radiovisfm.com, Banyuwangi - Dari wilayah Kecamatan Muncar Banyuwangi, kepolisian menangkap 3 orang pengedar pil koplo dengan menyita ribuan butir sebagai barang bukti.

Kali ini, Satuan Reskoba Polres Banyuwangi mengamankan Didik Priyo Cahyono (27) di kawasan pinggir jalan masuk Dusun Krajan Desa Kumendung Kecamatan Muncar.

Dari tangan laki laki asal Dusun Krajan RT 02 RW 03 Desa Srono Kecamatan Srono Banyuwangi tersebut, kepolisian mengamankan barang bukti 3000 butir obat jenis Trihexyphenidyl yang terbungkus dalam beberapa plastic klip, serta uang tunai Rp 225.000 hasil dari penjualan obat obatan sediaan farmasi tersebut. Juga di amankan 1 unit ponsel dan 1 unit sepeda motor Honda Beat bernopol P 6958 WX.

Kasat Narkoba Polres Banyuwangi, AKP Imron mengatakan, awalnya kepolisian mendapat laporan dari masyarakat mengenai ulah tersangka yang di sebut sebut sering menjual pil Trihexyphenidyl ke pelanggannya dari berbagai kalangan. Satreskoba pun melakukan pengembangan penyidikan hingga berhasil mendapati identitas tersangka.

“Kami menghubungi ponsel tersangka berpura pura untuk membeli pil koplo hingga di sepakati lokasi transaksinya di TKP penangkapan itu lalu kami tangkap,” papar AKP Imron.

“Kepada petugas, dia mengaku mendapatkan pil koplo itu dari seseorang tak di kenal yang juga tidak diketahui alamatnya,” imbuhnya.

AKP Imron menjelaskan, masih di wilayah yang sama, kepolisian kembali melakukan pengembangan penyidikan yang selanjutnya menyasar di sebuah rumah di kawasan Dusun Krajan RT 02 RW 06 Desa Kumendung Kecamatan Muncar.

“Disini, diamankan seorang pemilik rumah, Poniran alias Kacuk (45) yang juga di sebut sebut sering mengedarkan pil koplo hingga ke wilayah kecamatan lain,” tutur AKP Imron.

Dari tangan laki laki yang hanya tamat kelas 4 Sekolah Dasar tersebut, di amankan barang bukti 5 butir pil Trihexyphenidyl dan uang tunai Rp 500.000 serta 2 unit ponsel.

AKP Imron mengaku, penangkapan tersangka Poniran ini merupakan pengembangan dari tertangkapnya pemakai pil koplo, Bambang Setiyawan. Dimana, dari tangan Bambang di amankan barang bukti 290 butir pil Trihexyphenidyl yang hendak di edarkan.

“Dia mengaku, pil itu di beli dari tersangka Poniran,” kata AKP Imron.

Dalam hal ini, kepolisian tidak menahan Bambang Setiyawan karena sebagai saksi.

Kasat Narkoba menambahkan, dari wilayah Kecamatan Muncar, kepolisian kembali menangkap tersangka lain yakni Zainal Arifin (26) yang tertangkap di rumahnya di kawasan Dusun Mangunrejo RT 02 RW 02 Desa Blambangan.

“Dari lokasi, kepolisian mengamankan 52 butir pil Trihexyphenidyl dan 2 unit ponsel,” pungkasnya.

Kini, ketiga tersangka beserta barang buktinya tersebut di amankan di Mapolres Banyuwangi. Dan atas semua perbuatannya, mereka di jerat pasal 197 subsider pasal 196 UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemilik selep beras di Kecamatan Gambiran tertipu cek kosong senilai Rp 700 juta lebih, yang di lakukan warga Kecamatan Banyuwangi kota.

Sebanyak 8 lembar cek kosong dengan berbagai nominal di amankan Satreskrim Polres Banyuwangi. Diantaranya, cek bernomor DQ dengan nominal Rp 92.650.000. DU 007031 nominal Rp 92.100.000. DU 007028 nominal Rp 92.650.000. DU 007030 nominal Rp 91.200.000. DQ 395647 nominal Rp 185.900.000. DU 007033 nominal Rp 92.750.000. DU 007035 nominal Rp 88.000.000 dan cek nomor DU 007036 nominal Rp 89.000.000.

Sehingga total kerugian seluruhnya sejumlah Rp 738.215.000 yang di derita Suyono warga Dusun Kampung Baru Desa Jajag Kecamatan Gambiran, pemilik selep beras Sekar Jaya.

Sementara, modus yang dilakukan oleh tersangka, Didit Pramono adalah dengan melakukan order beras merek obor gemilang kepada korban hingga mencapai 110 ton untuk di kirim ke toko Anak Bintang, yang merupakan milik tersangka.

Beras tersebut di kirim korban hingga beberapa kali ke toko yang ada di kawasan Jalan Sayu Wiwit Kelurahan Kampung Melayu Kecamatan Banyuwangi kota. Dan selama pengiriman itu pula, tersangka membayar korban dengan menggunakan cek BCA.

Namun setelah cek itu di bawa ke bank, ternyata oleh pihak bank di tolak karena saldo tersangka tidak mencukupi. Karena merasa tertipu, korban pun melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian guna meminta perlindungan hukum.

Kapolres Banyuwangi, AKBP Donny Adityawarman mengatakan, setelah mendapat laporan korban, aparat kepolisian dari Satuan Reskrim Polres Banyuwangi langsung bergerak cepat untuk menangkap tersangka.

“Saat di gerebek di tokonya, tersangka sempat kabur,” ujar Kapolres.

Selanjutnya menurut Kapolres, aparat kepolisian melakukan pengembangan penyidikan untuk melacak keberadaan tersangka hingga berhasil di tangkap.

“Di hadapan penyidik, tersangka mengakui semua perbuatannya dan juga mengaku telah menipu korban dengan menggunakan cek palsu. Dan transaksi itu di lakukannya dalam kurun waktu satu minggu,” papar Kapolres.

Dia menjelaskan, untuk pengembangan penyidikan, tersangka beserta barang bukti 8 lembar cek kosong tersebut diamankan di Mapolres Banyuwangi.

Atas semua perbuatannya, tersangka di jerat pasal 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Memasuki tahun politik, di wilayah Banyuwangi mulai marak beredar uang palsu dan pihak kepolisian berhasil menangkap 2 orang pelaku sebagai pengedar.

Mereka adalah Moch Holik (43) warga Dusun Karangsari RT 01 RW 01 Desa Kedaleman Kecamatan Rogojampi dan Qoribul Mujib (38) warga Dusun Kebalen Kidul RT 02 RW 02 Desa Lemahbang Dewo Kecamatan Rogojampi Banyuwangi.

Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman dalam keterangan persnya, Rabu (17/10) mengatakan, kedok keduanya terbongkar saat tersangka Qoribul Mujib memberikan lembaran uang palsu pecahan Rp 100.000 sejumlah Rp 4.000.000 kepada tersangka Moh Holik sebagai pembayaran hutang.

Selanjutnya, oleh tersangka Moh Holik digunakan untuk pembayaran jual beli sepeda motor sejumlah Rp 6.200.000 kepada Gatut Anggoro warga Dusun Kertosono RT 04 RW 01 Desa Parijatah Kulon Kecamatan Srono Banyuwangi.

“Dia menyelipkan 18 lembar uang palsu pecahan Rp 100.000 dalam pembayaran itu,” ungkap Kapolres.

“Karena merasa curiga dengan bentuk uang lembaran Rp 100.000 yang di terimanya, si pemilik sepeda motor itupun melapor ke pihak kepolisian,” imbuhnya.

Kapolres menjelaskan, dari sini, aparat kepolisian mulai melakukan pengembangan penyidikan dengan menangkap tersangka Moh Holik.

“Kepada petugas, dia mengaku mendapatkan uang tersebut dari tersangka Qoribul Mujib,” ungkap Kapolres.

Selanjutnya, aparat kepolisian menangkap tersangka Qoribul Mujib di rumahnya. Dan saat di interograsi, tersangka mengaku mendapatkan uang palsu tersebut dengan membeli dari seseorang yang ada di Pasuruan.

“Kepolisian mengejar keberadaan orang yang di sebut sebut sebagai pengedar uang palsu yang bertempat tinggal di Pasuruan itu,” papar Kapolres.

Kapolres meminta kepada masyarakat agar berhati hati dalam menerima uang yang diterimanya saat melakukan transaksi jual beli. Jika mencurigai bentuk lembaran uang yang di terima, diharapkan mereka segera melapor ke pihak kepolisian guna ditindak lanjuti.

“Apalagi menjelang Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif ini rawan beredar uang palsu di tengah masyarakat,” pungkas Kapolres.

Sebagai barang bukti, kepolisian mengamankan 18 lembar uang palsu pecahan Rp 100.000 dengan nomor seri yang sama yakni BAM934306. Juga 4 lembar uang palsu pecahan Rp 100.000 dengan nomor seri yang sama yakni BAM934307.

Atas perbuatannya, kini kedua tersangka harus meringkuk di dalam sel tahanan Mapolres Banyuwangi. Dan keduanya di jerat pasal 245 KUHP tentang mengedarkan uang palsu, dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Hanya kurang dari 24 jam, kepolisian bersama pihak Lapas Banyuwangi berhasil menangkap kembali seorang narapidana yang kabur.

Dia diketahui bernama Denny (38) ditahan di Lapas Banyuwangi atas kasus penganiayaan dengan hukuman 8 bulan penjara.

Laki laki warga Desa Sambirejo Kecamatan Bangorejo Banyuwangi tersebut telah menjalani masa hukuman lebih dari 6 bulan dan mendapatkan Cuti Bersyarat. Sehingga seharusnya, dia bebas pada bulan November 2018.

Sementara itu, karena tingkah lakunya di nilai cukup baik, pihak Lapas pun menjadikan dia sebagai Taping Kebersihan dan penataan sepeda di area parkir yang ada di luar gedung Lapas sejak 2 bulan terakhir. Dia membantu membersihkan area gedung lapas di bagian luar bersama beberapa napi lainnya.

Namun pada Minggu pagi (14/10) sekira pukul 06.30 WIB, di duga pelaku kabur meninggalkan lapas. Hal itu terungkap melalui kamera CCTV bahwa sekira pukul 06.15 WIB pelaku masih berada di area lapas.

Kepala Lapas Kelas II B Banyuwangi, Ketut Akbar Herry Achjar mengatakan, mendapati kondisi ini, pihak lapas pun langsung berkoordinasi dengan Satuan Reskrim Polres Banyuwangi untuk mengejar keberadaan pelaku.

“Lalu, tim resmob bersama aparat Polsek Bangorejo Banyuwangi menyanggong pelaku di area tempat tinggalnya,” ujar Akbar.

Pasalnya, pelaku yang kesehariannya mengaku sebagai dukun tersebut merupakan tahanan Polsek Bangorejo setelah berhasil ditangkap dalam kasus penganiayaan.

Akbar menjelaskan, hanya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, pelaku berhasil ditangkap petugas di rumahnya di kawasan Desa Sambirejo Kecamatan Bangorejo saat hendak pulang pada Senin (15/10). Untuk selanjutnya di gelandang ke Lapas Banyuwangi.

“Kepada petugas, pelaku mengaku terpaksa kabur karena kangen ingin menemui anak dan istrinya,” kata Kepala Lapas.

“Atas perbuatannya tersebut, kami memberikan sangsi kepada pelaku dengan menempatkannya di sel tahanan tikus atau ruangan yang hanya cukup untuk 1 orang saja,” papar Akbar.

Sementara itu, sangsi lainnya adalah Cuti Bersyarat pelaku di cabut dan dia tetap menjalani masa hukuman sesuai keputusan majelis hakim hingga 12 Januari 2019 mendatang.

Kini, pelaku harus kembali mendekam di dalam sel tahanan Lapas Kelas II B Banyuwangi sebagai sangsi hukuman atas perbuatannya.

Dan pihak lapas pun menyesali aksi pelaku yang selama ini sudah di percaya tersebut.

“Sebenarnya dengan mendapatkan Cuti Bersyarat itu, dia hanya tinggal beberapa hari ke depan saja menjalani masa hukuman penjaranya,” pungkas Akbar.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Karena tergiur menyan Bilqis yang di percaya bisa mendatangkan benda ghoib, seorang perempuan warga Kecamatan Bangorejo Banyuwangi tertipu hingga Rp 700 juta lebih.

Dalam kasus ini, kepolisian menangkap 1 dari 3 orang pelaku. Yakni Edi Siswanto alias Raden Adhie Selarong yang berdomisili di Kabupaten Probolinggo. Namun selama menjalankan aksinya, dia mengaku sebagai warga Kota Berau Provinsi Kalimantan Timur.

Sedangkan 2 tersangka lainnya berinisial IS dan SA berhasil kabur, hingga kini masih dalam pengejaran kepolisian.

Ketiganya membagi peran saat melakukan aksinya. Untuk tersangka Edi berperan sebagai suhu atau guru. IS sebagai penyusun scenario dan SA sebagai pemilik menyan Bilqis.

Sementara yang menjadi korban adalah Siti Mujayanah warga Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo Banyuwangi.

Dalam menjalankan aksinya, tersangka Edi Siswanto berpura pura mengaku memiliki menyan bilqis yang dapat di gunakan untuk mengambil benda benda ghoib, seperti mendatangkan rejeki, usaha lancar hingga menolak sihir dan bisa di jual mahal. Karena tertarik, korban pun menyerahkan uang sejumlah Rp 755.876.700 kepada tersangka dengan cara di transfer hingga beberapa kali melalui bank yang mereka sepakati ke rekening atas nama Raden Adhie Selarong. Dan korban mendapatkan uang tersebut dengan menggadaikan sertifikat tanah dan rumahnya.

Kasus ini berawal dari saat tersangka IS yang merupakan warga Jember mendatangi rumah Joean yang merupakan salah satu pengusaha di Banyuwangi, sambil mengatakan bahwa di gudangnya terdapat banyak barang ghoib. Dan untuk pengambilannya harus menggunakan menyan Bilqis, dalam hal ini IS meminta Joean untuk mengusahakannya.

Selang beberapa hari, tiba tiba Joean mendapat telfon dari tersangka Edi Siswanto yang mengaku mempunyai menyan Bilqis milik abahnya.

Mendapati hal ini, Joean pun menanyakan perihal nomer telfonnya yang di ketahui tersangka Edi. Namun dia menjawab mendapatkan nomor Joean dari temannya yang ada di Mekkah dan intinya ingin bertemu dengan Joean.

Di hari berikutnya, tersangka Edi kembali menghubungi Joean namun di terima oleh Inggrid, sekretaris Joean yang intinya ingin bertemu dengan bosnya.

Karena tidak berhasil, mereka pun kembali merancang aksi yang lain. Dimana, tersangka IS menemui Siti Mujayanah, yang merupakan salah satu karyawan Joean dan menanyakan siapa orang yang pernah menghubungi Joean yang mengatakan mempunyai minyak Bilqis. Namun Siti menjawab tidak tahu dan dia mengarahkan untuk menemui Inggrid.

IS mendesak Inggrid untuk memberikan nomer hp dari orang yang mengaku memiliki menyan Bilqis. Selanjutnya, IS dan Siti pulang lalu IS mampir di rumah Siti. Disini, tersangka IS mulai melancarkan aksinya untuk membuat Siti yakin jika menyan Bliqis tersebut mempunyai manfaat bisa mendatangkan benda ghoib.

Akhirnya, Siti menghubungi tersangka Edi atas perintah IS dan menanyakan perihal menyan Bilqis. Tersangka Edi pun mengaku mempunyai 1,3 Kg dan boleh di beli 1 Kg dengan harga per gramnya Rp 685.000, sedangkan 3 ons sisanya di berikan secara gratis. Dari sinilah, terjadi transaksi jual beli hingga mereka sepakat bertemu di makam Kiyai Saleh di Pasuruan.

Dan untuk memastikan asli atau tidaknya menyan Bliqis tersebut, Siti pun menemui tersangka Edi dengan mengajak orang tua dan saudaranya juga tersangka IS dan SA yang mengaku sebagai ustad. Karena merasa tergiur, Siti pun menyerahkan sejumlah uangnya tersebut kepada tersangka Edi dengan cara ditransfer beberapa kali hingga mencapai angka Rp 755.876.700.

Dan kedok tersangka Edi ini terbongkar, saat dia menginap di rumah Siti untuk menyebarkan menyan tersebut. Ketika Siti dan keluarganya terlelap tidur, tersangka Edi melarikan diri. Dan saat di hubungi, ponselnya sudah tidak aktif. Selanjutnya di laporkan ke pihak kepolisian.

Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman dalam keterangan persnya, Rabu (17/10) mengatakan, setelah mendapat laporan korban, sejumlah aparat kepolisian pun mengejar keberadaan tersangka Edi yang akhirnya berhasil ditangkap di kawasan Kabupaten Probolinggo.

“Kepada petugas, tersangka mengaku uang hasil kejahatannya itu di bagi 3 dengan tersangka IS dan SA,” ujar Kapolres.

“Dia juga mengaku mendapat bagian Rp 155.000.000,” imbuhnya.

Kini, tersangka beserta sejumlah barang bukti seperti lembaran bukti transfer juga beberapa potong pakaian dan tas milik nya diamankan kepolisian. Selain itu, juga di sita 1 buah flashdisc yang berisi rekaman suara tersangka Edi saat meminta kekurangan uang pembelian menyan Bilqis kepada korban.

Atas perbuatannya, tersangka di jerat pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

“Kepolisian juga masih mengejar keberadaan 2 tersangka lainnya yang berhasil kabur,” pungkas Kapolres.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dari ungkap kasus di 2 kecamatan, Satuan Reskoba Polres Banyuwangi berhasil membekuk 3 pelaku peredaran narkotika jenis sabu.

Penangkapan pertama di lakukan di wilayah Kecamatan Genteng. Disini, aparat kepolisian mengamankan Ricky Ardiansyah (35) di rumahnya di kawasan Jalan Kawi RT 22 RW 03 Desa Genteng Kulon Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Dari penggerebekan ini, satuan yang di pimpin Kasat Narkoba AKP Imron tersebut, berhasil menyita barang bukti 1 paket sabu seberat 0,49 gram serta 1 unit ponsel yang di gunakan tersangka untuk berkomunikasi saat menjalankan transaksi narkoba.

“Penangkapan tersangka ini berawal dari laporan masyarakat yang mengaku resah dengan ulah tersangka, yang sering mengedarkan narkoba ke berbagai kalangan,” kata AKP Imron.

Setelah di lakukan pengembangan penyidikan, kepolisian pun berhasil mengidentifikasi keberadaan tersangka hingga di lakukan penangkapan tersebut.

“Dari Kecamatan Genteng, kami kembali melakukan penyidikan ke wilayah lain,” tutur Kasat Narkoba.

Kali ini menyasar di kawasan Kecamatan Singojuruh tepatnya di area Desa Gambor. Disini, kepolisian berhasil menangkap 2 pelaku pemakai dan pengedar narkoba.

Yakni Suwono alias Kletek (39) warga Dusun Krajan RT 01 RW 10 Desa Kedungringin Kecamatan Muncar dan Heru Supriyanto (30) yang juga merupakan warga Desa Kedungringin Kecamatan Muncar.

AKP Imron mengaku, kepolisian mengamankan barang bukti 1 paket sabu seberat 0,55 gram, 1 bungkus rokok, 1 buah jaket biru dan 1 unit ponsel, yang disita dari tersangka Suwono.

“Sementara dari tangan tersangka Supriyanto hanya di amankan barang bukti 1 unit ponsel,” tuturnya.

Kasat Narkoba menambahkan, mereka tertangkap kepolisian saat baru saja menggelar pesta sabu. Sebelum melakukan penangkapan, di akui pihaknya mendapat laporan mengenai adanya pemakaian sabu yang di lakukan oleh kedua tersangka.

“Setelah dilacak di lokasi yang di maksud, rupanya mereka sudah pergi. Lalu kami mengejar keberadaan keduanya hingga berhasil di tangkap di kawasan Kecamatan Singojuruh,” pungkas AKP Imron.

Guna menjalani pemeriksaan sekaligus untuk pengembangan penyidikan, kini keduanya harus mendekam di dalam sel tahanan Mapolres Banyuwangi.

Dan atas semua perbuatannya, mereka di jerat pasal 114 subsider pasal 112 UU RI nomer 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Aparat TNI dan Polri di Banyuwangi siap mengamankan pelaksanaan pertemuan tahunan Dana Moneter International (IMF) Bank Dunia, sekaligus kesiapan berbagai sarana prasarana pelabuhan termasuk penyiagaan kapal perang (KRI).

Dan untuk memastikan berbagai persiapan tersebut, Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Luki Hermawan dan Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Arif Rahman mengecek langsung pos pelayanan di Mapolres Banyuwangi dan di Pelabuhan Ketapang, Rabu (10/10).

Bahkan, kedua jenderal tersebut juga memeriksa kondisi KRI Nala yang tengah bersandar di dermaga Pangkalan TNI AL Banyuwangi, untuk melakukan bekal ulang dengan menambah logistic, bahan bakar, serta air tawar.

KRI Nala merupakan satu dari 10 KRI yang disiagakan Armada 2 Surabaya untuk menjaga keamanan di perairan Bali dan Banyuwangi selama pelaksanaan IMF World Bank di Nusa Dua Bali.

Ke 10 KRI tersebut adalah KRI Pulo Rupat, Nala, Badeg, Terapang, Raden Edi Martadinata, Tarakan, Abdul Halim Perdana Kusuma, Ngurah Rai, Ajag dan KRI Banda Aceh.

Sementara, saat mengecek KRI Nala tersebut baik Kapolda Jatim maupun Pangdam V Brawijaya berkomunikasi langsung dengan para awak kapal mengenai kelengkapan yang ada, juga mengenai kemungkinan adanya kendala saat melakukan pengawasan di laut.

“Dalam hal ini baik TNI maupun Polri telah siap mengamankan kegiatan IMF World Bank dengan mengerahkan seluruh personel di lapangan,” ujar Kapolda.

“Dari keterangan ASDP juga menyampaikan pemeriksaan para penumpang dan barang yang akan menyeberang ke Bali maupun sebaliknya juga di perketat dan sudah melalui prosedur yang ada,” papar Kapolda yang baru memimpin Jawa Timur pada September lalu tersebut.

Dia menjelaskan, Banyuwangi merupakan daerah penyangga dari kegiatan IMF tersebut sehingga di perlukan pengamanan cukup ketat. Selain itu, juga sebagai pintu keluar masuk ke Bali melalui laut dan udara.

Sementara itu, Pangdam V Brawijaya mengaku, setelah IMF berlangsung di mungkinkan ada sejumlah delegasi yang akan berwisata di Banyuwangi sehingga perlu kesiapan seluruh sarana prasarana termasuk jalan.

“Dda 2 destinasi wisata di Banyuwangi yang telah di persiapkan untuk menjadi jujugan para delegasi yakni Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Wisata Alam Kawah Ijen,” papar Pangdam.

Mayjen TNI Arif Rahman mengaku telah meninjau kedua destinasi wisata tersebut yang di nilai infrastrukturnya sudah bagus dan layak untuk di kunjungi delegasi IMF dan wisatawan manca negara.

More Articles ...