Kasus Pencukuran Rambut Siswa, 12 Saksi Telah Diperiksa Polisi

Hukum
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 12 saksi di periksa kepolisian dalam kasus pelaporan puluhan siswa yang di cukur berantakan di SDN 2 Patoman Kecamatan Blimbingsari Banyuwangi.

Mereka sudah di periksa di Mapolsek Rogojampi Banyuwangi, baik pelapor hingga murid yang menjadi korban pencukuran tersebut.

Kapolsek Rogojampi Banyuwangi, AKP Agung Setya Budi mengatakan, kepolisian terus melakukan pendalaman terkait dengan pelaporan 20 siswa SD yang dicukur tidak beraturan itu.

“Saksi yang diperiksa diantaranya 1 pelapor, 6 siswa dan 4 orang dari sekolah. Pemeriksaan meliputi tentang kejadian di sekolah saat tragedi pencukuran ngawur itu,” papar Kapolsek.

Menurutnya, kejadian ini terjadi saat para siswa latihan pencak silat. Pelatih silat dari luar sekolah tepatnya dari PSHT mencukur rambut puluhan siswa kelas 3 hingga 5 SD tersebut dengan ngawur.

“Selain itu, AR selaku guru olah raga sekaligus koordinator ekstra kulikuler pencak silat juga di periksa karena dia sebagai penanggung jawab,” kata Kapolsek.

Sebelumnya, pada Senin (11/03) lalu sekitar 20 anak SD di Kecamatan Blimbingsari Banyuwangi bersama dengan orangtuanya melaporkan salah satu gurunya di Polsek setempat. Pelaporan ini dikarenakan perbuatan guru yang dinilai tidak manusiawi.

Ceritanya, 20 pelajar tersebut ikut ekstra kulikuler pencak silat di sekolahannya dengan di koordinatori oleh oknum guru, AR yang masih berstatus sebagai honorer.

Selama proses latihan berjalan, AR mendatangkan 2 orang pelatih dari luar sekolah. Dan pada kegiatan latihan Jum’at (07/03), AR meminta kedua pelatih itu untuk memotong rambut ke 20 pelajar tersebut dengan alasan mereka tidak mengindahkan perintah dirinya yang sudah 2 kali untuk potong rambut.

“Saat itu, AR tidak berada di lokasi karena kuliah,” tutur Kapolsek.

Seusai proses pemotongan rambut, beberapa wali murid mengaku anaknya pulang ke rumah dengan menangis karena malu mendapati kondisi rambutnya yang tidak beraturan.

Bahkan ke esokan harinya, mereka takut untuk ke sekolah.

 

 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS
Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.