radiovisfm.com, Banyuwangi - Calon Wakil Presiden, Sandiaga Uno berjanji akan memperhatikan nasib para nelayan, jika terpilih memimpin Indonesia bersama Capres, Prabowo Subianto.

Hal itu disampaikan Cawapres nomor urut 2 tersebut usai berdialog dengan puluhan nelayan, UMKM dan ibu ibu perwakilan dari 25 kelurahan se Banyuwangi, Selasa (27/11) di Banyuwangi.

“Dari hasil dialog itu, saya telah menyaring berbagai aspirasi dari mereka,” ujar Sandiaga.

Utamanya adalah para nelayan yang menginginkan kehidupannya lebih sejahtera dan ingin harga berbagai kebutuhan pokok tidak terlalu mahal dan lebih terjangkau, utamanya harga harga ikan stabil demi untuk kebutuhan hidup mereka bersama anak dan istrinya.

“Mereka juga ingin peluang untuk meningkatkan kesejahteraan lebih di tingkatkan dengan mempermudah berbagai sarana prasarana di dalam menjalankan aktifitas pekerjaannya,” papar Sandiaga.

Sementara itu, terkait dengan upaya yang akan di lakukannya bersama Capres Prabowo Subianto jika terpilih nantinya, Sandiaga akan memprioritaskan sekaligus meningkatkan kesejahteraan setiap kelompok masyarakat, yang selama ini belum mendapat perhatian dari pemerintah.

Dalam kegiatan Kampanye Politiknya di Banyuwangi ini, Sandiaga Uno mengawalinya dengan menggelar dialog bersama para pelaku UMKM peralatan rumah tangga di kawasan Kecamatan Kalibaru Banyuwangi, yang selama ini sebagian besar masyarakatnya berprofesi membuat peralatan dapur berbahan stanlesteel yang sudah di lakukan secara turun temurun dari nenek moyang mereka.

Selanjutnya, bersilaturrahmi dengan KH Khotib Habibullah pengasuh Pondok Pesantren Ummul Quro’ Desa Kerikilan Kecamatan Glenmore. Selang beberapa lama, Sandiaga menggelar pertemuan dengan masyarakat dari 25 desa di Kecamatan Genteng, Sempu, Kalibaru dan Glenmore beserta para Guru Honorer K2 di kawasan Kecamatan Genteng. Lalu di lanjutkan dengan mengunjungi para korban terdampak banjir di Desa Alas Malang Kecamatan Singojuruh.

Tidak hanya itu, Sandiaga juga berdialog dengan para nelayan, UMKM dan ibu ibu perwakilan 25  kelurahan se Banyuwangi, peresmian Roemah Djoeang dan dialog dengan relawan PEPES, Pira dan relawan RD di jalan Brawijaya Kelurahan Bakungan Kecamatan Glagah.

Lanjut dialog dengan para pengusaha muda Banyuwangi. Setelah itu, terbang kembali ke Jakarta melalui Bandara Banyuwangi dengan menggunakan pesawat Citilink QG 701.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Selama dua hari berada di Banyuwangi, Senin-Selasa (26-27/11), Kepala Kantor Staf Presiden, Jenderal (Purn) Moeldoko mengaku sangat menikmati lingkungan dan masyarakatnya yang dinilai ada sesuatu yang baru dari waktu ke waktu.

Bahkan, Mantan Panglima TNI itu juga merasa terkesan dengan Banyuwangi yang pariwisatanya menggeliat dalam beberapa tahun terakhir dan mengatakan ingin kembali lagi ke Banyuwangi.

“Ini adalah kali ketiga saya datang ke Banyuwangi,” ujar Moeldoko.

Pada kunjungannya yang pertama beberapa tahun lalu, dia hanya menjalankan aktivitas yang terkait kedinasan. Dan saat itu Banyuwangi dinilainya biasa saja. Demikian pula kunjungan kedua beberapa waktu lalu, di mana Moeldoko mengunjungi sejumlah kantor pemerintahan di Banyuwangi.

“Kunjungan saya ke dua kalinya ini mulai ada sesuatu yang menarik di Banyuwangi,” tutur Moeldoko.

Sedangkan untuk yang ketiga kalinya ini menurut Moeldoko, dirinya merasa seperti ada deret ukur untuk bisa datang lagi ke Banyuwangi dan bukan deret hitung.

Dalam matematika, deret hitung adalah skema perubahan angka lewat mekanisme penjumlahan. Sedangkan deret ukur mengubah angka dengan perkalian. Sehingga jumlah deret ukur selalu melampaui deret hitung.

“Saya ke Banyuwangi ini seperti menikmati yang terbaik dari Bali, tapi dengan harga rupiah,” kata Moeldoko.

“Di Bali, tarif di beberapa resor papan atas memang berbasis dolar AS,” imbuhnya.

Untuk di Banyuwangi ini, Moeldoko menginap disebuah hotel berkonsep resor di tepi pantai. Dia menunjuk lautan di selat bali yang dinilai suasananya tenang dan menentramkan.

“Lingkungan dan masyarakat Banyuwangi akan selalu membuat saya kangen, apalagi makanannya,” kata Moeldoko.

Dia juga mengaku banyak belajar dari Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas tentang berbagai perubahan, karena dinilainya selalu ada inovasi inovasi social yang muncul disetiap dirinya berkunjung ke Banyuwangi.

Moeldoko mendarat di Bandara Banyuwangi, Senin (26/11). Begitu mendarat, Moeldoko terkesan dengan konsep terminal hijau di bandara tersebut.

Saat ini, pemerintah pusat melalui Kementerian BUMN menggelontorkan dana Rp350 miliar untuk pengembangan Bandara Banyuwangi menuju bandara internasional.

“Ada kekhasan tersendiri di Bandara Banyuwangi, yang tidak bisa ditemukan di bandara lain,” paparnya.

Sambil menikmati durian orange khas Banyuwangi di tepi pantai, Moeldoko bercerita, dirinya sudah menjadwalkan liburan bareng keluarganya ke Banyuwangi dan masih mencari waktu yang pas, menyesuaikan dengan tugas-tugas pemerintahan.

Moeldoko yang pernah mendapat penugasan militer ke berbagai negara di dunia tersebut juga menikmati kuliner ikan laut, kopi Banyuwangi, dan berbagai jajanan tradisional. Bahkan juga membeli camilan dan kerupuk produksi Banyuwangi untuk dibawa ke Jakarta.

 

radiovisfm, Banyuwangi - Anggota  Jaringan Radio Siaran Banyuwangi (JRSB) bersama Komisi I DPRD Banyuwangi mendatangi kantor Balmon  kelas 1 Surabaya, melaporkan maraknya  radio bodong yang tak kunjung ditertibkan oleh pemerintahpada Selasa siang (13/11/18). Kedatangan anggota dewan bidang hukum yang dipimpin oleh wakil ketua DPRD ini ke Surabaya,  untuk melaporkan maraknya radio ilegal di Banyuwangi yang keberadaannya sangat merugikan radio swasta di Banyuwangi. Langkah ini dilakukan untuk menindaklanjuti hearing di DPRD tanggal 13 September kemarin tentang maraknya radio illegal di Banyuwangi yang tak kunjung ditertibkan. 

Ketua Jaringan Radio Siaran Banyuwangi, Herdi menuturkan, berdasarkan hasil pertemuan bersama kepala balai monitoring satu Surabaya, pihaknya diterima dengan baik dan aspirasinya sudah diterima. Selain itu kata dia dalam waktu dekat  akan dibentuk satu tim yang melibatkan semua komponen yang berkaitan dengan radio illegal untuk menertibakn radio tak berijin tersebut. Herdi berharap ada langkah nyata dari hasil pertemuan tersebut sehingga radio bodong yang tak mengantongi ijin di banyuwangi dapat segera di tertibkan. Sebab keberadaan radio illegal tersebut dinilai sangat merugikan banyak pihak diantaranya bandara Banyuwangi dan radio swasta yang sudah mengantongi ijin. 

 

Sementara itu wakil ketua DPRD Banyuwangi Yusieni mengatakan, pasca pertemuan tersebut ada sinergi antara balmon bersama pihak terkait untuk turun ke banyuwangi melakukan penertiban radio bodong. Sebab kata dia akibat banyaknya radio karaoke yang tak mengantongi ijin, banyak keluhan yang masuk ke meja dewan, diantaranya gangguan yang ditimbulkan terhadap frekuensi penerbangan bandara Banyuwangi serta isi siaran yang tak mendidik. Terlebih jumlah radio bodong tersebut di Banyuwangi mencapai 200 lebih.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Gedung Graha Rehabilitasi Sosial Banyuwangi di penuhi belasan orang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang di rawat oleh Pemerintah Daerah.

Total ada 13 orang yang rata rata berusia 70 tahunan, mendapat perawatan di gedung yang berada di wilayah Desa Licin Kecamatan Licin bersebelahan dengan Puskesmas Licin tersebut. Pemerintah Daerah sengaja memilih lokasi itu karena situasinya dingin dan sejuk yang di nilai penanganan kesehatan terhadap mereka bisa terintegrasi.

Kepala Dinas Sosial Banyuwangi, Edy Supriyono mengatakan, dari ke 13 orang tersebut ada yang sudah pikun, ada pula yang berjalan menggunakan tongkat dan kursi roda.

“Ada juga yang kondisinya sehat dan berjalan normal tapi seluruhnya tidak memiliki keluarga,” ujar Edy.

“Mereka hidup sebatang kara dan sudah tidak mampu beraktifitas, yang rata rata mereka di kirim dari beberapa kecamatan,” imbuhnya.

Disini, mereka mendapat perawatan maksimal mulai dari di mandikan hingga di beri makanan di setiap harinya.

“Mereka bisa di pulangkan ke rumahnya jika ada pihak keluarga yang mengakui sebagai kerabatnya,” kata Edy.

Edy mengaku, sejak dirinya menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial 2 bulan lalu, tercatat ada 2 orang yang sudah di pulangkan setelah di jemput keluarganya. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah orang PMKS bertambah hingga menjadi 13 orang saat ini.

“Kami turunkan 6 orang perawat yang bertugas bergiliran untuk melayani mereka,” ungkap Edy.

Bahkan, rencananya juga di hadirkan psikolog untuk menemani mereka karena dinilai sangat penting. Pasalnya, mereka hidup sebatang kara dan perlu terus dimotivasi, termasuk di tempat itu juga ada kegiatan-kegiatan produktif seperti berkebun.

Edy menjelaskan, kapasitas Gedung Graha Rehabilitasi Sosial seharusnya bisa menampung 25 orang, namun ada beberapa ruangan yang kondisinya membahayakan bagi penghuninya sehingga tidak di fungsikan dan hanya cukup menampung 13 orang saja.

“Kami sudah mengajukan dana perbaikan ke pemerintah daerah, tapi baru terealisasi ditahun 2019 mendatang,” pungkas Edy.

Sementara itu, pemerintah terus berupaya untuk memperbaiki pelayanan di Gedung Graha Rehabilitasi Sosial tersebut, termasuk adanya pemeriksaan rutin dan pemberian makanan bergizi.

Disini, khusus merawat mereka yang belum mandiri. Dan jika di anggap sudah bisa mandiri, maka akan di kembalikan kepada keluarganya ataupun di rawat di rumah sakit Krikilan jika belum ada yang mengakui dari keluarganya.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Festival Endhog-Endhogan yang digelar dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad pada Selasa sore (20/11) berlangsung meriah. Ribuan kembang endhog diarak dari empat penjuru menuju ke titik kumpul di depan Kantor Pemda Banyuwangi.

Ribuan endhog (bahasa Using: Telur) itu, ditaruh ditangkai bambu yang dihias bunga kertas. Hal ini dikenal luas dengan sebutan kembang endhog. Kembang endhog tersebut lantas dirangkai di judang. Yaitu, sebuah tempat berhias yang menjadi papan kembang endhog. Ada yang terbuat dari pelepah pisang, gabus dan lain sebagainya.

Yang membuat tambah meriah, ribuan kembang endhog yang tersaji di ratusan judang tersebut di arak keliling. Ada yang dari timur, barat, utara, dan selatan. Masing-masing penjuru dilengkapi dengan tabuhan rebana dan tarian kuntulan. Masing-masing peserta juga membawa ancak yang berupa makanan siap saji.

Dalam sambutan singkatnya saat membuka kegiatan ini, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiyatmoko mengatakan bahwa Festival Endhog-Endhogan merupakan bagian dari ekspresi khas kecintaan masyarakat Banyuwangi kepada Nabi Muhammad SAW.

"Tradisi endhog-endhogan ini, merupakan tradisi yang khas Banyuwangi dan tidak ada di tempat lain. Ini adalah bentuk ekspresi kecintaan warga Banyuwangi kepada Nabi Muhammad," ungkap Yusuf.

Kembang endhog sendiri bukan semata hiasan ataupun hiburan. Namun, sarat dengan nilai-nilai filosofis. Hiasan bunga pada bambu hingga buah berbentuk telur memiliki makna tersendiri. 

"Ini adalah visualisasi dari kelahiran dari Nabi Muhammad yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Bambu yang tak berbunga dan berbuah, bisa berbunga dan berbuah berkat rahmat Allah yang diberikan atas kelahiran Nabi Muhammad," cetusnya.

Lebih dari itu, lanjut Wabup Yusuf, yang terpenting dari peringatan Maulid Nabi tersebut adalah semangat untuk meneladaninya.

"Jangan sampai kita semangat saat pawai, tapi lupa untuk meneladani apa yang telah Nabi Muhammad ajarkan," pungkasnya.

Rangkaian Festival Endhog-Endhogan ditutup dengan tausiyah maulid yang disampaikan oleh Ustad Andi Nur Hidayat sekaligus doa. Kemudian, ancak yang diarak dimakan bersama. Sedangkan kembang endhognya dibagikan ke segenap pengunjung.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah akan menyulap bekas Lokalisasi Padang Bulan Kecamatan Singojuruh menjadi Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos), guna mengatasi berbagai permasalahan sosial yang ada di Banyuwangi.

Dalam artian, seluruh lahan di kawasan tersebut akan di bebaskan oleh Pemkab Banyuwangi untuk di bangun berbagai pondok yang difungsikan untuk penanganan social.

Nantinya, di area setempat akan ada gedung Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan sebagian lahan lagi di gunakan bangunan perluasan dari Gedung Graha Rehabilitasi Sosial Banyuwangi untuk menampung Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), yang kini jumlahnya terus bertambah.

Kepala Dinas Sosial Banyuwangi, Edy Supriyono mengatakan, pihaknya akan mengusulkan anggaran pembebasan lahan dan pembangunan gedung pada APBD di tahun 2019 mendatang.

“Karena di harapkan, bekas lokalisasi Padang Bulan itu benar benar bersih dari para PSK yang kabarnya saat ini masih beroperasi meskipun sudah di tutup oleh pemerintah daerah dan kepolisian beberapa waktu lalu,” papar Edy.

“Kami sudah mendatangi masyarakat setempat untuk memaparkan tentang rencana pembangunan Lingkungan Pondok Sosial itu,” imbuhnya.

Dan masyarakat meminta semua lahan beserta rumah rumah yang ada untuk di beli, dengan anggaran mencapai Rp 19 Miliar.

Edy mengaku telah melaporkan permintaan masyarakat ini ke Bagian Pemerintahan Setda Banyuwangi selaku pihak pengelola pengadaan anggaran.

“Pengajuan ini diterima dan akan di lakukan pembahasan lebih detail dan lebih rinci di tahun 2019 mendatang,” ungkap Edy.

Lebih lanjut Edy mengatakan, pihaknya menargetkan realisasi sebagian lahan bisa di lakukan di awal 2019 dengan terlebih dahulu melakukan pendekatan dengan para warga, sembari menghilangkan para PSK dari kawasan setempat untuk kembali ke kampung halamannya.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Daerah menggelar pameran seni Banyuwangi bertajuk Banyuwangi Painting and Photography Exhibition. Pameran ini di gelar di Gedung Wanita Paramitha Kencana Banyuwangi sejak 3-11 November 2018 dengan menampilkan karya-karya perupa asal Banyuwangi. 

Masyarakat yang datang bisa menyaksikan 104 karya lukis dan 120 karya foto dan belasan karya patung. Karya-karya tersebut ditata menarik, sehingga pengunjung bisa menikmatinya dengan nyaman.

Para seniman yang terlibat dalam pameran seni antara lain S Yadi K, Mozez Misdy, Mohammed, Joko Sutrisno, Ilyasin, dan Awiki. 

Dikatakan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pameran yang merupakan rangkaian event agenda Banyuwangi Festival ini digelar sebagai panggung bagi seniman dan fotografer untuk menampilkan karya-karyanya.

Selain itu, pameran yang rutin digelar ini juga sebagai sarana memproduksi seniman-seniman baru di Banyuwangi. 

“Pameran ini memberi ruang bagi seniman muda untuk menampilkan karyanya,” ujar Bupati Anas.

“Diharapkan, dengan rutin digelar akan melahirkan seniman -seniman baru dengan karya-karya yang menarik,” imbuhnya.

Bupati Anas juga berharap, pameran ini menjadi sarana para seniman berdiskusi dan bertukar pikir untuk perkembangan seni Banyuwangi ke depan.

Dalam pameran ini, pengunjung akan melihat berbagai karya pelukis terkenal S Yadi K, Mozes Misdy, hingga Awiki.

Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa membeli lukisan yang dipamerkan tersebut. Harganya variatif. Seperti karya pelukis Ilyasin dengan lukisan gandrung klasik dilelang dengan harga Rp 7 Juta. Ada juga lukisan di atas kanvas berukuran 150 x 100 cm karya Awiki berjudul Bunga Kana yang ditawarkan dengan harga Rp 350 juta. 

Koordinator pelukis, Ilyasin menjelaskan, beberapa lukisan milik pelukis Awiki dinilai istimewa.

Awiki adalah seorang pelukis dengan keterbatasan indera penglihatan.

“Tapi dia dapat menghasilkan karya-karya lukis yang tak kalah bagusnya dengan perupa-perupa lain dan sangat diminati para kolektor,” tutur Ilyasin.

Selain karya lukis, para pengunjung bisa melihat karya para fotografer Banyuwangi.

“Mereka semua berhasil merekam keindahan Banyuwangi dalam sebuah frame,” ungkap Ilyasin.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda mengatakan, setidaknya ada 120 foto yang ditampilkan dan semua "berbicara" tentang Banyuwangi.

“Foto-foto itu adalah hasil lomba dan kurasi dari fotografer terpilih Banyuwangi. Pameran ini juga menampilkan karya para perupa patung Banyuwangi,” papar Bramuda.

 

More Articles ...