radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah akan menyulap bekas Lokalisasi Padang Bulan Kecamatan Singojuruh menjadi Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos), guna mengatasi berbagai permasalahan sosial yang ada di Banyuwangi.

Dalam artian, seluruh lahan di kawasan tersebut akan di bebaskan oleh Pemkab Banyuwangi untuk di bangun berbagai pondok yang difungsikan untuk penanganan social.

Nantinya, di area setempat akan ada gedung Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan sebagian lahan lagi di gunakan bangunan perluasan dari Gedung Graha Rehabilitasi Sosial Banyuwangi untuk menampung Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), yang kini jumlahnya terus bertambah.

Kepala Dinas Sosial Banyuwangi, Edy Supriyono mengatakan, pihaknya akan mengusulkan anggaran pembebasan lahan dan pembangunan gedung pada APBD di tahun 2019 mendatang.

“Karena di harapkan, bekas lokalisasi Padang Bulan itu benar benar bersih dari para PSK yang kabarnya saat ini masih beroperasi meskipun sudah di tutup oleh pemerintah daerah dan kepolisian beberapa waktu lalu,” papar Edy.

“Kami sudah mendatangi masyarakat setempat untuk memaparkan tentang rencana pembangunan Lingkungan Pondok Sosial itu,” imbuhnya.

Dan masyarakat meminta semua lahan beserta rumah rumah yang ada untuk di beli, dengan anggaran mencapai Rp 19 Miliar.

Edy mengaku telah melaporkan permintaan masyarakat ini ke Bagian Pemerintahan Setda Banyuwangi selaku pihak pengelola pengadaan anggaran.

“Pengajuan ini diterima dan akan di lakukan pembahasan lebih detail dan lebih rinci di tahun 2019 mendatang,” ungkap Edy.

Lebih lanjut Edy mengatakan, pihaknya menargetkan realisasi sebagian lahan bisa di lakukan di awal 2019 dengan terlebih dahulu melakukan pendekatan dengan para warga, sembari menghilangkan para PSK dari kawasan setempat untuk kembali ke kampung halamannya.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Gedung Graha Rehabilitasi Sosial Banyuwangi di penuhi belasan orang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang di rawat oleh Pemerintah Daerah.

Total ada 13 orang yang rata rata berusia 70 tahunan, mendapat perawatan di gedung yang berada di wilayah Desa Licin Kecamatan Licin bersebelahan dengan Puskesmas Licin tersebut. Pemerintah Daerah sengaja memilih lokasi itu karena situasinya dingin dan sejuk yang di nilai penanganan kesehatan terhadap mereka bisa terintegrasi.

Kepala Dinas Sosial Banyuwangi, Edy Supriyono mengatakan, dari ke 13 orang tersebut ada yang sudah pikun, ada pula yang berjalan menggunakan tongkat dan kursi roda.

“Ada juga yang kondisinya sehat dan berjalan normal tapi seluruhnya tidak memiliki keluarga,” ujar Edy.

“Mereka hidup sebatang kara dan sudah tidak mampu beraktifitas, yang rata rata mereka di kirim dari beberapa kecamatan,” imbuhnya.

Disini, mereka mendapat perawatan maksimal mulai dari di mandikan hingga di beri makanan di setiap harinya.

“Mereka bisa di pulangkan ke rumahnya jika ada pihak keluarga yang mengakui sebagai kerabatnya,” kata Edy.

Edy mengaku, sejak dirinya menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial 2 bulan lalu, tercatat ada 2 orang yang sudah di pulangkan setelah di jemput keluarganya. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah orang PMKS bertambah hingga menjadi 13 orang saat ini.

“Kami turunkan 6 orang perawat yang bertugas bergiliran untuk melayani mereka,” ungkap Edy.

Bahkan, rencananya juga di hadirkan psikolog untuk menemani mereka karena dinilai sangat penting. Pasalnya, mereka hidup sebatang kara dan perlu terus dimotivasi, termasuk di tempat itu juga ada kegiatan-kegiatan produktif seperti berkebun.

Edy menjelaskan, kapasitas Gedung Graha Rehabilitasi Sosial seharusnya bisa menampung 25 orang, namun ada beberapa ruangan yang kondisinya membahayakan bagi penghuninya sehingga tidak di fungsikan dan hanya cukup menampung 13 orang saja.

“Kami sudah mengajukan dana perbaikan ke pemerintah daerah, tapi baru terealisasi ditahun 2019 mendatang,” pungkas Edy.

Sementara itu, pemerintah terus berupaya untuk memperbaiki pelayanan di Gedung Graha Rehabilitasi Sosial tersebut, termasuk adanya pemeriksaan rutin dan pemberian makanan bergizi.

Disini, khusus merawat mereka yang belum mandiri. Dan jika di anggap sudah bisa mandiri, maka akan di kembalikan kepada keluarganya ataupun di rawat di rumah sakit Krikilan jika belum ada yang mengakui dari keluarganya.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Di Banyuwangi ada wisata Kopi Lego, yang terletak di kawasan Lingkungan Lerek Kelurahan Gombengsari Kecamatan Kalipuro.

Desa ini terkenal dengan perkebunan kopi rakyatnya. Hampir setiap rumah di sana, menanam kopi di pekarangan rumah dan kebunnya. Tak hanya itu, desa ini juga dikenal sebagai kampung ettawa, salah satu sentra peternakan kambing ettawa di Banyuwangi.

Adalah Hariyono (40), warga Lerek yang berinisiatif meningkatkan potensi desanya. Pria yang akrab disapa Pak Ho ini mengungkapkan ide awal membuka wisata agro itu, dipicu dari rendahnya harga kopi rakyat di pasaran.

Waktu itu, katanya, harga biji kopi hanya Rp 17–18 ribu/kg. Padahal warga Gombengsari sebagian besar menggantungkan hidupnya dari kebun kopi.

“Kopi disini cukup enak rasanya dan hasilnya melimpah, tapi tidak terlalu berdampak pada perekonomian masyarakat,” ujar Hariyono.

“Saat itu, yang di lakukan masyarakat hanya tanam dan panen, lalu biji kopinya dijual sehingga orang lain yang mengolah biji kopi,” imbuhnya.

Akhirya dirinya sadar dan sejak akhir 2015 lalu dia mencoba untuk mengubah. Perubahan yang dimaksudkan adalah mereka mulai memproses kopi sendiri, memproduksi bubuk kopi untuk meningkatkan nilai jual kopinya.

“Masyarakat mengolah bijinya menjadi bubuk kopi lalu dibrand hingga dipasarkan sendiri. Dan ternyata, secara ekonomi jauh lebih menguntungkan,” papar Hariyono.

Sementara, Brand yang dijual adalah Kopi Lego (Lerek Gombengsari) dengan enam varian kopi. Yakni kopi luwak, kopi lanang, kopi arabika, kopi robusta, kopi leberica, dan house blend (campuran arabika dan robusta) dengan dibuat kemasan per 200 gram, harganya antara Rp 40 ribu hingga 200 ribu, tergantung jenis kopinya.

“Dalam sebulan, produksi kopi saya mencapai 1,5 kuintal,” tutur Hariyono.

Tidak hanya berhenti di situ, warga desa Gombengsari juga memperkenalkan potensi kopi yang dimilikinya melalui pariwisata. Mereka lalu membuat paket wisata edukasi kopi. Di sini, wisawatan dikenalkan berbagai proses kopi. Mulai tracking kebun kopi, melihat petik kopi, pemrosesan biji kopi secara tradisional, hingga minum kopi dan menyantap kuliner dan buah lokal khas Gombengsari.

Kebun kopi di Gombengsari luasnya mencapai sekitar 400 hektar. Rata-rata, setiap petani memiliki 1-5 hektare, dengan produksi 1,5 ton per hektare.

“Dalam satu bulan, rata-rata wisatawan yang datang ke Gombengsari ada sekitar 200 rombongan,” ungkap Hariyono.

Wisatawan juga diajak melihat kandang kambing ettawa yang banyak tersebar di rumah penduduk. Selain bisa membawa pulang hasil roasting kopinya, wisatawan bisa menikmati atraksi perah susu, dan meminum susu kambing secara langsung.

“Ini ada teknis khusus, agar susunya tidak bau prengus (bau kambing),” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyatakan kopi memiliki potensi pariwisata yang tinggi. Aneka kopi dari Sabang sampai Merauke dapat menjadi alasan wisatawan untuk mengunjungi berbagai daerah di Indonesia. 

“Kopi yang dihasilkan setiap daerah memiliki aroma dan cita rasa yang berbeda, itu yang memicu para pecinta kopi menjelajah sejumlah daerah di Indonesia untuk mencicipi kopinya,” papar Bupati Anas.

“Tidak hanya itu, cara memproses dan penyajian yang bervariasi tiap daerah juga menjadi salah satu atraksi yang menarik bagi wisatawan,” imbuhnya.

Bupati Anas berharap dengan tumbuhnya wisata agro ini bisa mengangkat perekonominian masyarakat sekitar.

“Bukan hanya petani kopi saja, tapi juga masyarakat bisa meraih keuntungan dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Gombengsari,” pungkas Bupati Anas.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Aparatur Sipil Negara (ASN) Banyuwangi menggelar do’a bersama untuk para korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang – Jawa Barat.

Do’a bersama ini di pimpin langsung Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Masjid Baabussalam Kantor Pemkab Banyuwangi, Senin siang (29/10).

Dalam kesempatan ini, Bupati Anas mengungkapkan duka citanya yang mendalam atas tragedy tersebut dan berdoa yang terbaik untuk para awak dan penumpang pesawat.

Do’a bersama ini diikuti ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diawali dengan membaca Sholawat Nabi yang dipimpin oleh takmir masjid setempat. Dilanjutkan dengan santunan anak yatim. 

Selanjutnya, Bupati Anas langsung memimpin doa dan harapan untuk para penumpang dan awak pesawat.

“Do’a ini sebagai bentuk duka cita ASN Banyuwangi yang mendalam atas musibah jatuhnya pesawat Lion Air,” kata Bupati Anas.

“Kami berharap, awak dan penumpang pesawat Lion Air rute Jakarta - Pangkal Pinang dalam lindungan Nya dan diberikan yang terbaik oleh Allah SWT,” imbuhnya.

Bupati Anas juga meminta kepada semua warga Banyuwangi untuk turut mendoakan kebaikan atas musibah ini serta di harapkan semua diberi kemudahan dalam penanganan tragedi ini.

Dalam kesempatan ini pula, Bupati Anas juga berdoa agar dunia penerbangan nasional tetap berjalan lancar pasca kejadian ini. Termasuk rute yang melayani Banyuwangi. 

“Dalam satu hari, tercatat ada 18 penerbangan dari dan menuju Bandara Banyuwangi yang di harapkan semua tetap berjalan dengan baik,” pungkas Bupati Anas.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah menggelar pameran seni Banyuwangi bertajuk Banyuwangi Painting and Photography Exhibition. Pameran ini di gelar di Gedung Wanita Paramitha Kencana Banyuwangi sejak 3-11 November 2018 dengan menampilkan karya-karya perupa asal Banyuwangi. 

Masyarakat yang datang bisa menyaksikan 104 karya lukis dan 120 karya foto dan belasan karya patung. Karya-karya tersebut ditata menarik, sehingga pengunjung bisa menikmatinya dengan nyaman.

Para seniman yang terlibat dalam pameran seni antara lain S Yadi K, Mozez Misdy, Mohammed, Joko Sutrisno, Ilyasin, dan Awiki. 

Dikatakan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pameran yang merupakan rangkaian event agenda Banyuwangi Festival ini digelar sebagai panggung bagi seniman dan fotografer untuk menampilkan karya-karyanya.

Selain itu, pameran yang rutin digelar ini juga sebagai sarana memproduksi seniman-seniman baru di Banyuwangi. 

“Pameran ini memberi ruang bagi seniman muda untuk menampilkan karyanya,” ujar Bupati Anas.

“Diharapkan, dengan rutin digelar akan melahirkan seniman -seniman baru dengan karya-karya yang menarik,” imbuhnya.

Bupati Anas juga berharap, pameran ini menjadi sarana para seniman berdiskusi dan bertukar pikir untuk perkembangan seni Banyuwangi ke depan.

Dalam pameran ini, pengunjung akan melihat berbagai karya pelukis terkenal S Yadi K, Mozes Misdy, hingga Awiki.

Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa membeli lukisan yang dipamerkan tersebut. Harganya variatif. Seperti karya pelukis Ilyasin dengan lukisan gandrung klasik dilelang dengan harga Rp 7 Juta. Ada juga lukisan di atas kanvas berukuran 150 x 100 cm karya Awiki berjudul Bunga Kana yang ditawarkan dengan harga Rp 350 juta. 

Koordinator pelukis, Ilyasin menjelaskan, beberapa lukisan milik pelukis Awiki dinilai istimewa.

Awiki adalah seorang pelukis dengan keterbatasan indera penglihatan.

“Tapi dia dapat menghasilkan karya-karya lukis yang tak kalah bagusnya dengan perupa-perupa lain dan sangat diminati para kolektor,” tutur Ilyasin.

Selain karya lukis, para pengunjung bisa melihat karya para fotografer Banyuwangi.

“Mereka semua berhasil merekam keindahan Banyuwangi dalam sebuah frame,” ungkap Ilyasin.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda mengatakan, setidaknya ada 120 foto yang ditampilkan dan semua "berbicara" tentang Banyuwangi.

“Foto-foto itu adalah hasil lomba dan kurasi dari fotografer terpilih Banyuwangi. Pameran ini juga menampilkan karya para perupa patung Banyuwangi,” papar Bramuda.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seiring dengan terus meningkatnya kunjungan wisatawan ke Banyuwangi, berdampak pada penghasilan para pelaku UMKM yang juga meningkat drastic.

Dan untuk memantau perkembangan dilapangan mengenai pendapatan dan hasil produksi, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas meninjau langsung di wilayah Kecamatan Kabat dan Kecamatan Rogojampi, Senin (29/10).

Tepatnya di Pembatik Gondoh Arum di Dusun Kepuh Desa Pakistaji Kecamatan Kabat. Di rumah batik milik Susiyati tersebut, Bupati Anas di dampingi istri, Ipuk Fiestiandani melihat langsung proses pembuatan batik tulis yang di kerjakan oleh puluhan pengrajin.

Disini, Bupati Anas mendapat penjelasan jika ada kegiatan pameran atau perhelatan Banyuwangi Festival yang berkaitan dengan batik, maka pemesanan kain batik bisa meningkat 10 kali lipat di banding biasanya.

Dan tentu ini dinilai berdampak pada pendapatan para UMKM yang juga meningkat segnifikan.

“Saya buka usaha ini sejak tahun 2012 lalu setelah saya mengikuti pelatihan membatik dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banyuwangi,” papar Susiyati.

Sedikit demi sedikit dia mengaplikasikannya ke dalam bisnis kain batik, dengan dana yang di milikinya.

“Saya sudah mengirim lembaran kain batik khas Banyuwangi bukan hanya di dalam kabupaten saja tapi sampai ke luar daerah,” ungkap Susiyati.

Selanjutnya, Bupati Anas mengunjungi pusat oleh oleh Banyuwangi Anisa di Desa Lemahbang Dewo Kecamatan Rogojampi.

Di rumah produksi makanan milik Kurnia ini, Bupati Anas juga melihat langsung proses pembuatan berbagai macam kue khas Banyuwangi, seperti klemben, keripik juga bagiak. Bahkan, orang nomer satu pada jajaran Pemkab Banyuwangi tersebut beserta istri mencicipi beberapa jenis kue yang di nilainya cukup enak.

“Ke depan, tolong dilengkapi sarung tangan ya agar lebih Higienis,” ujar Bupati Anas saat melihat para karyawan memasukkan kue ke dalam kemasan yang cukup menarik.

“Hebat loh, setiap hari bisa menghabiskan 2 kwintal tepung untuk buat kue kue itu,” kata Bupati Anas setelah mendapat penjelasan dari pemilik.

Kue kue itu untuk memenuhi pesanan dari toko maupun pengecer, seiring dengan terus meningkatnya wisatawan yang datang ke Banyuwangi.

“Bahkan kata bu Anisa, peningkatan pendapatannya mencapai 70 persen,” ungkap Bupati Anas.

Setelah di UMKM, Bupati Anas mengunjungi pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Puskesmas Gladag Kecamatan Rogojampi.

Bupati Anas masuk ke setiap ruangan medis, yang di nilainya sudah cukup bagus dan nyaman untuk melayani masyarakat. Namun yang menjadi perhatian adalah masih minimnya pepohonan di sekitaran puskesmas.

“Saya minta kepala puskesmas untuk menambah tanaman pohon trembesi ya agar lebih rindang,” ujar Bupati Anas.

Perjalanan Bupati Anas tidak hanya berhenti disini saja. Dilanjutkan dengan mengunjungi rumah salah satu warga miskin di daerah setempat, yang menerima bantuan dari beberapa program social Pemkab Banyuwangi.

Yakni rumah milik Hasanah di Dusun Krajan RT 02 RW 07 Desa Gladag Kecamatan Rogojampi. Disini, di berikan bantuan sembako.

Saat rumahnya di datangi Bupati Anas, nenek berusia 70 tahun tersebut mengaku sangat gembira dan terharu.

“Sehari hari saya sudah tidak bekerja karena tenaga saya tidak kuat,” kata Hasanah.

“Untuk makanan sehari hari dibantu oleh anak anak saya juga dari pemerintah daerah dalam program Rantang Kasih,” pungkas Hasanah.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dinas Pertanian Banyuwangi membuka layanan ambulance yang dikhususkan untuk hewan, baik peliharaan maupun ternak yang membutuhkan pertolongan medis. Selain akan berkeliling secara rutin, ambulance ini juga membuka layanan panggilan via telepon bagi warga yang hewan ternaknya sakit. 

Ambulance tersebut berupa kendaraan minibus yang dimodifikasi layaknya ambulance untuk manusia. Kendaraan ini juga dilengkapi dengan perlengkapan dan penanganan medis di tempat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, kendaraan Ambulance ini untuk mendekatkan pelayanan pada masyarakat dan peternak di Banyuwangi.

“Saya minta kendaraan ini lebih banyak mobile ke peternakan-peternakan, untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi peternak,” ujar Bupati Anas.

Ambulance itu juga dilengkapi sirine, serta berbagai fasilitas peralatan medis, dokter hewan, tenaga kesehatan, serta obat-obatan untuk kesehaan hewan.

Bupati Anas mengatakan dengan ambulance ini, diharapkan penanganan kesehatan terhadap hewan ternak tertangani semakin cepat dan tepat, untuk meminimalisir kerugian yang dialami peternak.

“Karena, jika masalah kesehatan hewan ternak bisa segera diatasi, maka akan menghindari kerugian yang lebih besar bagi peternak,” pungkas Bupati Anas.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan, mengatakan, ambulance kesehatan hewan ini merupakan pelayanan khusus dari Rumah Sakit Rintisan Hewan Banyuwangi.

“Tidak hanya hewan ternak saja, tapi juga hewan peliharaan, seperti kucing, anjing, iguana, dan hewan peliharaan lainnya,” ujar Arief.

Ambulance ini juga melayani proses persalinan hewan ternak seperti sapi dan kambing. Bagi hewan yang bisa ditangani di lokasi, akan langsung ditangani oleh dokter hewan dan petugas medis di tempat.

“Bagi hewan yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut, langsung dibawa ke rumah sakit hewan setelah mendapat penanganan awal,” ungkapnya.

Arief memaparkan, ambulance ini juga untuk laboratorium produk peternakan. Seperti meneliti kondisi daging, susu, kualitas hati, dan lainnya, untuk menjaga kualitas sebelum produk-produk peternakan tersebut beredar di pasar.

“Ambulance ini akan rutin keliling ke sentra-sentra ternak warga,” imbuh Arief.

Selain melakukan pemeriksaan rutin, warga yang membutuhkan layanan ini bisa langsung telpon petugas Dinas Pertanian. 

Ambulance ini kian melengkapi pelayanan bagi peternak dan petani. Sebelumnya Banyuwangi telah memiliki klinik keliling, Mobil Layanan Pertanian Terpadu atau dikenal dengan nama Bilaperdu, yang tugasnya membantu petani yang menemui kesulitan terkait pertanian.

More Articles ...