radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk mengantisipasi terjadinya kerusuhan antar warga binaan, pihak Lapas Banyuwangi memperkuat pemeriksaan serta menggelar berbagai kegiatan positif.

Seperti memberdayakan tenaga para warga binaan untuk membuat kerajinan baik kayu maupun batik, yang selama ini sudah berlangsung di dalam Lapas. Selain itu, mereka juga di berdayakan dan di beri tanggung jawab untuk mengelola kolam lele serta ikan koi.

Dan hasil dari penjualan kerajinan dan batik juga pengelolaan ikan tersebut, di gunakan untuk biaya operasional. Sisanya, untuk upah para warga binaan agar mereka semakin semangat untuk melakukan berbagai aktifitas tersebut.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II B Banyuwangi, Ketut Akbar Achjar mengatakan, semua itu di lakukan pihaknya untuk keamanan.

“Kami juga di bentuk tim kreatif untuk memberikan berbagai kreatifitas para warga binaan sekaligus pembinaan yang pada akhirnya mengerucut pada keamanan,” ujar Akbar.

“Karena di saat mereka banyak kegiatan dan aktifitas di pastikan akan lupa dengan berbagai macam pikiran negative. Sehingga mereka lebih berpikiran ke hal hal positif, karena disaat capek bekerja maka langsung beristirahat dan besoknya bekerja lagi,” paparnya.

Akbar mengaku, pihaknya memberikan keleluasaan kepada para warga binaan untuk berkreasi agar mereka tidak merasa dibatasi pergerakannya. Bahkan, di dalam Lapas Banyuwangi juga di laksanakan latihan music bagi warga binaan yang menyukai seni.

“Meski memperkuat pemeriksaan tapi kami tidak membatasi jumlah pengunjung, karena itu adalah hak hak mereka untuk mengunjungi sanak saudaranya yang tersandung kasus,” tutur Akbar.

Namun yang semakin di perkuat adalah system pengamanannya dan petugas di lengkapi dengan alat X Ray yang merupakan bantuan dari Kementrian Hukum dan HAM.

X Ray adalah alat untuk mendeteksi barang barang berbahaya yang di bawa oleh para pengunjung, seperti senjata tajam, narkoba maupun jihandak.

Sementara itu, Kain Batik Gajah Oling Jeruji (Bagajo) dan kerajinan bamboo hasil kreasi warga binaan Lapas Banyuwangi, berhasil di ekspor ke berbagai negara.

Kerajinan Bambu tersebut berbentuk berbagai hiasan dinding juga beberapa peralatan dapur, seperti sendok kayu, tempat memotong daging dan sejenisnya. Selama ini telah diekspor ke Belanda dan Korea, tergantung bentuk yang di pesan.

“Untuk desain Batik Gajah Oling Jeruji (Bagajo) mempunyai motif khusus yang menjadi ikon bahwa itu adalah hasil kreasi para warga binaan Lapas Banyuwangi,” ungkap Akbar bangga.

Dalam artian, desain batik gajah olingnya sendiri sesuai dengan pakemnya dan tidak di rubah. Namun ditambah kreasi gambar gelang di setiap ujung lekukan, yang di maksudkan itu adalah borgol.

Batik Gajah Oling Jeruji ini sendiri merupakan batik tulis yang di kerjakan langsung oleh para warga binaan, dan bukan batik cap.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kain Batik Gajah Oling Jeruji (Bagajo) dan kerajinan bamboo hasil kreasi warga binaan Lapas Banyuwangi, berhasil di ekspor ke berbagai negara.

Kerajinan Bambu tersebut berbentuk berbagai hiasan dinding juga beberapa peralatan dapur, seperti sendok kayu, tempat memotong daging dan sejenisnya. Hingga kini, pemesanan kerajinan tersebut terus meningkat utamanya dari luar negeri.

Dan selama ini telah diekspor ke Belanda dan Korea, tergantung bentuk yang di pesan.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II B Banyuwangi, Ketut Akbar Achjar mengatakan, untuk desain Batik Gajah Oling Jeruji (Bagajo) mempunyai motif khusus yang menjadi ikon bahwa itu adalah hasil kreasi para warga binaan Lapas Banyuwangi.

“Desain batik gajah olingnya sendiri sesuai dengan pakemnya dan tidak di rubah. Tapi ditambah kreasi gambar gelang di setiap ujung lekukan, yang di maksudkan itu adalah borgol,” ujar Akbar.

“Batik Gajah Oling Jeruji ini sendiri merupakan batik tulis yang di kerjakan langsung oleh para warga binaan, dan bukan batik cap,” imbuhnya.

Akbar mengaku, ini adalah kreasi yang sengaja di munculkan ke permukaan agar diketahui masyarakat. Sementara untuk pemasaran Bagajo tersebut masih ditingkat local, memenuhi pemesanan dari berbagai instansi dan sekolahan.

“Kami berencana akan merangkul Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banyuwangi untuk membantu pemasaran yang lebih luas, hingga keluar daerah,” kata Akbar.

“Harga dari Bagajo tersebut terbilang murah dibanding batik tulis di luaran,  yakni hanya di bandrol Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu perlembar,” ungkapnya.

Akbar menambahkan, para warga binaan yang terlibat dalam pengerjaan berbagai produktifitas tersebut adalah mereka yang memiliki masa tahanan cukup lama, dan ke depan mereka juga akan mendapatkan remisi.

Selain kerajinan kayu dan Batik Gajah Oling Jeruji, tim kreatif Lapas Banyuwangi juga mengembangkan produk susu kedelai. Juga membuat kolam lele dan ikan Koi, yang sudah mempunyai pangsa pasar tersendiri.

“Hasil dari penjualan berbagai kerajinan itu masuk ke bagian bendahara,” tutur Akbar.

Dan setelah digunakan untuk pembelian bahan bahan baku, sisanya untuk honor para warga binaan yang selama ini terlibat dalam pengembangan produktifitas tersebut.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Menjelang akhir tahun 2018, kehadiran Peraturan Presiden (Perpres) nomor 82 tahun 2018 dinilai menguntungkan bagi implementasi program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Tidak hanya menyatukan sejumlah regulasi yang awalnya diterbitkan masing masing instansi, Perpres ini juga menyempurnakan aturan sebelumnya.

Kepala BPJS Kesehatan KC Banyuwangi, Hernina Agustin mengatakan, Perpres tersebut menjabarkan beberapa penyesuaian aturan di sejumlah aspek.

“Secara umum, ada beberapa hal yang perlu diketahui masyarakat diantaranya, pendaftaran bayi baru lahir, status kepesertaan bagi perangkat desa, status peserta yang ke luar negeri, aturan suami istri yang sama sama bekerja, tunggakan iuran, denda layanan serta aturan JKN-KIS terkait Pemutusan Hubungan Kerja (PHK),” papar Hernina.

Dia menjelaskan, dalam Perpres nomor 82 tahun 2018 tersebut, bagi bayi yang baru lahir dari peserta JKN-KIS wajib di daftarkan ke BPJS Kesehatan paling lama 28 hari sejak di lahirkan. Aturan ini mulai berlaku 3 bulan sejak Perpres tersebut di undangkan.

“Jika sudah didaftarkan dan iuran nya sudah di bayarkan, maka bayi itu berhak memperoleh jaminan pelayanan kesehatan sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku,” ungkap Hernina.

Dan khusus bayi yang di lahirkan dari peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), maka secara otomatis status kepesertaannya mengikuti orang tuanya sebagai peserta PBI. Sedangkan untuk bayi yang dilahirkan bukan dari peserta JKN-KIS, maka di berlakukan ketentuan pendaftaran peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) pada umumnya, yaitu proses verifikasi pendaftarannya memerlukan 14 hari kalender. Dan setelah melalui rentang waktu itu, iurannya baru bisa di bayarkan.

Sementara, untuk status kepesertaan bagi perangkat desa, kehadiran Perpres ini di nilai juga membuat status kepesertaan JKN-KIS bagi kepala desa dan perangkat desa menjadi lebih jelas.

“Kedua jabatan tersebut ditetapkan masuk dalam kelompok peserta JKN-KIS segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) yang di tanggung oleh pemerintah,” kata Hernina.

Perhitungan iurannya sama dengan perhitungan iuran bagi PPU tanggungan pemerintah lainnya, yaitu 2% dipotong dari penghasilan peserta yang bersangkutan dan 3% dibayarkan oleh pemerintah.

Hernina menjelaskan, masih terkait kepesertaan, dalam Perpres tersebut juga di jelaskan bahwa seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang sudah menjadi peserta JKN-KIS dan tinggal di luar negeri selama 6 bulan berturut-turut, dapat menghentikan kepesertaannya sementara.

“Selama masa penghentian sementara itu, ia tidak dapat manfaat jaminan BPJS Kesehatan,” imbuhnya.

Hernina mengaku, jika sudah kembali ke Indonesia, ia wajib melapor ke BPJS Kesehatan dan membayar iuran paling lambat 1 bulan sejak kembali ke Indonesia. Dan jika sudah melapor, maka ia pun berhak memperoleh kembali jaminan kesehatan.

“Aturan ini dikecualikan bagi peserta dari PPU yang masih mendapatkan gaji di Indonesia,” tutur Hernina.

Selain itu, apabila ada pasangan suami istri yang masing masing merupakan pekerja, maka keduanya wajib didaftarkan sebagai peserta JKN-KIS segmen PPU oleh para pemberi kerja, baik pemerintah ataupun swasta. Keduanya juga harus membayar iuran seusai dengan ketentuan yang berlaku dan mereka berhak memilih kelas perawatan tertinggi.

“Perpres itu juga memberi ketegasan mengenai denda bagi peserta JKN-KIS yang menunggak,” ujar Hernina.

Dimana, status kepesertaan JKN-KIS seseorang di nonaktifkan jika ia tidak melakukan pembayaran iuran bulan berjalan sampai dengan akhir bulan, apalagi bila ia menunggak lebih dari 1 bulan. Sedangkan untuk denda layanan di berikan jika peserta terlambat melakukan pembayaran iuran.

Apabila peserta tersebut menjalani rawat inap di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) dalam waktu sampai dengan 45 hari sejak status kepesertaannya aktif kembali, maka ia akan di kenakan denda layanan sebesar 2,5% dari biaya diagnose awal INA-CBG’s. Adapun besaran denda pelayanan paling tinggi adalah Rp 30 juta.

“Sesuai dengan Perpres nomor 82 tahun 2018, peserta JKN-KIS dari segmen PPU yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), tetap memperoleh hak manfaat jaminan kesehatan paling lama 6 bulan, tanpa membayar iuran,” papar Hernina.

“Manfaat jaminan kesehatan itu diberikan berupa manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III,” pungkasnya.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Menjelang Natal dan Tahun Baru 2019, stok bahan pangan di Banyuwangi aman. Ketersediaan beras, telur, daging ayam, daging sapi, cabai, hingga elpiji terpantau dalam jumlah yang mencukupi.

Kepala Bulog Subdivre V Banyuwangi, David Susanto mengatakan, saat ini stok beras yang ada di Gudang Bulog Banyuwangi mencapai 71.000 ton yang terdiri dari beras medium dan premium.

“Jumlah ini cukup untuk kebutuhan menjelang Natal dan tahun baru yang biasanya permintaan meningkat. Itu bisa untuk kebutuhan masyarakat hingga beberapa bulan ke depan,” ujar David.

“Karena stok beras melimpah, kami juga mengirim ke wilayah Nusa Tenggara Timur, Bali hingga Papua,” imbuhnya.

David menjelaskan, dari pantauan Bulog, harga beras di Banyuwangi masih stabil.

“Walau ada sedikit kenaikan, tapi masih wajar karena tetap dijual di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET),” tutur David.

Untuk Beras medium HET Rp. 9.450, dan di pasaran masih dijual Rp. 9.000/kg. Sementara beras premium HET nya Rp. 12.500, dijual Rp. 12.000/kg.

Selain beras, Bulog juga masih memiliki stok komoditas strategis lain. Di antaranya gula pasir sebanyak 1.350 ton, tepung terigu 4.200 kilogram, dan minyak goreng 3.500 liter. Semua komoditas tersebut, telah disalurkan lewat Operasi Pasar (OP) yang telah digelar rutin sejak awal 2018.

“Kami terus menggelar Operasi pasar disepanjang tahun ini untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok, termasuk saat menjelang Natal dan Tahun Baru nanti,” papar David.

Dan untuk di Operasi Pasar, gula dijual Rp. 10.000/kg, tepung terigu Rp. 7.500/kg, dan minyak goreng Rp. 11.500/liter.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setyawan menambahkan, jumlah stok beras di Banyuwangi dinilai mencukupi. Hingga Bulan November 2018 ini, produksinya sebesar 777.868 ton gabah kering giling atau setara dengan 485.588 ton beras.

“Sementara tingkat konsumsi masyarakat pada periode Januari-November hanya sebesar 148.264 ton, sehingga terjadi surplus beras 337.314 ton sepanjang 2018,” papar Arief.

Dia mengaku, surplus tersebut akan terus bertambah seiring dengan musim panen pada Bulan Desember ini. Dalam artian, stok beras di Banyuwangi mencukupi bahkan hingga satu tahun ke depan.

“Untuk komoditas pangan lain juga dipastikan cukup,” kata Arief.

Produksi daging sapi perhari di Banyuwangi sebanyak 56 ekor, tingkat konsumsi masyarakat 40 ekor. Produksi ayam ras perhari sebanyak 11 ton, sementara tingkat konsumsi sebesar 9,2 ton. Begitu juga dengan telur ayam, produksi perharinya sebanyak 28,3 ton, tingkat konsumsi masyarakat perhari 26,4 ton.

“Untuk stok cabe di Banyuwangi juga masih aman,” tuturnya.

Pada Desember ini, panen cabai merah sebanyak 1.302 ton. Konsumsi riil masyarakat sebanyak 393,56 ton perbulan. Stok cabai rawit mencapai 5.611 ton, sementara konsumsi riil masyarakat hanya 393,28 ton per bulan.

“Ini menunjukkkan stok cabai di Banyuwangi menjelang Natal dan Tahun Baru masih aman,” pungkas Arief.

Sementara itu, Sales Executive LPG VII, Pertamina MOR V, Agung Kaharesa, juga menjamin ketersediaan LPG 3 kg cukup.

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru 2019, pertamina akan menambah pasokan LPG  3 kg sebanyak 74.480 tabung atau sebesar 143 persen dari kebutuhan normal.

“Hingga saat ini, harga LPG 3 kg di Banyuwangi masih terpantu normal sesuai HET,” ujar Agung.

Dengan penambahan ini, dia yakin ketersediaan LPG akan cukup sehingga tidak terjadi kelangkaan dan lonjakan harga.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Menjelang perayaan pergantian Tahun Baru, harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tradisional Banyuwangi mulai mengalami kenaikan.

Diantaranya, cabe kecil dari Rp 22.000 naik menjadi Rp 40.000/kg. Juga bawang merah yang sebelumnya Rp 22.000 menjadi Rp 25.000/kg. Salah satu pedagang di pasar Banyuwangi, Misriyah menjelaskan, meskipun mengalami kenaikan, namun untuk stok bahan pokok yang di pasok ke para pedagang di nilainya masih aman.

“Ada sejumlah bahan pokok yang tidak mengalami kenaikan harga dan masih standart meskipun menjelang Tahun Baru,” ujar perempuan berusia 58 tahun tersebut.

Seperti, beras kwalitas bagus per kilogram seharga Rp 12.000. Minyak goreng kemasan Rp 12.000/liter, Telur Rp 25.000/kg, Bawang Putih Rp 18.000/kg, Ranti Rp 14.000/kg, Tomat Rp 6.000/kg, serta cabe besar Rp 20.000/kg dan Kentang Rp 12.000/kg. Sementara, daging ayam potong saat ini seharga Rp 38.000/kg.

“Khusus harga cabe kecil mengalami kenaikan hampir di setiap harinya, mencapai Rp 5.000 per kilogram,” tutur Misriyah.

Meski demikian, dia mengaku harga sejumlah kebutuhan pokok di mungkinkan tidak akan terus mengalami kenaikan meskipun setelah Natal dan Tahun Baru, karena kebutuhan masyarakat dinilai tidak terlalu segnifikan di banding saat perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Sementara itu, Pemerintah Pusat memastikan, stok dan harga berbagai kebutuhan pokok menjelang Natal 2018 masih aman hingga memasuki Tahun Baru 2019.

Hal ini disampaikan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita saat mengunjungi pasar tradisional Banyuwangi beberapa waktu.

Menurutnya, secara global stok pangan di Indonesia masih aman dan stabil, utamanya menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

“Memang ada beberapa komoditas di sejumlah daerah yang mengalami kenaikan harga, tapi itu tidak terlalu segnifikan. Seperti daging ayam dan telur,” papar Menteri Enggar.

“Selama 3 tahun berturut turut, pemerintah dinilai berhasil mengendalikan harga kebutuhan pokok utamanya menjelang maupun disaat bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, guna menghindari gejolak di tengah masyarakat,” ujarnya bangga.

Meski demikian, ini juga berkat kerja sama dengan Pemerintah Daerah yang dinilai berhasil mengendalikan ketersediaan pangan di wilayahnya, termasuk Banyuwangi.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk mendukung program pemerintah sekaligus meningkatkan minat makan ikan bagi anak anak, warga dusun Pancer desa Sumberagung Pesanggaran pada Jumat pagi (7/11/18) menggelar acara makan ikan bersama ratusan anak anak.

Acara makan ikan bersama ini, digelar di pantai Mustika dengan melibatkan anak anak TK dan SD di wilayah desa Sumberagung dan Pesanggaran untuk makan ikan bersama.  Kegiatan makan ikan bersama yang bertajuk  memasyarakatkan gemar makan ikan tersebut, pelaksanaannya didukung oleh perusahaan tambang emas Tumpang Pitu PT. Bumi suksesindo (BSI). 

Humas PT. BSI Mufizar Mahmud menuturkan, kegiatan makan ikan bersama ratusan anak anak TK dan SD ini, juga mendukung program pemerintah agar masyarakat gemar makan ikan untuk kesehatan mereka. Terlebih di Banyuwangi juga menjadi salah satu kabupaten penghasil ikan terbesar di Indonesia.

Menumbuhkembangkan kegemaran anak anak makan ikan ini, kata Mufi bisa menunjang peningkatan kesehatan bagi anak anak, mengingat ikan juga mengandung vitamin dan protein tinggi yang sangat bagus untuk konsumsi penunjang tumbuh kembang anak.

Untuk ikan yang dikonsumsi peserta gemar makan ikan tersebut, berasal dari nelayan asal wilayah Pancer Pesanggaran. Ikan yang dimakan oleh anak anak tersebut lanjut Mufi, juga hasil tangkapan nelayan yang didapat di sekitar pantai di Pesanggaran. 

" Ini program pemerintah, kita ikut bahagia mendukung dalam bentuk kampanye ini dengan mngumpulkan anak untuk gemar makan ikan untuk kesehatan mereka", katanya. 

 

 

 

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Calon Wakil Presiden, Sandiaga Uno berjanji akan memperhatikan nasib para nelayan, jika terpilih memimpin Indonesia bersama Capres, Prabowo Subianto.

Hal itu disampaikan Cawapres nomor urut 2 tersebut usai berdialog dengan puluhan nelayan, UMKM dan ibu ibu perwakilan dari 25 kelurahan se Banyuwangi, Selasa (27/11) di Banyuwangi.

“Dari hasil dialog itu, saya telah menyaring berbagai aspirasi dari mereka,” ujar Sandiaga.

Utamanya adalah para nelayan yang menginginkan kehidupannya lebih sejahtera dan ingin harga berbagai kebutuhan pokok tidak terlalu mahal dan lebih terjangkau, utamanya harga harga ikan stabil demi untuk kebutuhan hidup mereka bersama anak dan istrinya.

“Mereka juga ingin peluang untuk meningkatkan kesejahteraan lebih di tingkatkan dengan mempermudah berbagai sarana prasarana di dalam menjalankan aktifitas pekerjaannya,” papar Sandiaga.

Sementara itu, terkait dengan upaya yang akan di lakukannya bersama Capres Prabowo Subianto jika terpilih nantinya, Sandiaga akan memprioritaskan sekaligus meningkatkan kesejahteraan setiap kelompok masyarakat, yang selama ini belum mendapat perhatian dari pemerintah.

Dalam kegiatan Kampanye Politiknya di Banyuwangi ini, Sandiaga Uno mengawalinya dengan menggelar dialog bersama para pelaku UMKM peralatan rumah tangga di kawasan Kecamatan Kalibaru Banyuwangi, yang selama ini sebagian besar masyarakatnya berprofesi membuat peralatan dapur berbahan stanlesteel yang sudah di lakukan secara turun temurun dari nenek moyang mereka.

Selanjutnya, bersilaturrahmi dengan KH Khotib Habibullah pengasuh Pondok Pesantren Ummul Quro’ Desa Kerikilan Kecamatan Glenmore. Selang beberapa lama, Sandiaga menggelar pertemuan dengan masyarakat dari 25 desa di Kecamatan Genteng, Sempu, Kalibaru dan Glenmore beserta para Guru Honorer K2 di kawasan Kecamatan Genteng. Lalu di lanjutkan dengan mengunjungi para korban terdampak banjir di Desa Alas Malang Kecamatan Singojuruh.

Tidak hanya itu, Sandiaga juga berdialog dengan para nelayan, UMKM dan ibu ibu perwakilan 25  kelurahan se Banyuwangi, peresmian Roemah Djoeang dan dialog dengan relawan PEPES, Pira dan relawan RD di jalan Brawijaya Kelurahan Bakungan Kecamatan Glagah.

Lanjut dialog dengan para pengusaha muda Banyuwangi. Setelah itu, terbang kembali ke Jakarta melalui Bandara Banyuwangi dengan menggunakan pesawat Citilink QG 701.

More Articles ...