujarnya.

Untuk kloter pertama di terbangkan Selasa (13/8/2019) dengan pesawat pukul 15.51 waktu setempat. Dan Kloter kedua diterbangkan pukul 19.07.

Selain itu kata Menlu Retno, ada 18 WNI termasuk ABK yang terkena dampak unjuk rasa tersebut dan mereka di terbangkan dengan pesawat pada kloter pertama juga 2 orang pejabat dari Pemkot Surabaya. Yang sebelumnya, mereka harus menunda penerbangannya di Minggu malam kemarin.

“Meski unjuk rasa di Bandara Hongkong hingga kini masih berlangsung, tapi situasi sudah mulai membaik dan cek in bandara tetap di buka,” tutur Menlu Retno.

Lebih lanjut Menlu Retno menegaskan bahwa selain para atlit renang DKI, sebagian besar penumpang WNI yang terjebak di Bandara Hongkong tersebut adalah untuk traveling, akibat para pendemo masuk ke dalam area bandara sehingga seluruh penerbangan di batalkan.

“Kami mengeluarkan Travel Advice. Sehingga di saat di tempat lain ada kejadian maka Kemlu memasang Hotline dengan KJRI, termasuk di Hongkong,” kata Menlu Retno.

Bahkan ditahun lalu, Kemlu mengeluarkan aplikasi Safe Travel yang didalamnya ada advice agar WNI yang bepergian selalu terupdate dengan situasi negara tujuan.

 

 

More Articles ...