radiovisfm.com, Banyuwangi – Sebagai pucuk pimpinan kepolisian yang baru menginjakkan kaki di Banyuwangi, menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Kapolres AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi untuk bisa mengenal karakteristik masyakarat Bumi Blambangan.

Sebab itulah, berbagai cara tengah di lakukan oleh mantan Kapolres Bondowoso tersebut, guna menjalin komunikasi dengan masyarakat. Seperti blusukan ke desa desa di seluruh wilayah Banyuwangi.

Kali ini yang menjadi sasaran adalah warga di Kecamatan Purwoharjo, yang ada di wilayah Banyuwangi selatan.

Bertempat di kantor Desa Purwoharjo, Rabu malam (5/12), Kapolres memaparkan berbagai program kepolisian di hadapan puluhan warga yang hadir, serta jajaran Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Purwoharjo Banyuwangi.

“Kenalkan, nama saya Taufik Herdiansyah Zeinardi selaku Kapolres Banyuwangi yang baru,” ujar Kapolres memulai perkenalan dirinya.

“Ini bagian dari program kami, untuk menyerap ingormasi dan masukan masyarakat di dalam menjaga Kamtibmas di wilayah ini,” imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, Kapolres juga menyampaikan bahwa forum tersebut juga untuk memahami perkembangan dan kemungkinan adanya permasalahan yang di hadapi masyarakat pedesaan. Tentu saja, untuk penyelesaiannya dikomunikasikan dengan 3 pilar baik Pemerintah Desa dan Kecamatan setempat juga TNI/Polri.

“Kami harap, harmonisasi di tengah masyarakat tetap di jaga apalagi menghadapi tahun politik seperti saat ini,” ungkap Kapolres.

“Perbedaan pilihan itu biasa, jangan sampai terjadi permasalahan karena hal itu,” imbuhnya.

Kapolres juga meminta masyarakat untuk bisa menyelesaikan setiap permasalahan dari tingkat bawah, agar tidak semakin meluas.

“Jaga kondusifitas, selesaikan masalah dengan ketentuan yang mengaturnya,” pesan Kapolres.

Dalam sambutannya pula, Camat Purwoharjo, Ach Laini mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan perhatian Kapolres Banyuwangi kepada masyarakat desa, yang di nilai ini sebagai pendekatan langsung serta menjadi motivasi bagi warga setempat.

“Forum yang di inisiasi Kapolres ini, kami pergunakan sebagai sarana koordinasi untuk menjawab perkem bangan situasi yang ada,” papar Laini.

Dia juga berharap, bimbingan Kapolres kepada jajaran Forpimka dan masyarakat Kecamatan Purwoharjo tersebut dinilai sebagai sikap yang baik dalam perkembangan situasi menjelang Pemilu.

Kegiatan ini, merupakan inisiasi dari Polres Banyuwangi dengan tema Gesah Bareng Ambi Kang Taufik. Dan rencananya, acara tersebut akan di laksanakan ke seluruh wilayah di Banyuwangi secara bertahap.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sidang percobaan pembunuhan terhadap Lurah Penataban Kecamatan Giri, Wilujeng Esti Utami di Pengadilan Negeri Banyuwangi berlangsung dramatis.

Pasalnya, dalam persidangan yang di gelar Kamis (6/12) tersebut, Wilujeng tiba tiba pingsan saat Jaksa Penuntut Umum (JPU), Mulyo Santoso melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya sebagai saksi korban.

Namun sebelum pingsan, Bu Lurah sempat histeris dan menangis tersedu sedu. Dia sempat menjawab pertanyaan JPU kalau dirinya di pukul beberapa kali oleh pelaku, Agus Siswanto (40) atau Agus Welek yang sudah di tetapkan sebagai tersangka dan kali ini juga dihadirkan dalam persidangan.

“Saya dianiaya dan akan dibunuh,” tutur Bu Lurah.

Dari sinilah, Wilujeng tampak gelisah lalu berteriak sambil menyebut Allahu Akbar.

“Saya dipukul.. Saya dianiaya,” kata Wilujeng.

Tidak lama kemudian, tiba tiba Wilujeng pingsan lalu di bawa ke ruang kesehatan Pengadilan Negeri Banyuwangi. Karena kondisinya tidak juga membaik, Bu Lurah itupun di larikan ke RSUD Blambangan Banyuwangi guna mendapatkan penanganan medis.

Sementara, persidangan tetap di lanjutkan dengan menghadirkan saksi kedua.

Pengacara terdakwa, Eko Sutrisno mengatakan dirinya telah menyampaikan kepada majelis hakim agar saksi korban bisa di hadirkan kembali dalam persidangan mendatang, karena dinilai masih ada beberapa hal yang belum terungkap.

“Keterangan saksi korban sangat penting, sebab dari tim pengacaranya sendiri belum menunjukkan berbagai fakta yang menjadi dasar atau alasan, yang membuat saksi korban dan terdakwa bisa keluar bersamaan sebelum incident percobaan pembunuhan itu terjadi,” papar Eko.

Karena menurut Eko, selama ini yang di sampaikan oleh saksi korban adalah dirinya dipaksa untuk bertemu oleh terdakwa. Dan pertemuan itupun berlangsung di Kantor Kelurahan Penataban di saat jam kerja.

“Secara otomatis ada banyak staf di kantor itu,” tutur Eko.

Disinilah, Eko mengaku akan lebih memperdalam lagi keterangan saksi korban guna mengetahui kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain dalam kasus ini.

Seperti di beritakan sebelumnya, tubuh Lurah Penataban, Wilujeng Esti Utami tersebut di temukan mengapung di dalam sungai sere di kawasan Dusun Sendangrejo RT 02 RW 02 Desa Kebondalem Kecamatan Bangorejo Banyuwangi pada Selasa malam (31/7) sekira pukul 22.00 WIB, dalam kondisi kedua tangan dan kakinya terikat. Selain itu, kepalanya juga di tutup tas plastic hitam.

Bahkan pertama kali di temukan, korban masih memakai pakaian dinas berupa kebaya hitam dan sarung motif gajah uling, yang merupakan salah satu motif batik khas Banyuwangi.

Bu Lurah menjadi korban percobaan pembunuhan yang di lakukan oleh Agus Siswanto alias Agus Welek warga Desa Sumber Beras Kecamatan Muncar Banyuwangi, yang selama ini mengaku sebagai oknum LSM.

Tidak kurang dari 2 jam setelah tubuh Bu Lurah di temukan, kepolisian Polres Banyuwangi berhasil menangkap Agus Welek setelah mendengar pengakuan dari korban.

Dan dari hasil pemeriksaan kepolisian, motif dari kasus ini karena pelaku ingin menguasai uang Rp 60 juta milik korban, dengan cara menganiaya dan mencoba membunuh korban.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian Polres Banyuwangi menggelar razia balap liar dan berhasil mengamankan puluhan unit sepeda motor tidak standart. Razia ini di gelar di kawasan jalan raya Desa Dadapan Kecamatan Kabat, yang di sinyalir sering di gunakan ajang balap liar oleh anak anak muda.

Dan kegiatan ini di gelar pada malam hari hingga menjelang subuh, Minggu (2/12). Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang sengaja taruhan uang.

Kabag Ops Polres Banyuwangi, Kompol Sumartono mengatakan, dalam razia ini di terjunkan 200 aparat kepolisian dari Satuan Sabhara dan Lalu Lintas dengan di pimpin langsung oleh dirinya.

“Dari razia ini berhasil di amankan 47 unit sepeda motor, dalam kondisi tidak standart di beberapa peralatannya. Seperti Spion, Knalpot, maupun body sepeda motor,” papar Kompol Sumartono.

Dia menjelaskan, razia ini di laksanakan kepolisian berdasarkan laporan dari masyarakat yang mengaku merasa resah dan terganggu.

“Dda 2 kategori masyarakat yang terganggu dengan balap liar itu,” ungkap Kompol Sumartono.

Yakni masyarakat pengguna jalan raya, karena balap liar di gelar sekitar jam 1 dini hari hingga menjelang subuh. Dan di saat kegiatan ini di laksanakan, mereka dengan seenaknya menutup jalan raya sehingga para pengguna jalan merasa sangat terganggu.

“Masyarakat lain yang juga resah dengan ulah anak anak muda itu adalah masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar lokasi,” imbuhnya.

Pasalnya kata Kabag Ops, dengan suara bising sepeda motor dan sorak sorai para penonton di nilai menganggu masyarakat yang sedang beristirahat di malam hari.

“Saat ratusan aparat kepolisian tiba di lokasi, puluhan pemilik sepeda motor yang sebagai joki maupun milik para penonton melarikan diri dan meninggalkan kendaraannya,” papar Kompol Sumartono.

Selanjutnya, seluruh kendaraan itu di amankan di Mapolres Banyuwangi.

Sementara itu, untuk sangsi bagi para pemilik sepeda motor adalah harus mengembalikan kondisi kendaraannya seperti semua. Sehingga peralatan yang sudah di protoli di haruskan di pasang kembali dan itupun wajib di lakukan di Mapolres Banyuwangi.

“Kepolisian memberikan sangsi penilangan sesuai dengan pelanggaran lalu lintas,” tutur Kabag Ops.

Lebih lanjut Kompol Sumartono mengatakan, dalam pelanggaran ini, pemilik kendaraan di haruskan mengikuti sidang tilang lalu melengkapi kendaraannya sesuai standart.

“Setelah di nyatakan sudah sesuai, maka Satuan Lalu Lintas menyerahkan kembali kepada pemiliknya tapi terlebih dahulu mereka harus membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya kembali,” pungkas Kabag Ops.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Memasuki musim penghujan, Polres Banyuwangi melakukan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam, dengan melibatkan aparat kepolisian dari seluruh satuan dan polsek jajaran.

Dan untuk memastikan berbagai persiapan tersebut, seluruh sarana prasarana yang dimiliki masing masing satuan di lakukan pengecekan langsung oleh Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufiq Herdiansyah Zeinardi di Mapolres Banyuwangi, dalam apel siaga penanggulangan bencana di wilayah Banyuwangi tahun 2018.

Seperti Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Banyuwangi, di lakukan pemeriksaan perahu karet yang di milikinya, yang nantinya bisa di gunakan untuk mengevakuasi korban di saat terjadi banjir atau di saat terjadi kecelakaan laut.

Juga Satuan Reskrim, dilakukan pengecekan alat alat identifikasi yang digunakan untuk mengidentifikasi sidik jari terhadap korban meninggal dunia yang tidak dikenal, supaya bisa diketahui identitasnya secara cepat.

Sementara dari Satuan Sabhara, selain disiapkan para personel kepolisian juga di siagakan anjing K9 yang di manfaatkan untuk membantu pencarian korban bencana.

Sedangkan Bagian Bimbingan Masyarakat (Binmas), bertugas untuk memberikan sosialisasi terhadap masyarakat sebelum maupun setelah terjadi bencana alam.

Kapolres Banyuwangi AKBP Taufiq Herdiansyah Zeinardi mengatakan, apel siaga ini juga untuk memastikan bahwa aparat kepolisian bukan hanya siaga di saat terjadi bencana saja, namun jauh hari sebelum adanya bencana alam.

“Sehingga hal ini bisa di minimalisir dan di cegah melalui berbagai cara,” ujarnya.

Kapolres mencontohkan, seperti melalui patroli dan pengecekan di berbagai lokasi. Jika ada pepohonan yang usianya sudah tua, maka di lakukan penebangan. Kemudian melakukan pengecekan aliran sungai.

“Jika rawan terjadi banjir, aparat kepolisian memberikan edukasi kepada masyarakat agar pindah dari lokasi itu ke daerah yang lebih aman agar tidak ada korban jiwa,” papar Kapolres.

Demikian halnya melakukan peninjauan ke daerah daerah yang rawan terjadi longsor, utamanya di kawasan pegunungan.

“Tentu upaya ini juga di lakukan kepolisian bersama berbagai stake holder di wilayah setempat,” tutur Kapolres.

Ditambahkan Kapolres, dalam kesiap siagaan penanggulangan bencana ini, Polres Banyuwangi menurunkan dua pertiga kekuatan atau sekitar 600 an personel kepolisian yang siaga selama 24 jam termasuk di seluruh polsek jajaran.

“Sehingga disaat terjadi bencana alam, maka kepolisian memback up sepenuhnya dari upaya pertolongan yang di lakukan desa maupun camat setempat,” pungkas Kapolres.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - 5 karyawan SPBU di wilayah Kecamatan Muncar Banyuwangi dan 1 orang warga setempat di amankan kepolisian, setelah di duga melakukan penyelewengan penyaluran BBM jenis premium. Tepatnya, di SPBU 5468433 di kawasan Dusun Kedungringin Desa Kedungringin Kecamatan Muncar Banyuwangi.

Kelima karyawan yang di duga melakukan aksi ini adalah Endik (42) warga Dusun Tratas RT 01 RW 01 Desa Kedungringin Kecamatan Muncar, Supriyanto (63), Nizar (43) dan Tri Lestari (33) yang juga merangkap sebagai kasir. Ketiganya warga Dusun Kedungringin RT 03 RW 11 Desa Kedungringin Kecamatan Muncar. Serta Edi Susanto (35) warga Dusun Sidomulyo RT 03 RW 08 Desa Sumberberas Kecamatan Muncar.

Sementara 1 pelaku lainnya, Sugiyono (35) warga Dusun Kalimati RT 02 RW 03 Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar, yang rumahnya di gunakan tempat penyimpanan barang bukti.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Pratista Wijaya mengatakan, awalnya, kepolisian mendapat laporan dari masyarakat mengenai adanya dugaan penyelewengan penyaluran BBM jenis premium di SPBU tersebut.

Aparat kepolisian dari tim Pidana Tertentu (Pidter) Satreskrim Polres Banyuwangi langsung melakukan pengembangan penyidikan di lapangan, dan berhasil mendapati seseorang yang di ketahui bernama Pendik keluar dari dalam SPBU pada pukul 21.00 WIB dengan mengangkut 3 jirigen masing masing berisi 30 liter premium, yang di letakkan di sepeda motor yang di kendarainya.

“Kepolisian membututi laju sepeda motor itu, yang rupanya menemui Ismail yang juga membawa 3 jirigen dengan isi yang sama,” ujar AKP Panji.

“Dari sini, tim Pidter memeriksa keduanya dengan di amankan 6 jirigen berisi premium, yang menurut pengakuan mereka di beli dari karyawan SPBU, Endik,” imbuhnya.

Aparat kepolisian pun mengamankan Endik di SPBU lalu di gelandang ke rumahnya, dan di temukan 3 jirigen yang masing masing juga berisi 30 liter premium.

“Dari pengakuan Endik inilah, kami melakukan pengembangan dan mengamankan 5 pelaku lainnya,” kata Kasat Reskrim.

Untuk di rumah Supriyanto di temukan 16 jirigen, Nizar di temukan 2 jirigen, Edi Susanto di temukan 5 jirigen dan di rumah Sugiyono di temukan 2 jirigen, yang seluruhnya masing masing berisi 30 liter premium. Sedangkan di rumah Tri Lestari di temukan 3 jirigen 30 literan serta 3 jirigen masing masing berisi 20 liter serta 1 jirigen berisi 25 liter.

Kasat Reskrim memaparkan, modus operandi yang mereka lakukan adalah membeli BBM premium seharga Rp 7.000 perliter di saat SPBU tutup.

“Tapi mereka membayar sesuai dengan harga yang ada,” tutur AKP Panji.

Setelah di isi ke dalam jirigen, seluruh BBM tersebut di amankan di masing masing rumah pelaku.

“Lalu mereka menjualnya kepada masyarakat tertentu dengan harga Rp 7.800 perliter, sehingga untuk 1 jirigen mereka bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp 20.000 an,” papar Kasat Reskrim.

Sementara itu, total barang bukti yang di amankan kepolisian 28 jirigen dan  15 galon berisi BBM Premium serta 3 unit sepeda motor sebagai sarana angkut.

Meski terbukti bersalah, namun kepolisian tidak menahan para pelaku karena berdasarkan pasal 53 UU nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi atau pasal 106 UU nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan, ancaman hukuman mereka maksimal 4 tahun penjara.

“Mereka hanya di kenakan wajib lapor,” pungkas AKP Panji.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Siang itu ada pemandangan yang tidak biasanya di Mapolres Banyuwangi. Seorang perempuan cantik berpakaian warna coklat tua dan muda serta berjilbab, sedang melaksanakan ujian praktek SIM dengan menggunakan kendaraan roda 3. Yakni sepeda motor matic yang di sisi kirinya ada tambahan tempat duduk yang dilengkapi dengan satu roda.

Dengan tangkasnya, dia mengendarai kendaraan tersebut memutar dan meliuk liuk melewati garis dan tanda yang ada di lokasi ujian.

Dia adalah Tika Apriliya, Difabel asal Desa Kepundungan Kecamatan Srono Banyuwangi. Perempuan berusia 22 tahun tersebut mengalami cacat pada kakinya dan dia mengikuti ujian praktek untuk bisa mendapatkan SIM D.

Sebelumnya, anak pertama dari 2 bersaudara itu juga telah mengikuti ujian teori dan dinyatakan lulus.

Tika mengaku tidak mengalami kesulitan selama mengikuti ujian teori maupun ujian praktek.

“Saya alami kendala mengendarai kendaraan bermotor ini, kayak masyarakat biasa,” kata Tika.

“Tapi yang tersulit adalah saat melewati jalanan sempit maupun saat zigzag dan harus dilakukan ekstra hati hati karena diakuinya, kendaraan yang di kendarainya berukuran mirip mobil,” paparnya.

Tika mengatakan, dirinya merasa senang dengan pelayanan yang di berikan oleh petugas maupun aparat kepolisian selama mengikuti tes maupun saat mengajukan permohonan SIM.

“Semuanya ramah dan dia tidak menyangka bisa melaksanakan ujian SIM dengan mendapatkan pelayanan yang baik,” ungkap Tika.

Rupanya, Tika ini merupakan salah satu atlit renang Difabel. Dia pernah mengikuti kejuaraan international di Singapura dan Kuala Lumpur Malaysia.

“Prestasi tertinggi yang berhasil saya raih adalah mendapatkan 1 medali emas dan 2 medali perak di kejuaraan Pekan Paralimpiade Nasional atau Pekan Paralimpik Indonesia (Peparnas),” ujar Tika.

Peparnas adalah suatu ajang kompetisi yang menyerupai Pekan Olahraga Nasional (PON) bagi atlet penyandang disabilitas Indonesia. Perbedaan PON dan Peparnas terletak pada pembagian kelas dan teknis pertandingan, dimana atlet dikelompokkan berdasarkan kondisi fisiknya. Dulu, Peparnas disebut Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas), namun kemudian kata 'cacat' diganti dengan kata 'paralimpiade' seiring perkembangan yang terjadi di dalam organisasi Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) Indonesia.

“Saya pernah mengikuti Touring bersama teman teman sesama Difabel hingga ke Surabaya, Kediri dan Batu. Kami tergabung dalam komunitas DMI khusus untuk motor difabel roda 3,” pungkas Tika.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Banyuwangi AKP Prianggo Parlindungan Malau mengatakan, selama dirinya menjabat sebagai Kasat Lantas baru kali ini ada pemohon Difabel untuk mengurus sim D.

“Seperti yang sudah di atur dalam UU nomor 2 tahun 2009 dan Perkab nomor 9 tahun 2012 tentang Surat Ijin Mengemudi, maka permohonan SIM D bagi penyandang cacat bisa untuk sepeda motor juga kendaraan roda 4 kategori khusus,” papar Kasat Lantas.

Dia mengaku, dari peraturan tersebut maka pemohon SIM D bagi penyandang difabel harus menggunakan kendaraan bermotor khusus.

“Bukan kewenenangan kepolisian di dalam menentukan kendaraan khusus ataukah kendaraan umum itu. Yang berwenang menentukan spesifikasinya adalah Kementrian Perhubungan,” kata Kasat Lantas.

Namun karena ini sudah di atur dalam UU dan Perkab maka pemohon SIM D untuk penyandang cacat dalam hal ini untuk prinsip legalitas dan prinsip persamaan hak bagi mereka yang memohon SIM maka kepolisian mengakomodirnya.

“Proses administrasi yang di lakukan Tika sudah memenuhi persyaratan baik usia maupun surat kesehatan yang menyatakan dia sehat jasmani dan rohani,” ungkap Kasat Lantas.

Selanjutnya, tes teori dan tes praktek pun dia dinyatakan lulus sehingga langsung mendapatkan SIM D yang di serahkan oleh KRI Polres Banyuwangi, Iptu Budi Hermawan. Kasat Lantas mengaku, meskipun Tika penyandang cacat namun tidak ada prioritas untuk dirinya selama menjalani serangkaian proses administrasi.

“Ini di khawatirkan akan timbul kecemburuan social di tengah masyarakat, yang menuding kepolisian tebang pilih antara masyarakat normal dengan Disabilitas di dalam kepengurusan SIM,” pungkas Kasat Lantas.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian Banyuwangi berhasil mengungkap jaringan besar peredaran narkoba antar kota, dengan mengamankan 100 gram Sabu dan 74 butir pil ekstasi siap edar.

Dalam ungkap kasus ini, Satreskoba Polres Banyuwangi menangkap 3 orang tersangka, baik pemesan maupun kurirnya.

Awalnya, kepolisian menangkap Heryanto alias Aliong warga Perumahan Taman Sutri Indah Blok B 10 RT 04 RW 01 Kelurahan Sobo Kecamatan Banyuwangi, saat berada di area parkiran Ruko 5A di Perumahan Taman Laguna Residence Lingkungan Sukowidi Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro Banyuwangi.

Dari tangan laki laki pemilik salah satu counter ponsel di Banyuwangi tersebut, kepolisian mengamankan 3 paket narkotika jenis sabu seberat 9,65 gram dan 10 butir pil ekstasi warna hijau logo XTC seberat 4,28 gram. Juga 2 buah kotak plastic, 1 buah bekas bungkus rokok dan 1 buah potongan lakban hitam, 1 unit ponsel dan 1 unit mobil Nissan Grand Livina hitam bernopol P 1744 VJ.

Selanjutnya, kepolisian melakukan pengembangan penyidikan hingga berhasil menangkap Ardian Noviyanto (24) di rumahnya di kawasan Jalan Mataram Kelurahan Tamanbaru Kecamatan Banyuwangi kota.

Rupanya, dari penangkapan ini kepolisian mengamankan barang bukti dengan jumlah yang cukup banyak yakni 23 paket Sabu seberat 97,43 gram, serta 65 butir pil ekstasi warna hijau logo XTC seberat 28,01 gram, 11 bendel plastic klip kecil, 2 buah plastic klip besar, 2 buah timbangan digital dan 1 unit ponsel.

Tersangka Ardian pun bernyanyi, dan dia mengatakan bahwa barang itu hanya titipan dari Aprianka Brian Bolista (18) warga asli Desa Sidorejo Kecamatan Purwoharjo Banyuwangi dan kini kost di area belakang gedung DPRD Banyuwangi.

Aparat kepolisian pun bergerak cepat dan menangkap tersangka Aprianka di tempat kostnya. Namun disini, tidak di temukan barang bukti apapun.

Dalam keterangan persnya, Kamis (29/11), Kapolres Banyuwangi AKBP Taufiq Herdiansyah Zeinardi mengatakan, jaringan ini berawal dari tersangka Aliong memesan sejumlah barang haram tersebut kepada seseorang yang diakui bernama Sena Pratama, yang kini mendekam di dalam Lapas Pamekasan Madura atas kasus peredaran narkoba.

Selanjutnya, Sena mengirimkan 100 gram Sabu dan 74 butir pil ekstasi kepada tersangka Aprianka Brian Bolista, yang selama ini memang sudah di kenalnya. Dan dia memerintahkan agar barang tersebut diserahkan kepada tersangka Ardian Noviyanto, yang merupakan satu kampung dengan Sena Pratama di Banyuwangi.

“Setelah barang sudah diterima, Sena menghubungi Ardian melalui ponselnya agar barang itu dipilah pilah,” tutur Kapolres.

Lalu di perintahkan untuk membungkus 3 paket sabu dan 10 butir pil ekstasi ke dalam bekas bungkus rokok.

Selanjutnya, di suruh meletakkan di kawasan jalan Ahmad Yani tepatnya di utara gedung Pengadilan Agama Banyuwangi karena ada yang memesannya dengan system ranjau.

“Rupanya, pemesannya itu adalah tersangka Aliong itu,” ujar Kapolres.

Sementara untuk barang sisanya, Sena meminta tersangka Ardian untuk menyimpan menunggu ada pemesannya.

Namun sebelum barang itu kembali di edarkan kata Kapolres, kepolisian berhasil mengendus aksi mereka hingga di lakukan penangkapan terhadap ketiganya.

“Kini, kepolisian terus mengejar keterangan Sena Pratama mengenai asal muasal barang haram itu, yang peredarannya berhasil di kendalikan dari balik jeruji besi Lapas Pamekasan,” papar Kapolres.

Ketiga tersangka beserta barang buktinya kini diamankan di Mapolres Banyuwangi.

Dan atas semua perbuatannya, mereka dijerat pasal 114 subsider pasal 112 subsider pasal 132 UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara atau pidana mati atau pidana penjara seumur hidup.

 

More Articles ...