radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 4 orang kakek asal Desa Karetan Kecamatan Purwoharjo Banyuwangi ditangkap aparat kepolisian dalam waktu yang hampir bersamaan, setelah di ketahui sebagai pengecer dan pembeli nomor judi togel.

Awalnya, tim Resmob Pidana Umum Polres Banyuwangi mendapat informasi dari masyarakat tentang adanya praktek jual beli perjudian nomor togel di kawasan Kecamatan Purwoharjo.

Selanjutnya, di lakukan pengembangan penyidikan hingga berhasil menangkap Ngatimo (64) di rumahnya di kawasan Dusun Sidodadi RT 04 RW 02 Desa Karetan. Disini kepolisian mengamankan barang bukti 1 unit ponsel berisi sms pembelian nomor togel, uang tunai Rp 145 ribu, 3 buku berisi data hasil pembelian togel, 3 lembar rekap pengeluaran nomor togel, 1 buah buku tafsir mimpi dan 1 pulpen.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi AKP Panji Pratista Wijaya mengatakan, menurut pengakuan tersangka kepada petugas, setiap hari dirinya melakukan perjudian togel melalui sms dengan omset mencapai Rp 800.000 hingga Rp 1.300.000.

“Lalu kepolisian kembali melakukan pengembangan penyidikan hingga berhasil menangkap Jail (60) di rumahnya di Dusun Sidoagung RT 04 RW 01 Desa Karetan, dengan barang bukti 1 ponsel dan uang tunai Rp 165.000,” papar AKP Panji.

Dia menjelaskan, masih di wilayah setempat, kepolisian kembali menangkap tersangka lainnya yakni Sujud (72) warga Dusun Sidoagung RT 04 RW 01 Desa Karetan.

“Tersangka ditangkap bersama Ngadiman (60) warga Dusun Sidodadi RT 02 RW 01 Desa Karetan, saat ikut serta membeli nomor togel di kawasan Dusun Sidoagung RT 04 RW 02 Desa Karetan,” ujar AKP Panji.

Kasat Reskrim mengaku, penangkapan tersangka Ngadiman tersebut merupakan pengembangan dari tertangkapnya Sujud di lokasi yang sama, yang dinilai menggunakan kesempatan atau ikut dalam permainan judi togel yang di lakukan oleh tersangka Sujud.

“Dari tangan mereka diamankan 2 ponsel yang masing masing berisi transaksi judi togel,” pungkas AKP Panji.

Kini, keempat tersangka beserta barang buktinya diamankan di Mapolres Banyuwangi. Dan atas semua perbuatannya, mereka di jerat pasal 303 KUHP tentang perjudian, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tim gabungan dari Polri dan TNI menggelar patroli dengan skala besar disetiap hari selama bulan Ramadhan, dengan sasaran tempat hiburan malam sekaligus melakukan pengamanan di tempat tempat ibadah.

Kegiatan ini sengaja menyasar di berbagai tempat hiburan malam, untuk menjaga kemungkinan masih buka di bulan Ramadhan ini. Pasalnya, kepolisian dan Pemkab Banyuwangi sudah berkomitmen dari awal bahwa seluruh tempat hiburan malam diwajibkan tutup sebulan penuh, guna memberikan kenyamanan kepada umat muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa.

Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi mengatakan, apabila ada tempat hiburan yang di ketahui masih beroperasi, maka akan di berikan sangsi tegas sesuai dengan peraturan yang ada, seperti yang sudah di gulirkan pemerintah daerah.

“Operasi skala besar ini juga di fokuskan pada pengamanan di masjid dan mushollah, utamanya di jam jam rawan terjadinya aksi kriminalitas disaat umat muslim menjalankan ibadah Sholat Tarawih maupun ketika Sahur,” papar Kapolres.

Selain itu, pengamanan juga di pusatkan di berbagai lokasi yang banyak didatangi masyarakat, seperti pasar ataupun Mall.

“Biasanya, banyak masyarakat yang mendatangi pasar untuk berbelanja kebutuhan dapur disaat menjelang berbuka puasa,” tutur Kapolres.

Sementara untuk keramaian di Mall, terjadi pada saat setelah sholat Tarawih.

“Di jam jam itulah, aparat kepolisian dan tim gabungan bersiaga melakukan pengamanan untuk mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan,” ujar Kapolres.

Selain di wilayah kota, patroli ini juga di laksanakan di seluruh wilayah di Banyuwangi dengan melibatkan aparat kepolisian di masing masing polsek.

Hal ini kata Kapolres, sebagai patroli perimbangan untuk menjaga keamanan hingga ke pelosok Banyuwangi.

Sementara itu, pengamanan yang di lakukan kepolisian dan TNI ini juga dilakukan di kantor KPU dan Bawaslu Banyuwangi, hingga memasuki sekaligus usai pengumuman hasil Pemilu.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kejaksaan Negeri bersama Pemerintah Desa se Kabupaten Banyuwangi melakukan penandatanganan nota kesepahaman, dalam rangka mencegah kebocoran keuangan negara. Hal ini sesuai dengan kebijakan Kejaksaan Negeri Banyuwangi lebih mengedepankan tindakan prefentif atau pencegahan.

Dan jika masih di temukan, maka pihak Kejaksaan berusaha untuk menyelamatkan terlebih dahulu bagaimana keuangan negara itu agar tidak bocor. Namun apabila sudah tidak bisa diselamatkan dan yang membocorkan atau yang melaporkan itu tidak mau menjabarkan, maka akan di lakukan tindakan secara reprensif.

Hal itu disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Adonis usai melakukan penanda tanganan MoU tersebut, Rabu (15/5/2019).

“Ini bagian kegiatan dari bidang perdata dan tata usaha negara Kejaksaan Negeri Banyuwangi, di dalam memberikan bantuan kepada aparat pemerintah, BUMN, BUMD dan pemerintahan desa, khususnya pemerintah desa di Banyuwangi,” papar Adonis.

Dia menjelaskan, dengan MoU ini pihaknya juga ingin memberikan pencerahan kepada para kepala desa, mengingat desa adalah ujung tombak pemerintah agar dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan tidak menyimpang dari aturan, serta siap menghadap kendala hukum apabila di temui adanya penyimpangan di dalam perjalanan pekerjaannya.

Sementara itu, di dalam menanggapi banyaknya pengaduan masyarakat atas dugaan penyelewengan penyaluran Dana Desa (DD) dan Anggaran Dana Desa (ADD) di sejumlah desa ke pihak Kejaksaan Negeri, Adonis mengaku akan melakukan klarifikasi terlebih dahulu secara intelejen untuk mendapatkan kepastian apakah ini benar ataukah tidak.

“Hingga di bulan kelima tahun 2019 ini, ada beberapa laporan dugaan korupsi yang di lakukan sejumlah desa masuk ke pihak Kejaksaan Negeri,” kata Adonis.

Namun saat ini masih di klarifikasi oleh Kasi Intel, Bagus Adi Saputro yang juga merupakan Ketua Tim Pengawal, Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) yang dalam kesempatan ini juga melakukan sosialisasi mengenai keberadaan TP4D tersebut didalam mengawal penggunaan DD dan ADD.

“Saya berharap berbagai laporan dugaan korupsi itu tidak benar. Kalaupun terbukti benar, maka akan diteliti dan di klarifikasi dengan baik,” ungkap Adonis.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Pemkab Banyuwangi, Djajat Sudrajat yang hadir langsung dalam penanda tanganan tersebut mengaku, MoU ini sangat positif bagi Banyuwangi karena apapun permasalahan dari aparat desa dinilai sebagai bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah.

“Karena pendampingan pelaksanaan penyaluran ADD dan DD itu ada di setiap kecamatan, sedangkan untuk Monitoring dan Evaluasi (Monev) ada di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa,” papar Djajat.

Dia mengatakan, MoU ini juga untuk mencegah agar jangan sampai penggunaan dana dari negara dan daerah tersebut tidak seusai dengan perundang undangan yang berlaku, sehingga pelaksanaan anggaran bisa transparan, akuntabel, layak dan patut.

“Untuk Pemkab Banyuwangi sendiri, melakukan Monev setiap 3 bulan sekali. Ada sih beberapa temuan tapi itu hanya sebatas syarat administrasi saja dan itu telah di lakukan pembenahan,” kata Djajat.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian mengamankan 8 anak Punk yang biasa mangkal di perempatan dan simpang lima, karena dinilai keberadaan mereka menganggu kenyamanan para pengguna jalan.

Awalnya, kepolisian Polsekta Banyuwangi mendapat laporan dari masyarakat yang mengaku merasa resah dengan keberadaan anak anak punk di perempatan Lateng, Patung Kuda, maupun simpang lima di hampir setiap malam.

Kapolsekta Banyuwangi, AKP Ali Masduki mengatakan, mendapati laporan ini, sejumlah aparat kepolisian pun melakukan identifikasi mengenai keberadaan mereka hingga akhirnya di temukan disebuah rumah kosong yang ada di kawasan Kelurahan Lateng, tidak jauh dari perempatan.

“Dari penggerebekan ini, kepolisian amankan 8 anak punk yang 5 diantaranya adalah laki laki dan 3 perempuan,” ujar Kapolsek.

“2 anak punk perempuan itu pacaran dengan 2 anak punk laki laki, dan selama ini pula mereka selalu kumpul bersama berpindah pindah tempat,” ungkapnya.

Kapolsek menjelaskan, setelah di operasi, mereka di gelandang ke Mapolsekta Banyuwangi untuk di lakukan pembinaan agar tidak menjadi penyakit masyarakat dan kembali hidup normal.

“Setelah di interograsi, rupanya 7 anak tercatat sebagai warga Kabupaten Jember dan 1 anak lainnya warga Banyuwangi tepatnya Kelurahan Temenggungan, tapi orang tuanya tinggal di Malang,” papar Kapolsek.

Dan yang tinggal di Temenggungan adalah neneknya.

Kapolsek mengaku, setelah di lakukan pendataan, seluruhnya di serahkan ke Dinas Sosial untuk dikembalikan ke orang tuanya agar bisa diawasi lebih ketat lagi.

Sementara itu, dari pantauan di lapangan, hampir menjelang tengah malam selalu ada anak anak punk yang mangkal di perempatan lateng, Simpang 5, perempatan Sukowidi maupun perempatan patung kuda.

Dengan pakaian yang kumal dan menyebarkan bau tidak sedap, mereka selalu meminta uang kepada para pengendaraan kendaraan bermotor utamanya mobil.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dengan pendampingan dari Tim Pengawal, Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri Banyuwangi, setiap kepala desa bisa melaporkan balik oknum masyarakat yang menuding adanya dugaan korupsi, jika itu nantinya tidak terbukti.

Pasalnya, selama ini masyarakat desa dinilai seenaknya sendiri dan juga menjadi bahan kriminalisasi dari oknum oknum yang tidak bertanggung jawab.

Oleh sebab itu menurut Kasi Intel Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Bagus Adi Saputro, ke depan semuanya akan blak blakan tentang pembangunan dan tentang dana yang di gunakan serta laporan pertanggung jawabannya seperti apa.

“Di TP4D ini nantinya jika ada gugatan maka akan ditangani oleh Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) sesuai kolaborasi yang ada,” ujar Bagus yang juga merupakan Ketua TP4D Kejaksaan Negeri Banyuwangi tersebut.

Dia menjelaskan, Namun jika laporan dugaan korupsi penyelewengan penggunaan Dana Desa (DD) maupun Anggaran Dana Desa (ADD) tidak terbukti, maka kepala desa yang bersangkutan bisa menggugat dan melaporkan balik atas pencemaran nama baik sebagai kasus pidana.

“Ini merupakan pola baru untuk melindungi para kepala desa yang selama ini sebagai sasaran laporan berbagai oknum atas tudingan dugaan korupsi,” tutur Bagus.

Oleh sebab itu, ke depan setiap pembangunan dan berbagai kegiatan yang dilakukan desa akan terekspos oleh media yang mempunyai badan hukum resmi, sebagai pertanggung jawaban ke masyarakat.

Lebih lanjut Bagus mengatakan, soal adanya intervensi pemerintah daerah terhadap penggunaan DD maupun ADD untuk keperluan tertentu, itu tidak diperbolehkan dan dianggap menyalahi aturan.

“Karena sebelumnya sudah di anggarkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), yang selanjutnya ditetapkan dalam APB des,” kata Bagus.

“Apabila pemerintah daerah mengintervensi terkait penggunaan APBD, maka itu sah sah saja dan tidak ada masalah,” pungkasnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Polres Banyuwangi memberikan ribuan bungkus takjil kepada para pengguna jalan raya, sembari melakukan sosialisasi mengenai tertib berlalu lintas.

Kegiatan ini di laksanakan di depan Masjid Agung Baiturrahman atau di sekitaran RTH Taman Sritanjung pada Sabtu sore (11/5/2019) yang dipimpin langsung Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi bersama istrinya, serta Wakapolres Kompol Andi Yudha Pranata juga melibatkan para pengurus Bhayangkari Polres Banyuwangi.

Kontan saja, dengan adanya kegiatan ini sempat terjadi kemacetan arus lalu lintas karena banyaknya pengendara kendaraan bermotor yang antri menerima takjil, berupa roti, kolak pisang dan es cincau serta es buah.

“Di awal kegiatan pembagian takjil ini di siapkan 2000 bungkus,” ujar Kapolres.

“Ke depan, kegiatan serupa akan di laksanakan di beberapa lokasi secara bertahap,” imbuhnya.

Kapolres menjelaskan, selain bagi bagi takjil, pihaknya juga memberikan sosialisasi dan pemahaman tentang keselamatan berlalu lintas karena saat ini masih berlangsung Operasi Simpatik Semeru 2019.

Bahkan, Kapolres memasangkan tali helm kepada para pengendara kendaraan bermotor yang terlihat talinya lepas.

“Ini bagian kecil untuk memberikan contoh kepada para pengguna jalan raya tentang arti pentingnya berlalu lintas,” ungkap Kapolres.

Tidak hanya pengendara sepeda motor, para karyawan pabrik pembekuan udang yang diangkut menggunakan truck juga kebagian mendapatkan takjil tersebut. Mereka tampak sangat bergembira menerima bungkusan dari para istri kapolsek yang berjajar di sepanjang jalan.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Diketahui mencuri ponsel milik tetangganya, seorang laki laki warga Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi ditangkap aparat kepolisian setelah di lakukan pengembangan penyidikan selama 8 bulan lebih.

Penangkapan ini berawal dari laporan Budi Haryanto (43) warga Lingkungan Kramat RT 03 RW 03 Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi.

Dalam laporannya ke Mapolsekta Banyuwangi, korban menyebutkan bahwa pada Rabu 26 september 2018 sekira pukul 01.30 WIB, 2 ponsel miliknya dibuat mainan oleh anaknya. Selang beberapa lama, dia tertidur dan kedua ponsel tersebut di cash di sampingnya. Namun sekira pukul 05.00 WIB, korban bangun tidur dan mengetahui kedua ponselnya tersebut sudah hilang.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki mengatakan, setelah mendapat laporan dari korban tersebut, pihaknya melakukan pengembangan penyidikan hingga beberapa bulan dengan melacak keberadaan ponsel milik korban.

“Upaya ini pun membuahkan hasil, unit Reskrim Polsekta Banyuwangi berhasil menemukan keberadaan ponsel korban sekaligus menangkap pelakunya, yakni Satriawan (27) yang bertempat tinggal tidak jauh dari rumah korban,” papar Kapolsek.

Tersangka di tangkap di depan Gedung Wanita Paramitha Kencana jalan RA Kartini, Senin (6/5/2019).

Dihadapan petugas, tersangka mengaku berhasil masuk ke dalam rumah korban disaat si pemilik sedang tertidur lelap, lalu membawa kabur 2 ponsel yang sedang di cash.

“Tersangka juga mengaku baru kali ini melakukan pencurian, tapi kepolisian tidak mempercayai begitu saja dan hingga kini masih terus di lakukan pengembangan penyidikan,” ujar Kapolske.

Kini, tersangka beserta barang bukti 2 unit ponsel hasil kejahatannya di amankan di Mapolsekta Banyuwangi. Dan atas semua perbuatannya, tersangka dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan (curat), dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

 

More Articles ...