radiovisfm.com, Banyuwangi - Menyambut Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul fitri 1440 H, Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V bersinergi dengan Hiswana Migas Banyuwangi menggelar kegiatan Silaturahmi dan berbagi bersama Anak Yatim, yang di kemas dalam acara BErbuka Dengan Usaha mikro dan Komunitas atau BEDUK.

Acara yang digelar di Panti Asuhan YKM Khadijah Banyuwangi, Kamis (16/5/2019) tersebut juga dihadiri oleh Agung Kaharesa Wijaya selaku Sales Executive LPG Rayon VII Pertamina, Komunitas Bakul (Banyuwangi Kuliner), Usaha Kecil Menengah (UKM), Hiswana Migas Besuki, dan Anak Yatim Piatu Panti Asuhan YKM Khadijah.

“Acara ini diselenggarakan dalam rangka berbagi berkah Ramadhan Bright Gas kepada anak yatim di Banyuwangi,” ungkap Agung.

Selain pemberian santunan berupa uang tunai, alat tulis, dan LPG Bright Gas kepada panti asuhan anak yatim, juga diberikan apresiasi terhadap UMKM pengguna Bright Gas dan apresiasi terhadap komunitas Bakul (Banyuwangi Kuliner) yang telah mendukung penggunaan LPG Non Subsidi Pertamina. 

Dalam kesempatan ini ujar Agung, Pertamina juga mengedukasi kepada pengusaha UKM dan komunitas tersebut agar dapat menularkan kepada UKM dan komunitas lainnya untuk dapat menggunakan produk Bright Gas dalam menjalankan usaha kulinernya, serta mengedukasi masyarakat dengan menyampaikan cara aman menggunakan tabung LPG dalam kehidupan sehari-hari.

Bright Gas merupakan produk LPG Non Subsidi unggulan Pertamina yang memiliki kelebihan dengan adanya teknologi DSVS (Double Spindle Valve System) yang dapat menjaga keseimbangan tekanan gas dan mengurangi tekanan gas yang berlebih dan 2x lebih aman dibandingkan dengan tabung LPG lainnya.

Disamping itu agar kualitas LPG lebih terjamin, Bright Gas juga dilengkapi dengan seal cap hologram dan fitur OCS (Optical Color Switch) yang telah memperoleh paten dan tidak dapat dipalsukan,” papar Agung.

Dia menambahkan, adapun Elpiji 3 kg bersubsidi diperuntukkan bagi masyarakat yang kurang mampu, usaha mikro, dan nelayan penerima paket konversi.

Masyarakat yang sudah dalam kategori mampu dihimbau untuk dapat menggunakan LPG non subsidi Pertamina seperti Bright Gas yang juga tersedia di Agen, Outlet, dan Modern Minimarket atau dapat dipesan melalui Pertamina Call Center 135,” pungkas Agung.

Sementara itu, puluhan anak yatim yang menerima santunan dari pertamina tersebut tampak sumringah.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Banyak makanan khas Banyuwangi yang di sajikan saat Bulan Ramadan, salah satunya adalah Kopyor Roti.

Kopyor roti ini terbuat dari roti tawar dipadu bihun yang disiram santan kelapa dan dibungkus daun pisang. Rasanya yang manis, kue ini biasanya menjadi santapan takjil untuk berbuka puasa warga Banyuwangi.

Sepanjang bulan puasa, kue ini sangat mudah ditemukan di antara pedagang makanan. Maklum saja, kue ini menjadi salah satu jajanan takjil yang banyak diburu masyarakat. Dan biasanya dijual saat siang hingga sore hari menjelang buka puasa.

Salah satu pembuat kuliner ini adalah Inayatun Robaniah (47). Ditemui di rumah produksinya yang berada di kawasan Singomayan, Kecamatan Banyuwangi, Inayatun terlihat sibuk membuat kopyor roti.

“Saya selalu menjual makanan ini selama bulan puasa,” kata Inayatun.

“Saya berjualan Kopyor Roti ini sudah hampir sepuluh tahun,” imbuhnya.

Awalnya, dia diajari tetangganya yang membuat kue itu sudah puluhan tahun.

“Saya disarankan untuk menjual kue itu hingga akhirnya saya mencoba,” tuturnya.

Selanjutnya di setiap Ramadan Inayatun membuat Kopyor Roti itu.

Dalam setiap harinya, perempuan yang biasa disapan Ina tersebut selalu menghabiskan santan dari 15 kelapa yang bisa menjadi 250 bungkus kopyor.

Cara membuatnya, daun pisang sebagai pembungkus diisi dengan roti tawar, bihun, nangka dan santan yang dipanaskan. Bungkusan tersebut lalu dikukus selama 15 menit. Selanjutnya, kue kue yang sudah matang itu di ambil para pedagang untuk di jajakan berkeliling.

“Ada sekitar 10 orang yang menjajakan,” kata Ina.

Dia mengaku, kue dagangannya lebih cepat habis jika dijajakan keliling daripada nitip dijual kepada orang lain.

Biasanya para pedagang keliling tersebut mengambil pada pukul 14.00, dan sebelum jam lima sore sudah habis.

Kopyor roti buatan Ina memang menjadi salah satu favorit jajanan tradisional yang diburu warga. Selain harganya murah Rp 2 ribu per bungkus, rasa kopyornya juga nikmat. Manis dan gurih santannya terasa sangat pas.

Ina mencampur kopyornya dengan nangka, sehingga rasa manisnya terasa legit. Selain menjual kue ini, Ina juga membuat kue mentuk khas Banyuwangi.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi, kue Kopyor Roti ini bisa didapatkan di pedagang takjil yang banyak ditemukan di kota. Terutama di Festival Ramadan di kawasan Gesibu Blambangan, yang merupakan pusat jajanan takjil selama bulan Ramadan ini.

Selain Kopyor Roti, di Festival Ramadan ini juga banyak ditemukan jajanan dan makanan khas Banyuwangi yang lain.

Ina mengaku mendapat berkah dengan berjualan Kopyor Roti disetiap bulan puasa ini.

“Hasil penjualan kopyor selama satu bulan ini bisa melebihi pendapatan bulanan saya dari hasil menjual gorengan,” tutur Ina.

Pasalnya, dalam keseharian, Ina berjualan gorengan. Hasil dari berjualan Kopyor Roti ini di gunakannya untuk menambah modal usaha dagangan kue dirinya setiap tahun.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - BPJS Kesehatan kembali mengingatkan sejumlah rumah sakit yang menjadi mitranya untuk memperbarui status akreditasi, guna menghindari pemutusan kerja sama.

Sesuai regulasi yang berlaku, akreditasi menjadi salah satu syarat wajib untuk memastikan peserta JKN-KIS memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Rujukan BPJS Kesehatan Cabang Banyuwangi, Dwi Trisnawati Zainal mengatakan, akreditasi merupakan bentuk perlindungan pemerintah dalam memenuhi hak setiap warga negara agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dan bermutu oleh fasilitas pelayanan kesehatan.

Akreditasi ini tidak hanya melindungi masyarakat, tapi juga melindungi tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit itu sendiri,” ungkap Dwi.

Dia menjelaskan, akreditasi sebagai persyaratan bagi rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, seharusnya diberlakukan sejak awal tahun 2014 seiring dengan pelaksanaan Program JKN-KIS.

Namun memperhatikan kesiapan rumah sakit, ketentuan ini kemudian diperpanjang hingga 1 Januari 2019 sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 99 Tahun 2015 tentang perubahan PMK 71 Tahun 2013 Pasal 41 ayat (3).

“Kami sudah berkali kali mengingatkan rumah sakit untuk mengurus akreditasi,” kata Dwi.

Awal tahun lalu, pemerintah sudah memberi kesempatan kepada rumah sakit yang belum melaksanakan akreditasi untuk melakukan pembenahan dan perbaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Pemerintah juga telah memberikan surat rekomendasi kepada sejumlah rumah sakit mitra BPJS Kesehatan yang belum terakreditasi agar paling lambat 30 Juni 2019 nanti harus sudah terakreditasi,” ujar Dwi.

Kemudian pada 11 Februari 2019, Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes juga sudah mengirimkan pemberitahuan bagi rumah sakit agar segera terakreditasi.

Sementara itu, hingga akhir April 2019, terdapat 2.428 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, terdiri atas 2.202 rumah sakit dan 226 klinik utama.

“Dari 720 rumah sakit mitra BPJS Kesehatan pada Desember 2018 lalu belum terakreditasi, saat ini jumlahnya menurun menjadi 271 rumah sakit,” tutur Dwi.

Ia pun mengapresiasi langkah manajemen rumah sakit yang telah menempatkan akreditasi sebagai salah satu prioritas utama mereka.

Dwi menambahkan, fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan wajib memperbarui kontraknya setiap tahun. Hakikat dari kontrak adalah semangat mutual benefit.

Kami berharap rumah sakit bisa memanfaatkan toleransi yang sudah diberikan pemerintah sampai 30 Juni 2019 tersebut untuk segera menyelesaikan akreditasinya,” imbuh Dwi.

Di sisi lain, putusnya kerja sama rumah sakit dengan BPJS Kesehatan bukan hanya karena faktor akreditasi semata. Ada juga rumah sakit yang diputus kerja samanya karena tidak lolos kredensialing, sudah tidak beroperasi, atau Surat Izin Operasionalnya sudah habis masa berlakunya.

Dalam proses ini juga mempertimbangkan pendapat Dinas Kesehatan dan/atau Asosiasi Fasilitas Kesehatan setempat serta memastikan bahwa pemutusan kontrak tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat dengan melalui pemetaan analisis kebutuhan fasilitas kesehatan di suatu daerah.

Kriteria teknis yang menjadi pertimbangan BPJS Kesehatan untuk menyeleksi fasilitas kesehatan yang ingin bergabung antara lain sumber daya manusia (tenaga medis yang kompeten), kelengkapan sarana dan prasarana, lingkup pelayanan, dan komitmen pelayanan,” papar Dwi.

Sebagai informasi, khusus di wilayah kerja Kantor Cabang Banyuwangi terdapat satu rumah sakit yang harus segera diperbarui status akreditasinya, yaitu RSUD Genteng.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam rangka menumbuhkan kewirausahaan Start Up sejak dini, PT Bank CIMB Niaga Tbk mengajak generasi muda Banyuwangi untuk merintis jiwa wiraswasta melalui program Ayo Menabung Dan Berbagi (AMDB). Yang juga di rangkai dengan Entrepreneur Short Class.  

Hal ini merupakan salah satu program CSR dari bank yang bersangkutan di bidang edukasi, mencoba membangun bagaimana untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, yang merupakan program nasional dan tugas pokok dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Untuk di Banyuwangi, kegiatan Entrepreneur Short Class tersebut di laksanakan di 4 sekolah, yakni SDN Penganjuran, SMP Muhammadiyah Rogojampi, SMKN 1 Glagah dan SMKN 1 Banyuwangi.

Komisaris Independen CIMB Niaga, Jeffrey Kairupan mengatakan, dengan program AMDB tersebut pihaknya sebagai salah satu anggota dunia perbankan, mengambil bagian untuk mendorong di bidang edukasi di berbagai sekolah di kota kota yang di pilih karena diakui tidak bisa menjangkau semua kota di Indonesia.

Di setiap kota itu pun juga dipilih sekolah sekolah tertentu, guna menambah pengetahuan secara umum literasi mengenai keuangan perbankan supaya mereka mengetahui agar bisa memanfaatkan secara maksimalkan lembaga dan produk produk keuangan yang pada akhirnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

“Ini merupakan bagian dari target pusat untuk meningkatkan pendapatan nasional,” ujar Jeffrey.

“Disamping mendapatkan pelatihan singkat menjadi wiraswassta, para siswa juga dibimbing untuk menyusun business plan yang akan di lombakan pada Junior Entrepreneur Competition di akhir periode program AMDB 2019,” paparnya.

Berbeda dengan kegiatan di SMA/SMK, kegiatan edukasi keuangan bagi siswa SMP dilakukan melalui kuis menarik bernama Olimpiade Literasi Keuangan yang mengajak siswa belajar sambil bermain.

Jeffrey mengaku, disini, siswa SMA/SMK di tantang untuk membuat kegiatan usaha dari awal dengan menciptakan produk. Lalu di paket dan di jual lewat berbagai sarana online.

“Bagi yang masuk kriteria dari lomba ini, maka akan di bawa ke Jakarta untuk di finalkan,” kata Jeffrey.

Diakui Jeffrey, ini bagian dari upaya pihaknya untuk menstimulasi supaya sejak muda ada semangat dan gairah didalam membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan dan bukan hanya bekerja sebagai pegawai.

Sementara, program Entrepreneur Short Class 2019 ini di selenggarkan di SMA/SMK terpilih di 10 kota yaitu Pontianak, Pekanbaru, Palangkaraya, Kendari, Ambon, Denpasar, Banyuwangi, Semarang, Yogyakarta dan Purwakarta.

Banyuwangi sendiri adalah kota kedua program AMDB yang di laksanakan di SMP Muhammadiyah Rogojampi, SMKN 1 Glagah dan SMKN 1 Banyuwangi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widiatmoko menyerahkan kunci rumah warga yang telah dibedah rumahnya, dalam program pengentasan kemiskinan yang di kerjakan oleh Pemerintah Daerah dan Swasta.

Penyerahan itu dilakukan Kamis (2/5/2019) di rumah Suwarno (60), warga Lingkungan Sukowidi RT 01 RW 01 Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro.

Dalam kegiatan ini, Wabup Yusuf langsung membuka rumah Suwarno yang telah dibedah. Rumah berukuran 4 x 6 meter ini terlihat bagus. Dengan tembok bercat kuning dan lantainya abu-abu, sedangkan gentengnya terbuat dari asbes.

Sebelumnya rumah ini terbuat dari gedek yang sudah tidak layak huni. Banyak lubang dan atapnya juga sudah rusak. Setelah dibedah rumah milik Suwarno ini terlihat asri dan nyaman.

Bedah rumah ini merupakan program pengentasan kemiskinan di Banyuwangi yang dikerjakan pemerintah bareng swasta,” kata Wabup Yusuf.

“Saya sangat mengapresiasi atas kepedulian pihak swsata yang peduli dengan warga tidak mampu di dekatnya, apalagi sampai membedah rumah,” imbuhnya.

Hal ini dinilainya sebagai sesuatu yang luar biasa dan patut di contoh oleh pihak swasta lainnya. Kalau banyak pihak yang ikut peduli seperti ini maka kemiskinan di Banyuwangi bisa segera dituntaskan.

Kalau tangan pemerintah sangat terbatas untuk menjangkau semua warga miskin yang ada di daerah. Maka kepedulian dari warga mampu kepada warga yang membutuhkan sangatlah berarti,” papar Wabup Yusuf.

Camat Kalipuro Banyuwangi, Hendry Suhartono mengatakan, ini merupakan program CSR dari Mascot sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu yang bertempat tinggal di kawasan Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro.

Mascot merupakan salah satu tempat hiburan malam yang ada wilayah setempat.

“Tidak hanya bedah rumah, tapi di setiap bulan Mascot juga menyisihkan sebagian keuntungannya untuk membantu masyarakat melalui Klatak Peduli Sosial (KPS), seperti pemberian sembako, bantuan pendidikan hingga bantuan kesehatan,” papar Hendry.

Dia mengakui bahwa, Suwarno belum masuk data warga penerima bantuan bedah rumah karena semuanya masih dalam usulan.

“Karena program bedah rumah dari pemerintah daerah ini dilakukan di seluruh wilayah Banyuwangi, sehingga pengerjaannya secara bergantian,” ungkap Hendry.

Sementara itu, Manager Mascot, Effendi mengaku pihaknya telah bekerja sama dengan Klatak Peduli Sosial (KPS) maupun pihak Kecamatan Kalipuro dan Kelurahan Klatak untuk menyalurkan bantuan.

“Ini merupakan program dari pihaknya untuk hubungan masyarakat di sekitar wilayah Kecamatan Kalipuro,” tutur Effendi.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Para penyandang Disabilitas di Banyuwangi belajar menjadi barista untuk meracik kopi. Dengan ditemani barista kopi profesional, mereka antusias mengikuti arahan mulai dari pengenalan hingga cara membuat kopi dengan benar.

Proses pembelajaran ini bertujuan untuk mengajarkan para penyandang disabilitas agar berpeluang menjadi wirausaha kopi. 

Para penyandang tunarungu terlihat antusias mengikuti pelatihan cara pembuatan kopi di sebuah kedai kopi di Jalan Letnan Sanyoto kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, Senin malam, (8/4/2019).

Mereka diberi pelatihan, untuk menjadi seorang barista yang handal tentang bagaimana mengolah biji kopi dengan alat penggiling kopi atau roster, hingga menjadi minuman kopi yang siap saji. 

Sepintas terlihat sangat mudah, namun ternyata ada beberapa teknik yang harus dikuasi oleh seorang barista, agar sajian kopi yang disuguhkan memiliki cita rasa yang begitu nikmat. 

Salah satu peserta, Putri mengaku senang dengan pelatihan gratis ini sehingga dirinya bisa membuat kopi sampai mencicipinya juga.

Meski baru pertama kali ikuti pelatihan tentang kopi, ini langsung menarik perhatian saya untuk jadi seorang barista kopi,” ungkap Putri.

Dia juga mengaku tertarik untuk menjadi barista, sehingga diharapkan pelatihan ini bisa menjadikannya sebagai pengusaha kopi.

Pengalaman memberikan pelajaran menjadi barista para penyandang disabilitas ini juga dirasakan oleh Novian Dharma Putra, Barista Profesional. Dirinya mengaku kegiatan ini menjadi pengalaman baru berinteraksi dengan penyandang disabilitas. 

“Saya melihat ini bukan sebagai kesulitan atau hambatan, tapi menjadi pengalaman baru bagi diri saya,” ungkap Novian.

“Selama berkomunikasi dengan para peserta, saya dibantu oleh beberapa rekan yang mengerti bahasa isyarat,” imbuhnya.

Selain itu, komunikasi dilakukan dengan cara ditulis. Dengan kegiatan ini, Novian juga mengaku bisa belajar bagaimana komunikasi dengan peyandang tuna rungu.

“Awalnya kesulitan karena saya belum mengetahui cara berkomunikasi dengan mereka,” kata Novian.

Diawal, diajarkan komunikasi dengan cara ditulis. Dia pun mengajarkan bagaimana proses dari kopi biji sampai dengan penyeduhan kopi.

Kegiatan ini akan terus dilakukan secara bertahap yang bertujuan untuk mengajarkan para penyandang tuna rungu untuk bisa menjadi barista kopi serta berpeluang menjadi wirausaha kopi handal,” papar Novian.

Karena semua berpeluang untuk sukses termasuk para penyandang disabilitas itu,” pungkasnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Palang Merah Indonesia (PMI) Banyuwangi kembali menggelar operasi katarak bekerjasama dengan yayasan kemanusiaan John Fawcett Foundation (JFF).

Digelar selama 5 hari, kegiatan sosial ini juga akan melakukan pemberian kacamata dan pemeriksaan mata gratis untuk ribuan pasien. Yayasan Kemanusiaan Indonesia (YKI) John Fawcett Foundation (JFF) sejak tahun 2014 rutin menggelar kegiatan ini di Banyuwangi.

Manajer JFF Indonesia, Nyoman Wardhana mengatakan, bahagia rasanya melihat masyarakat yang mengalami gangguan mata terlayani.

“Ini jadi semangat bagi kami untuk membantu masyarakat supaya terhindar dari kebutaan,” ungkap Nyoman.

“Kami sudah 9 kali berada di Banyuwangi untuk melakukan bakti sosial, meski yang secara khusus bekerjasama dengan Pemkab Banyuwangi dan PMI terhitung telah 6 kali,” paparnya.

Menariknya, tahun ini JFF telah melakukan penandatanganan MOU dengan Pemkab Banyuwangi dan PMI, sehingga tahun ini bisa dilakukan dua kali bakti sosial semacam itu. Yakni pada bulan Maret dan September 2019 mendatang.

“Kami akan menambah armada bus yang digunakan sebagai tempat dilangsungkannya operasi katarak,” kata Nyoman.

“Ke depan kami akan membawa lebih banyak bus,” imbuhnya.

Pihaknya mempunyai 5 armada bus, biasanya yang dibawa ke Banyuwangi 2 atau 3 unit. Sehingga jika nanti bisa dibawa lebih banyak, diharapkan akan semakin mempercepat proses operasi itu sendiri, bahkan cakupan pasien yang ditangani bisa lebih banyak.

“Kami juga akan lebih banyak sharing dan transfer ilmu dengan paramedis yang ada di Banyuwangi, khususnya terkait pendampingan pasien gangguan mata,” tutur Nyiman.

Pasalnya, sharing pengalaman, info dan teknologi telah dimilikinya selama 27 tahun mendampingi pasien gangguan mata dengan paramedis di Banyuwangi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, dr Widji Lestariono menyatakan apresiasinya atas kerja bareng ini. Dan dia mengucapkan terima kasih yang mendalam bagi JFF dan PMI.

“Kerjasama ini bisa jadi bagian dari Unit Gawat Darurat (UGD) Penanganan Kemiskinan, membantu mengentaskan masyarakat yang kurang beruntung, yang tentunya ini akan sangat bermanfaat,” papar Kepala Dinas yang biasa disapa dokter Rio tersebut.

“Apalagi JFF mengembangkannya menjadi dua kali dalam setahun,” imbuhnya.

Kegiatan bakti sosial ini diselenggarakan selama 5 hari, mulai 26 – 29 Maret mendatang. Pemeriksaan mata diperuntukkan bagi 2000 pasien. Sedangkan operasi katarak untuk 300 orang.

Selain pemeriksaan mata, pemberian kacamata dan protase (bola mata palsu), ada pula pemeriksaan kesehatan mata untuk para siswa di dua sekolah.

“Sebanyak 8 dokter spesialis mata beserta 23 para medis dan 3 unit bus untuk operasi diterjunkan dalam bakti sosial ini,” pungkas Rio.

 

More Articles ...