radiovisfm.com, Banyuwangi - Diketahui mencuri ponsel milik tetangganya, seorang laki laki warga Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi ditangkap aparat kepolisian setelah di lakukan pengembangan penyidikan selama 8 bulan lebih.

Penangkapan ini berawal dari laporan Budi Haryanto (43) warga Lingkungan Kramat RT 03 RW 03 Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi.

Dalam laporannya ke Mapolsekta Banyuwangi, korban menyebutkan bahwa pada Rabu 26 september 2018 sekira pukul 01.30 WIB, 2 ponsel miliknya dibuat mainan oleh anaknya. Selang beberapa lama, dia tertidur dan kedua ponsel tersebut di cash di sampingnya. Namun sekira pukul 05.00 WIB, korban bangun tidur dan mengetahui kedua ponselnya tersebut sudah hilang.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki mengatakan, setelah mendapat laporan dari korban tersebut, pihaknya melakukan pengembangan penyidikan hingga beberapa bulan dengan melacak keberadaan ponsel milik korban.

“Upaya ini pun membuahkan hasil, unit Reskrim Polsekta Banyuwangi berhasil menemukan keberadaan ponsel korban sekaligus menangkap pelakunya, yakni Satriawan (27) yang bertempat tinggal tidak jauh dari rumah korban,” papar Kapolsek.

Tersangka di tangkap di depan Gedung Wanita Paramitha Kencana jalan RA Kartini, Senin (6/5/2019).

Dihadapan petugas, tersangka mengaku berhasil masuk ke dalam rumah korban disaat si pemilik sedang tertidur lelap, lalu membawa kabur 2 ponsel yang sedang di cash.

“Tersangka juga mengaku baru kali ini melakukan pencurian, tapi kepolisian tidak mempercayai begitu saja dan hingga kini masih terus di lakukan pengembangan penyidikan,” ujar Kapolske.

Kini, tersangka beserta barang bukti 2 unit ponsel hasil kejahatannya di amankan di Mapolsekta Banyuwangi. Dan atas semua perbuatannya, tersangka dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan (curat), dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk mengantisipasi adanya tindakan kriminalitas serta meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas selama bulan Ramadhan, Satuan Lalu Lintas Polres Banyuwangi melaksanakan patroli Sahur di berbagai lokasi.

Dengan dipimpin langsung oleh Kanit Turjawali, Ipda Heru Selamet Hariyanto, sejumlah anggota Satlantas Polres Banyuwangi menggelar patrolu di kawasan jalanan depan kantor Pemkab Banyuwangi, Jalan Brawijaya, Jalan Kepiting dan di area RTH Kedayunan Kecamatan Kabat, Selasa dini hari (7/5) pukul 03.00 WIB.

Dipilihnya sejumlah lokasi tersebut bukan tanpa alasan.

“Di berbagai lokasi itu sering di gunakan anak anak muda untuk menggelar balap liar juga tempat nongkrong sambil menunggu waktu Sahu,” kata Ipda Heru.

“Selain untuk menghalau adanya balap liar, kegiatan ini juga untuk mengantisipasi adanya tindakan kriminalitas 3 C yakni Curat atau pencurian dengan pemberatan, Curas atau pencurian dengan kekerasan dan Curanmor atau pencurian kendaraan bermotor,” paparnya.

Ipda Heru menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan pihaknya juga untuk meminimalisir angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya, sehingga aktivitas masyarakat selama bulan Ramadhan dapat terjamin keamanannya.

“Sehingga masyarakat bisa menjalan ibadah Puasa dengan nyaman dan khusuk,” ungkap Ipda Heru.

Dia menambahkan, kegiatan ini terus dilaksanakan selama bulan suci Ramadhan, dengan sasaran dilokasi berbeda beda yang tersebar di 25 Kecamatan se Banyuwangi, yang dinilai rawan sebagai tempat ajang balap liar dan nongkrong dari anak anak muda.

Sementara itu, dari patroli Sahur di beberapa tempat tersebut, aparat kepolisian menemukan segerombolan anak anak muda yang sedang nongkrong. Dan aparat kepolisian memberikan pembinaan kepada mereka, sekaligus diminta untuk pulang ke rumahnya masing masing.

“Tapi jika mereka nantinya terbukti melakukan balap liar, maka kepolisian akan mengamankan sepeda motor mereka selama bulan Ramadhan di Mapolres Banyuwangi,” ujar Ipda Heru.

Dan mereka bisa mengambilnya sekaligus mengembalikan kondisi kendaraannya seperti semula, setelah Hari Raya Idul Fitri. Pasalnya, dapat di pastikan, sepeda motor mereka sudah di protoli saat di gunakan balap liar tersebut.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk mengantisipasi adanya tindakan kriminalitas serta meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas selama bulan Ramadhan, Satuan Lalu Lintas Polres Banyuwangi melaksanakan patroli Sahur di berbagai lokasi.

Dengan dipimpin langsung oleh Kanit Turjawali, Ipda Heru Selamet Hariyanto, sejumlah anggota Satlantas Polres Banyuwangi menggelar patrolu di kawasan jalanan depan kantor Pemkab Banyuwangi, Jalan Brawijaya, Jalan Kepiting dan di area RTH Kedayunan Kecamatan Kabat, Selasa dini hari (7/5) pukul 03.00 WIB.

Dipilihnya sejumlah lokasi tersebut bukan tanpa alasan.

“Di berbagai lokasi itu sering di gunakan anak anak muda untuk menggelar balap liar juga tempat nongkrong sambil menunggu waktu Sahu,” kata Ipda Heru.

“Selain untuk menghalau adanya balap liar, kegiatan ini juga untuk mengantisipasi adanya tindakan kriminalitas 3 C yakni Curat atau pencurian dengan pemberatan, Curas atau pencurian dengan kekerasan dan Curanmor atau pencurian kendaraan bermotor,” paparnya.

Ipda Heru menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan pihaknya juga untuk meminimalisir angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya, sehingga aktivitas masyarakat selama bulan Ramadhan dapat terjamin keamanannya.

“Sehingga masyarakat bisa menjalan ibadah Puasa dengan nyaman dan khusuk,” ungkap Ipda Heru.

Dia menambahkan, kegiatan ini terus dilaksanakan selama bulan suci Ramadhan, dengan sasaran dilokasi berbeda beda yang tersebar di 25 Kecamatan se Banyuwangi, yang dinilai rawan sebagai tempat ajang balap liar dan nongkrong dari anak anak muda.

Sementara itu, dari patroli Sahur di beberapa tempat tersebut, aparat kepolisian menemukan segerombolan anak anak muda yang sedang nongkrong. Dan aparat kepolisian memberikan pembinaan kepada mereka, sekaligus diminta untuk pulang ke rumahnya masing masing.

“Tapi jika mereka nantinya terbukti melakukan balap liar, maka kepolisian akan mengamankan sepeda motor mereka selama bulan Ramadhan di Mapolres Banyuwangi,” ujar Ipda Heru.

Dan mereka bisa mengambilnya sekaligus mengembalikan kondisi kendaraannya seperti semula, setelah Hari Raya Idul Fitri. Pasalnya, dapat di pastikan, sepeda motor mereka sudah di protoli saat di gunakan balap liar tersebut.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang pelajar tingkat SMP di kawasan Kecamatan Siliragung Banyuwangi nekat melakukan pencurian di sebuah warung sekaligus hendak membunuh pemiliknya, karena di duga sangat membutuhkan uang untuk membeli pil koplo.

Peristiwa ini terjadi di warung milik Ida Farida (38) di kawasan Dusun Krajan RT 04 RW 01 Desa Seneporejo Kecamatan Siliragung. Saat itu, masyarakat sedang menjalankan ibadah sholat Jum’at dan suasana diwilayah setempat terpantau cukup sepi. Rupanya kondisi ini di manfaatkan oleh pelaku berinisial KA masih berusia 15 tahun, yang bertempat tinggal tidak jauh dari rumah korban.

Pelajar kelas 2 tersebut datang ke toko korban sambil membawa sebilah pisau yang sudah di persiapkan, dan di sembunyikan di balik pinggangnya.

Kapolsek Siliragung Banyuwangi, AKP Endro Abrianto mengatakan, ditoko korban, pelaku berpura pura membeli 1 bungkus serbuk minuman berenergi.

“Setelah dilayani dan melihat situasi rumah sepi, tiba tiba pelaku menusuk pinggang korban sebelah kiri dengan menggunakan pisau itu,” ujar Kapolsek.

“Selanjutnya, pelaku mendorong korban ke depan hingga terjatuh di kursi sofa dan pelaku kembali menusuk ke bagian perut korban sebanyak dua kali,” imbuhnya.

Saat itulah, korban berhasil merebut pisau yang di pegang pelaku.

Mantan Kasat Lantas Polres Pasuruan kota tersebut menjelaskan, aksi beringas pelaku tidak berhenti sampai disini saja.

“Dia memukul korban dengan menggunakan kaki meja kayu yang telah di rusaknya. Tapi korban berhasil melarikan diri dan berteriak meminta tolong, hingga puluhan warga berhamburan untuk menangkap pelaku lalu di serahkan ke Mapolsek Siliragung,” papar AKP Endro.

“Dengan peristiwa ini, korban mengalami luka tusuk dibagian pinggang, perut serta beberapa luka di bagian tubuh lainnya,” tuturnya.

Dihadapan petugas, pelaku mengaku sengaja hendak membunuh korban karena akan mengambil uangnya untuk di gunakan membeli pil koplo.

“Di duga kuat, selama ini pelaku kecanduan obat obatan terlarang tersebut karena kurangnya pengawasan dari orang tua,” kata Kapolsek.

Pasalnya, hingga kini ibu pelaku bekerja sebagai TKI di luar negeri. Sedangkan pelaku tinggal bersama bapaknya dan setiap hari hanya di berikan uang jajan Rp 5000.

“Dalam setiap harinya pula, pelaku sering membolos sekolah dan bergaul dengan teman teman di atas usianya,” imbuh Kapolsek.

Lebih lanjut Kapolsek Siliragung mengatakan, karena usia pelaku masih di bawah umur, maka selama menjalani proses hukum di dampingi tim Balai Pemasyarakatan (Bapas) Jember.

“Dari tangan pelaku di amankan barang bukti sebilah Pisau, 1 buah meja kayu yang telah di rusak, 1 bungkus bekas minuman energi dan uang tunai Rp 2500,” pungkas Kapolsek.

Atas semua perbuatannya, pelaku di jerat pasal 338 KUHP jonto pasal 53 KUHP dan pasal 365 jonto pasal 53 KUHP dan UU nomor 11 tahun 2012 tentang system peradilan anak.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dua residivis pelaku pencurian dibekuk Satuan Reskrim Polres Banyuwangi, setelah diketahui melakukan aksi kejahatan dengan modus mengaku sebagai pegawai PLN yang akan memperbaiki instalasi listrik di rumah seorang guru.

Mereka adalah Heri Guswanto (38) dan M.Humaidi (36), keduanya warga Dusun krajan Desa Dadapan Kecamatan Kabat Banyuwangi.

Kedok tersangka terbongkar setelah melakukan pencurian di rumah Lilik Sumarni (52), di kawasan Jalan KH Thoha RT 01 RW 02 Desa Pakis Kecamatan Kabat pada Kamis (31/01/2019) lalu.

Menurut pengakuan korban kepada pihak kepolisian, saat itu dirinya baru pulang mengajar di SDN 1 Pakis. Memang selama ini, keseharian korban berprofesi sebagai seorang guru.

Sesampainya di rumah, korban menaruh HP Samsung A3 dan Laptop Acer miliknya diruang keluarga. Selang beberapa lama, korban yang berada didalam kamar mengaku masih mendengar ponselnya berbunyi. Dan baru diketahui hilang, saat korban hendak memasukkan file dari flash disk ke Laptopnya. Korban menduga, saat itu ada 2 pelaku tersebut yang mengaku sebagai petugas PLN.

Selanjutnya, korban melapor ke bagian SPKT Polres Banyuwangi guna meminta penanganan hukum.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Pratista Wijaya mengatakan, berdasarkan laporan korban serta adanya beberapa kajadian dengan modus yang sama di sejumlah TKP di Banyuwangi, Unit Resmob pun melakukan pengembangan penyidikan hingga selama 3 bulan.

“Hingga akhirnya berhasil menangkap 8 orang yang membeli barang hasil dari kejahatan kedua tersangka,” tutur AKP Panji.

Hal ini terungkap dari ponsel milik guru tersebut yang dicuri oleh kedua tersangka dan di beli oleh salah satu penadah, lalu di jual ke beberapa orang.

“Dari catatan kriminalitas, tersangka Heri Guswanto merupakan residivis pelaku kasus Curat pada tahun 2005, 2008 dan 2014 yang di tangani Polres Banyuwangi. Sedangkan M.Humaidi merupakan residivis pelaku kasus pencurian tahun 2017 yang ditangani Polsek Muncar,” papar Kasat Reskrim.

Yang cukup mengejutkan, mereka juga mengaku telah melakukan aksi yang sama di 13 TKP di wilayah Banyuwangi dan 2 TKP di wilayah Bondowoso. Kini, kedua tersangka berserta barang bukti milik para korban diamankan kepolisian. Juga, 8 orang yang disebut sebut sebagai penadah barang hasil kejahatan tersangka digelandang ke Mapolres Banyuwangi.

Untuk kedua pelaku utama di jerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

“Sedangkan 8 orang lainnya di jerat pasal 480 KUHP tentang penadah, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara juga,” pungkas AKP Panji.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang pemuda di Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi ditangkap kepolisian setelah diketahui mencabuli anak dibawah umur hingga berulang kali.

Wahyudi (22) warga Dusun Krajan Desa Wongsorejo kini harus meringkuk di dalam sel tahanan Mapolsek Wongsorejo guna mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, yang tega mencabuli BS yang masih berusia 13 tahun dan masih duduk di bangku kelas 2 pada salah satu sekolah tingkat SMP di wilayah setempat.

 Ironisnya, dari pengakuan  tersangka dihadapan petugas, dia telah melakukan aksi bejatnya ini sebanyak 5 kali yaitu 2 kali di bulan Februari 2019, 1 kali di bulan Maret 2019 dan 2 kali di bulan April 2019.

Seluruhnya di lakukan di kamar tersangka disaat situasi rumah sepi, dan kedua orang tuanya tidak berada di tempat.

Kapolsek Wongsorejo Banyuwangi, AKP Kusmin mengatakan, terakhir kali tersangka berbuat asusila terhadap korban pada Rabu dini hari (10/04/2019) sekira pukul 01.00 WIB.

“Disini, seperti biasa tersangka merayu korban dengan berbagai janji janji manis hingga kembali berhasil melakukan aksi bejatnya itu,” tutur Kapolsek.

“Kedok tersangka ini terbongkar setelah korban tidak pulang ke rumahnya selama 2 hari,” ungkapnya.

Kedua orang tuanya pun mencari korban hingga ditemukan di rumah tersangka, yang selama ini di akui korban sebagai kekasihnya. Setelah di desak orang tuanya, korban mengaku telah di cabuli oleh tersangka sejak Februari 2019 lalu, saat baru pertama kali jadian pacaran.

“Karena tidak terima kata Kapolsek, orang tua korban pun melaporkan peristiwa naas yang dialami anaknya ke Mapolsek Wongsorejo, lalu di lakukan penangkapan terhadap tersangka,” papar Kapolsek.

Bahkan di hadapan penyidik kepolisian, tersangka mengakui telah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan korban tanpa ada unsur paksaan.

“Meski perbuatannya dilakukan atas dasar suka sama suka, tapi proses hukum tetap berjalan mengingat korban masih di bawah umur,” kata Kapolsek.

Dan atas semua perbuatannya, tersangka di jerat pasal 76 jonto pasal 81 subsider pasal 76 jonto pasal 82 UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Terduga teroris, Wisnu Putra yang ditangkap densus anti teror 88 di rumah kontrakannya di Desa Bojongmalaka Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung pada akhir Maret lalu, rupanya pernah tinggal di Lingkungan Gombeng RT 03 RW 01 Kelurahan Gombengsari Kecamatan Kalipuro Banyuwangi, dan dikenal jarang berkomunikasi dengan warga setempat.

Laki laki berusia 35 tahun tersebut pernah mengontrak rumah milik Ismail di kawasan Kelurahan Gombengsari Banyuwangi tersebut, sejak tanggal 7 Juli 2012. Setelah sebelumnya juga pernah ngontrak rumah di kawasan Kelurahan Tamanbaru Kecamatan Banyuwangi kota.

Dari informasi yang diterima pihak Kelurahan Gombengsari, terduga teroris tersebut merupakan warga asli Semarang dan selalu berpindah pindah tempat.

Dari surat keterangan pindah domisili itulah, pihak kelurahan menerbitkan KTP manual dengan alamat rumah kontrakan di Lingkungan Gombeng Kelurahan Gombengsari Kecamatan Kalipuro Banyuwangi, yang kini diamankan kepolisian saat di gerebek di Bandung.

Ketua RW 01 Lingkungan Gombeng, Imam Iskandar mengatakan, selama tinggal di wilayahnya, Wisnu Putra bekerja di peternakan kopi luwak serta membuat yayasan Qolbu Salim yang bergerak dalam kegiatan sosial.

Selama mendirikan yayasan itu, dia sering menggelar pengajian dan santunan anak yatim,” kata Imam.

“Tapi pengikut pengajiannya adalah yang terbanyak warga dari luar Kelurahan Gombengsari, sedangkan warga setempat enggan mengikuti karena dia kurang berkomunikasi,” imbuhnya.

Sedangkan anggaran dana untuk kegiatan itu, bersumber dari donatur.

Imam menjelaskan, diduga karena tidak adanya transparansi dalam penyaluran anggaran, para jamaah itu pun mengundurkan diri hingga yayasan tersebut bubar.

Dengan terjadinya peristiwa ini, Wisnu Putra bersama istrinya, MW (32) dan 2 anaknya keluar dari kawasan Kelurahan Gombengsari tanpa pamit dengan aparatur desa setempat, baik ketua RT, ketua RW maupun kepala kelurahan,” papar Imam.

Sehingga kata Imam, Wisnu Putra bertempat di wilayahnya hanya selama 6 bulan lalu berpindah pindah tempat, hingga diketahui ditangkap densus 88 sebagai terduga teroris.

Dari informasi yang ada, terduga teroris Wisnu Putra tersebut masuk dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Para guru TK se Banyuwangi selama ini mengaku merasa tertekan dengan penggunaan dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) yang di terimanya, karena penyalurannya dalam ancaman sejumlah oknum yang mengaku dari pihak Kejaksaan dan Dinas Pendidikan.

Hal itu terungkap dalam kegiatan Sharing Session dan penerangan hukum penggunaan dana BOP PAUD formal dan non formal, yang di gelar Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Senin (18/03) yang di hadiri puluhan guru TK.

Disetiap tahun, masing masing TK mendapatkan anggaran dana BOP beragam sesuai dengan jumlah siswa siswinya. Dan per siswa dapat jatah Rp 600.000. Sementara dari data yang ada, jumlah TK se Banyuwangi mencapai 756 lembaga dengan jumlah murid sebanyak 32.000 siswa. Namun dari ke 756 lembaga itu ada beberapa yang tidak menerima dana BOP karena belum mempunyai NPSN atau belum terakreditasi.

NPSN adalah kode pengenal yang ditetapkan oleh Pusat Data dan Statistik Pendidikan (PDSP) dan diberikan kepada satuan pendidikan (sekolah) melalui dinas pendidikan kabupaten/kota diseluruh wilayah Indonesia.

Ada pula lembaga yang terus terang menolak kucuran dana BOP tersebut.

Dalam kegiatan itu, mereka mengeluhkan apa yang selama ini mereka alami saat penyaluran dana BOP, yang diakui banyak penekanan dari sejumlah pihak, termasuk yang mengaku oknum dari Kejaksaan Negeri sebagai pemilik CV. Mereka di paksa untuk membeli berbagai produk sebagai penunjang anak anak didik, dan jika itu tidak dilakukan maka diancam akan di cari kesalahan kesalahan.

Kasi Intel Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Bagus Nur Jakfar Adi Saputro yang mendampingi mereka mengatakan, rupanya selama ini para guru TK mengeluhkan adanya beberapa penggunaan dana BOP yang dinilai tidak sesuai dengan peruntukkannya.

“Apa yang tertera di Juknis seolah olah ada pengkondisian untuk membeli satu barang tertentu, padahal itu tidak ada dalam Rencana Anggaran Belanja (RAK) TK,” ujar Bagus.

“Ini jadi satu hal yang krusial sehingga saat kami melakukan pendampingan, banyak suatu emosional yang terjadi karena mereka menginginkan keterbukaan dan keterbebasan penggunaan dana BOP sesuai dengan peraturan yang ada,” paparnya.

Bagus juga mengaku miris dengan dunia pendidikan di Banyuwangi yang di anggapnya di tumpangi berbagai kepentingan, yang mengatas namakan institusi tertentu dengan mengambil keuntungan dan hasil dari dunia pendidikan.

“Contohnya pengadaan susu kemasan kotak, yang dipaksa harus di beli oleh seluruh TK,” ungkap Bagus.

Beberapa kasus di wilayah Kecamatan Rogojampi, di dapati adanya susu yang sudah mengental didalam kemasan, yang di duga sudah kadar luasa.

“Padahal untuk pemberian susu kemasan kepada anak anak harus melalui saran dan rekomendasi dari dokter tentang cocok atau tidaknya penggunaan susu,” kata Bagus.

Dari hasil penelusuran Bagus, di temukan ada beberapa orang yang mengatas namakan Kejaksaan dan Dinas Pendidikan ikut andil mengumpulkan uang pembelian buku menggunakan dana BOP tersebut.

“Kami harap semua pihak mendukung upaya transparansi penggunaan dana BOP oleh Kejaksaan Negeri, yang nantinya dimulai dalam pencanangan Festival Anggaran Bantuan Operasional Penyelenggara (BOP) PAUD,” pungkas Bagus.

Sementara, Ketua Ikatan Guru Taman Kanak Kanak Indonesia (IGTKI) Banyuwangi, Tri Puji Lestari mengaku terbantu dengan pendampingan dari pihak Kejaksaan Negeri tersebut, yang dinilai bisa lebih transparan dalam penggunaan dana BOP ke depan.

“Jika dalam 5 tahun mendatang lembaga di berikan kewenengan untuk menyalurkan dana sesuai dengan kebutuhan, maka semua lembaga di Banyuwangi akan jauh lebih baik,” papar Puji.

More Articles ...