radiovisfm.com, Banyuwangi - Satuan Lalu Lintas Polres Banyuwangi menggelar kegiatan bhakti social dan pengobatan gratis di area Kampung Batara Lingkungan Papring Kelurahan Kalipuro Kecamatan Kalipuro Banyuwangi, Rabu (18/9/2019).

Kegiatan ini di gelar dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas ke 64 untuk membantu sesama.

Dengan dipimpin langsung Kasat Lantas Polres Banyuwangi AKP Am Rido Arifieanto, puluhan anggota lalu lintas beserta bhayangkari ikut terlibat dalam permainan bersama anak anak di Kampung Batara.

Bahkan Kasat Lantas pun juga terlihat senang dan menikmati bernyanyi dan bermain bersama mereka.

“Dipilihnya Kampung Batara ini karena warga sini ada keinginan untuk berkembang dalam meningkatkan perekonomian mereka, juga dalam hal pendidikan,” tutur AKP Am Rido.

Disini, kepolisian memberikan bantuan berupa buku kepada anak anak serta sembako kepada orang tua mereka.

“Kami ikut mensuport dan mendukung kegiatan mereka dengan memberikan pengobatan gratis dan disiapkan perpustakaan keliling milik Satlantas di area setempat, untuk lebih meningkatkan minat baca anak anak dengan disiapkan berbagai macam buku pengetahuan,” papar Kasat Lantas.

Dia mengaku sangat senang ikut terlibat dengan berbagai permainan bersama anak anak di Kampung Batara tersebut. Dan dinilainya suasana kekeluargaan sangat dibangun di wilayah setempat sehingga mereka saling bergembira bersama.

“Kami harap, ke depan Kampung Batara ini berkembang semakin baik dengan adanya keterlibatan berbagai pihak, dan bukan hanya dari kepolisian untuk mendukung semua kegiatan di wilayah setempat,” pungkas AKP Am Rido.

Di Kampung Batara ini, anak anak setempat di ajari berbagai pengetahuan yang tidak didapatkan di sekolahan mereka. Uniknya, pembelajaran ini di lakukan di tengah hutan dan di pinggir sungai.

Untuk bisa sampai ke Kampung Batara tersebut harus melewati perkampungan warga di tengah perkebunan dengan kondisi jalanan menanjak dan menurun.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Satuan Reskrim Polres Banyuwangi menangkap 3 orang laki laki yang diduga terlibat dalam rangkaian pencurian sepeda motor.

Kasus ini terungkap berawal dari laporan Yuli Kartika warga Lingkungan Krajan RT 04 RW 03 Kelurahan Kebalenan Kecamatan Banyuwangi ke pihak kepolisian.

Perempuan berusia 38 tahun tersebut mengaku rumahnya di bobol pencuri dan sejumlah barang berharga berhasil di bawa kabur. Seperti sepeda motor Honda Beat bernomor P 2586 S milik temannya, Farid Ardi Ali Akbar yang dititipkan di rumahnya, serta 1 unit ponsel Samsung type J6+.

Menurut pengakuan korban kepada pihak kepolisian, pada Sabtu (14/9/2019) sekira pukul 15.35 WIB lalu dirinya mendapat sms dari orang tak dikenal mengajak ketemuan di kawasan simpang lima ke timur. Selanjutnya pada pukul 18.00 WIB, korban bersama anaknya menuju ke lokasi yang ditentukan oleh pengirim sms tersebut.

Selang beberapa lama, tiba tiba korban mendapat sms kembali untuk meminta nomor rekening namun satu jam kemudian nomor ponsel yang menghubungi korban sudah tidak aktif.

Selanjutnya, korban pulang ke rumahnya namun mengaku kaget setelah mendapati pintu gudang dalam keadaan terbuka. Setelah di cek ternyata pintu rumah korban bagian belakang juga dalam keadaan terbuka dan terdapat bekas congkelan.

Rupanya sepeda motor dan ponsel di dalam rumah korban dibawa kabur pencuri.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi AKP Panji Pratista Wijaya mengatakan, setelah dilakukan pengembangan penyidikan, kepolisian pun berhasil mengungkap identitas pelaku yang bertempat tinggal tidak jauh dari rumah korban. Resmob Unit Pidum Satreskrim Polres Banyuwangi menangkap Restu Wiratmoko (43) warga Jalan Tunggul Ametung gang 04 Kelurahan Kebalenan Kecamatan Banyuwangi.

“Dia ditangkap di pinggir jalan Kembang Waru Kelurahan Karangrejo setelah menjual sepeda motor hasil curiannya,” ujar AKP Panjji.

Dari hasil interograsi kepolisian, pelaku mengaku menjual sepeda motor tersebut kepada Sugiono (53) yang bertempat tidak jauh dari lokasi penangkapan, tepatnya di kawasan RT 04 RW 01 Kelurahan Karangrejo seharga Rp 4.000.000.

AKP Panji menjelaskan, selang beberapa lama, kepolisian menangkap Sugiono di wilayah setempat dan mengaku sepeda motor korban telah dijualnya kepada Abdalah (73) warga Jalan Bromo RT 02 RW 02 Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi seharga Rp 5.750.000.

“Kami melakukan pengejaran terhadap Abdalah hingga akhirnya berhasil ditangkap di kawasan wisata Grand Watu Dodol dengan diamankan sepeda motor korban. Sementara untuk ponsel Samsung milik korban telah dihancurkan oleh tersangka, guna menghilangkan jejak,” papar AKP Panji.

Dia menambahkan, guna pengembangan penyidikan lebih lanjut, ketiga tersangka beserta barang bukti sepeda motor hasil curian diamankan di Mapolres Banyuwangi, beserta 1 lembar STNK atas nama Farid Adi Ali Akbar juga sebuah obeng bentuk lancip yang digunakan tersangka untuk mencongkel daun pintu rumah korban dan uang transaksi senilai Rp 5.750.000.

Atas semua perbuatannya, tersangka Restu Wiratmoko dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian. Sedangkan 2 tersangka lainnya di jerat pasal 480 KUHP tentang penadah. Masing masing dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara.

 

 

 

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna menjaga ketertiban masyarakat di dalam berlalu lintas, Polres Banyuwangi menggelar Operasi Patuh Semeru 2019 yang menyasar berbagai pelanggaran.

Tercatat ada 8 prioritas penindakan pelanggaran lalu lintas yang menjadi focus aparat kepolisian pada operasi kali ini.

Yakni pengendara dan pembonceng sepeda motor wajib menggunakan helm SNI. Juga menggunakan Seat Belt atau sabuk pengaman bagi pengendara kendaraan roda 4. Mengurangi kecepatan kendaraan.

Selain itu, juga dilarang mengendara atau mengemudi kendaraan dalam kondisi mabuk.

Kaur Reg Ident (KRI) Polres Banyuwangi, Iptu Budi Hermawan mengatakan, selain 4 point tersebut, yang menjadi sasaran dalam Operasi Patuh Semeru kali ini adalah para pengendara kendaraan sepeda motor yang masih di bawah umur dan menggunakan ponsel saat berkendara atau mengemudi.

“Pengendara yang melawan arus dalam keadaan apapun juga jadi sasaran utama aparat kepolisian. Serta dilarang penggunaan Strobo atau sirine di jalan raya,” papar Iptu Budi.

“Jika para pengendara kendaraan bermotor dinilai melanggar ke 8 prioritas tersebut maka akan di kenakan sangsi penindakan tilang,” imbuhnya.

Kegiatan ini di gelar serentak se Jawa Timur termasuk Banyuwangi, terhitung mulai 29 Agustus 2019 hingga 11 September 2019 mendatang.

“Sejumlah lokasi yang menjadi sasaran di laksanakannya operasi Patuh Semeru ini adalah di berbagai daerah yang rawan terjadi kecelakaan atau Black Spot,” ungkap Iptu Budi.

Dia menambahkan, selama kegiatan ini berlangsung melibatkan seluruh aparat Satuan Lalu Lintas Polres Banyuwangi sejumlah 110 personel.

“Ditambah satuan lalu lintas dari polsek Jajaran seperti Kalibaru, Genteng, Gambiran, Muncar dan Wongsorejo yang masing masing berjumlah 5 personel,” tutur KRI.

Kegiatan Operasi Patuh Semeru 2019 ini digelar di wilayah 25 kecamatan se Banyuwangi. Untuk itulah, diharapkan masyarakat melengkapi setiap perjalannnya dengan surat surat kendaraan bermotor dan Surat Ijin Mengemudi (SIM) nya.

Sementara itu, sebelum turun ke lapangan, seluruh aparat kepolisian melaksanakan gelar pasukan Operasi Patuh Semeru 2019 di Mapolres Banyuwangi.

Juga dilakukan penyebaran brosur kepada para penggunda jalan raya yang melintas di depan Mapolres Banyuwangi, yang berisi himbauan tertib berlalu lintas serta sosialisasi informasi mengenai pelaksanaan Operasi Patuh Semeru 2019.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kedapatan mencuri ponsel milik warga Kabupaten Sumenep, Madura, seorang laki laki asal Kelurahan Mandar Kecamatan Banyuwangi ditangkap polisi.

Ini pelajaran untuk seluruh masyarakat agar bisa menjaga nama baik kota Banyuwangi. Pasalnya, seiring dengan banyaknya wisatawan yang terus berdatangan ke Banyuwangi, seharusnya masyarakat bisa memberikan pelayanan yang baik.

Tidak halnya seperti yang dilakukan oleh AS (34) warga Lingkungan Kampung Mandar Kelurahan Mandar. Dia diduga mencuri ponsel milik Marzuki (50) warga Dusun Ahadan RT 01 RW 01 Kelurahan Banjar Timur Kecamatan Gapura, Sumenep Madura.

Saat itu, pada Minggu (22/7/2019) sekira pukul 23.00 WIB, korban sedang memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko asesoris yang ada di selatan Bank BCA lama Banyuwangi hendak beristirahat setelah menempuh perjalanan pulang dari Madura. Setelah parkir, korban langsung tertidur pulas dan ponselnya di cas di dalam mobil.

Setelah pukul 05.00 WIB, korban bangun dan mengetahui ponselnya sudah tidak ada ditempat awal. Selanjutnya, dia melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian guna meminta penanganan hukum.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki mengatakan, setelah mendapat laporan korban, kepolisian bergerak cepat untuk melakukan pengembangan penyidikan.

Hasilnya, di pertengahan bulan Agustus 2019 ini, unit reskrim Polsekta Banyuwangi yang dipimpin Kanit Reskrim Ipda Nurmansyah berhasil menangkap seseorang yang diketahui bernama Nita di rumah kos yang ada di kawasan Jalan Jenggala Kelurahan Tamanbaru Kecamatan Banyuwangi.

“Setelah diinterograsi aparat kepolisian, dia mengaku mendapatkan ponsel jenis Vivo itu dari seorang laki laki yang bernama Kaka, sesuai Id di WhatsApp,” papar Kapolsek.

“Lalu kami melaksanakan lidik terhadap nomor Kaka itu,” imbuhnya.

AKP Ali Masduki menjelaskan, kepolisian pun menanyakan keberadaan Kaka yang ternyata adalah AS tersebut, bertempat tinggal di kawasan Kampung Mandar. Dan dia mengaku berada di kawasan Kecamatan Kalipuro.

“Sejumlah aparat kepolisian pun langsung menuju ke lokasi keberadaan AS yang ternyata sedang ada di pinggir jalan, hingga dilakukan penangkapan lalu di gelandang ke Mapolsekta Banyuwangi guna menjalani pemeriksaan,” ujar AKP Ali Masduki.

Kapolsek menambahkan, dari catatan kriminalitas kepolisian, rupanya pelaku adalah residivis dan pernah di hukum atas kasus yang sama.

Dihadapan petugas, pelaku mengakui semua perbuatannya. Dan kepolisian juga mengamankan ponsel milik korban sebagai barang bukti, yang sebelumnya dibeli oleh Nita.

“Atas semua perbuatannya, pelaku di jerat pasal 363 KUHP tentang pencurian, dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara,” pungkas Kapolsek.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam waktu yang hampir bersamaan, jajaran Satuan Reskrim Polres Banyuwangi berhasil mengungkap 3 kasus pencurian ponsel di 3 lokasi yang berbeda dengan menangkap para pelakunya.

Aksi pertama, Resmob Unit Pidum Satreskrim menangkap Indra Tulentino (35) warga Jalan Pecari nomor 11 RT 02 RW 01 Kelurahan Boyolangu Kecamatan Giri Banyuwangi, setelah di duga melakukan pencurian ponsel jenis Oppo A57 milik Cicik Agustia Ningrum (17) warga Kecamatan Tegaldlimo.

Ceritanya, pada Rabu 6 Maret 2019 lalu, korban bersama dua orang temannya membeli makan di warung Sritanjung kawasan jalan Brawijaya Kelurahan Kebalenan Kecamatan Banyuwangi. Saat memesan makanan, korban meletakkan ponselnya dimeja warung.

Sedianya, makanan tersebut akan dibawanya ke tempat kost. Namun setelah sampai di tempat kostnya, korban baru ingat jika ponselnya tidak ada lalu dia kembali ke warung tersebut. Tapi rupanya, ponsel milik korban sudah raib di bawa kabur pencuri.

Beberapa saat kemudian, korban mencoba menghubungi ponselnya masih aktif tapi tidak diangkat. Selanjutnya, korban melapor ke SPKT Polres Banyuwangi guna proses penyelidikan.

Upaya penyelidikan pun dilakukan kepolisian hingga berhasil menangkap tersangka didalam sebuah rumah di area perumahan Villa Ijen Watubuncul, tidak jauh dari rumahnya.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Pratista Wijaya mengatakan, dihari yang berbeda, kepolisian juga menangkap Dika Karisma (23) warga Dusun Cangkringan RT 02 RW 01 Desa Pengatigan Kecamatan Rogojampi Banyuwangi. Tersangka terbukti mencuri ponsel Oppo F5 milik Alex Setiawan (35) warga Kecamatan Rogojampi juga.

“Saat itu pada Jum’at 16 Agustus 2019, korban masuk ke dalam ATM di wilayah Rogojampi bermaksud untuk mengambil uang dan dia menaruh ponselnya diatas mesin ATM,” ujar AKP Panji.

Selang 5 menit, korban pergi dan tidak menyadari ponselnya tertinggal di dalam ruangan ATM. Rupanya, tersangka mengetahui ponsel korban dan mengambilnya berniat untuk dipakai sendiri.

“Itu terbukti dari keterangannya saat ditangkap aparat kepolisian di rumahnya,” tutur Kasat Reskrim.

Dia menjelaskan, selang sehari, Resmob Unit Pidek berhasil menangkap Saiful Arifin (43) warga Dusun Gumukrejo RT 01 RW 02 Desa Purwoharjo Kecamatan Purwoharjo, yang diduga kuat telah mencuri ponsel Xiaomy Redmi Note 7 milik Fariza Kurnia (16) masih berstatus sebagai pelajar asal Kecamatan Purwoharjo.

Saat itu Senin 13 Mei 2019, korban bersama temannya datang ke pertokoan mitra Desa Jajag Kecamatan Gambiran untuk bermain game di lantai 3. Dan dia menaruh tasnya di pegangan tempat bermain dalam keadaan tertutup. Sementara korban sendiri membelakangi tasnya tersebut dan menghadap ke layar game.

“Saking asyiknya bermain, korban tidak menyadari tasnya sudah terbuka dan saat di lihat rupanya ponselnya sudah hilang,” kata Kasat Reskrim.

Korban pun melaporkan peristiwa naas yang dialaminya ke pihak kepolisian guna meminta perlindungan hukum. Hingga akhirnya, tim Resmob berhasil membekuk tersangka di rumahnya setelah di lakukan pengembangan penyidikan.

“Kami akui, proses penyidikan ini berlangsung cukup lama karena perlu pengembangan dengan melacak keberadaan ponsel para korban. Seluruh tersangka di tangkap pada pertengahan September 2019 ini,” papar AKP Panji.

Seluruh tersangka beserta barang bukti ponsel milik korban diamankan di Mapolres Banyuwangi. Atas semua perbuatannya, ketiga tersangka di jerat pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian di Banyuwangi berhasil menangkap predator anak berkewarganegaraan asing dengan diamankan sejumlah barang bukti pendukung yang memperkuat atas dugaan tindakan asusila pelaku sesama jenis.

Kasus ini berawal dari laporan ibu korban ke pihak kepolisian yang menyatakan bahwa anak laki lakinya berinisial MI masih berusia 15 tahun warga Kecamatan Kabat mendapat pelecehan seksual dari pelaku, MJ (38) asal Australia, yang juga seorang laki laki.

Selama ini MJ menempati sebuah rumah di kawasan Kecamatan Rogojampi yang disewanya selama satu tahun terhitung sejak Januari 2019.

Dalam keterangan persnya, Wakapolres Banyuwangi, Kompol Andi Yudha Prananta mengatakan, keberadaan pelaku di Banyuwangi adalah untuk berlibur dan hal itu diperkuat dengan kunjungan visa serta paspor yang diamankan kepolisian. Sementara, pelaku sendiri tercatat sebagai manager di sebuah restoran di Australia.

“Disaat liburan, dia memilih Bali dan Banyuwangi untuk dikunjungi,” ujar Kompol Andi.

Wakapolres menjelaskan, awalnya pelaku bertemu dan berkenalan dengan korban di sebuah tempat wisata pada 2018 lalu. Selanjutnya, pelaku mengajak korban bermain kerumahnya.

Disinilah, pelaku mulai melancarkan aksinya dengan memberikan korban ponsel miliknya yang berisi video porno untuk dilihat.

“Setelah libido korban memuncak, saat itulah pelaku melakukan tindakan asusila,” kata Kompol Andi.

Menurut pengakuan pelaku, setelah puas melampiaskan nafsunya, dia memberikan uang sejumlah Rp 100.000 kepada korban sebagai imbalan. Ironisnya, perbuatan ini dilakukan pelaku hingga 5 kali sehingga sekitar pertengahan Agustus 2019 lalu korban mengeluh alat kelaminnya bengkak dan melapor kepada orang tuanya.

Wakapolres menjelaskan, setelah orang tuanya menanyakan siapa pelakunya, korban menyebutkan nama MJ yang rupanya selama ini dikenal oleh orang tua korban karena sering berkunjung ke rumahnya.

Berbekal laporan inilah, kepolisian menangkap pelaku dan selama menjalani pemeriksaan pelaku cukup koorperatif serta mengakui semua perbuatannya.

“Kami juga telah berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal (Konjen) Australia guna meminta pertimbangan terkait bidang international. Sehingga ditunjuk kuasa hukum untuk mendampingi pelaku selama menjalani pemeriksaan,” papar Wakapolres.

“Untuk korban, ditangani oleh bagian PPA Polres Banyuwangi guna dilakukan penguatan mental, mengingat korban masih dibawah umur,” tuturnya.

Sejumlah barang bukti pendukung diamankan kepolisian. Diantaranya selembar kain sprei dan bantal. Juga sebotol minyak pelicin, sebotol tablet obat kuat serta beberapa alat yang digunakan pelaku untuk melakukan tindakan asusila.

Atas semua perbuatannya, pelaku di jerat pasal 82 jonto pasal 76 E UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman diatas 15 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Meski sudah 7 hari pasca ditemukan, hingga kini kepolisian masih belum berhasil mengungkap identitas orang tua dari bayi yang dibuang ditempat sampah di area Pasar Blambangan Kelurahan Lateng Kecamatan Banyuwangi.

Bayi berjenis kelamin perempuan yang masih terdapat tali pusarnya tersebut di temukan pemulung pada kamis siang (8/8/2019) lalu, dalam kondisi terbungkus tas plastic hitam dan hijau. Di dalamnya juga ditemukan sarung laki laki, selendang bayi dan baju perempuan yang berlumuran darah.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki mengatakan, hingga Rabu (14/8/2019), kepolisian terus melakukan berbagai upaya penyelidikan untuk bisa mengungkap penyebab kematian bayi maupun identitas orang tuanya.

“Polisi bekerja sama dengan tim forensic RSUD Blambangan Banyuwangi untuk melakukan otopsi,” ungkap Kapolsek.

“Dari hasil lidik sementara, ada beberapa barang yang terkait dengan penemuan bayi tersebut kini diamankan kepolisian. Seperti tas plastic maupun sarung, baju dan selendang,” paparnya.

Dan aparat kepolisian pun juga masih terus berupaya menyelidiki pelaku pembuang bayi malang tersebut. Untuk itulah, Kapolsek meminta kepada masyarakat utamanya yang ada di sekitar TKP agar segera memberikan informasi ke pihak kepolisian jika mengetahui adanya warga yang dinilai mencurigakan, supaya segera terungkap identitas orang tua yang sudah tega membuang bayinya sendiri tersebut.

“Hingga saat ini kepolisian terus melakukan pengembangan penyidikan,” pungkas Kapolsek.

Sementara itu, pihak RSUD Blambangan Banyuwangi sudah memakamkan jenazah bayi malang tersebut di pemakaman umum belakang rumah sakit. Setelah sebelumnya, di lakukan otopsi oleh tim forensic yang hasilnya di duga sebelum di bunuh, bayi tersebut sempat hidup.

 Disepanjang lingkaran kepalanya terdapat bekas lilitan kain. Diduga mulut bayi itu sengaja di ikat dengan selendang agar tidak menangis. Namun rupanya, justru menyebabkan si bayi meninggal dunia kurang dari 24 jam setelah dilahirkan, karena tidak bisa bernafas.

 

More Articles ...