Puluhan Wali Murid Desak Kepolisian Serius Tangani Kasus Pemotongan Rambut Anaknya Yang Tak Beraturan

Hukum
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah di Polsek Rogojampi, kini puluhan orang tua murid di SDN 2 Patoman Kecamatan Blimbingsari melayangkan surat ke Polres Banyuwangi, meminta agar kepolisian serius menangani kasus pemotongan rambut secara tidak beraturan oleh oknum guru setempat terhadap anak anak mereka.

Sementara, oknum guru yang di maksud adalah AR, yang masih berstatus sebagai guru honorer dan selama ini mengajar Olah Raga.

Pada Jum’at pagi (15/03) mereka datang ke Mapolres Banyuwangi dan langsung melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu untuk memberikan surat permohonan keadilan yang ditujukan kepada Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi.

Dalam surat tersebut tertulis bahwa atas nama wali murid SDN 2 Patoman Kecamatan Blimbingsari Banyuwangi memohon keadilan terhadap perlakuan oknum guru berinisial AR yang telah mencukur siswa secara acak atau pethal-pethal.

Bahkan ada siswa yang kepalanya terluka atau robek terkena gunting cukur. Sehingga mereka mengaku, mental anak tersebut menjadi terguncang malu dan takut.

Dalam surat itu pula tertulis, mereka hanya menginginkan keadilan dan berharap hukuman berat yang setimpal dengan perbuatannya terhadap oknum guru tersebut. Mereka hanya menjadikan kasus ini sebagai contoh agar tidak terulang kembali terhadap murid lainnya.

Bahkan juga tertulis kalimat, apabila kasus ini tidak ada penyelesaian hukum, maka mereka akan melaporkan kasus ini ke Kapolri dan Menteri Pendidikan RI.

Selanjutnya, di bawah seluruh kalimat tersebut terdapat 14 tanda tangan wali murid.

Salah satu orang tua siswa, Yulis mengaku, sengaja melayangkan surat tersebut ke Mapolres Banyuwangi karena di khawatirkan proses penanganannya lambat sehingga para wali murid meminta keadilan agar oknum guru yang bersangkutan di hukum seberat beratnya.

“Sebelumnya sebanyak 2 kali di lakukan mediasi oleh pihak kepolisian, sekolah, kepala desa dan kepala dusun setempat kepada para wali murid,” ujar Yulis.

Namun mereka tetap ngotot untuk melanjutkan kasus ini karena dituding pihak sekolah kurang aktif dalam menangani.

“Bahkan sampai kini tidak ada niatan dari pihak sekolah untuk meminta maaf secara langsung kepada para wali murid,” tutur Yulis.

Yulis menambahkan, dirinya bersama puluhan wali murid lainnya menolak jalan damai karena mengaku tidak terima anak anaknya di perlakukan seperti itu, yang menyebabkan mereka takut bermain dan malu bertemu orang dengan kondisi rambutnya dicukur berantakan.

“Kami sempat di temui oleh Kepala PGRI Banyuwangi yang meminta agar mencabut laporan itu,” ujar Aryono, wali murid lainnya.

“Tapi para wali murid tidak bersedia, bahkan sampai terjadi debat,” pungkasnya.

Sebelumnya, AR sang guru Olah Raga juga bertanggung jawab dengan ekstra kulikuler Pencak Silat yang diikuti oleh 22 pelajar yang menjadi korban.

Pada Jum’at (07/03) lalu, AR menyerahkan latihan anak anak itu kepada 2 orang pelatih yang sengaja didatangkan dari luar sekolah sambil berpesan agar rambut mereka dicukur rapi.

Namun rupanya, kedua pelatih tersebut malah mencukur rambut puluhan siswa itu secara berantakan hingga memicu kemarahan dari para orang tua.

Sementara itu, dalam kasus ini pihak kepolisian sudah memeriksa 12 orang saksi.

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS
Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.